Friday, 15 February 2019

Cara memperoleh API Key Scopus untuk Publish or Perish


Kawan.....

Ketika kita menggunakan Publish or Perish untuk mengambil data dari Scopus, akan diminta memasukkan API Key. Kenapa? karena Scopus itu berbayar. Kudu ada APInya untuk bisa menjebol database Scopus.

tampilan pilihan sumber data di PoP
API Key bisa diperoleh melalui web Scopus. Tentu ada caranya

pencarian di PoP minta API Key



Untuk memperoleh API Key, silakan login dahulu ke Scopus. Ya, jadi kudu bisa akses laman registrasi, dong? Datanglah ke kampus yang bisa akses Scopusnya. :)

Login ke Scopus
Setelah register dan login, maka pada bagian paling bawah akan muncul menu seperti di bawah ini.
Tampilan menu API
Klik SCOPUS API, maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini
menu My API Key

Klik My API Key,  ikuti proses, ikuti prosesnya kemudian buka konfirmasi di email.

konfirm melalui email

Di email, cari email dari Elsevier/Scopus, kemudian klik Confirm Email. Setelah di klik, maka akan diarahkan ke tampilan dashboard API di Elsevier. Klik Create API Key.

klik Create API Key

Kita akan diminta konfirmasi ulang email. Tulis email dan klik Continue

email konfirm

Ikuti Prosesnya, dan API Key akan muncul di dashboard. 

API Key

Gunakan API untuk proses pencarian di PoP.  Hasilnya seperti di bawah ini.

Pencarian ke Scopus melalui PoP
Hasil pencarian di PoP bisa dianalisis metricnya, atau dicemplungke ke VosViewer.

----

Terimakasih untuk Mas Adi Wijaya (Mahasiswa S3 DTETI) yang memandu saya memperoleh API Scopus.

Monday, 11 February 2019

,

R.Ng. Ronggowarsito sudah mengingatkan bahaya hoax

Sedulur semuanya. 

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pujangga. Sangat termasyhur. Hingga kini pun namanya masih dikenang. Nama kecilnya Bagus Burham, cucu dari R.T. Ranggawasita I. Ketika kecil diasuh oleh Ki Tanuwijoyo, termasuk ketika mondok di Gebang Tinatar. Burham lahir pada Senin Legi, 10 Dulkangidah 1728 tahun Be. Wuku Sungsang jam 12 siang. Atau pada tanggalan Belanda menunjukkan 15 Maret 1802.  Patungnya berdiri di museum Radya Pustaka Solo, diresmikan Bung Karno dengan dihantarkan pidato yang begitu menggelora.

Tak dielakkan, Bung Karno pun menyitir kalimat serat Kalatidha yang ditulis Ranggawarsita pada bait 7 yang begitu terkenal: hamenangi jaman edan…. Bung Karno menyebut bait ini sebagai dasar hukum moreel. “Kita bangsa Indonesia mengalami djaman edan. Kalau tidak eling las waspada, kita akan ikut serta dalam djaman edan tadi,” tegas Bung Karno.

***

Tapi bukan itu yang hendak saya sampaikan. Melainkan bait ke 4, dari 12 bait Kalatidha. Pada buku Anjar Any terbitan 1980, pada halaman 62 terdapat terjemahan bebas dari bait tersebut.

Demikian terjemahannya: “Persoalannya berpangkal karena adanya berita palsu. Dikabarkan akan menjadi pejabat yang lebih tinggi, ternyata tidak. Karena kecewa, lalu berfikir: apa gunanya ada di depan sebagai pejabat?. Nantinya apabila tidak hati-hati akan membuat kesalaan, lebih-lebih kalau sudah lupa diri akan menimbulkan mala petaka saja”. 

Setelah bait ini, Ronggowarsito njlentrehke bahwa menurut kitab Panitisastra sudah ada peringatan. Pada jaman sekarang yang penuh kebatilan ini, orang yang baik tidak terpakai. Apa gunanya mendengarkan berita yang tidak benar? kalau dirasa hanya menyakitkan hati saja. Ki Pujangga lebih baik membuat kisah lama, yang dapat dipakai untuk contoh baik serta buruk. 

***

Kalatida merupakan kritik dan sindiran pada berbagai hal yang terjadi pada masa itu. Kalatidha berarti waktu atau jaman edan. Ditulis  dlam bentuk Macapat Sinom oleh Ranggawarsito antara tahun 1861-1873 pada masa Sri Sunan Pakubuwono IX. Lebih dari 150 tahun silam. Pada masa itu,  berita palsu ternyata sudah merebak dan merusak. Kerusakan karena berita bohong itu, ditulis Ronggowarsito sebelum mbabar jaman edan. Bayangkan! 150-an tahun silam, Ronggowarsito sudah merasakan adanya kerusakan di negeri ini. 

Opo meneh saiki!!

Friday, 1 February 2019

, ,

Pustakawan: makhluk dongkrak-an dan malapraktik pendidikan pustakawan

Tulisan ini sebelumnya diposting di sini
-------
Paijo, anggota pustakawan blogger itu sedang mumet. Konsep pustakawan blogger berubah. Tadinya bebas posting di blognya masing-masing. Apapun bisa ditulis namun tetap tanggungjawab. Sak geleme dhewe, lalu sebarkan.

Sekarang, ada konsep baru. Anyar. Dibuatlah satu blog, kemudian diundang siapa yang minat ngisi. Semua bisa nulis di blog yang sama. Keroyokan. Tiap bulan, atau mungkin tiap minggu akan ada tantangan tema. 

****

Tema pertama sudah ditentukan: “pustakawan: makhluk apa itu?”. Tema ini berbentuk pertanyaan. Berarti tulisannya nanti paling tidak berusaha menjawab pertanyaan tema itu. Itulah yang membuat Paijo mikir.

“Sejatinya, makhluk seperti apakah pustakawan itu?,” gumamnya.

Teman-temannya sudah nulis. Paijo tak kunjung dapat ide. Mbundet

Setelah renungan panjang, perlu diuyak-uyak alias dikejar-kejar, akhirnya dia ingat, dulu pernah nulis di blognya dengan judul “pustakawan itu bukan siapa-siapa”. Bukan siapa-siapa, Paijo memang yakin begitu. Pustakawan itu manusia biasa. Dia bukan manusia super yang bisa ini itu.

Sebenarnya judul tulisan itu nyontek. Dia akui itu, dan dia tulis dibagian paling bawah tulisannya. Tulisan itu, fikirnya, sebenarnya bisa menjawab pertanyaan “pustakawan makhluk apa itu?”. Tapi tidaklah elok, kalau dia posting ulang di blog keroyokan itu. 

Akhirnya, setelah njungkel njempalik mikir, dia memutuskan. Dia  lanjutkan saja judul tulisan lamanya: “pustakawan bukan siapa-siapa”, dengan pendekatan pertanyaan  lanjutan “bukan siapa-siapa itu karena apa?”.

Paijo ingin menelisik, sebab musabab pustakawan itu bukan siapa-siapa?

Namun, menelisik “sebab” dengan waktu yang terbatas tidaklah mungkin. Kecuali lewat perenungan, kontemplasi agar turun wahyu, kemudian: cling, ketemu sebabnya. Tapi Paijo juga sadar. Dia manusia biasa yang berlumur dosa. Kesalahan dan dosanya sangat mungkin menjadi penghambat turunnya ilham. Ada tabir pemisah ilham dan wahyu yang sulit ditembus. 

***

Di grup pustakawan blogger yang Paijo ikuti, pernah terlontar pertanyaan atas dasar sebuah pengalaman. Kang Yogi, seorang manajer aset digital terkemuka di Indonesia, kaget tak terkira. Ketika itu dia sedang memilah dan memilih para pelamar. Salah satu yang dilihat, tentunya selain foto pelamar yang bening-bening, juga IPK. Dia kaget saat melihat IPK adik angkatannya yang menjulang tinggi setinggi tugu monas. Tugu yang kabarnya juga disebut MONumen Akal Sehat. Padahal, dulu di jamannya, IPK mau setinggai tiang bendera saja susahnya minta ampun. Sulit. 

Ada beberapa prediksi dari Kang Yogi, apa sebab IPK bisa menjulang tinggi: si mahasiswa makanannya bergizi, daya hafalnya luar biasa, kemudian yang terakhir nilai menjulang tinggi itu karena dongkrakan.

Dongkrak?

Dongkrak, menurut kamus suci Bahasa Indonesia, berarti alat untuk mengumpil atau menaikkan. Hasil dongkrak-an, berarti hasil dinaikkan, hasil umpilan, angkatan, yang sebelumnya di bawah menjadi naik ke atas. Mumbul.  

Komentar muncul, masih dalam grup itu, yang mengatakan bahwa dongkrakan itu diperlukan agar akreditasi kampus tetap oke, dan tentunya tuntutan pasar. Mungkin ada belas kasihan dari dosen pada alumni kalau IPK kecil, dan tidak lolos masuk syarat mendaftar ASN. Efek berikutnya  akan dahsyat. Si sekolah perpustakaan akan dijauhi calon mahasiswa. Bahaya. Jelas para dosen tidak mau ini terjadi.

Namun, apakah prediksi ini benar?

“Harus diinvestigasi,” Paijo mengepalkan tangan.

***

Nah, sore ini, Paijo buka facebook. Biasa, buka akun satu dan lainnya, buka wall kemudian baca status banyak orang. Tanpa sengaja dia nemu status seorang dosen. Tentunya dosen ilmu perpustakaan, bukan dosen ilmu lainnya. Dia tak berani membahas yang lain. Status itu masih ada hubungannya dengan dongkrak mendongkrak. Begitu lugunya si dosen membuka rahasia dapurnya pada status sebuah facebook. 

Entah keluguan itu muncul karena memang lugu, atau, ya mungkin sedang menikmati posisinya sebagai dosen, yang memiliki "kuasa" atas mahasiswanya. Atau bisa juga karena saking mumetnya menjalankan perannya sebagai dosen (ilmu) perpustakaan.

“nilai-nilai itu sudah hasil dongkrak sana dan sini”, demikian katanya. 

“Ini jelas bukan status lugu,” gumam Paijo mengoreksi anggapan awalnya. Karena dia yakin, dosen itu sebagai ilmuwan yang boleh salah, tapi tidak boleh bohong dan harus jujur. “Lebih tepatnya ini status jujur!.”, koreksi Paijo dalam hati. Status itu sudah melewati tes kevalidan, kajian ilmiah, review, dan akhirnya keluar. Kabarnya ada juga yang nilainya D atau E.

Paijo mikir, kalau D dan E itu juga sudah hasil dongkrakan, lalu aslinya berapa? 

Sebenarnya Paijo masih heran, kenapa selevel dosen membuat status seperti itu? 

Ah, entahlah. 

Status itu merupakan bukti kejujuran, yang didukung oleh keluguan dan apa adanya. Status itu, yang berwujud kumpulan huruf, menjadi kata, menjadi kalimat, kemudian melahirkan tafsir, adalah tanda.  Ini bahasa semiotik. Tanda itu dikirim/terkirim oleh si dosen kepada publik, tentang apa yang terjadi dalam dapurnya.  Jika itu disengaja, maka memang ada pesan yang sengaja dikirim oleh si dosen. Jika itu tidak sengaja alias alamiah, atau tanpa sadar, maka memang demikianlah adanya.


Status itu cukuplah membuktikan, atau bukti awal prediksi Kang Yogi. Selain itu, juga cukup sebagai bukti awal, kenapa pustakawan itu “bukan siapa-siapa”. Atau, juga bukti awal, silang sengkarut kepustakawanan di Indonesia.

Paijo berkesimpulan. Diperlukan lebih banyak dosen (ilmu) perpustakaan, yang berani membuka dapurnya di muka umum. Agar dunia kepustakawan lebih terang benderang duduk masalahnya.

****

Sendirian, Paijo masih melanjutkan lamunannya. Masih tentang dongkrak mendongkrak. 

Paijo mikir. “Jangan-jangan nilaiku dulu juga dongkrakan, katrolan”. Oh tidak…

Seorang kawannya yang bekerja di bidang penjaminan mutu pendidikan pernah berkata. Waktu itu di sebuah kafe samping rumahnya mereka ngobrol. Intinya: malapraktiknya pendidik itu efeknya sangat panjang, lama. Bahkan efek itu bisa menimbulkan efek ikutan lainnya. Bahaya, dan berpengaruh pada perjalanan bangsa dan negara.

Apakah proses pendongkrakan ini, merupakan malapraktik dalam pendidikan pustakawan?

Jika iya, maka jelas sudah. Silang sekarut kepustakawanan Indonesia memang bermula dari pendidikan pustakawannya. Bermula dari, ah... sudahlah.

Entahlah.
---------------

[[ titik - selesai ]]


Sambisari, 
Selasa Wage pagi hari, 22 Jumadilawal, 
Wuku Pahang, 1952 tahun be.

Friday, 25 January 2019

Akhirnya, inilah pekerjaan pustakawan bergelar doktor

Musim hujan sudah berlangsung beberapa waktu. Tanah sudah becek, tetumbuhan juga sudah menghijau. Lek Noyo, Kang Dhadap sudah lebih sering ke sawah dan ladang, niliki tanaman padi dan jagungnya. 

Ketika pagi menyapa,  Kang Noyo dan Mbok Noyo ke ladang, berdua saja. Anaknya sudah lama di kota. Tentunya merantau, memperbaiki nasib agar tidak jadi petani seperti orang tuanya. Entah, apakah petani itu kurang menjanjikan?

Petani, jika dirunut, kata Pak Ustadz, memiliki banyak keistimewaan. Jika petani itu menanam padi, maka akan dibeli orang, jadi beras, dimasak, jadi nasi, dimakan. Sekian banyak orang yang makan, sekian banyak orang yang berdoa sebelum dan sesudah makan. Sekian banyak doa-doa kebaikan atas rejeki nasi dari padi yang ditanam petani. Sekian banyak doa pahala untuk petani, ya untuk Kang Noyo dan Mbok Noyo itu salah duanya.

Paijo, pustakawan ndeso itu, meski kerja di kota, sangat ingin kembali ke desa. Desa itu ayem, katanya suatu ketika. 

**** 

Beberapa waktu lalu, Paijo ngersulo pada Kang Karyo. Paijo pernah ditanyai kawannya yang bukan pustakawan. “Pustakawan bergelar doktor itu pekerjaannya apa?”. Begitu kurang lebihnya.  Paijo tak bisa menjawab. Dia mlipir dan mengalihkan pembicaraan. Apalagi, kalau bukan agar tidak ditanyai lebih lanjut. Dia tak punya jawaban atas pertanyaan itu. 

Ditanya dan tidak bisa menjawab, adalah sebuah siksaan abstrak yang menghujam sampai ulu hati.

Malam itu, dia merenung. Di depan rumah, di lataran, duduk sambil ngeteh tubruk plus pacitan. Beruntung, malam itu tidak hujan. Agaknya air hujan sudah habis tumpah siang sampai sore. Langit bersih, bulan bersinar. Cocok untuk jagongan malam. Pacitan malam itu ekstrim. Ungkrung jedung goreng. Hora sebahene.

Jedung itu nama ulet yang hidup nempel di daun pohon mahoni. Tidak sembarangan orang mau memakannya. Hanya orang yang berasal dari kampung Paijo saja yang mau. Sepertinya orang sekampung sudah memperoleh sifat kandel, tahan pada makanan ekstrim berwujud binatang uler. Awal mula doyan uler ini juga tidak diketahui. Entah. Mungkin dulu, karena larang pangan di jaman begaber, orang harus mencari terobosan pengganti lauk dan bahan makanan lain selain beras dan lauk pada umumnya. Kemudian orang memperhatikan perilaku burung yang tetap hidup, bagaimana cara makannya. Ternyata si burung makan uler jedung dan tetap hidup. Berarti uler jedung itu enak dan tidak beracun, aman di makan. 

****

Dia mulai mengingat perjalanan hidupnya hari itu.

Siang tadi, di kantornya, Paijo dapat kabar dari kawannya. Katanya ada satu orang yang keluar dari profesi pustakawan. Alasnnya bukan gaji, yang biasanya jadi alasan klasik dan melegenda. Alasannya karena karir, dan ketidakcocokan dengan pimpinan.

Berat. Si pustakawan akhirnya keluar. Padahal, katanya, si pustakawan lulusan es dua, master. Pasti memang berat, hingga selevel master saja tak mampu bertahan dan harus keluar.

“Wah, kalau master tidak bisa, berarti kudu level doktor ilmu perpustakaan yang mengelola”, katanya menimpali.

"Nah, berarti sudah ketemu jawabnya, Jo.", tanya Seno.

Paijo melanjutkan renungannya. Agaknya, omongan Seno benar juga. Ini adalah jawaban dari pertanyaan kawannya tempo hari, “apa pekerjaan pustakawan bergelar doktor?”, 

Pustakawan bergelar doktor itu mengerjakan pekerjaan pustakawan yang sudah tidak mampu ditangani pustakawan selevel master ke bawah. Atau perpustakaan yang paling kompleks masalahnya.

Jelaslah sudah sekarang.  Masalah yang ada di perpustakaan itu ya macam-macam. Mulai dari masalah gaji, hubungan dengan atasan, jenjang karir dan lainnya. Titik.

“Berarti perpustakaan sekolah, yang njlimet masalahnya itu, kudune juga diserahkan pada pustakawan bergelar doktor, atau doktor ilmu perpustakaan. Dengan ilmunya yang setinggi langit dan sedalam sumur minyak, pasti masalah beres,” yakin Paijo.

Bagaimana tidak, kalau doktor ilmu perpustakaan itu jadi pustakawan di perpustakaan sekolah, siapa yang berani melawan?. Dia hanya akan imbang jika kepala sekolahnya atau guru di sekolah itu juga doktor.  


*****

Tergopoh-gopoh, Karyo mbela-mbelani dolan ke rumah Paijo. Berjalan kaki, tanpa alas. Nyeker. Hal ini biasa di kampung. Nyeker itu sehat. Urat syaraf di telapak kaki akan tersentuh, aliran darah akan lancar. Mikirpun akan cemerlang. Itulah sebabnya wong ndeso itu kebanyakan mikir kepenak.

Agaknya Karyo tahu kalau Paijo masih menyimpan ungkrung jedung. Malam-malam, tentunya seger disambi ngopi. Diapun ikut gabung Paijo. Tak perlu dikode, Paijo langsung menyambut kawan karib beda usia itu.

“Kang, sekarang aku tahu apa pekerjaannya pustakawan bergelar doktor!”, Paijo ngudo roso lamunannya.

“Hmm,” Karyo bergumam sambil makan ungkrung.

“Pekerjaan pustakawan bergelar doktor itu yang menjadi pustakawan di perpustakaan sekolah!”

Karyo kaget. Batuk tak bisa ditahan. Tepatnya keselek. Kaget dengan omongan Paijo.

Gandrik, kamu itu kalau bicara ndak pakai sopan, Jo. Mosok doktor kok jadi pustakawan sekolah!”. Karyo tidak setuju.

Paijo tersenyum. Ekspresi dan tanggapan Karyo sudah ditebaknya. Paijo tahu, Karyo bakal terkejut. 

"Intinya, pustakawan bergelar doktor itu mengerjakan atau mengelola perpustakaan yang tidak bisa dikelola oleh level di bawahnya. Atau sulit dan kompleks masalahnya. Rumit,   melebihi rumitnya hubungan pacaran anak jaman sekarang", tegas Paijo.


“Perpustakaan sekolah itu kan masalahnya banyak, Kang. Gaji pustakawannya kecil. Diminta nyambi di TU buat nambah honor. Diminta ini itu, bahkan membersihkan, ngepel perpustakaanya. Anggaran tidak menentu, letaknya dipojokan. Dan selanjutnya-dan selanjutnya”.

“Kalau perpustakaan dengan masalah kompleks seperti itu kok cuma dikelola pustakawan lulusan D1, atau D2, kan ya ndak bisa. Mereka akan disepelekan.", tegas Paijo.

"Perpustakaan dengan masalah kompleks, harusnya ya dikelola oleh orang yang paling pintar: doktor ilmu perpustakaan. Perpustakaan sekolah itu masalahnya kompleks, jadi kudunya dikelola doktor ilmu perpustakaan. Kalau dikelola Doktor, itu orang tata usaha ndak akan berani macam-macam," Paijo meyakinkan.


Itulah kesimpulan Paijo. Meskipun masih general, umum, Paijo senang bukan kepalang. Sebenarnya masih ada yang mengganjal di benaknya: pekerjaan keseharian pustakawan doktor. Ini tetap belum ketemu.


****

Karyo diam, menyeruput kopi. Setelah itupun tetap diam. Dia mikir, dan setengah membenarkan omongan Paijo. Memang semestinya, yang paling tinggi pendidikannya, menjadi pengelola perpustakaan yang paling rumit masalahnya. 

Karyo ingat dosennya Kimpul, Dr. Tumini. Karyo membayangkan Dr. Tumini jadi pustakawan SD.


Selesai



Monday, 14 January 2019

Pustakawan Perguruan Tinggi, belajarlah dari pustakawan-pustakawan keren ini

gambar lisensi free dari Pixabay
Di sebuah grup wa yang egaliter, maha asyik dan tronjal-tronjol terlontar diskusi tentang pustakawan ideal. Kemudian berlanjut kepada pertanyaan: siapa yang bisa kita (pustakawan) contoh untuk menjadi pustakawan yang keren?.

Bu Labibah, dosen IPI di UIN Kanjeng Sunan Kalijaga Yogyakarta, salah satu warga grup wa maha keren tersebut kemudian memberi nama-nama pustakawan keren sebagai rekomendasi. Tentunya sesuai pendapat beliau. 

Tentunya nama pada rekomendasi itu tidak begitu saja muncul dari benak beliau. Sudah melalui filter maha ketat, yang kemudian menyisakan yang mentes dan benar-benar berkualitas. Seorang dosen selevel Bu Labibah yang sudah malang melintang di dunia kepustakawanan dalam dan luar negeri, alat filternya pun pasti keren. Luasnya pergaulan dan jejaringnya, menjadi garansi bahwa pilihannya pastilah keren.

Atas ijin beliau, nama-nama tersebut saya tuliskan di sini, agar semakin bermanfaat untuk banyak orang. Maaf, hanya singkat. Namun, dengan pengetahuan kepustakawanan teman-teman, info singkat ini bisa jadi titik awal untuk melacak kekerenan mereka.


Karyo: Itu pertimbangan atau filternya apa, Jo?
Paijo: Embuh, Kang. Pokoke aku percoyo disik, sampai kemudian ada yang membuatku tidak percaya.

Karyo: Pancen kowe kui. Padunya melek nggo bahan nulis blog.
*****

Pertama ada nama Wahyani.  Beliau pustakawan di UIN Sunan Kalijaga. Bu Labibah mengatakan bahwa Wahyani pernah belajar selama 8 hari di Jerman. "Wahyani setelah dari German, value kereferensiannya muncul. Sekarang dia lebih proaktif dan punya program,".

Nama berikutnya adalah Clara, atau Kalarensi Naibaho, pustakawan UI Jakarta. Terkait Clara, Bu Labibah sampai mengutarakan pernyataan "Saya pernah bilang ke orang-orang kalau saya punya kuasa dan diberi keleluasaan memilih pustakawan keren atau duta pustakawan maka ada nama Luckty (pustakawan sekolah) dan Clara sebagai pustakawan terkeren".

Pandangan ini diamini oleh Yogi, yang juga penghuni grup wa. Yogi mengatakan "Setuju, Clara Naibaho dan Luckty, tipikal pustakawan interaktif dengan gaya storyline. Itu yang mendobrak batas sekat bahwa perpustakaan itu tembok. Membaca kegiatan day to day sebagai pustakawan seolah mengajak pembaca menyelami..nih loh...kalian bisa merasakan sebagai pustakawan toh...hi hi hi 👍👍 top pokoke".

Bahkan Luckty, yang disebut bersamaan dengan Clara juga menyampaikan testimoninya, "Bu Clara memang idola. Tipikal pustakawan zaman now".

Berikutnya, Nina, atau Purwani Istiana pustakawan di UGM. "Mereka (Clara dan Nina), mereka (lulusan) dalam negeri tetapi reference nya jalan betul. Ruh nya kebawa", demikian Bu Labibah menekankan. Bu Nina merupakan pustakawan yang tahun 2017 hampir menyatukan dua predikat pustakawan berprestasi nasional. Beliau berhasil memperoleh predikat terbaik versi Perpustakaan Nasional, dan terbaik 2 versi DIKTI dalam tahun yang sama. Sesuatu yang jarang, bahkan mungkin baru sekali terjadi.


Nama berikutnya Faizudin Herliansyah, atau kerap disebut Pak Faiz. Sekantor dengannya, juga disebut Ari Zuntriana. Pak Faiz menyelesaikan S2 di Australia, sedangkan Ari di Inggris. Jika melihat dua asal ijazah ini, kita bisa terka betapa kerennya keduanya. Tidak salah Bu Labibah merekomendasikan keduanya bagi pustakawan (khususnya PT) untuk belajar.

"Kalau perlu pergi ke Malang, (silakan) seharian membersamai Faiz dan Ari di UIN malang", demikian Bu Labibah menyarankan.

Safira UGM, Bu Labibah sebut berikutnya. Maksudnya adalah Safirotu Khoir, atau sering dipanggil Mbak Fera yang ngantor di Perpustakaan UGM. Mbak Fera merupakan satu diantara sedikit pustakawan atau orang yang bekerja di perpustakaan yang bergelar S3. Bahkan S2 juga bidang perpustakaan/informasi. Dengan S1 bidang bahasa Inggris menjadikan lengkap kemampuannya. Tak heran jika Bu Labibah menyebut Mbak Fera sebagai salah satu orang pustakawan yang layak ditiru.

Nama terakhir, kembali dari UIN, tepatnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Amrulloh Hasbana. Pak Amrull, merupakan kepala perpustakaan UIN SH, juga menjadi pembicara pada berbagai seminar atau pelatihan pustakawan.


*****
Diskusi di grup wa, salah satunya mengarah pada pentingnya "nyantrik" pada pustakawan yang dianggap bisa ditiru. Bukan sekedar studi banding, namun benar-benar ngintil seharian, melihat apa pekerjaan yang sehari-hari mereka lakukan. 

Paijo: loh, kalau mereka makan, kita ikut makan, kalau mereka ke kamar mandi?
Karyo: kalau mereka makan, ya kamu beli sendiri di kantin, Jo. Kalau mereka ke kamar mandi, kamu juga ikut ke kamar mandi. Tapi beda kamar. Jangan sama. Iso kena pasal kowe.

Paijo mempertimbangkan benar apa yang disampaikan Bu Labibah. Dia ingin, di sisa hidup dan sisa pengabdiannya menjadi pustakawan bisa, paling tidak, belajar dan berusaha meniru pustakawan terbaik negeri ini.



Senen
06.04 pagi sebelum mandi
7 Jumadilawal 1952 Bhe/14 Januari 2019