Saturday, 18 January 2020

,

Membandingkan Kopernio dan Lean Library + Unpaywall

Sebelum membandingkan, Saya lakukan install add on Kopernio dan Lean Lib di chrome.
Proses pencarian institusi di Kopernio
Proses di atas menunjukkan salah satu langkah setelah kopernio terpasang di Chrome. Setelah membuat akun, Kopernio menawarkan pemilihan institusi.

Agaknya Kopernio telah memiliki data subscriptions berbagai universitas. Mungkin ini terkait dengan keterangan di laman https://kopernio.com/compare/kopernio-vs-lean-library yang menyebut "No, works with most libraries by default. Libraries can amend as necessary at any time.", terkait dengan library setup. Berbeda dengan Lean Lib yang memerlukan library setup.

Permintaan koneksi ke Library Subscriptions
Lanjutan proses koneksi ke library subscriptions. Ada proses login SSO di sini.

Seting Kopernio
Kopernio memiliki locker free 100 MB. Juga dapat disetel citation yang digunakan, termasuk software manajemen sitasi yang digunakan.

Sementara itu, setelah memasang add on Lean Library, saya hanya diminta mencari library sesuai insitusi.

Pemilihan institusi di Lean Lib
Pada pemasangan unpaywall, tidak ada hal yang istimewa.

Setelah selesai, hasilnya akan muncil icon 3 add on tersebut di kanan atas browser.


****

respon 3 add on (+ unpaywall)
Gambar di atas menunjukkan respon 3 add on. Karena artikel yang dibuka memang masih bebas diunduh (lihat logo PDF, di sampingnya ada kata "download PDF" yang menandakan artikel bisa diunduh langsung), maka respon ketiganya memberi keterangan unduh. Atau pada unpaywall berwarna hijau.

Selanjutnya kita lihat gambar di bawah ini.

respon 3 add on

Ini mulai berbeda. Keterangan di Sciencedirect menunjukkan kata "Get Access", artinya artikel ini tidak bisa diunduh langsung, meskipun sudah dilanggan UGM. Namun Kopernio, Lean, dan unpaywall kompak menunjukkan sinyal positif.

Lean Lib memberi tahu "... this article available for you...". Demikian pula Kopernio, serta Unpaywall mendeteksi adanya versi Open Access dan memberi sinyal warna hijau.

Perbedaan akan terjadi ketika 3 add on tersebut di klik.

Kopernio akan menampilkan Kopernio Locker, yang kita langsung disodori artikelnya full text. Lean Library akan mengarahkan ke Summon. Sementara Unpaywall mengarahkan ke alamat URL utama asal artikel tersebut.

Sebagai catatan, Lean Lib yang mengarah ke Summon dimungkinkan kadang bermasalah. Hal ini disebabkan karena adanya tautan yang keliru di Summon ke url sumber.

Silakan lihat gambar di bawah.

Hasil dari Lean lib

Hasil dari Unpaywall ke Pubmed
Hasil dari Kopernio
Hasil dari Kopernio bisa disimpan dulu di locker, diunduh, dan tersedia fitur eksport referensi dalam bentuk .ris

*****

Bagaimana jika artikel itu berbayar, dilanggan institusi, namun tidak ada versi open accessnya?

Semua positif, kecuali unpaywall

Bagaimana jika UGM tidak melanggannya?

Jika tidak dilanggan UGM

Jika artikel tidak dilanggan, sehingga saya ndak ada akses, maka 3 add on akan menunjukkan sinyal negatif. Termasuk ketika tidak ditemukan versi OA dari artikel tersebut.


***
Ada yang menarik di Lean Lib, ketika akses dilakukan di dalam jaringan kampus. Agaknya Lean telah mendeteksi IP, sehingga muncul komentar seperti pada gambar.
tampilan Lean Lib ketika akses dari dalam kampus


***

Informasi jumlah dikutip di database WoS

Gambar di atas menunjukkan fitur di Kopernio, yang terintegrasi dengan WoS sehingga bisa memberi informasi artikel yang sedang aktif itu telah dikutip berapa kali di database WoS.

Gambar di atas, jika posisi belum login ke Kopernio, maka pencarian akan dilakukan ke database Google Scholar.

****

Kesimpulan

Pencarian menggunakan 3 add on ini dilakukan menggunakan browser, bisa langsung mencari menggubakan Google, atau langsung ke url jurnal berada. Pencarian tidak harus dilakukan menggunakan Summon atau mesin discovery sejenis lainnya. Tentu ini hal menarik, karena bisa mengakomodir kebiasaan pencarian mahasiswa.

Kopernio, merupakan bagian dari WoS. Sementara Lean Lib bagian dari Sage. Ini tentang dagang.

Dari sisi fitur tidak jauh berbeda. Ada perbedaan satu dua itu wajar.

Meskipun demikian, patut di catat bahwa  Kopernio bisa digunakan langsung, dan kita menerima fitur apa adanya. Sementara Lean Lib tidak. Lean harus ada setting dahulu berdasar permintaan. Seting di Lean ini memungkinkan adanya custom atau permintaan fitur. Ini sebuah kelebihan.

Bagaimana dengan Unpaywall?
Menyertakan pemasangan Unpaywall menjadi tambahan jangkauan data. Jika ternyata Lean dan Kopernio tidak mampu mencari versi OA, siapa tahu Unpaywall bisa menemukan.


Sambisari
18 Januari 2020
Pulang ronda, 01.23 pagi

Friday, 17 January 2020

Fitur retracted notifications di Zotero

Ini fitur baru di Zotero. Setidaknya, baru beberapa bulan lalu saya tahu. Hehe.

Intinya begini. Jika  artikel yang kita simpan menggunakan Zotero itu ada yang ditarik oleh jurnalnya, maka Zotero akan memberi tanda.

Kerennya, ketika mau dikutip dalam teks, Zotero akan memberi peringatan. 

Nah, dengan demikian, kita bisa terselamatkan dari referensi yang tidak tepat.


Informasi artikel retracted pada tampilan Zotero

peringatan yang muncul ketika mengutip.



,

Menggugat bookless library


Karyo: Apa kui maksudnya, Jo?
****

Sumber: https://pixabay.com
Bookless library. Library yang ndak ada bukunya. "Ah, ndak juga. Ada , kok. Tapi bukan cetak," katanya.

Setidaknya itu dikatakan om Wiki. "Bookless libraries are public, academic and school libraries that do not have any printed books," begitu lengkapnya.

Di sumber lain tertulis, "just rows of computers and plenty of seating offering access to the Philadelphia university's 170 million electronic items." Atau juga pernyataan ini, "Our on-campus library is entirely digital,".

Nah, dari sinilah Paijo mikir. Misalnya sebuah institusi, memiliki perpustakaan. Tidak ada buku cetak, hanya ada koleksi digital. Lalu, ruang perpustakaan di lembaga itu di sebut bookless library?

Mosok sesederhana itu?

Bagaimana dengan ruang lain di lembaga tersebut? Halaman, misalnya. Atau dapur, dan WCnya? Bukankah ruang itu juga bagian dari institusi. Dan, yang membeli ebook atau membiayai pengadaan ebook atau pembuatannya bukan si perpustakaan, tapi institusilah yang punya uang.

****

"Oo, jelas tidak. Ruang lain tidak bisa disebut bookless library. Kenapa? karena ndak ada pustakawan  dan kegiatan belajar di sana. Yang ada pustakawannya ya di dalam ruang yang didedikasikan sebagai perpustakaan. Ruang itulah yang disebut bookless library". Mungkin demikian alasannya.

Loh. Kan pustakawan juga bisa jalan-jalan. Ke halaman, ke kantin yang ada dalam institusi itu. Di tempat itu, pustakawan juga bisa jadi pustakawan. Iya, kan? Belajar bisa di mana saja.

Nah, jika demikian, maka sesungguhnya semua tempat di Indonesia ini adalah bookless library. Kenapa? kan Perpustakaan Nasional dan Dikti melalui uang rakyat melanggan koleksi digital yang bisa diakses dari mana saja.

****

Paijo: "Sebentar kang. Tak tinggal dilit, mau ke bookless library. 

Tampak Paijo buru-buru meninggalkan Karyo sambi membawa gawai berlayar lebar dan sesekali memegang perutnya. Tidak menuju ruang yang umum disebut bookless library, melainkan ke WC. Karyo heran.

Karyo: "Loh, katanya ke bookless library. Kok malah ke WC, Jo?"
Paijo: "Loh, WC ini kan bagian dari Indonesia yang sudah melanggan ebook. Jadi WC ini juga bookless library. Bisa sambil makerspace-an di dalamnya.
Karyo: "Loh, di WC kan ndak ada pustakawannya, Jo"
Paijo: "Ada. Gampang. Nanti WA-nan pakai HP".
Karyo: &*&^^$%^^$^^$
---------------------

Posting pertama di 2020
Sambisari,
Jemuah Pahing 21 Jumadilawal Wawu 1953
05.50 pagi

Sunday, 15 December 2019

Anggaran Dasar I-Pe-I yang ringkas dan padat

https://ipi.web.id/tentang-ipi/anggaran-dasar/ (15 Des 2019)
Anggaran dasar, tentunya bukan anggaran belanja. Apalagi belanja negara. Bukan. Anggaran dasar itu pondasi, slope. Gabungan dari semen, batu, pasir, dan juga besi. Dia jadi dasaran bangunan.

Anggaran dasar organisasi, berarti untuk menopang bangunan organisasi. Agar kuat, tidak miring, jelas arahnya, dan tentu saja tahan lama.

Jika dihitung dari 1973, maka sudah 46 tahun usia I-Pe-I. Tentunya pondasinya sudah kokoh, kuat, dan teruji.

Bagaimana pondasi tersebut?

Pondasi, anggaran dasarnya mantap. Pasal 1 pun sudah menunjukkan kekuatan organisasi tersebut untuk mewujudkan cita-citanya, “meningkatkan profesionalisme pustakawan Indonesia”.

Pasal satu anggaran dasar tersebut berbunyi “Oops! That page can’t be found”


[ tamat ]

Tuesday, 10 December 2019

, , ,

Bookless library #2

pos ronda
Kejadian beberapa malam lalu masih terngiang di memory otak Paijo. Ketika Soplo, kawan gaplenya membuatnya tak berkutik. Alih-alih takjub dengan penjelasannya tentang Bookless Library, Soplo justru mengatakan bahwa bookless library itu bukan barang baru. Bahkan, gardu ronda tempat mereka gaple waktu itu, juga bookless library. Demikian yakin Soplo.

Bookless Library #1: http://www.purwo.co/2019/09/bookless-library.html

“Kang, aku diskak Soplo,”. Paijo cerita panjang lebar tentang pengalamannya beberapa waktu lalu. Cerita tentang bookless library, tentang pos ronda, tentang gaple, tentang kopi pada Karyo, seniornya.

Tidak hanya itu. Paijo juga cerita tentang Kang Giyo, kawannya, yang sering membuat analogi musik Elya Khadam vs Via Vallent untuk menjelaskan keharusan berubahnya perpustakaan dan pustakawan. Jaman ini orang lebih suka dangdutnya Via Vallent. Demikian juga perpustakaan. Kudu berubah agar tidak ditinggalkan penikmatnya.

****

“Hmm. Begitu, tho.,” Karyo komentar pendek.

“Iya, Kang. Aku diskak.” Paijo menggaris bawahi.

“Jo. Apa persamaan Ellya Khadam dan Via Vallen?”. Karyo justru malah bertanya pada Paijo.

“Yo sama-sama perempuan tho, Kang,” gitu saja tanya.

“Kamu itu. Ini Serius. Kita coba cari garis penghubungnya. Ellya dan Via Vallent itu sama-sama nyanyi. Jual suara. Lalu diiringi musik, ada ketipung, juga suara gendang. Gendangnya bisa asli bisa pula imitasi,” jelas Karyo.

“Lalu, Kang?”, Paijo penasaran.

“Keduanya ada ciri sama yang tetap ada, sehingga musik generasi berikutnya tetap memakai term dangdut: dangdut koplo. Bukan koplo, thok. Artinya dangdut koplo tetap berhak menyandang nama ‘dangdut’, karena unsur dangdutnya masih ada: kendang, suling, ketipung.” tegas Karyo.

“Kalau unsur dangdut itu tidak ada, maka tak bisa dia disebut dangdut, Jo!”.

Paijo mengangguk. Tumben juga tidak ngeyel.

“Lalu apa alasan tempat yang tak ada bukunya alias bookless itu berhak tersemat kata library sehingga jadi bookless library?”, Paijo nyambung dengan penjelasan Karyo dan bertanya balik.

“Nah, itu, Jo. Kapan sebuah tempat yang tak ada bukunya boleh diberi label library, dan kapan tidak?”, Karyo menegaskan pertanyaan Paijo. Bukan menjawabnya.

“Jelasnya, logika Ellya Khadam dan Via Valent itu tidak nyambung jika dipakai untuk menganalisis bookless library?” Paijo menyimpulkan dengan setengah bertanya.

“Lalu bagaimana dengan pandangan Soplo, Kang? bahwa pos ronda itu juga bookless library.” Paijo penasaran dengan pendapat Karyo.

“Soplo benar, Jo. Benar. Mutlak benar. Pos ronda boleh disebut bookless library. Pendapat Soplo hanya akan gugur jika pos ronda tidak dimungkinkan memiliki salah satu ciri  wajib bookless library!,” Karyo.

“Loh, memangnya apa saja ciri bookless library, Kang?”, tanya Paijo.

“Ra jelas!”, Karyo menjawab singkat.

Paijo mrengut. Dia mbatin, Karyo ketularan mbeling.

[bersambung]



Monday, 9 December 2019

,

[ penjara ]

gambar: lisensi free dari Pixabay
Paijo janjian dengan Karyo. Tidak di gardu ronda, atau di halaman rumah. Kali ini mereka janjian ketemu di cafe.

Digilib Cafe, sebuah tempat yang kini jadi ikon di kampusnya.

“Biar kayak orang kaya, Jo?”, tanya Karyo.

“Wo, iya Kang. Selain itu, juga bisa sambil lirik kiri kanan,” Paijo menjawab dengan senyum ditahan.

“Haish. Gayamu, Jo!.”

***

Sampailah mereka di tempat tujuan. Takjub, heran, dan tak henti-hentinya mereka bersyukur bisa sampai di tempat cemlorot itu. Benar-benar nikmat yang tidak bisa didustakan.

Mereka masuk ke cafe. Lagak ndesonya Karyo tetap kelihatan ketika pesan minuman. Karyo heran melihat pembeli didepannya memesan dengan cara ngelus-elus layar. “Itu namanya tab, Kang. Tablet,” Paijo menjelaskan.

Paijo memang sudah pernah ke cafe ini. Dia mengajak Karyo sebagai usaha mengenalkan Karyo pada dunia luar. “Tablet? kayak obat wae.” Karyo bergumam. Paijo terkekeh.

Ketika tiba gilirannya ngelus-elus layar untuk milih menu, Karyo njondil. Matanya mencermati  harga yang tertera. “We, Kang Bayat bisa nesu ini”, lagi-lagi Karyo ngedumel. Bagaiana tidak? Kopi yang biasanya bisa dia tebus dengan harga 3000 dan itupun bisa ngutang, di tempat ini bisa berkali lipat dan tak boleh ngutang.

Paijo tersenyum.

***

Sambil menunggu pesanan, mereka duduk.

“Kang. Wis dengar kabar? tentang petugas penjara yang dipindah tugaskan sementara ke perpustakaan,” Paijo membuka obrolan dengan tema yang sudah disiapkan sejak sebelum berangkat.

“Yo,” Karyo menjawab pendek. Matanya menyapu ruangan. Berhenti sejenak di sudut-sudut ruang, ketika dapat pemandangan yang kontras berbeda. Tiga sosok bening-bening sedang berdiskusi, sesekali tertawa, kadang tersenyum. Mata Karyo tak lepas mamandang lesung pipi yang tiba-tiba tercetak ketika senyuman tersungging.

“Kang Karyo!. Wa, ini. Kalau lihat yang bening-bening, lalu lupa sama konconya.”

“Ssst. Lah, salahmu sendiri. Ngajak ke tempat ini. Neng angkringan ndak ada yang sebening itu, je”. Karyo jujur membela diri.

“Ya, aku dengar berita itu, Jo,” Karyo melanjutkan jawabannya.

“Keren itu, Kang.  Dengan memutuskan memindahkan ke perpustakaan, menunjukkan bahwa pimpinannya benar-benar visioner”, hampir sama dengan Karyo, Paijo membuka diskusinya ini dengan melihat sekeliling. Dua orang ini memang 11/12 kalau masalah yang bening-bening.

“Setidaknya, seperti maksud si pempimpin, petugas bisa belajar di perpustakaan. Keren tho ini, kang?. Tinggal dijelaskan saja target pemimpin pada si petugas yang dipindah,” kata Paijo.

Pandangan Paijo ini memang cukup berbeda. Atau bisa dibilang berbeda dari arus utama para pustakawan, yang sebagian besar menolak pemindahan petugas penjara ke perpustakaan. Pemindahan itu seolah meneguhkan bahwa perpustakaan itu tempat hukuman, begitu katanya.  Mungkin mereka lupa, bahwa itu di perpustakaan penjara. Lah penjaran kan memang tempat hukuman. Piye, tha.

Karyo menyela, “Kamu itu mbedani, Jo. Pustakawan lainnya pada protes. Mereka menganggap tidak sepantasnya perpustakaan dijadikan tempat hukuman. Kok kamu malah bergembira ria?”

Paijo tampak sedang menoleh ke bagian pemesanan. Berharap  kopi segera datang.

“Iya, Kang. Aku tahu. Tapi aku juga heran. Begitu banyaknya pustakawan berharap orang datang ke perpustakaan, ini ada petugas yang diminta rutin datang ke perpustakaan, malah sekalian bantu-bantu ngurusi perpustakaan, kok malah ditolak. Kan aneh?,” begitulah jawaban Paijo.

“Petugas ini juga berhak belajar. Meski dia pegawai, dia itu sekaligus pemustaka. Haknya sebagai pemustaka harus ditunaikan. Lak kudune pustakawan senang, ketika pimpinan memindahnya ke perpustakaan,” demikian Paijo.

“Iya, Jo. Tapi pandangannmu itu tidak sesuai dengan garis keumumam pendapat pustakawan. Ora umum.”

“Agaknya, kita sudah kehilangan ruh filosofi dasar perpustakaan sebagai tempat belajar bagi semua orang. Perpustakaan itu tempat belajar, apapun alasan orang itu belajar. Termasuk belajar karena diminta atau sebagai konsekuensi dari perbuatannya. Ya, seperti petugas penjara itu,” Paijo serius.

“Kita itu ingin menunjukkan kepedulian dengan cara melakukan penolakan, padahal kita tidak ada kuasa penuh atas takdir seseorang. Siapa tahu kepindahannya ke perpustakaan justru menjadi jalan titik balik dirinya. Bisa tho?” Paijo nerocos.

“Di sisi lain, Kang. Sebenarnya si petugas itu tidak dihukum. Dia justru disayang pimpinan, kemudian diminta belajar di perpustakaan. Sebaik-baik tempat untuk belajar. Siapa tahu di perpustakaan dia menemukan passion-nya,” Paijo mulai ndadi.

***

Di tengah obrolan, dua cangkir  kopi datang. Keduanya diletakkan di meja, lengkap dengan sedotan, tisu, dan gelas kecil air putih.

Karyo tampak bingung. Pesan kopi, kok juga diberi air putih. Dua paket kopi itu dibiarkan dulu di meja. Dipandangi dengan seksama. Dari kiri, dari kanan, dari atas. Hanya dari bawah saja yang tidak. Hora iso.

“Trus karepmu piye, Jo?, tanya Karyo.

“Memindah petugas yang bermasalah ke perpustakaan itu bagus kang. Kuncinya kejelasan dari si pimpinan. Target apa yang diberikan pada si petugas yang dipindah. Kalau pepusnya belum ada yang mengelola, justru bisa diminta mengelola. Kalau sudah ada pustakawannya, bisa kolaborasi. Dan ini ujian bagi perpustakaan. Mampukah sistem universal perpustakaan itu mampu melakukan perbaikan pada orang yang dianggap bermasalah?,” kata Paijo.

Agaknya Paijo ingin menjelaskan, bahwa jargon literasi dengan huruf L itu bisa diuji dengan kasus ini.

“Orang yang dianggap bermasalah itu berarti juga memiliki ketidak tahuan, maka tepat ketika diminta ke perpus, agar tahu,” itu prinsip dasarnya, Kang”.

Karyo mencerap penjelasan Paijo. Tuah senioritas Karyo lumpuh. Suasana Digilib membuatnya tak bisa berfikir banyak. Alurnya banyak dipengaruhi logika berfikir Paijo.

***

“Diminum, Kang!,” Paijo menyilakan Karyo.

Karyo meraih cangkir kopinya. Bibirnya mulai mendekat ke bibir cangkir. Dalam hitungan detik, dua bibir itu bertemu. Melumat dan dilumat. “Ssrrrppp”, suara khas nyeruput kopi itupun terdengar..

“Bsssssssss. Kok pahit banget, Jo?,” Karyo gebres-gebres.

Paijo menahan tawa yang sejengkal lagi meledak. “Normalnya kopi itu ya pahit, Kang. Makanya itu diberi segelas air putih sebagai penetralisir.”

“Tapi kalau ngopi di Kang Bayat kok ada manis-manisnya”.

“Itu air gula campur kopi, Kang. Bukan kopi," Paijo ngakak tidak bisa ditahan.

Obrolan itu selesai. Mereka sibuk dengan  cangkirnya masing-masing. Tentunya, dengan tetap melihat kiri kanan, alias cuci mata.

***

 “Wis, kita pulang, Kang,” ajak Paijo. “Jangan lupa cuci tangan. Tadi ketika pesan kopi, Kang Karyo ngelus-elus tablet, kan?”

“Emang kenapa, Jo?,” Karyo penasaran.

“Bekas elusan tablet bisa berpengaruh pada elusanmu pada Mbakyu Karyo nanti malam, Kang”

Karyo mrengut menahan mangkel.

“Tenang, Kang. Tak bayari." Sebuah e-money dicabut Paijo dari dompetnya. Digesek, menekan pin, lalu selesai.

[[ tamat ]]

Thursday, 5 December 2019

[Tugas luar]

"Tumben gelem tugas luar, Kang", komentar seorang kawan melalui jejaring sosial. Saya memang jarang tugas luar. Terhitung sudah tahunan saya tidak pergi dari wilayah UGM pada jam kerja, terutama ke luar daerah.
Konsentrasi di tempat bekerja lebih saya utamakan.
Keluar UGM pada jam kerja itu ada dua sebab: sebab eksternal dengan diundang atau ditawari; serta internal karena diminta/diutus. Sebab eksternal masih bisa saya tawar, dengan berbagai alasan. Utamanya karena keterbatasan kemampuan saya. Rumangsa, kata orang jawa.
Namun, sebab internal sulit ditolak.
Kalau ada dua undangan bersamaan, misalnya, maka UGM lebih saya dahulukan. Repotnya, jika sudah menyanggupi acara di luar UGM, kemudian ada undangan atau acara bersamaan di UGM. Hal ini sangat membuat saya merasa bersalah. Mungkin, karena itulah akhirnya saya mengurangi kegiatan dan organisasi yang menjadikan harus keluar UGM dalam jam kerja.
Prinsip dasar yang saya anut adalah UGM first, lebih khusus FT UGM first. Kenapa? karena rejeki saya mengalir lewat kepercayaan UGM pada saya, khususnya FT UGM.
Hingga akhirnya bulan November 2019 saya meninggalkan jam kerja. Pertama ke UII, yang masih satu propinsi, bahkan satu kabupaten. Saya ke UII karena ikut seminar, yang saya merasa masih berhubungan dengan peran saya sebagai pustakawan di FT UGM. Tentunya dengan ijin pimpinan terlebih dahulu.
Kemudian akhir November ke Bandung. Tujuan Ke Bandung ini bukan karena diundang, tapi karena diminta oleh UGM (perpus UGM) sendiri. Maka, saya sebisa mungkin menjalankan perintah.
Pernahkah ada dua kepentingan bersamaan?
Pernah. Dan saya utamakan UGM dahulu. Mungkin ada yang menyayangkan. Tapi begitulah keputusan saya. Selain itu, jujur saja, meski ada kalanya dilanda kangen, saya memang mengurangi kegiatan luar. Capek eui.
Mungkin karena sebab itulah, saya harus menghadapi konsekuensi: tertinggal banyak hal terkait perkembangan kepustakawanan.
Namun, dgn fasilitas internet kampus yang lancar, saya masih punya harapan belajar. Belajar perkembangan kepustakawanan melalui berbagai saluran yang bisa saya jangkau.
note:
hal di atas adalah pertimbangan saya pribadi.
Foto: nenteng tas di depan gerbang ITB

Tuesday, 26 November 2019

Visualisasi lowongan pekerjaan CPNS pustakawan - perpustakaan tahun 2019

Dataset diambil dari https://sscn.bkn.go.id/ dengan pencarian menggunakan kata kunci "pustakawan" atau "perpustakaan".

Setelah data diperoleh, data diolah menggunakan LibreOffice Calc dengan ketentuan:

  1. nama instansi yang membuka lowongan dikelompokkan menjadi
    • "pemerintah" yang berisi institusi pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, atau kota)
    • "badan" yang berisi berbagai badan negara
    • "perpusnas" yang berisi institusi perpustakaan nasional
    • Selain 3 di atas tidak digunakan, karena hanya ada 1 untuk kepolisian, dan 1 lembaga, yang datanya sudah terwakili - padahal males ngedit :) 
  2. jenis lowongan, serta syarat pendidikan pelamar disatukan dalam satu sel dipisahkan dengan koma
  3. nama instansi digabungkan dengan sel yang memuat jenis lowongan dan syarat pendidikan dengan kategori author
  4. nama instansi pada nomor 3, juga diambil sebagai title
Dengan adanya data author yang terdiri dari instansi, jenis lowongan, serta syarat lowongan, maka diharapkan dapat divisualkan hubungan ketiganya sesuai dengan kelompok instansi.

Data di atas disusun dalam format file CSV sesuai format Publish or Perish. Kemudian diimport ke Publish or Perish, dieksport ke Zotero, baru terakhir dari Zotero ke format .ris untuk akhirnya dibaca di Vos Viewer.

Hasil visualisasinya sebagai berikut:

Visualisasi lowongan pada badan negara
Visualisasi pertama dengan 11 data lowongan pada instsansi badan negara. Pada visualisasi di atas terlihat beberapa jabatan lowongan pekerjaan terkait perpusakaan. Pertama pustakawan ahli pertama, kemudian juga ada pustakawan pelaksana/terampil.

Dua jenis jabatan ini terbagi menjadi dua klaster, yang mengindikasikan syarat pendidikan pelamar. Perbedaan penyebutan pendidikan S1 "Perpustakakaan" masih terjadi pada lowongan instansi badan pemerintah ini. Ada yang disebut ilmu perpustakaan, ilmu informasi dan perpustakaan, ilmu perpustakaan dan informasi. Uniknya, lowonga pustakawan ahli ini terbuka bagi S1 kearsipan.

Tidak jauh beda dengan lowongan untuk pustkawan pelaksana terampil. Jabatan ini diperuntukkan bagi alumni D III.  Perbedaan nama jurusan perpustakaan juga terjadi. Selain itu, jabatan ini juga terbuka bagi D III kearsipan.
lowongan di instansi pemerintah daerah
Lowongan di instansi pemerintah daerah memiliki jumlah paling banyak. Setidaknya ada 319 lowongan.

Jabatan yang dibuka beragam. Ada pustakawan ahli pertama, pengawas perpustakaan, pustakawan pelaksana/terampil, penyuluh perpustakaan, penyusun rencana kehumasan dan perpustakaan.

Jenjang pendidikan yang dibutuhkan pun sangat beragam.

Berikut beberapa visualisasi lowongan di pemerintah deaerah, berdasarkan nama jabatannya.
Pustakawan ahli di pemerintah daerah

Pustakawan terampil di pemerintah daerah

Penyusun perencana kehumasan dan perpustakaan di pemerintah daerah

Pengelola perpustakaan di pemerintah daerah

Pengawas perpustakaan di pemerintah daerah
Pada lima visualisasi di atas, terlihat jabatan dan syarat yang menyertainya. Ada pendidikan selain "perpustakaan" yang bisa melamar. Termasuk bidang sejarah, kearsipan, sastra indonesia, administrasi, dokumentasi, komunikasi, humas, bahasa asing, manajemen rumah sakit,  Bahkan untuk penyuluh bisa dilamar lulusan teknik industri.

Lowongan di Perpustakaan nasional
Setelah tahun lalu perpusnas membuka lowongan pustakawan dari berbagai jurusan, tahun ini ada 12 institusi di bawah perpusnas yang membuka lowongan. Dilihat dari nama jabatannya, hanya ada dua: terampil, dan ahli.

Terampil dapat dilamar alumni d3 ilmu perpustakaan, sementara ahli pertama diperuntukkan bagi S1 ilmu perpustakaan.

Kesimpulan

  1. Nama jabatan bermacam-macam, sesuai kebutuhan. Terlihat paling mencolok variasinya di instansi pemerintah daerah
  2. Nama prodi yang dibutuhkan juga macam-macam. Mulai dari ilmu sosial, bahkan ada juga yang teknik.
  3. Tidak ada lowongan untuk S2
  4. Tidak ada lowongan untuk alumni D2, atau D1 perpustakaan
  5. Lowongan di Perpusnas terlihat paling rapih. Dengan 2 jenis jabatan lowongan, untuk 2 jenjang pendidikan perpustakaan.

Pernyataan
Mohon maaf kalau keliru ambil data dan analisis.
----------------------

Sambisari,
Slasa Kliwon 28 Mulud Wawu 1953 AJ.
05.50 pagi

Monday, 11 November 2019

Membuat rumus di Latex menggunakan MathPix

Extract LaTeX from PDFs or handwritten notes in seconds. Download Snip for desktop and start saving time

Dengan aplikasi ini https://mathpix.com/, kita bisa memperoleh kode rumus pada Latex secara cepat. Tersedia di Android, iOS, Windows, Linux, dan Mac.


Uniknya aplikasi ini diakui oleh ilmuwan sekaliber Einstein, Newton dan Alan Turing.

“If I had known about Mathpix earlier, perhaps I would have had enough time to work out the Grand Unified Theory.”

Albert Einstein


“When I lost my .tex file to the Principia, I was devastated. Mathpix helped me effortlessly use equations from the Principia in my new work. I now have more time to stand beneath trees and get hit by apples.”

Isaac Newton


“Mathpix's AI definitely passes this Turing test!”

Alan Turing