Saturday, 16 September 2017

, ,

Kompetensi pustakawan merupakan bentuk pengganti dari keterbatasan anggaran perpustakaan

candi sambisari, Jogja
Purwo.co - Selama ini, kabarnya masih ada perpustakaan yang hidup dengan anggaran yang tidak memadai. Akhirnya ada keterbatasan pengelolaan, koleksi terbatas, fasilitas terbatas, pengembangan juga terbatas.


Paijo: perpus mana, To? - Parto: ah, mestine ya ana, Jo.

Ini wajar. Karena memang anggaran memiliki posisi penting dalam menjalankan roda organisasi perpustakaan serta pengembangannya. Namun, apakah tidak ada jalan lainnya?

Perpustakaan merupakan lembaga atau unit yang bergerak untuk membantu organisasi induknya. Misal perpustakaan sekolah untuk mendukung sekolah, perpustakaan perguruan tinggi untuk mendukung perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan daerah untuk mendukung visi misi daerah dalam rangka melayani masyarakatnya. Secara umum demikian, jika dalam pelaksanaannya muncul kreatifitas ke kanan atau kiri, itu bentuk fleksibilitas profesi saja.

Nah, jika sebuah perpustakaan kekurangan anggaran, misal karena anggaran dipotong, dikurangi, apa yang harus dilakukan pustakawan?


Jangan galau, dipikir karo seneng wae. 

Efek kurangnya anggaran, dipotongnya anggaran dan semacamnya, tidak dibebankan pada pustakawan. Bukan. Jadi pustakawan tidak perlu GR dan baper. Efeknya akan dirasakan oleh si pemimpin organisasi induk. Yakinlah. Kalau perpustakaannya kurang bagus, pustakawan wajib mengusulkan perbaikan. Kalau ditolak, efeknya ada di pemimpin organisasinya, bukan pustakawan dan pemimpin perpustakaannya.


“Siapa sih bupatinya?”, “siapa sih walikotanya?”, “siapa sih kelapa selokahnya?”.
Jadi, ndak usah dipikir terlalu dalam. Sik penting bergembira dan utamakan kesehatan.

Kalau perpustakaan sekolah anggarannya minim, ya ndak apa. Karena memang mungkin sebatas angka itu institusi mampu memberi anggaran. Atau ada prioritas lain yang oleh pemimpin dianggap lebih penting. Tidak apa, memang pemimpin berhak memberi prioritas anggaran sesuai dengan visi dan misi yang dia canangkan.

Jalankan saja perpustakaan sesuai  dengan anggaran yang diberikan. Fokuskan anggaran tersebut pada hal yang anda anggap paling penting dalam pengelolaan perpustakaan anda. Koleksi, fasilitas, atau apapun. Kalau tetap kurang  bagaimana?


Jalankan dengan filosofi hidup. Sitik akeh, sik penting disyukuri. Insyaalllah berkah, kekurangane sik nyukupi Gusti Allah.

Lalu, bagaimana selanjutnya?

Mainkan kompetensi atau skill anda untuk menjalankan roda organisasi perpustakaan. Inilah pentingnya kompetensi, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Pustakawan sekolah yang mahir Corel Draw atau aplikasi desain grafis lainnya, bisa digunakan untuk membuat kegiatan pelatihan desain grafis bagi pemustaka/siswanya. Pustakawan yang mahir Bahasa Indonesia (tata bahasa, dan lainnya), dia bisa memainkan keahliannya tersebut untuk membimbing mahasiswa menulis. Pemustaka yang mahir menggambar kaligrafi, sket gambar, atau semacamnya, bisa membuat kegiatan terkait, bersama pemustaka.

Paijo: Ngajari nggambar? Itu tugas pustakawan kah?
Parto: rasah digagas, sik penting nyambut gawe. Memang selama ini kan pustakawan itu pekerjaannya “mengais” (jawa: golek-golek) pekerjaan.


saoto bathok Sambisari
Contoh di atas hanya beberapa saja, ada banyak kompetensi yang bisa digali untuk digunakan pustakawan menggerakkan perpustakaannya. Tentunya level perpustakaan yang dikelola akan berpengaruh. Kompetensi pustakawan merupakan bentuk lain dari terbatasnya anggaran perpustakaan.

Luasnya kompetensi pustakawan, selain kompetensi inti pustakawan, menjadi sangat penting dalam pengelolaan perpustakaannya. Di sini, pustakawan perlu melihat berbagai perkembangan ilmu selain perpustakaan, dan mencoba menguasai dan menerapkannya untuk melayani pemustaka. Bukan hanya hardskill, namun juga softskill.


Paijo: loh, koleksi kan penting, Kar? Sekarang jurnal harganya melangit. Larang, mahal, dan susah ditawar. 
Karyo: yo ra popo. Kalau mahal, ya ndak usah dibeli kalau duitnya ndak cukup. Rasah dipikir ribet, utamakan kesehatanmu, Jo. Gampang, tho? 

Untuk memenuhi kemampuan/kompetensi tersebut, pustakawan dapat belajar mandiri, di sinilah konsep belajar sepanjang hayat menemukan ruangnya. Jika ada kesempatan belajar (sekolah) lagi, usahakan kuliah pada program studi selain ilmu perpustakaan. Jangan linear. Dengan demikian, pustakawan akan lebih kaya.



Sambisari, tanggal enam belas, bulan sembilan
tahun dua ribu tujuh belas.
enam, empat belas pagi




Friday, 15 September 2017

Sinta: indikator produktifitas ilmuwan Indonesia

Purwo.co - SINTA (Science and Technology Index) yang beralamat di sinta.ristekdikti.go.id, setelah versi pertama, beberapa waktu lalu dirilis versi kedua. SINTA, sebagaimana ditulis di webnya, merupakan sistem informasi penelitian, yang menyajikan informasi sitasi dari berbagai ilmuwan dengan berbagai keahliannya.

Web sinta sudah responsif, sehingga nyaman dibuka di gadget.

Sinta menampilkan berbagai informasi, yang dihimpun dari Google Scholar dan Scopus.  Terdapat tiga informasi utama dalam SINTA, yaitu penulis, afiliasi (organisasi), dan jurnal.
Laman profile Prof. Panut Mulyono (Rektor UGM)


Informasi terkait penulis, menampilkan informasi ranking penulis yang terdapat di SINTA berdasar skor SINTA. Saat tulisan ini dibuat, ranking pertama adalah Suharyo Sumowidagdo, dari LIPI dengan SINTA score 278. Cukup jauh, menyusul pada peringkat kedua Suryadi Ismadji dari Universitas Katolik Widya Mandala dengan skor 86. Tentunya, peringkat ini tetap akan dinamis, sembari data masuk dalam SINTA.

Pada masing-masing profil penulis, terdapat informasi h-index di Scopus dan Google Scholar, jumlah artikel, book chapter dan conference papers yang pernah ditulis, jumlah dokumen di Scopus dan Google Scholar lengkap dengan sitasinya dan pertumbuhannya tahun demi tahun, serta lima dokumen tertinggi sitasinya. Selain itu, SINTA juga menampilkan area keahlian dari si pemilik profil.

Fitur menarik, Sinta menampilkan jejaring penulis dalam visual yang nyaman dilihat. Si pemilik profil dapat melihat siapa saja yang berjejaring dan bagaimana polanya.
Jejaring Prof. Panut Mulyono

Sayangnya, belum ada informasi kontak pada profil penulis.

Informasi berikutnya terkait afiliasi atau organisasi. Saat tulisan ini dibuat, UGM menempati posisi teratas dengan skor 18,763 disusul IPB dengan skor 14,544. Jika dilihat detail afiliasi, akan diperoleh informasi jumlah penulis yang terverifikasi SINTA dari institusi tersebut, grafik pertumbuhan jumlah dokumen terindeks Scopus dan Google Scholar berdasar tahun serta jumlah sitasinya. Serta jumlah artikel jurnal, book chapter dan conference papers dari institusi tersebut.
Lima Institusi score tertinggi 


Informasi terakhir terkait jurnal. Jurnal yang terdeteksi di SINTA dikategorikan dalam skor S1 sampai S6. Informasi jurnal yang ditampilkan SINTA memuat skor, h-index dan jumlah di sitasinya, keterangan diindeks oleh Scopus (jika telah terindeks Scopus), grafik statistik sitasi  berdasar tahun, alamat web, email, dan nomor telepon, informasi editor jurnal, serta artikel yang diurutkan berdasar jumlah disitirnya berdasar data di Google Scholar.
6 jurnal score tertinggi


Saat tulisan ini dibuat, peringkat pertama jurnal diraih oleh Telkomnika yang memperoleh skor S1, dengan h-index 22, dan sitasi 3.348.

Angka yang ada di SINTA, baik terkait penulis, afiliasi dan juga jurnal tentunya memiliki makna, serta aturan penghitungan tertentu. Angka yang muncul, dapat menjadi tolok ukur produktifitas, dan posisi jurnal, afiliasi dan penulis di tengah masyarakat ilmiah. Indikator ini, tentunya menjadi indikator mandiri bangsa Indonesia, yang menggabungkan angka yang muncul di Google Scholar dan Scopus.


Namun, jangan sampai hanya berhenti pada angka-angka tersebut. Kemanfaatan ilmu para ilmuwan, juga harus melampaui angka-angka di SINTA. Artinya juga harus menciptakan angka-angka di tengah masyarakat luas, bangsa Indonesia yang selalu menantikan karya dan kontribusi para ilmuwan untuk kemaslahatan ummat manusia.


Wednesday, 23 August 2017

,

Zotero 5.0: mulai dari feed reader, my publication, editor style, multi bahasa

Zotero merupakan aplikasi manajemen dokumen referensi. Beberapa waktu lalu, Zotero merilis versi 5.0. Judul di atas, sebebarnya belum mewakili fitur baru di Zotero. Untuk melihat lebih lengkap, silakan klik https://www.zotero.org/support/5.0_changelog#changes_in_50_july_10_2017. Apa saja yang baru?

RSS di Zotero

Zotero sekarang memiliki fitur feed. Sebuah alamat feed dapat kita pasang di Zotero, maka akan tampil artikel terbaru, atau sesuai setingan feed. Di sebelah kanan, ada fitur untuk langsung menyimpan artikel tersebut, termasuk file ke dalam database Zotero. Keren kan?
Tidak harus memasang dua aplikasi berbeda untuk manajemen referensi dan feed reader.

metadata dan file yang disimpan
Gambar di atas menunjukkan data yang disimpan, termasuk juga file PDFnya. Untuk membuka file PDF, tinggal double click saja.

pencarian lanjut
Selain itu, terdapat pencarian lanjutan yang lebih lengkap. Pencarian yang dilakukan, dapat disimpan untuk dibuka dilain waktu. Sehingga tidak perlu melakukan pencarian ulang.

panel untuk mengubah gaya kutipan

Gambar di atas juga fitur baru, editor gaya kutipan. Dengan fitur ini, kita dapat mengubah gaya kutipan, dan menyimpan gaya tersebut untuk kita gunakan. Pada versi sebelumnya, kita harus melakukan manual dengan membuka file CSL, atau melalui CSL editornya Citationstyles.

pra tayang gaya kutipan

Melengkapi fitur sebelumnya, tersedia juga pra tayang dari gaya kutipan yang terpasang. 

, ,

Konsep kerja pustakawan profetik

tulisan ini sekedar untuk mengikat perenungan saya saja. Tentunya, belum layak disebut artikel.
Pustakawan dalam tulisan ini saya batasi terkait profesi seseorang yang mendedikasikan dirinya bekerja di institusi perpustakaan, dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di dalamnya. 

Tulisan ini hendak menyampaikan sisi pustakawan yang tetap harus dijaga sebagai bagian dari proses hidupnya sebagai manusia yang berketuhanan. Salah satu bagian dari judul tulisan ini adalah kata profetik, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti terkait dengan kenabian. Keterangan di laman https://kbbi.kemdikbud.go.id/ tertulis pro.fe.tik /prof├Ętik/ a berkenaan dengan kenabian atau ramalan.

Lalu apa yang dimaksud pustakawan profetik?

Kita periksa pengertian pengobatan profetik, yang dimaknai sebagai konsep pengobatan yang berdasarkan hadits nabi, atau Qur'an. Kalimat aslinya begini "Prophetic medicine is the total authentic Hadith narrated by the Prophet, peace be upon him, in relation to medicine, whether Qur'anic verses or honourable Prophetic Hadith". [3] Sementara itu, guru profetik ditarsirkan sebagai guru yang memiliki 3 sikap: humanisasi, liberasi dan transendensi yang mewujud dalam kepribadiannya. [5]


Nah, sekarang apa itu pustakawan profetik?
Paijo: loh, kok cuma dua referensinya?
Parto: tidak apa-apa

dalem ageng Kyai Mohammad Besari, Ponorogo.
Pustakawan profetik, adalah pustakawan yang selain dia sadar menjalankan peran-peran sebagai pustakawan dalam mengelola perpustakaannya, dia juga melakukan tugas dengan meniru semangat atau karakter kenabian pada proses pekerjaannya. Semangat ini terkait dengan kesadaran kemanusiaannya yang hidup di antara manusia lain, dan terkait dengan unsur keakhiran dirinya, yang tidak akan hidup selamanya. Dengan demikian, pustakawan akan menggunakan posisi profesinya untuk selalu menyampaikan kebaikan kepada orang lain, dan saling membantu dalam kebaikan. 

Point semangat yang diemban, sama dengan point semangat dari guru profetik. Semangat profetik pertama adalah humanisasi, memanusiakan manusia. Semangat kerja pustakawan harus memanusiakan manusia melalui konsep hubungan yang berpusat pada Tuhan, dengan pekerjaan kebaikan dan kebenaran yang mengacu pada kepentingan manusia. Memanusiakan manusia, dengan menganggap semua manusia sejajar, dan memiliki hak untuk mendapatkan informasi dan layanan dari perpustakaan. 

Orang yang datang ke perpustakaan, adalah orang yang memiliki masalah, serta membutuhkan jalan keluar dari masalahnya. Dia wajib dilayani (sesuai jenis perpustakannya) untuk menemukan titik terang jalan keluar dari masalah yang menghimpitnya. Orang ini harus diposisikan ibarat orang yang kehausan dan membutuhkan minum. Tidak ada kata lain, kecuali memberi segelas (atau secukupnya) air minum, sebagai bagian dari memanusiakan manusia. Karena, kebutuhan manusiawi tersebut akan berlaku pada siapapun.

Baca juga Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya 

Selain humanisasi yang berpusat pada Tuhan, berikutnya pustakawan profetik harus punya semangat liberasi. KBBI mengartikan liberasi, salah satunya sebagai proses membebaskan seseorang dari kontrol atau kendali orang lain. [6] Semangat ini merupakan semangat untuk membebaskan manusia, atau dalam hal ini pemustakanya dari kondisi keterbelakangan, kemunduran, menuju kemajuan.

Liberasi dalam hal ini dimulai dari liberasi di lingkungan terdekat dari perpustakaannya dan dirinya. Pustakawan harus mampu merumuskan permasalahan-permasalahan dalam komunitas pemustakanya, kemudian mencari jalan keluar yang mungkin dilakukan oleh pustakawan. Tentunya, tidak  berhenti pada konsep saja, pustakawan harus secara nyata melakukan proyek liberasi tersebut secara terus menerus.

Transendensi, sebagai semangat ke tiga yang mendasari kedua aspek di atas. Transendensi berwujud keimanan (yang diikuti dengan menjalankan ritual bukti iman) kepada Tuhan yang akan mendorong, mengarahkan serta rambu proses liberasi dan memanusiakan manusia (humanisasi) yang berpusat pada Tuhan agar sesuai dengan jalannya. Proyek liberasi dan humanisasi, sangat mungkin akan bersinggungan dengan aspek non transenden. Aspek transendensi lah yang akan mengontrol proyek ini.

Semangat pustakawan profetik ini, dapat dimaknai dari semua agama, atau siapapun pustakawan dengan agama apapun. 

Dengan 3 hal tersebut di atas, pustakawan akan memiliki arah dan pedoman yang jelas dan luhur. Tidak hanya sekedar bekerja, dan lepas dari perannya sebagai penerus semangat kenabian. Namun dengan semangat tersebut, pustakawan akan memiliki pandangan arif dan bijak dari gejolak-gejolak yang ada dalam profesinya, yang terkadang masih belum mapan. Karena gejolak yang ada dalam profesinya, adalah bagian dari proyek humanisasi, liberasi dan transendensi yang diembannya. Orang yang kemudian dianggap sebagai akar masalah, harus dipandang sebagai orang yang perlu dicerahkan, mereka adalah obyek dari semangat liberasi pustakawan profetik.

Dengan konsep tersebut, diharapkan pustakawan akan berimbang dalam bekerja. Sehingga aspek ruhiyah dan lahiriah dapat berjalan beriringan. Hal ini penting, di tengah perkembangan jaman yang semakin (kata orang) maju.

Pustakawan diharapkan dapat berperan optimal sesuai profesinya, namun dia juga tidak boleh tercerabut dari pemaknaan dirinya sebagai makhluk yang tidak akan hidup selamanya.

Pustakawan, juga akan mampu melihat sisi-sisi tersembunyi yang bisa dikembangkan untuk kebaikan perpustakaan dan masyarat sekitarnya (pemustaka).

Monggo, boleh berkomentar di kolom komentar.

*) terinspirasi dari istilah ekonomi profetik, guru profetik, dan kemudian menemukan istilah Ilmu Sosial Profetik. Point tulisan ini dipengaruhi oleh laman tentang ilmu sosial profetik di Wikipedia + buku Kuntowijoyo [4]

4. Kuntowijoyo (2004). Islam sebagai ilmu: epistemologi, metodologi dan etika 
5. KEPRIBADIAN GURU YANG PROFETIK (Kajian Analitik Terhadap Buku Spiritual Teaching Karya Abdullah Munir)  http://digilib.uin-suka.ac.id/5540/1/BAB%20I%2C%20IV%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

Sambisari, hari terakhir bulan agustus 
tahun dua ribu tujuh belas
enam dua sembilan pagi


Monday, 21 August 2017

, ,

Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya


Semua orang akan menyebut nama sebuah perpustakaan, misalnya Perpustakaan A, sebagai jawaban atas pertanyaan: “perpustakaan apa yang terbesar di dunia?”. Namun ketika ditanya tentang perpustakaan yang paling lengkap, maka jawabnya adalah tidak ada perpustakaan yang paling lengkap. “Semua perpustakaan saling melengkapi”, demikian jamak orang memberi alasan.


sawah dan kedamaian
Perpustakaan yang ada, dan saling melengkapi itu, jika disatukan, hasilnya adalah jagat raya yang kita tempati ini, serta  segenap isinya. Jagat raya ini, merupakan perpustakaan terbesar sekaligus terlengkap. Di dalamnya terkandung semua ilmu pengetahuan, yang dibutuhkan ummat manusia untuk proses kehidupannya, yang tersusun sistematis. Ada yang telah terbukukan, atau yang belum. Ada yang terpecahkan, ada yang masih menjadi tanda tanya. Semuanya ada di jagat raya ini.

Apa yang ada di jagat raya ini, kemudian dipilihi, sesuai tujuannya dan disimpan dalam ruang-ruang yang diinstitusikan, agar manusia mudah menemukannya ketika membutuhkan. Ruang-ruang tersebutlah yang kemudian disebut sebagai perpustakaan dalam arti umum saat ini. Perpustakaan ini, hanya bagian kecil saja dari perpustakaan terbesar, jagat raya. Pengelolanya disebut pustakawan.


Jagat raya adalah perpustakaan terbesar dan terlengkap, gedung/ruang perpustakaan adalah perpustakaan kecil.

Penamaan pengelola perpustakaan kecil dengan sebutan “pustakawan” disebabkan oleh sistem. Terkait dengan legal-formal ciptaan manusia, terkait dengan status, struktur, profesi dan hajat hidup manusia. Pustakawan yang lahir karena aturan tertulis manusia ini, justru menyempitkan konsep pustakawan yang universal.

###

Perpustakaan-perpustakaan kecil, menjadi ladang penciptaan struktur yang baru. Pustakawan – pemustaka. Yang di dalamnya ada hak dan kewajiban, diatur dengan aturan internal, bahkan dengan undang-undang, yang harus ditaati keberadaannya.

Pustakawan menyediakan segalanya untuk melayani pemustaka. Mereka dituntut untuk selalu mengembangkan perpustakaannya, mengikuti jaman, mengikuti tren, mengikuti kebutuhan pemustaka. Di sisi lain, pemustaka menempatkan pustakawan sebagai pihak yang mengelola dalam arti seluas-luasnya, tempat bertanya jika membutuhkan informasi, tempat mengkonformasi informasi valid atau hoax dan lainnya. Tentu saja, orang yang dituju ketika mau meminjam dan mengembalikan buku.


###


Pustakawan yang sesungguhnya, adalah semua manusia yang tersebar di dunia ini. Mereka adalah pustakawan bagi dirinya sendiri. Mereka semua memiliki cara mereka masing-masing untuk mencari, menyimpan, mengolah dan menemukan kembali informasi serta menyebarkan kembali pada orang lain. Cara mereka unik, yang mungkin berbeda satu dan lainnya, dan mungkin hasil pencariannya juga akan berbeda.


Setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri

Proses masing-masing hasilnya  dianggap berbeda, dianggap benar, dan juga dianggap keliru oleh sebagian lainnya. Padahal, orang lain yang menganggap keliru tersebut, tidak otomatis semua proses pencarian informasinya benar. Tidak ada jaminan. Maka, demikianlah,  semua memainkan dirinya sebagai pustakawan, bagi dirinya sendiri. Mereka saling mengonfirmasi  informasi dan pengetahuan yang diperoleh.

Jagat raya, yang merupakan perpustakaan terlengkap ini menaungi semua manusia. Mereka punya posisi sama pada informasi di perpustakaan tersebut. Namun, alat dan jangkauan masing-masing pustakawan ini yang berbeda. Sama dengan pustakawan di perpustakaan kecil, yang juga memiliki alat dan jangkauan yang berbeda.


###


Sebagai perpustakaan yang terlengkap di dunia, jagat raya memiliki posisi istimewa. Segala dinamikanya, akan diikuti oleh perpustakaan kecil. Atau, jika dibalik maka kalimatnya menjadi “perkembangan perpustakaan kecil mengikuti apa yang terjadi di perpustakaan besar (jagat raya)”.

Ketika di jagat raya orang merasa nyaman di tempat-tempat sunyi, dingin dan duduk di sofa empuk sambil tiduran, maka atmosfir tersebut dibawa ke perpustakaan kecil. Hasilnya, ruang perpustakaan akan dilengkapi dengan AC yang terjamin suhunya, sofa yang nyaman dengan berbagai bentuknya untuk duduk dan membaca, serta bercengkerama. Ketika di jagat raya ada orang yang senang bergerombol dan berdiskusi, perpustakaan kecil juga menyediakan ruang-ruang agar mereka bisa terfasilitasi, lengkap dengan layar elektronik berteknologi tinggi.

Ketika di jagat raya muncul tren cepatnya informasi ditemukan di internet, maka perpustakaan menduplikasinya dengan membuat sistem-sistem canggih yang membuat apa yang diperoleh di jagat raya, dapat pula dilakukan di perpustakaan.

Ketika di jagat raya ada pertunjukkan chef yang mempraktikkan resep masakan di depan ibu-ibu, kemudian bersama mencicipi makanan tersebut, maka perpustakaan menduplikasinya. Hasilnya merupakan tawaran untuk melakukan hal serupa di perpustakaan, dengan dalih menyatukan buku dan mempraktikkan apa yang ada dalam buku tersebut.

Ketika di jagat raya terdapat kecenderungan orang membaca sambil olahraga, maka perpustakaan berusaha menduplikasinya. “Hoei, di perpustakaan juga perlu alat olah raga, lho. Agar orang yang belajar, bisa melepas penat belajar dengan  olah raga”, demikian serunya. Akhirnya, ada alat olah raga di perpustakaan.

Ketika di jagat raya, ditemukan orang sangat tertarik dengan game terkini, maka dibawalah game tersebut ke perpustakaan. Dengan harapan, orang-orang akan semakin banyak yang datang ke perpustakaan. Bahkan, game digunakan sebagai alat untuk mengenalkan perpustakaannya. Tentunya, agar manusia tertarik menggunakan perpustakaan kecil.

Ketika di jagat raya ditemukan.. dan seterusnya-seterusnya…

Tren di perpustakaan kecil, adalah duplikasi dari apa yang terjadi di jagat raya

Atmosfir yang dibawa ke perpustakaan tersebut, kemudian dilabeli dengan istilah terkini, yang menjadi daya magis dan menyihir para pustakawan. Learning common, maker space, dua di antaranya. Demikian juga scholarly communication, blended librarian, embedded librarian dan lainnya

Mengikuti tren perpustakaan, sama dengan mengikuti tren jagat raya. Ikuti saja yang diperlukan. Jangan silau pada tren. Tidak semua yang ada di jagat raya dapat dibawa ke perpustakaan kecil. Tidak muat, lah.


 Sambisari, 21 Agustus 2017
lima lebih dua puluh menit pagi


Catatan: “setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri”, merupakan perenungan yang sejak lama muncul dalam benak saya. Jagat raya sebagai perpustakaan terbesar, dikukuhkan dengan cerita seorang kawan, Maryanto (http://www.kangsumar.net/, setelah menonton pertunjukan wayang Suluk Salya, dengan dalam Sujiwo Tedjo di Fakultas Filsafat UGM, 18 Agustus 2017.

Friday, 11 August 2017

Menjadi mayoritas ketika minoritas

Purwo.co - Melakukan perjalanan jauh, bisa dirasakan sebagai sebuah kenikmatan, ada yang menganggap tantangan, ada juga yang dilakukan untuk liburan.


Ruang Muslim Club
Tapi ini bukan tentang liburan, namun sebuah tugas yang bagi saya cukup berat. Boleh dianggap sebagai tantangan, dengan dilengkapi unsur hiburan serta jalan-jalan. Jangan lupa bergembira.

Bu Kepala Perpustakaan UGM, menawari saya untuk datang di sebuah perhelatan pustakawan AUNILO | Libraries of ASEAN University Network di Thailand pada 10-11 Agustus 2017. Setelah beberapa pertimbangan, dan diskusi dengan istri, akhirnya saya menyanggupi tawaran tersebut. Sebagai bawahan, ya tentunya nderek saja. Bu Kepala mengutus dua orang, saya bersama seorang senior, Pak Haryanta.

###

Ketika melihat tanggal dan bulan pelaksanaan, ternyata pelaksanaannya termasuk hari Jumat. Selain itu, Thailand adalah negara yang sedikit populasi muslimnya. Sebagai seorang Muslim, saya bertanya-tanya, "di mana saya bisa melakukan sholat Jumat, dan dimana mendapatkan makanan halal?"

Sayapun mencari informasi tentang tempat pelaksanaan, Mahidol Universiti.  Ternyata Mahidol memiliki klub mahasiswa muslim, dan tersedia ruang untuk melakukan sholat, termasuk sholat Jum'at tentunya. Saya mendapatkan informasi ini dari beberapa pihak yang saya kontak. Dari web, panitia, dan dari Samadee, seorang mahasiswa Muslim di  Mahidol University, yang kontaknya saya peroleh dari panitia. Salut saya untuk panitia yang begitu sigap menjawab email saya.

Central Plaza
Selain itu, saya bertanya pada alumni Mahidol yang berasal dari Indonesia. Daftar alumni saya peroleh dari web universitas. Saya cek namanya, yang saya yakini pemilik namanya seorang muslim, saya kirimi email. Hasilnya sama, ada ruang yang disediakan untuk sholat Jum'at. Ah, lega rasanya.
Saya juga bertanya pada teman di Thailand. Prasitichai Lertratanakehakarn, yang saya kenal melalui komunitas SLiMS.

Begitulah. Karena saking ndredegnya,  apapun saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan informasi saya. Ndeso, kata orang kota.

###

Setelah perjalanan panjang Jogja-Jakarta, Jakarta-Svarnabhumi, serta perjalanan darat dari bandara di tengah macet yang memakan waktu 3 jam lebih, akhirnya, Rabu sore (9/8) jam 7 malam sampailah saya di penginapan. Sebuah hotel/pavilion yang dikelola oleh unit International Center di Mahidol University kampus Salaya. Tidak ada perbedaan waktu antara Jogja dan Salaya.

Pustakawan/panitia dari Mahidol University menjemput kami, sampai memastikan kami mendapatkan kamar menginap. Dalam perjalanan dari bandara, mereka menawarkan permen, atau minuman dengan menunjukkan logo halal minuman itu pada saya terlebih dulu. Tampak, di wajahnya tergambar kelelahan. Layanan panitia yang sangat mengesankan.

###

Sore menjelang malam itu, perasaan kami kurang nyaman dan gelisah, karena perut kami kosong. Tak ada lagi makanan tersisa di penginapan. Ketika kami bertanya tentang makanan halal, tidak ada, dan saya diminta pesan buah atau semacamnya saja dulu. Saya maklum, sepertinya restoran hotel memang sudah tutup. Tak apalah.. Kami mengucapkan terimakasih, tapi tidak jadi pesan makanan.

Malam pertama itu, kami mengganjal perut dengan mi gelas yang dibawa oleh Pak Haryanta dari Jogja. Dua mi gelas yang sempat ikut naik pesawat itupun, menjadi penolong kami dari rasa lapar.


Bersama Pak Catering muslim
Pagi harinya, kami memastikan kehalalan makan pagi di penginapan. Resepsionis penginapan mengatakan bahwa tak ada makanan halal di penginapan, dapur pun tidak halal. Demikian katanya sambil meminta maaf, dalam bahasa Inggris yang saya tangkap sebisanya.

Pagi harinya, kami menuju ke sebuah gerai waralaba di depan penginapan. Berdasarkan informasi dari sebuah blog muslim di Thailand, makanan halal Thailand ditandai dengan label halal, dalam sebuah kotak segi empat.

perburuan di waralaba
Setelah berjuang mentelengi barang dagangan, akhirnya mata saya tertuju pada sebuah bungkusan yang tidak asing, lengkap dengan logo MUI. Artinya, barang ini import dari Indonesia. Ah, halal... Kami ambil beberapa buah, tepatnya 8 bungkus, untuk pagi dan malam selama beberapa hari di negeri orang ini. Dua botol air mineral, dan dua bungkus roti berlabel halal kami beli.  Meski si penjual menyapa dan berbicara kepada kami dalam bahasa Thailand, angka yang muncul di mesin kasir, cukup membantu kami menyiapkan uang bath untuk membayar. Tidak perlu menggunakan bahasa isyarat.

Dua kali kami menyambangi waralaba ini, untuk sekedar membeli air minum yang cukup untuk kebutuhan di kamar penginapan.

Di jembatan penyeberangan depan waralaba, ada seseorang yang berpapasan dengan kami mengucapkan Assalamualaikum. Kami kaget. Apakah wajah kami ini wajah assalamualaikum, ya?. Si empunya salam, ternyata dari Malaysia. Diapun memberi informasi beberapa gerai makanan halal di sekitar penginapan.


###

Kami ikut acara workshop tentang MOOC (Massive Open Online Course) di Mahidol Learning Center. Panitia, sebelumnya menanyakan tentang jenis makanan yang diinginkan. Tentunya, saya memilih makanan halal. Ketika break, tampak di meja terdapat tanda halal, sebagai informasi bahwa makanan yang disediakan merupakan makanan halal. Seorang laki-laki berkopiah, juga mondar-mandir membawa makanan. Tampaknya, dia yang menjaga garansi halalnya makanan yang disediakan panitia.


"Innamal mu'minuna ikhwah"
Pukul 12, waktu istirahat. Saya pun mencari tempat sholat yang diinformasikan mahasiswa yang saya kontak via email. Tempat tersebut ada di lantai 2 gedung MLC.[1] Informasi petunjuk tempat sholat yang tertempel di dinding, membuat saya mudah menemukan ruang tersebut. Seorang mahasiswa saya hampiri dan tanyai tentang tempat wudhu. Mungkin karena logat saya dikenalnya, dia justru bertanya balik. "Dari Indonesia, Pak?". Mahasiswa dari Sragen, alumni UNAIR yang melanjutkan di Mahidol itu mengantarkan saya ke tempat wudhu.

Tempat wudhu tidak disediakan khusus. Namun menggunakan shower yang tersedia di kamar mandi. Ruang sholat juga tidak begitu luas, ada dua ruang yang dipisahkan oleh tembok. Kami pun menunaikan sholar Dhuhur dan Ashar dengan cara gabung-ringkas.

Beberapa mahasiswa muslim dari Indonesia belajar di Mahidol. Ada yang S2, ada yang S3. Saya menemukan mahasiswa S2 yang melanjutkan di Institute of Innovative Learning Mahidol Univ., melalui beasiswa Norwegia. Juga dosen dari IAIN Syeh Nurjati Cirebon yang sedang S3.

Ketika sholat Jum'at, mahasiswa atau tepatnya komunitas muslim ini berkumpul untuk menunaikan ibadah Jum'at. Mereka berasal dari berbagai negara, mungkin juga berbagai aliran fikih. Macam-macam asal itu, cukup terlihat dari bentuk khas wajah mereka.

Ruang sholat yang dipisahkan tembok itu, digunakan untuk ibadah Jumat. Tidak ada adzan yang berkumandang sampai berkilo meter. Sholat Jumat tanggal 11 Agustus itu di pimpin khotib, yang juga tidak melengkapi dirinya dengan sorban atau jubah putih. Cukup kupluk sederhana, berkaos lengan panjang, dan tentunya celana panjang.
Ibadah Jum'at

Salam yang diucapkan khotib menandai dimulainya ibadah Jum'at. Adzan dilakukan dengan pengeras suara, tapi tidak saya dengar di ruangan yang saya tempati. Sepertinya, pengeras itu diletakkan di ruang sebelah. Ruang sebelah yang terhalang tembok itu juga digunakan untuk ibadah Jumat. Adzannya sama. Tidak ada yang beda. Khotib membuka dengan membaca beberapa ayat Quran. Sama, tidak ada yang beda. Sampai ketika khotib mulai menjelaskan beberapa pesan khutbahnya, kalimat dalam bahasa Thai yang terdengar. Tentu saja saya tidak paham. Namun, beberapa istilah membantu saya menebak-nebak isi khutbahnya. Allah Subhana wa ta'ala, Nabi Muhammad, ayat, dan berbagai istilah lainnya, serta beberapa ayat yang dia baca, tidak ada bedanya dengan yang biasa saya dengar ketika mengikuti khutbah di Indonesia.
Semua sama
Ketika khutbah dalam bahasa Thailand itu berakhir, sebelum khotib duduk antara dua khutbah, ternyata masih ada sambungannya. Semacam pengulangan khutbah, namun dalam bahasa Inggris. Terkait hal ini, seorang mahasiswa muslim bercerita bahwa khotib Jum'at selalu bergantian, dari Indonesia, Thailand, dan negara lainnya. Kadang satu bahasa, dua atau bahkan tiga bahasa.

###

stempel halal
Jum'at itu, adalah hari terakhir saya di lokasi kegiatan. Esok harinya, kami harus kembali ke Indonesia. Sebelum kembali ke penginapan, kami mampir di kantin kampus, dan menuju ke ujung kedai. Kedai halal, terletak di ujung. Seorang bapak, dan istrinya yang berjilbab muncul dan bertanya kepada kami, dalam bahasa Thailand. Saya tak paham. Namun, setelah mengucapkan Assalamualaikum, kami pun jadi lebih akrab. Kami pesan dua porsi makanan, total harganya 65 bath. Di diskon jadi 60 bath, dan digratisi sebotol air mineral. Tak ada pembayaran langsung pada penjual. Pembayaran dilakukan di kasir, dengan kartu elektronik. Canggih.

Sebelum pulang, kami foto bersama. "Innamal mu'minuna ikhwah", kata si Bapak. Saya sahut dengan  "fa aslihu baina akhwaikum". Kami pun bersalaman, dan berpisah.

Embak penjual roti
Tiga hari, kami merasakan hidup menjadi minoritas. Namun, sesungguhnya kami menjadi mayoritas ketika minoritas. Bertemu sesama muslim, mulai dari peserta kegiatan, mahasiswa, penjaga kantin, serta si Bapak katering, menjadikan perasaan menjadi mayoritas. Prasitichai, kawan dari Thailand yang bersusah-susah mengunjungi saya di penginapan, dan mengajak jalan-jalan mengelilingi Bangkok di malam Jum'at untuk mencari makanan halal, sampai ketemu dengan seorang perempuan muslim Patani penjual roti. Panitia yang begitu ramah, informasi kebutuhan tempat sholat yang begitu mudah ditemukan, membuat saya merasa tidak minoritas.


Tak ada minoritas, semua mayoritas. Mayoritas atas dasar kemanusiaan.

Agar rasa mayoritas kita paripurna, jangan lupa bawa sabun mandi, pasta gigi dan sikat gigi ketika ke Thailand. Tentunya, sabun, pasta dan sikat gigi yang halal. Atau anda akan merasakan mandi tiga hari tanpa sabun mandi, karena khawatir sabunnya tidak halal. :). Ah, ndeso.


Salaya Pavillion, Mahidol International College, Thailand, kamar 702
sebelas Agustus 2017
delapan lima menit malam



  1. Beberapa foto tentang ruang Muslim Club, silakan lihat di http://www.li.mahidol.ac.th/AUNILO2017/travel-information/muslim-prayer-room/