Sunday, 21 January 2018

Formasi pustakawan utama di perpustakaan PT: antara kutang dan isinya

Jembangan, wadah banyu
Purwo.co -- Karyo, pustakawan ndeso yang kini mencoba menjaga jarak dengan berbagai isu perpustakaan itu, ternyata takdirnya harus tahu juga beberapa info terkini kepustakawanan. Sebenarnya, dia sudah mencoba memotong beberapa aliran informasi agar bisa konsentrasi. “Aku pengen ngedemke pikir”, suatu ketika Karyo ngomong sama Paijo. Agaknya Karyo ingin konsentrasi pada perpustakaan yang dia kelola, namun tidak dengan aliran informasi yang tanpa batas. Cukuplah disaring, sesuai dengan kebutuhan, yang datang sesuai waktunya. Dengan cara tersebut, Karyo berharap bisa konsentrasi pula pada peran pribadinya sebagai manusia.  Ngedemke pikir, demikian istilah yang disampaikan Karyo. “Ben ayem lan tentrem. Ngono, Jo”, Karyo menjelaskan.

Namun informasi itu akhirnya sampai pula pada telinga Karyo. Informasi  tentang formasi pustakawan utama, yang kabarnya tidak ada di perpustakaan kementrian tempat Karyo bekerja. Selain informasi di forum obrolan tak resmi, informasi tersebut ada di website perpustakaan nasional. Pada web tersebut, Karyo membaca, bahwa peraturan menteri lah yang menjadi dasar resmi tidak adanya formasi pustakawan utama. Alasan mendasarnya tidak disebutkan, kecuali hasil evaluasi jabatan. Namun, informasi itu mengindikasikan bahwa pada kementrian lain dimungkinkan ada formasi pustakawan utama.

Karyo dan Paijo ngobrol tentang isu tersebut, malam-malam sambil menikmati gorengan dan kopi tubruk. Sama seperti biasanya, kadang serius, kadang guyonan. Bagi mereka, yang penting uneg-uneg bisa dikeluarkan. Los, plong.

Ujian solidaritas pustakawan
“Ini tentang solidaritas juga, Jo”, Karyo berkata. “Ketiadaan ini, justru menjadi ruang pembuktian, sejauh mana solidaritas para pustakawan”, lanjut Karyo. Meskipun tidak adanya jenjang pustakawan utama tersebut hanya di kementrian tertentu, namun seharusnya yang bersikap itu semua pustakawan dari semua kementrian. Karena hal ini akan menunjukkan solidaritas mereka. Kalau di kementrian lain adem ayem saja, dan terkesan menganggap “itu urusan dapur samping, dapur saya mah aman saja”, maka ini sudah mengindikasikan ketidaksolidan pustakawan. Karyo menjelaskan panjang lebar terkait aspek solidaritas ini pada Paijo.

Selain itu, juga solidaritas antar berbagai tingkatan pustakawan. Apakah para pustakawan yang masih jauh dari tingkatan pustakawan utama juga peduli, atau mereka tidak begitu terpengaruh pada isu tersebut?. Karena akan terasa aneh, jika pustakawan yang masih jauh dari strata pustakawan utama ini tidak bersuara. "Bukankah jenjang pustakawan utama itu jenjang tertinggi, cita-cita para pustakawan, seperti halnya guru besar bagi para dosen? Jangan-jangan mereka tidak tertarik", sambung Karyo.

Tak kalah penting pula, ini ujian solidaritas antar organisasi profesi pustakawan, baik perguruan tinggi, maupun yang lainnya.

Paijo mengangguk, tanda dia memahami apa yang disampaiakan Karyo.

Nah, sekarang kita lihat, apa sikap resmi mereka?

Pindah kementrian
“Kabarnya, jika ingin menjadi pustakawan utama, bisa pindah ke kementrian lain”, Paijo menyela penjelasan panjang lebar Karyo. Karyo pun menimpali, bahwa jika di kementrian lain masih dimungkinkan ada pustakawan utama, maka sebenarnya solusinya memang mudah. Ya, tinggal pindah saja ke kementrian samping. Hal ini juga akan menunjukkan betapa rendah hatinya para pustakawan yang telah mencapai pustakawan utama tersebut.  Meskipun, pindah kementrian pastinya perlu proses, perlu waktu, perlu kemauan dan aturan yang memudahkan agar para pustakawan utama ini tidak terkatung-katung, dan segera bisa menjalankan perannya sebagai pustakawan utama.

Sebagai seorang pustakawan paripurna, mereka elastis, pinter mekrok, mungker mengkeret, menyesuaikan diri di manapun berada. Bahkan jika untuk menyandang predikat puncak pustakawan itu, dia harus pindah ke kementrian lain. Pada kementrian baru ini, justru dia akan punya peran lebih banyak, lebih berbobot, lebih menantang. Dia bisa membina pustakawan-pustakawan di lingkungan barunya, untuk bisa lebih maju, minimal seperti pustakawan di kementrian yang baru ditinggalkannya.

Paijo: “Bukankah dengan demikian, maka sebaran pustakawan berkualitas akan lebih merata, ya?”
Karyo: “ya sepertinya demikian, Jo”.


Antara kutang dan isinya
Kesimpulan kementrian yang meniadakan pustakawan utama, pasti ada dasarnya. “Jo, apakah perpustakaan perguruan tinggi tanpa pustakawan utama bisa maju?”, demikian Karyo bertanya ke Paijo. Meski wajahnya ndeso, Paijo ternyata rajin berjalan-jalan di dunia maya, di internet. Banyak perpustakaan yang Paijo “kunjungi”, dan ternyata banyak yang bagus, padahal tak ada pustakawan utama-nya. Malah, pustakawannya masih muda-muda. “Jelas bisa, Kang!”, Paijo menjawab dengan lantang.

Pustakawan utama itu bungkus, kutangnya. Peran si pustakawan itulah yang menjadi isi kutangnya. Ya, bungkus memang perlu, penting, kudu dijaga agar isinya tetap kenyal, mulus, dan enak dilihat, serta memastikan bisa menjalankan perannya dengan baik. Namun, jika tak diberi bungkus, kutang yang bagus, jangan kemudian langsung menyimpulkan bahwa pemilik isi kutang itu pelit. Wong kadang, isi tanpa kutang justru lebih menarik, tho?.

Paijo: “trus piye, Yo?”
Karyo: “lha sampeyan pilih kutange apa isine, Jo”.
Paijo: "ya, dua duanya, Yo"

“Yang pasti, kita doakan saja, semoga segera ada solusi terbaik untuk semuanya. Yang sedang berjuang, segera didekatkan dengan hasil perjuangannya. Namun, kita yang masih muda-muda ini, kudu siap dengan berbagai perubahan yang digariskan para pangemban pangembating projo”, Karyo menutup pembicaraan. “Iyo, Kang. Tak melu kowe wae. Saiki piye carane amrih ayem tentrem urip lan pikire”, Paijo menjawab dilanjutkan dengan menyeruput kopi tubruk di hadapannya.


Sambisari, 21 Januari 2018
06.46 pagi

Thursday, 11 January 2018

Konferensi ala wong ndeso

Persiapan ewuh
Purwo.co -- Ini cerita tentang sebuah konferensi, konferensi ndeso. Yang kami bahas memang bukan topik wah khas para intelektual di IFLA, CONSAL atau semacamnya. Tapi Ini juga konferensi.

Call for paper kami sederhana. Cukup dari gethok tular, atau lewat kumpulan ronda kampung, atau ketika ketemu pas pulang dari tegalan. "Kang, sesok sore kumpulan nang nggone Kang Noyo". Peserta pun datang.

Menjangkaunya pun, tak perlu pesawat, atau proposal sponsor. Jalan kaki pun cukup, bahkan tanpa alas kaki kami dapat menjangkaunya, dan itu sah. Dekat, hanya di rumah Kang Noyo yang jaraknya cukup dekat.  Ya, di rumah Kang Noyo, bukan di hotel. Hanya di depan rumah, di pelataran, tak ada kursi empuk, sekedar tanah, atau konblok. Kami ngebrok.

Yang menemani, memang bukan menu mewah ala hotel, bukan. Jauh dari itu. Hanya kacang goreng, telo bakar, kalau beruntung bisa dapat perpaduan jadah-tempe ndeso, ditemani teh panas yang airnya dimasak menggunakan perapian kayu atau bathok kelapa.

Yang kami bicarakan tanah garapan, jagung atau padi yang sedang mrekatak. Atau tentang Kang Suto yang akan punya gawe mantu anak perempuannya. Atau, tentang sungai samping rumah yang mulai mengalir. Kami bahas bagaimana cara terbaik memanen jagung dan padi, bagaimana cara membantu bot repote Kang Suto, atau bagaimana teknik mengelola sungai untuk pengairan. Tema besarnya tentang kebersamaan, tentang paseduluran, tentang hidup ayem dan tentrem.

Ini juga konferensi, lho. Bersama sedulur kampung.

Teh, pacitane jagung goreng walang goreng
Jangan salah, konferensi kami juga menghadirkan profesor. Profesor pertanian, profesor paguyuban, mantenan. Profesor kami memang bukan dari perguruan tinggi, dengan dandanan parlente, membawa laptop dan bicara dengan diksi ilmiah. Profesor kami merupakan profesor lulusan universitas kehidupan, yang dididik di hutan, di sungai, di tegalan, di kehidupan masyarakat. Pilihan kata yang digunakan juga bahasa sehari-hari. Yang dibawa juga bukan laptop, namun sepaket udud lintingan lengkap dengan klembak menyan.
profesor tata kelola air, profesor

Hasil konferensinya tak dimuat di prosiding ber-ISBN, terindeks Scopus, atau jurnal internasional, tapi dimuat dalam memori kami masing-masing. Tak ada presenter terbaik pada konferensi kami, karena semua presenter terbaik.

Konferensi kami menyenangkan. Ayem, tentrem.


Wednesday, 3 January 2018

, ,

Digilib Cafe Fisipol UGM: cafe, co-working space, perpustakaan

Karyo, pustakawan berusia 30-an tahun itu hendak mencoba minum di cafe. Kabarnya, ada cafe baru di seputar tempat dia bekerja. DIGILIB Cafe, karena ada "lib"-nya (lib, library), maka naluri kepustakawanan Karyo terusik. Setelah memastikan ada uang di dompet, serta masih ada saldo di e-money, dia ajak temannya, menuju cafe yang dimaksud. Niatnya ngopi + studi banding.
### 

Caffe Latte, yang juga dipesan Jokowi
Purwo.co -- Awal tahun ini, atas nama Ketua Forum Pustakawan UGM saya pernah diminta datang ke Fisipol untuk mendengarkan presentasi terkait pengembangan perpustakaan FISIPOL UGM. Menarik. Semua digital. 

Beberapa waktu kemudian, ketika saya bersepeda dari FT ke Perpustakaan Pusat, lewat sebelah barat FISIPOL saya melihat ada plakat nama DIGILIB-CAFE pada gedung FISIPOL yang hendak dijadikan perpustakaan. "Lah, sekarang ada cafenya?", saya setengah kaget. Beberapa hari kemudian, ketika acara puncak Dies UGM, setelah memberikan kuliah umum di Ghra Sabha Pramana, Presiden Jokowi mampir di Digilib Cafe ini.

Saya berfikir, konsep pidato kuliah umum Presiden memang agak nyrempet dengan konsep Digilib Cafe-nya Fisipol UGM. Benar saja, ketika saya, Mas Bagus dan Kang Arizal (barrista dan juga mahasiswa pasca Geologi UGM) datang ke Cafe ini, disuguhi dengan video kedatangan Presiden bersama menteri, rektor, gubernur dan pejabat lainnya. Ngopi bareng, kurang lebih demikian. Eh, sebenarnya kami hendak berempat dengan Pak Alfa, mahasiswa S3 FT UGM, namun batal.

Kami berkunjung untuk studi banding, serta mencoba merasakan langsung ketemu barista, ngobrol kemudian merasakan sensasi memesan kopi dan makanan, menikmati sambil ngobrol di dalamnya. “Apa benar ketika ngopi, khususnya di café bisa meningkatkan kreatifitas, memunculkan ide-ide segar dan orisinil?”. Itu yang ingin saya buktikan.

### 

di depan racikan kopi
Sebenarnya, cafe di perpustakaan sudah ada di beberapa tempat. Kafe yang cukup populer di kalangan pustakawan yaitu Kafe Pustaka di Universitas Negeri Malang. Kafe ini memiliki jargon "Kate nengdi, Bro? Ngopi kene lho, iso pinter: Sembari Ngopi Membangun Literasi". Ngopi, konon kependekan dari "ngobrol - pinter", begitu yang saya pernah dengar langsung dari Kepala Perpustakaan UM, Prof. Djoko Saryono. Ngobrol, diskusi, seminar juga bagian dari pustaka, bedanya dengan buku hanya pada wadahnya saja. Kalau buku, wadahnya kertas-kertas, kalau seminar maka wadah ilmunya ya kepala-kepala itu. "Diskusi dan seminar adalah bentuk dari pustaka juga", ini juga ungkapan dari Prof. Djoko. 

Ada beberapa acara di kafe ini; kudap buku, konser mini, baca puisi dan lainnya terkait dengan literasi. 

###

Digilib cafe di FISIPOL UGM, sejauh yang saya tahu merupakan cafe terbaru di perpustakaan, menyusul cafe lain yang sudah ada di perpustakaan. Pada gedung yang ditempati, cafe berada di lantai 2, lantai 1 untuk bank. Informasi yang saya peroleh, lantai 3 nantinya diproyeksikan untuk co-working space, dan lantai paling atas untuk perpustakaan. Saat kami datang, baru lantai 1 dan 2 saja yang difungsikan. 


melihat dan menunggu kopi diracik
Memasuki gedung tempat cafe ini berada, kami disuguhi dengan baliho besar yang memperlihatkan konsep besar dari co-working space yang dibangun FISIPOL. Kemudian pada pintu masuk terdapat tempat selfie dengan gambar yang kekinian. Sebelum masuk menuju lantai 2, terdapat mesin ATM yang siap memberi sangu sebelum ngopi. Ya, untuk jaga-jaga, siapa tahu ada yang lupa bawa uang, atau lupa ngetap e-money-nya. Kan malu pas mau bayar kok ndak bawa uang.. Eit, jangah salah, ding. Bisa bayar secara cashless, kok. Tinggal gesek.

### 

Sampai dilantai 2, barista sudah siap menunggu, menyapa dengan ramah. Saya ketemu dua orang, satu mahasiswa satunya lagi bukan. Dengan sok nggaya dan sok akrab, saya terus terang bahwa saya tak tahu menahu tentang kopi, "apa yang direkomendasikan, mas?". Pertanyaan to the point untuk menutupi keawaman saya pada dunia kopi. Akhirnya beberapa gambar menu kopi diperlihatkan kepada saya. Menu tersebut ada di tablet SAMS***, tinggal geser kiri kanan saja. Bukan hanya kopi, namun juga ada nasi goreng, mi, roti dan lainnya.

ngopi ala orang kaia
"Ini kopi yang kemarin dipesan Pak Jokowi, Mas. Kalau ini pakai susu, ini agak pahit....". Dengan PD saya pesan, "Saya pesan yang sama dengan pesanan Pak Jokowi, ya". Ini sesungguhnya strategi saya saja, sekali lagi agar tidak begitu ketahuan kebodohan saya tentang perkopian. Saya pesan coffe latte, dan mi goreng. Mas Bagus, teman saya pesan single origin. Sebenarnya saya ngrasani, "kok namanya pakai bahasa asing, ya?. Mbok namanya itu pakai bahasa jawa. Kopi ireng, kopi aseli, kopi jahe, atau apalah". 

### 

Latte yang saya pesan disajikan dalam cangkir, ada buihnya (foam), kemudian tercetak hiasan daun di atasnya. Istilah yang tepat saya tidak tahu, pokoknya kayak gitu. Sementara Single Origin disajikan dengan 3 gelas: cangkir untuk hasil seduhan kopi, cangkir kopi untuk minum, serta air putih untuk menetralkan, ketiganya diletakkan di atas beki dari kayu. Air kopi ini defaultnya pahit, dan disediakan gula yang bisa ditambahkan sendiri.

Sementara, Kang Arizal yang datang lebih dulu memesan kopi sama roti. Nama menunya saya tidak tahu. Dia juga menyiapkan beberapa bijih kopi yang belum dihaluskan, yang kadang langsung digigit alias dikletak (jawa) begitu saja. Pahit, mungkin. Tapi kayake enak. "Saya sudah terbiasa menikmati kopi tanpa gula", katanya. Kang Rizal ini pernah beberapa tahun di Brazil, bekerja. Sehingga tahu banyak tentang kopi.  "Brazil merupakan negara penghasil kopi", demikian katanya. 

##

Ketika kami masuk, hanya ada 2 meja dipakai. Cafe ini sepi karena mahasiswa belum kuliah aktif. Beberapa dosen, kemudian ada yang datang, memilih menu, kemudian mencari kursi sendiri. Saya sempat ketemu dengan salah satu dosen FISIPOL yang pernah ngajar saja ketika kuliah, namanya Bu Hermin. Teman-teman yang sering mendengarkan RRI (Radio Republik Indonesia), pasti pernah mendengarkan suara beliau membawakan tema analisis terkait komunikasi. Beliau dosen Ilmu Komunikasi. Setelah saling menyapa dan berbasa-basi, kamipun melanjutkan agenda masing-masing.

###

tablet, menampilkan menu untuk dipesan
Harga makanan dan minuman di cafe ini, menurut Kang Rizal yang juga seorang barista, relatif murah dan terjangkau. Namun jika dibandingkan dengan ngopi di angkringan, ya jelas murah di angkringan. Karena saya memang penasaran, ya tetap saya bayar. Latte yang saya minum dihargai Rp.18.000, sementara single origin dihargai Rp.13.500. Untuk mie goreng di harga Rp.18.500 ribu per porsi.

Suasananya cafe ini nyaman. Ada kelompok meja dengan 2 kursi atau 4 kursi yang terbuat dari kayu, kursi sofa simple yang cukup nyaman untuk duduk. Ada pula ruang tertutup dengan sekinar 10 kursi mengitari meja + papan tulis.  Ruang ini bisa untuk rapat/diskusi dalam jumlah 10-an orang. Lantai 1, 2,3,4 dihubungkan oleh tangga tangga di sisi sebelah pojok tenggara. Langit-langit tiap lantai merupakan cor beton, sehingga aktivitas antar lantai tidak akan saling mengganggu. Fungsi ruang pada tiap lantai akan terjaga.

Pada bagian tengah ada panggung kecil, dengan desain agak tinggi dari lantai lainnya + latar belakang bertuliskan DIGILIB-CAFE lengkap dengan logo cangkir

di pintu masuk
Kami ngobrol ngalor ngidul. Kang Rizal banyak bercerita tentang perkopian di Jogja, pengalamanannya menjadi barista, pergeseran cara belajar mahasiswa jaman sekarang, dan pemanfaatan kopi + cafe untuk kumpul dan bertukar ide. "Mahasiswa sekarang perlu tempat yang bisa bebas ngobrol. Cafe + kopi menjadi paduan yang pas saat ini. Trend perkopian konsisten naik di Jogja", demikian Kang Rizal bercerita. 

Tak ketinggalan, Kang Rizal juga mengajari kami cara minum kopi. Jian, tak kira tinggal minum saja. Ternyata, misalnya pesanan Single Origin yang karena cara minumnya berbeda, maka harus menggunakan 3 gelas dengan fungsi masing-masing. Latte pesanan saya, karena tak mau repot, gula langsung saya tuang, saya aduk, lalu minum. Ora nganggo repot

Memang benar, ketika ngopi, rasanya plong“Mak pyar”, seperti komentar konco ronda setelah nyeruput kopi yang dibawa Kang Gimin, teman ronda juga. “Mak pyar”, juga saya rasakan setelah menyeruput kopi latte yang baru saja saya pesan, apalagi ketika masih panas. Harganya yang mencapai lebih dari harga makan malam + minum berdua di angkringan Kang Bayat, yang sempat membuat saya kaget, sudah terlupakan bersamaan dengan sruputan pertama. Pokoknya majas, sakti sekali kopi ala café ini untuk menghilangkan beban hidup, apalagi beban utangan. Ilang babar blas.


poster besar di depan pintu masuk


ruang pertama setelah pintu


tangga

 
panggung dalam cafe


"It's more than cafe. It's a coworking space for creativity", demikian jargon yang tertempel di beberapa sudut cafe ini. Ada juga "turn on your ideas". Konsep cafe ini, perpaduan cafe, co-working space dan perpustakaan untuk mendorong munculnya ide-ide dari siapapun, serta tempat berkumpulnya orang-orang yang membawa ide tersebut sehingga dimungkinkan adanya kolaborasi positif antar mereka. Mau mendiskusikan ide secara santai, ke cafe. Mau mengerjakan ide tersebut bersama-sama, bisa ke co-working space. Dan jika perlu referensi dari ide yang hendak dieksekusi, tersedia perpustakaan.

Begitulah cafe jaman now, perpustakaan jaman sekarang, cara belajar mahasiswa jaman sekarang, trend perpusakaan jaman sekarang. Semua perlu biaya, baik membuatnya, maupun membeli kopinya. Sediakan uang yang lebih dari yang biasanya digunakan untuk membeli kopi instant, jika anda ingin menikmati kopi dan suasana cafenya. 


###

Karyo membuka dompet, menyodorkan kartu e-money untuk membayar. Di nota tertera Rp.31.500 untuk dua kopi yang gelasnya lebih kecil dari gelas yang biasa dia pakai ngopi di rumah. Diapun ingat lagi ketika sore-sore mampir angkringan Kang Bayat. Cukup Rp.18.000-an sudah bisa makan nasi piring dengan lauk sate dan beberapa gorengan  + minum jeruk anget, itupun berdua dengan istrinya. Karyo terbayang wajah istrinya. "Maafkan aku, istriku", Karyo membisik. Nota itu buru-buru dimasukkan ke kantong tersembunyi, agar istrinya tidak tahu, bahwa dia baru saja menghabiskan jatah ngangkring 2 x, untuk sekali ngopi. Namun, sejurus kemudian Karyo ingat, bahwa niatnya studi banding. "Ah, nanti saya beralasan ini biaya studi banding saja. Aman.."

Karyo merenung, apa iya untuk mengeluarkan ide kreatif harus mengeluarkan uang lebih besar dari biaya ngangkring malam malam, berdua dengan istri di angkringan Kang Bayat dekat rumah?. Rp.18.000-an sudah dapat nasi piring lauk pecel dua porsi, jeruk atau teh anget, lawuh sate plus beberapa gorengan. "Ah, kayake saya milih mencari ide kreatif dengan cara tradisionil saja, 
nang angkringan, atau sambil nyambel bawang, sambel kepik, atau lawuh putul goreng. Wedange degan yang metik dari depan rumah. Hora level yen nongkrong di cafe. Hora popo yen ora disebut kekinian". Karyo milih mikir kepenak, ayem luwih penting bagi Karyo.



Sekip, 3 Januari 2018
15.56

Info lainnya tentang cafe di perpustakaan:
  1. http://fisipol.ugm.ac.id/news/kunjungi-digilib-cafe-jokowi-akhirnya-ketemu-creative-hub-di-fisipol/id/
  2. http://surabaya.tribunnews.com/2017/05/31/asyiknya-ngopi-literasi-ala-kafe-pustaka
  3. http://www.unsyiah.ac.id/berita/perpustakaan-unsyiah-sediakan-warkop




Tuesday, 2 January 2018

, , ,

Refleksi 5 tahun di Perpustakaan FT UGM

Paijo: "Kang, tak terasa sudah 5 tahun, yak?"
Karyo:  "Tak terasa bagaimana, wong cepet banget kok. Ya, kadang juga terasa lama

Paijo dan Karyo sedang rerasanan, grenenegan tentang kerja mereka dalam mengabdi pada negara. Kabarnya, orang bekerja itu ada 3 tingkatan: batur, rewang dan abdi. Abdi itu seperti seorang prajurit kraton, yang berharap ada perbaikan hidup selama mereka mengabdi. Sedangkan batur itu seperti asisten rumah tangga, dengan struktur tidak tertulis, tapi jelas dan ketat antara majikan dan baturnya. Kemungkinannya kecil seorang batur untuk naik pangkat dalam lingkaran rumah tangga tempat dia bekerja. Kalau rewang itu sejajar, misalnya sinoman/rewang pada tempat orang yang sedang memiliki gawe, ewuh. M
ereka ada pada posisi saling membantu pada waktu yang berbeda. Paijo dan Karyo merasa di institusi ndak mungkin bisa sejajar seperti halnya seorang sinoman/rewang. Di institusi, ada kaidah-kaidah kepegawaian yang harus dijunjung dan dihormati oleh Paijo dan Karyo. Mereka hanya akan merasa jadi rewang ketika diminta membantu teman-temannya. [1] 

###

Purwo.co -- Ini hanya sebuah catatan, bukan cerita keberhasilan atau semacamnya, karena sesungguhnya masih lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Catatan ini mulai saya buat di akhir 2017 setelah 5 tahun 7 bulan mengabdi, sebagai pengingat, tentang beberapa hal yang semoga bisa memberi pelajaran untuk diri saya sendiri, dan siapapun yang membaca, khususnya teman-teman pustakawan.

Masa awal
Pada masa awal, Perpustakaan FT UGM terasa horor bagi saya. Rencana yang ada di kepala, yang sebelumnya saya susun, mendadak hilang tak berbekas. Ngeper. Sungguh itu ujian yang sangat berat. Kenyataan itu memang tak selalu sesuai dengan harapan. "Kabeh dadi cetho yen wus tekan wancine lan wus dilakoni", semua akan terasa jelas jika sudah sampai pada waktunya.

Sebenarnya saya diberi waktu 1 bulan menjadi pendamping penanggungjawab perpustakaan, yang waktu itu hendak pensiun. Namun, masa pendampingan itu tidak bisa saya manfaatkan sepenuhnya karena saya tetap harus menjalankan tugas di perpustakaan Teknik Geologi.  

Senior saya pernah mengatakan, “masa awal itu penyesuaian, nanti setelahnya baru bisa blas-blas…”. Teman saya itu senior, kaya pengalaman, maka begitulah dia menghibur saya. Akhirnya saya pun mengalah dan menerima nasihat menghibur itu, masa awal yang horor ini merupakan hal yang wajar. Bukan hanya saya, namun semua orang yang ditempatkan di tempat baru akan mengalami hal serupa.

### 

Horor, rodo bingung, tentunya ada sebabnya. Pertama, karena ini dunia baru untuk saya, kemudian ada 9 staf yang meski saya mengenal mereka, namun semuanya lebih sepuh dari pada saya + 1 petugas kebersihan yang baru saya kenal. Memimpin staf yang lebih sepuh, pada kondisi lingkungan yang saya tidak kenal betul sebelumnya, jelaslah menjadi horor. Saya hanya mengandalkan pengalaman dinamika organisasi kampus ketika mahasiswa, dengan harapan sesulit apapun pada dunia baru ini, minimal saya tetap bisa berfikir secara sehat. Ya, senadyan kurang meyakinkan begini, saya pernah ikut organisasi kampus, yang tingkat konfliknya tinggi. Akhirnya, saya coba ikuti ritme yang ada sambil menjajagi, apa yang bisa dilakukan. 

Ketika saya berpindah ke perpustakan fakultas, sebenarnya perpustakaan belum sepenuhnya bisa digunakan, karena masih menyisakan perbaikan-perbaikan fisik, misalnya susulan renovasi toilet di 3 lantai. Setiap hari masih ada paduan suara yang tidak merdu dari  tukang dan alat yang digunakan. Tak-tek-tok… dem… Para tukang  masih berjuang memperbaiki toilet agar bagus, serta tidak lagi bocor. Konon kabarnya, toilet perpustakaan sulit sekali diperbaiki. 


###

Beberapa waktu setelah perbaikan toilet itu selesai, harapan yang muncul yaitu perpustakaan sudah bisa digunakan. Lah, ternyata justru semakin muncul tantangan-tantangan baru. 

Ketika paduan suara tukang dan alat kerja yang "tak-tek-tok… dem…" tadi hilang, justru meninggalkan suara baru yang sebelumnya tidak terdengar karena kalah dari suara tukang. Inilah masalah pertama pasca perbaikan itu selesai. “Wah, kok ya bisa ya?”

Suara itu merupakan suara para mahasiswa yang berdiskusi dengan teman-temannya, seperti tawon yang terbang mengitari bunga-bunga. “Wuuuuungggg”, begitu seterusnya. Suara diskusi, atau sekedar suara hentakan sepatu yang dipakai ketika berjalan di lantai satu bisa sampai ke lantai 3. Demikian pula suara yang dirasa pelan di lantai 3, bisa sampai di lantai 1. Bahkan terkadang, suara diskusi di ruang tertutup lantai 2 pun, bisa menyebar ke lantai 1. Sampai ada mahasiswa asing yang berkata kepada saya, “Perpustakaanmu seperti kantin”. Mendengar itu, malulah saya bagai mendapat tamparan. Mahasiswa asing ini jian berani bloko welo-welo, alias terus terang”. 


Catatan pertama: akustika ruang di perpustakaan FT UGM kurang bagus. Lantai keramik, dan dinding tanpa peredam membuat suara memantul bebas.

Statusnya sebagai mahasiswa asing, tentunya menjadi perhatian tersendiri untuk saya. Lah kalau dia pulang lalu cerita pada teman-temannya, “Perpustakaan FT UGM seperti kantin”, lak memalukan, tho. Saya berusaha menguasai diri, dan melontarkan pertanyaan balik, “Ada ide?”. Tentunya dengan bahasa Inggris yang kejawa-jawaan. Maklum, saya sangat memegang kejawaan saya, sehingga saya tidak mau menghilangkan kekhasan tersebut, termasuk pada pelafalan bahasa Inggris, sekaligus sebagai alasan menutupi kekurang pintaran saya berbahasa Inggris. “Harus ada meja kecil yang terpisah antar mahasiswa”, begitu katanya. 

Oke. Kabarnya, ide dari pemustaka merupakan ide yang paling brilian, orisinil dan bermutu tinggi bagi perpustakaan. Kalau memenuhinya, berarti bertindak demokratis, sesuai dengan semangat demokrasi di kampus yang didengungkan mahasiswa.  Untuk memenuhi usulan tersebut, gudang sementara yang menyimpan mebel perpustakaan ketika direnovasi, kami bongkar. Kami periksa meja-meja yang memungkinkan digunakan lagi. Meja tersebut kemudian dibawa masuk ke perpustakaan, disusun sedemikian rupa agar meminimalisir kontak diskusi mahasiswa secara bebas. 

Hasilnya cukup signifikan. Suara diskusi yang tak terkontrol menjadi jauh berkurang. Agar lebih terkondisikan, ruang dibagi beberapa zona. Ada zona hijau yang bisa digunakan untuk belajar secara mandiri serta diskusi dengan suara rendah, dan merah yang berarti tanpa diskusi. Zona hijau di lantai 2, juga difungsikan sebagai ruang untuk menggelar diskusi, baik yang diselenggarakan oleh mahasiswa, perpustakaan maupun pihak luar. Pembagian zona ini didasarkan pada kebutuhan mahasiswa yang perlu ruang tenang untuk belajar, serta untuk diskusi. Namun tetap dengan memperhatikan akustika ruang perpustakaan.


Rambu-rambu yang kami sosialisasikan ke mahasiswa: perpustakaan sebagai ruang tenang dan pertengahan, sementara untuk belajar bebas dan ramai dilakukan di selasar KPFT. Harus ada garis demarkasi yang jelas antara fungsi beberapa fasilitas di FT UGM.


###

Kesimpulan tentang akustika tersebut menjadi catatan yang harus saya perhatikan ketika hendak menata ulang ruang perpustakaan. Masalah akustika ruang ini hanyalah masalah pertama. Masalah berikutnya yang sudah menanti yaitu arah pengembangan yang akan dituju perpustakaan ini. Warisan label e-library seolah menjadi beban tersendiri, seberat batu kali sebesar gajah, dari letusan gunung merapi. 

“Dari mana?”, saya pernah bertanya basa-basi pada mahasiswa. “Dar e-lib, Pak”. Cia, e-lib?, bathin saya. Mereka menyebut perpustakaan ini dengan e-lib, persis seperti nama yang ditempel di bagian depan gedung perpustakaan. E-lib, electronic library. “Apanya yang elektronik?”, batin saya, wong toilet saja baru selesai dibereskan kemarin. Tapi begitulah mahasiswa, mereka mencari penyebutan yang mudah untuk sekedar janjian, agar ndak keliru tempat. Atau mungkin mereka begitu terhipnotis pada penyebutan e-library yang ditandai dengan konser Ari Lasso sewaktu peresmian perpustakaan ini.


### 

Perpustakaan ini, setelah direnovasi memang hanya memiliki sedikit koleksi cetak. Kurang lebih 20%, yang 80% sisanya dihibahkan ke departemen dan perpustakaan pusat. Padahal, ada 8 petugas perpustakaan, plus 2 jaga malam, plus 2 kebersihan. Dengan 5000-an eksemplar buku yang tersisa, tentunya 8 orang tersebut terlalu banyak jika hanya mengandalkan beban kerja tradisional seperti sebelumnya.


Catatan kedua: jumlah staf dibanding beban kerja belum ideal 

Minimnya koleksi tercetak tersebut, tentunya menjadikan koleksi perpustakaan fakultas menjadi semakin lemah. Loh, memang sebelumnya sudah lemah?. Iya, karena setiap departemen memiliki ruang baca, ada pula yang bisa dipinjam oleh mahasiswa. Sejauh yang saya ketahui, memang koleksi cetak di departemen lebih kuat dari pada di perpustakaan fakultas. 


Catatan ketiga: koleksi cetak di Perpus Fakultas hanya sedikit, dan lebih kuat koleksi cetak di departemen.

Inilah yang menyebabkan horornya masa-masa awal di perpustakaan fakultas. 

Tentang akustika ruang, sudah cukup terjawab dengan pembagian zona ruang. Pokoknya solusi zona ini saya anggap paling ampuh dalam waktu singkat dan paling ringan risikonya. Dari pada perbaikan akustika ruang dengan menambah peredam, pasti perlu waktu lama, perlu kajian, biaya banyak dan lainnya. Saya tidak mampu memikirkan sedetail itu.


###

Masa awal: substansi perpustakaan
kegiatan di perpus FT, didokumentasikan
Adanya ruang dan fasilitas yang baru, mestinya membuat pustakawan bergembira. Itu pasti, wong di perpustakaan sekarang hampir semuanya tersedia. Jaringan internet ada, komputer banyak, tersedia pula layar LED ukuran jumbo yang bisa digunakan untuk muter film 3 dimensi, lengkap dengan kacamatanya. Atau bisa juga untuk main game FIFA atau PES rame-rame, untuk melepas penat, refreshing ditemani kopi yang bisa dibuat sendiri di basement.

Namun, apa yang bisa dioptimalkan dari fasilitas tersebut sebagai substansi layanan perpustakaan?. Inilah yang harus dicari jawabannya.

Menambah koleksi buku untuk meningkatkan beban kerja sepertinya justru hanya akan membuat duplikasi kerja dengan ruang baca di departemen. Jika dikaitkan dengan pekerjaan pinjam-kembali buku, perlu tambahan ribuan buku agar ada pekerjaan kontinyu dalam pengolahan, kemudian dilanjutkan proses sirkulasinya.  Maka harus dicari layanan lain, baru dan berbeda yang bisa menambah beban kerja staf.


Catatan keempat: kondisi mengharuskan adanya layanan baru di perpustakaan fakultas yang berbeda  dengan perpustakaan departemen

Masa awal: berbagai cara untuk studi banding 
Layanan baru seperti apa yang paling sesuai untuk Perpustakaan FT UGM? Harus belajar dari mana? apa saja yang dibutuhkan?. Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu belajar. Baik secara mandiri, buka buku, dibaca biar pinter dan tambah wawasan. Atau belajar pada perpustakaan lainnya, studi banding alias benchmarking, baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. 

Sayangnya, studi banding memiliki konotasi yang kurang baik, cenderung jalan-jalan dan menghabiskan anggaran. Apalagi sebagai orang baru, kalau saya mengajukan anggaran untuk studi banding, agaknya kurang etis. Saya takut, sudah khawatir duluan jika nanti dirasani, “studi banding arep dinggo ngopo”. Wong saya juga belum berbuat apa-apa kok langsung minta anggaran. Selain itu, saya sendiri juga tidak begitu nyaman jika berurusan dengan uang atau anggaran. “Abot sanggane”, demikian ngendikane simbah, berat menanggungnya. Maka, saya putuskan untuk studi banding mandiri.

Studi banding mandiri yang seperti apa?. Ya, pokoknya mandiri, tidak membebani. Alhamdulillah, ada beberapa jalan yang dimudahkan untuk bisa saya lakukan. Pertama, ketika itu ada kesempatan ke Brunei Darussalam, tepatnya di UBD untuk presentasi tentang perpustakaan atas budi baik FPPTI DIY. Dengan beberapa pertimbangan akhirnya saya gunakan uang pribadi + subsidi dari FPPTI Jogja. Dari FT UGM, ijin yang diberikan saya anggap lebih dari cukup. Kegiatan serupa juga saya lakukan ke beberapa perpustakaan lokal, sembari jalan-jalan. 

Jalan kedua saya lakukan dengan cara menghadiri undangan atas tanggungan panitia. Beberapa kali saya mendapatkan undangan seperti ini, sekaligus saya gunakan untuk studi banding. Jalan ketiga ketika mendapat kesempatan sebagai utusan perpustakaan UGM untuk hadir pada sebuah pertemuan di perpustakan perguruan tinggi lain. Cara keempat, melalui berbagai pertemuan komunitas. Kebetulan saya bergabung pada komunitas kepustakawanan yang mengembangkan software untuk perpustakaan. Pada pertemuan-pertemuan tersebut saya berusaha mencerap ide-gagasan untuk saya terapkan di perpustakaan FT UGM.


Pada studi banding, yang selalu ingin saya dalami yaitu: apa layanan pustakawan selain pinjam dan kembali buku. Sementara fisik prioritas kedua. 

Selain 4 cara tersebut, ada cara kelima yang saya anggap paling mudah, murah, bisa disambi dan tidak perlu waktu yang lama. Studi banding ini justru bisa dilakukan ke berbagai perguruan tinggi di berbagai negara; ke Harvard, MIT, Chicago, NTU dan lainnya. Studi banding tersebut dilakukan secara virtual. Cukup dengan duduk di depan komputer, membuka internet, cari alamat web perpustakaan perguruan tinggi tersebut, kemudian cermati: apa yang menarik dari perpustakaan tersebut, layanan apa yang mereka berikan selain layanan pinjam-kembali koleksi buku. Atau tuliskan kata kunci terkait perpustakaan yang dituju pada mesin pelacak Google, kemudian klik mode "gambar". Bisa juga menggunakan instantstreetview. Salah satu hasil jalan-jalan virtual ini pernah saya tulis di http://www.purwo.co/2015/12/studi-banding-ke-university-of-texas-at.html.


Catatan kelima: saya cenderung memilih/mencari kegiatan yang tanpa (minimal) anggaran

Masa awal: mendukung proses scholarly communication mahasiswa
Ternyata studi banding itu menyenangkan, jalan-jalan dan berkunjung ke tempat baru sambil melihat sesuatu yang belum pernah ditemui, secara langsung. Jika studi banding itu virtual, maka kita bisa sambil membayangkan atau menerka informasi yang ada dalam website perpustakaan, misalnya. Jika dirasa perlu, bisa kontak ke pustakawannya melalui email.

Dari proses studi banding itu, selain perpustakaan yang megah, dan alat yang modern, saya menemukan beberapa istilah baru. Scholarly communication librarian, embedded librarian, outreach librarian, research librarian merupakan beberapa di antaranya. “Istilah ini apa artinya, lalu apa layanan yang diberikan si pustakawan?”, pertanyaan itu jelas muncul dalam fikiran saya. Perlu perjuangan lama untuk bisa memahami. Bahkan, pemahaman saya tentang scholarly communication librarian pernah dikomentari, “scholarly communication librarian bukan seperti itu”. Ya, ndak apa-apa, karena bagi saya tidak ada tafsir tunggal terhadap pengembangan perpustakaan.  


Baca juga tulisan saya "Scholarly Communication: kompetensi wajib pustakawan perguruan tinggi" di https://repository.ugm.ac.id/273436/

###  

Saya melihat, UGM ingin mendudukkan posisinya sebagai universitas yang unggul serta setara dengan universitas lain di dunia. Salah satu yang didukung untuk ditingkatkan yaitu penelitian dan publikasi hasil penelitian. Rasanya scholarly communication librarian mewakili hal ini. Akhirnya saya konsentrasi pada konsep tersebut. 

"Ini peluang",  demikian fikir saya.

### 

Hal pertama yang waktu itu saya lakukan adalah membuka kelas pelatihan. Materinya Zotero. Awalnya hanya iseng mempelajari aplikasi yang disebut pada beberapa web perpustakaan di luar negeri (hasil studi banding virtual). Alhamdulillah tanggapan dari mahasiswa cukup bagus, meskipun saya juga belum paham benar semua fitur aplikasi tersebut. Obrolan dan pertanyaan dari mahasiswa, justru menjadi masukan. Ketika ada masalah atau pertanyaan, saya cari jalan keluarnya. 

Proses di atas terus berlangsung, hingga kemudian saya mengenal beberapa aplikasi lainnya: mendeley, prezi dan xmind. Pada periode berikutnya, saya berfikir harus ada penambahan kemampuan aplikasi lain agar variasi tawaran materi pelatihan lebih banyak. 

Beruntung ada MIC (Microsoft Innovation Center), yang sebelumnya melayani permintaan software windows dan office secara gratis, kemudian dikembangkan dengan memberi pelatihan, khususnya Ms. Office. Lambat laun, materi pun bertambah; ada latex, vos viewer, publish or perish, pencarian informasi online + RSS, optimasi Google Search, Scopus, serta materi lain yang diampu mahasiswa. 

Untuk meningkatkankan kualitas kegiatan, kami mencoba mendekati dosen, menawarkan tempat dan tema diskusi. Beberapa diskusi pun digelar. Diskusi bersama pakar, yang menghadirkan dosen dengan beberapa materi: jurnal internasional, plagiat, paraphrase, dan lainnya. Kegiatan ini direkam, kemudian diunggah di kanal Youtube perpustakaan serta di dokumentasikan di kit.ft.ugm.ac.id

Kegiatan dalam rangka mendukung scholarly communication, dilaksanakan secara kolaborasi. Selain kegiatan rutin yang diampu pustakawan, juga menggandeng dosen dengan kegiatan terjadwal. Semua kegiatan tersebut didokumentasikan dan diunggah di Youtube dan ditampilkan pula di kit.ft.ugm.ac.id.


peta topik kegiatan di perpustakaan FT UGM
Belum semua kegiatan tersebut mapan. Ada beberapa yang masih belum bisa berjalan secara teratur. Ini menjadi pekerjaan rumah kami, pengelola perpustakaan FT UGM.

###

Selain diskusi bersama pakar terkait scholarly communication, juga digelar diskusi  bersama ECC FT UGM dengan materi terkait softskill. Beberapa kali English Club, serta diskusi yang menghadirkan pihak eksternal dengan berbagai topik dari yang ringan sampai yang berat.

Untuk melengkapi kegiatan tersebut, kami coba menambah koleksi buku non teknik, semacam novel, cerpen, biografi, dan lainnya. Pokoknya koleksi untuk refreshing, bergembira. Mosok setiap hari mahasiswa teknik disodori buku tentang sekrup, baut, solder, batuan, cor, beton dan semacamnya. Buku non teknik inilah yang menjadi penyeimbangnya. 

Terkait sistem, Perpustakaan Pusat UGM berbaik hati dengan memilih Perpustakaan FT UGM sebagai role model dalam integrasi SIPUS atau Sistem Informasi Perpustakaan UGM. Tentunya ini menjadi nilai tersendiri bagi sejarah perotomasian di UGM. Dengan integrasi ini, fakultas tidak lagi menyiapkan server sekaligus merawatnya. Semua sudah disediakan oleh pusat, fakultas tinggal menggunakan saja. 


###

Hal yang tidak boleh dikesampingkan adalah sumber daya manusia. Manusia atau pustakawan yang mengelola perpustakaan merupakan ruh dalam pengembangan perpustakaan. Sebagus apapun fasilitas yang dimiliki perpustakaan, jika pustakawannya tidak mampu menyesuaikan dirinya, maka pustakawan hanya akan menjadi penjaga ruang saja.


Pustakawanlah yang menjadi titik sentral pengembangan substansi perpustakaan. 

Untuk itulah, diperlukan usaha agar semua staf sesuai kapasitasnya dapat menjalankan roda perpustakaan dengan cara-cara baru, bukan tradisional. Usaha untuk mentransfer kemampuan antar staf, menjadi hal yang wajib dilakukan. Transfer pengetahuan, pemberian tanggungjawab dan semacamnya, selain untuk meningkatkan kemampuan staf juga sebagai filter alamiah: siapa yang berminat untuk berkembang, dan siapa yang sudah pasrah.  Kesempatan penataan staf yang dilakukan KPFT, saya jadikan sarana untuk mengoreksi jumlah staf di perpustakaan agar mendekati jumlah ideal:  ramping, namun optimal.  

Akhirnya, dari jumlah 12 orang, saat ini tinggal setengahnya saja,  6 orang, itupun sudah termasuk staf kebersihan. Dengan 6 orang ini, kami mengelola kerumah tanggaan, berbagai pelatihan, kegiatan, layanan sirkulasi, administrasi, ruang tugas akhir digital, kebersihan, serta membuka layanan sampai pukul 19.30 malam.

### 

Perpustakaan untuk staf tendik
Staf tendik, terkadang terlupakan dalam daftar yang dilayani di perpustakaan. Pekerjaan mereka yang rutin, terkadang menjauhkan dari proses pengembangan diri. Pada titik inilah, kami berusaha sebisa mungkin agar Perpustakaan FT UGM juga memberi manfaat untuk mereka, dalam bentuk pelatihan dan peminjaman buku. 

Beberapa pelatihan yang pernah dilakukan untuk staf tendik yaitu: penyegaran Ms. Word dan Ms. Excell, serta pengelolaan dokumen menggunakan Google Drive.



Baca juga Membangun Perpustakaan Kreatif: Pengalaman Pengembangan Perpustakaan Fakultas Teknik UGM di https://repository.ugm.ac.id/273434/
Pihak yang memperoleh manfaat dari perpustakaan FT UGM


###

Masa akhir: pengembangan berkelanjutan
Pada masa akhir dari 5 tahun pertama ini, penglihatan subyektif saya melihat bahwa perpustakaan FT UGM semakin menemukan bentuk idealnya. Meskipun, saya tetap menggaris bawahi bahwa masih ada banyak catatan yang harus menjadi perhatian.

Layanan khas perpustakaan fakultas telah ada, dan inilah yang membedakan dengan perpustakaan departemen. Bahkan cukup membedakan dengan layanan di perpustakaan fakultas lain. Terbukti tidak sedikit mahasiswa dari fakultas lain yang datang ke perpustakaan FT UGM untuk mengikuti kegiatan yang diadakan.

Jejaring dengan mahasiswa pun telah ada, melalui grup whatsapp, line serta jejaring lainnya. Aktifnya diskusi yang ada di dalamnya terasa bermanfaat, bahkan tidak sedikit alumni yang lulus namun minta untuk tidak dikeluakan dari grup whatsapp. “Saya ingin ikut belajar, Pak”, demikian katanya. Atau meminta ijin untuk bergabung, baik untuk dirinya atau temannya. Grup ini terdiri dari mahasiswa (s1,s2,s3) FT, beberapa dari luar FT UGM, serta beberapa dosen. Mahasiswa S3 yang sebagian besar juga merupakan dosen di tempat asalnya, menjadi nilai lebih tersendiri pada grup yang kami bangun ini.

Jejaring dengan pihak eksternal juga beberapa telah terbangun. Dengan ECC FT UGM dalam bentuk diskusi softskill, dengan lembaga kursus, dengan dosen, dan lainnya.

Namun pengembangan perpustakaan FT UGM harus terus dilakukan, disesuaikan pada berbagai hal. Baik itu disesuaikan dengan perkembangan perpustakaan secara umum, visi/misi fakultas, serta kebutuhan pemustaka. 


Penggerak Perpustakaan FT UGM


Masa 5 tahun berikutnya
Lima tahun awal, begitulah adanya. Masih ada yang perlu disempurnakan, dikoreksi, diperbaiki, ditambah, masih banyak kekurangannya. Lima tahun awal ini bukanlah sebuah capaian yang telah sempurna, belum paripurna. Dan lima tahun berikutnya tentunya akan semakin menantang. Untuk menjadikan perpustakan fakultas benar-benar sebagai pusat terkait literasi baik bagi mahasiswa, dosen maupun staf tenaga kependidikan, ada beberapa mimpi saya yang masih menjadi angan dan belum terwujud. 


Semakin membumikan kegiatan yang sudah dilaksanakan di perpustakaan, bersama mahasiswa membuat sebuah produk (buku), menyemarakkan aktivitas diskusi  buku dan menjadikan pustakawan menjadi contohnya, agar perpustakaan benar-benar menjadi rumah kedua mahasiswa untuk membahas berbagai hal.

Lima tahun kedua ini, merupakan babak baru. Dengan pergantian manajemen fakultas maka pandangan pada posisi perpustakaan dan pustakawan tentunya akan ada perubahan. Demikian juga dalam pengembangan perpustakaan. Ada beberapa hal yang menurut saya harus diperhatikan terkait pengembangan tersebut.

  • Pengembangan perpustakaan jangan hanya pada kulitnya saja (fisik dan fasilitas fisik), namun juga harus menyentuh substansi. Ini yang paling sulit dilakukan.
  • Pengembangan terkait dengan tata ruang, dalam arti akan mengubah atau menambah fungsi ruang, maka akustika ruang harus diperhatikan. Jangan sampai memfungsikan ruang, namun karena tidak memperhatikan akustika, sehingga justru menjadikan perpustakaan menjadi tidak nyaman. 
  • Jika dimungkinkan ada koreksi akustika ruang, agar kenyamanan semakin meningkat.
  • Layanan perpustakaan FT UGM tidak boleh hanya sampai pukul 16.00 (sesuai jam kerja normal). Selama ini kegiatan bersama mahasiswa juga dilakukan pada waktu setelah jam kerja selesai. Namun harus ada kontrol agar perpustakaan tetap nyaman meskipun jam buka sampai malam.
  • Perlu penambahan pustakawan ahli untuk pengembangan perpustakaan.

### 

Dalam perkembangannya, banyak konsep baru terkait perpustakaan, meskipun terkadang mengadopsi apa yang ada di luar perpustakaan. Berikut ini beberapa pendapat saya terkait beberapa trend perpustakaan.

Café pustaka
Ada beberapa contoh perpustakaan yang membuat café di dalamnya, ada dua yang saya lihat hidup dan semarak, serta bukan sekedar tempat minum kopi. 

Keduanya yaitu café pustaka di UM (Universitas Negeri Malang) dan di Unsyiah (Universitas Syaih Koala). Kedua café ini hidup dengan berbagai kegiatan di dalamnya. Jejaring yang dimiliki oleh kepala perpustakaannya mampu menghidupkan, dan memberi nilai lebih secara berkelanjutan. Café mampu menarik rektor untuk selalu meluangkan waktu berkunjung, mengajak tamu penting, sehingga menarik pemustaka lain untuk datang ke café ini, juga pejabat lainnya. Ada diskusi buku, diskusi sastra, dan lainnya. Diskusi/kegiatan inilah yang merupakan substansi dari “perpustakaan”, sehingga menjadikan perpaduannya dengan café menjadi ideal.

Karena berbagai alasan, saya belum pernah berkunjung pada dua perpustakaan di atas, namun saya terbantu dengan komunikasi langsung pada masing-masing kepala perpustakaannya, serta tersebarnya informasi yang bisa diperoleh dari studi banding virtual.

### 

Pada awal pengembangan Perpustakaan FT UGM, hal yang berbau makanan dibatasi untuk dijual-belikan di perpustakaan. Oleh karena itu, kami mencoba mengembangkan substansinya dahulu, yaitu kegiatan dan layanan.  Namun, jika suatu saat akan ada café (café dalam arti sebagaimana umumnya) di perpustakaan FT UGM, maka hendaknya memperhatikan tata ruang, akustika, kebersihan serta harus jelas konsep pengembangannya. Apakah sekedar orang jualan kopi, atau akan dipadukan dengan kegiatan yang selama ini dibangun pustakawan, dengan berbagai pengembangan tentunya.

Meskipun belum semarak, saat ini kami mengijinkan mahasiswa yang hendak memanfaatkan pantry di basement untuk kepentingan perut, baik membuat kopi, teh atau memasak sederhana. Di lantai 1, meski terbatas, juga tersedia air panas, teh, gelas sekali pakai serta gula untuk mahasiswa yang memerlukan.

Makerspace
Makerspace merupakan tempat, yang menyediakan alat, ide, kemudian bersama membuat sebuah produk. Embrio makerspace di Perpustakaan FT sesungguhnya sudah ada, biasanya di ruang diskusi, meskipun masih sporadis dilaksanakan masing-masing mahasiswa. Untuk pengembangan lebih lanjut, makerspace dan café bisa dipadukan pada ruang tersendiri yang memungkinkan disulap untuk berbagai acara. 

Ruang diskusi di lantai 2, memungkinkan untuk penggabungan dua hal tersebut. Namun perlu perubahan tata ruang, pemantapan akustika ruang, serta pemantapan konsep non fisiknya (substansi perpustakaannya). Atau bisa juga di lantai 1, namun perlu revisi akustika ruang, agar tetap nyaman.


Ruh pengembangan perpustakaan itu ada pada pustakawannya. Skill pustakawan menggantikan keterbatasan anggaran atau fasilitas fisik.


Sebagai perpustakaan di fakultas yang berkutat dengan teknologi, pengembangan teknologi juga harus dilakukan terus. Apa yang sudah terbangun, dapat ditambah dengan teknologi lain yang dipandang perlu agar dapat membantu menambah nilai lebih perpustakaan dan layanan perpustakaan. 


Bagaimanapun juga, saya tetap harus bersyukur atas semuanya. Lima tahun yang sangat berharga.


###


Paijo dan Karyo masih merenung, atau tepatnya merenungi pengabdiannya selama sekian tahun tersebut. Bagaimana tahun-tahun berikutnya akan mereka lewatkan, apakah dengan kondisi yang sama, atau ada ide-ide baru agar mereka merasa lebih hidup dan memberi makna di tempatnya bekerja?. Terkadang mereka kembali mengingat masa kecil ketika hidup di desa, bertemu dengan buruh gendong, tukang ngarit, dukun bayi atau juru kunci. Paijo dan Karyo merenung, ada banyak hal yang bisa ditiru dari mereka untuk menjalankan profesi pustakawan. Penuh semangat dan dedikasi, meski dalam keterbatasan namun tetap bersyukur dan ayem [1]. Ini penting!.

[1] Ada pada buku Profesi wong Cilik, karya Iman Budhi Santoso, penerbit Basabasi 2017


Informasi lebih lanjut:
  1. lib.ft.ugm.ac.id
  2. kit.ft.ugm.ac.id
  3. http://citizen6.liputan6.com/read/772158/terima-kasih-2013-tahun-menemukan-bentuk-ideal-perpustakaan

Bumi Sambisari,
14 Bakdomulut 1951 tahun Dal, Sengara Langkir, Wuku Madangkungan
bertepatan dengan 2 Januari 2018
00.12 WIB, tengah malam menjelang pagi