Monday, 25 February 2019

Meneladani Pak AR, untuk kepustakawanan kita

diposting juga di https://www.pustakawan.web.id/2019/02/meneladani-pak-ar-untuk-kepustakawanan.html

Siapa Pak AR? warga Muhammadiyah pasti tahu. Nama lengkapnya Abdur Rozaq Fachrudin, Ketua PP Muhammadiyah dengan periode yang paling lama, 22 tahun. “Pak AR adalah ulama yang tawaduk,” demikian simpul Pak Syafii Maarif.

Seperti ditulis pada buku Pak AR Sang Penyejuk karya Saefudin Simon, Pak AR sekolah di SR kemudian melanjutkan di Mualimin meski hanya bertahan 2 tahun. Beliau kemudian balik ke kampungnya, karena tak ada biaya. Dengan semangat ngajinya yang tinggi, beliau belajar dengan Kyai di kampung, termasuk pada ayahnya: KH. Fachrudin.

Pak AR tidak kuliah. Konon, kabarnya pernah mendaftar kuliah, namun ditolak oleh kampusnya. “Kami ingin Pak AR ngajar, bukan menjadi mahasiswa,” demikian tanggap kampus. Hobinya membaca, di mana saja. Menjadi Mubaligh Muhammadiyah cita-citanya, dan wong ndesolah sasarannya.

Beliau tak punya rumah, bahkan sampai meninggal. Rumah di Cik Di Tiro merupakan pinjaman Muhammadiyah. Di depan rumah berjejer rapi botol bensin eceran. Rumah yang ditempati juga disekat jadi kamar kos. Motornya Yamaha butut tahun 70-an, itupun - kata Pak Syafii Maarif -  pemberian Prawiro Yuwono, orang yang kasihan pada Pak AR. Motor itu menemani ke sana ke mari untuk  berdakwah. Kadang juga berboncengan dengan Bu Qom, istrinya. Karena keduanya berbadan gemuk, kadang Bu Qom hampir duduk di lampu belakang.

***

Pak AR pintar berkomunikasi, berdiplomasi. Dengan warga pengajiannya sudah pasti. Namun, Beliau juga lihai  berkomunikasi dengan orang tinggi level presiden. Presiden Soeharto merupakan kawan baiknya. Ketika berbicara, keduanya menggunakan Jawa Kromo Inggil. Pak Harto begitu mempercayai Pak AR, karena tak pernah minta apapun, kecuali untuk Muhammadiyah dan ummat Islam. Konon, Pak Harto tidak marah ketika diajak “istirahat” oleh Pak AR. Tentu saja karena keduanya sudah akrab, ditambah lagi dengan lumantar bahasa jawa kromo inggil, menjadikan keduanya lebih saling menghormati.

Bantuan untuk Muhammadiyah, atau lembaga lain yang melewati Pak AR selalu utuh. Meski menjadi talang berbagai bantuan, Pak AR tidak teles. Pak AR merupakan talang yang selalu garing, mengantarkan air sampai ke tujuan tanpa kurang. 

***

Pak AR mampu menghadirkan agama dengan bahasa yang ringan, enak, sejuk, dan membahagiakan. “Ceramahnya disukai bukan hanya oleh ummat Islam, namun juga umat agama lain,” kata Pak Amidhan. “Agama Islam itu sejuk jika dihadirkan Pak AR,” demikian kutip Simon dari kawannya, Pak AR mampu menyaring, memilih dan memilah informasi, kemudian disampaikan pada orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Bukan hanya menyampaikan, namun juga melakukan, memberi contoh.


“Pak AR adalah ulama yang tawaduk,” kata Prof. Syafii Maarif. Tidak perlu menyampaikan bahwa dia bisa ini atau itu. Bahkan, konon, kabarnya Pak AR menolak ketika akan dibuatkan buku dalam rangka 70 tahun usianya. “Loh, aku ini bukan siapa-siapa. Ndak pantas dibuatkan buku 70 tahun Pak AR,” katanya. Ketika ceramahnya di RRI akan dibukukan, Pak AR bertanya, “apakah lawakan Basiyo sudah dibukukan?”. Ternyata tidak. Pak AR pun tidak mau ceramahnya dibukukan. 


***

Membaca kisah Pak AR, saya jadi ingat dengan kepustakawanan kita. Mampukan, atau adakah tokoh kepustakawanan ala Pak AR?

Pustakawan yang belajar dari membaca, mempraktikkan, memberi contoh. Lihai berdiplomasi, namun tetap tawaduk, menyejukkan, jauh dari hingar bingar harta dunia, namun tetap berperan dalam mendidik.

Pak AR yang da’i, sama dengan pustakawan. Bahkan Pak AR itu pustakawan. Ah, terlalu jauh saya membandingkan. Tapi, mohon maaf bagi yang kurang berkenan. Pustakawan itu seperti da’i. Tidak harus sekolah formal, cukuplah keingingan kuat, mau membaca, belajar sepanjang hidup.



Da’i itu pustakawan.

Friday, 15 February 2019

Cara memperoleh API Key Scopus untuk Publish or Perish


Kawan.....

Ketika kita menggunakan Publish or Perish untuk mengambil data dari Scopus, akan diminta memasukkan API Key. Kenapa? karena Scopus itu berbayar. Kudu ada APInya untuk bisa menjebol database Scopus.

tampilan pilihan sumber data di PoP
API Key bisa diperoleh melalui web Scopus. Tentu ada caranya

pencarian di PoP minta API Key



Untuk memperoleh API Key, silakan login dahulu ke Scopus. Ya, jadi kudu bisa akses laman registrasi, dong? Datanglah ke kampus yang bisa akses Scopusnya. :)

Login ke Scopus
Setelah register dan login, maka pada bagian paling bawah akan muncul menu seperti di bawah ini.
Tampilan menu API
Klik SCOPUS API, maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini
menu My API Key

Klik My API Key,  ikuti proses, ikuti prosesnya kemudian buka konfirmasi di email.

konfirm melalui email

Di email, cari email dari Elsevier/Scopus, kemudian klik Confirm Email. Setelah di klik, maka akan diarahkan ke tampilan dashboard API di Elsevier. Klik Create API Key.

klik Create API Key

Kita akan diminta konfirmasi ulang email. Tulis email dan klik Continue

email konfirm

Ikuti Prosesnya, dan API Key akan muncul di dashboard. 

API Key

Gunakan API untuk proses pencarian di PoP.  Hasilnya seperti di bawah ini.

Pencarian ke Scopus melalui PoP
Hasil pencarian di PoP bisa dianalisis metricnya, atau dicemplungke ke VosViewer.

----

Terimakasih untuk Mas Adi Wijaya (Mahasiswa S3 DTETI) yang memandu saya memperoleh API Scopus.

Monday, 11 February 2019

,

R.Ng. Ronggowarsito sudah mengingatkan bahaya hoax

Sedulur semuanya. 

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pujangga. Sangat termasyhur. Hingga kini pun namanya masih dikenang. Nama kecilnya Bagus Burham, cucu dari R.T. Ranggawasita I. Ketika kecil diasuh oleh Ki Tanuwijoyo, termasuk ketika mondok di Gebang Tinatar. Burham lahir pada Senin Legi, 10 Dulkangidah 1728 tahun Be. Wuku Sungsang jam 12 siang. Atau pada tanggalan Belanda menunjukkan 15 Maret 1802.  Patungnya berdiri di museum Radya Pustaka Solo, diresmikan Bung Karno dengan dihantarkan pidato yang begitu menggelora.

Tak dielakkan, Bung Karno pun menyitir kalimat serat Kalatidha yang ditulis Ranggawarsita pada bait 7 yang begitu terkenal: hamenangi jaman edan…. Bung Karno menyebut bait ini sebagai dasar hukum moreel. “Kita bangsa Indonesia mengalami djaman edan. Kalau tidak eling las waspada, kita akan ikut serta dalam djaman edan tadi,” tegas Bung Karno.

***

Tapi bukan itu yang hendak saya sampaikan. Melainkan bait ke 4, dari 12 bait Kalatidha. Pada buku Anjar Any terbitan 1980, pada halaman 62 terdapat terjemahan bebas dari bait tersebut.

Demikian terjemahannya: “Persoalannya berpangkal karena adanya berita palsu. Dikabarkan akan menjadi pejabat yang lebih tinggi, ternyata tidak. Karena kecewa, lalu berfikir: apa gunanya ada di depan sebagai pejabat?. Nantinya apabila tidak hati-hati akan membuat kesalaan, lebih-lebih kalau sudah lupa diri akan menimbulkan mala petaka saja”. 

Setelah bait ini, Ronggowarsito njlentrehke bahwa menurut kitab Panitisastra sudah ada peringatan. Pada jaman sekarang yang penuh kebatilan ini, orang yang baik tidak terpakai. Apa gunanya mendengarkan berita yang tidak benar? kalau dirasa hanya menyakitkan hati saja. Ki Pujangga lebih baik membuat kisah lama, yang dapat dipakai untuk contoh baik serta buruk. 

***

Kalatida merupakan kritik dan sindiran pada berbagai hal yang terjadi pada masa itu. Kalatidha berarti waktu atau jaman edan. Ditulis  dlam bentuk Macapat Sinom oleh Ranggawarsito antara tahun 1861-1873 pada masa Sri Sunan Pakubuwono IX. Lebih dari 150 tahun silam. Pada masa itu,  berita palsu ternyata sudah merebak dan merusak. Kerusakan karena berita bohong itu, ditulis Ronggowarsito sebelum mbabar jaman edan. Bayangkan! 150-an tahun silam, Ronggowarsito sudah merasakan adanya kerusakan di negeri ini. 

Opo meneh saiki!!

Friday, 1 February 2019

, ,

Pustakawan: makhluk dongkrak-an dan malapraktik pendidikan pustakawan

Tulisan ini sebelumnya diposting di sini
-------
Paijo, anggota pustakawan blogger itu sedang mumet. Konsep pustakawan blogger berubah. Tadinya bebas posting di blognya masing-masing. Apapun bisa ditulis namun tetap tanggungjawab. Sak geleme dhewe, lalu sebarkan.

Sekarang, ada konsep baru. Anyar. Dibuatlah satu blog, kemudian diundang siapa yang minat ngisi. Semua bisa nulis di blog yang sama. Keroyokan. Tiap bulan, atau mungkin tiap minggu akan ada tantangan tema. 

****

Tema pertama sudah ditentukan: “pustakawan: makhluk apa itu?”. Tema ini berbentuk pertanyaan. Berarti tulisannya nanti paling tidak berusaha menjawab pertanyaan tema itu. Itulah yang membuat Paijo mikir.

“Sejatinya, makhluk seperti apakah pustakawan itu?,” gumamnya.

Teman-temannya sudah nulis. Paijo tak kunjung dapat ide. Mbundet

Setelah renungan panjang, perlu diuyak-uyak alias dikejar-kejar, akhirnya dia ingat, dulu pernah nulis di blognya dengan judul “pustakawan itu bukan siapa-siapa”. Bukan siapa-siapa, Paijo memang yakin begitu. Pustakawan itu manusia biasa. Dia bukan manusia super yang bisa ini itu.

Sebenarnya judul tulisan itu nyontek. Dia akui itu, dan dia tulis dibagian paling bawah tulisannya. Tulisan itu, fikirnya, sebenarnya bisa menjawab pertanyaan “pustakawan makhluk apa itu?”. Tapi tidaklah elok, kalau dia posting ulang di blog keroyokan itu. 

Akhirnya, setelah njungkel njempalik mikir, dia memutuskan. Dia  lanjutkan saja judul tulisan lamanya: “pustakawan bukan siapa-siapa”, dengan pendekatan pertanyaan  lanjutan “bukan siapa-siapa itu karena apa?”.

Paijo ingin menelisik, sebab musabab pustakawan itu bukan siapa-siapa?

Namun, menelisik “sebab” dengan waktu yang terbatas tidaklah mungkin. Kecuali lewat perenungan, kontemplasi agar turun wahyu, kemudian: cling, ketemu sebabnya. Tapi Paijo juga sadar. Dia manusia biasa yang berlumur dosa. Kesalahan dan dosanya sangat mungkin menjadi penghambat turunnya ilham. Ada tabir pemisah ilham dan wahyu yang sulit ditembus. 

***

Di grup pustakawan blogger yang Paijo ikuti, pernah terlontar pertanyaan atas dasar sebuah pengalaman. Kang Yogi, seorang manajer aset digital terkemuka di Indonesia, kaget tak terkira. Ketika itu dia sedang memilah dan memilih para pelamar. Salah satu yang dilihat, tentunya selain foto pelamar yang bening-bening, juga IPK. Dia kaget saat melihat IPK adik angkatannya yang menjulang tinggi setinggi tugu monas. Tugu yang kabarnya juga disebut MONumen Akal Sehat. Padahal, dulu di jamannya, IPK mau setinggai tiang bendera saja susahnya minta ampun. Sulit. 

Ada beberapa prediksi dari Kang Yogi, apa sebab IPK bisa menjulang tinggi: si mahasiswa makanannya bergizi, daya hafalnya luar biasa, kemudian yang terakhir nilai menjulang tinggi itu karena dongkrakan.

Dongkrak?

Dongkrak, menurut kamus suci Bahasa Indonesia, berarti alat untuk mengumpil atau menaikkan. Hasil dongkrak-an, berarti hasil dinaikkan, hasil umpilan, angkatan, yang sebelumnya di bawah menjadi naik ke atas. Mumbul.  

Komentar muncul, masih dalam grup itu, yang mengatakan bahwa dongkrakan itu diperlukan agar akreditasi kampus tetap oke, dan tentunya tuntutan pasar. Mungkin ada belas kasihan dari dosen pada alumni kalau IPK kecil, dan tidak lolos masuk syarat mendaftar ASN. Efek berikutnya  akan dahsyat. Si sekolah perpustakaan akan dijauhi calon mahasiswa. Bahaya. Jelas para dosen tidak mau ini terjadi.

Namun, apakah prediksi ini benar?

“Harus diinvestigasi,” Paijo mengepalkan tangan.

***

Nah, sore ini, Paijo buka facebook. Biasa, buka akun satu dan lainnya, buka wall kemudian baca status banyak orang. Tanpa sengaja dia nemu status seorang dosen. Tentunya dosen ilmu perpustakaan, bukan dosen ilmu lainnya. Dia tak berani membahas yang lain. Status itu masih ada hubungannya dengan dongkrak mendongkrak. Begitu lugunya si dosen membuka rahasia dapurnya pada status sebuah facebook. 

Entah keluguan itu muncul karena memang lugu, atau, ya mungkin sedang menikmati posisinya sebagai dosen, yang memiliki "kuasa" atas mahasiswanya. Atau bisa juga karena saking mumetnya menjalankan perannya sebagai dosen (ilmu) perpustakaan.

“nilai-nilai itu sudah hasil dongkrak sana dan sini”, demikian katanya. 

“Ini jelas bukan status lugu,” gumam Paijo mengoreksi anggapan awalnya. Karena dia yakin, dosen itu sebagai ilmuwan yang boleh salah, tapi tidak boleh bohong dan harus jujur. “Lebih tepatnya ini status jujur!.”, koreksi Paijo dalam hati. Status itu sudah melewati tes kevalidan, kajian ilmiah, review, dan akhirnya keluar. Kabarnya ada juga yang nilainya D atau E.

Paijo mikir, kalau D dan E itu juga sudah hasil dongkrakan, lalu aslinya berapa? 

Sebenarnya Paijo masih heran, kenapa selevel dosen membuat status seperti itu? 

Ah, entahlah. 

Status itu merupakan bukti kejujuran, yang didukung oleh keluguan dan apa adanya. Status itu, yang berwujud kumpulan huruf, menjadi kata, menjadi kalimat, kemudian melahirkan tafsir, adalah tanda.  Ini bahasa semiotik. Tanda itu dikirim/terkirim oleh si dosen kepada publik, tentang apa yang terjadi dalam dapurnya.  Jika itu disengaja, maka memang ada pesan yang sengaja dikirim oleh si dosen. Jika itu tidak sengaja alias alamiah, atau tanpa sadar, maka memang demikianlah adanya.


Status itu cukuplah membuktikan, atau bukti awal prediksi Kang Yogi. Selain itu, juga cukup sebagai bukti awal, kenapa pustakawan itu “bukan siapa-siapa”. Atau, juga bukti awal, silang sengkarut kepustakawanan di Indonesia.

Paijo berkesimpulan. Diperlukan lebih banyak dosen (ilmu) perpustakaan, yang berani membuka dapurnya di muka umum. Agar dunia kepustakawan lebih terang benderang duduk masalahnya.

****

Sendirian, Paijo masih melanjutkan lamunannya. Masih tentang dongkrak mendongkrak. 

Paijo mikir. “Jangan-jangan nilaiku dulu juga dongkrakan, katrolan”. Oh tidak…

Seorang kawannya yang bekerja di bidang penjaminan mutu pendidikan pernah berkata. Waktu itu di sebuah kafe samping rumahnya mereka ngobrol. Intinya: malapraktiknya pendidik itu efeknya sangat panjang, lama. Bahkan efek itu bisa menimbulkan efek ikutan lainnya. Bahaya, dan berpengaruh pada perjalanan bangsa dan negara.

Apakah proses pendongkrakan ini, merupakan malapraktik dalam pendidikan pustakawan?

Jika iya, maka jelas sudah. Silang sekarut kepustakawanan Indonesia memang bermula dari pendidikan pustakawannya. Bermula dari, ah... sudahlah.

Entahlah.
---------------

[[ titik - selesai ]]


Sambisari, 
Selasa Wage pagi hari, 22 Jumadilawal, 
Wuku Pahang, 1952 tahun be.

Friday, 25 January 2019

Akhirnya, inilah pekerjaan pustakawan bergelar doktor

Musim hujan sudah berlangsung beberapa waktu. Tanah sudah becek, tetumbuhan juga sudah menghijau. Lek Noyo, Kang Dhadap sudah lebih sering ke sawah dan ladang, niliki tanaman padi dan jagungnya. 

Ketika pagi menyapa,  Kang Noyo dan Mbok Noyo ke ladang, berdua saja. Anaknya sudah lama di kota. Tentunya merantau, memperbaiki nasib agar tidak jadi petani seperti orang tuanya. Entah, apakah petani itu kurang menjanjikan?

Petani, jika dirunut, kata Pak Ustadz, memiliki banyak keistimewaan. Jika petani itu menanam padi, maka akan dibeli orang, jadi beras, dimasak, jadi nasi, dimakan. Sekian banyak orang yang makan, sekian banyak orang yang berdoa sebelum dan sesudah makan. Sekian banyak doa-doa kebaikan atas rejeki nasi dari padi yang ditanam petani. Sekian banyak doa pahala untuk petani, ya untuk Kang Noyo dan Mbok Noyo itu salah duanya.

Paijo, pustakawan ndeso itu, meski kerja di kota, sangat ingin kembali ke desa. Desa itu ayem, katanya suatu ketika. 

**** 

Beberapa waktu lalu, Paijo ngersulo pada Kang Karyo. Paijo pernah ditanyai kawannya yang bukan pustakawan. “Pustakawan bergelar doktor itu pekerjaannya apa?”. Begitu kurang lebihnya.  Paijo tak bisa menjawab. Dia mlipir dan mengalihkan pembicaraan. Apalagi, kalau bukan agar tidak ditanyai lebih lanjut. Dia tak punya jawaban atas pertanyaan itu. 

Ditanya dan tidak bisa menjawab, adalah sebuah siksaan abstrak yang menghujam sampai ulu hati.

Malam itu, dia merenung. Di depan rumah, di lataran, duduk sambil ngeteh tubruk plus pacitan. Beruntung, malam itu tidak hujan. Agaknya air hujan sudah habis tumpah siang sampai sore. Langit bersih, bulan bersinar. Cocok untuk jagongan malam. Pacitan malam itu ekstrim. Ungkrung jedung goreng. Hora sebahene.

Jedung itu nama ulet yang hidup nempel di daun pohon mahoni. Tidak sembarangan orang mau memakannya. Hanya orang yang berasal dari kampung Paijo saja yang mau. Sepertinya orang sekampung sudah memperoleh sifat kandel, tahan pada makanan ekstrim berwujud binatang uler. Awal mula doyan uler ini juga tidak diketahui. Entah. Mungkin dulu, karena larang pangan di jaman begaber, orang harus mencari terobosan pengganti lauk dan bahan makanan lain selain beras dan lauk pada umumnya. Kemudian orang memperhatikan perilaku burung yang tetap hidup, bagaimana cara makannya. Ternyata si burung makan uler jedung dan tetap hidup. Berarti uler jedung itu enak dan tidak beracun, aman di makan. 

****

Dia mulai mengingat perjalanan hidupnya hari itu.

Siang tadi, di kantornya, Paijo dapat kabar dari kawannya. Katanya ada satu orang yang keluar dari profesi pustakawan. Alasnnya bukan gaji, yang biasanya jadi alasan klasik dan melegenda. Alasannya karena karir, dan ketidakcocokan dengan pimpinan.

Berat. Si pustakawan akhirnya keluar. Padahal, katanya, si pustakawan lulusan es dua, master. Pasti memang berat, hingga selevel master saja tak mampu bertahan dan harus keluar.

“Wah, kalau master tidak bisa, berarti kudu level doktor ilmu perpustakaan yang mengelola”, katanya menimpali.

"Nah, berarti sudah ketemu jawabnya, Jo.", tanya Seno.

Paijo melanjutkan renungannya. Agaknya, omongan Seno benar juga. Ini adalah jawaban dari pertanyaan kawannya tempo hari, “apa pekerjaan pustakawan bergelar doktor?”, 

Pustakawan bergelar doktor itu mengerjakan pekerjaan pustakawan yang sudah tidak mampu ditangani pustakawan selevel master ke bawah. Atau perpustakaan yang paling kompleks masalahnya.

Jelaslah sudah sekarang.  Masalah yang ada di perpustakaan itu ya macam-macam. Mulai dari masalah gaji, hubungan dengan atasan, jenjang karir dan lainnya. Titik.

“Berarti perpustakaan sekolah, yang njlimet masalahnya itu, kudune juga diserahkan pada pustakawan bergelar doktor, atau doktor ilmu perpustakaan. Dengan ilmunya yang setinggi langit dan sedalam sumur minyak, pasti masalah beres,” yakin Paijo.

Bagaimana tidak, kalau doktor ilmu perpustakaan itu jadi pustakawan di perpustakaan sekolah, siapa yang berani melawan?. Dia hanya akan imbang jika kepala sekolahnya atau guru di sekolah itu juga doktor.  


*****

Tergopoh-gopoh, Karyo mbela-mbelani dolan ke rumah Paijo. Berjalan kaki, tanpa alas. Nyeker. Hal ini biasa di kampung. Nyeker itu sehat. Urat syaraf di telapak kaki akan tersentuh, aliran darah akan lancar. Mikirpun akan cemerlang. Itulah sebabnya wong ndeso itu kebanyakan mikir kepenak.

Agaknya Karyo tahu kalau Paijo masih menyimpan ungkrung jedung. Malam-malam, tentunya seger disambi ngopi. Diapun ikut gabung Paijo. Tak perlu dikode, Paijo langsung menyambut kawan karib beda usia itu.

“Kang, sekarang aku tahu apa pekerjaannya pustakawan bergelar doktor!”, Paijo ngudo roso lamunannya.

“Hmm,” Karyo bergumam sambil makan ungkrung.

“Pekerjaan pustakawan bergelar doktor itu yang menjadi pustakawan di perpustakaan sekolah!”

Karyo kaget. Batuk tak bisa ditahan. Tepatnya keselek. Kaget dengan omongan Paijo.

Gandrik, kamu itu kalau bicara ndak pakai sopan, Jo. Mosok doktor kok jadi pustakawan sekolah!”. Karyo tidak setuju.

Paijo tersenyum. Ekspresi dan tanggapan Karyo sudah ditebaknya. Paijo tahu, Karyo bakal terkejut. 

"Intinya, pustakawan bergelar doktor itu mengerjakan atau mengelola perpustakaan yang tidak bisa dikelola oleh level di bawahnya. Atau sulit dan kompleks masalahnya. Rumit,   melebihi rumitnya hubungan pacaran anak jaman sekarang", tegas Paijo.


“Perpustakaan sekolah itu kan masalahnya banyak, Kang. Gaji pustakawannya kecil. Diminta nyambi di TU buat nambah honor. Diminta ini itu, bahkan membersihkan, ngepel perpustakaanya. Anggaran tidak menentu, letaknya dipojokan. Dan selanjutnya-dan selanjutnya”.

“Kalau perpustakaan dengan masalah kompleks seperti itu kok cuma dikelola pustakawan lulusan D1, atau D2, kan ya ndak bisa. Mereka akan disepelekan.", tegas Paijo.

"Perpustakaan dengan masalah kompleks, harusnya ya dikelola oleh orang yang paling pintar: doktor ilmu perpustakaan. Perpustakaan sekolah itu masalahnya kompleks, jadi kudunya dikelola doktor ilmu perpustakaan. Kalau dikelola Doktor, itu orang tata usaha ndak akan berani macam-macam," Paijo meyakinkan.


Itulah kesimpulan Paijo. Meskipun masih general, umum, Paijo senang bukan kepalang. Sebenarnya masih ada yang mengganjal di benaknya: pekerjaan keseharian pustakawan doktor. Ini tetap belum ketemu.


****

Karyo diam, menyeruput kopi. Setelah itupun tetap diam. Dia mikir, dan setengah membenarkan omongan Paijo. Memang semestinya, yang paling tinggi pendidikannya, menjadi pengelola perpustakaan yang paling rumit masalahnya. 

Karyo ingat dosennya Kimpul, Dr. Tumini. Karyo membayangkan Dr. Tumini jadi pustakawan SD.


Selesai



Monday, 14 January 2019

Pustakawan Perguruan Tinggi, belajarlah dari pustakawan-pustakawan keren ini

gambar lisensi free dari Pixabay
Di sebuah grup wa yang egaliter, maha asyik dan tronjal-tronjol terlontar diskusi tentang pustakawan ideal. Kemudian berlanjut kepada pertanyaan: siapa yang bisa kita (pustakawan) contoh untuk menjadi pustakawan yang keren?.

Bu Labibah, dosen IPI di UIN Kanjeng Sunan Kalijaga Yogyakarta, salah satu warga grup wa maha keren tersebut kemudian memberi nama-nama pustakawan keren sebagai rekomendasi. Tentunya sesuai pendapat beliau. 

Tentunya nama pada rekomendasi itu tidak begitu saja muncul dari benak beliau. Sudah melalui filter maha ketat, yang kemudian menyisakan yang mentes dan benar-benar berkualitas. Seorang dosen selevel Bu Labibah yang sudah malang melintang di dunia kepustakawanan dalam dan luar negeri, alat filternya pun pasti keren. Luasnya pergaulan dan jejaringnya, menjadi garansi bahwa pilihannya pastilah keren.

Atas ijin beliau, nama-nama tersebut saya tuliskan di sini, agar semakin bermanfaat untuk banyak orang. Maaf, hanya singkat. Namun, dengan pengetahuan kepustakawanan teman-teman, info singkat ini bisa jadi titik awal untuk melacak kekerenan mereka.


Karyo: Itu pertimbangan atau filternya apa, Jo?
Paijo: Embuh, Kang. Pokoke aku percoyo disik, sampai kemudian ada yang membuatku tidak percaya.

Karyo: Pancen kowe kui. Padunya melek nggo bahan nulis blog.
*****

Pertama ada nama Wahyani.  Beliau pustakawan di UIN Sunan Kalijaga. Bu Labibah mengatakan bahwa Wahyani pernah belajar selama 8 hari di Jerman. "Wahyani setelah dari German, value kereferensiannya muncul. Sekarang dia lebih proaktif dan punya program,".

Nama berikutnya adalah Clara, atau Kalarensi Naibaho, pustakawan UI Jakarta. Terkait Clara, Bu Labibah sampai mengutarakan pernyataan "Saya pernah bilang ke orang-orang kalau saya punya kuasa dan diberi keleluasaan memilih pustakawan keren atau duta pustakawan maka ada nama Luckty (pustakawan sekolah) dan Clara sebagai pustakawan terkeren".

Pandangan ini diamini oleh Yogi, yang juga penghuni grup wa. Yogi mengatakan "Setuju, Clara Naibaho dan Luckty, tipikal pustakawan interaktif dengan gaya storyline. Itu yang mendobrak batas sekat bahwa perpustakaan itu tembok. Membaca kegiatan day to day sebagai pustakawan seolah mengajak pembaca menyelami..nih loh...kalian bisa merasakan sebagai pustakawan toh...hi hi hi 👍👍 top pokoke".

Bahkan Luckty, yang disebut bersamaan dengan Clara juga menyampaikan testimoninya, "Bu Clara memang idola. Tipikal pustakawan zaman now".

Berikutnya, Nina, atau Purwani Istiana pustakawan di UGM. "Mereka (Clara dan Nina), mereka (lulusan) dalam negeri tetapi reference nya jalan betul. Ruh nya kebawa", demikian Bu Labibah menekankan. Bu Nina merupakan pustakawan yang tahun 2017 hampir menyatukan dua predikat pustakawan berprestasi nasional. Beliau berhasil memperoleh predikat terbaik versi Perpustakaan Nasional, dan terbaik 2 versi DIKTI dalam tahun yang sama. Sesuatu yang jarang, bahkan mungkin baru sekali terjadi.


Nama berikutnya Faizudin Herliansyah, atau kerap disebut Pak Faiz. Sekantor dengannya, juga disebut Ari Zuntriana. Pak Faiz menyelesaikan S2 di Australia, sedangkan Ari di Inggris. Jika melihat dua asal ijazah ini, kita bisa terka betapa kerennya keduanya. Tidak salah Bu Labibah merekomendasikan keduanya bagi pustakawan (khususnya PT) untuk belajar.

"Kalau perlu pergi ke Malang, (silakan) seharian membersamai Faiz dan Ari di UIN malang", demikian Bu Labibah menyarankan.

Safira UGM, Bu Labibah sebut berikutnya. Maksudnya adalah Safirotu Khoir, atau sering dipanggil Mbak Fera yang ngantor di Perpustakaan UGM. Mbak Fera merupakan satu diantara sedikit pustakawan atau orang yang bekerja di perpustakaan yang bergelar S3. Bahkan S2 juga bidang perpustakaan/informasi. Dengan S1 bidang bahasa Inggris menjadikan lengkap kemampuannya. Tak heran jika Bu Labibah menyebut Mbak Fera sebagai salah satu orang pustakawan yang layak ditiru.

Nama terakhir, kembali dari UIN, tepatnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Amrulloh Hasbana. Pak Amrull, merupakan kepala perpustakaan UIN SH, juga menjadi pembicara pada berbagai seminar atau pelatihan pustakawan.


*****
Diskusi di grup wa, salah satunya mengarah pada pentingnya "nyantrik" pada pustakawan yang dianggap bisa ditiru. Bukan sekedar studi banding, namun benar-benar ngintil seharian, melihat apa pekerjaan yang sehari-hari mereka lakukan. 

Paijo: loh, kalau mereka makan, kita ikut makan, kalau mereka ke kamar mandi?
Karyo: kalau mereka makan, ya kamu beli sendiri di kantin, Jo. Kalau mereka ke kamar mandi, kamu juga ikut ke kamar mandi. Tapi beda kamar. Jangan sama. Iso kena pasal kowe.

Paijo mempertimbangkan benar apa yang disampaikan Bu Labibah. Dia ingin, di sisa hidup dan sisa pengabdiannya menjadi pustakawan bisa, paling tidak, belajar dan berusaha meniru pustakawan terbaik negeri ini.



Senen
06.04 pagi sebelum mandi
7 Jumadilawal 1952 Bhe/14 Januari 2019

Friday, 28 December 2018

,

Masih mau kuliah ilmu perpustakaan?

Saya punya kawan. Lulusan sekolah perkebunan, yang  dulu belajar tanam-tanaman. Tinggalnya di kawasan, tepat di dekat daerah yang jadi pusat persatean. Tak  heran, hobinya pun sesatean. Tidak sembarangan,  sate kambing yang dia pesan. Entah berapa porsi sekali pesan. Saya tak tahu, hobi ini murni dari dirinya sendiri, atau pesanan.

Kabar terakhir, hobi ini sudah berkurang. "Wis jarang banget, ngelingi awake...", katanya.

Syukurlah...

***
Kami  tidak sengaja kenalan. Ya, memang  tidak disengaja, wong tidak ada janjian. Waktu itu pasca terjadi gempa besar yang tanpa dugaan. Bisa teman-teman tebak kisaran tahunnya, kan?. Di sebuah ruangan 8x10 meter, dia jadi peserta, sementara saya ikut jadi narasumber pendampingan perpustakaan.

Dia salah satu peserta yang sampai sekarang menjadi kawan. Entah, kenapa cuma dia yang nyantol. Padahal dia itu lelaki, sudah beristri pula. Tapi percayalah, kami sebatas kawan. Tidak lebih.

Kawan saya ini mengelola perpustakaan sekolah, yang kemudian terdampak gempa. Terbayang keadaannya berantakan. Beruntung ada bantuan untuk pembangunan, kemudian perpustakaan dikembangkan. Akhirnya perpustakaan itu bisa nembus kompetisi tingkat nasional. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Keren, kan? Padahal pengelolanya, ya kawan saya ini, bukan alumni ilmu perpustakaan. Bagaimana ceritanya? 
Masih mau kuliah ilmu perpustakan?
Kawan saya memang pejuang tangguh. Semenjak  pendampingan itu, dia semakin rajin mengelola perpustakaannya. Kami komunikasi via email atau sms-an. Inovasi dia lakukan. "Anak masuk perpus selain baca buku, saya suruh nyatet apa yg dibaca", katanya meyakinkan. Dia pasang otomasi untuk perpustakaan, tampilannya disesuaikan dengan anak SD pengunjung perpustakaan. "Biar anak-anak senang", demikian dia mengatakan. Kawan saya memang suka coding, dan berkali-kali ngisi pelatihan pustakawan. Padahal, dia bukan alumni ilmu perpustakaan. Ilmu codingnya juga bukan ilmu sekolahan.
Masih mau kuliah ilmu perpustakan?".
Ketika kerja di SD,  statusnya honorer.  Gajinya minim, sehingga harus usaha sambilan kiri kanan.  Ingat: minim. Ini sih sebenarnya sudah rahasia para honorer perpustakaan (sekolah), apalagi swasta "perjuangan". Sampai kemudian nasibnya berubah karena lolos PNS hasil seleksi pungkasan. Gajinya pun ada peningkatan, hidupnya juga ada perbaikan. Ssst, sekarang kabarnya PNS dimoratoriumkan. Jadi tidak bisa berharap banyak untuk jadi PNS, sebagaian tujuan status pekerjaan.
Masih mau kuliah ilmu perpustakaan?"
Kawan saya pernah kepincut kuliah UT ilmu perpustakaan. Sudah ndaftar, tapi tak dilanjutkan. Kabarnya karena tak ada dana, pemasukan pas-pasan. "Ra duwe ragad", katanya, mohon dimaklumkan. Honor tak cukup untuk membayar biaya pendidikan. Akhirnya dia otodidak dalam belajar pengelolaan perpustakaan.  Bisa kok. Tanya kiri kanan, dan baca buku di perpustakaan. Jangan lupakan juga nonton panduan sambil yutuban.
Masih mau kuliah ilmu perpustakaan?" _
Tapi,  saya akui, dia memang sungguh bersungguh-sungguh dalam belajar, khususnya IT dengan kemandirian, seperti saya sampaikan di depan. Mulai dari oprek joomla, oprek SLiMS (software perpustakaan), sampai belajar coding pemrograman. Menggunakan framework, atau coding dari 0 (nol) sebagai awalan.  "Modalnya cuma http://stackoverflow.com", katanya memastikan.  Intinya dia belajar coding, bersungguh-sungguh, serta memanjatkan doa pada Tuhan. Ingat! dia tidak jadi kuliah ilmu perpustakaan.
Masih mau kuliah ilmu perpustakaan?"
***
Jadi pustakawan itu tak perlu kuliah ilmu perpustakaan. Wong pada dasarnya semua manusia itu pustakawan. Ini juga sudah ditekankan oleh pemilik kebijakan. Siapapun bisa. Intinya mau belajar, penuh kesungguhan. Pendidikan tidak hanya di sekolah atau kuliahan. Formal, informal, non formal mestinya juga ada pengakuan. Kawan saya itu sudah membuktikan.

***
Namun, akhirnya....

Kawan saya sekarang tak lagi kerja di perpustakaan. Kemampuannya cocok di tempat lain yang lebih membutuhkan. Keterampilan otodidaknya sangat bermanfaat. Otodidak. Ingat ya, otodidak. Baru setelah PNS dia disekolahkan coding, kursus atau pendidikan/latihan.

###

Kawan...

Harap diingat: sulit mencari yang seperti itu. Gigih, dan tak kenal lelah dalam perjuangan. Tidak bisa dirampatkan. Tentu saja, faktor nasib dan takdir juga ikut berperan. Kita tidak tahu, takdir apa yang akan diberikan. Jalani saja, jika ilmu perpustakaan sudah jadi pilihan, terpaksa atau penuh kesadaran. 
Masih mau kuliah ilmu perpustakaan?

Pendidikan, tak hanya terkait pekerjaan. Tapi lebih ke adab dan kemanusiaan. Serta perintah Tuhan. Percayalah pada Tuhan, rejeki tak akan ada pertukaran, tinggal diusahakan. 


Jangan ragu. Kalau ragu, lebih baik mundur saja.

Friday, 21 December 2018

Strategi mencintai tempat kerja (perpustakaan)

Deg-deg-ser. Itulah kemungkinan pertama yang dirasakan ketika masuk tempat kerja baru tanpa tahu kondisi sebelumnya. Pertanyaan betah atau tidak, nyaman atau tidak, dibully atau disayang, kemungkinan besar masuk dalam pikiran.

Ketika kuliah diploma, beberapa teman berkesempatan menjadi tenaga partime di perpustakaan. Saya gagal. Tentunya bagi teman-teman partime, mendapatkan pengalaman menarik dan berharga, karena ketika masuk kerja sudah bisa membaca kondisi. Apalagi jika bekerja di tempat partime yang sama. Sama saja dengan libur trus masuk kuliah lagi. Kepenak, meski juga ada kekurangannya. Kurang berwarna.

###

Setelah lulus, saya pernah magang di Perpustakaan Fisipol UGM, 3 bulan lamanya. Blank. Mirip sama suasana nembak gebetan kemudian ditolak. Buyar.  Bingung pekerjaannya apa ya? Mau ngapain?

Beruntung saya punya kenalan yang sudah kerja di perpustakaan tersebut. Cukup membantu.

***

Kemudian, saya memasuki tempat kerja sesungguhnya, pertama kali di Perpustakaan Teknik Geologi UGM. Seperti yang saya sampaikan di atas, awal masuk berbagai pertanyaan juga mampir di pikiran saya. Kalau pas masuk terus dikerjain, bagaimana yak? Atau jika saya bikin kesalahan, waduh bisa kacau.

Saya mulai kerja di Teknik Geologi. Perpustakaannya penuh buku tentang minyak bumi, batu, fosil dan semacamnya. Beda dengan perpustakaan Fisipol, yang (meski saya tak suka baca, waktu itu :) ), masih bisalah saya paksakan membaca buku-bukunya. Mahasiswanya juga berimbang antara i dan a. Lah di Geologi, kebanyakan a, jarang i-nya. Tentu ini masalah tersendiri, dan cukup mengganggu. #halah

Harus ada cara supaya saya senang di perpustakaan ini.

Hingga, saya diberi anak kunci untuk membuka ruang tesis lapangan dan menata koleksi di dalamnya. Di ruang ini tersimpan tesis lapangan dari awal berdirinya teknik Geologi sampai sekarang. Isi tesis lapangan itu pemetaan daerah sekian km x sekian km.  Pembahasan tentang bentang alam, dan lainnya. Terdapat peta geologi dan jenis peta lainnya. Intinya ruang tersebut bisa disebut miniatur keadaan alam Indonesia.

Tesis lapangan ini membahas daerah di Indonesia dari ujung barat sampai timur. Lengkap.

Waktu berjalan. Saya nemukajian tentang pertambangan, perusahaan tambang, politik sumberdaya alam. Kenal website jatam (https://www.jatam.org/), dan semacamnya. Pada titik inilah saya mulai tertarik dengan geologi, tidak hanya tentang ilmunya, namun justru selipan tema sosial/politik terkait geologi. Membangkitkan adrenalin. Tema-tema ini yang terkadang saya obrolkan ringan dengan mahasiswa.

Dari obrolan itu saya mulai dekat dan bisa membangun komunikasi dengan mahasiswa. Kesempatan tersebut cukup membantu pula dalam mengenal ilmu geologi itu sendiri. Kemudian saya tahu ada beberapa alumni yang pernah ada di pemerintahan, mahasiswa yang ternyata anak pergerakan + tulisannya. Informasi ini cukup membantu saya menyenangi perpustakaan geologi.

***

Tahun 2012, saya pindah ke Fakultas Teknik. Perpustakaannya, tentu saja, memiliki koleksi lintas departemen. Hubungan dengan mahasiswa juga tidak sedekat di departemen. Ini masalah.

Setahun pertama, ada penyesuaian yang cukup berat. Melebihi beratnya Dilan menahan rindu pada Milea. Hingga pernah ingin mundur saja. Berat. Asli. "Milea, saya mundur saja, ya. Aku ikhlaskan dirimu untuk Kang Adi".

Tapi ternyata tidak. Dilan tetap berjuang untuk mendapatkan Milea. #halah.

Akhirnya saya menemukan beberapa titik yang mencerahkan. Apa itu ilmu teknik? siapa saja tokoh ilmu teknik? apa yang bisa saya dapat dari ilmu teknik? kenapa ini lebih baik dari pada saya kerja di ilmu sosial? dan lainnya.

Sukarno itu orang teknik. Dia juga proklamator, politisi, bahkan juga nyantri di rumahnya Pak Tjokro. Ini menarik. FT memiliki nuansa ilmiah, riset, yang kental. Tidak berarti saya beranggapan fakultas lain tidak sebaik FT. Tidak, tidak begitu. Namun apa yang ada di hadapan saya, seperti itulah adanya. Di FT, 8 departemen memiliki keahlian riil yang beragam. Saya bebas belajar pada siapa saja. Ini menarik. Perpustakaan FT ini semi otonom, letaknya yang terpisah, kerumahtanggaannya yang 90% mandiri, berpotensi menjadikan pustakawannya merdeka. Merdeka dalam arti positif tentunya.

Pertanyaannya, bagaimana saya memanfaatkan fasilitas di atas? Inilah yang menjadi tantangannya.

***

Memasuki tempat kerja yang baru, bagi saya, perlu mencari titik-titik menarik yang bisa menantang. Hal menantang dan menarik ini, akan membuat kita betah bekerja. Atau paling tidak membawa aura positif bagi proses kita mencari rejeki. Beda orang, beda strategi, beda pula pointnya. Ada yang bagi orang lain menarik, namun bagi yang lainnya kurang, atau bahkan dihindari.

Hal menarik itu bisa tentang koleksinya, manajemennya, efek dari ilmu yang ada di perpustakaan. Atau mungkin pemustakanya. Atau lainnya. Anda, saya, kita semua merdeka mendefinisikannya.


Thursday, 20 December 2018

, ,

“Pustakawan cuma dikasih sisa, dong!?"

Angkringan kang Kuat Gelanggang
Seorang cerdik cendikia bidang perpustakaan dan informasi mengatakan bahwa pustakawan itu perlu sekolah hingga bergelar doktor. Perlu, penting, agar kajian kepustakawanan lebih oke, tokcer, dan joss. Mungkin memang demikian alasannya. Beberapa hitungan pustakawan  kemudian kuliah sampai jenjang doktor. Di luar negeri, atau di dalam negeri. Mbayar sendiri, atau beasiswa.

###

Seperti adat saben, Paijo dan Karyo, dua sahabat karib beda usia jagongan nguda rasa. Tukar kawruh, saling berbagi. 

“Kalau sudah kuliah, lalu lulus, kemudian ngopo, Kang?”. Paijo membuka obrolan dengan Karyo. Obrolan itu terjadi di jalan depan rumah. Tempat biasanya orang lalu-lalang dari kebon. Ngebrok. “Mbok di sini saja jagongannya, Kang Karyo!”, istri Paijo setengah teriak menawari tempat obrolan di teras rumah. Tampak sambil membawa nampan berisi teko dan cangkir, serta sebuah piring. “Di sini saja, Yu. Silir. Sambil nunggu Kang Gimin dari kebon”, jawab Karyo. Mbok Paijo pun menghampiri suaminya dan sahabat karib suaminya itu.

Sejurus kemudian di depan Paijo dan Karyo tersuguh teh tubruk nasgitel  model campuran, racikan istrinya Paijo. Teh model ini dibuat dari beberapa merek teh. Konon kabarnya, lebih nikmat, sepet, tur gerrr. Di samping teko wadah teh, ada piring putih bermotif kembang. Pinggiran piring porselen itu sudah cuwil beberapa bagian. Tandanya piring itu sudah berumur. Lungsuran dari simbah-simbah-simbah dahulu. Namun, piring itu masih bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Dia masih bisa jadi wadah yang sempurna. Bahkan terkesan antik dan berkelas. Kemampuan mbok Paijo merawat perabot memang luar biasa.

Di atas piring tampak camilan ungkrung goreng, serta sebuah sendok dari daun pisang yang dilipat. Sendok itu dipakai untuk njumput ungkrung, diletakkan di telapan tangan, lalu dicamili satu persatu. “Ini ungkrung buruan tadi pagi sampai siang, Kang. Lumayan, dapat 6 ons”, terang Paijo. Ungkrung memang sedang naik daun. Bisa ratusan ribu sekilo. Melebihi harga daging ayam, lele, bawal, dan semacamnya.

Ungkrunge ndang dimakan, Jo. Jangan dinggorke saja”, basa-basi Karyo tidak langsung menjawab pertanyaan Paijo. Dia malah ambil ungkrung goreng lalu njumputi satu satu ke mulutnya. Mrus-mrus.  Tangan kanannya meraih gagang cangkir, lalu nyeruput teh nasgitel. “Ger…”, Karyo bergumam setelah kerongkongannya basah oleh teh manis racikan mbok Paijo.

“Jo. Pertanyaannya tidak langsung ‘kemudian ngapain setelah lulus?’!, Karyo mulai berkomentar.
“Lalu, apa, Kang?”.

Proses menjadi doktor bidang perpustakaan, tidak serta merta, tidak mak bedunduk. Ada kepentingan-kepentingan, atau gegayuhan hingga seorang pustakawan mau mendaftar program doktor. Kemudian, doktor itu idealnya kerja riset. Kalau sudah doktor maka tidak boleh lepas dari yang namanya riset. Dia punya tanggungjawab pengembangan. Kecuali menyatakan selesai. Karyo melanjutkan penjelasannya.

“Sik, maksudmu apa, Kang?. Mumet saya”.

“Yang harus ditanyakan pada pustakawan yang sudah bergelar doktor itu, pertama kali adalah “apakah mereka masih mau jadi pustakawan? atau jika sebelumnya belum pustakawan, apakah mereka mau mendaftar jadi pustakawan?’. Itu dulu yang harus ditanyakan”.

Pertanyaan dan pernyataan itu bagi Karyo agaknya dirasa penting, sehingga dijadikan awalan menjawab pertanyaan Paijo. Untuk memastikan dahulu, apakah konsistensi si pustakawan ketika sudah jadi doktor masih sama. Atau ndleyo, mengkeret, munter, balik arah, kemudian mengatakan,  “baju pustakawan sudah tidak muat untuk saya yang sudah doktor”.

“Kenyataan alias kasunyatan. Menjadi pustakawan dengan title akademik tertinggi: doktor, itu berat. Dia harus mau dan mampu memberi contoh sesama pustakawan. Dalam hal apapun. Dia harus bisa dicontoh dalam kesehariannya sebagai pustakawan”. Karyo melanjutkan penjelasannya.

“Bukahkah semuanya harus memberi contoh, Kang?. Tidak hanya doktor, yang sarjana, atau diploma sekalipun harus. Bahkan pustakawan hasil diklat”, Paijo setengah membantah.

“Benar, Jo. Pada dasarnya semuanya. Namun jika ada yang menyandang titel tetinggi, maka bebannya lebih banyak. Dia akan jadi sasaran pandangan pertama oleh orang di luar pustakawan. Citra pustakawan akan bergantung lebih padanya”, Karyo menambahkan.

“Kalau sampai setelah jadi doktor kok pindah profesi, atau tidak ambil profesi pustakawan, maka kamu itu Jo, kamu itu”, tangan Karyo sambil menunjuk muka Paijo.  “Harus ikhlas! Ikhlas jika memang pustakawan itu kelas kedua dalam pilihan profesi. Cuma dapat residu, sisanya saja”. Karyo nerocos melanjutkan penjelasannya.

"Itu belum apa-apa, Jo. Jika setelah jadi dosen, mereka mengatakan "pustakawan harus ini itu", kamu harus siap lahir bathin", Karyo menambahi lagi.

"Tapi, jika setelah jadi doktor tetap konsisten jadi pustakawan, maka kamu harus mengangkatnya menjadi manusia setengah dewa",  Karyo menutup kuliahnya pada Paijo.

Paijo diam. Batinnya bergemuruh. Dia ingat bagaimana dosen ilmu perpustakaan begiti entengnya mengatakan "Pustakawan itu hari begini dan begitu". Tanpa beban. Mereka tak tahu bagaimana kondisi sosial politik perpustakaan yang di hadapi. Sak enak'e dhewe, mentang-mentang dosen njuk kemlinthi. Paijo mbathin.

Wajahnya lesu. “Aku berarti cuma residu, sisa-sisa, Kang?”.

Karyo tidak menjawab. Tangannya justru meraih teko wadah air teh, kemudian menuangnya ke cangkir yang hampir habis isinya. Kemudian dia jumput lagi ungkrung goreng di piring, lalu satu persatu di masukkan ke mulut.

Suasana hening….

###

Hening itu berlangsung beberapa saat. Karyo tetap diam. Menunggu reaksi Paijo. Paijo justru melamun. Mata Paijo menerawang, tampaknya sedang mengingat sesuatu. Sepintas kemudian dia mulai bicara.

“Kang, saya pernah dengar. Seorang cerdik cendikia mengatakan bahwa dia mengambili pustakawan terbaik di kampusnya, untuk diproyeksikan menjadi dosen ilmu perpustakaan”, Paijo berbagi informasi.

“Nah, itu Jo. Kamu dengar sendiri. Yang terbaik diambil, dinaikkan “derajat”nya. Di selamatkan dari goncangan profesi pustakawan. Dijadikan dosen (ilmu) perpustakaan. Logikanya, kalau yang pinter diambil jadi dosen, lalu pustakawan tinggal sisanya. Padahal pustakawan perlu orang pintar yang bisa memberi contoh jadi pustakawan yang baik dan benar. Menjadi praktisi itu lebih berat dari akademisi (ilmu) perpustakaan. Kalau yang lebih berat saja dikasih sisa, lalu?”, Karyo ngegongi Paijo.

Embuh, Kang!”. Paijo menyerah.

“Kang Paijo, wis meh magrib. Sapine dimasukkan kandang. Ndang siram. Nanti ada kondangan di tempatnya Lek Gimin, tho”, teriak Mbok Paijo sebagai wujud perhatian dan tresno pada suaminya.

Wis, tak bali dulu, Jo. Nanti ketemu di tempatnya Kang Gimin. Satu hal yang tetap harus kamu ingat: jika setelah jadi doktor tetap konsisten jadi pustakawan, maka kamu harus mengangkatnya menjadi manusia setengah dewa", Karyo tahu diri dan pulang.

Kang Gimin, tetangga mereka, malam ini ada kondangan nyewu (seribu hari) kematian keluarganya. Kondangan terakhir, setelahnya tak ada lagi tersisa. Namun doa-doa tetaplah dipanjatkan, sepanjang masa. 


Sambisari,
Kamis Wage, 11 Bakdomulud 1952 Be
04.54 pagi

Thursday, 29 November 2018

Zotero di Google Docs

Horee....
Kaget ketika membuka Google Docs, dan menemukan menu Zotero di barisan sejajar dengan File, Tools, Help dan lainnya. Ya, Zotero ada di Google Docs. Munculnya Zotero ini disebabkan oleh pemasangan Zotero Conector di browser yang digunakan.

Tidak semua menu Zotero ada di Zotero for Google Docs, melainkan hanya Add/Edit Citation, Add/Edit Bibliography, Preferences, Refresh, serta satu lagi Unlink Citations.

Selain muncul di Menu, Zotero juga muncul sebagai tombol di Google Docs. 

Untuk menggunakan fitur ini, tentu saja pengguna harus memasang Zotero di komputernya. Google Docs akan meminta otentifikasi menggunakan akun Google anda. Setelah itu, kita bisa menggunakan selayaknya menggunakan Zotero pada Ms. Word atau Libreoffice.

Zotero merekomendasikan, sebelum mengirim dokumen pada orang lain untuk melakukan penyalinan dokumen, kemudian seting "Unlink". Penyalinan dilakukan melalui File --> Buat Salinan.

Fitur Zotero dalam Google Docs memungkinkan kolaborasi penulisan dokumen. Namun demikian, Zotero merekomendasikan untuk tidak melakukan editing/insert bibliografi dalam waktu yang sama.



Info lengkap: