Monday, 26 March 2018

Mufasir kepustakawanan (beradu tafsir)

Resmi, namun berselimut kontroversi. Pilihan "perpustakaan dan sains informasi" telah mengoyak tafsir para pemikir bidang ini (atau sejak lama telah terkoyak?). Hilangnya kata ilmu, dan munculnya kata sains bukan perkara sepele. Ada yang sepakat, ada yang tidak sepakat. Ada yang mengemukakan alasan sangat filosofis, ada yang mungkin alasannya sangat pragmatis.

Keduanya tidak salah... Bahkan, yang tak peduli tentang filosofis dan pragmatisnya perdebatan itu pun, tidak bersalah. Karena sepiring nasi untuk makan esok hari, lebih layak diperjuangkan. Layak diberi perhatian.

***

Akhirnya, beberapa diantara mereka dipertemukan. Tentunya orang pilihan. Agar bertemu muka. Dibuatlah panggung untuk berkhotbah sesuai mahzab yang mereka anut. Mereka, ibarat mufasir, sedang menafsirkan "ayat-ayat" kepustakawanan. Ummat duduk khidmat mendengarkan. Judul panggung itu "memetakan perkembangan ilmu informasi dan perpustakaan di Indonesia".

Kenduri intelektual ini penting. Yang akan menorehkan sejarah perkembangan ilmu, untuk masa-masa yang akan datang. Ini titik awal masa depan. Yang datang akan mengenang. Ada prestise, ada kebanggaan. Jabat tangan, say hello pada kolega. Menyatu dalam atmosfir intelektual. Ketika pulang, selembar SPPD menjadi tanda keberhasilan. Mungkin lengkap dengan sertifikat. Foto-foto? itu pasti.

Bukti kehadiran berupa foto menjadi hal wajib 'ain. Bukan muakad, apalagi sunah. Foto itu akan bercerita, bagaimana kontribusinya pada kenduri inteltktual tersebut. Ya, meski hanya duduk, manggut-manggut, sambil menyeruput air mineral yang tinggal setengah.

Yang bicara, akan dikenang. Namanya dicatat pada lembaran notulensi: menjadi pemateri, atau si penanya. Atau, sekedar menggaris bawahi yang dianggap penting. Paling tidak sudah ambil kesempatan. Tampil di panggung kenduri ini sangat penting. Ini tentang eksistensi.

Yang tidak datang akan terbalut penyesalan....

Karena ini kenduri besar, banyak yang terpikat hadir. Pustakawan, mahasiswa, dosen, tamu undangan. Mereka rela datang dari segenap penjuru. Selembar ijin pimpinan menjadi jaminan. Menembus macet dan panasnya siang, tetap dilakukan.

Hasrat intelektual menjadi segala-galanya.

Namun kapasitas ruang menjadi penghalang. Banyak yang kecele, karena pintu pendaftaran telah tertutup. Kursi tak berbanding lurus dengan jumlah orang yang dahaga, ingin ikut meneguk ilmu. Langung dari belanganya. Atau, cukup rela, meski hanya mampu menjilati tetesan yang jatuh, dijatuhkan, atau tak sengaja jatuh karena bocor bungkusnya.

Begitulah dahsyatnya kenduri ini. Akhirnya, jalur live streaming disiapkan.

***

Mufasir kepustakawanan itu, tak diragukan kapasitasnya. Mereka tahu sanad, rangkaian sejarah keilmuan yang konon, kabarnya telah berlangsung ratusan atau bahkan ribuan tahun. Metode tafsirnya pun sudah terpercaya. Maklum, mereka menyandang pangkat tertinggi dalam pendidikannya. Paripurna. Syarat mufasir mereka punya. Sekarang, di tengah owah dan gingsirnya kepustakawanan di Indonesia, tafsir mereka sungguh-sungguh dinantikan.

Tentunya tafsir-tafsir yang mencerahkan. Yang tidak mbulet. Tafsir yang memetakan. Tafsir yang penuh makna. Bukan tafsir kosong, bukan pesanan. Tafsir yang kontekstual, bukan tafsir import. Tafsir yang aplikable. Tafsir yang adem. Tafsir yang tidak mahal. Tafsir yang mudah dan murah dalam pengamalannya. Tafsir syumuliah.

Tafsir kepustakawanan yang mengindonesia?, Ya.
Bukan menginggris, bukan mengamerika, bukan mengarab. Bahkan, bukan yang memutu, menyulis, atau mengida. Bukan tafsir yang masturbatif.

Hingga, pada akhirnya dengan tafsir itu pustakawan mudah berijtihad. Ijtihad untuk perpustakaannya. Agar tafsir dapat turun dan membawa berkah. Mereka menurunkan tafsir, agar menjawa, menyunda. Meng-ugm, meng-uin. Menyiswa atau memahasiswa. Jangan lupa, meng-orang, memanusia.

***

Ini tulisan dari tiga begawan, ilmuwan Ilmu Perpustakaan dan Sains Informasi (Ilmu dan Sains ikut ditulis, biar adil), yang beberapa waktu lalu adu intelektual di UIN Sunan Kalijaga.
Dibaca, dicerap, direnungkan, ditimbang-timbang bobot bebetnya.
Namun, jangan lupa. Bagi para pustakawan, Senin besok tetap masuk kerja, ya. Jangan terlambat, jangan telat. Tanggungjawab besar ada di perpustakaan. Bersama buku-buku, bersama mahasiswa. Bersama para siswa. Bergembira bersama mereka.

Monday, 19 March 2018

, , , ,

Meneguk inspirasi, menuai berkah motivasi

Yokta berjalan berkeliling. Matanya menyapu tiap ruangan, bahkan sampai sudut-sudutnya. Sesekali dia berhenti untuk memotret, bertanya, atau mendengarkan penjelasan. Sorot mata dan gestur tubuhnya mengisyaratkan kekaguman. Yokta jauh-jauh datang dari Bali ke Perpustakaan Unsyiah. Tentu dia tidak sendiri, namun serombongan bersama teman-temannya. Banyak hal yang dia dapatkan. Pada penerapan teknologi di perpustakaan, dia amat terkesan. Tentu saja, mesin EDC (Electronic Data Capture ) turut menambah decak kagumnya.  Diapun berjanji, akan mengikuti apa yang sudah dilakukan Unsyiah. [1]
###
Lain waktu, seorang profesor dari Thailand datang. Namanya Prof.  Surin Maisrikrod. Dia bekerja di Walailak University, Thailand Selatan. Ekspresi senyum dan gestur tubuhnya tak beda dengan Yokta. Surin juga kagum dengan perpustakaan Unsyiah. Pada jumlah kunjungan dan jumlah peminjaman yang selalu meningkat. Serta pada teknologi yang diterapkan. Banyak catatan yang dia buat. Catatan itu akan dia bawa untuk didiskusikan dengan pengelola perpustakaan di kampusnya. [2]
***   
Purwo.co -- Itu bukan cerita rekaan. Namun cerita senyatanya, yang Saya bungkus dengan gaya bertutur, biar terasa hidup. Sumbernya pun tak hanya satu. Jika kurang yakin, coba tengok sumber terkait. Masih ada yang lain, tidak hanya 2 di atas. Ada juga tamu dari Malaysia, [3] atau berbagai institusi lainnya.

shelving crew Perpus UNSYIAH dengan seragam khasnya.
sumber: klik
Tulisan ini, merupakan lanjutan episode pertama. Setahun lalu, saya paparkan "isi" Perpustakaan Unsyiah yang membuat saya kagum. Mulai dari pintu gerbang, pintu masuk, ruang pentas, ruang lesehan, sampai cafe pustaka. [4]

Perpustakaan Unsyiah sedang berada pada ritme perkembangan yang pesat. Rodanya berputar cepat, secepat laju kendaraan MotoGP, atau Formula 1. Cepat dan selalu ingin melibas. Puncaknya dimulai pada 2015. Demikian disampaikan Pak Taufiq, sang Kepala Perpustakaan. Bukan hanya pada satu sisi, namun dari banyak sisi. Lengkap. Berbagai perkembangan inilah yang menjadi sedekah perpustakaan untuk memotivasi dan mendorong inovasi pustakawan lainnya.

Ada dua sudut pandang untuk menakar Perpustakaan Unsyiah: sisi pustakawan dan sisi pemustaka. Dari keduanya, dapat dipanen berbagai inspirasi dan motivasi. Dari sisi pandang saya sebagai pustakawan, ada beberapa hal yang elok dijadikan catatan. Hal tersebut, yang menjadi pemicu, atau pelecut semangat. Atau cambuk yang memaksa mempergegas langkah. Tulisan ini mengulas berbagai hal yang inspiratif dari sisi kerja pustakawan atau pengelolanya.

Berikut beberapa point istimewa yang saya maksud di atas. Beberapa data saya sertakan, untuk memperkuat pemetaan yang saya lakukan.

Kreativitas
Tahun 2014 saya mulai serius mengenal Perpustakaan Unsyiah. Pada acara SLiMS Commeet, sebuah konferensi pegiat software untuk perpustakaan - SLiMS -, di Semarang. Pak Taufiq, Sang Kepala Perpustakaan mempresentasikan penerapan SLiMS di Unsyiah. Tentu saja, paparan itu diawali berbagai kondisi sebelum berbagai perubahan dimulai. Sehingga terlihat terang perbedaan dan perkembangannya. Kuasa dan kompetensi benar-benar bekerja.

Pada pertemuan itu, tertampak jelas semangat yang ada pada diri Pak Taufiq.

Pada tahun-tahun tersebut, RFID (teknologi untuk menyimpan dan mengambil data jarak jauh) sedang menjadi bahan berbumbu lezat bagi pembicaraan para pustakawan. RFID menjadi acuan kelas sosial sebuah perpustakaan: kelas bawah, tengah, atau puncak. Perpustakaan berlomba menjadi yang pertama menerapkannya. Bahkan, ada yang beberapa tahun sebelumnya sudah konferensi pers: hendak menerapkan RFID, meskipun berhenti. Ada yang mengundang museum pencatat rekor guna meneguhkan bahwa dia yang pertama menerapkan RFID. Namun, ada juga yang tidak begitu mempedulikan. Sikap pustakawan pada RFID memang beragam dan sangat menarik.

Unsyiah, yang ada di ujung Sumatera itu, begerak dalam senyap. Ibarat perang, dia melakukan perang gerilya. Untuk memulai, maka semua elemen didekati, dipahamkan, diajak urun kemampuan. Mereka diajak berbagi, dan bersemangat. Mahasiswa tingkat akhir, yang memerlukan bahan untuk riset salah satunya. Senyap. Namun ketika momentum itu datang, Pustaka Unsyiah menunjukkan dirinya. Kolaborasi dengan mahasiswa terwujud. Hasilnya, perpustakaan mampu membuat middle ware (penghubung software SLiMS dan alat RFID) secara mandiri. [5]

Produk mandiri ini membebaskan Unsyiah dari ketergantungan. Bermanfaat bagi perpustakaan, juga mahasiswa. Tentu saja menekan berbagai komponen biaya. Semuanya senang.

*** 
Pertemuan tahun 2014 itu, terulang lagi di 2015 di Malang, dan 2016 di Jogja. Di Malang, Pak Taufiq dan tim kembali menularkan inovasinya. Sama seperti Yokta dan Surin, peserta melongo, heran, bangga, namun juga iri, melihat perkembangan perpustakaan Unsyiah. Luckty dari Lampung, misalnya, yang tanpa tedeng aling-aling menulis testimoni di akun medsosnya. Kemudian juga Ana, pustakawan Mojosari yang sampai berkhayal dan tak bisa tidur setelah mendengar paparan tentang perpustakaan Unsyiah. "Ngebayangin bagaimana indah dan nyamannya perpus Unsyiah", demikian tulisnya.

http://library.unsyiah.ac.id/program-perpustakaan-unsyiah-jadi-inspirasi/

Di Jogja, kami bertemu pada acara pungkasan FPPTI DIY 2013-2016. Saat itu, Pak Taufiq mengatakan, "Kami semua yang bekerja di perpustakaan itu pustakawan". Kalimat yang mengagetkan saya. Karena muncul di saat pustakawan jumawa ingin membuat garis pembatas yang jelas: siapa pustakawan, siapa bukan pustakawan. "Dengan menganggap kami sebagai pustakawan, maka akan meningkatkan percaya diri kami dalam mengelola perpustakaan", demikian alasan beliau. Seolah ingin menegaskan pula, bahwa sesungguhnya setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri.

Para tahap ini, Perpustakaan Unsyiah memberi contoh bagaimana kreatif mencipta hal baru, atau mencari jalan baru. Sekaligus melawan kejumudan berfikir dalam pengembangan perpustakaan. Diikuti dengan semangat belajar dan berbagi, kepada siapapun dan dimanapun. 

Kolaborasi
Apa yang saya tulis di atas, sebenarnya juga bagian dari kolaborasi. Namun, jika ditelisik lebih jauh, ada inspirasi terkait kolaborasi yang pantas kita renungkan.

Sosialisasi perpustakaan, atau jamak disebut dengan kegiatan literasi informasi, sudah umum dilakukan, untuk mahasiswa baru atau siapa saja yang membutuhkan. Namun duta baca, masih terbilang sedikit. Bahkan belum ada, sampai kemudian Perpustakaan Unsyiah memulainya. Yang digarap Pustaka Unsyiah bukan hanya duta baca secara seremonial. Bukan. Namun duta baca yang benar-benar dilibatkan pada berbagai kegiatan perpustakaan.

Duta baca digembleng militer.
Sumber: klik
Duta baca ini digarap serius. Tidak sekedar penilaian berkas di meja. Namun, mereka juga dikirim, digembleng di padepokan militer. Dibekali berbagai keterampilan dan pengetahuan. Hasilnya akan tercipta duta baca yang bermental kuat, serta prestisius bagi siapa saja yang menyandangnya.  Dia jadi brand, ikon, contoh, model, fokus, yang diharapkan menjadi magnet. Menarik mahasiswa untuk mengikutinya.

Melibatkan mahasiswa dalam kegiatan perpustakaan juga sudah jamak dilakukan. Saya merasa, di perpustakaan saya pun demikian. Kami berkolaborasi dengan mahasiswa. Mengajak mereka untuk menjadi pemateri kegiatan bagi mahasiswa lain. Namun, memastikan keberlangsungannya tetap terjaga, menjadi tantangan tersendiri.

Agaknya, atas dasar itulah akhirnya Perpustakaan Unsyiah melahirkan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Literasi Informasi. Setahu saya, ini yang pertama di Indonesia. Dengan UKM ini, regenerasi, fokus kegiatan, dan sasaran aktivitas akan lebih terjaga.

ULF, atau Unsyiah Library Fiesta juga menjadi bukti kolaborasi berikutnya. Ini kegiatan akbar, yang gaungnya merambat sampai ke Jawa. Ini kegiatan luar biasa. Melibatkan banyak pihak, mulai dari dosen, mahasiswa, pustakawan, dan bahkan bantuan militer untuk penggemblengan disiplin. Militer!, institusi yang beberapa tahun lalu memiliki hubungan kurang harmonis dengan sipil di Aceh. Perpustakaan mampu merangkulnya. Ini bukti nyata kolaborasi di perpustakaan, yang lebih hidup daripada sekadar kajian di kertas-kertas ilmiah atau slide presentasi.

Open Education Resources, atau populer disebut OER merupakan produk baru hasil kolaborasi di Perpustakaan Unsyiah bersama UKM Literasi Informasi. OER ini, turut meneguhkan ikatan kolaborasi pengembangan perpustakaan Unsyiah.

Berbagai kolaborasi di atas berefek dahsyat. Tingkat kemasyhuran perpustakaan di mata mahasiswa menjadi naik berlipat ganda. Mahasiswa menjadi peduli, dan kreatif terkait perpustakaan. Kerelaan mereka membuat berbagai video pendek bertema perpustakaan, menjadi buktinya. Berbagai video tersebut dapat anda lihat di https://www.youtube.com/channel/UCNyNFy2KGE6JlgqkxN8suDg.



Perpustakaan Unsyiah memberi contoh, bagaimana bentuk kolaborasi yang berkualitas

Profesionalisme 
Saya mulai bagian ini dengan singkat membahas pencitraan. “Kita perlu pencitraan yang sahih”, demikian kata Kang Hasan dalam bukunya “Melawan Miskin Pikiran”. [6] Pencitraan itu perlu dan penting. Namun pencitraan yang benar. Yang nyata, dan bukan rekayasa.

Agaknya, hal ini juga dipahami sungguh oleh pengelola perpustakaan Unsyiah.  Pencitraan atas profesionalisme yang benar-benar dilakukan. Profesionalisme tetap didahulukan. Pencitraan menjadi penopang agar profesionalisme dapat menyebar. Hasilnya pun luar biasa.

Kerja-kerja di Perpustakaan Unsyiah, bagi saya sangat profesional. Pustakawan didorong untuk selalu mencerap dan memamah pengetahuan baru, dari berbagai sumber. Tujuannya satu: agar semakin profesional. Dari sisi tampilan pun oke dan menarik. Tenaga paruh waktu dari mahasiswa juga diberi atribut khusus sebagai identitas. Mereka harus terlihat beda, dan percaya diri dibanding mahasiswa lainnya.

Perpustakaan juga memiliki tim yang berisi pustakawan dan mahasiswa, yang bertugas menulis dan menerbitkannya dalam sebuah buletin: Librisiana. Buletin ini dikelola dengan serius, memiliki struktur dan profesional. Librisiana tidak sendirian. Dia juga ditopang oleh akun media sosial. Instagram, misalnya.

Instagram (IG) Pustaka Unsyiah termasuk aktif. Postingan berkualitas dan promotif rutin menghiasi. Akun ini memposting kegiatan, atau koleksi perpustakaan Unsyiah. IG Perpustakaan Unsyiah tercatat memiliki 7.425 pengikut. Jauh lebih banyak dari IG perpustakaan yang ada di Jawa. Bahkan yang berkategori perpustakaan besar sekalipun.

Yang membuat saya geleng kepala terheran-heran, akun IG Dekan FT UGM pun, menjadi follower IG Perpustakaan Unsyiah. Ini di luar dugaan, sangat-sangat istimewa.

Instagram Perpustakaan Unsyiah

Profesionalisme yang berkesinambungan, akan melahirkan citra positif.

Tidak lupa pada akarnya
Sebagai sebuah perpustakaan perguruan tinggi, Perpustakaan Unsyiah tidak lupa pada akarnya. Masyarakat luas, yang menjadi tempat perguruan tinggi itu berada. Masyarakat yang menanti sentuhan perguruan tinggi untuk dapat memberi pencerahan.

Proses mengakarnya perpustakaan Unsyiah, dilakukan pada beberapa kelompok atau kerumunan. Pustaka Unsyiah hadir di lembaga pemasyarakatan anak, SLB (Sekolah Luar Biasa), serta kerumunan orang di Car Free Day. Bersama mahasiswa dan tentunya Sang Duta Baca, Pustaka Unsyiah memberi pencerahan terkait literasi, belajar sepanjang hayat dan program lainnya.

Car free day (sumber gambar: klik)

Kreativitas + Kolaborasi + Profesionalisme  = lompatan capaian


Epilog
Lahir tahun 1970, kurang lebih 48 tahun usia Perpustakaan Unsyiah. Usia ideal bagi seorang pemimpin. Masih enerjik, haus ilmu, dan gemar berbagi.  Kepala perpustakaan yang begitu profesional turut menambah nilai. Status ilmuwan sang Kepala Perpustakaan menjadi penyempurna. Selaras dengan ungkapan Al Attas, bahwa kepala perpustakaan itu hendaknya seorang ilmuwan, yang juga dididik secara profesional. [7]

Kemunculan perpustakaan Unsyiah pada peta perkembangan perpustakaan di Indonesia sangat menarik. Dia  memorak-porandakan peta Jawa centris, menjadi lebih adil dan merata. Membuka mata, bahwa kompetensi itu di atas segalanya. Dia bukan sekedar perpustakaan. Lebih lengkap. Perpustakaan ini mampu mendobrak kejumudan pengembangan perpustakaan. Mampu menurunkan ide langitan para pemikir, turun ke tanah. Dalam bentuk layanan yang tepat, menarik. Seksi! bagi para pemustakanya.

Letaknya boleh di ujung pulau Sumatra. Jauh dari ibukota negara. Daerahnya pernah dilanda tsunami,hingga seolah tak ada sisa. Juga sekian lama dalam kondisi mencekam karena tarik ulur kekuasaan. Namun, semangat warisan para teuku tetap mengalir di darah mereka. Perpustakaan Unsyiah telah berproses bukan sekedar untuk menjadi baik, namun melakukan berbagai lompatan besar. Sangat layak menjadi tujuan, bagi pustakawan yang kehausan dan hendak meneguk air inspirasi, lalu menuai berkah motivasi.

Beberapa bukti di atas, menjadi bukti bahwa perpustakaan Unsyiah sudah ada para tahap leader, bukan lagi follower. Namun demikian, Perpustakaan Unsyiah tidak boleh silau. Dia tetap harus rendah hati, belajar dari siapapun dan membagi pada siapapun.

Satu hal yang perlu dicatat: regenerasi harus diperhatikan. Agar semua penggeraknya bisa menjadi ideolog secara bergiliran.

Sambisari, 
Selasa, 20 Maret 2018

[1]. http://library.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/2017/09/Librisyana-Ed.-6-Preview-File.pdf.

[2]. http://www.unsyiah.ac.id/berita/profesor-thailand-terkesan-dengan-perpustakaan-unsyiah,

[3]. http://www.unsyiah.ac.id/berita/siswa-malaysia-kunjungi-perpustakaan-unsyiah,

[4]. http://www.purwo.co/2017/03/perpustakaan-unsyiah-model-ideal.html

[5]. http://etd.unsyiah.ac.id/index.php?p=show_detail&id=18173

[6]. Melawan Miskin Pikiran : Memenangkan Pertarungan Hidup Ala Kang Hasan. Oleh Hasanudin Abdurakhman. Nuansa Cendikia: 2016

[7]. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Ditulis oleh Wan Mohd Nor Wan Daud. Mizan: 2003


Tuesday, 13 March 2018

(Pustakawan) Jangan malu belajar ke mahasiswa!!!

“Mas, saya diminta Prof. Djun ketemu njenengan”, mahasiswa yang bernama Dina itu menemui saya. Dia ingin tahu tentang software analisis data kualitatif.

“O, NVivo, kah? ada juga Atlas.ti”. Kami pun ngobrol ngalor ngidul. Saya sampaikan, bahwa saya belum paham benar tentang kedua software ini. Softwarenya sendiri berbayar. Namun ada trialnya 14-30 hari.

Saya carikan info terkait kedua software itu di internet. Apa fungsinya dan di mana unduhnya. Dengan satu catatan, Saya belum bisa ngajari penggunaannya!. Dina meninggalkan nomor hape, untuk saya hubungi jika suatu saat saya bisa mengajari atau ada info lanjutan tentang NVivo.

Lebih dari seminggu kemudian..

Dina kirim wa. “Pak, Fisipol pernah ada pelatihan. Ini posternya”. Saya kaget. Harusnya sebagai pustakawan, info ini saya peroleh dulu, kemudian saya sampaikan ke Dina. Saya jawab terimakasih, meski menahan malu. Untungnya lewat wa.

Singkat cerita, Saya ikut pelatihan NVivo di Fisipol. Dina juga bergabung.

Gedung Fisipol yang megah itu cukup membingungkan saya. Berbeda jauh dengan ketika saya kuliah, 16 tahun lalu. Dulu, hanya ada satu gedung baru, gedung Yong Ma. Sekarang, 90% baru. Bahkan mushola sudah berganti total.

Dengan bertanya kiri kanan, akhirnya saya temukan ruangan pelatihan. Ruangnya tidak begitu besar. Bersih, ada 20 kursi, proyektor, AC, papan tulis transparan. Mewah pokoknya. Pelatihan dimulai, jam 9-14 siang. Tentunya dipotong waktu istirahat. Seperti umumnya pelatihan, kami belajar bagaimana menggunakan software tersebut. Pematerinya Yasa dan Adat , keduanya mahasiswa pegiat CfDS. Mereka begitu mahir. Ditambah ruangan Fisipol yang nyaman, membuat pelatihan menyenangkan.

***

Seminggu berlalu. ....

Sebagaimana keseharian di perpustakaan FT UGM, jika tidak ada jadwal pelatihan, maka terkadang mahasiswa yang meminta. Saat itu, mahasiswa EGov (dulu CIO) datang menemui saya. Saya cerita tentang NVivo. Agaknya mereka banyak yang menggunakan kualitatif. Sepertinya berguna, fikir saya.

E, lha mereka tertarik. “Namun ini bukan pelatihan, lho. Hanya berbagi. Saya belum mahir.” begitu catatan saya.

Sembilan belas mahasiswa EGov itu menjadi kelas pertama NVivo di Perpustakaan FT UGM.

***

Sebagai pustakawan, jangan malu belajar pada siapapun. Termasuk dari mahasiswa. Jadilah jembatan, untuk mengantarkan kemampuan mahasiswa satu, kepada mahasiswa lainnya. Kemampuan mahasiswa tersebut beragam, dan sangat dinamis.

Bukankah musuh pustakawan yang paling besar itu pekerjaan perulangan?

Tuesday, 13 February 2018

, ,

Rekreasi yang sesungguhnya (3, habis)

Tulisan sebelumnya: http://www.purwo.co/2018/02/agar-tidak-menyesal-ketika-mati-dan.html

Tubing (di) sungai. Aliran air sebagai aliran kehidupan, gelombang air adalah gelombang kehidupan, aliran menurun adalah kehidupan menurun. Ban tempat hidup yang untuk dikendalikan. Tebing kanan kiri dan bebatuan di bawah adalah ancaman. Jadi disaat kita naik butuh keseimbangan untuk mengendalikan dengan situasi dan kondisi aliran air/aliran kehidupan yang deras dan bergelombang juga kadang menurun. Kanan-kiri-bawah mengancam yang bisa membuat kita jatuh, dan disaat kita terjatuh itu bisa kembali naik ke atas atau pupus. Maksudnya dalam kehidupan disaat kita bisa kembali bangkit, naik iman takwa kita, atau kita berhenti menjadi orang yang tidak (ber)takwa lagi. (Kang Sabar, dalam memaknai wisata tubing)


Purwo.co -- Minggu tanggal 11 Februari, hari terakhir dari rentetan kegiatan 3 hari kami. Pagi itu, setelah pengajian Subuh, kami sarapan kemudian bersiap menuju arena tubing yang jaraknya sekitar 3 kilo dari tempat menginap.

Kami berjalan kaki, beriringan sambil ngobrol ngalor ngidul. Ini waktu yang saya harapkan, agar bisa menelisik lebih dalam tentang keindahan lokasi yang kami kunjungi.

Benar dugaan saya, daerah ini sangat indah. Penduduknya yang ramah, turut menambah keindahan. Klakson motor dan senyum warga yang berpapasan dengan kami menjadi buktinya. Perjalanan naik turun bukit yang cukup jauh itu menjadi tidak begitu melelahkan.

Jalan yang kami lalui hanya muat untuk satu kendaraan roda 4. Jika ada yang berpapasan, maka salah satu harus mengalah untuk berhenti dan agak minggir. Tikungan tajam juga kerap kami temui, yang memaksa kendaraan harus ekstra hati-hati. Apalagi yang belum pernah berkunjung, kemungkinan terpesona pada alamnya, bisa berpotensi membuyarkan konsentrasi dan berakibat buruk saat berkendara.

Jalan yang hanya muat satu mobil roda 4 itu semakin menyempit, yang akhirnya benar-benar hanya muat 1 mobil saja, tidak bisa berpapasan, meskipun dengan motor. Bahkan, jika ada mobil lewat, maka pejalan kaki harus berhenti dan minggir ke selokan agar mobil bisa bergerak. Di ujung  jalan, kami temukan sebuah gerbang lokasi tubing. Tidak bisa tidak, kami harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju lokasi start tubing.

###

Kami menyusuri jalan setapak di atas sebuah sungai. Jalan tersebut sudah dikeraskan pada beberapa bagian menggunakan semen. Tampak usaha agar pengunjung tubing bisa merasa nyaman berjalan ke lokasi. Jalan tersebut terletak di atas sungai, di antara dua bukit yang menjulang tinggi, hijau dengan tanaman sayur yang siap panen.

Sejauh mata memandang, selain tegalan sayuran, juga tampak orang-orang yang merambat naik-turun tegalan yang kemiringannya sekitar 80 derajat itu, untuk membersihkan rumput, memberi pupuk, mengobati, atau memanen sayuran.

Setelah beberapa waktu perjalanan, kami sampai di lokasi start. Setelah briefing tentang aspek keamanan selama tubing, kami antri memakai peralatan pengaman kemudian membawa ban yang sudah diisi angin ke titik start. Bagi yang belum dapat antrian, bisa mengisi waktu dengan berlatih memanah.

###

Kami rela antri untuk merasakan sensasi memanah di ruang terbuka. Terkadang, kami harus menunggu karena di sisi kiri sasarann ada warga yang melintas, pulang dari atau ke tegalan. Ada satu titik sasaran panah, serta dua busur yang tersedia. Jarak sasaran kurang lebih 10 meter. Teriakan girang memecah suasana, ketika salah satu diantara kami mampu membidik sasaran dengan tepat, meski tidak benar-benar menancap di tengah. Setelah semua anak panah habis, maka salah satu dari kami akan mengambil. Sementara yang memegang busur harus sabar menunggu sampai anak panah ditemukan atau dicabut dari titik sasaran.

###

Jalur tubing ditempuh pada jarak yang lumayan jauh. Batu yang ada di sepanjang sungai tampaknya benar-benar masih alami. Satu per satu kami naik di atas ban, kemudian membiarkan arus sungai bebas menyeret kami ke hilir. Benturan dengan batu, atau ketika ketemu teman yang macet, kami pun bisa berbenturan. Bukan hanya benturan, namun ada juga yang terjatuh karena tidak seimbang ketika melewati turunan. Yang tidak sigap, bisa terpisah dari ban, kemudian jatuh ke air. Tak pelak, minum air sungai sangat mungkin terjadi pada kondisi demikian. Gelak tawa pecah di antara kami.

Setelah melewati perjalanan menggunakan ban dalam tersebut, kami sampai di akhir. Tulisan yang seharusnya finish itu tertulis berbeda, agaknya disengaja, "VINISH". Tepat di sebelah batu besar yang gagah berdiri. Di lokasi finish ini ada bagian sungai yang cukup lebar dan dalam. Kami lampiaskan kegembiraan di titik ini, sambil menunggu peserta lain yang belum selesai.

Setelah semua mencapai finish, kami kembali ke titik kumpul tubing.

Di samping lokasi tubing itu terdapat air terjun. Airnya yang bening, seolah melambaikan tangan, agar kami mendekat dan merasakan kesegaran di balik dinginnya. Beberapa yang telah selesai tubing, mencoba mendekat ke air terjun ini, sembari membersihkan badan.

Yang lainnya menikmati telo goreng, dan nasi montok. Nasi montok merupakan nasi khas, yang dikukus dengan bungkus daun pisang. Lauknya semacam botok. Teh panas yang telah dituang menjadi pelengkap, yang jika tidak segera diminum akan cepat dingin dihimpit suhu pegunungan.

###

Kami pun kembali ke penginapan. Sebelum Dzuhur dan makan siang, ada sajian 15 butir duren yang siap disantap. Kami beramai-ramai menikmati duren tersebut, istiharat, kemudian sholat Dzuhur serta makan siang. Menu makan siang terakhir itu berupa soto ayam kampung, lengkap dengan kerupuk dan tempe goreng.

Kami segera berkemas. Selain berkemas, kami juga ikut membersihkan rumah yang kami tempati, sebagai bentuk terimakasih pada si empunya rumah. Ada kejadian menarik pada saat ini. Embah yang punya rumah benar-benar melarang kami membantu membersihkan rumah, hingga kadang ada adegan lucu di antara kami yang harus menghindar karena sapu atau pel yang kami pegang hendak direbut simbah. Ucapan terimakasih kami sampaikan pada Embah Kakung dan Putri pemilik rumah.

Setelah berkemas, kami berkumpul di masjid, mendengarkan pesan terakhir, kemudiah sholar Ashar lalu pulang.


###


Epilog
“Model seperti ini kayae malah menyenangkan. Selain dapat ilmu, juga dapat gembira. Plus bisa melihat pemandangan sebagai bentuk rekreasi”, demikian inti komentar beberapa kawan. Ya, tentunya dengan biaya yang murah pula. Dengan tanpa beban, tidak dikejar-kejar waktu, kita diajak untuk jujur pada diri sendiri untuk melihat sisi lain dari proses hidup yang kita jalani.

Saya tidak ingin menggiring atau merampatkan, bahwa semuanya sepakat dengan pandangan di atas. Namun, bagi saya pribadi, ini merupakan pengalaman berharga. Ada banyak hal menarik, positif yang diperoleh selama kegiatan. Pembiasaan hidup tertib, melalui kebiasaan sholat jamaah, sholat tahajud, ikut pengajian, berkunjung kepada warga, yang dibentuk selama 3 hari, harapannya dapat diteruskan ketika (khususnya) menjalankan pekerjaan di institusi.

Hidup perlu perjuangan, seperti halnya ketika bergembira tubing. Bisa jatuh, bisa naik lagi. Bisa terluka dan lainnya. Tubing itu menurun, waktu yang sudah kita lalui, tak bisa diulang lagi. Seperti yang dimaknai Kang Sabar, kawan saya, sebagaimana tertulis di awal tulisan ini.

Tamat

, ,

Agar tidak menyesal ketika mati, dan minta dihidupkan lagi (2)

Tulisan terkait sebelumnyahttp://www.purwo.co/2018/02/akhirnya-sop-daging-itu-meruntuhkan.html

Purwo.co -- Sore itu, setelah sholat Ashar kami berkumpul, duduk melingkar di dalam masjid. Ketua Takmir masjid, yang tadi menjadi imam masjid memberikan sambutan. Kami dikenalkan pada beberapa orang yang akan membersamai kami selama kegiatan. Kami juga menyepakati usulan kegiatan yang akan kami lakukan.

Selepas magrib di Jumat sore, kami akan dibagi beberapa kelompok untuk berkunjung ke rumah warga sekitar. Selain silaturahmi, kami juga diminta mengajak mereka datang ke masjid untuk sholat Isya’ dan mendengarkan pengajian. Kemudian untuk hari Sabtu, akan dilanjutkan beberapa kajian setelah sholat wajib. Beberapa dari kami dijadwal untuk memberi tausiah atau membaca hadits. Kemudian pada sabtu sore akan dibagi lagi dalam beberapa kelompok, berpencar ke masjid-masjid sekitar sampai setelah Isya. Setiap hari kegiatan selesai pukul 9 malam, kemudian istirahat. Bangun pukul 3 pagi untuk sholat tahajud, dilanjutkan Subuh berjamaah. Pada hari Minggu setelah kajian pagi, kami akan bersenang-senang di sebuah arena tubing (naik ban dalam), yang jaraknya beberapa kilo dari rumah yang kami tempati.

Demikian gambaran kegiatan selama beberapa hari ke depan.

###

Pada kunjungan ke rumah warga di Jumat sore, kami berempat memperoleh titik tujuan yang paling jauh. Berjalan menyusuri jalan menanjak, dan tanpa penerangan untuk mencapai lokasi. Ditemani 2 panitia: satu orang asli sebagai penunjuk arah, satunya pendamping yang akan membersamai selama ngobrol dengan penduduk.

Sebenarnya saya agak ragu. Tidak biasanya saya berkunjung ke rumah orang pada waktu antara Magrib dan Isya’. Biasanya waktu tersebut digunakan untuk istirahat, bercengkerama dengan keluarga. Namun, beda tempat beda kebiasaan. Di tempat ini, justru pada waktu tersebut lazim dilakukan, karena sebelum Magrib mereka harus bersih-bersih diri sepulang dari tegalan. Sementara setelah Isya’ mereka bersiap istirahat, atau menghadiri hajatan kampung.

Kunjugan pertama ke rumah Pak Sur, kemudian Pak Eko, dan terakhir Pak Rian. Ketiga nama ini, bukan nama sebenarnya, melainkan nama dari anak pertama mereka. Pak Sur memiliki anak pertama yang bernama Sur, maka beliau dipanggil Pak Sur. Demikian pula dengan Pak Eko dan Pak Rian. Mereka bertiga menyambut kami dengan suka cita. Pak Eko, yang kabarnya baru sembuh dari sakit, tampak senang ketika kami berkunjung.

“Pripun, Pak? Sampun dangan?”, demikian kami membuka pembicaraan, yang akhirnya mengantarkan pada berbagai topik.

Kunjungan kami berikutnya dilakukan pada hari Sabtu sore. Karena dijadwalkan berkunjung ke dusun sebelah, maka kami, menggunakan dua mobil berangkat pada Sabtu sore, sebelum Magrib. Tujuan kami sebuah masjid yang merupakan bagian dari sebuah pondok pesantren, yang dilengkapi kompleks madrasah aliyah. Sesampainya di masjid, kami berempat meninggalkan masjid, mewakili rombongan bekunjung ke rumah pengasuh pondok.

###

Rumah itu tampak megah. Bagian depan terpasang plakat identitas sebuah yayasan pendidikan berwarna hijau. Kami mengetok pintu, tak lama kemudian si empunya rumah membukakan pintu. Seorang laki-laki, usianya di atas 40 tahun, mengenakan kopiah, berbaju koko dan mengenakan sarung. Jenggot tipis menghiasi wajahnya yang teduh dan penuh senyuman. "Pak Kyai", demikian teman saya menyebutnya. Dengan penuh hormat, kami masuk dan duduk lesehan di ruang tamu yang tampak luas, bersih dan tertata. Beberapa komputer rapi terpasang pada tempatnya. Agaknya ruang tamu itu juga difungsikan sebaca ruang kerja atau kantor kecil.

Setelah basa-basi, kami pun terlibat pembicaraan, ditemani oleh buah duku, teh manis dan roti yang sudah dipotong-potong. Ketika minuman dihidangkan, teman di samping saya begitu sigapnya membantu Pak Kyai menata minuman, khas seorang santri yang begitu menghormati kyainya.

Fiqh rumah tangga menjadi topik pembicaraan sore itu. Topik ini dilatar belakangi oleh salah satu dari kami, yang bekerja di pembinaan pegawai daerah yang sering menghadapi permasalahan rumah tangga pegawai yang masuk ke meja kerjanya. Pak Kyai menjelaskan beberapa hal secara singkat, sekaligus nasihat pada kawan saya tersebut. "Mendamaikan dan membimbing mencari jalan keluar dari masalah rumah tangga, itu profesi terpuji", demikian kurang lebih salah satu komentar Pak Kyai. Sore itu, saya merasakan atmorfir ngaji dadakan dengan cara sowan pada kyai. Pembicaraan yang menarik itu, harus dihentikan oleh suara Adzan magrib. Kami bergegas ke masjid. Berkunjung dan ngaji langsung ke seorang Kyai, nyatanya akan menemukan berbagai hikmah dan ilmu.

###

Shof laki-laki dan perempuan telah terisi. Iqomah pun dikumandangkan. Pak Kyai yang tadi kami temui, sudah ada di antara kami, untuk menjadi imam sholat magrib. Suaranya yang merdu, mengalun mengiringi sholat kami di sore itu.

Selepas Magrib, kami dibagi 3. Dua orang di masjid untuk pengajian, sementara dua kelompok lain melakukan kunjungan ke rumah penduduk sekitar. Saya ikut kelompok yang berkunjung ke penduduk.

Pak Parman, seorang guru SD yang 3 tahun lagi pensiun menyambut kami. Senyumnya yang ramah selalu mengembang selama obrolan di sore itu. Kumis tipis, dan kulitnya yang hampir keriput menambah keramahannya. Di dinding tampak lukisan Bima/Werkudoro yang sedang berperang melawan seekor ular. Lukisan itu lukisan Pak Parman sendiri. “Bakat yang tak tersalurkan, Mas”, demikian ungkapnya. Sebagai seorang guru SD memang harus menguasai banyak hal: matematika, bahasa, IPA, IPS, hingga kesenian, termasuk menggambar.

Lukisan Bima tersebut menjadi titik pangkal pembicaraan kami. Lukisan Bima, lakon wayang Bima Suci yang merupakan lakon pertama yang dimainkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, sampai pada cerita nyantriknya Kanjeng Nabi Musa pada Nabi Khidir. Tentunya beberapa cerita di atas, dikaitkan dengan proses hidup kita saat ini. Belajar, terutama belajar agama tidak mengenal usia, karena kita tidak tahu, kapan kita akan meninggal.

###

Menjelang Isya’ kami pamit, kembali ke masjid. Di masjid tampak Pak Kyai sedang berdiskusi dengan jamaah. Kami bergabung, sampai kemudian adzan Isya berkumandang. Setelah sholat, beberapa menit pengajian, kamu pun pamit. “Adakah pesan untuk kami, Kyai?”, salah seorang dari kami bertanya. Saya tak begitu jelas dengan teks arabnya, namun dalam bahasa Indonesia, Pak Kyai menyampaikan bahwa “keikhlasan dan konsistensi pada kebaikan akan mengantarkan kita pada kesuksesan”.

###

Kami kembali ke penginapan. Di masjid tampak teman-teman sudah berkumpul. Di luar dugaan, kami dikunjungi oleh pengurus fakultas. Satu per satu, mewakili departemen, teman-teman menyampaikan testimoninya terkait kegiatan yang dilakukan, dan apa yang dirasakan selama hampir 3 hari itu.


###

Agar tidak menyesal ketika telah mati
“Agar tidak menyesal ketika telah mati”, merupakan kalimat kunci, atau ringkasan selama kegiatan 3 hari.  Meskipun kita semua belum merasakan mati, namun dengan melihat proses kehidupan manusia sejak sebelum lahir, maka ada pelajaran yang bisa dipetik. Apa yang penting untuk kehidupan bayi yang masih dalam alam kandungan, menjadi tidak penting ketika telah lahir di dunia. Demikian pula, apa yang dianggap penting ketika hidup di dunia, bisa menjadi tidak penting setelah meninggal. Maka menyeimbangkan apa yang saat ini penting, dengan apa yang nanti (setelah meninggal) dianggap penting, menjadi penting untuk diperhatikan.

Dunia yang dialami sejak di alam kandungan, dunia, dan setelah mati memiliki 3 perbedaan: luasnya berbeda, lamanya berbeda, serta kebutuhan pokoknya berbeda. Di alam kandungan kurang lebih hanya 9 bulan 10 hari, dengan luas alam yang paling sempit. Alam dunia setelah lahir lebih luas, juga lebih lama. Ada yang usianya belasan, puluhan atau bahkan ada yang di atas seratusan tahun. Alam setelah mati, akan lebih luas dan lebih lama lagi.

"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan. (Qs. Al Mu'minuun : 99-100)

Oleh karena itu, jangan sampai setelah meninggal, merasa kekurangan bekal (yang ketika hidup tidak dianggap penting), sehingga minta dihidupkan lagi ke dunia untuk mencari bekal tersebut. Tentunya itu sudah terlambat. Kita harus mampu membedakan beberapa kategori nikmat, sehingga bisa memilah dan mengusahakannya secara berimbang sebagai bekal kehidupan berikutnya.

Nikmat dunia, merupakan nikmat yang paling rendah derajatnya. Di atasnya ada nikmat sehat. Ketika tidak memiliki kesehatan (sakit), orang berani mengeluarkan sebanyak-banyaknya nikmat dunia (harta), agar kembali sehat. Seorang karyawan yang sakit, akan diberi ijin (dimaklumi) untuk tidak masuk kerja. Ini juga bukti bahwa nikmat sehat itu begitu berharga, dan kedudukannya di atas nikmat keduniaan.

Nikmat tertinggi adalah kenikmatan iman. Orang yang meletakkan nikmat iman di atas nikmat dunia dan kesehatan, dan mau berusaha agar keimanannya selalu meningkat, maka nikmat dunia dan kesehatan akan datang dan menentramkannya.

###

Benang merah di dunia kerja
Menyadari dan mengusahakan amal untuk bekal hidup setelah mati, bukan berarti meninggalkan proses usaha selama  hidup di dunia. Umur itu amanah, maka selama umur itu masih ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Memiliki pekerjaan, sebagai karyawan maupun pekerjaan lain, juga merupakan posisi “mumpung” yang harus dimanfaatkan. Mumpung kerja, maka kita harus memaknai kerja kita dengan pemaknaan luas. Pada proses kerja kita sehari-hari ada bagian yang rewardnya untuk dunia, misalnya: gaji, bonus, pangkat dan semacamnya. Namun kita juga harus memperluasnya agar juga memiliki reward sebagai tabungan di akherat. Reward untuk tabungan akherat ini lebih berat usahanya, karena dia akan berwujud pengorbanan dan keikhlasan: pengorbanan untuk ikhlas, pengorbanan yang ikhlas untuk berbagi ilmu, pengorbanan dan ikhlas untuk tunduk pada aturan yang berlaku, jujur dan lainnya.

Meningkatkan performa kerja berlandaskan keimanan, berarti memiliki kinerja yang tidak dibatasi oleh “ketakutan” pada pimpinan. Namun, karena kepatuhan pada pimpinan dan aturan sebagai bagian dari kewajiban yang diberlakukan pada dirinya sebagai makhluk, dilandasi pada proses menjalankan peran pribadinya sebagai manusia, di tengah dan bersama manusia lainnya.

Bersambung ke tulisan berikutnya: http://www.purwo.co/2018/02/rekreasi-yang-sesungguhnya-3-habis.html
Sambisari, Selasa Wage 13 Februari 2018
06.17 pagi

Monday, 12 February 2018

, ,

Akhirnya, sop daging itu meruntuhkan kekhawatiran kami (1)


Purwo.co - Kami harus merasa menjadi orang beruntung. Karena, pada dasarnya memang demikian, bukan hanya kami, namun semua orang dalam posisi beruntung. Kami berduapuluh enam, berangkat mengikuti program dari FT UGM bertajuk outbond spiritual. Dilihat dari daftar acara, kami akan dihadapkan pada sentuhan spiritual terkait pribadi kami: belajar agama, ibadah dan semacamnya.

Kegiatan ini bisa disebut baru. Selama saya bekerja, ya baru kali ini ikut kegiatan semacam ini. Biasanya tamasya, diselingi outbond di lokasi wisata. Namun kali ini berbeda. Setelah melalui perjalanan yang lumayan membuat deg-degan, naik turun bukit,  terkadang kendaraan yang kami tumpangi harus antri ketika menemukan tanjakan tajam atau merambat pelan karena harus melewati turunan tajam,  kami sampai di sebuah perkampungan. Perkampungan di lereng bukit, dengan hamparan lahan pertanian pada kemiringan 80 derajat. Sebagian siap panen, sebagian siap untuk ditanami sayuran.

Rumah-rumah di perkampungan ini saling berdekatan dan sebagian besar beratapkan seng. Hanya beberapa saja yang jaraknya cukup jauh dari rumah lainnya. Sedangkan jarak antar kampung cukup jauh, serta harus ditempuh melalui jalanan yang naik turun. Pemandangan yang hijau, perbukitan yang tampak berdiri gagah menjadi pemandangan begitu memesona. "Pemandangan inilah yang akan melengkapi kegiatan kami selama 3 hari", fikir saya. Air yang mengalir deras, bening dan terasa dingin menjadi pelengkap keindahan. Berharap, kami akan dapat waktu yang cukup untuk menelisik lebih jauh pemandangan indah ini.

Warga hilir mudik dari tegalan, berjalan atau menggunakan kendaraan bermotor. Kaki-kaki kokoh mereka menjadi bukti, bahwa mereka telah menjalani kegiatan itu sejak lama. Menyusuri jalan yang menurun, dengan sepatu boot yang mereka kenakan, menambah kesah kokohnya kaki-kaki mereka. Pupuk, hasil panen, atau rumput makanan ternak tampak mereka bawa. Senyum dan salam, selalu tersungging di wajah ketika kami berpapasan.  Hawa dingin sore itu cukup terasa, meskipun tidak begitu ekstrim. Berharap jaket yang saya bawa, bisa cukup menahan hawa dingin nanti malam.


###

Kami sampai di lokasi pukul 13.30. Beberapa orang dengan  ramah menyambut kami. Ada dua rumah yang disiapkan untuk kami, agaknya rumah penduduk yang dikosongkan sementara. Lokasinya berdampingan, di selatan masjid. Masjid ini sepertinya akan menjadi pusat kegiatan "spiritual" selama di lokasi.


"Yang ahli hisab di bawah, yang tidak hisab di atas ", suara itu cukup jelas terdengar. Sayapun kembali naik menuju rumah bagian atas, padahal sudah sampai di rumah yang ada di sisi bawah. Maklum, saya bukan "ahli hisab". Saya agak paranoid dengan asap rokok. Di kampung saya, kalau pulang ronda dan baju saya bau rokok, maka malam itu saya harus siap tidur sendirian.

Pembagian ini hanya untuk mempermudah saja, agar kepentingan "ahli hisab" dan yang bukan, tetap terakomodir. Kebijakan pembagian untuk menjaga toleransi: yang merokok menghormati perokok, yang tidak merokok juga mempersilakan yang merokok untuk merokok di tempat terpisah.

###


"Monggo istirahat dulu, nanti sholat tahiyatul masjid, kemudian kita makan bersama",  seru seorang panitia yang cukup saya kenal. "Siap, cocok Pak", begitu jawab teman-teman ketika mendengar informasi "makan"  dari panitia.  Seolah telinga dan perut kami sudah janjian untuk transfer informasi, jika ada kabar tentang waktu makan. Nasi gudeg yang kami makan ketika perjalanan, tampaknya tak lagi mampu mengganjal perut kami.

Kami menuju masjid, ambil air wudlu, kemudian sholat tahiyatul masjid, sesuai arahan panitia. Setelah itu kami bersiap makan bersama. Bau khas itu begitu terasa. "Kayake daging, Kang", bisik saya. Benar. Hidangan sop daging sapi, nasi putih, sambel, kecap, dan krupuk terhidang di ruangan masjid. Kamipun duduk berhadap-hadapan dan mulai makan bersama.  Ya, guyonan pun terkadang terlontar selama kami makan. Seorang kawan yang duduk di depan saya agaknya nambah beberapa kali. Sayapun demikian. Teman-teman yang ketika perjalanan sempat istirahat dan mampir di angkringan, agaknya juga sama, makan dengan lahapnya.

"Ini, siapa mau nambah sop?", panitia datang sambil membawa panci berisi sop. Kami pun menyambutnya. Makan sop di mangkuk yang telah habis sop-nya. Benar-benar kenikmatan yang luar biasa.

Selain di luar dugaan, sop daging sapi ini benar-benar kami nantikan. Di luar dugaan, karena kami tak menyangka, kami akan mendapatkan sop daging sebagai menu makan pertama di tempat ini. Sebagian dari kami mengira akan mendapatkan makanan yang seadanya, dan dalam jumlah yang terbatas. Sop daging yang kami santap sore itu, meruntuhkan kekhawatiran kami.

Berikutnya, selama tiga hari kami disuguhi menu yang tetap di luar dugaan. Jumat ketika sampai lokasi kami disiguhi sop daging sapi, malamnya tongseng. Sabtu pagi ada sajian bubur plus roti kemudian disambung sarapan nasi pecel, makan siang sayur lodeh lauk bandeng, tempe dan lempeng. Kemudian makan malam di hari Sabtu itu ditutup dengan nasi kebuli. Pada hari Minggu pagi, sebelum ke arena tubing kami sarapan lauk ikan bawal, sedangkan makan siang soto ayam kampung. Ketika pulang, kami diberi nasi box lauk daging. Oia, ada pesta duren pula di minggu siang sepulang dari tubing.

Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?  (Q.S. Ar-Rahman 55)

"Sekarang silakan istirahat, nanti kumpul ketika Ashar. Kegiatan kita mulai selepas Ashar", demikian seru panitia. Agaknya beliau memang menjadi penghubung antara kami, para peserta, dengan pemateri.

Kami pun istirahat.

####

Adzan pertanda masuk waktu Ashar berkumandang. Suara adzan yang tidak asing bagi kami. Ternyata, salah satu diantara rombongan kami lah yang menjadi muadzin. Suaranya memang sering terdengar di mushola kampus. Kami bergegas mengambil air wudlu, kemudian masuk masjid. Seperti disetel otomatis, melihat jamaah lain sholat dua rakaat, kamipun mengikuti.

Bersambung...

Tulisan terkait berikutnyahttp://www.purwo.co/2018/02/agar-tidak-menyesal-ketika-mati-dan.html

Sunday, 21 January 2018

Formasi pustakawan utama: pandangan Paijo dan Karyo

Jembangan, wadah banyu
Purwo.co -- Karyo, pustakawan ndeso yang kini mencoba menjaga jarak dengan berbagai isu perpustakaan itu, ternyata takdirnya harus tahu juga beberapa info terkini kepustakawanan. Sebenarnya, dia sudah mencoba memotong beberapa aliran informasi pada beberapa grup agar bisa konsentrasi. “Aku pengen ngedemke pikir”, suatu ketika Karyo ngomong sama Paijo. Agaknya Karyo ingin konsentrasi pada perpustakaan yang dia kelola, namun tidak dengan aliran informasi yang tanpa batas. Cukuplah disaring, sesuai dengan kebutuhan, yang datang sesuai waktunya. Dengan cara tersebut, Karyo berharap bisa konsentrasi pula pada peran pribadinya sebagai manusia.  Ngedemke pikir, demikian istilah yang disampaikan Karyo. “Ben ayem lan tentrem. Ngono, Jo”, Karyo menjelaskan.

Namun informasi itu akhirnya sampai pula pada telinga Karyo. Informasi  tentang formasi pustakawan utama, sebuah jenjang tertinggi karir pustakawan, yang kabarnya tidak ada (dihilangkan) di perpustakaan kementrian tempat Karyo bekerja. Selain informasi di forum obrolan tak resmi, informasi tersebut ada di website perpustakaan nasional. Pada web tersebut, Karyo membaca, bahwa peraturan menteri lah yang menjadi dasar resmi tidak adanya formasi pustakawan utama. Alasan mendasarnya tidak disebutkan, kecuali hasil evaluasi jabatan.

Karyo dan Paijo ngobrol tentang isu tersebut, malam-malam sambil menikmati gorengan dan kopi tubruk. Sama seperti biasanya, kadang serius, kadang guyonan. Bagi mereka, yang penting uneg-uneg bisa dikeluarkan. Los, plong.


Obrolan mereka, biasanya ingin mencoba mencari sudut pandang lain. Sudut pandang mlipir pinggir, dengan tanpa memaksakan kehendak pada keadaan. Tujuannya sederhana: urun pikir, namun tidak ingin terbawa arus, siap pada perubahan keadaan, dengan harapan tetap tenang, ayem dan tentrem. Tentunya, mereka tetap menghormati pandangan lainnya.

Ujian solidaritas pustakawan
“Ini tentang solidaritas juga, Jo”, Karyo berkata. “Ketiadaan ini, justru menjadi ruang pembuktian, sejauh mana solidaritas para pustakawan”, lanjut Karyo. Meskipun tidak adanya jenjang pustakawan utama tersebut hanya di kementrian tertentu, namun seharusnya yang bersikap itu semua pustakawan dari semua kementrian. Karena hal ini akan menunjukkan solidaritas mereka. Kalau di kementrian lain adem ayem saja, dan terkesan menganggap “itu urusan dapur samping, dapur saya mah aman saja”, maka ini sudah mengindikasikan ketidaksolidan pustakawan. Karyo menjelaskan panjang lebar terkait aspek solidaritas ini pada Paijo.

Selain itu, juga solidaritas antar berbagai tingkatan pustakawan. Apakah para pustakawan yang masih jauh dari tingkatan pustakawan utama juga peduli, atau mereka tidak begitu terpengaruh pada isu tersebut?. Karena akan terasa aneh, jika pustakawan yang masih jauh dari strata pustakawan utama ini tidak bersuara. "Bukankah jenjang pustakawan utama itu jenjang tertinggi, cita-cita para pustakawan, seperti halnya guru besar bagi para dosen? Jangan-jangan mereka tidak tertarik", sambung Karyo.

Tak kalah penting pula, ini ujian solidaritas antar organisasi profesi pustakawan, baik perguruan tinggi, maupun yang lainnya. Paijo mengangguk, tanda dia memahami apa yang disampaiakan Karyo.

Nah, sekarang kita lihat, apa sikap resmi mereka?

Pindah kementrian
“Kabarnya, jika ingin menjadi pustakawan utama, bisa pindah ke kementrian lain”, Paijo menyela penjelasan panjang lebar Karyo. Karyo pun menimpali, bahwa jika di kementrian lain masih dimungkinkan ada pustakawan utama, maka sebenarnya solusinya memang mudah. Ya, tinggal pindah saja ke kementrian samping. Hal ini juga akan menunjukkan betapa rendah hatinya para pustakawan yang telah mencapai pustakawan utama tersebut.  Meskipun, pindah kementrian pastinya perlu proses, perlu waktu, perlu kemauan dan aturan yang memudahkan agar para pustakawan utama ini tidak terkatung-katung, dan segera bisa menjalankan perannya sebagai pustakawan utama.

Sebagai seorang pustakawan paripurna, mereka elastis, pinter mekrok, mungker mengkeret, menyesuaikan diri di manapun berada. Bahkan jika untuk menyandang predikat puncak pustakawan itu, dia harus pindah ke kementrian lain. Pada kementrian baru ini, justru dia akan punya peran lebih banyak, lebih berbobot, lebih menantang. Dia bisa membina pustakawan-pustakawan di lingkungan barunya, untuk bisa lebih maju, minimal seperti pustakawan di kementrian yang ditinggalkannya.

Paijo: “Bukankah dengan demikian, maka sebaran pustakawan berkualitas akan lebih merata, ya?”
Karyo: “ya sepertinya demikian, Jo”.

Kesimpulan kementrian yang meniadakan pustakawan utama, pasti ada dasarnya. “Jo, apakah perpustakaan perguruan tinggi tanpa pustakawan utama bisa maju?”, demikian Karyo bertanya ke Paijo. Meski wajahnya ndeso, Paijo ternyata rajin berjalan-jalan di dunia maya, di internet. Banyak perpustakaan yang Paijo “kunjungi”, dan ternyata banyak yang bagus, padahal tak ada pustakawan utama-nya. Malah, pustakawannya masih muda-muda. “Bisa saja, Kang!”, Paijo menjawab.

Filosofi kutang dan isinya
"Menganalisis jabatan pustakawan utama, bisa dianalogikan seperti kutang dan isinya", Karyo melanjutkan. "Lho, lho..... jangan sembarangan, Kang!!. Kok tidak sopan dan menyepelekan begitu sampeyan. Kalau didengar kaum ibu-ibu, bisa jadi masalah, Kang!", Paijo menjawab dengan intonasi agak naik.

"Ini pengibaratan tingkat tinggi, Jo. Ora saru, dan bukan sembarangan, serta justru menempatkan pustakawan utama pada posisi terhormat. Kutang itu penyangga, penutup. Kemudian isinya merupakan sarana saluran asupan pertama makanan bagi pertumbuhan bayi. Ini klop filosofinya, ditambah lagi keduanya melekat pada seorang Ibu,  guru pertama bagi anaknya, yang mendidik anaknya dengan kasih sayang",  Karyo menjelaskan secara hati-hati agar Paijo memahaminya.  "Jadi semacam trilogi 'kutang-isinya-sosok Ibu'. O, kalau begitu fungsi kutang menjadi sangat terhormat yo, Kang?", Paijo menyahut penjelasan Karyo dengan intonasi yang sudah menurun. "Iya, benar. Namun ingat, isi kutang akan berfungsi bagi bayi, ketika tidak dibungkus. Ini ada filosofinya juga, Jo", demikian tambah Karyo.


Relasi pustakawan dan pemustaka, ibarat relasi ibu dan anaknya. Pustakawan menjadi ibu, salah satu yang membimbing bagi orang yang haus dan perlu asupan ilmu.

### 

Status "pustakawan utama" itu bungkus, maaf, ibarat kutangnya. Peran si pustakawan itulah yang menjadi isi kutangnya. Ya, bungkus memang perlu, penting, kudu dijaga agar isinya tetap bisa menjalankan perannya dengan baik, sebagai sarana pertumbuhan seorang bayi. Kutang menjalankan peran yang signifikan. Namun, jika tak diberi bungkus, jangan kemudian langsung menyimpulkan bahwa pemilik isi kutang itu pelit. Mungkin karena dia akan menyusui, karena fungsinya akan lebih leluasa bagi pertumbuhan bayi yang menyusu, justru ketika tanpa bungkus. Peran manusia akan lebih sempurna dan memiliki tingkat keikhlasan tinggi, ketika atribut-atribut keduniawian itu dilepaskan, disingkirkan lebih dahulu.
Sama dengan pustakawan utama, dia (tetap) bisa menjalankan substansi "utamanya", (meski) tanpa bungkus pustakawan utama. 

###
Paijo: "Oo, jadi untuk memahami filosofi kutang dan isinya dikaitkan dengan pustakawan utama, memang perlu sudut pandang yang berbeda dari  biasanya difikirkan orang, ya".
Karyo: "iya, Jo. Bukankah segala sesuatu itu adalah sebuah pelajaran bagi kita, asal mau menelaahnya?"

###

Obrolan malam itu terasa nikmat. Paijo dan Karyo memang berusaha mencari sudut pandang lain dari masalah jenjang pustakawan utama di kementriannya. Sudut pandang yang mencerahkan, menenangkan, sudut pandang yang dapat menjadikan mereka siap atas berbagai konsekuensi masa depan pekerjaan mereka sebagai pustakawan. Mungkin sisi pandang mereka berbeda dengan yang lainnya, mereka menghormati semua cara pandang. Namun, Paijo dan Karyo merasa perlu cara pandang seperti yang baru saja didiskusikan agar bathin mereka tenang.

Apakah Paijo dan Karyo tidak ingin berjuang untuk martabat profesinya?. Paijo dan Karyo memang aneh, mungkin dia juga berjuang, namun dengan caranya sendiri, sesuai dengan pemaknaan "martabat profesi" yang dipahaminya. Itu hak dia, sebagaimana dia menghormati hak atau pandangan orang lain.

“Yang pasti, kita doakan saja, semoga segera ada solusi terbaik untuk semuanya. Yang sedang berjuang, segera didekatkan dengan hasil perjuangannya. Namun, kita yang masih muda-muda ini, kudu siap dengan berbagai perubahan, owah gingsiring kebijakan yang digariskan para pangemban pangembating projo”, Karyo menutup pembicaraan. “Iyo, Kang. Tak melu kowe wae. Saiki piye carane amrih ayem tentrem urip lan pikire”, Paijo menjawab dilanjutkan dengan menyeruput kopi tubruk di hadapannya.


Sambisari, 21 Januari 2018
06.46 pagi

note: perpaduan analogi "kutang dan isinya" sudah ada sebelumnya di dunia maya. Namun, saya telusuri, kesimpulan saya, penulis yang tertulis di tulisan tersebut bukan penulisnya. Oleh karena itu, nama penulis tidak saya sebutkan dalam note ini.

Thursday, 11 January 2018

Konferensi ala wong ndeso

Persiapan ewuh
Purwo.co -- Ini cerita tentang sebuah konferensi, konferensi ndeso. Yang kami bahas memang bukan topik wah khas para intelektual di IFLA, CONSAL atau semacamnya. Tapi Ini juga konferensi.

Call for paper kami sederhana. Cukup dari gethok tular, atau lewat kumpulan ronda kampung, atau ketika ketemu pas pulang dari tegalan. "Kang, sesok sore kumpulan nang nggone Kang Noyo". Peserta pun datang.

Menjangkaunya pun, tak perlu pesawat, atau proposal sponsor. Jalan kaki pun cukup, bahkan tanpa alas kaki kami dapat menjangkaunya, dan itu sah. Dekat, hanya di rumah Kang Noyo yang jaraknya cukup dekat.  Ya, di rumah Kang Noyo, bukan di hotel. Hanya di depan rumah, di pelataran, tak ada kursi empuk, sekedar tanah, atau konblok. Kami ngebrok.

Yang menemani, memang bukan menu mewah ala hotel, bukan. Jauh dari itu. Hanya kacang goreng, telo bakar, kalau beruntung bisa dapat perpaduan jadah-tempe ndeso, ditemani teh panas yang airnya dimasak menggunakan perapian kayu atau bathok kelapa.

Yang kami bicarakan tanah garapan, jagung atau padi yang sedang mrekatak. Atau tentang Kang Suto yang akan punya gawe mantu anak perempuannya. Atau, tentang sungai samping rumah yang mulai mengalir. Kami bahas bagaimana cara terbaik memanen jagung dan padi, bagaimana cara membantu bot repote Kang Suto, atau bagaimana teknik mengelola sungai untuk pengairan. Tema besarnya tentang kebersamaan, tentang paseduluran, tentang hidup ayem dan tentrem.

Ini juga konferensi, lho. Bersama sedulur kampung.

Teh, pacitane jagung goreng walang goreng
Jangan salah, konferensi kami juga menghadirkan profesor. Profesor pertanian, profesor paguyuban, mantenan. Profesor kami memang bukan dari perguruan tinggi, dengan dandanan parlente, membawa laptop dan bicara dengan diksi ilmiah. Profesor kami merupakan profesor lulusan universitas kehidupan, yang dididik di hutan, di sungai, di tegalan, di kehidupan masyarakat. Pilihan kata yang digunakan juga bahasa sehari-hari. Yang dibawa juga bukan laptop, namun sepaket udud lintingan lengkap dengan klembak menyan.
profesor tata kelola air, profesor

Hasil konferensinya tak dimuat di prosiding ber-ISBN, terindeks Scopus, atau jurnal internasional, tapi dimuat dalam memori kami masing-masing. Tak ada presenter terbaik pada konferensi kami, karena semua presenter terbaik.

Konferensi kami menyenangkan. Ayem, tentrem.


Wednesday, 3 January 2018

, ,

Digilib Cafe Fisipol UGM: cafe, co-working space, perpustakaan

Karyo, pustakawan berusia 30-an tahun itu hendak mencoba minum di cafe. Kabarnya, ada cafe baru di seputar tempat dia bekerja. DIGILIB Cafe, karena ada "lib"-nya (lib, library), maka naluri kepustakawanan Karyo terusik. Setelah memastikan ada uang di dompet, serta masih ada saldo di e-money, dia ajak temannya, menuju cafe yang dimaksud. Niatnya ngopi + studi banding.
### 

Caffe Latte, yang juga dipesan Jokowi
Purwo.co -- Awal tahun ini, atas nama Ketua Forum Pustakawan UGM saya pernah diminta datang ke Fisipol untuk mendengarkan presentasi terkait pengembangan perpustakaan FISIPOL UGM. Menarik. Semua digital. 

Beberapa waktu kemudian, ketika saya bersepeda dari FT ke Perpustakaan Pusat, lewat sebelah barat FISIPOL saya melihat ada plakat nama DIGILIB-CAFE pada gedung FISIPOL yang hendak dijadikan perpustakaan. "Lah, sekarang ada cafenya?", saya setengah kaget. Beberapa hari kemudian, ketika acara puncak Dies UGM, setelah memberikan kuliah umum di Ghra Sabha Pramana, Presiden Jokowi mampir di Digilib Cafe ini.

Saya berfikir, konsep pidato kuliah umum Presiden memang agak nyrempet dengan konsep Digilib Cafe-nya Fisipol UGM. Benar saja, ketika saya, Mas Bagus dan Kang Arizal (barrista dan juga mahasiswa pasca Geologi UGM) datang ke Cafe ini, disuguhi dengan video kedatangan Presiden bersama menteri, rektor, gubernur dan pejabat lainnya. Ngopi bareng, kurang lebih demikian. Eh, sebenarnya kami hendak berempat dengan Pak Alfa, mahasiswa S3 FT UGM, namun batal.

Kami berkunjung untuk studi banding, serta mencoba merasakan langsung ketemu barista, ngobrol kemudian merasakan sensasi memesan kopi dan makanan, menikmati sambil ngobrol di dalamnya. “Apa benar ketika ngopi, khususnya di café bisa meningkatkan kreatifitas, memunculkan ide-ide segar dan orisinil?”. Itu yang ingin saya buktikan.

### 

di depan racikan kopi
Sebenarnya, cafe di perpustakaan sudah ada di beberapa tempat. Kafe yang cukup populer di kalangan pustakawan yaitu Kafe Pustaka di Universitas Negeri Malang. Kafe ini memiliki jargon "Kate nengdi, Bro? Ngopi kene lho, iso pinter: Sembari Ngopi Membangun Literasi". Ngopi, konon kependekan dari "ngobrol - pinter", begitu yang saya pernah dengar langsung dari Kepala Perpustakaan UM, Prof. Djoko Saryono. Ngobrol, diskusi, seminar juga bagian dari pustaka, bedanya dengan buku hanya pada wadahnya saja. Kalau buku, wadahnya kertas-kertas, kalau seminar maka wadah ilmunya ya kepala-kepala itu. "Diskusi dan seminar adalah bentuk dari pustaka juga", ini juga ungkapan dari Prof. Djoko. 

Ada beberapa acara di kafe ini; kudap buku, konser mini, baca puisi dan lainnya terkait dengan literasi. 

###

Digilib cafe di FISIPOL UGM, sejauh yang saya tahu merupakan cafe terbaru di perpustakaan, menyusul cafe lain yang sudah ada di perpustakaan. Pada gedung yang ditempati, cafe berada di lantai 2, lantai 1 untuk bank. Informasi yang saya peroleh, lantai 3 nantinya diproyeksikan untuk co-working space, dan lantai paling atas untuk perpustakaan. Saat kami datang, baru lantai 1 dan 2 saja yang difungsikan. 


melihat dan menunggu kopi diracik
Memasuki gedung tempat cafe ini berada, kami disuguhi dengan baliho besar yang memperlihatkan konsep besar dari co-working space yang dibangun FISIPOL. Kemudian pada pintu masuk terdapat tempat selfie dengan gambar yang kekinian. Sebelum masuk menuju lantai 2, terdapat mesin ATM yang siap memberi sangu sebelum ngopi. Ya, untuk jaga-jaga, siapa tahu ada yang lupa bawa uang, atau lupa ngetap e-money-nya. Kan malu pas mau bayar kok ndak bawa uang.. Eit, jangah salah, ding. Bisa bayar secara cashless, kok. Tinggal gesek.

### 

Sampai dilantai 2, barista sudah siap menunggu, menyapa dengan ramah. Saya ketemu dua orang, satu mahasiswa satunya lagi bukan. Dengan sok nggaya dan sok akrab, saya terus terang bahwa saya tak tahu menahu tentang kopi, "apa yang direkomendasikan, mas?". Pertanyaan to the point untuk menutupi keawaman saya pada dunia kopi. Akhirnya beberapa gambar menu kopi diperlihatkan kepada saya. Menu tersebut ada di tablet SAMS***, tinggal geser kiri kanan saja. Bukan hanya kopi, namun juga ada nasi goreng, mi, roti dan lainnya.

ngopi ala orang kaia
"Ini kopi yang kemarin dipesan Pak Jokowi, Mas. Kalau ini pakai susu, ini agak pahit....". Dengan PD saya pesan, "Saya pesan yang sama dengan pesanan Pak Jokowi, ya". Ini sesungguhnya strategi saya saja, sekali lagi agar tidak begitu ketahuan kebodohan saya tentang perkopian. Saya pesan coffe latte, dan mi goreng. Mas Bagus, teman saya pesan single origin. Sebenarnya saya ngrasani, "kok namanya pakai bahasa asing, ya?. Mbok namanya itu pakai bahasa jawa. Kopi ireng, kopi aseli, kopi jahe, atau apalah". 

### 

Latte yang saya pesan disajikan dalam cangkir, ada buihnya (foam), kemudian tercetak hiasan daun di atasnya. Istilah yang tepat saya tidak tahu, pokoknya kayak gitu. Sementara Single Origin disajikan dengan 3 gelas: cangkir untuk hasil seduhan kopi, cangkir kopi untuk minum, serta air putih untuk menetralkan, ketiganya diletakkan di atas beki dari kayu. Air kopi ini defaultnya pahit, dan disediakan gula yang bisa ditambahkan sendiri.

Sementara, Kang Arizal yang datang lebih dulu memesan kopi sama roti. Nama menunya saya tidak tahu. Dia juga menyiapkan beberapa bijih kopi yang belum dihaluskan, yang kadang langsung digigit alias dikletak (jawa) begitu saja. Pahit, mungkin. Tapi kayake enak. "Saya sudah terbiasa menikmati kopi tanpa gula", katanya. Kang Rizal ini pernah beberapa tahun di Brazil, bekerja. Sehingga tahu banyak tentang kopi.  "Brazil merupakan negara penghasil kopi", demikian katanya. 

##

Ketika kami masuk, hanya ada 2 meja dipakai. Cafe ini sepi karena mahasiswa belum kuliah aktif. Beberapa dosen, kemudian ada yang datang, memilih menu, kemudian mencari kursi sendiri. Saya sempat ketemu dengan salah satu dosen FISIPOL yang pernah ngajar saja ketika kuliah, namanya Bu Hermin. Teman-teman yang sering mendengarkan RRI (Radio Republik Indonesia), pasti pernah mendengarkan suara beliau membawakan tema analisis terkait komunikasi. Beliau dosen Ilmu Komunikasi. Setelah saling menyapa dan berbasa-basi, kamipun melanjutkan agenda masing-masing.

###

tablet, menampilkan menu untuk dipesan
Harga makanan dan minuman di cafe ini, menurut Kang Rizal yang juga seorang barista, relatif murah dan terjangkau. Namun jika dibandingkan dengan ngopi di angkringan, ya jelas murah di angkringan. Karena saya memang penasaran, ya tetap saya bayar. Latte yang saya minum dihargai Rp.18.000, sementara single origin dihargai Rp.13.500. Untuk mie goreng di harga Rp.18.500 ribu per porsi.

Suasananya cafe ini nyaman. Ada kelompok meja dengan 2 kursi atau 4 kursi yang terbuat dari kayu, kursi sofa simple yang cukup nyaman untuk duduk. Ada pula ruang tertutup dengan sekinar 10 kursi mengitari meja + papan tulis.  Ruang ini bisa untuk rapat/diskusi dalam jumlah 10-an orang. Lantai 1, 2,3,4 dihubungkan oleh tangga tangga di sisi sebelah pojok tenggara. Langit-langit tiap lantai merupakan cor beton, sehingga aktivitas antar lantai tidak akan saling mengganggu. Fungsi ruang pada tiap lantai akan terjaga.

Pada bagian tengah ada panggung kecil, dengan desain agak tinggi dari lantai lainnya + latar belakang bertuliskan DIGILIB-CAFE lengkap dengan logo cangkir

di pintu masuk
Kami ngobrol ngalor ngidul. Kang Rizal banyak bercerita tentang perkopian di Jogja, pengalamanannya menjadi barista, pergeseran cara belajar mahasiswa jaman sekarang, dan pemanfaatan kopi + cafe untuk kumpul dan bertukar ide. "Mahasiswa sekarang perlu tempat yang bisa bebas ngobrol. Cafe + kopi menjadi paduan yang pas saat ini. Trend perkopian konsisten naik di Jogja", demikian Kang Rizal bercerita. 

Tak ketinggalan, Kang Rizal juga mengajari kami cara minum kopi. Jian, tak kira tinggal minum saja. Ternyata, misalnya pesanan Single Origin yang karena cara minumnya berbeda, maka harus menggunakan 3 gelas dengan fungsi masing-masing. Latte pesanan saya, karena tak mau repot, gula langsung saya tuang, saya aduk, lalu minum. Ora nganggo repot

Memang benar, ketika ngopi, rasanya plong“Mak pyar”, seperti komentar konco ronda setelah nyeruput kopi yang dibawa Kang Gimin, teman ronda juga. “Mak pyar”, juga saya rasakan setelah menyeruput kopi latte yang baru saja saya pesan, apalagi ketika masih panas. Harganya yang mencapai lebih dari harga makan malam + minum berdua di angkringan Kang Bayat, yang sempat membuat saya kaget, sudah terlupakan bersamaan dengan sruputan pertama. Pokoknya majas, sakti sekali kopi ala café ini untuk menghilangkan beban hidup, apalagi beban utangan. Ilang babar blas.


poster besar di depan pintu masuk


ruang pertama setelah pintu


tangga

 
panggung dalam cafe


"It's more than cafe. It's a coworking space for creativity", demikian jargon yang tertempel di beberapa sudut cafe ini. Ada juga "turn on your ideas". Konsep cafe ini, perpaduan cafe, co-working space dan perpustakaan untuk mendorong munculnya ide-ide dari siapapun, serta tempat berkumpulnya orang-orang yang membawa ide tersebut sehingga dimungkinkan adanya kolaborasi positif antar mereka. Mau mendiskusikan ide secara santai, ke cafe. Mau mengerjakan ide tersebut bersama-sama, bisa ke co-working space. Dan jika perlu referensi dari ide yang hendak dieksekusi, tersedia perpustakaan.

Begitulah cafe jaman now, perpustakaan jaman sekarang, cara belajar mahasiswa jaman sekarang, trend perpusakaan jaman sekarang. Semua perlu biaya, baik membuatnya, maupun membeli kopinya. Sediakan uang yang lebih dari yang biasanya digunakan untuk membeli kopi instant, jika anda ingin menikmati kopi dan suasana cafenya. 


###

Karyo membuka dompet, menyodorkan kartu e-money untuk membayar. Di nota tertera Rp.31.500 untuk dua kopi yang gelasnya lebih kecil dari gelas yang biasa dia pakai ngopi di rumah. Diapun ingat lagi ketika sore-sore mampir angkringan Kang Bayat. Cukup Rp.18.000-an sudah bisa makan nasi piring dengan lauk sate dan beberapa gorengan  + minum jeruk anget, itupun berdua dengan istrinya. Karyo terbayang wajah istrinya. "Maafkan aku, istriku", Karyo membisik. Nota itu buru-buru dimasukkan ke kantong tersembunyi, agar istrinya tidak tahu, bahwa dia baru saja menghabiskan jatah ngangkring 2 x, untuk sekali ngopi. Namun, sejurus kemudian Karyo ingat, bahwa niatnya studi banding. "Ah, nanti saya beralasan ini biaya studi banding saja. Aman.."

Karyo merenung, apa iya untuk mengeluarkan ide kreatif harus mengeluarkan uang lebih besar dari biaya ngangkring malam malam, berdua dengan istri di angkringan Kang Bayat dekat rumah?. Rp.18.000-an sudah dapat nasi piring lauk pecel dua porsi, jeruk atau teh anget, lawuh sate plus beberapa gorengan. "Ah, kayake saya milih mencari ide kreatif dengan cara tradisionil saja, 
nang angkringan, atau sambil nyambel bawang, sambel kepik, atau lawuh putul goreng. Wedange degan yang metik dari depan rumah. Hora level yen nongkrong di cafe. Hora popo yen ora disebut kekinian". Karyo milih mikir kepenak, ayem luwih penting bagi Karyo.



Sekip, 3 Januari 2018
15.56

Info lainnya tentang cafe di perpustakaan:
  1. http://fisipol.ugm.ac.id/news/kunjungi-digilib-cafe-jokowi-akhirnya-ketemu-creative-hub-di-fisipol/id/
  2. http://surabaya.tribunnews.com/2017/05/31/asyiknya-ngopi-literasi-ala-kafe-pustaka
  3. http://www.unsyiah.ac.id/berita/perpustakaan-unsyiah-sediakan-warkop