Monday, 8 July 2019

Hari pustakawan: sebuah ilusi



laman web perpusnas

Selamat hari pustakawan!!!

Demikian teriak seorang kawan. Teriakan yang keras, dan menyimpan kebanggaan.

Sejak lama, predikat "HARI" memang punya daya magis, sakral, dan sangat memikat. Mulai dari hari berdirinya negara, pernikahan, hari lahir, atau bahkan hari jadian, ditolak atau putus dari pacar. Hari itu diingat, meski mungkin ada kenangannya yang berusaha dilupakan.

#eaaa

Sebenarnya, ada yang salah kaprah. Tepatnya bukan hari, tapi tanggal. Hari Kesaktian Pancasila itu bukan hari Senin, Selasa, Rabu, atau lainnya. Namun wujudnya tanggal: 1 Oktober. Hari dan pasarannya bisa berganti: wage, kliwon, pahing, pon, atau legi. 

Dan, jika pustakawan punya "HARI" khusus, pastilah juga demikian. Bangga, dan bisa mendukung eksistensi diri dan profesinya.

Namun, benarkah ada hari (tanggal) pustakawan?

Sebagai pustakawan, saya termasuk tidak literate dengan hari-hari besar bidang perpustakaan. Mulai dari hari pustakawan, hari kunjung perpustakaan, hari buku, dan semacamnya. 

Saat ini, saat menulis ini, saya tidak hafal (meski pernah mendengar) tanggal hari buku dan hari kunjung perpustakaan.

Lebih akrab dengan menghitung hari menjelang gajian, atau hari libur. Apalagi libur panjang. Saya bisa hafal kapan mulai, dan kapan berakhirnya. Lebih hafal dari hari lahir istri saya. 

Tenin...

**** 

Kembali ke hari pustakawan.

Beberapa waktu lalu, di sebuah grup ada yang menulis: Hari Pustakawan 7 Juli. Rasa penasaran muncul. Tepatnya juga pertanyaan. Memang ada ya, hari pustakawan?

Nggaya temen.

Hijrana menulis tentang hari pustakawan. Dia mengawali tulisannya dengan protes pada pandangan publik yang menganggap bahwa pustakawan itu penjaga buku. Dia anggap itu tidak tepat.  Dia menulis, "Jika ada yang berfikir bahwa pustakawan hanyalah seorang penjaga buku, maka pemikiran itu tidaklah tepat karena perpustakaan merupakan pusat peradaban dan perubahan"

Pengandaian Hijrana tentang pustakawan, namun ketidaksetujuannya dengan pandangan tentang pustakawan itu, didasarkan dengan alasan tentang perpustakaan.  Saya tak mampu mencerna dengan sempurna, apa maksudnya.

Kalau perpustakaan memang sebuah pusat peradaban dan perubahan, apakah itu menegasikan anggapan pustakawan itu penjaga buku?

Silakan cek tulisannya di http://perpustakaan.uin-alauddin.ac.id/hari-pustakawan-indonesia/.

Oke, saya tak ingin berpanjang lebar tentang hal di atas. Saya tertarik pada angka 6 Juli, yang disebut Hijrana dengan Hari Pustakawan. Ini dikuatkannya dengan pemilihan judul REFLEKSI HARI PUSTAKAWAN 6 JULI. 

Sementara, pustakawan lainnya, Ahmad Syawqi menulis ikhwal hari (lahir) pustakawan pula. Kemuliaan Menjadi Pustakawan, demikian judulnya. Di dalamnya ada keterangan "refleksi hari lahir pustakawan Indonesia". 

Syawqi mengawali tulisannya dengan tegas menyebut betapa bersejarahnya tanggal 7 Juli.
Namun, berbeda dengan Hijrina, di blog https://www.pustakawan.web.id/,  Syawqi tidak tegas menyebut hari Pustakawan, namun Syawqi cenderung memilih 7 Juli sebagai hari lahir pustakawan Indonesia. 

Informasi lainnya, misalnya https://www.facebook.com/perpus.kaltim/posts/, mengawali tulisannya dengan "6 Juli, Hari Pustakawan Indonesia.". Sementara  dan https://www.instagram.com/, menuliskan 7 Juli. Artinya, ada bermacam kesimpulan tentang Hari Pustakawan ini.

Jika memang sudah mapan, mestinya tidak ada perbedaan, meski hanya selisih tanggal. :)


****

Uniknya,  pada laman web hari-hari penting yang ada di web Perpusnas (https://www.perpusnas.go.id/), tidak tercantum tanggal 6 atau 7 Juli sebagai hari Pustakawan. Setelah 5 Juli, langsung mlumpat ke 9 Juli.

****

Jika pada hari Guru atau hari yang paling baru, Hari Santri, ada upacara memperingatinya; apa yang dilakukan pustakawan pada hari pustakawan?

Upacara juga? 

Seberapa penting hari pustakawan? Atau hari pustakawan 6/7 Juli itu hanya sebatas igauan, imajiner, ilusi, khayalan, atau angan-angan yang didorong oleh keinginan luhur, agar profesinya sama dengan Guru yang memiliki Hari Guru?

Mereka lupa, bahwa guru itu punya seragam. Sedangkan pustakawan tidak. Guru itu punya IKIP, sedangkan pustakawan tidak. 

Ada atau tidaknya hari pustakawan, pustakawan itu tetap bisa dilakukan oleh siapa saja. Kita semua adalah pustakawan. Setiap hari lahir kita, adalah hari pustakawan. Setiap hari, adalah hari pustakawan.


Selamat hari pustakawan, sepanjang masa...!!!

Saturday, 6 July 2019

Kumpulan belajar Latex di Sadasa Academy


Sabtu, 6 Juli 2019. Di Sadasa Academi, saya coba mengikuti pelatihan Latex. Meski beberapa kali saya pernah menulis menggunakan Latex, namun tentu ada banyak hal yang saya belum tahu, dan paham.

Untuk belajar lagi itulah, saya ikut,

Benar saja, saya refresh lagi tentang beberapa perintah latex. Dua tipe bibliografi (embedded dan bib: bibtex, natbib, biblatex), manipulasi font, warna, multiple image, multiple formula, serta paket lipsum yang memudahkan dalam membuat dummy.

Berikut beberapa tautan penting selama pelatihan dan yang saya temukan sebelumnya.

  1. http://merkel.texture.rocks/Latex/natbib.php, berisi perintah menulis cite dalam berbagai style natbib
  2. http://hostmath.com/, alternatif latex4technic untuk membuat rumus
  3. http://detexify.kirelabs.org/, membuat rumus dengan menuliskannya
  4. https://www.tablesgenerator.com, membuat tabel untuk latex. Alternatif latable
  5. http://www.texample.net/tikz/examples/, membuat taxonomy atau flowchart
  6. https://www.overleaf.com/learn/latex/LaTeX_Graphics_using_TikZ:_A_Tutorial_for_Beginners_(Part_1)%E2%80%94Basic_Drawing
  7. https://www.overleaf.com/learn/latex/Inserting_Images#Positioning
  8. https://tex.stackexchange.com/questions/115690/urls-in-bibliography-latex-not-breaking-line-as-expected

Saturday, 29 June 2019

Paketan lebaran: untuk Kang Yogi

Pembaca mungkin akan berkerut dahinya. Siapa itu Kang Yogi?

Yogi, lengkapnya Yogi Hartono, merupakan senior saya di dunia kepustakawanan. Senior, sekaligus panutan. Saya belum pernah bertemu langsung. Namun sebuah kepastian yang tak dapat dipungkiri, bahwa Kang Yogi ini benar-benar layak diidolakan.

Tak hanya teori, dia sudah memraktikkan dan sanggup bertahan di tengah perubahan dunia perpustakaan. Tidak tanggung, dia berkiprah di perusahaan besar, dengan tanggungjawab besar. Dan yang perlu anda tahu, pernah dianugerahi penghargaan besar atas semua peran besarnya.

Kang Yogi alumni ilmu perpustakaan. Beda kampus dengan saya. Cara masuknya pun beda. Saya kelas sore, dia kelas pagi. Namun, apakah perannya sekarang ini 100% karena ilmu perpustakaannya?  Atau mungkin ditopang atau didominasi oleh pelatihan atau pendidikan lainnya? Saya kurang tahu pasti.

Yang pasti, pandangan dan sepak terjangnya begitu inspiratif. Menjadi icon dan figur ideal bagi mahasiswa ilmu perpustakaan, juga pustakawan. Saya pun mengidolakannya. Begitu tinggi hasrat saya bertemu, atau main ke kantornya untuk belajar. Namun, ternyata takdir itu belumlah dekat.

Walau bukan Doktor atau Profesor, sudah banyak kampus mengundangnya untuk memberi semangat pada mahasiswa baru, maupun mahasiswa lama. Forum pustakawan pun banyak yang minta jadwal kosongnya. Sama. Ingin mendapatkan informasi tentang ide-ide segar, juga apa yang sudah dilakukannya.

Dia membuat, atau menggiring orang mencipta aliran baru Yogiisme. Tentunya melengkapi Shera Mania, atau Floridi Lovers.

****

Pada suatu waktu Kang Yogi menulis. Tulisannya itu menanggapi tulisan saya. Membaca nama saya pada awal tulisan, saya deg-deg-an. Mak sir.... rasa penasaran, senang, gembira sekaligus ketar-ketir.

Di laman FBnya, tulisan tersebut berjudul [ PERKENALKAN SAYA SEORANG PUSTAKAWAN ], diposting tanggal 28 Juni 2019. Tulisan yang sama diposting pada tanggal yang sama di blognya: https://sisilainpustakawan.wordpress.com/.

"Tulisan ini merupakan tanggapan dari artikel pustakawan UGM, Purwoko, bahwa tak ada yang baru di bidang perpustakaan", demikian kang Yogi memulai tulisannya dengan menyebut nama saya. Paragrap penutupnya juga menggunakan nama. Tentu tidak lagi nama saya. Melainkan nama Ellya Khadam dan Via Valent, untuk memperkuat argumentasi.

Pertama saya berfikir, tulisan saya yang mana yang hendak ditanggapinya?.

Ada beberapa tulisan di blog saya http://purwo.co. Sehingga saya harus mencari, kiranya artikel mana yang dimaksudkan Kang Yogi. Hal ini penting, agar saya bisa membaca arah tanggapannya secara benar, terstruktur, massif dan tentu saja sistematis. 

Titik terang saya dapatkan. Pada sebuah grup WA, kang Yogi mengatakan bahwa tulisan itu menanggapi tulisan saya http://www.purwo.co/2019/06/Digital-Scholarship-makhluk-apakah-itu.html (path saya ganti, isi dan judul sama). 

Pada tulisan itulah saya menuliskan, seperti yang ditanggapi Kang Yogi, bahwa beberapa trend dalam dunia perpustakaan itu sebenarnya bukan hal yang baru. 

****

Saya tidak keberatan, dan menerima tulisan dan ulasan Kang Yogi yang berjudul "Perkenalkan: Saya Seorang Pustakawan", baik yang dipost di FB maupun blognya. Termasuk ke ortodok-an saya. 

Sama sekali tidak keberatan. Bahkan sepakat pada substansi tulisan itu. Kami sealiran. Bahkan, sebelum beliau menulis tulisan tanggapan tersebut, saya pernah menulis pula di FB dengan judul  [ pustakawan dan tukang nggerji ] pada 26 Juni, 2 hari sebelum tulisan Kang Yogi, yang kemudian saya post ulang di http://www.purwo.co/2019/06/pustakawan-dan-tukang-nggerji.html. Tulisan saya tersebut, mendekatkan apa yang saya fikirkan dengan tulisan Kang Yogi.

Untuk menunjukkan kesekatan saya, pada artikel Kang Yogi di akun facebooknya, saya juga menulis tanggapan singkat:

Saya juga sependapat (dengan tulisan kang Yogi), Kang. Ndak ada yang salah dengan pola adaptasi itu. Wong saya juga berusaha mengikutinya. Idep idep umum sanak. :) Namun kesepedapatan saya, tetap tidak/belum mengubah pendapat saya, bahwa perubahan itu tidak begitu substansial dari sesuatu yang diklaim sebagai "ilmu". Alasannya? embuh.

****

Lalu, apa yang saya maksud dengan "Tak ada yang baru di bidang perpustakaan" pada artikel Digital Scholarship: makhluk apakah itu?

Kalimat lengkap saya, yang memuat kata "tidak ada yang baru" tersebut, sebenarnya begini:

Learning common, dan makerspace, ternyata bukan hal baru. Ketika dibawa ke perpustakaan, kemudian dianggap baru. Saya menyebutnya semacam duplikasi. Kuncinya terletak pada pinter-pinternya ilmuwan perpustakaan membungkus dan menjual istilah.
Kalimat itu saya pakai untuk mengawali mengupas Digital Scholarship. Yang kemudian memunculkan kesimpulan saya, bahwa DS itu juga bukan sesuatu yang baru. Hanya wadah saja dari apa yang sudah ada sebelumnya. Bungkus, paketan atas beberapa kebutuhan. Seperti halnya paketan lebaran yang berisi beras, brambang, bawang, minyak tanah, lombok, miri, tumbar, trasi, bahkan plus roti kalengan. Agar orang mudah mendapatkan kebutuhannya.



****
Karyo: uwis, Jo?
Paijo: uwis, Kang.
Karyo: mosok tanggapannya hanya sak uprit?. Tapi ngene, Jo. Paketan itu, sebenarnya juga hal yang baru, lho. Aja dianggep sepele.
Paijo: ya-ya... paketan kui barang anyar. Sarujuk, Kang. Saya merasa bangga, lho, ditanggapi oleh Kang Yogi. Secara kami itu belum pernah ketemu muka. Tapi di grup, nek jagongan rodok eyel-eyelan, kayak kanca dhewe. Ora wigih-wigih.
 

Paijo membayangkan perpustakaannya: masuk kategori Ellya Khadam, atau Via Valent? Klasik, atau pop? Atau perpaduan keduanya?


Sambisari, ba'da subuh
Sêtu Kliwon 25 Sawal Be 1952 AJ.
5.40

Pustakawan dan tukang nggerji, dalam pusaran owah gingsiring jaman

Sekarang dikenal istilah disrupsi. Dulu, simbah-simbah punya istilah owah gingsiring jaman. Mirip, malah bisa jadi sama.
Dulu, keluarga kami meminta tetangga untuk nggerji kayu secara manual, memotong kayu sesuai kebutuhan untuk mebeler atau membangun rumah. Ukuran usuk, reng, blandar, dan lainnya. Perlu dua orang tukang. Satu di atas, satu di bawah. Keduanya saling menarik gergaji yang digunakan. Namun hal itu terhenti ketika muncul gergaji mesin, pilihan orang berpindah.
Gergaji mesin lebih cepat, lebih presisi, meskipun sebenarnya area kayu yang kena gergaji lebih lebar, atau lebih banyak kayu terbuang. Ini karena gergaji mesin lebih tebal daripada gergaji manual.
****
Tukang gergaji manual jadi tersingkir. Mereka tak bisa lagi mengharapkan bayaran dari jual jasa nggerji.
Begitulah gambaran sederhana istilah yang sekarang disebut disrupsi.
Tukang gergaji manual, yang menguasai seluk beluk perkayuan ini harus menyesuaikan diri. Tidak lagi jual jasa nggerji. Mereka harus mengolah kayunya. Menjadi mebel, misalnya. Tentunya dengan nilai lebih, tidak ala kadarnya.
Memotong kayu manual boleh tersingkir dan tidak laku, namun kayu olahan tetap diperlukan.
****
Agaknya, ini pula yang dilakukan pustakawan. Seperti halnya tukang gergaji manual yang berkurang bahkan hilang, pustakawan juga demikian. Dia sudah berkurang.
Perpustakaan yang sebelumnya dikelola 10, menjadi 4 orang. Bahkan mungkin bisa hilang. Pustakawan di perpustakaan akan berkurang, tak lagi sebanyak dahulu. Namun interaksi dengan koleksi tetap akan diperlukan. Bentuknya pun bermacam-macam. Profesinya juga bisa berubah.
Tidak sekedar memotong kayu, pustakawan kudu mengolah kayu, agar punya nilai lebih.

Disrupsi, owah gingsiring jaman, sudah ada sejak dulu. Ada dua akibat owah gingsiring jaman: reja-rejaning jaman, atau kalabendu.

Monggo milih

Friday, 28 June 2019

Digital Scholarship: makhluk apakah itu?

Istilah baru di dunia perpustakaan, terkadang mencegangkan. Mulai dari learning common, makerspace, scholarly communication, dan baru-baru ini digital scholarship.

Learning common, dan makerspace, ternyata bukan hal baru. Ketika dibawa ke perpustakaan, baru  kemudian dianggap barang baru. Saya menyebutnya semacam duplikasi. Kuncinya terletak pada pinter-pinternya ilmuwan perpustakaan membungkus dan menjual istilah.

Bagaimana dengan digital scholarship?

Mendengar istilah ini, saya berfikir tentang beasiswa. Ketika SMP dulu, guru Bahasa Inggris saya mengatakan bahwa arti scholarship itu beasiswa. Beasiswa digital, begitu kira-kira yang ada dalam fikiran saya saat mendengar digital-scholarship.

Paijo: langsung mumet, Kang. Mosok beasiswa digital?

Saya memperoleh sebuah poster, yang menginformasikan kegiatan, semacam kuliah umum, di perguruan tinggi. Temanya digital scholarship. Pembicaranya, tentu saja, orang pintar semua. Semua bergelar doktor. Salah satunya dari Leiden. Poster tersebut, akhirnya membawa saya sampai pada sebuah web yang menunjukkan aktivitas digital-scholarship di kampus Leiden Univ. Ini websitenya: https://www.library.universiteitleiden.nl/research-and-publishing/centre-for-digital-scholarship.

Sebagai pustakawan praktisi, jika ada istilah baru, saya tertarik pada apa peran pustakawan dalam istilah tersebut? Apakah istilah tersebut benar-benar memiliki sesuatu yang baru, yang berasal dari konsep ilmiah ilmu perpustakaan? Atau jangan-jangan?....

Pada laman URL di atas, terdapat keterangan pembuka.

The Centre for Digital Scholarship organizes meetings and workshops and it is the obvious partner for researchers to contact for questions, consultancy, and training on the following topics:

Nah, ini menarik. Kalimat di atas diikuti dengan 6 point seperti di bawah ini:







Penasaran pada apa yang dilakukan pustakawan terkait 6 hal di atas.

Data management. Pada bagian ini, perpustakaan/pustakawan melayani proses pengelolaan data riset dan hal terkait. Mulai dari merancang rencana manajemen data, sampai menyimpannya. Konsep FAIR diberlakukan pada proses ini. FAIR: Findable, accesible, interoperable, dan reusable.

Text dan Data mining. Pustakawan memberikan layanan terkait data cleaning, enrichment, analysis, visualisation, curation, dan preservation. Dengan diawali oleh mengeksplorasi berbagai kemungkinan berbagai sumber/koleksi untuk teks dan data mining.

Open access. Menyediakan dukungan penuh dalam publikasi berjenis open access, mulai dari kebijakan, pelatihan, dukungan, serta berbagai layanan lainnya. Disediakan berbagai daftar jurnal open access yang sudah membuat kerjasama dengan kampus. Repository yang mendukung, dan lainnya.

Copyright. Kepala perpustakaan Leiden Univ mengatakan bahwa mereka merekrut orang hukum untuk layanan ini. Berbagai pertanyaan terkait hak cipta pada publikasi mestinya kerap ditanyakan oleh mahasiswa. Misalnya:
  • How do I publish an article without having to give up my copyright? 
  • Can place an article found in the Catalogue in Blackboard? 
  • What about the use of images during lectures? 
  • I want to submit my thesis to the Repository, but would also like to see my thesis published at a university press. Is this possible?
Collaborative environments. Hal ini terkait dengan Virtual Research Environments. Istilah yang relatif baru. Namun, ketika saya telusur, VRE ini memanfaatkan Sharepoint-nya microsoft. Bisa lebih mudah dibayangkan layanan yang tersedia. 

GIS. Merupakan sistem untuk editing dan menampilkan data spasial. Tersedia komputer untuk digunakan dalam olah data spasial.


Kita coba lihat satu/satu. Data management, sebenarnya ini bukanlah hal baru. Dikenal sejak lama istilah manajemen data riset. Saya pernah menulisnya di sini dan di sini.

Text dan data mining. Istilah ini sudah populer di dunia informatika. Bukan hal baru secara aktivitas. Pustakawan pun sudah ada yang mulai main data mining dan visualisasi.

Open access juga hal yang sudah lama dikenal. Bahkan pustakawan sudah banyak berkecimpung dalam publikasi ini. Bersinggungan dengan para pengelola jurnal, pustakawan memiliki pengalaman terkait dunia penerbitan jurnal maupun non-jurnal open access.

Copyright. Ini menarik. Apakah pustakawan memiliki cukup ilmu? Leiden Univ. Library, kabarnya merekrut orang hukum untuk melayani berbagai pertanyaan atau konsultasi. Namun demikian, tentu saja dengan membaca, pustakawan mulai tahu beebrapa jenis  copyleft, maupun copyright, dengan berbagai versinya.

Collaborative environment. Di Leiden menggunakan Sharepoint. Ketika saya cek melalui Google, cukup banyak yang memanfaatkan Sharepoint untuk membanguan Virtual Research Environment, baik itu diberi cap bagian dari Digital Scholarship, maupun tidak. Silakan coba buka perbandingan Sharepoint dan Google Drive untuk memperoleh gambaran lebih dalam, klik https://www.eswcompany.com/sharepoint-vs-google-drive/ dan https://comparisons.financesonline.com/sharepoint-vs-google-drive. Atau Sharepoint dengan OneDrive di sini https://technologyadvice.com/blog/information-technology/sharepoint-vs-onedrive-for-business/

GIS, atau layanan sistem informasi geografi. Orang iseng akan mengatakan: lah, di kampus saya itu ada di lab geografi atau geodesi. Mosok mau bikin lab sejenis di perpustakaan?

Kesimpulan awal saya, terkait Digital Scholarship ini adalah: DS ini wadah, bungkus, paketan. Beberapa hal dibungkus dan diberi brand Digital Scholarship. Apa maksudnya? entahlah.


****

Nah, kita lihat pula konsep digital Scholarship di perpustakaan lainnya. Saya menemukan poster ini.



Di NTU ini lebih liberal lagi. Digital scholarshop tuesday. Isinya workshop dan seminar dalam berbagai tema. Informasi lainnya, bisa dilihat di https://blogs.ntu.edu.sg/ntulibrary/tag/digital-scholarship/. Pada beberapa kegiatan di atas terlihat, workshop Prezi pun masuk dalam kegiatan Digital Scholarship. Prezi itu alat untuk membuat presentasi. 

Selain itu, pada poster di atas, ada lagi workshop Canva, atau Piktochart, serta Tableau. Juga beberapa tema yang intinya mempelajari penggunaan software untuk proses riset, atau akademik yang dikelompokkan menjadi: digital publishing, data visualisation, dan presentation tools and sources.

Karyo: terus, apa kesimpulanmu, Jo?
Paijo: masih tetap sama, Kang.
Karyo: apa?
Paijo: ndak ada itu ilmu perpustakaan. Yang ada itu skill mengelola perpustakaan. 

Paijo pun melanjutkan sinaunya. 

Wednesday, 12 June 2019

Sunday, 2 June 2019

Ngaji serat Kalatida *)

Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga Surakarta, ingkang nalika alit nate nyantri wonten Pondok Pesantren Gebang Tinatar Ponorogo. Dipun asuh deneng Kyai Kasan Besari.


Ranggawarsita, nate nyerat serat Kalatida. Kalatida artosipun jaman/wekdal ingkang samar-samar, utawi kathah keraguan. Dipun serat  tahun 1860 (159 tahun kepengker). Serat meniko wonten 12 perangan. Bentukipun macapat Sinom. Ingkang kawentar perangan kaping pitu.



Amenangi zaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya kéduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling lan waspada.

Artosipun:
Menyaksikan zaman édan,
serba susah dalam bertindak,
jika ikut édan tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (édan),
bagaimana akan mendapatkan bagian?,
akhirnya kelaparan,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.


***

Ngalam ndonya menika tansah obah lan malih. Wonten ing budaya jawa, obah malihe jaman dipun wastani “owah gingsiring jaman”.

Wonten kathah owah gingsiring jaman. Sak perangan badhe kula aturaken ing mriki.

Para rawuh. Dipun wiwiti nalika manungsa kedah pindah-pindah nalika gesang. Pundi papan ingkang cumepak dhaharan, dipun dugeni.

Lajeng, manungsa netep. Tani. Tanine menungso ngangge okol, tenaga. Naliko mluku, nggaru. Saenggo wonten ingkang buruh mluku, buruh nggaru, buruh matun lan sak panunggalanipun.

Jaman tansah owah. Ngantos menungso saget damel alat ingkang nggantosaken tenaga mluku lan nggaru poro konco tani. Sapi ingkang kangge nggeret luku, nganggur. Buruh mluku leren. Dipun gantos traktor.

Jaman tansah owah. Menungso saget nemu listrik. Saenggo mesin-mesin enggal sami dipun obahaken ngangge listrik. Bakul senthir kukut, amargo mboten payu. Piyantun ingkang pengen nyambut damel, kedah pados pedamelan sanes.

Jaman taksih tansah owah. Lajeng alat ingkang dipun wastani komputer lahir. Piyantun ingkang kepengin nyambut damel, kedah saget ngangge komputer.


Jaman tansah owah. Sak meniko, owah gingsiring jaman dipun wastani “era industry 4.0”.

***

Kula panjenengan sampun akrab kalian GoJek, Grab. Ojek online meniko saget mangertos kula panjanengan sami wonten pundi, sak sampune milih tujuanipun, ojek online meniko pinter pados dalan piyambak, lan ngetung ongkos. Menawi wonten diskon, langsung dihitung.

Samangkeh saget langkung kathah malih alat ingkang saget mikir piyambak. Nggantos sak perangan posisi/pedamelan manungso. Pedamelan ingkang sak derenge dipun pandegani manungso, dipun gantos mesin, alat.

Menawi kita runut, jenis pedamelan meniko tansah berubah. Muncul pedamelan enggal, lan wonten pedamelan ingkang ical, ilang.

Rumiyin wonten dhukun bayi, sakmeniko sampung arang. Paling celak, pinten tahun kepengker wonten sopir bus kota. Dene sak menika sampun langka, kepara ilang.

Ciri sanesipun inggih meniko ingkang dipun wastani internet of things, kabeh sarwo mawi internet. Sak menika, tumbas bakso saget mawi internet, tumbas gethuk ugi mekaten, ngersake taksi, cekap internet. Lajeng pesen hotel, ngantos mbayar angkringan sampun wonten ingkang mawi internet. Ugi tumbas pulsa.

***

Ing tahun  2020-2035 penduduk Indonesia ingkang usia produktif, meniko langkung kathah ditimbang ingkang jompo.

Bahasa gampilipun: jumlah piyantun ingkang kuat nyambut damel (15-64 tahun), langkung kathah tinimbang ingkang sampun jompo.

Nah, yen pedamelan ingkang sak derengipun dipun pandegani manungso dipun gantos mesin, utawi pedamelan lawas sampun mboten dipun butuhaken, lajeng pripun nasib putro wayah kula panjengan sami samangkeh?

Padahal jumlah ingkang butuh damelan meniko kathah sanget?


***

Para rawuh, owah gingsiring jaman meniko wonten kalih akibatipun. Sepindah: kalabendu utawi jaman kang rusak, kaping kalihipun reja-rejaning jaman utawi ayem-makmur.


Jaman tansah berubah, jaman kula panjenengan benten kalih jamanipun putra wayah samangkeh. Sakmenika para putra wayah kedah dipun dorong supados saget kuat ngadepi owah gingsiring jaman.

Caranipun wonten kalih, nanging kalihipun wujud pendidikan. Sepindah pendidikan ilmu agama, supados tetep eling lan waspada, mboten malah melu ngedan.

Kaping kalih ilmu dunia, ilmu pengetahuan lan teknologi kangge nggula wenthah ndonya, supados saget nggayuh reja-rejaning jaman. Kados ngendikane Kanjeng Nabi Muhammad, SAW.

“Kowe luwih ngerti urusan donyamu”  (HR. Muslim, no. 2363)


Nutup serat Kala tida, Ronggowarsito ndonga:

Ya Allah ya Rasulullah kang sipat murah lan asih mugi-mugi aparinga pitulung ingkang martani, ing alam awal akhir dumunung ing gesang ulun


Ya Allah, ya Rasulullah yang bersifat pemurah dan pengasih semoga berkenan melimpahkan pertolongan yang menyelamatkan di dunia hingga ke akhirat tempat hidup hamba


------

Disampaikan pada kuliah subuh ing Masjid Quwwatul Muslimin Sambisari
Ngad Pon, 28 Pasa 1952

Sunday, 26 May 2019

, ,

Mengenal fitur Vosviewer dan arti visualisasinya

Vos Viewer digunakan untuk memvisualkan bibliografi, atau data set yang berisi field bibliografi (judul, pengarang, penulis, jurnal, dst.). Tag line Vosviewer, seperti ditulis pada websitenya: Visualizing scientific landscapes.

Ada berbagai fitur pada VV. Tulisan ini didasarkan pada VV 1.6.11.

DATA YANG BISA DIBACA
Untuk data bibliografi, VV mampu membaca dataset dari Web of Science, Scopus, Dimension, dan Pubmed. Selain itu, format dataset RIS, Endnote, dan RefWork juga bisa dibaca VV. Melalui fitur API, VV dapat membaca/mengambil data dari Crossreff, Pubmed PMC, Semantic Scholar, OCC, COCI, Wikidata.

Jika data yang disiapkan ada dalam beberapa file, VV juga mampu membaca multi file sekaligus.

Sementara itu, VV juga bisa membaca/menganalisis term dari abstrak dan title dengan sumber yang sama dengan data di atas.

JENIS ANALISIS
Untuk data bibliografi, VV dapat melakukan berbagai analisis. Dengan beberapa modifikasi, VV bisa juga untuk kepentingan visualisasi data lainnya.

Berikut beberapa jenis analisis dalam VV dan fungsinya.

Co-authorship, menganalisis kolaborasi penulis dengan penulis lain. Analisis ini bisa divisualkan berdasarkan nama penulis, organisasi penulis, atau negara asal penulis.

Co-occurence menampilkan visualisasi jejaring antar kata kunci.



Citation akan memvisualkan dokumen yang diamati. Dokumen yang diamati/uji akan dihubungkan dengan dokumen lain (yang juga diamati/uji) jika mereka menyitir artikel lain yang sama-sama diamati. Analisis ini berguna untuk memperlihatkan sitasi antar dokumen, bisa dipakai juga untuk melihat self citation penulis.

Bibliographic Coupling. Artikel yang diuji/amati akan divisualkan dan dibuat networknya, jika mereka memiliki referensi yang sama. Analisis ini menunjukkan kedekatan kajian antar dokumen yang terhubungkan.



Co-citation berbeda dengan Citation dan Bibliographic coupling, Co-citation akan memvisualkan referensi yang digunakan oleh dokumen yang diuji/amati. Analisis ini bermanfaat untuk mengetahui referensi yang dominan digunakan oleh sekelompok artikel yang diuji.



Metode penghitungan yang dilakukan oleh VV ada dua: full dan fractional counting. Full counting akan menghitung apa adanya, sedangkan fractional dipengaruhi oleh berapa jumlah co-author dalam sebuah dokumen yang diuji.

Jika data yang ingin dibaca adalah bagian judul atau abstrak, maka VV akan memotong kata dalam judul/abstrak tersebut, kemudian menvisualkan keterkaitan antar potongan kata/term tersebut.

***



Jika pada dokumen ditemukan ketidak rapihan data, misalnya nama satu orang ditulis dengan beberapa variasi, VV memiliki fitur tesaurus. Fitur ini dengan otomatis akan mengganti beberapa nama (atau term) yang bervariasi ke dalam 1 nama yang kita pilih. Dengan demikian, hasil visualisasi akan lebih rapih.



TAMPILAN VISUALISASI
Ada 3 tampilan visualisasi di VV. Network, overlay, dan density visualization.

Network akan memperlihatkan jejaring antar term yang divisualkan. Overlay akan memperlihatkan jejak history penelitian, sedangkan density akan mempelihatkan kerapatan/penekanan pada kelompok penelitian.

Density dapat digunakan untuk melihat bagian riset yang masih jarang dilakukan.

Pada panel sebelah kanan, VV menyiapkan beberapa fitur visualisasi. Misalnya pengaturan weight yang dapat dipilih berdasarkan link, occurence, jumlah dokumen dan lainnya. Pilihan label menggunakan circle atau frame, pengaturan font, max length (untuk mengatur berapa karakter yang akan tampil pada setiap circle/frame.

Sementara pada panel kiri ada beberapa yang bisa dilakukan. Visualisasi bisa disimpan dalam bentuk png, serta penyimpanan hasil kerja VV ke dalam file yang bisa dibuka kemudian. File penyimpanan ini ada dua jenis: map, dan network.

Nah, untuk file hasil penyimpanan berjenis map, akan berisi data yang divisualkan, yaitu: term, occurence, weight, dan lainnya. Data di file map ini bisa dibuka menggunakan spreadsheet untuk ditampilkan dalam tabel.



Fitur lainnya adalah ITEMS. Pada tab ini akan terlihat jumlah items yang divisualkan serta kelompok clusternya. Kita bisa klik salah satu items untuk melihat jejaringnya.

Pada tab ANALYSIS, kita bisa lakukan pilihan normalisasi, seting cluster, dan melakukan rotasi tampilan.


Baca juga:
1. http://www.purwo.co/2019/05/visualisasi-library-and-trend-dan.html
2. http://www.purwo.co/2019/05/menggunakan-vosviewer-online.html
3. http://www.purwo.co/2019/05/koalisi-partai-dalam-vosviewer.html

Saturday, 25 May 2019

,

Visualisasi "Library" AND "trend" dan peluang bidang risetnya

Visualisasi ini menggunakan data set dari database Scopus, dengan kata kunci library pada judul artikel, AND trend pada judul artikel. Pencarian dilakukan pada 24 Mei 2019, dengan hasil 420 dokumen.

Kata kunci library AND trend dipilih tanpa alasan jelas. Hehehe. Sepintas saja muncul difikiran, sebagai sarana latihan. 

Dokumen dieksport dalam bentuk csv, dengan field: bibliografi, afiliasi, keyword, dan reference. Dataset kemudian divisualkan menggunakan VosViewer.

author keyword minimal 3

Tampilan di atas merupakan visualisasi author keyword dengan mininal memiliki 3 kemunculan. Terlihat paling dominan adalah kata kunci ACADEMIC LIBRARIES. Terbagi menjadi 9 klaster, terlihat kaitan antar kata kunci. CITATION ANALISYS, misalnya, berkaitan dengan bibliometric dan library management. Citation analysis tidak berhubungan dengan public libraries, artinya analisis sitasi untuk publikasi terkait public libraries belum ada atau kurang dari 3.

Keyword lain, dapat dilihat pada gambar.
author key minimal 4
author key minimal 5

Dengan minimal kemunculan 4, dan 5, kata kunci yang divisualisasi menjadi semakin sedikit. Jejaring antar kata kunci juga semakin jelas, sehingga prediksi tentang kata kunci yang memiliki peluang untuk diteliti menjadi semakin mudah.
co-author minimal 1
Co-authorship dengan minimal 1 artikel, dikelompokkan menjadi 2 klaster. Tidak ada yang dominan sekali, merata dengan fokos merah dan di kelompok hijau.
Biblio Coupling minimal dikutip 1x
Untuk bibliographic coupling dengan dokumen minimal dikutip 1x, memunculkan beberapa klaster. Jejaring pada bibliographic coupling ini menunjukkan bahwa dokumen dan dokumen lain yang terhubung memiliki referensi yang sama. Jika memiliki referensi yang sama, maka ada kemungkinan kemiripan dokumen.
Co-citation minimal 2

Co-citation dengan minimal 2x dikutip memunculkan visualisasi di atas. Tampak, dari artikel berkategori library dan trend, referensi paling banyak digunakan yaitu tulisan Clark, Bower, dan Burlingame. Ketiganya memiliki link 32 (berarti dikutip bersama 32 artikel yang lain), dengan total link strength 192.

Artikel lain seimbang, dengan kisaran link 32, dan link strength 130.

Namun, ada dua artikel yang ada di papan bawah. Keduanya yaitu artikel Goetsch, dan Law, dengan link 32 dan link strength 66.


co author berdasar negara, minimal 1 x
Amerika mendominasi dengan 193 dokumen, serta berjejaring dengan berjejaring dengan penulis dari berbagai negara, kecuali: Vietnam, Portugal dan New Zaeland
term judul minimal 5

Pada visualisasi term pada judul, kata paling banyak muncul yaitu TREND yang muncul sebanyak 238x dan terhubung dengan 10 term lainnya: state, digital library, academic library, university library, library, public library, top trend, medical library. 

Term lain yang belum muncul, bisa diindikasikan belum banyak diteliti, atau jika sudah ada maka jumlahnya kurang dari 5 dokumen.
Judul min 3 full
Untuk melengkapi analisis sebelumnya, di atas merupakan term judul dengan minimal muncul 3x. TREND tidak lagi berdiri sendiri. ACADEMIC LIBRARY menjadi term yang paling banyak dengan 39x, serta terhubung dengan  13 term lainnya.
Abstrak min 10 full

Term pada abstrak dengan minimal 10 kemunculan menggunakan full counting, menunjukkan term RESEARCH paling banyak muncul. Disusul ARTICLE, dan ACADEMIC LIBRARY. 

Salah satu term baru yang muncul yaitu BIG DATA. Term ini muncul bersama dengan beberapa term lainnya. Silakan lihat gambar di bawah ini.
Term Big data dan jejaringnya



Dari gambar di atas, dapat dilihat keterkaitan term BIG DATA, dan kemungkinan peluang penelitiannya. 

*****

Kesimpulan
Penelitian bidang perpustakaan dan informasi, dengan kata kunci "library" AND "trend" di database Scopus dominan dengan topik pada academic libraries. 

Meskipun demikian, peluang riset yang bisa dilakukan masih terbuka luas. Peneliti bisa mencari term/topik yang belum banyak berhubungan dengan topik dominan. Atau dengan mencari visualisasi topik yang hendak diteliti pada hasil di Vos Viewer kemudian melihat jejaringnya, serta menentukan term yang belum berkaitan. Seperti contoh ketika menfokuskan pada term BIG DATA (gambar terakhir).

Referensi yang digunakan, tidak ada yang benar-benar dominan. Hal ini terlihat pada visualisasi co-citation, yang hanya menampilkan satu klaster dengan ukuran label yang tidak jauh berbeda.

-----

Sambisari, 
  Sêtu Kliwon 20 Pasa Be 1952 4.25 sore