Tuesday, 13 February 2018

, ,

Rekreasi yang sesungguhnya (3, habis)

Tulisan sebelumnya: http://www.purwo.co/2018/02/agar-tidak-menyesal-ketika-mati-dan.html

Tubing (di) sungai. Aliran air sebagai aliran kehidupan, gelombang air adalah gelombang kehidupan, aliran menurun adalah kehidupan menurun. Ban tempat hidup yang untuk dikendalikan. Tebing kanan kiri dan bebatuan di bawah adalah ancaman. Jadi disaat kita naik butuh keseimbangan untuk mengendalikan dengan situasi dan kondisi aliran air/aliran kehidupan yang deras dan bergelombang juga kadang menurun. Kanan-kiri-bawah mengancam yang bisa membuat kita jatuh, dan disaat kita terjatuh itu bisa kembali naik ke atas atau pupus. Maksudnya dalam kehidupan disaat kita bisa kembali bangkit, naik iman takwa kita, atau kita berhenti menjadi orang yang tidak (ber)takwa lagi. (Kang Sabar, dalam memaknai wisata tubing)


Purwo.co -- Minggu tanggal 11 Februari, hari terakhir dari rentetan kegiatan 3 hari kami. Pagi itu, setelah pengajian Subuh, kami sarapan kemudian bersiap menuju arena tubing yang jaraknya sekitar 3 kilo dari tempat menginap.

Kami berjalan kaki, beriringan sambil ngobrol ngalor ngidul. Ini waktu yang saya harapkan, agar bisa menelisik lebih dalam tentang keindahan lokasi yang kami kunjungi.

Benar dugaan saya, daerah ini sangat indah. Penduduknya yang ramah, turut menambah keindahan. Klakson motor dan senyum warga yang berpapasan dengan kami menjadi buktinya. Perjalanan naik turun bukit yang cukup jauh itu menjadi tidak begitu melelahkan.

Jalan yang kami lalui hanya muat untuk satu kendaraan roda 4. Jika ada yang berpapasan, maka salah satu harus mengalah untuk berhenti dan agak minggir. Tikungan tajam juga kerap kami temui, yang memaksa kendaraan harus ekstra hati-hati. Apalagi yang belum pernah berkunjung, kemungkinan terpesona pada alamnya, bisa berpotensi membuyarkan konsentrasi dan berakibat buruk saat berkendara.

Jalan yang hanya muat satu mobil roda 4 itu semakin menyempit, yang akhirnya benar-benar hanya muat 1 mobil saja, tidak bisa berpapasan, meskipun dengan motor. Bahkan, jika ada mobil lewat, maka pejalan kaki harus berhenti dan minggir ke selokan agar mobil bisa bergerak. Di ujung  jalan, kami temukan sebuah gerbang lokasi tubing. Tidak bisa tidak, kami harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju lokasi start tubing.

###

Kami menyusuri jalan setapak di atas sebuah sungai. Jalan tersebut sudah dikeraskan pada beberapa bagian menggunakan semen. Tampak usaha agar pengunjung tubing bisa merasa nyaman berjalan ke lokasi. Jalan tersebut terletak di atas sungai, di antara dua bukit yang menjulang tinggi, hijau dengan tanaman sayur yang siap panen.

Sejauh mata memandang, selain tegalan sayuran, juga tampak orang-orang yang merambat naik-turun tegalan yang kemiringannya sekitar 80 derajat itu, untuk membersihkan rumput, memberi pupuk, mengobati, atau memanen sayuran.

Setelah beberapa waktu perjalanan, kami sampai di lokasi start. Setelah briefing tentang aspek keamanan selama tubing, kami antri memakai peralatan pengaman kemudian membawa ban yang sudah diisi angin ke titik start. Bagi yang belum dapat antrian, bisa mengisi waktu dengan berlatih memanah.

###

Kami rela antri untuk merasakan sensasi memanah di ruang terbuka. Terkadang, kami harus menunggu karena di sisi kiri sasarann ada warga yang melintas, pulang dari atau ke tegalan. Ada satu titik sasaran panah, serta dua busur yang tersedia. Jarak sasaran kurang lebih 10 meter. Teriakan girang memecah suasana, ketika salah satu diantara kami mampu membidik sasaran dengan tepat, meski tidak benar-benar menancap di tengah. Setelah semua anak panah habis, maka salah satu dari kami akan mengambil. Sementara yang memegang busur harus sabar menunggu sampai anak panah ditemukan atau dicabut dari titik sasaran.

###

Jalur tubing ditempuh pada jarak yang lumayan jauh. Batu yang ada di sepanjang sungai tampaknya benar-benar masih alami. Satu per satu kami naik di atas ban, kemudian membiarkan arus sungai bebas menyeret kami ke hilir. Benturan dengan batu, atau ketika ketemu teman yang macet, kami pun bisa berbenturan. Bukan hanya benturan, namun ada juga yang terjatuh karena tidak seimbang ketika melewati turunan. Yang tidak sigap, bisa terpisah dari ban, kemudian jatuh ke air. Tak pelak, minum air sungai sangat mungkin terjadi pada kondisi demikian. Gelak tawa pecah di antara kami.

Setelah melewati perjalanan menggunakan ban dalam tersebut, kami sampai di akhir. Tulisan yang seharusnya finish itu tertulis berbeda, agaknya disengaja, "VINISH". Tepat di sebelah batu besar yang gagah berdiri. Di lokasi finish ini ada bagian sungai yang cukup lebar dan dalam. Kami lampiaskan kegembiraan di titik ini, sambil menunggu peserta lain yang belum selesai.

Setelah semua mencapai finish, kami kembali ke titik kumpul tubing.

Di samping lokasi tubing itu terdapat air terjun. Airnya yang bening, seolah melambaikan tangan, agar kami mendekat dan merasakan kesegaran di balik dinginnya. Beberapa yang telah selesai tubing, mencoba mendekat ke air terjun ini, sembari membersihkan badan.

Yang lainnya menikmati telo goreng, dan nasi montok. Nasi montok merupakan nasi khas, yang dikukus dengan bungkus daun pisang. Lauknya semacam botok. Teh panas yang telah dituang menjadi pelengkap, yang jika tidak segera diminum akan cepat dingin dihimpit suhu pegunungan.

###

Kami pun kembali ke penginapan. Sebelum Dzuhur dan makan siang, ada sajian 15 butir duren yang siap disantap. Kami beramai-ramai menikmati duren tersebut, istiharat, kemudian sholat Dzuhur serta makan siang. Menu makan siang terakhir itu berupa soto ayam kampung, lengkap dengan kerupuk dan tempe goreng.

Kami segera berkemas. Selain berkemas, kami juga ikut membersihkan rumah yang kami tempati, sebagai bentuk terimakasih pada si empunya rumah. Ada kejadian menarik pada saat ini. Embah yang punya rumah benar-benar melarang kami membantu membersihkan rumah, hingga kadang ada adegan lucu di antara kami yang harus menghindar karena sapu atau pel yang kami pegang hendak direbut simbah. Ucapan terimakasih kami sampaikan pada Embah Kakung dan Putri pemilik rumah.

Setelah berkemas, kami berkumpul di masjid, mendengarkan pesan terakhir, kemudiah sholar Ashar lalu pulang.


###


Epilog
“Model seperti ini kayae malah menyenangkan. Selain dapat ilmu, juga dapat gembira. Plus bisa melihat pemandangan sebagai bentuk rekreasi”, demikian inti komentar beberapa kawan. Ya, tentunya dengan biaya yang murah pula. Dengan tanpa beban, tidak dikejar-kejar waktu, kita diajak untuk jujur pada diri sendiri untuk melihat sisi lain dari proses hidup yang kita jalani.

Saya tidak ingin menggiring atau merampatkan, bahwa semuanya sepakat dengan pandangan di atas. Namun, bagi saya pribadi, ini merupakan pengalaman berharga. Ada banyak hal menarik, positif yang diperoleh selama kegiatan. Pembiasaan hidup tertib, melalui kebiasaan sholat jamaah, sholat tahajud, ikut pengajian, berkunjung kepada warga, yang dibentuk selama 3 hari, harapannya dapat diteruskan ketika (khususnya) menjalankan pekerjaan di institusi.

Hidup perlu perjuangan, seperti halnya ketika bergembira tubing. Bisa jatuh, bisa naik lagi. Bisa terluka dan lainnya. Tubing itu menurun, waktu yang sudah kita lalui, tak bisa diulang lagi. Seperti yang dimaknai Kang Sabar, kawan saya, sebagaimana tertulis di awal tulisan ini.

Tamat

, ,

Agar tidak menyesal ketika mati, dan minta dihidupkan lagi (2)

Tulisan terkait sebelumnyahttp://www.purwo.co/2018/02/akhirnya-sop-daging-itu-meruntuhkan.html

Purwo.co -- Sore itu, setelah sholat Ashar kami berkumpul, duduk melingkar di dalam masjid. Ketua Takmir masjid, yang tadi menjadi imam masjid memberikan sambutan. Kami dikenalkan pada beberapa orang yang akan membersamai kami selama kegiatan. Kami juga menyepakati usulan kegiatan yang akan kami lakukan.

Selepas magrib di Jumat sore, kami akan dibagi beberapa kelompok untuk berkunjung ke rumah warga sekitar. Selain silaturahmi, kami juga diminta mengajak mereka datang ke masjid untuk sholat Isya’ dan mendengarkan pengajian. Kemudian untuk hari Sabtu, akan dilanjutkan beberapa kajian setelah sholat wajib. Beberapa dari kami dijadwal untuk memberi tausiah atau membaca hadits. Kemudian pada sabtu sore akan dibagi lagi dalam beberapa kelompok, berpencar ke masjid-masjid sekitar sampai setelah Isya. Setiap hari kegiatan selesai pukul 9 malam, kemudian istirahat. Bangun pukul 3 pagi untuk sholat tahajud, dilanjutkan Subuh berjamaah. Pada hari Minggu setelah kajian pagi, kami akan bersenang-senang di sebuah arena tubing (naik ban dalam), yang jaraknya beberapa kilo dari rumah yang kami tempati.

Demikian gambaran kegiatan selama beberapa hari ke depan.

###

Pada kunjungan ke rumah warga di Jumat sore, kami berempat memperoleh titik tujuan yang paling jauh. Berjalan menyusuri jalan menanjak, dan tanpa penerangan untuk mencapai lokasi. Ditemani 2 panitia: satu orang asli sebagai penunjuk arah, satunya pendamping yang akan membersamai selama ngobrol dengan penduduk.

Sebenarnya saya agak ragu. Tidak biasanya saya berkunjung ke rumah orang pada waktu antara Magrib dan Isya’. Biasanya waktu tersebut digunakan untuk istirahat, bercengkerama dengan keluarga. Namun, beda tempat beda kebiasaan. Di tempat ini, justru pada waktu tersebut lazim dilakukan, karena sebelum Magrib mereka harus bersih-bersih diri sepulang dari tegalan. Sementara setelah Isya’ mereka bersiap istirahat, atau menghadiri hajatan kampung.

Kunjugan pertama ke rumah Pak Sur, kemudian Pak Eko, dan terakhir Pak Rian. Ketiga nama ini, bukan nama sebenarnya, melainkan nama dari anak pertama mereka. Pak Sur memiliki anak pertama yang bernama Sur, maka beliau dipanggil Pak Sur. Demikian pula dengan Pak Eko dan Pak Rian. Mereka bertiga menyambut kami dengan suka cita. Pak Eko, yang kabarnya baru sembuh dari sakit, tampak senang ketika kami berkunjung.

“Pripun, Pak? Sampun dangan?”, demikian kami membuka pembicaraan, yang akhirnya mengantarkan pada berbagai topik.

Kunjungan kami berikutnya dilakukan pada hari Sabtu sore. Karena dijadwalkan berkunjung ke dusun sebelah, maka kami, menggunakan dua mobil berangkat pada Sabtu sore, sebelum Magrib. Tujuan kami sebuah masjid yang merupakan bagian dari sebuah pondok pesantren, yang dilengkapi kompleks madrasah aliyah. Sesampainya di masjid, kami berempat meninggalkan masjid, mewakili rombongan bekunjung ke rumah pengasuh pondok.

###

Rumah itu tampak megah. Bagian depan terpasang plakat identitas sebuah yayasan pendidikan berwarna hijau. Kami mengetok pintu, tak lama kemudian si empunya rumah membukakan pintu. Seorang laki-laki, usianya di atas 40 tahun, mengenakan kopiah, berbaju koko dan mengenakan sarung. Jenggot tipis menghiasi wajahnya yang teduh dan penuh senyuman. "Pak Kyai", demikian teman saya menyebutnya. Dengan penuh hormat, kami masuk dan duduk lesehan di ruang tamu yang tampak luas, bersih dan tertata. Beberapa komputer rapi terpasang pada tempatnya. Agaknya ruang tamu itu juga difungsikan sebaca ruang kerja atau kantor kecil.

Setelah basa-basi, kami pun terlibat pembicaraan, ditemani oleh buah duku, teh manis dan roti yang sudah dipotong-potong. Ketika minuman dihidangkan, teman di samping saya begitu sigapnya membantu Pak Kyai menata minuman, khas seorang santri yang begitu menghormati kyainya.

Fiqh rumah tangga menjadi topik pembicaraan sore itu. Topik ini dilatar belakangi oleh salah satu dari kami, yang bekerja di pembinaan pegawai daerah yang sering menghadapi permasalahan rumah tangga pegawai yang masuk ke meja kerjanya. Pak Kyai menjelaskan beberapa hal secara singkat, sekaligus nasihat pada kawan saya tersebut. "Mendamaikan dan membimbing mencari jalan keluar dari masalah rumah tangga, itu profesi terpuji", demikian kurang lebih salah satu komentar Pak Kyai. Sore itu, saya merasakan atmorfir ngaji dadakan dengan cara sowan pada kyai. Pembicaraan yang menarik itu, harus dihentikan oleh suara Adzan magrib. Kami bergegas ke masjid. Berkunjung dan ngaji langsung ke seorang Kyai, nyatanya akan menemukan berbagai hikmah dan ilmu.

###

Shof laki-laki dan perempuan telah terisi. Iqomah pun dikumandangkan. Pak Kyai yang tadi kami temui, sudah ada di antara kami, untuk menjadi imam sholat magrib. Suaranya yang merdu, mengalun mengiringi sholat kami di sore itu.

Selepas Magrib, kami dibagi 3. Dua orang di masjid untuk pengajian, sementara dua kelompok lain melakukan kunjungan ke rumah penduduk sekitar. Saya ikut kelompok yang berkunjung ke penduduk.

Pak Parman, seorang guru SD yang 3 tahun lagi pensiun menyambut kami. Senyumnya yang ramah selalu mengembang selama obrolan di sore itu. Kumis tipis, dan kulitnya yang hampir keriput menambah keramahannya. Di dinding tampak lukisan Bima/Werkudoro yang sedang berperang melawan seekor ular. Lukisan itu lukisan Pak Parman sendiri. “Bakat yang tak tersalurkan, Mas”, demikian ungkapnya. Sebagai seorang guru SD memang harus menguasai banyak hal: matematika, bahasa, IPA, IPS, hingga kesenian, termasuk menggambar.

Lukisan Bima tersebut menjadi titik pangkal pembicaraan kami. Lukisan Bima, lakon wayang Bima Suci yang merupakan lakon pertama yang dimainkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, sampai pada cerita nyantriknya Kanjeng Nabi Musa pada Nabi Khidir. Tentunya beberapa cerita di atas, dikaitkan dengan proses hidup kita saat ini. Belajar, terutama belajar agama tidak mengenal usia, karena kita tidak tahu, kapan kita akan meninggal.

###

Menjelang Isya’ kami pamit, kembali ke masjid. Di masjid tampak Pak Kyai sedang berdiskusi dengan jamaah. Kami bergabung, sampai kemudian adzan Isya berkumandang. Setelah sholat, beberapa menit pengajian, kamu pun pamit. “Adakah pesan untuk kami, Kyai?”, salah seorang dari kami bertanya. Saya tak begitu jelas dengan teks arabnya, namun dalam bahasa Indonesia, Pak Kyai menyampaikan bahwa “keikhlasan dan konsistensi pada kebaikan akan mengantarkan kita pada kesuksesan”.

###

Kami kembali ke penginapan. Di masjid tampak teman-teman sudah berkumpul. Di luar dugaan, kami dikunjungi oleh pengurus fakultas. Satu per satu, mewakili departemen, teman-teman menyampaikan testimoninya terkait kegiatan yang dilakukan, dan apa yang dirasakan selama hampir 3 hari itu.


###

Agar tidak menyesal ketika telah mati
“Agar tidak menyesal ketika telah mati”, merupakan kalimat kunci, atau ringkasan selama kegiatan 3 hari.  Meskipun kita semua belum merasakan mati, namun dengan melihat proses kehidupan manusia sejak sebelum lahir, maka ada pelajaran yang bisa dipetik. Apa yang penting untuk kehidupan bayi yang masih dalam alam kandungan, menjadi tidak penting ketika telah lahir di dunia. Demikian pula, apa yang dianggap penting ketika hidup di dunia, bisa menjadi tidak penting setelah meninggal. Maka menyeimbangkan apa yang saat ini penting, dengan apa yang nanti (setelah meninggal) dianggap penting, menjadi penting untuk diperhatikan.

Dunia yang dialami sejak di alam kandungan, dunia, dan setelah mati memiliki 3 perbedaan: luasnya berbeda, lamanya berbeda, serta kebutuhan pokoknya berbeda. Di alam kandungan kurang lebih hanya 9 bulan 10 hari, dengan luas alam yang paling sempit. Alam dunia setelah lahir lebih luas, juga lebih lama. Ada yang usianya belasan, puluhan atau bahkan ada yang di atas seratusan tahun. Alam setelah mati, akan lebih luas dan lebih lama lagi.

"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan. (Qs. Al Mu'minuun : 99-100)

Oleh karena itu, jangan sampai setelah meninggal, merasa kekurangan bekal (yang ketika hidup tidak dianggap penting), sehingga minta dihidupkan lagi ke dunia untuk mencari bekal tersebut. Tentunya itu sudah terlambat. Kita harus mampu membedakan beberapa kategori nikmat, sehingga bisa memilah dan mengusahakannya secara berimbang sebagai bekal kehidupan berikutnya.

Nikmat dunia, merupakan nikmat yang paling rendah derajatnya. Di atasnya ada nikmat sehat. Ketika tidak memiliki kesehatan (sakit), orang berani mengeluarkan sebanyak-banyaknya nikmat dunia (harta), agar kembali sehat. Seorang karyawan yang sakit, akan diberi ijin (dimaklumi) untuk tidak masuk kerja. Ini juga bukti bahwa nikmat sehat itu begitu berharga, dan kedudukannya di atas nikmat keduniaan.

Nikmat tertinggi adalah kenikmatan iman. Orang yang meletakkan nikmat iman di atas nikmat dunia dan kesehatan, dan mau berusaha agar keimanannya selalu meningkat, maka nikmat dunia dan kesehatan akan datang dan menentramkannya.

###

Benang merah di dunia kerja
Menyadari dan mengusahakan amal untuk bekal hidup setelah mati, bukan berarti meninggalkan proses usaha selama  hidup di dunia. Umur itu amanah, maka selama umur itu masih ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Memiliki pekerjaan, sebagai karyawan maupun pekerjaan lain, juga merupakan posisi “mumpung” yang harus dimanfaatkan. Mumpung kerja, maka kita harus memaknai kerja kita dengan pemaknaan luas. Pada proses kerja kita sehari-hari ada bagian yang rewardnya untuk dunia, misalnya: gaji, bonus, pangkat dan semacamnya. Namun kita juga harus memperluasnya agar juga memiliki reward sebagai tabungan di akherat. Reward untuk tabungan akherat ini lebih berat usahanya, karena dia akan berwujud pengorbanan dan keikhlasan: pengorbanan untuk ikhlas, pengorbanan yang ikhlas untuk berbagi ilmu, pengorbanan dan ikhlas untuk tunduk pada aturan yang berlaku, jujur dan lainnya.

Meningkatkan performa kerja berlandaskan keimanan, berarti memiliki kinerja yang tidak dibatasi oleh “ketakutan” pada pimpinan. Namun, karena kepatuhan pada pimpinan dan aturan sebagai bagian dari kewajiban yang diberlakukan pada dirinya sebagai makhluk, dilandasi pada proses menjalankan peran pribadinya sebagai manusia, di tengah dan bersama manusia lainnya.

Bersambung ke tulisan berikutnya: http://www.purwo.co/2018/02/rekreasi-yang-sesungguhnya-3-habis.html
Sambisari, Selasa Wage 13 Februari 2018
06.17 pagi

Monday, 12 February 2018

, ,

Akhirnya, sop daging itu meruntuhkan kekhawatiran kami (1)


Purwo.co - Kami harus merasa menjadi orang beruntung. Karena, pada dasarnya memang demikian, bukan hanya kami, namun semua orang dalam posisi beruntung. Kami berduapuluh enam, berangkat mengikuti program dari FT UGM bertajuk outbond spiritual. Dilihat dari daftar acara, kami akan dihadapkan pada sentuhan spiritual terkait pribadi kami: belajar agama, ibadah dan semacamnya.

Kegiatan ini bisa disebut baru. Selama saya bekerja, ya baru kali ini ikut kegiatan semacam ini. Biasanya tamasya, diselingi outbond di lokasi wisata. Namun kali ini berbeda. Setelah melalui perjalanan yang lumayan membuat deg-degan, naik turun bukit,  terkadang kendaraan yang kami tumpangi harus antri ketika menemukan tanjakan tajam atau merambat pelan karena harus melewati turunan tajam,  kami sampai di sebuah perkampungan. Perkampungan di lereng bukit, dengan hamparan lahan pertanian pada kemiringan 80 derajat. Sebagian siap panen, sebagian siap untuk ditanami sayuran.

Rumah-rumah di perkampungan ini saling berdekatan dan sebagian besar beratapkan seng. Hanya beberapa saja yang jaraknya cukup jauh dari rumah lainnya. Sedangkan jarak antar kampung cukup jauh, serta harus ditempuh melalui jalanan yang naik turun. Pemandangan yang hijau, perbukitan yang tampak berdiri gagah menjadi pemandangan begitu memesona. "Pemandangan inilah yang akan melengkapi kegiatan kami selama 3 hari", fikir saya. Air yang mengalir deras, bening dan terasa dingin menjadi pelengkap keindahan. Berharap, kami akan dapat waktu yang cukup untuk menelisik lebih jauh pemandangan indah ini.

Warga hilir mudik dari tegalan, berjalan atau menggunakan kendaraan bermotor. Kaki-kaki kokoh mereka menjadi bukti, bahwa mereka telah menjalani kegiatan itu sejak lama. Menyusuri jalan yang menurun, dengan sepatu boot yang mereka kenakan, menambah kesah kokohnya kaki-kaki mereka. Pupuk, hasil panen, atau rumput makanan ternak tampak mereka bawa. Senyum dan salam, selalu tersungging di wajah ketika kami berpapasan.  Hawa dingin sore itu cukup terasa, meskipun tidak begitu ekstrim. Berharap jaket yang saya bawa, bisa cukup menahan hawa dingin nanti malam.


###

Kami sampai di lokasi pukul 13.30. Beberapa orang dengan  ramah menyambut kami. Ada dua rumah yang disiapkan untuk kami, agaknya rumah penduduk yang dikosongkan sementara. Lokasinya berdampingan, di selatan masjid. Masjid ini sepertinya akan menjadi pusat kegiatan "spiritual" selama di lokasi.


"Yang ahli hisab di bawah, yang tidak hisab di atas ", suara itu cukup jelas terdengar. Sayapun kembali naik menuju rumah bagian atas, padahal sudah sampai di rumah yang ada di sisi bawah. Maklum, saya bukan "ahli hisab". Saya agak paranoid dengan asap rokok. Di kampung saya, kalau pulang ronda dan baju saya bau rokok, maka malam itu saya harus siap tidur sendirian.

Pembagian ini hanya untuk mempermudah saja, agar kepentingan "ahli hisab" dan yang bukan, tetap terakomodir. Kebijakan pembagian untuk menjaga toleransi: yang merokok menghormati perokok, yang tidak merokok juga mempersilakan yang merokok untuk merokok di tempat terpisah.

###


"Monggo istirahat dulu, nanti sholat tahiyatul masjid, kemudian kita makan bersama",  seru seorang panitia yang cukup saya kenal. "Siap, cocok Pak", begitu jawab teman-teman ketika mendengar informasi "makan"  dari panitia.  Seolah telinga dan perut kami sudah janjian untuk transfer informasi, jika ada kabar tentang waktu makan. Nasi gudeg yang kami makan ketika perjalanan, tampaknya tak lagi mampu mengganjal perut kami.

Kami menuju masjid, ambil air wudlu, kemudian sholat tahiyatul masjid, sesuai arahan panitia. Setelah itu kami bersiap makan bersama. Bau khas itu begitu terasa. "Kayake daging, Kang", bisik saya. Benar. Hidangan sop daging sapi, nasi putih, sambel, kecap, dan krupuk terhidang di ruangan masjid. Kamipun duduk berhadap-hadapan dan mulai makan bersama.  Ya, guyonan pun terkadang terlontar selama kami makan. Seorang kawan yang duduk di depan saya agaknya nambah beberapa kali. Sayapun demikian. Teman-teman yang ketika perjalanan sempat istirahat dan mampir di angkringan, agaknya juga sama, makan dengan lahapnya.

"Ini, siapa mau nambah sop?", panitia datang sambil membawa panci berisi sop. Kami pun menyambutnya. Makan sop di mangkuk yang telah habis sop-nya. Benar-benar kenikmatan yang luar biasa.

Selain di luar dugaan, sop daging sapi ini benar-benar kami nantikan. Di luar dugaan, karena kami tak menyangka, kami akan mendapatkan sop daging sebagai menu makan pertama di tempat ini. Sebagian dari kami mengira akan mendapatkan makanan yang seadanya, dan dalam jumlah yang terbatas. Sop daging yang kami santap sore itu, meruntuhkan kekhawatiran kami.

Berikutnya, selama tiga hari kami disuguhi menu yang tetap di luar dugaan. Jumat ketika sampai lokasi kami disiguhi sop daging sapi, malamnya tongseng. Sabtu pagi ada sajian bubur plus roti kemudian disambung sarapan nasi pecel, makan siang sayur lodeh lauk bandeng, tempe dan lempeng. Kemudian makan malam di hari Sabtu itu ditutup dengan nasi kebuli. Pada hari Minggu pagi, sebelum ke arena tubing kami sarapan lauk ikan bawal, sedangkan makan siang soto ayam kampung. Ketika pulang, kami diberi nasi box lauk daging. Oia, ada pesta duren pula di minggu siang sepulang dari tubing.

Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?  (Q.S. Ar-Rahman 55)

"Sekarang silakan istirahat, nanti kumpul ketika Ashar. Kegiatan kita mulai selepas Ashar", demikian seru panitia. Agaknya beliau memang menjadi penghubung antara kami, para peserta, dengan pemateri.

Kami pun istirahat.

####

Adzan pertanda masuk waktu Ashar berkumandang. Suara adzan yang tidak asing bagi kami. Ternyata, salah satu diantara rombongan kami lah yang menjadi muadzin. Suaranya memang sering terdengar di mushola kampus. Kami bergegas mengambil air wudlu, kemudian masuk masjid. Seperti disetel otomatis, melihat jamaah lain sholat dua rakaat, kamipun mengikuti.

Bersambung...

Tulisan terkait berikutnyahttp://www.purwo.co/2018/02/agar-tidak-menyesal-ketika-mati-dan.html

Sunday, 21 January 2018

Formasi pustakawan utama: pandangan Paijo dan Karyo

Jembangan, wadah banyu
Purwo.co -- Karyo, pustakawan ndeso yang kini mencoba menjaga jarak dengan berbagai isu perpustakaan itu, ternyata takdirnya harus tahu juga beberapa info terkini kepustakawanan. Sebenarnya, dia sudah mencoba memotong beberapa aliran informasi pada beberapa grup agar bisa konsentrasi. “Aku pengen ngedemke pikir”, suatu ketika Karyo ngomong sama Paijo. Agaknya Karyo ingin konsentrasi pada perpustakaan yang dia kelola, namun tidak dengan aliran informasi yang tanpa batas. Cukuplah disaring, sesuai dengan kebutuhan, yang datang sesuai waktunya. Dengan cara tersebut, Karyo berharap bisa konsentrasi pula pada peran pribadinya sebagai manusia.  Ngedemke pikir, demikian istilah yang disampaikan Karyo. “Ben ayem lan tentrem. Ngono, Jo”, Karyo menjelaskan.

Namun informasi itu akhirnya sampai pula pada telinga Karyo. Informasi  tentang formasi pustakawan utama, sebuah jenjang tertinggi karir pustakawan, yang kabarnya tidak ada (dihilangkan) di perpustakaan kementrian tempat Karyo bekerja. Selain informasi di forum obrolan tak resmi, informasi tersebut ada di website perpustakaan nasional. Pada web tersebut, Karyo membaca, bahwa peraturan menteri lah yang menjadi dasar resmi tidak adanya formasi pustakawan utama. Alasan mendasarnya tidak disebutkan, kecuali hasil evaluasi jabatan.

Karyo dan Paijo ngobrol tentang isu tersebut, malam-malam sambil menikmati gorengan dan kopi tubruk. Sama seperti biasanya, kadang serius, kadang guyonan. Bagi mereka, yang penting uneg-uneg bisa dikeluarkan. Los, plong.


Obrolan mereka, biasanya ingin mencoba mencari sudut pandang lain. Sudut pandang mlipir pinggir, dengan tanpa memaksakan kehendak pada keadaan. Tujuannya sederhana: urun pikir, namun tidak ingin terbawa arus, siap pada perubahan keadaan, dengan harapan tetap tenang, ayem dan tentrem. Tentunya, mereka tetap menghormati pandangan lainnya.

Ujian solidaritas pustakawan
“Ini tentang solidaritas juga, Jo”, Karyo berkata. “Ketiadaan ini, justru menjadi ruang pembuktian, sejauh mana solidaritas para pustakawan”, lanjut Karyo. Meskipun tidak adanya jenjang pustakawan utama tersebut hanya di kementrian tertentu, namun seharusnya yang bersikap itu semua pustakawan dari semua kementrian. Karena hal ini akan menunjukkan solidaritas mereka. Kalau di kementrian lain adem ayem saja, dan terkesan menganggap “itu urusan dapur samping, dapur saya mah aman saja”, maka ini sudah mengindikasikan ketidaksolidan pustakawan. Karyo menjelaskan panjang lebar terkait aspek solidaritas ini pada Paijo.

Selain itu, juga solidaritas antar berbagai tingkatan pustakawan. Apakah para pustakawan yang masih jauh dari tingkatan pustakawan utama juga peduli, atau mereka tidak begitu terpengaruh pada isu tersebut?. Karena akan terasa aneh, jika pustakawan yang masih jauh dari strata pustakawan utama ini tidak bersuara. "Bukankah jenjang pustakawan utama itu jenjang tertinggi, cita-cita para pustakawan, seperti halnya guru besar bagi para dosen? Jangan-jangan mereka tidak tertarik", sambung Karyo.

Tak kalah penting pula, ini ujian solidaritas antar organisasi profesi pustakawan, baik perguruan tinggi, maupun yang lainnya. Paijo mengangguk, tanda dia memahami apa yang disampaiakan Karyo.

Nah, sekarang kita lihat, apa sikap resmi mereka?

Pindah kementrian
“Kabarnya, jika ingin menjadi pustakawan utama, bisa pindah ke kementrian lain”, Paijo menyela penjelasan panjang lebar Karyo. Karyo pun menimpali, bahwa jika di kementrian lain masih dimungkinkan ada pustakawan utama, maka sebenarnya solusinya memang mudah. Ya, tinggal pindah saja ke kementrian samping. Hal ini juga akan menunjukkan betapa rendah hatinya para pustakawan yang telah mencapai pustakawan utama tersebut.  Meskipun, pindah kementrian pastinya perlu proses, perlu waktu, perlu kemauan dan aturan yang memudahkan agar para pustakawan utama ini tidak terkatung-katung, dan segera bisa menjalankan perannya sebagai pustakawan utama.

Sebagai seorang pustakawan paripurna, mereka elastis, pinter mekrok, mungker mengkeret, menyesuaikan diri di manapun berada. Bahkan jika untuk menyandang predikat puncak pustakawan itu, dia harus pindah ke kementrian lain. Pada kementrian baru ini, justru dia akan punya peran lebih banyak, lebih berbobot, lebih menantang. Dia bisa membina pustakawan-pustakawan di lingkungan barunya, untuk bisa lebih maju, minimal seperti pustakawan di kementrian yang ditinggalkannya.

Paijo: “Bukankah dengan demikian, maka sebaran pustakawan berkualitas akan lebih merata, ya?”
Karyo: “ya sepertinya demikian, Jo”.

Kesimpulan kementrian yang meniadakan pustakawan utama, pasti ada dasarnya. “Jo, apakah perpustakaan perguruan tinggi tanpa pustakawan utama bisa maju?”, demikian Karyo bertanya ke Paijo. Meski wajahnya ndeso, Paijo ternyata rajin berjalan-jalan di dunia maya, di internet. Banyak perpustakaan yang Paijo “kunjungi”, dan ternyata banyak yang bagus, padahal tak ada pustakawan utama-nya. Malah, pustakawannya masih muda-muda. “Bisa saja, Kang!”, Paijo menjawab.

Filosofi kutang dan isinya
"Menganalisis jabatan pustakawan utama, bisa dianalogikan seperti kutang dan isinya", Karyo melanjutkan. "Lho, lho..... jangan sembarangan, Kang!!. Kok tidak sopan dan menyepelekan begitu sampeyan. Kalau didengar kaum ibu-ibu, bisa jadi masalah, Kang!", Paijo menjawab dengan intonasi agak naik.

"Ini pengibaratan tingkat tinggi, Jo. Ora saru, dan bukan sembarangan, serta justru menempatkan pustakawan utama pada posisi terhormat. Kutang itu penyangga, penutup. Kemudian isinya merupakan sarana saluran asupan pertama makanan bagi pertumbuhan bayi. Ini klop filosofinya, ditambah lagi keduanya melekat pada seorang Ibu,  guru pertama bagi anaknya, yang mendidik anaknya dengan kasih sayang",  Karyo menjelaskan secara hati-hati agar Paijo memahaminya.  "Jadi semacam trilogi 'kutang-isinya-sosok Ibu'. O, kalau begitu fungsi kutang menjadi sangat terhormat yo, Kang?", Paijo menyahut penjelasan Karyo dengan intonasi yang sudah menurun. "Iya, benar. Namun ingat, isi kutang akan berfungsi bagi bayi, ketika tidak dibungkus. Ini ada filosofinya juga, Jo", demikian tambah Karyo.


Relasi pustakawan dan pemustaka, ibarat relasi ibu dan anaknya. Pustakawan menjadi ibu, salah satu yang membimbing bagi orang yang haus dan perlu asupan ilmu.

### 

Status "pustakawan utama" itu bungkus, maaf, ibarat kutangnya. Peran si pustakawan itulah yang menjadi isi kutangnya. Ya, bungkus memang perlu, penting, kudu dijaga agar isinya tetap bisa menjalankan perannya dengan baik, sebagai sarana pertumbuhan seorang bayi. Kutang menjalankan peran yang signifikan. Namun, jika tak diberi bungkus, jangan kemudian langsung menyimpulkan bahwa pemilik isi kutang itu pelit. Mungkin karena dia akan menyusui, karena fungsinya akan lebih leluasa bagi pertumbuhan bayi yang menyusu, justru ketika tanpa bungkus. Peran manusia akan lebih sempurna dan memiliki tingkat keikhlasan tinggi, ketika atribut-atribut keduniawian itu dilepaskan, disingkirkan lebih dahulu.
Sama dengan pustakawan utama, dia (tetap) bisa menjalankan substansi "utamanya", (meski) tanpa bungkus pustakawan utama. 

###
Paijo: "Oo, jadi untuk memahami filosofi kutang dan isinya dikaitkan dengan pustakawan utama, memang perlu sudut pandang yang berbeda dari  biasanya difikirkan orang, ya".
Karyo: "iya, Jo. Bukankah segala sesuatu itu adalah sebuah pelajaran bagi kita, asal mau menelaahnya?"

###

Obrolan malam itu terasa nikmat. Paijo dan Karyo memang berusaha mencari sudut pandang lain dari masalah jenjang pustakawan utama di kementriannya. Sudut pandang yang mencerahkan, menenangkan, sudut pandang yang dapat menjadikan mereka siap atas berbagai konsekuensi masa depan pekerjaan mereka sebagai pustakawan. Mungkin sisi pandang mereka berbeda dengan yang lainnya, mereka menghormati semua cara pandang. Namun, Paijo dan Karyo merasa perlu cara pandang seperti yang baru saja didiskusikan agar bathin mereka tenang.

Apakah Paijo dan Karyo tidak ingin berjuang untuk martabat profesinya?. Paijo dan Karyo memang aneh, mungkin dia juga berjuang, namun dengan caranya sendiri, sesuai dengan pemaknaan "martabat profesi" yang dipahaminya. Itu hak dia, sebagaimana dia menghormati hak atau pandangan orang lain.

“Yang pasti, kita doakan saja, semoga segera ada solusi terbaik untuk semuanya. Yang sedang berjuang, segera didekatkan dengan hasil perjuangannya. Namun, kita yang masih muda-muda ini, kudu siap dengan berbagai perubahan, owah gingsiring kebijakan yang digariskan para pangemban pangembating projo”, Karyo menutup pembicaraan. “Iyo, Kang. Tak melu kowe wae. Saiki piye carane amrih ayem tentrem urip lan pikire”, Paijo menjawab dilanjutkan dengan menyeruput kopi tubruk di hadapannya.


Sambisari, 21 Januari 2018
06.46 pagi

note: perpaduan analogi "kutang dan isinya" sudah ada sebelumnya di dunia maya. Namun, saya telusuri, kesimpulan saya, penulis yang tertulis di tulisan tersebut bukan penulisnya. Oleh karena itu, nama penulis tidak saya sebutkan dalam note ini.

Thursday, 11 January 2018

Konferensi ala wong ndeso

Persiapan ewuh
Purwo.co -- Ini cerita tentang sebuah konferensi, konferensi ndeso. Yang kami bahas memang bukan topik wah khas para intelektual di IFLA, CONSAL atau semacamnya. Tapi Ini juga konferensi.

Call for paper kami sederhana. Cukup dari gethok tular, atau lewat kumpulan ronda kampung, atau ketika ketemu pas pulang dari tegalan. "Kang, sesok sore kumpulan nang nggone Kang Noyo". Peserta pun datang.

Menjangkaunya pun, tak perlu pesawat, atau proposal sponsor. Jalan kaki pun cukup, bahkan tanpa alas kaki kami dapat menjangkaunya, dan itu sah. Dekat, hanya di rumah Kang Noyo yang jaraknya cukup dekat.  Ya, di rumah Kang Noyo, bukan di hotel. Hanya di depan rumah, di pelataran, tak ada kursi empuk, sekedar tanah, atau konblok. Kami ngebrok.

Yang menemani, memang bukan menu mewah ala hotel, bukan. Jauh dari itu. Hanya kacang goreng, telo bakar, kalau beruntung bisa dapat perpaduan jadah-tempe ndeso, ditemani teh panas yang airnya dimasak menggunakan perapian kayu atau bathok kelapa.

Yang kami bicarakan tanah garapan, jagung atau padi yang sedang mrekatak. Atau tentang Kang Suto yang akan punya gawe mantu anak perempuannya. Atau, tentang sungai samping rumah yang mulai mengalir. Kami bahas bagaimana cara terbaik memanen jagung dan padi, bagaimana cara membantu bot repote Kang Suto, atau bagaimana teknik mengelola sungai untuk pengairan. Tema besarnya tentang kebersamaan, tentang paseduluran, tentang hidup ayem dan tentrem.

Ini juga konferensi, lho. Bersama sedulur kampung.

Teh, pacitane jagung goreng walang goreng
Jangan salah, konferensi kami juga menghadirkan profesor. Profesor pertanian, profesor paguyuban, mantenan. Profesor kami memang bukan dari perguruan tinggi, dengan dandanan parlente, membawa laptop dan bicara dengan diksi ilmiah. Profesor kami merupakan profesor lulusan universitas kehidupan, yang dididik di hutan, di sungai, di tegalan, di kehidupan masyarakat. Pilihan kata yang digunakan juga bahasa sehari-hari. Yang dibawa juga bukan laptop, namun sepaket udud lintingan lengkap dengan klembak menyan.
profesor tata kelola air, profesor

Hasil konferensinya tak dimuat di prosiding ber-ISBN, terindeks Scopus, atau jurnal internasional, tapi dimuat dalam memori kami masing-masing. Tak ada presenter terbaik pada konferensi kami, karena semua presenter terbaik.

Konferensi kami menyenangkan. Ayem, tentrem.


Wednesday, 3 January 2018

, ,

Digilib Cafe Fisipol UGM: cafe, co-working space, perpustakaan

Karyo, pustakawan berusia 30-an tahun itu hendak mencoba minum di cafe. Kabarnya, ada cafe baru di seputar tempat dia bekerja. DIGILIB Cafe, karena ada "lib"-nya (lib, library), maka naluri kepustakawanan Karyo terusik. Setelah memastikan ada uang di dompet, serta masih ada saldo di e-money, dia ajak temannya, menuju cafe yang dimaksud. Niatnya ngopi + studi banding.
### 

Caffe Latte, yang juga dipesan Jokowi
Purwo.co -- Awal tahun ini, atas nama Ketua Forum Pustakawan UGM saya pernah diminta datang ke Fisipol untuk mendengarkan presentasi terkait pengembangan perpustakaan FISIPOL UGM. Menarik. Semua digital. 

Beberapa waktu kemudian, ketika saya bersepeda dari FT ke Perpustakaan Pusat, lewat sebelah barat FISIPOL saya melihat ada plakat nama DIGILIB-CAFE pada gedung FISIPOL yang hendak dijadikan perpustakaan. "Lah, sekarang ada cafenya?", saya setengah kaget. Beberapa hari kemudian, ketika acara puncak Dies UGM, setelah memberikan kuliah umum di Ghra Sabha Pramana, Presiden Jokowi mampir di Digilib Cafe ini.

Saya berfikir, konsep pidato kuliah umum Presiden memang agak nyrempet dengan konsep Digilib Cafe-nya Fisipol UGM. Benar saja, ketika saya, Mas Bagus dan Kang Arizal (barrista dan juga mahasiswa pasca Geologi UGM) datang ke Cafe ini, disuguhi dengan video kedatangan Presiden bersama menteri, rektor, gubernur dan pejabat lainnya. Ngopi bareng, kurang lebih demikian. Eh, sebenarnya kami hendak berempat dengan Pak Alfa, mahasiswa S3 FT UGM, namun batal.

Kami berkunjung untuk studi banding, serta mencoba merasakan langsung ketemu barista, ngobrol kemudian merasakan sensasi memesan kopi dan makanan, menikmati sambil ngobrol di dalamnya. “Apa benar ketika ngopi, khususnya di café bisa meningkatkan kreatifitas, memunculkan ide-ide segar dan orisinil?”. Itu yang ingin saya buktikan.

### 

di depan racikan kopi
Sebenarnya, cafe di perpustakaan sudah ada di beberapa tempat. Kafe yang cukup populer di kalangan pustakawan yaitu Kafe Pustaka di Universitas Negeri Malang. Kafe ini memiliki jargon "Kate nengdi, Bro? Ngopi kene lho, iso pinter: Sembari Ngopi Membangun Literasi". Ngopi, konon kependekan dari "ngobrol - pinter", begitu yang saya pernah dengar langsung dari Kepala Perpustakaan UM, Prof. Djoko Saryono. Ngobrol, diskusi, seminar juga bagian dari pustaka, bedanya dengan buku hanya pada wadahnya saja. Kalau buku, wadahnya kertas-kertas, kalau seminar maka wadah ilmunya ya kepala-kepala itu. "Diskusi dan seminar adalah bentuk dari pustaka juga", ini juga ungkapan dari Prof. Djoko. 

Ada beberapa acara di kafe ini; kudap buku, konser mini, baca puisi dan lainnya terkait dengan literasi. 

###

Digilib cafe di FISIPOL UGM, sejauh yang saya tahu merupakan cafe terbaru di perpustakaan, menyusul cafe lain yang sudah ada di perpustakaan. Pada gedung yang ditempati, cafe berada di lantai 2, lantai 1 untuk bank. Informasi yang saya peroleh, lantai 3 nantinya diproyeksikan untuk co-working space, dan lantai paling atas untuk perpustakaan. Saat kami datang, baru lantai 1 dan 2 saja yang difungsikan. 


melihat dan menunggu kopi diracik
Memasuki gedung tempat cafe ini berada, kami disuguhi dengan baliho besar yang memperlihatkan konsep besar dari co-working space yang dibangun FISIPOL. Kemudian pada pintu masuk terdapat tempat selfie dengan gambar yang kekinian. Sebelum masuk menuju lantai 2, terdapat mesin ATM yang siap memberi sangu sebelum ngopi. Ya, untuk jaga-jaga, siapa tahu ada yang lupa bawa uang, atau lupa ngetap e-money-nya. Kan malu pas mau bayar kok ndak bawa uang.. Eit, jangah salah, ding. Bisa bayar secara cashless, kok. Tinggal gesek.

### 

Sampai dilantai 2, barista sudah siap menunggu, menyapa dengan ramah. Saya ketemu dua orang, satu mahasiswa satunya lagi bukan. Dengan sok nggaya dan sok akrab, saya terus terang bahwa saya tak tahu menahu tentang kopi, "apa yang direkomendasikan, mas?". Pertanyaan to the point untuk menutupi keawaman saya pada dunia kopi. Akhirnya beberapa gambar menu kopi diperlihatkan kepada saya. Menu tersebut ada di tablet SAMS***, tinggal geser kiri kanan saja. Bukan hanya kopi, namun juga ada nasi goreng, mi, roti dan lainnya.

ngopi ala orang kaia
"Ini kopi yang kemarin dipesan Pak Jokowi, Mas. Kalau ini pakai susu, ini agak pahit....". Dengan PD saya pesan, "Saya pesan yang sama dengan pesanan Pak Jokowi, ya". Ini sesungguhnya strategi saya saja, sekali lagi agar tidak begitu ketahuan kebodohan saya tentang perkopian. Saya pesan coffe latte, dan mi goreng. Mas Bagus, teman saya pesan single origin. Sebenarnya saya ngrasani, "kok namanya pakai bahasa asing, ya?. Mbok namanya itu pakai bahasa jawa. Kopi ireng, kopi aseli, kopi jahe, atau apalah". 

### 

Latte yang saya pesan disajikan dalam cangkir, ada buihnya (foam), kemudian tercetak hiasan daun di atasnya. Istilah yang tepat saya tidak tahu, pokoknya kayak gitu. Sementara Single Origin disajikan dengan 3 gelas: cangkir untuk hasil seduhan kopi, cangkir kopi untuk minum, serta air putih untuk menetralkan, ketiganya diletakkan di atas beki dari kayu. Air kopi ini defaultnya pahit, dan disediakan gula yang bisa ditambahkan sendiri.

Sementara, Kang Arizal yang datang lebih dulu memesan kopi sama roti. Nama menunya saya tidak tahu. Dia juga menyiapkan beberapa bijih kopi yang belum dihaluskan, yang kadang langsung digigit alias dikletak (jawa) begitu saja. Pahit, mungkin. Tapi kayake enak. "Saya sudah terbiasa menikmati kopi tanpa gula", katanya. Kang Rizal ini pernah beberapa tahun di Brazil, bekerja. Sehingga tahu banyak tentang kopi.  "Brazil merupakan negara penghasil kopi", demikian katanya. 

##

Ketika kami masuk, hanya ada 2 meja dipakai. Cafe ini sepi karena mahasiswa belum kuliah aktif. Beberapa dosen, kemudian ada yang datang, memilih menu, kemudian mencari kursi sendiri. Saya sempat ketemu dengan salah satu dosen FISIPOL yang pernah ngajar saja ketika kuliah, namanya Bu Hermin. Teman-teman yang sering mendengarkan RRI (Radio Republik Indonesia), pasti pernah mendengarkan suara beliau membawakan tema analisis terkait komunikasi. Beliau dosen Ilmu Komunikasi. Setelah saling menyapa dan berbasa-basi, kamipun melanjutkan agenda masing-masing.

###

tablet, menampilkan menu untuk dipesan
Harga makanan dan minuman di cafe ini, menurut Kang Rizal yang juga seorang barista, relatif murah dan terjangkau. Namun jika dibandingkan dengan ngopi di angkringan, ya jelas murah di angkringan. Karena saya memang penasaran, ya tetap saya bayar. Latte yang saya minum dihargai Rp.18.000, sementara single origin dihargai Rp.13.500. Untuk mie goreng di harga Rp.18.500 ribu per porsi.

Suasananya cafe ini nyaman. Ada kelompok meja dengan 2 kursi atau 4 kursi yang terbuat dari kayu, kursi sofa simple yang cukup nyaman untuk duduk. Ada pula ruang tertutup dengan sekinar 10 kursi mengitari meja + papan tulis.  Ruang ini bisa untuk rapat/diskusi dalam jumlah 10-an orang. Lantai 1, 2,3,4 dihubungkan oleh tangga tangga di sisi sebelah pojok tenggara. Langit-langit tiap lantai merupakan cor beton, sehingga aktivitas antar lantai tidak akan saling mengganggu. Fungsi ruang pada tiap lantai akan terjaga.

Pada bagian tengah ada panggung kecil, dengan desain agak tinggi dari lantai lainnya + latar belakang bertuliskan DIGILIB-CAFE lengkap dengan logo cangkir

di pintu masuk
Kami ngobrol ngalor ngidul. Kang Rizal banyak bercerita tentang perkopian di Jogja, pengalamanannya menjadi barista, pergeseran cara belajar mahasiswa jaman sekarang, dan pemanfaatan kopi + cafe untuk kumpul dan bertukar ide. "Mahasiswa sekarang perlu tempat yang bisa bebas ngobrol. Cafe + kopi menjadi paduan yang pas saat ini. Trend perkopian konsisten naik di Jogja", demikian Kang Rizal bercerita. 

Tak ketinggalan, Kang Rizal juga mengajari kami cara minum kopi. Jian, tak kira tinggal minum saja. Ternyata, misalnya pesanan Single Origin yang karena cara minumnya berbeda, maka harus menggunakan 3 gelas dengan fungsi masing-masing. Latte pesanan saya, karena tak mau repot, gula langsung saya tuang, saya aduk, lalu minum. Ora nganggo repot

Memang benar, ketika ngopi, rasanya plong“Mak pyar”, seperti komentar konco ronda setelah nyeruput kopi yang dibawa Kang Gimin, teman ronda juga. “Mak pyar”, juga saya rasakan setelah menyeruput kopi latte yang baru saja saya pesan, apalagi ketika masih panas. Harganya yang mencapai lebih dari harga makan malam + minum berdua di angkringan Kang Bayat, yang sempat membuat saya kaget, sudah terlupakan bersamaan dengan sruputan pertama. Pokoknya majas, sakti sekali kopi ala café ini untuk menghilangkan beban hidup, apalagi beban utangan. Ilang babar blas.


poster besar di depan pintu masuk


ruang pertama setelah pintu


tangga

 
panggung dalam cafe


"It's more than cafe. It's a coworking space for creativity", demikian jargon yang tertempel di beberapa sudut cafe ini. Ada juga "turn on your ideas". Konsep cafe ini, perpaduan cafe, co-working space dan perpustakaan untuk mendorong munculnya ide-ide dari siapapun, serta tempat berkumpulnya orang-orang yang membawa ide tersebut sehingga dimungkinkan adanya kolaborasi positif antar mereka. Mau mendiskusikan ide secara santai, ke cafe. Mau mengerjakan ide tersebut bersama-sama, bisa ke co-working space. Dan jika perlu referensi dari ide yang hendak dieksekusi, tersedia perpustakaan.

Begitulah cafe jaman now, perpustakaan jaman sekarang, cara belajar mahasiswa jaman sekarang, trend perpusakaan jaman sekarang. Semua perlu biaya, baik membuatnya, maupun membeli kopinya. Sediakan uang yang lebih dari yang biasanya digunakan untuk membeli kopi instant, jika anda ingin menikmati kopi dan suasana cafenya. 


###

Karyo membuka dompet, menyodorkan kartu e-money untuk membayar. Di nota tertera Rp.31.500 untuk dua kopi yang gelasnya lebih kecil dari gelas yang biasa dia pakai ngopi di rumah. Diapun ingat lagi ketika sore-sore mampir angkringan Kang Bayat. Cukup Rp.18.000-an sudah bisa makan nasi piring dengan lauk sate dan beberapa gorengan  + minum jeruk anget, itupun berdua dengan istrinya. Karyo terbayang wajah istrinya. "Maafkan aku, istriku", Karyo membisik. Nota itu buru-buru dimasukkan ke kantong tersembunyi, agar istrinya tidak tahu, bahwa dia baru saja menghabiskan jatah ngangkring 2 x, untuk sekali ngopi. Namun, sejurus kemudian Karyo ingat, bahwa niatnya studi banding. "Ah, nanti saya beralasan ini biaya studi banding saja. Aman.."

Karyo merenung, apa iya untuk mengeluarkan ide kreatif harus mengeluarkan uang lebih besar dari biaya ngangkring malam malam, berdua dengan istri di angkringan Kang Bayat dekat rumah?. Rp.18.000-an sudah dapat nasi piring lauk pecel dua porsi, jeruk atau teh anget, lawuh sate plus beberapa gorengan. "Ah, kayake saya milih mencari ide kreatif dengan cara tradisionil saja, 
nang angkringan, atau sambil nyambel bawang, sambel kepik, atau lawuh putul goreng. Wedange degan yang metik dari depan rumah. Hora level yen nongkrong di cafe. Hora popo yen ora disebut kekinian". Karyo milih mikir kepenak, ayem luwih penting bagi Karyo.



Sekip, 3 Januari 2018
15.56

Info lainnya tentang cafe di perpustakaan:
  1. http://fisipol.ugm.ac.id/news/kunjungi-digilib-cafe-jokowi-akhirnya-ketemu-creative-hub-di-fisipol/id/
  2. http://surabaya.tribunnews.com/2017/05/31/asyiknya-ngopi-literasi-ala-kafe-pustaka
  3. http://www.unsyiah.ac.id/berita/perpustakaan-unsyiah-sediakan-warkop




Tuesday, 2 January 2018

, , ,

Refleksi 5 tahun di Perpustakaan FT UGM

Paijo: "Kang, tak terasa sudah 5 tahun, yak?"
Karyo:  "Tak terasa bagaimana, wong cepet banget kok. Ya, memang kadang juga terasa lama

Paijo dan Karyo sedang rerasanan, grenengan tentang kerja mereka dalam mengabdi pada negara. Kabarnya, orang bekerja itu ada 3 tingkatan: batur, rewang dan abdi. Abdi itu seperti seorang prajurit kraton, yang berharap ada perbaikan hidup selama mereka mengabdi. Sedangkan batur itu seperti asisten rumah tangga, dengan struktur tidak tertulis, tapi jelas dan ketat antara majikan dan baturnya. Kemungkinannya kecil seorang batur untuk naik pangkat dalam lingkaran rumah tangga tempat dia bekerja. Kalau rewang itu sejajar, misalnya sinoman/rewang pada tempat orang yang sedang memiliki gawe, ewuh. M
ereka ada pada posisi saling membantu pada waktu yang berbeda. Paijo dan Karyo merasa di institusi ndak mungkin bisa sejajar seperti halnya seorang sinoman/rewang. Di institusi, ada kaidah-kaidah kepegawaian yang harus dijunjung dan dihormati oleh Paijo dan Karyo. Mereka hanya akan merasa jadi rewang ketika diminta membantu teman-temannya. [1] 

###


Sinau bareng
Purwo.co -- Ini hanya sebuah catatan, bukan cerita keberhasilan atau semacamnya, karena sesungguhnya masih lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Catatan ini mulai saya buat di akhir 2017 setelah 5 tahun 7 bulan mengabdi, sebagai pengingat, tentang beberapa hal yang semoga bisa memberi pelajaran untuk diri saya sendiri, dan siapapun yang membaca, khususnya teman-teman pustakawan.

Masa awal
Tanggal 2 Mei 2012, merupakan tanggal perpindahan saya ke Perpustakan Fakultas Teknik UGM (berita terkait http://ft.ugm.ac.id/serah-terima-jabatan-kepala-perpustakaan-fakultas-teknik/. Pada masa awal, Perpustakaan FT UGM terasa horor bagi saya. Rencana yang ada di kepala, yang sebelumnya saya susun, mendadak hilang tak berbekas. Ngeper. Sungguh itu ujian yang sangat berat. Kenyataan itu memang tak selalu sesuai dengan harapan. "Kabeh dadi cetho yen wus tekan wancine lan wus dilakoni", semua akan terasa jelas jika sudah sampai pada waktunya.

Sebenarnya saya diberi waktu 1 bulan menjadi pendamping penanggungjawab perpustakaan, yang waktu itu hendak pensiun. Namun, masa pendampingan itu tidak bisa saya manfaatkan sepenuhnya karena saya tetap harus menjalankan tugas di perpustakaan Teknik Geologi.  

Senior saya pernah mengatakan, “masa awal itu penyesuaian, nanti setelahnya baru bisa blas-blas…”. Teman saya itu senior, kaya pengalaman, maka begitulah dia menghibur saya. Akhirnya saya pun mengalah dan menerima nasihat menghibur itu, masa awal yang horor ini merupakan hal yang wajar. Bukan hanya saya, namun semua orang yang ditempatkan di tempat baru akan mengalami hal serupa.

### 

Horor, rodo bingung, tentunya ada sebabnya. Pertama, karena ini dunia baru untuk saya, kemudian ada 9 staf yang meski saya mengenal mereka, namun semuanya lebih sepuh dari pada saya + 1 petugas kebersihan yang baru saya kenal. Memimpin staf yang lebih sepuh, pada kondisi lingkungan yang saya tidak kenal betul sebelumnya, jelaslah menjadi horor. Saya hanya mengandalkan pengalaman dinamika organisasi kampus ketika mahasiswa, dengan harapan sesulit apapun pada dunia baru ini, minimal saya tetap bisa berfikir secara sehat. Ya, senadyan kurang meyakinkan begini, saya pernah ikut organisasi kampus, yang tingkat konfliknya tinggi. Akhirnya, saya coba ikuti ritme yang ada sambil menjajagi, apa yang bisa dilakukan. 

Ketika saya berpindah ke perpustakan fakultas, sebenarnya perpustakaan belum sepenuhnya bisa digunakan, karena masih menyisakan perbaikan-perbaikan fisik, misalnya susulan renovasi toilet di 3 lantai. Setiap hari masih ada paduan suara yang tidak merdu dari  tukang dan alat yang digunakan. Tak-tek-tok… dem… Para tukang  masih berjuang memperbaiki toilet agar bagus, serta tidak lagi bocor. Konon kabarnya, toilet perpustakaan sulit sekali diperbaiki. 


###

Beberapa waktu setelah perbaikan toilet itu selesai, harapan yang muncul yaitu perpustakaan sudah bisa digunakan. Lah, ternyata justru semakin muncul tantangan-tantangan baru. 

Ketika paduan suara tukang dan alat kerja yang "tak-tek-tok… dem…" tadi hilang, justru meninggalkan suara baru yang sebelumnya tidak terdengar karena kalah dari suara tukang. Inilah masalah pertama pasca perbaikan itu selesai. “Wah, kok ya bisa ya?”

Suara itu merupakan suara para mahasiswa yang berdiskusi dengan teman-temannya, seperti tawon yang terbang mengitari bunga-bunga. “Wuuuuungggg”, begitu seterusnya. Suara diskusi, atau sekedar suara hentakan sepatu yang dipakai ketika berjalan di lantai satu bisa sampai ke lantai 3. Demikian pula suara yang dirasa pelan di lantai 3, bisa sampai di lantai 1. Bahkan terkadang, suara diskusi di ruang tertutup lantai 2 pun, bisa menyebar ke lantai 1. Sampai ada mahasiswa asing yang berkata kepada saya, “Perpustakaanmu seperti kantin”. Mendengar itu, malulah saya bagai mendapat tamparan. Mahasiswa asing ini jian berani bloko welo-welo, alias terus terang”. 


Catatan pertama: akustika ruang di perpustakaan FT UGM kurang bagus. Lantai keramik, dan dinding tanpa peredam membuat suara memantul bebas.

Statusnya sebagai mahasiswa asing, tentunya menjadi perhatian tersendiri untuk saya. Lah kalau dia pulang lalu cerita pada teman-temannya, “Perpustakaan FT UGM seperti kantin”, lak memalukan, tho. Saya berusaha menguasai diri, dan melontarkan pertanyaan balik, “Ada ide?”. Tentunya dengan bahasa Inggris yang kejawa-jawaan. Maklum, saya sangat memegang kejawaan saya, sehingga saya tidak mau menghilangkan kekhasan tersebut, termasuk pada pelafalan bahasa Inggris, sekaligus sebagai alasan menutupi kekurang pintaran saya berbahasa Inggris. “Harus ada meja kecil yang terpisah antar mahasiswa”, begitu katanya. 

Oke. Kabarnya, ide dari pemustaka merupakan ide yang paling brilian, orisinil dan bermutu tinggi bagi perpustakaan. Kalau memenuhinya, berarti bertindak demokratis, sesuai dengan semangat demokrasi di kampus yang didengungkan mahasiswa.  Untuk memenuhi usulan tersebut, gudang sementara yang menyimpan mebel perpustakaan ketika direnovasi, kami bongkar. Kami periksa meja-meja yang memungkinkan digunakan lagi. Meja tersebut kemudian dibawa masuk ke perpustakaan, disusun sedemikian rupa agar meminimalisir kontak diskusi mahasiswa secara bebas. 

Hasilnya cukup signifikan. Suara diskusi yang tak terkontrol menjadi jauh berkurang. Agar lebih terkondisikan, ruang dibagi beberapa zona. Ada zona hijau yang bisa digunakan untuk belajar secara mandiri serta diskusi dengan suara rendah, dan merah yang berarti tanpa diskusi. Zona hijau di lantai 2, juga difungsikan sebagai ruang untuk menggelar diskusi, baik yang diselenggarakan oleh mahasiswa, perpustakaan maupun pihak luar. Pembagian zona ini didasarkan pada kebutuhan mahasiswa yang perlu ruang tenang untuk belajar, serta untuk diskusi. Namun tetap dengan memperhatikan akustika ruang perpustakaan.


Rambu-rambu yang kami sosialisasikan ke mahasiswa: perpustakaan sebagai ruang tenang dan pertengahan, sementara untuk belajar bebas dan ramai dilakukan di selasar KPFT. Harus ada garis demarkasi yang jelas antara fungsi beberapa fasilitas di FT UGM.


###

Kesimpulan tentang akustika tersebut menjadi catatan yang harus saya perhatikan ketika hendak menata ulang ruang perpustakaan. Masalah akustika ruang ini hanyalah masalah pertama. Masalah berikutnya yang sudah menanti yaitu arah pengembangan yang akan dituju perpustakaan ini. Warisan label e-library seolah menjadi beban tersendiri, seberat batu kali sebesar gajah, dari letusan gunung merapi. 

“Dari mana?”, saya pernah bertanya basa-basi pada mahasiswa. “Dar e-lib, Pak”. Cia, e-lib?, bathin saya. Mereka menyebut perpustakaan ini dengan e-lib, persis seperti nama yang ditempel di bagian depan gedung perpustakaan. E-lib, electronic library. “Apanya yang elektronik?”, batin saya, wong toilet saja baru selesai dibereskan kemarin. Tapi begitulah mahasiswa, mereka mencari penyebutan yang mudah untuk sekedar janjian, agar ndak keliru tempat. Atau mungkin mereka begitu terhipnotis pada penyebutan e-library yang ditandai dengan konser Ari Lasso sewaktu peresmian perpustakaan ini.


### 

Perpustakaan ini, setelah direnovasi memang hanya memiliki sedikit koleksi cetak. Kurang lebih 20%, yang 80% sisanya dihibahkan ke departemen dan perpustakaan pusat. Padahal, ada 8 petugas perpustakaan, plus 2 jaga malam, plus 2 kebersihan. Dengan 5000-an eksemplar buku yang tersisa, tentunya 8 orang tersebut terlalu banyak jika hanya mengandalkan beban kerja tradisional seperti sebelumnya.


Catatan kedua: jumlah staf dibanding beban kerja belum ideal 

Minimnya koleksi tercetak tersebut, tentunya menjadikan koleksi perpustakaan fakultas menjadi semakin lemah. Loh, memang sebelumnya sudah lemah?. Iya, karena setiap departemen memiliki ruang baca, ada pula yang bisa dipinjam oleh mahasiswa. Sejauh yang saya ketahui, memang koleksi cetak di departemen lebih kuat dari pada di perpustakaan fakultas. 


Catatan ketiga: koleksi cetak di Perpus Fakultas hanya sedikit, dan lebih kuat koleksi cetak di departemen.

Inilah yang menyebabkan horornya masa-masa awal di perpustakaan fakultas. 

Tentang akustika ruang, sudah cukup terjawab dengan pembagian zona ruang. Pokoknya solusi zona ini saya anggap paling ampuh dalam waktu singkat dan paling ringan risikonya. Dari pada perbaikan akustika ruang dengan menambah peredam, pasti perlu waktu lama, perlu kajian, biaya banyak dan lainnya. Saya tidak mampu memikirkan sedetail itu.


###

Masa awal: substansi perpustakaan
kegiatan di perpus FT, didokumentasikan
Adanya ruang dan fasilitas yang baru, mestinya membuat pustakawan bergembira. Itu pasti, wong di perpustakaan sekarang hampir semuanya tersedia. Jaringan internet ada, komputer banyak, tersedia pula layar LED ukuran jumbo yang bisa digunakan untuk muter film 3 dimensi, lengkap dengan kacamatanya. Atau bisa juga untuk main game FIFA atau PES rame-rame, untuk melepas penat, refreshing ditemani kopi yang bisa dibuat sendiri di basement.

Namun, apa yang bisa dioptimalkan dari fasilitas tersebut sebagai substansi layanan perpustakaan?. Inilah yang harus dicari jawabannya.

Menambah koleksi buku untuk meningkatkan beban kerja sepertinya justru hanya akan membuat duplikasi kerja dengan ruang baca di departemen. Jika dikaitkan dengan pekerjaan pinjam-kembali buku, perlu tambahan ribuan buku agar ada pekerjaan kontinyu dalam pengolahan, kemudian dilanjutkan proses sirkulasinya.  Maka harus dicari layanan lain, baru dan berbeda yang bisa menambah beban kerja staf.


Catatan keempat: kondisi mengharuskan adanya layanan baru di perpustakaan fakultas yang berbeda  dengan perpustakaan departemen

Masa awal: berbagai cara untuk studi banding 
Layanan baru seperti apa yang paling sesuai untuk Perpustakaan FT UGM? Harus belajar dari mana? apa saja yang dibutuhkan?. Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu belajar. Baik secara mandiri, buka buku, dibaca biar pinter dan tambah wawasan. Atau belajar pada perpustakaan lainnya, studi banding alias benchmarking, baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. 

Sayangnya, studi banding memiliki konotasi yang kurang baik, cenderung jalan-jalan dan menghabiskan anggaran. Apalagi sebagai orang baru, kalau saya mengajukan anggaran untuk studi banding, agaknya kurang etis. Saya takut, sudah khawatir duluan jika nanti dirasani, “studi banding arep dinggo ngopo”. Wong saya juga belum berbuat apa-apa kok langsung minta anggaran. Selain itu, saya sendiri juga tidak begitu nyaman jika berurusan dengan uang atau anggaran. “Abot sanggane”, demikian ngendikane simbah, berat menanggungnya. Maka, saya putuskan untuk studi banding mandiri.

Studi banding mandiri yang seperti apa?. Ya, pokoknya mandiri, tidak membebani. Alhamdulillah, ada beberapa jalan yang dimudahkan untuk bisa saya lakukan. Pertama, ketika itu ada kesempatan ke Brunei Darussalam, tepatnya di UBD untuk presentasi tentang perpustakaan atas budi baik FPPTI DIY. Dengan beberapa pertimbangan akhirnya saya gunakan uang pribadi + subsidi dari FPPTI Jogja. Dari FT UGM, ijin yang diberikan saya anggap lebih dari cukup. Kegiatan serupa juga saya lakukan ke beberapa perpustakaan lokal, sembari jalan-jalan. 

Jalan kedua saya lakukan dengan cara menghadiri undangan atas tanggungan panitia. Beberapa kali saya mendapatkan undangan seperti ini, sekaligus saya gunakan untuk studi banding. Jalan ketiga ketika mendapat kesempatan sebagai utusan perpustakaan UGM untuk hadir pada sebuah pertemuan di perpustakan perguruan tinggi lain. Cara keempat, melalui berbagai pertemuan komunitas. Kebetulan saya bergabung pada komunitas kepustakawanan yang mengembangkan software untuk perpustakaan. Pada pertemuan-pertemuan tersebut saya berusaha mencerap ide-gagasan untuk saya terapkan di perpustakaan FT UGM.


Pada studi banding, yang selalu ingin saya dalami yaitu: apa layanan pustakawan selain pinjam dan kembali buku. Sementara fisik prioritas kedua. 

Selain 4 cara tersebut, ada cara kelima yang saya anggap paling mudah, murah, bisa disambi dan tidak perlu waktu yang lama. Studi banding ini justru bisa dilakukan ke berbagai perguruan tinggi di berbagai negara; ke Harvard, MIT, Chicago, NTU dan lainnya. Studi banding tersebut dilakukan secara virtual. Cukup dengan duduk di depan komputer, membuka internet, cari alamat web perpustakaan perguruan tinggi tersebut, kemudian cermati: apa yang menarik dari perpustakaan tersebut, layanan apa yang mereka berikan selain layanan pinjam-kembali koleksi buku. Atau tuliskan kata kunci terkait perpustakaan yang dituju pada mesin pelacak Google, kemudian klik mode "gambar". Bisa juga menggunakan instantstreetview. Salah satu hasil jalan-jalan virtual ini pernah saya tulis di http://www.purwo.co/2015/12/studi-banding-ke-university-of-texas-at.html.


Catatan kelima: saya cenderung memilih/mencari kegiatan yang tanpa (minimal) anggaran

Masa awal: mendukung proses scholarly communication mahasiswa
Ternyata studi banding itu menyenangkan, jalan-jalan dan berkunjung ke tempat baru sambil melihat sesuatu yang belum pernah ditemui, secara langsung. Jika studi banding itu virtual, maka kita bisa sambil membayangkan atau menerka informasi yang ada dalam website perpustakaan, misalnya. Jika dirasa perlu, bisa kontak ke pustakawannya melalui email.

Dari proses studi banding itu, selain perpustakaan yang megah, dan alat yang modern, saya menemukan beberapa istilah baru. Scholarly communication librarian, embedded librarian, outreach librarian, research librarian merupakan beberapa di antaranya. “Istilah ini apa artinya, lalu apa layanan yang diberikan si pustakawan?”, pertanyaan itu jelas muncul dalam fikiran saya. Perlu perjuangan lama untuk bisa memahami. Bahkan, pemahaman saya tentang scholarly communication librarian pernah dikomentari, “scholarly communication librarian bukan seperti itu”. Ya, ndak apa-apa, karena bagi saya tidak ada tafsir tunggal terhadap pengembangan perpustakaan.  


Baca juga tulisan saya "Scholarly Communication: kompetensi wajib pustakawan perguruan tinggi" di https://repository.ugm.ac.id/273436/

###  

Saya melihat, UGM ingin mendudukkan posisinya sebagai universitas yang unggul serta setara dengan universitas lain di dunia. Salah satu yang didukung untuk ditingkatkan yaitu penelitian dan publikasi hasil penelitian. Rasanya scholarly communication librarian mewakili hal ini. Akhirnya saya konsentrasi pada konsep tersebut. 

"Ini peluang",  demikian fikir saya.

### 

Hal pertama yang waktu itu saya lakukan adalah membuka kelas pelatihan. Materinya Zotero. Awalnya hanya iseng mempelajari aplikasi yang disebut pada beberapa web perpustakaan di luar negeri (hasil studi banding virtual). Alhamdulillah tanggapan dari mahasiswa cukup bagus, meskipun saya juga belum paham benar semua fitur aplikasi tersebut. Obrolan dan pertanyaan dari mahasiswa, justru menjadi masukan. Ketika ada masalah atau pertanyaan, saya cari jalan keluarnya. 

Proses di atas terus berlangsung, hingga kemudian saya mengenal beberapa aplikasi lainnya: mendeley, prezi dan xmind. Pada periode berikutnya, saya berfikir harus ada penambahan kemampuan aplikasi lain agar variasi tawaran materi pelatihan lebih banyak. 

Beruntung ada MIC (Microsoft Innovation Center), yang sebelumnya melayani permintaan software windows dan office secara gratis, kemudian dikembangkan dengan memberi pelatihan, khususnya Ms. Office. Lambat laun, materi pun bertambah; ada latex, vos viewer, publish or perish, pencarian informasi online + RSS, optimasi Google Search, Scopus, serta materi lain yang diampu mahasiswa. 

Untuk meningkatkankan kualitas kegiatan, kami mencoba mendekati dosen, menawarkan tempat dan tema diskusi. Beberapa diskusi pun digelar. Diskusi bersama pakar, yang menghadirkan dosen dengan beberapa materi: jurnal internasional, plagiat, paraphrase, dan lainnya. Kegiatan ini direkam, kemudian diunggah di kanal Youtube perpustakaan serta di dokumentasikan di kit.ft.ugm.ac.id

Kegiatan dalam rangka mendukung scholarly communication, dilaksanakan secara kolaborasi. Selain kegiatan rutin yang diampu pustakawan, juga menggandeng dosen dengan kegiatan terjadwal. Semua kegiatan tersebut didokumentasikan dan diunggah di Youtube dan ditampilkan pula di kit.ft.ugm.ac.id.


peta topik kegiatan di perpustakaan FT UGM
Belum semua kegiatan tersebut mapan. Ada beberapa yang masih belum bisa berjalan secara teratur. Ini menjadi pekerjaan rumah kami, pengelola perpustakaan FT UGM.

###

Selain diskusi bersama pakar terkait scholarly communication, juga digelar diskusi  bersama ECC FT UGM dengan materi terkait softskill. Beberapa kali English Club, serta diskusi yang menghadirkan pihak eksternal dengan berbagai topik dari yang ringan sampai yang berat.

Untuk melengkapi kegiatan tersebut, kami coba menambah koleksi buku non teknik, semacam novel, cerpen, biografi, dan lainnya. Pokoknya koleksi untuk refreshing, bergembira. Mosok setiap hari mahasiswa teknik disodori buku tentang sekrup, baut, solder, batuan, cor, beton dan semacamnya. Buku non teknik inilah yang menjadi penyeimbangnya. 

Terkait sistem, Perpustakaan Pusat UGM berbaik hati dengan memilih Perpustakaan FT UGM sebagai role model dalam integrasi SIPUS atau Sistem Informasi Perpustakaan UGM. Tentunya ini menjadi nilai tersendiri bagi sejarah perotomasian di UGM. Dengan integrasi ini, fakultas tidak lagi menyiapkan server sekaligus merawatnya. Semua sudah disediakan oleh pusat, fakultas tinggal menggunakan saja. 


###

Hal yang tidak boleh dikesampingkan adalah sumber daya manusia. Manusia atau pustakawan yang mengelola perpustakaan merupakan ruh dalam pengembangan perpustakaan. Sebagus apapun fasilitas yang dimiliki perpustakaan, jika pustakawannya tidak mampu menyesuaikan dirinya, maka pustakawan hanya akan menjadi penjaga ruang saja.


Pustakawanlah yang menjadi titik sentral pengembangan substansi perpustakaan. 

Diskusi bedah buku
Untuk itulah, diperlukan usaha agar semua staf sesuai kapasitasnya dapat menjalankan roda perpustakaan dengan cara-cara baru, bukan tradisional. Usaha untuk mentransfer kemampuan antar staf, menjadi hal yang wajib dilakukan. Transfer pengetahuan, pemberian tanggungjawab dan semacamnya, selain untuk meningkatkan kemampuan staf juga sebagai filter alamiah: siapa yang berminat untuk berkembang, dan siapa yang sudah pasrah.  Kesempatan penataan staf yang dilakukan KPFT, saya jadikan sarana untuk mengoreksi jumlah staf di perpustakaan agar mendekati jumlah ideal:  ramping, namun optimal.  

Akhirnya, dari jumlah 12 orang, saat ini tinggal setengahnya saja,  6 orang, itupun sudah termasuk staf kebersihan. Dengan 6 orang ini, kami mengelola kerumah tanggaan, berbagai pelatihan, kegiatan, layanan sirkulasi, administrasi, ruang tugas akhir digital, kebersihan, serta membuka layanan sampai pukul 19.30 malam.

### 

Perpustakaan untuk staf tendik
Staf tendik, terkadang terlupakan dalam daftar yang dilayani di perpustakaan. Pekerjaan mereka yang rutin, terkadang menjauhkan dari proses pengembangan diri. Pada titik inilah, kami berusaha sebisa mungkin agar Perpustakaan FT UGM juga memberi manfaat untuk mereka, dalam bentuk pelatihan dan peminjaman buku. 

Beberapa pelatihan yang pernah dilakukan untuk staf tendik yaitu: penyegaran Ms. Word dan Ms. Excell, serta pengelolaan dokumen menggunakan Google Drive.



Baca juga Membangun Perpustakaan Kreatif: Pengalaman Pengembangan Perpustakaan Fakultas Teknik UGM di https://repository.ugm.ac.id/273434/
Pihak yang memperoleh manfaat dari perpustakaan FT UGM


###

Masa akhir: pengembangan berkelanjutan
Pada masa akhir dari 5 tahun pertama ini, penglihatan subyektif saya melihat bahwa perpustakaan FT UGM semakin menemukan bentuk idealnya. Meskipun, saya tetap menggaris bawahi bahwa masih ada banyak catatan yang harus menjadi perhatian.

Layanan khas perpustakaan fakultas telah ada, dan inilah yang membedakan dengan perpustakaan departemen. Bahkan cukup membedakan dengan layanan di perpustakaan fakultas lain. Terbukti tidak sedikit mahasiswa dari fakultas lain yang datang ke perpustakaan FT UGM untuk mengikuti kegiatan yang diadakan.

Jejaring dengan mahasiswa pun telah ada, melalui grup whatsapp, line serta jejaring lainnya. Aktifnya diskusi yang ada di dalamnya terasa bermanfaat, bahkan tidak sedikit alumni yang lulus namun minta untuk tidak dikeluakan dari grup whatsapp. “Saya ingin ikut belajar, Pak”, demikian katanya. Atau meminta ijin untuk bergabung, baik untuk dirinya atau temannya. Grup ini terdiri dari mahasiswa (s1,s2,s3) FT, beberapa dari luar FT UGM, serta beberapa dosen. Mahasiswa S3 yang sebagian besar juga merupakan dosen di tempat asalnya, menjadi nilai lebih tersendiri pada grup yang kami bangun ini.

Jejaring dengan pihak eksternal juga beberapa telah terbangun. Dengan ECC FT UGM dalam bentuk diskusi softskill, dengan lembaga kursus, dengan dosen, dan lainnya.

Namun pengembangan perpustakaan FT UGM harus terus dilakukan, disesuaikan pada berbagai hal. Baik itu disesuaikan dengan perkembangan perpustakaan secara umum, visi/misi fakultas, serta kebutuhan pemustaka. 


Penggerak Perpustakaan FT UGM


Masa 5 tahun berikutnya
Lima tahun awal, begitulah adanya. Masih ada yang perlu disempurnakan, dikoreksi, diperbaiki, ditambah, masih banyak kekurangannya. Lima tahun awal ini bukanlah sebuah capaian yang telah sempurna, belum paripurna. Dan lima tahun berikutnya tentunya akan semakin menantang. Untuk menjadikan perpustakan fakultas benar-benar sebagai pusat terkait literasi baik bagi mahasiswa, dosen maupun staf tenaga kependidikan, ada beberapa mimpi saya yang masih menjadi angan dan belum terwujud. 


Semakin membumikan kegiatan yang sudah dilaksanakan di perpustakaan, bersama mahasiswa membuat sebuah produk (buku), menyemarakkan aktivitas diskusi  buku dan menjadikan pustakawan menjadi contohnya, agar perpustakaan benar-benar menjadi rumah kedua mahasiswa untuk membahas berbagai hal.

Lima tahun kedua ini, merupakan babak baru. Dengan pergantian manajemen fakultas maka pandangan pada posisi perpustakaan dan pustakawan tentunya akan ada perubahan. Demikian juga dalam pengembangan perpustakaan. Ada beberapa hal yang menurut saya harus diperhatikan terkait pengembangan tersebut.

  • Pengembangan perpustakaan jangan hanya pada kulitnya saja (fisik dan fasilitas fisik), namun juga harus menyentuh substansi. Ini yang paling sulit dilakukan.
  • Pengembangan terkait dengan tata ruang, dalam arti akan mengubah atau menambah fungsi ruang, maka akustika ruang harus diperhatikan. Jangan sampai memfungsikan ruang, namun karena tidak memperhatikan akustika, sehingga justru menjadikan perpustakaan menjadi tidak nyaman. 
  • Jika dimungkinkan ada koreksi akustika ruang, agar kenyamanan semakin meningkat.
  • Layanan perpustakaan FT UGM tidak boleh hanya sampai pukul 16.00 (sesuai jam kerja normal). Selama ini kegiatan bersama mahasiswa juga dilakukan pada waktu setelah jam kerja selesai. Namun harus ada kontrol agar perpustakaan tetap nyaman meskipun jam buka sampai malam.
  • Perlu penambahan pustakawan ahli untuk pengembangan perpustakaan.

### 

Dalam perkembangannya, banyak konsep baru terkait perpustakaan, meskipun terkadang mengadopsi apa yang ada di luar perpustakaan. Perpustakaan FT UGM harus mampu mengadopsi namun juga menyaring tren konsep tersebut agar selaras dengan perannya sebagai perpustakaan. 


Gangguan sosial dan psikologis tidak boleh mengganggu kenyamanan orang masuk ke perpustakan. Tidak boleh ada layanan yang secara langsung atau tidak langsung hanya diperuntukkan bagi orang yang kaya, dan tidak untuk orang yang miskin. Semua setara di perpustakaan.

Sebagai perpustakaan di fakultas yang berkutat dengan teknologi, pengembangan teknologi juga harus dilakukan terus. Apa yang sudah terbangun, dapat ditambah dengan teknologi lain yang dipandang perlu agar dapat membantu menambah nilai lebih perpustakaan dan layanan perpustakaan. 

Ruh pengembangan perpustakaan itu ada pada pustakawannya. Skill pustakawan menggantikan keterbatasan anggaran atau fasilitas fisik.
Bagaimanapun juga, saya tetap harus bersyukur atas semuanya. Lima tahun yang sangat berharga.


###


Paijo dan Karyo masih merenung, atau tepatnya merenungi pengabdiannya selama sekian tahun tersebut. Bagaimana tahun-tahun berikutnya akan mereka lewatkan, apakah dengan kondisi yang sama, atau ada ide-ide baru agar mereka merasa lebih hidup dan memberi makna di tempatnya bekerja?. Terkadang mereka kembali mengingat masa kecil ketika hidup di desa, bertemu dengan buruh gendong, tukang ngarit, dukun bayi atau juru kunci. Paijo dan Karyo merenung, ada banyak hal yang bisa ditiru dari mereka untuk menjalankan profesi pustakawan. Penuh semangat dan dedikasi, meski dalam keterbatasan namun tetap bersyukur dan ayem [1]. Ini penting!.

[1] Ada pada buku Profesi wong Cilik, karya Iman Budhi Santoso, penerbit Basabasi 2017


Informasi lebih lanjut:
  1. lib.ft.ugm.ac.id
  2. kit.ft.ugm.ac.id
  3. http://citizen6.liputan6.com/read/772158/terima-kasih-2013-tahun-menemukan-bentuk-ideal-perpustakaan

Bumi Sambisari,
14 Bakdomulut 1951 tahun Dal, Sengara Langkir, Wuku Madangkungan
bertepatan dengan 2 Januari 2018
00.12 WIB, tengah malam menjelang pagi