Sunday, 22 April 2018

Berpindah profesi


Sesungguhnya tidak ada profesi paling tinggi, paling nyaman, paling prestis dan lainnya. Pandangan tiap oranglah yang membentuk kelas-kelas profesi itu.  Hal ini juga berlaku di dunia pustakawan.

Seorang dosen ilmu perpustakaan yang memberi contoh, “profesi pustakawan harus seperti dokter!” sesungguhnya adalah bentuk pembentukan kelas profesi. Hal ini menjadi lebih aneh jika diucapkan pada calon pustakawan yang dia didik. Kalau ada dosen ilmu perpustakaan yang menggunakan contoh itu, patutlah dikasihani. Dan jangan heran, jika kemudian ditiru atau dilanjutkan para anak didiknya.

Seorang dokter sangat mungkin tidak menemukan “dirinya” pada profesi dokter, dan kemudian pindah. Sebelum “menjadi”, ada pula yang sudah berpindah dahulu. Seorang dari fakultas teknik, ada yang kemudian pindah ke fakultas lain, misalnya.

Pustakawan juga mengalami hal serupa. Dia bisa berpindah. Geser ke kanan, atau ke kiri. Ada yang akhirnya pindah jadi guru, ada yang pindah jadi dosen, ada yang loncat jadi pengusaha. Ada yang tetap istiqomah berjuang sampai titik darah penghabisan, jadi pustakawan.

Apa sebenarnya alasan seorang pustakawan, atau yang bekerja di perpustakaan menjalankan peran pustakawan, kemudian pindah ke profesi lain? Berikut ini beberapa analisis yang sampai ke meja redaksi. #halah

Kebutuhan hidup
Ini alasan klasik, namun paling rasional, dan tingkatannya paling tinggi. Kebutuhan hidup harus diperjuangkan, kalau tidak mencukupi, cari lainnya. Misal ada sekolah yang hanya memberi 200-300 ribu sebulan untuk gaji pengelola perpustakaan, kan ya kasihan. Akhirnya pindah profesi atau ndobel profesi dilakukan untuk menutup kebutuhan agar kendhil tidak nggoling.

Alasan ini tidak dapat diganggu gugat. Ini masalah perut, weteng, yang harus disuplai makanan agar esok hari tetap bisa bergerak dan berkarya.

Diminta atasan
Mau bagaimanapun juga, yang namanya atasan, ya atasan. Ketika bagian lain membutuhkan, dan yang paling pas adalah si pustakawan, maka pindahlah dia ke bagian tersebut. Biasanya, di sekolah atau perguruan tinggi bisa dipindah ke lab, bagian administrasi, kemahasiswaan atau semacamnya.

Apalagi jika  bagian tersebut ternyata gajinya lebih besar. Maka justru keberuntunganlah yang diperoleh. 

Lalu pada kondisi ini, ke mana idealisme pustakawan? Tetap dipegang. Yang dipegang adalah idealisme proses/cara kerja pustakawan. Perkara mau diterapkan dibagian akademik, administrasi, itu sah-sah saja.

Kejelasan status
Keamanan dan kejelasan status bisa menjadi salah satu sebab. Jika pada sebuah institusi status kepegawaiannya tak jelas:  tanpa SK, atau serabutan tidak tentu posisi; maka berpindah menjadi salah satu solusinya.

Mencari, atau menangkap peluang profesi yang lebih nggaya
Pada diri masing-masing pustakawan, pasti nuraninya punya pemeringkatan profesi. Nah, yakinlah, bahwa mereka punya penilaian masing-masing pada profesi pustakawan. Meski di mulut menyampaikan “profesi utama”, tapi belum tentu dihati. Sangat mungkin mereka memandang dan kemecer juga dengan profesi lain yang prestisenya dianggap lebih tinggi, lebih leluasa, dan dianggap lebih merdeka.

Nah, ketika kesempatan memperoleh profesi yang derajatnya dianggap lebih tinggi tersebut ada di depan mata, ada kemungkinan tergiur. Bisa jadi guru, atau bisa juga jadi dosen, atau jabatan lainnya.

Paijo: “nek kemudian jadi guru, atau dosen, lalu dia mengatakan “pustakawan itu penting”, apa ndak aneh itu?”
Karyo: “ya aneh lah. Kalau kemudian dia bilang “pustakawan itu penting”, kenapa dia pindah?”
Paijo: “ra tanggung jawab, po pengkhianatan profesi kui?”
Karyo: “oo, tunggu dulu. Kudu hati-hati mengategorikan”.


Nah, ada beberapa tambahan alasan dari rekan-rekan lain, terkait berpindahnya seorang pustakawan (dalam arti luas) ke profesi lainnya.

Merasa tidak layak, merasa levelnya sudah lebih dari seorang pustakawan, takdir, menuruti hobi, saran mertua, perintah suami, terkendala aturan, gebetan ada di daerah lain sehingga ikut pindah dan cari kerja yang dekat.

Ketika Kabul merasa tak kuasa menjadi praktisi proyek, dia mempertimbangkan sekolah lagi. Dia ingin jadi dosen. (OOP, Ahmad Tohari)


Maka, akhirnya alamlah yang akan menyaring.

Monday, 26 March 2018

Mufasir kepustakawanan (beradu tafsir)

Resmi, namun berselimut kontroversi. Pilihan "perpustakaan dan sains informasi" telah mengoyak tafsir para pemikir bidang ini (atau sejak lama telah terkoyak?). Hilangnya kata ilmu, dan munculnya kata sains bukan perkara sepele. Ada yang sepakat, ada yang tidak sepakat. Ada yang mengemukakan alasan sangat filosofis, ada yang mungkin alasannya sangat pragmatis.

Keduanya tidak salah... Bahkan, yang tak peduli tentang filosofis dan pragmatisnya perdebatan itu pun, tidak bersalah. Karena sepiring nasi untuk makan esok hari, lebih layak diperjuangkan. Layak diberi perhatian.

***

Akhirnya, beberapa diantara mereka dipertemukan. Tentunya orang pilihan. Agar bertemu muka. Dibuatlah panggung untuk berkhotbah sesuai mahzab yang mereka anut. Mereka, ibarat mufasir, sedang menafsirkan "ayat-ayat" kepustakawanan. Ummat duduk khidmat mendengarkan. Judul panggung itu "memetakan perkembangan ilmu informasi dan perpustakaan di Indonesia".

Kenduri intelektual ini penting. Yang akan menorehkan sejarah perkembangan ilmu, untuk masa-masa yang akan datang. Ini titik awal masa depan. Yang datang akan mengenang. Ada prestise, ada kebanggaan. Jabat tangan, say hello pada kolega. Menyatu dalam atmosfir intelektual. Ketika pulang, selembar SPPD menjadi tanda keberhasilan. Mungkin lengkap dengan sertifikat. Foto-foto? itu pasti.

Bukti kehadiran berupa foto menjadi hal wajib 'ain. Bukan muakad, apalagi sunah. Foto itu akan bercerita, bagaimana kontribusinya pada kenduri inteltktual tersebut. Ya, meski hanya duduk, manggut-manggut, sambil menyeruput air mineral yang tinggal setengah.

Yang bicara, akan dikenang. Namanya dicatat pada lembaran notulensi: menjadi pemateri, atau si penanya. Atau, sekedar menggaris bawahi yang dianggap penting. Paling tidak sudah ambil kesempatan. Tampil di panggung kenduri ini sangat penting. Ini tentang eksistensi.

Yang tidak datang akan terbalut penyesalan....

Karena ini kenduri besar, banyak yang terpikat hadir. Pustakawan, mahasiswa, dosen, tamu undangan. Mereka rela datang dari segenap penjuru. Selembar ijin pimpinan menjadi jaminan. Menembus macet dan panasnya siang, tetap dilakukan.

Hasrat intelektual menjadi segala-galanya.

Namun kapasitas ruang menjadi penghalang. Banyak yang kecele, karena pintu pendaftaran telah tertutup. Kursi tak berbanding lurus dengan jumlah orang yang dahaga, ingin ikut meneguk ilmu. Langung dari belanganya. Atau, cukup rela, meski hanya mampu menjilati tetesan yang jatuh, dijatuhkan, atau tak sengaja jatuh karena bocor bungkusnya.

Begitulah dahsyatnya kenduri ini. Akhirnya, jalur live streaming disiapkan.

***

Mufasir kepustakawanan itu, tak diragukan kapasitasnya. Mereka tahu sanad, rangkaian sejarah keilmuan yang konon, kabarnya telah berlangsung ratusan atau bahkan ribuan tahun. Metode tafsirnya pun sudah terpercaya. Maklum, mereka menyandang pangkat tertinggi dalam pendidikannya. Paripurna. Syarat mufasir mereka punya. Sekarang, di tengah owah dan gingsirnya kepustakawanan di Indonesia, tafsir mereka sungguh-sungguh dinantikan.

Tentunya tafsir-tafsir yang mencerahkan. Yang tidak mbulet. Tafsir yang memetakan. Tafsir yang penuh makna. Bukan tafsir kosong, bukan pesanan. Tafsir yang kontekstual, bukan tafsir import. Tafsir yang aplikable. Tafsir yang adem. Tafsir yang tidak mahal. Tafsir yang mudah dan murah dalam pengamalannya. Tafsir syumuliah.

Tafsir kepustakawanan yang mengindonesia?, Ya.
Bukan menginggris, bukan mengamerika, bukan mengarab. Bahkan, bukan yang memutu, menyulis, atau mengida. Bukan tafsir yang masturbatif.

Hingga, pada akhirnya dengan tafsir itu pustakawan mudah berijtihad. Ijtihad untuk perpustakaannya. Agar tafsir dapat turun dan membawa berkah. Mereka menurunkan tafsir, agar menjawa, menyunda. Meng-ugm, meng-uin. Menyiswa atau memahasiswa. Jangan lupa, meng-orang, memanusia.

***

Ini tulisan dari tiga begawan, ilmuwan Ilmu Perpustakaan dan Sains Informasi (Ilmu dan Sains ikut ditulis, biar adil), yang beberapa waktu lalu adu intelektual di UIN Sunan Kalijaga.
Dibaca, dicerap, direnungkan, ditimbang-timbang bobot bebetnya.
Namun, jangan lupa. Bagi para pustakawan, Senin besok tetap masuk kerja, ya. Jangan terlambat, jangan telat. Tanggungjawab besar ada di perpustakaan. Bersama buku-buku, bersama mahasiswa. Bersama para siswa. Bergembira bersama mereka.

Monday, 19 March 2018

, , , ,

Meneguk inspirasi, menuai berkah motivasi

Yokta berjalan berkeliling. Matanya menyapu tiap ruangan, bahkan sampai sudut-sudutnya. Sesekali dia berhenti untuk memotret, bertanya, atau mendengarkan penjelasan. Sorot mata dan gestur tubuhnya mengisyaratkan kekaguman. Yokta jauh-jauh datang dari Bali ke Perpustakaan Unsyiah. Tentu dia tidak sendiri, namun serombongan bersama teman-temannya. Banyak hal yang dia dapatkan. Pada penerapan teknologi di perpustakaan, dia amat terkesan. Tentu saja, mesin EDC (Electronic Data Capture ) turut menambah decak kagumnya.  Diapun berjanji, akan mengikuti apa yang sudah dilakukan Unsyiah. [1]
###
Lain waktu, seorang profesor dari Thailand datang. Namanya Prof.  Surin Maisrikrod. Dia bekerja di Walailak University, Thailand Selatan. Ekspresi senyum dan gestur tubuhnya tak beda dengan Yokta. Surin juga kagum dengan perpustakaan Unsyiah. Pada jumlah kunjungan dan jumlah peminjaman yang selalu meningkat. Serta pada teknologi yang diterapkan. Banyak catatan yang dia buat. Catatan itu akan dia bawa untuk didiskusikan dengan pengelola perpustakaan di kampusnya. [2]
***   
Purwo.co -- Itu bukan cerita rekaan. Namun cerita senyatanya, yang Saya bungkus dengan gaya bertutur, biar terasa hidup. Sumbernya pun tak hanya satu. Jika kurang yakin, coba tengok sumber terkait. Masih ada yang lain, tidak hanya 2 di atas. Ada juga tamu dari Malaysia, [3] atau berbagai institusi lainnya.

shelving crew Perpus UNSYIAH dengan seragam khasnya.
sumber: klik
Tulisan ini, merupakan lanjutan episode pertama. Setahun lalu, saya paparkan "isi" Perpustakaan Unsyiah yang membuat saya kagum. Mulai dari pintu gerbang, pintu masuk, ruang pentas, ruang lesehan, sampai cafe pustaka. [4]

Perpustakaan Unsyiah sedang berada pada ritme perkembangan yang pesat. Rodanya berputar cepat, secepat laju kendaraan MotoGP, atau Formula 1. Cepat dan selalu ingin melibas. Puncaknya dimulai pada 2015. Demikian disampaikan Pak Taufiq, sang Kepala Perpustakaan. Bukan hanya pada satu sisi, namun dari banyak sisi. Lengkap. Berbagai perkembangan inilah yang menjadi sedekah perpustakaan untuk memotivasi dan mendorong inovasi pustakawan lainnya.

Ada dua sudut pandang untuk menakar Perpustakaan Unsyiah: sisi pustakawan dan sisi pemustaka. Dari keduanya, dapat dipanen berbagai inspirasi dan motivasi. Dari sisi pandang saya sebagai pustakawan, ada beberapa hal yang elok dijadikan catatan. Hal tersebut, yang menjadi pemicu, atau pelecut semangat. Atau cambuk yang memaksa mempergegas langkah. Tulisan ini mengulas berbagai hal yang inspiratif dari sisi kerja pustakawan atau pengelolanya.

Berikut beberapa point istimewa yang saya maksud di atas. Beberapa data saya sertakan, untuk memperkuat pemetaan yang saya lakukan.

Kreativitas
Tahun 2014 saya mulai serius mengenal Perpustakaan Unsyiah. Pada acara SLiMS Commeet, sebuah konferensi pegiat software untuk perpustakaan - SLiMS -, di Semarang. Pak Taufiq, Sang Kepala Perpustakaan mempresentasikan penerapan SLiMS di Unsyiah. Tentu saja, paparan itu diawali berbagai kondisi sebelum berbagai perubahan dimulai. Sehingga terlihat terang perbedaan dan perkembangannya. Kuasa dan kompetensi benar-benar bekerja.

Pada pertemuan itu, tertampak jelas semangat yang ada pada diri Pak Taufiq.

Pada tahun-tahun tersebut, RFID (teknologi untuk menyimpan dan mengambil data jarak jauh) sedang menjadi bahan berbumbu lezat bagi pembicaraan para pustakawan. RFID menjadi acuan kelas sosial sebuah perpustakaan: kelas bawah, tengah, atau puncak. Perpustakaan berlomba menjadi yang pertama menerapkannya. Bahkan, ada yang beberapa tahun sebelumnya sudah konferensi pers: hendak menerapkan RFID, meskipun berhenti. Ada yang mengundang museum pencatat rekor guna meneguhkan bahwa dia yang pertama menerapkan RFID. Namun, ada juga yang tidak begitu mempedulikan. Sikap pustakawan pada RFID memang beragam dan sangat menarik.

Unsyiah, yang ada di ujung Sumatera itu, begerak dalam senyap. Ibarat perang, dia melakukan perang gerilya. Untuk memulai, maka semua elemen didekati, dipahamkan, diajak urun kemampuan. Mereka diajak berbagi, dan bersemangat. Mahasiswa tingkat akhir, yang memerlukan bahan untuk riset salah satunya. Senyap. Namun ketika momentum itu datang, Pustaka Unsyiah menunjukkan dirinya. Kolaborasi dengan mahasiswa terwujud. Hasilnya, perpustakaan mampu membuat middle ware (penghubung software SLiMS dan alat RFID) secara mandiri. [5]

Produk mandiri ini membebaskan Unsyiah dari ketergantungan. Bermanfaat bagi perpustakaan, juga mahasiswa. Tentu saja menekan berbagai komponen biaya. Semuanya senang.

*** 
Pertemuan tahun 2014 itu, terulang lagi di 2015 di Malang, dan 2016 di Jogja. Di Malang, Pak Taufiq dan tim kembali menularkan inovasinya. Sama seperti Yokta dan Surin, peserta melongo, heran, bangga, namun juga iri, melihat perkembangan perpustakaan Unsyiah. Luckty dari Lampung, misalnya, yang tanpa tedeng aling-aling menulis testimoni di akun medsosnya. Kemudian juga Ana, pustakawan Mojosari yang sampai berkhayal dan tak bisa tidur setelah mendengar paparan tentang perpustakaan Unsyiah. "Ngebayangin bagaimana indah dan nyamannya perpus Unsyiah", demikian tulisnya.

http://library.unsyiah.ac.id/program-perpustakaan-unsyiah-jadi-inspirasi/

Di Jogja, kami bertemu pada acara pungkasan FPPTI DIY 2013-2016. Saat itu, Pak Taufiq mengatakan, "Kami semua yang bekerja di perpustakaan itu pustakawan". Kalimat yang mengagetkan saya. Karena muncul di saat pustakawan jumawa ingin membuat garis pembatas yang jelas: siapa pustakawan, siapa bukan pustakawan. "Dengan menganggap kami sebagai pustakawan, maka akan meningkatkan percaya diri kami dalam mengelola perpustakaan", demikian alasan beliau. Seolah ingin menegaskan pula, bahwa sesungguhnya setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri.

Para tahap ini, Perpustakaan Unsyiah memberi contoh bagaimana kreatif mencipta hal baru, atau mencari jalan baru. Sekaligus melawan kejumudan berfikir dalam pengembangan perpustakaan. Diikuti dengan semangat belajar dan berbagi, kepada siapapun dan dimanapun. 

Kolaborasi
Apa yang saya tulis di atas, sebenarnya juga bagian dari kolaborasi. Namun, jika ditelisik lebih jauh, ada inspirasi terkait kolaborasi yang pantas kita renungkan.

Sosialisasi perpustakaan, atau jamak disebut dengan kegiatan literasi informasi, sudah umum dilakukan, untuk mahasiswa baru atau siapa saja yang membutuhkan. Namun duta baca, masih terbilang sedikit. Bahkan belum ada, sampai kemudian Perpustakaan Unsyiah memulainya. Yang digarap Pustaka Unsyiah bukan hanya duta baca secara seremonial. Bukan. Namun duta baca yang benar-benar dilibatkan pada berbagai kegiatan perpustakaan.

Duta baca digembleng militer.
Sumber: klik
Duta baca ini digarap serius. Tidak sekedar penilaian berkas di meja. Namun, mereka juga dikirim, digembleng di padepokan militer. Dibekali berbagai keterampilan dan pengetahuan. Hasilnya akan tercipta duta baca yang bermental kuat, serta prestisius bagi siapa saja yang menyandangnya.  Dia jadi brand, ikon, contoh, model, fokus, yang diharapkan menjadi magnet. Menarik mahasiswa untuk mengikutinya.

Melibatkan mahasiswa dalam kegiatan perpustakaan juga sudah jamak dilakukan. Saya merasa, di perpustakaan saya pun demikian. Kami berkolaborasi dengan mahasiswa. Mengajak mereka untuk menjadi pemateri kegiatan bagi mahasiswa lain. Namun, memastikan keberlangsungannya tetap terjaga, menjadi tantangan tersendiri.

Agaknya, atas dasar itulah akhirnya Perpustakaan Unsyiah melahirkan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Literasi Informasi. Setahu saya, ini yang pertama di Indonesia. Dengan UKM ini, regenerasi, fokus kegiatan, dan sasaran aktivitas akan lebih terjaga.

ULF, atau Unsyiah Library Fiesta juga menjadi bukti kolaborasi berikutnya. Ini kegiatan akbar, yang gaungnya merambat sampai ke Jawa. Ini kegiatan luar biasa. Melibatkan banyak pihak, mulai dari dosen, mahasiswa, pustakawan, dan bahkan bantuan militer untuk penggemblengan disiplin. Militer!, institusi yang beberapa tahun lalu memiliki hubungan kurang harmonis dengan sipil di Aceh. Perpustakaan mampu merangkulnya. Ini bukti nyata kolaborasi di perpustakaan, yang lebih hidup daripada sekadar kajian di kertas-kertas ilmiah atau slide presentasi.

Open Education Resources, atau populer disebut OER merupakan produk baru hasil kolaborasi di Perpustakaan Unsyiah bersama UKM Literasi Informasi. OER ini, turut meneguhkan ikatan kolaborasi pengembangan perpustakaan Unsyiah.

Berbagai kolaborasi di atas berefek dahsyat. Tingkat kemasyhuran perpustakaan di mata mahasiswa menjadi naik berlipat ganda. Mahasiswa menjadi peduli, dan kreatif terkait perpustakaan. Kerelaan mereka membuat berbagai video pendek bertema perpustakaan, menjadi buktinya. Berbagai video tersebut dapat anda lihat di https://www.youtube.com/channel/UCNyNFy2KGE6JlgqkxN8suDg.



Perpustakaan Unsyiah memberi contoh, bagaimana bentuk kolaborasi yang berkualitas

Profesionalisme 
Saya mulai bagian ini dengan singkat membahas pencitraan. “Kita perlu pencitraan yang sahih”, demikian kata Kang Hasan dalam bukunya “Melawan Miskin Pikiran”. [6] Pencitraan itu perlu dan penting. Namun pencitraan yang benar. Yang nyata, dan bukan rekayasa.

Agaknya, hal ini juga dipahami sungguh oleh pengelola perpustakaan Unsyiah.  Pencitraan atas profesionalisme yang benar-benar dilakukan. Profesionalisme tetap didahulukan. Pencitraan menjadi penopang agar profesionalisme dapat menyebar. Hasilnya pun luar biasa.

Kerja-kerja di Perpustakaan Unsyiah, bagi saya sangat profesional. Pustakawan didorong untuk selalu mencerap dan memamah pengetahuan baru, dari berbagai sumber. Tujuannya satu: agar semakin profesional. Dari sisi tampilan pun oke dan menarik. Tenaga paruh waktu dari mahasiswa juga diberi atribut khusus sebagai identitas. Mereka harus terlihat beda, dan percaya diri dibanding mahasiswa lainnya.

Perpustakaan juga memiliki tim yang berisi pustakawan dan mahasiswa, yang bertugas menulis dan menerbitkannya dalam sebuah buletin: Librisiana. Buletin ini dikelola dengan serius, memiliki struktur dan profesional. Librisiana tidak sendirian. Dia juga ditopang oleh akun media sosial. Instagram, misalnya.

Instagram (IG) Pustaka Unsyiah termasuk aktif. Postingan berkualitas dan promotif rutin menghiasi. Akun ini memposting kegiatan, atau koleksi perpustakaan Unsyiah. IG Perpustakaan Unsyiah tercatat memiliki 7.425 pengikut. Jauh lebih banyak dari IG perpustakaan yang ada di Jawa. Bahkan yang berkategori perpustakaan besar sekalipun.

Yang membuat saya geleng kepala terheran-heran, akun IG Dekan FT UGM pun, menjadi follower IG Perpustakaan Unsyiah. Ini di luar dugaan, sangat-sangat istimewa.

Instagram Perpustakaan Unsyiah

Profesionalisme yang berkesinambungan, akan melahirkan citra positif.

Tidak lupa pada akarnya
Sebagai sebuah perpustakaan perguruan tinggi, Perpustakaan Unsyiah tidak lupa pada akarnya. Masyarakat luas, yang menjadi tempat perguruan tinggi itu berada. Masyarakat yang menanti sentuhan perguruan tinggi untuk dapat memberi pencerahan.

Proses mengakarnya perpustakaan Unsyiah, dilakukan pada beberapa kelompok atau kerumunan. Pustaka Unsyiah hadir di lembaga pemasyarakatan anak, SLB (Sekolah Luar Biasa), serta kerumunan orang di Car Free Day. Bersama mahasiswa dan tentunya Sang Duta Baca, Pustaka Unsyiah memberi pencerahan terkait literasi, belajar sepanjang hayat dan program lainnya.

Car free day (sumber gambar: klik)

Kreativitas + Kolaborasi + Profesionalisme  = lompatan capaian


Epilog
Lahir tahun 1970, kurang lebih 48 tahun usia Perpustakaan Unsyiah. Usia ideal bagi seorang pemimpin. Masih enerjik, haus ilmu, dan gemar berbagi.  Kepala perpustakaan yang begitu profesional turut menambah nilai. Status ilmuwan sang Kepala Perpustakaan menjadi penyempurna. Selaras dengan ungkapan Al Attas, bahwa kepala perpustakaan itu hendaknya seorang ilmuwan, yang juga dididik secara profesional. [7]

Kemunculan perpustakaan Unsyiah pada peta perkembangan perpustakaan di Indonesia sangat menarik. Dia  memorak-porandakan peta Jawa centris, menjadi lebih adil dan merata. Membuka mata, bahwa kompetensi itu di atas segalanya. Dia bukan sekedar perpustakaan. Lebih lengkap. Perpustakaan ini mampu mendobrak kejumudan pengembangan perpustakaan. Mampu menurunkan ide langitan para pemikir, turun ke tanah. Dalam bentuk layanan yang tepat, menarik. Seksi! bagi para pemustakanya.

Letaknya boleh di ujung pulau Sumatra. Jauh dari ibukota negara. Daerahnya pernah dilanda tsunami,hingga seolah tak ada sisa. Juga sekian lama dalam kondisi mencekam karena tarik ulur kekuasaan. Namun, semangat warisan para teuku tetap mengalir di darah mereka. Perpustakaan Unsyiah telah berproses bukan sekedar untuk menjadi baik, namun melakukan berbagai lompatan besar. Sangat layak menjadi tujuan, bagi pustakawan yang kehausan dan hendak meneguk air inspirasi, lalu menuai berkah motivasi.

Beberapa bukti di atas, menjadi bukti bahwa perpustakaan Unsyiah sudah ada para tahap leader, bukan lagi follower. Namun demikian, Perpustakaan Unsyiah tidak boleh silau. Dia tetap harus rendah hati, belajar dari siapapun dan membagi pada siapapun.

Satu hal yang perlu dicatat: regenerasi harus diperhatikan. Agar semua penggeraknya bisa menjadi ideolog secara bergiliran.

Sambisari, 
Selasa, 20 Maret 2018

[1]. http://library.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/2017/09/Librisyana-Ed.-6-Preview-File.pdf.

[2]. http://www.unsyiah.ac.id/berita/profesor-thailand-terkesan-dengan-perpustakaan-unsyiah,

[3]. http://www.unsyiah.ac.id/berita/siswa-malaysia-kunjungi-perpustakaan-unsyiah,

[4]. http://www.purwo.co/2017/03/perpustakaan-unsyiah-model-ideal.html

[5]. http://etd.unsyiah.ac.id/index.php?p=show_detail&id=18173

[6]. Melawan Miskin Pikiran : Memenangkan Pertarungan Hidup Ala Kang Hasan. Oleh Hasanudin Abdurakhman. Nuansa Cendikia: 2016

[7]. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Ditulis oleh Wan Mohd Nor Wan Daud. Mizan: 2003


Tuesday, 13 March 2018

(Pustakawan) Jangan malu belajar ke mahasiswa!!!

“Mas, saya diminta Prof. Djun ketemu njenengan”, mahasiswa yang bernama Dina itu menemui saya. Dia ingin tahu tentang software analisis data kualitatif.

“O, NVivo, kah? ada juga Atlas.ti”. Kami pun ngobrol ngalor ngidul. Saya sampaikan, bahwa saya belum paham benar tentang kedua software ini. Softwarenya sendiri berbayar. Namun ada trialnya 14-30 hari.

Saya carikan info terkait kedua software itu di internet. Apa fungsinya dan di mana unduhnya. Dengan satu catatan, Saya belum bisa ngajari penggunaannya!. Dina meninggalkan nomor hape, untuk saya hubungi jika suatu saat saya bisa mengajari atau ada info lanjutan tentang NVivo.

Lebih dari seminggu kemudian..

Dina kirim wa. “Pak, Fisipol pernah ada pelatihan. Ini posternya”. Saya kaget. Harusnya sebagai pustakawan, info ini saya peroleh dulu, kemudian saya sampaikan ke Dina. Saya jawab terimakasih, meski menahan malu. Untungnya lewat wa.

Singkat cerita, Saya ikut pelatihan NVivo di Fisipol. Dina juga bergabung.

Gedung Fisipol yang megah itu cukup membingungkan saya. Berbeda jauh dengan ketika saya kuliah, 16 tahun lalu. Dulu, hanya ada satu gedung baru, gedung Yong Ma. Sekarang, 90% baru. Bahkan mushola sudah berganti total.

Dengan bertanya kiri kanan, akhirnya saya temukan ruangan pelatihan. Ruangnya tidak begitu besar. Bersih, ada 20 kursi, proyektor, AC, papan tulis transparan. Mewah pokoknya. Pelatihan dimulai, jam 9-14 siang. Tentunya dipotong waktu istirahat. Seperti umumnya pelatihan, kami belajar bagaimana menggunakan software tersebut. Pematerinya Yasa dan Adat , keduanya mahasiswa pegiat CfDS. Mereka begitu mahir. Ditambah ruangan Fisipol yang nyaman, membuat pelatihan menyenangkan.

***

Seminggu berlalu. ....

Sebagaimana keseharian di perpustakaan FT UGM, jika tidak ada jadwal pelatihan, maka terkadang mahasiswa yang meminta. Saat itu, mahasiswa EGov (dulu CIO) datang menemui saya. Saya cerita tentang NVivo. Agaknya mereka banyak yang menggunakan kualitatif. Sepertinya berguna, fikir saya.

E, lha mereka tertarik. “Namun ini bukan pelatihan, lho. Hanya berbagi. Saya belum mahir.” begitu catatan saya.

Sembilan belas mahasiswa EGov itu menjadi kelas pertama NVivo di Perpustakaan FT UGM.

***

Sebagai pustakawan, jangan malu belajar pada siapapun. Termasuk dari mahasiswa. Jadilah jembatan, untuk mengantarkan kemampuan mahasiswa satu, kepada mahasiswa lainnya. Kemampuan mahasiswa tersebut beragam, dan sangat dinamis.

Bukankah musuh pustakawan yang paling besar itu pekerjaan perulangan?

Tuesday, 13 February 2018

, ,

Rekreasi yang sesungguhnya (3, habis)

Tulisan sebelumnya: http://www.purwo.co/2018/02/agar-tidak-menyesal-ketika-mati-dan.html

Tubing (di) sungai. Aliran air sebagai aliran kehidupan, gelombang air adalah gelombang kehidupan, aliran menurun adalah kehidupan menurun. Ban tempat hidup yang untuk dikendalikan. Tebing kanan kiri dan bebatuan di bawah adalah ancaman. Jadi disaat kita naik butuh keseimbangan untuk mengendalikan dengan situasi dan kondisi aliran air/aliran kehidupan yang deras dan bergelombang juga kadang menurun. Kanan-kiri-bawah mengancam yang bisa membuat kita jatuh, dan disaat kita terjatuh itu bisa kembali naik ke atas atau pupus. Maksudnya dalam kehidupan disaat kita bisa kembali bangkit, naik iman takwa kita, atau kita berhenti menjadi orang yang tidak (ber)takwa lagi. (Kang Sabar, dalam memaknai wisata tubing)


Purwo.co -- Minggu tanggal 11 Februari, hari terakhir dari rentetan kegiatan 3 hari kami. Pagi itu, setelah pengajian Subuh, kami sarapan kemudian bersiap menuju arena tubing yang jaraknya sekitar 3 kilo dari tempat menginap.

Kami berjalan kaki, beriringan sambil ngobrol ngalor ngidul. Ini waktu yang saya harapkan, agar bisa menelisik lebih dalam tentang keindahan lokasi yang kami kunjungi.

Benar dugaan saya, daerah ini sangat indah. Penduduknya yang ramah, turut menambah keindahan. Klakson motor dan senyum warga yang berpapasan dengan kami menjadi buktinya. Perjalanan naik turun bukit yang cukup jauh itu menjadi tidak begitu melelahkan.

Jalan yang kami lalui hanya muat untuk satu kendaraan roda 4. Jika ada yang berpapasan, maka salah satu harus mengalah untuk berhenti dan agak minggir. Tikungan tajam juga kerap kami temui, yang memaksa kendaraan harus ekstra hati-hati. Apalagi yang belum pernah berkunjung, kemungkinan terpesona pada alamnya, bisa berpotensi membuyarkan konsentrasi dan berakibat buruk saat berkendara.

Jalan yang hanya muat satu mobil roda 4 itu semakin menyempit, yang akhirnya benar-benar hanya muat 1 mobil saja, tidak bisa berpapasan, meskipun dengan motor. Bahkan, jika ada mobil lewat, maka pejalan kaki harus berhenti dan minggir ke selokan agar mobil bisa bergerak. Di ujung  jalan, kami temukan sebuah gerbang lokasi tubing. Tidak bisa tidak, kami harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju lokasi start tubing.

###

Kami menyusuri jalan setapak di atas sebuah sungai. Jalan tersebut sudah dikeraskan pada beberapa bagian menggunakan semen. Tampak usaha agar pengunjung tubing bisa merasa nyaman berjalan ke lokasi. Jalan tersebut terletak di atas sungai, di antara dua bukit yang menjulang tinggi, hijau dengan tanaman sayur yang siap panen.

Sejauh mata memandang, selain tegalan sayuran, juga tampak orang-orang yang merambat naik-turun tegalan yang kemiringannya sekitar 80 derajat itu, untuk membersihkan rumput, memberi pupuk, mengobati, atau memanen sayuran.

Setelah beberapa waktu perjalanan, kami sampai di lokasi start. Setelah briefing tentang aspek keamanan selama tubing, kami antri memakai peralatan pengaman kemudian membawa ban yang sudah diisi angin ke titik start. Bagi yang belum dapat antrian, bisa mengisi waktu dengan berlatih memanah.

###

Kami rela antri untuk merasakan sensasi memanah di ruang terbuka. Terkadang, kami harus menunggu karena di sisi kiri sasarann ada warga yang melintas, pulang dari atau ke tegalan. Ada satu titik sasaran panah, serta dua busur yang tersedia. Jarak sasaran kurang lebih 10 meter. Teriakan girang memecah suasana, ketika salah satu diantara kami mampu membidik sasaran dengan tepat, meski tidak benar-benar menancap di tengah. Setelah semua anak panah habis, maka salah satu dari kami akan mengambil. Sementara yang memegang busur harus sabar menunggu sampai anak panah ditemukan atau dicabut dari titik sasaran.

###

Jalur tubing ditempuh pada jarak yang lumayan jauh. Batu yang ada di sepanjang sungai tampaknya benar-benar masih alami. Satu per satu kami naik di atas ban, kemudian membiarkan arus sungai bebas menyeret kami ke hilir. Benturan dengan batu, atau ketika ketemu teman yang macet, kami pun bisa berbenturan. Bukan hanya benturan, namun ada juga yang terjatuh karena tidak seimbang ketika melewati turunan. Yang tidak sigap, bisa terpisah dari ban, kemudian jatuh ke air. Tak pelak, minum air sungai sangat mungkin terjadi pada kondisi demikian. Gelak tawa pecah di antara kami.

Setelah melewati perjalanan menggunakan ban dalam tersebut, kami sampai di akhir. Tulisan yang seharusnya finish itu tertulis berbeda, agaknya disengaja, "VINISH". Tepat di sebelah batu besar yang gagah berdiri. Di lokasi finish ini ada bagian sungai yang cukup lebar dan dalam. Kami lampiaskan kegembiraan di titik ini, sambil menunggu peserta lain yang belum selesai.

Setelah semua mencapai finish, kami kembali ke titik kumpul tubing.

Di samping lokasi tubing itu terdapat air terjun. Airnya yang bening, seolah melambaikan tangan, agar kami mendekat dan merasakan kesegaran di balik dinginnya. Beberapa yang telah selesai tubing, mencoba mendekat ke air terjun ini, sembari membersihkan badan.

Yang lainnya menikmati telo goreng, dan nasi montok. Nasi montok merupakan nasi khas, yang dikukus dengan bungkus daun pisang. Lauknya semacam botok. Teh panas yang telah dituang menjadi pelengkap, yang jika tidak segera diminum akan cepat dingin dihimpit suhu pegunungan.

###

Kami pun kembali ke penginapan. Sebelum Dzuhur dan makan siang, ada sajian 15 butir duren yang siap disantap. Kami beramai-ramai menikmati duren tersebut, istiharat, kemudian sholat Dzuhur serta makan siang. Menu makan siang terakhir itu berupa soto ayam kampung, lengkap dengan kerupuk dan tempe goreng.

Kami segera berkemas. Selain berkemas, kami juga ikut membersihkan rumah yang kami tempati, sebagai bentuk terimakasih pada si empunya rumah. Ada kejadian menarik pada saat ini. Embah yang punya rumah benar-benar melarang kami membantu membersihkan rumah, hingga kadang ada adegan lucu di antara kami yang harus menghindar karena sapu atau pel yang kami pegang hendak direbut simbah. Ucapan terimakasih kami sampaikan pada Embah Kakung dan Putri pemilik rumah.

Setelah berkemas, kami berkumpul di masjid, mendengarkan pesan terakhir, kemudiah sholar Ashar lalu pulang.


###


Epilog
“Model seperti ini kayae malah menyenangkan. Selain dapat ilmu, juga dapat gembira. Plus bisa melihat pemandangan sebagai bentuk rekreasi”, demikian inti komentar beberapa kawan. Ya, tentunya dengan biaya yang murah pula. Dengan tanpa beban, tidak dikejar-kejar waktu, kita diajak untuk jujur pada diri sendiri untuk melihat sisi lain dari proses hidup yang kita jalani.

Saya tidak ingin menggiring atau merampatkan, bahwa semuanya sepakat dengan pandangan di atas. Namun, bagi saya pribadi, ini merupakan pengalaman berharga. Ada banyak hal menarik, positif yang diperoleh selama kegiatan. Pembiasaan hidup tertib, melalui kebiasaan sholat jamaah, sholat tahajud, ikut pengajian, berkunjung kepada warga, yang dibentuk selama 3 hari, harapannya dapat diteruskan ketika (khususnya) menjalankan pekerjaan di institusi.

Hidup perlu perjuangan, seperti halnya ketika bergembira tubing. Bisa jatuh, bisa naik lagi. Bisa terluka dan lainnya. Tubing itu menurun, waktu yang sudah kita lalui, tak bisa diulang lagi. Seperti yang dimaknai Kang Sabar, kawan saya, sebagaimana tertulis di awal tulisan ini.

Tamat

, ,

Agar tidak menyesal ketika mati, dan minta dihidupkan lagi (2)

Tulisan terkait sebelumnyahttp://www.purwo.co/2018/02/akhirnya-sop-daging-itu-meruntuhkan.html

Purwo.co -- Sore itu, setelah sholat Ashar kami berkumpul, duduk melingkar di dalam masjid. Ketua Takmir masjid, yang tadi menjadi imam masjid memberikan sambutan. Kami dikenalkan pada beberapa orang yang akan membersamai kami selama kegiatan. Kami juga menyepakati usulan kegiatan yang akan kami lakukan.

Selepas magrib di Jumat sore, kami akan dibagi beberapa kelompok untuk berkunjung ke rumah warga sekitar. Selain silaturahmi, kami juga diminta mengajak mereka datang ke masjid untuk sholat Isya’ dan mendengarkan pengajian. Kemudian untuk hari Sabtu, akan dilanjutkan beberapa kajian setelah sholat wajib. Beberapa dari kami dijadwal untuk memberi tausiah atau membaca hadits. Kemudian pada sabtu sore akan dibagi lagi dalam beberapa kelompok, berpencar ke masjid-masjid sekitar sampai setelah Isya. Setiap hari kegiatan selesai pukul 9 malam, kemudian istirahat. Bangun pukul 3 pagi untuk sholat tahajud, dilanjutkan Subuh berjamaah. Pada hari Minggu setelah kajian pagi, kami akan bersenang-senang di sebuah arena tubing (naik ban dalam), yang jaraknya beberapa kilo dari rumah yang kami tempati.

Demikian gambaran kegiatan selama beberapa hari ke depan.

###

Pada kunjungan ke rumah warga di Jumat sore, kami berempat memperoleh titik tujuan yang paling jauh. Berjalan menyusuri jalan menanjak, dan tanpa penerangan untuk mencapai lokasi. Ditemani 2 panitia: satu orang asli sebagai penunjuk arah, satunya pendamping yang akan membersamai selama ngobrol dengan penduduk.

Sebenarnya saya agak ragu. Tidak biasanya saya berkunjung ke rumah orang pada waktu antara Magrib dan Isya’. Biasanya waktu tersebut digunakan untuk istirahat, bercengkerama dengan keluarga. Namun, beda tempat beda kebiasaan. Di tempat ini, justru pada waktu tersebut lazim dilakukan, karena sebelum Magrib mereka harus bersih-bersih diri sepulang dari tegalan. Sementara setelah Isya’ mereka bersiap istirahat, atau menghadiri hajatan kampung.

Kunjugan pertama ke rumah Pak Sur, kemudian Pak Eko, dan terakhir Pak Rian. Ketiga nama ini, bukan nama sebenarnya, melainkan nama dari anak pertama mereka. Pak Sur memiliki anak pertama yang bernama Sur, maka beliau dipanggil Pak Sur. Demikian pula dengan Pak Eko dan Pak Rian. Mereka bertiga menyambut kami dengan suka cita. Pak Eko, yang kabarnya baru sembuh dari sakit, tampak senang ketika kami berkunjung.

“Pripun, Pak? Sampun dangan?”, demikian kami membuka pembicaraan, yang akhirnya mengantarkan pada berbagai topik.

Kunjungan kami berikutnya dilakukan pada hari Sabtu sore. Karena dijadwalkan berkunjung ke dusun sebelah, maka kami, menggunakan dua mobil berangkat pada Sabtu sore, sebelum Magrib. Tujuan kami sebuah masjid yang merupakan bagian dari sebuah pondok pesantren, yang dilengkapi kompleks madrasah aliyah. Sesampainya di masjid, kami berempat meninggalkan masjid, mewakili rombongan bekunjung ke rumah pengasuh pondok.

###

Rumah itu tampak megah. Bagian depan terpasang plakat identitas sebuah yayasan pendidikan berwarna hijau. Kami mengetok pintu, tak lama kemudian si empunya rumah membukakan pintu. Seorang laki-laki, usianya di atas 40 tahun, mengenakan kopiah, berbaju koko dan mengenakan sarung. Jenggot tipis menghiasi wajahnya yang teduh dan penuh senyuman. "Pak Kyai", demikian teman saya menyebutnya. Dengan penuh hormat, kami masuk dan duduk lesehan di ruang tamu yang tampak luas, bersih dan tertata. Beberapa komputer rapi terpasang pada tempatnya. Agaknya ruang tamu itu juga difungsikan sebaca ruang kerja atau kantor kecil.

Setelah basa-basi, kami pun terlibat pembicaraan, ditemani oleh buah duku, teh manis dan roti yang sudah dipotong-potong. Ketika minuman dihidangkan, teman di samping saya begitu sigapnya membantu Pak Kyai menata minuman, khas seorang santri yang begitu menghormati kyainya.

Fiqh rumah tangga menjadi topik pembicaraan sore itu. Topik ini dilatar belakangi oleh salah satu dari kami, yang bekerja di pembinaan pegawai daerah yang sering menghadapi permasalahan rumah tangga pegawai yang masuk ke meja kerjanya. Pak Kyai menjelaskan beberapa hal secara singkat, sekaligus nasihat pada kawan saya tersebut. "Mendamaikan dan membimbing mencari jalan keluar dari masalah rumah tangga, itu profesi terpuji", demikian kurang lebih salah satu komentar Pak Kyai. Sore itu, saya merasakan atmorfir ngaji dadakan dengan cara sowan pada kyai. Pembicaraan yang menarik itu, harus dihentikan oleh suara Adzan magrib. Kami bergegas ke masjid. Berkunjung dan ngaji langsung ke seorang Kyai, nyatanya akan menemukan berbagai hikmah dan ilmu.

###

Shof laki-laki dan perempuan telah terisi. Iqomah pun dikumandangkan. Pak Kyai yang tadi kami temui, sudah ada di antara kami, untuk menjadi imam sholat magrib. Suaranya yang merdu, mengalun mengiringi sholat kami di sore itu.

Selepas Magrib, kami dibagi 3. Dua orang di masjid untuk pengajian, sementara dua kelompok lain melakukan kunjungan ke rumah penduduk sekitar. Saya ikut kelompok yang berkunjung ke penduduk.

Pak Parman, seorang guru SD yang 3 tahun lagi pensiun menyambut kami. Senyumnya yang ramah selalu mengembang selama obrolan di sore itu. Kumis tipis, dan kulitnya yang hampir keriput menambah keramahannya. Di dinding tampak lukisan Bima/Werkudoro yang sedang berperang melawan seekor ular. Lukisan itu lukisan Pak Parman sendiri. “Bakat yang tak tersalurkan, Mas”, demikian ungkapnya. Sebagai seorang guru SD memang harus menguasai banyak hal: matematika, bahasa, IPA, IPS, hingga kesenian, termasuk menggambar.

Lukisan Bima tersebut menjadi titik pangkal pembicaraan kami. Lukisan Bima, lakon wayang Bima Suci yang merupakan lakon pertama yang dimainkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, sampai pada cerita nyantriknya Kanjeng Nabi Musa pada Nabi Khidir. Tentunya beberapa cerita di atas, dikaitkan dengan proses hidup kita saat ini. Belajar, terutama belajar agama tidak mengenal usia, karena kita tidak tahu, kapan kita akan meninggal.

###

Menjelang Isya’ kami pamit, kembali ke masjid. Di masjid tampak Pak Kyai sedang berdiskusi dengan jamaah. Kami bergabung, sampai kemudian adzan Isya berkumandang. Setelah sholat, beberapa menit pengajian, kamu pun pamit. “Adakah pesan untuk kami, Kyai?”, salah seorang dari kami bertanya. Saya tak begitu jelas dengan teks arabnya, namun dalam bahasa Indonesia, Pak Kyai menyampaikan bahwa “keikhlasan dan konsistensi pada kebaikan akan mengantarkan kita pada kesuksesan”.

###

Kami kembali ke penginapan. Di masjid tampak teman-teman sudah berkumpul. Di luar dugaan, kami dikunjungi oleh pengurus fakultas. Satu per satu, mewakili departemen, teman-teman menyampaikan testimoninya terkait kegiatan yang dilakukan, dan apa yang dirasakan selama hampir 3 hari itu.


###

Agar tidak menyesal ketika telah mati
“Agar tidak menyesal ketika telah mati”, merupakan kalimat kunci, atau ringkasan selama kegiatan 3 hari.  Meskipun kita semua belum merasakan mati, namun dengan melihat proses kehidupan manusia sejak sebelum lahir, maka ada pelajaran yang bisa dipetik. Apa yang penting untuk kehidupan bayi yang masih dalam alam kandungan, menjadi tidak penting ketika telah lahir di dunia. Demikian pula, apa yang dianggap penting ketika hidup di dunia, bisa menjadi tidak penting setelah meninggal. Maka menyeimbangkan apa yang saat ini penting, dengan apa yang nanti (setelah meninggal) dianggap penting, menjadi penting untuk diperhatikan.

Dunia yang dialami sejak di alam kandungan, dunia, dan setelah mati memiliki 3 perbedaan: luasnya berbeda, lamanya berbeda, serta kebutuhan pokoknya berbeda. Di alam kandungan kurang lebih hanya 9 bulan 10 hari, dengan luas alam yang paling sempit. Alam dunia setelah lahir lebih luas, juga lebih lama. Ada yang usianya belasan, puluhan atau bahkan ada yang di atas seratusan tahun. Alam setelah mati, akan lebih luas dan lebih lama lagi.

"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan. (Qs. Al Mu'minuun : 99-100)

Oleh karena itu, jangan sampai setelah meninggal, merasa kekurangan bekal (yang ketika hidup tidak dianggap penting), sehingga minta dihidupkan lagi ke dunia untuk mencari bekal tersebut. Tentunya itu sudah terlambat. Kita harus mampu membedakan beberapa kategori nikmat, sehingga bisa memilah dan mengusahakannya secara berimbang sebagai bekal kehidupan berikutnya.

Nikmat dunia, merupakan nikmat yang paling rendah derajatnya. Di atasnya ada nikmat sehat. Ketika tidak memiliki kesehatan (sakit), orang berani mengeluarkan sebanyak-banyaknya nikmat dunia (harta), agar kembali sehat. Seorang karyawan yang sakit, akan diberi ijin (dimaklumi) untuk tidak masuk kerja. Ini juga bukti bahwa nikmat sehat itu begitu berharga, dan kedudukannya di atas nikmat keduniaan.

Nikmat tertinggi adalah kenikmatan iman. Orang yang meletakkan nikmat iman di atas nikmat dunia dan kesehatan, dan mau berusaha agar keimanannya selalu meningkat, maka nikmat dunia dan kesehatan akan datang dan menentramkannya.

###

Benang merah di dunia kerja
Menyadari dan mengusahakan amal untuk bekal hidup setelah mati, bukan berarti meninggalkan proses usaha selama  hidup di dunia. Umur itu amanah, maka selama umur itu masih ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Memiliki pekerjaan, sebagai karyawan maupun pekerjaan lain, juga merupakan posisi “mumpung” yang harus dimanfaatkan. Mumpung kerja, maka kita harus memaknai kerja kita dengan pemaknaan luas. Pada proses kerja kita sehari-hari ada bagian yang rewardnya untuk dunia, misalnya: gaji, bonus, pangkat dan semacamnya. Namun kita juga harus memperluasnya agar juga memiliki reward sebagai tabungan di akherat. Reward untuk tabungan akherat ini lebih berat usahanya, karena dia akan berwujud pengorbanan dan keikhlasan: pengorbanan untuk ikhlas, pengorbanan yang ikhlas untuk berbagi ilmu, pengorbanan dan ikhlas untuk tunduk pada aturan yang berlaku, jujur dan lainnya.

Meningkatkan performa kerja berlandaskan keimanan, berarti memiliki kinerja yang tidak dibatasi oleh “ketakutan” pada pimpinan. Namun, karena kepatuhan pada pimpinan dan aturan sebagai bagian dari kewajiban yang diberlakukan pada dirinya sebagai makhluk, dilandasi pada proses menjalankan peran pribadinya sebagai manusia, di tengah dan bersama manusia lainnya.

Bersambung ke tulisan berikutnya: http://www.purwo.co/2018/02/rekreasi-yang-sesungguhnya-3-habis.html
Sambisari, Selasa Wage 13 Februari 2018
06.17 pagi