Thursday, 12 September 2019

Bookless library


Paijo, dan tentu saja dengan kawan-kawannya ngepos di gardu ronda. Mereka satu klub dalam meronda. Namun mereka rival dalam pergaplean, salah satu ritual wajib dalam ronda.

Sambil guyon ngalor ngidul, Paijo sebagaimana biasanya, tentu saja sambil promosi ilmunya: ilmu perpustakaan.

"Sekarang perkembangan perpustakaan semakin maju, lho," dia membuka diskusi sambil nyabetke kartu bergambar bulatan merah berjumlah 12 yang sejak lama bertengger di deretan kartunya.

Teman-temannya diam. Mereka konsentrasi pada kartu di tangan masing-masing, sambil menghitung dan memrediksi.

"Sekarang ada yang disebut bookless library," lanjut Paijo. Teman-temannya masih saja diam, sesekali senyum melihat kartu, atau tangannya meraih gelas berisi kopi kental tur pahit. "Srrrup," suara itu terdengar ketika kopi disruput, disusul mata yang merem melek. Gerrr.

"Itu perpustakaan yang tidak ada bukunya. Tempatnya bagus, keren, kekinian. Bisa untuk selonjoran, tiduran, sambil dolanan laptop, nggambar utawa nggawe video," Paijo nerocos.

"Isa juga sambil ngopi, ada kafenya". Paijo tampak mantap menjelaskan.

Ketika Paijo serius menjelaskan, salah satu kawannya tertawa ngakak. "Jo, kayak gitu kok dibilang maju. Sampeyan cerita, pikiranku tidak ke mana-mana. Tetap di gardu ronda ini," sergah Soplo.

Soplo menunjukkan kartunya sudah habis. Dia menang.

"Kok iso, Plo?, Paijo penasaran.

"Lah, bisa saja. Yang kamu ceritakan itu semuanya ada di gardu ronda ini, je. Selonjoran bisa, main laptop bisa, dolanan hape bisa. Di sini juga ndak ada buku sama sekali. Mau gawe video juga bisa. Tinggal pakai hapemu itu buat merekam kita yang lagi gaple ini. Upload ke yutub lalu dapat duit" Soplo menjawab.

"Ngopi, gampang. Ndak perlu kita pencat-pencet gadget pesan kopi. Tiap malam wis ana sik njatah. Ndak hanya kopi, tapi lengkap sama pacitane. Mau baca buku, tinggal buka hape, trus gugling. Akeh. Yang paling penting, di sini bisa gaple, Jo." Soplo melanjutkan.

"Ndak usah jauh-jauh. Pos ronda kita ini juga bookless library, Jo," kata Soplo.

Paijo kaget. Wajahnya kecut. Dia diam, lalu lanjut mengaduk kartu dan membagikannya. Gaple putaran berikutnya dimulai.ya dimulai.

Sunday, 8 September 2019

,

Perpustakaan di mata Google: sebuah analisis kuanlitatif

Latar belakang
Para orang pinter bidang perpustakaan selalu bersepakat bahwa perpustakaan itu harus unjuk gigi. Biar gigi-giginya, yang selama ini tertutup bisa dilihat banyak orang. Kalau orang pada lihat gigi putih dan bersinar, disinyalir akan terpesona.  Juga unjuk jari. Maksudnya, pustakawan memainkan jari-jarinya, pencat-pencet smartphone untuk memopulerkan perpustakaannya. Post, like, and share.

Tidak heran, banyak perpustakaan yang memiliki media sosial yang memuat berbagai hal tentang perpustakaan itu. Ada juga yang diposting di laman media sosial pustakawannya. Ya, memang ada bedanya sih. Di laman perpustakaan itu untuk yang tampak formal, wangun. Yang di laman pustakawannya itu yang gayeng-gayeng, selfie-selfie dan suka-suka. Mulai dari foto di kursi yang baru dibeli untuk perpusnya. Atau foto makan soto bareng pustakawan lainnya untuk menunjukkan betapa hangat dan  guyub para pustakawannya.

Selain pustakawan, ada pula pemustaka yang memberi komentar pada perpus dan pustakawannya. Komentar itu ada di berbagai tempat. Salah satunya di Google. Google, sebagai mesin pelacak nomor wahid di dunia, memiliki rekaman jejak komentar tentang perpustakaan.

Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan bertanggungjawab pada popularitas perpusnya di mata pemustaka. Pustakawan yang sering ikut kol for peper, disinyalir akan berpengaruh pada popularitas perpusnya. Ya, karena dia bisa belajar banyak ketika kol for peper. Selain itu, mestinya ada sentimen positif, dong, dari pemustaka pada perpusnya jika pustakawannya sering ikut kol for peper. Tentu bergengsi. Pemustaka mana ndak seneng jika pustakawannya berprestasi di kol for peper?

Nah, sentimen positif ini bisa dimunculkan di ulasan Google.

Namum, sejauh apa popularitas perpustakaan itu di mata Google lewat ulasan para pemustakanya?

Penelitian yang sangat ilmiah ini akan membuktikannya.

Prasangka
Perpustakaan yang pustakawannya banyak ikut kol for peper, maka popularitas perpustakaannya akan ada di atas rata-rata. Tinggi.

Metode
Penelitian ini menggunakan metode kuanlitatif. Data dikumpulkan dengan metode klak-klik, dan salin tempel. Alat yang digunakan yaitu: komputer lengkap dengan tetikus dan kibot atau papan ketik, serta tentu saja paket data harus tersedia. Lebih baik 4G, biar wus-wus-wus.

Nama perpustakaan dikumpulkan dengan metode nggrambyang. Metode ini merupakan kombinasi antara memori dan respon tangan dalam mengetik di kibot pada laman mesin pencari Google.

Nama perpustakaan yang sudah muncul di laman Google, kemudian dianalisis dengan metode lihat-lihat, serta cermati-pindai.

Data dikumpulkan pada hari Minggu, 8 September 2019. Perubahan data pada Google di periode berikutnya, sangat dimungkinkan. Jika ini terjadi, maka bukan tanggungjawab penulis.

Ah, teori
Di Google, ada beberapa angka yang menunjukkan karakter perpustakaan. Pertama skor, yang ditentukan oleh klik bintang yang dilakukan pengulas. Kemudian komentar yang ditulis oleh pengulas. Sebenarnya komentar ini bisa dipetakan lagi, pakai analisis sentimen. Baik, buruk. Atau bisa juga dipetakan berdasar jenis komentarnya: tentang fisik perpus, pustkawannnya, fasilitasnya, koleksinya, atau mungkin toilet dan kamar mandinya. Tapi itu tidak dilakukan dipenelitian ini. Lama, eui.

Angka berikutnya rata-rata jam yang dihabiskan di perpustakaan. Agaknya Google menghitung dari data yang direkamnya melalui google map. Lalu terakhir hari buka dan jam tutup perpustakaan. Google punya algoritma lacak untuk info ini, tentunya melalui perilaku para pemustakanya.

Pembahasan
Berikut tabel hasil pengumpulan data. Data diurutkan berdasar jam rata-rata pemustaka menghabiskan waktu di perpustakaan. Alasannya apa? Agar terlihat, di perpus mana pemustakanya paling betah di perpustakaan.

Tabel satu-satunya: data perpus dari Google (8/9/2019)
no
nama perpus
skor (bintang) di Google
jumlah komentar
rata-rata pemustaka di perpus (jam)
Jam tutup (malam)
1
ITS
-
69
4
19
2
Kota Jogja
4.4
394
3.5
24 jam
3
UGM
4.7
255
3.5
20
4
UIN Jakarta
4.4
69
3.5
20
5
FT UGM
4.7
52
3.5
19.30
6
UMY
4.4
28
3.5
17
7
UI
4.5
388
3
19
8
UIN Jogja
4.6
137
3
18
9
UNIBRAW
4.5
129
3
22
10
ITB
4.8
109
3
21
11
IPB
4.6
100
3
21
12
USU
4.5
81
3
16
13
UIN Malang
4.7
44
3
18
14
UNSYIAH
-
19
2.5
21
15
UIN Walisongo
4.6
60
2
17
16
UII
4.9
29
-
-
17
UAJY
4.3
14
-
19
18
UIN Sunan Ampel
4.1
10
-
18

Ada 18 perpustakaan yang berhasil kami kumpulkan. Kenapa 18? Karena 18 x 2 itu 36. Tiga puluh enam merupakan angka keramat pada jaman dulu. 36 merupakan jumlah selembar gambar templek mainan saya waktu kecil.

Pada tabel di atas, terlihat skor paling tinggi  ada pada perpustakaan UII, dengan angka 4.9. Namun sayangnya, UII hanya punya 29 pengulas. Padahal mahasiswa UII sebagian besar sekali, pasti banyak yang punya smartphone, yak. Mungkin perlu usaha lagi untuk memopulerkan perpus agar banyak yang mengulasnya.

Sementara itu, paling banyak diulas yaitu perpustakaan Kota Jogja, dengan 394 pengulas. Angka ini memunculkan skor 4.4. Agaknya dengan banyaknya pengulas, skor ini sudah mulai stabil. Beda dengan UII yang baru 29.

Untuk rata-rata jam dihabiskan di perpusakaan, paling lama di perpustakaan ITS, 4 jam. Perpustakaan lainnya hanya kisaran 3-3,5. Bahkan ada yang hanya 2 jam saja. Sayangnya, Google tidak mendefinisikan skor perpustakaan ITS. Entah apa yang dimiliki perpustakaan ini. Empat jam itu setara 3 SKS lebih.



Perpustakaan kota jogja, selain memiliki pengulas paling banyak,  juga memegang rekor buka paling lama. Google mengenalinya sebagai perpustakaan yang buka 24 jam full 7 hari terus-terusan. Uelok tenan. Hal ini juga terkonfirmasi pada laman https://arsipdanperpustakaan.jogjakota.go.id/menu.php?page=2.



Latar depan
Apa itu latar depan? Latar depan itu latar yang terlihat banyak orang. Kalau latar belakang, ndak semua orang bisa lihat. Nah, latar depan itu isinya kesimpulan.

Mosok ada latar belakang, kok ndak ada latar depan.

Kesimpulan dari data data dan pembahasan di atas, yaitu: bergembiralah jadi pustakawan. Meskipun ada kawan-kawanmu yang tidak kuat jadi pustakawan, dan meninggalkanmu. 

Kesimpulan lain, terkait prasangka yang sudah dibuat. Ternyata prasangka tidak terbukti. Atau, tidak sepenuhnya terbukti. Atau, belum bisa dibuktikan. Halah.

Namun, populernya perpustakaan, tidak ditentukan oleh seberapa banyak pustakawannya ikut kol for paper. Melainkan oleh berapa banyak yang mengulasnya. (Ya, iyalah... namanya juga data diambil dari Google ulasan).

Rekomendasi dan Penelitian lanjutan
Pustakawan dan kepala perpustakaan, berdasar penelitian ini, direkomendasikan untuk berbaik hati pada pemustaka. Agar lebih banyak yang mengulas dan isinya bagus, serta memberi bintang 5.

Penelitian ini masih terbatas. Data hanya didasarkan dari Google. Dimungkinkan untuk dilanjutkan dengan penelitian lanjutan, secara lebih medalam, tajam, dan terpercaya. Selanjutnya bisa pula dipublikasikan di jurnal Q1, bahkan di atasnya. Atau, bagi para penggemar jalan-jalan, bisa dikirim ke konferensi, dipresentasikan di kol for paper berbagai konferensi kepustakawanan.

Terima kasih
Kami sampaikan terimakasih pada Google, yang sudah menyediakan datanya. Segala kelebihan penelitian ini adalah buah jasa dan datang dari Google. Sedangkan kekuranganya karena diri saya sendiri.



Thursday, 25 July 2019

, , ,

Pustaka Data UGM, tempat menyimpan data agar terus berguna


Data penelitian bermacam bentuknya. Ada yang rekaman wawancara, data set dalam spreadsheet, dan lainnya.

Data-data tersebut, meskipun sudah diolah dan ditulis dalam laporan, sangat mungkin masih bisa digunakan orang lain yang memiliki kepentingan sama atau mirip. Sehingga perlu disimpan, diarsipkan dengan baik agar mudah ditemukan lagi. Bahkan dikutip.

Selama ini kita kenal Mendeley Data, Figshare, Zenodo dan semacamnya. Nah, UGM membuat Pustakadata. Alamatnya di https://pustakadata.ugm.ac.id.

Untuk bisa mengunggah data ke pustakadata, perlu register lebih dahulu.

Beberapa organisasi yang sudah dibuat

Jika ada perubahan data, bisa ADD new resource untuk versioningnya

Friday, 19 July 2019

Tiga tingkatan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi

Paijo ndleming. Di dekat pohon kelapa depan rumah, samping pohon pelem, di atas rerumputan yang sedikit berpasir. Tak jauh dari tempatnya duduk ngebrok, ada pohon belimbing dan jambu air yang daunnya mengering. Maklum, sudah beberapa bulan tidak tersiram air hujan.

Paijo ndleming. Melihat kenyataan di berbagai perpustakaan perguruan tinggi, yang dipimpin oleh orang dari latar belakang bervariasi. Jika dikelompokkan, para pemimpin ini ada dua golongan: pustakawan, dan selain pustakawan. Selain pustakawan itu biasanya dosen. 

Terkait maju atau  berhasil tidaknya, tidak bisa didasarkan dengan dasar dua golongan ini. Yang dipimpin pustakawan juga bisa maju, yang dipimpin dosen juga demikian. Apalagi, Paijo, sejak lama meyakini bahwa semua orang boleh menjadi kepala perpustakaan. Bukan hanya kepala Perpustakaan, bahkan menjadi pustakawan pun, Paijo meyakini, semua orang berhak. Maka bagi Paijo, secara umum, keduanya tidak masalah.

Profesi pustakawan ini profesi yang demokratis, yakinnya.

Namun…

Ada yang mengganggu pikiran Paijo. Perguruan tinggi yang memiliki perpustakaan ini, ada yang memiliki jurusan ilmu perpustakaan, ada juga yang tidak.

Jika pada perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, keyakinan Paijo di atas berlaku. Tetapi bagaimana dengan perguruan tinggi yang di dalamnya memiliki jurusan ilmu Perpustakaan?


****

Ndlemingnya Paijo, sampai pada kesimpulan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi.

“Jadi, derajat kepustakawanan di perguruan tinggi itu bisa dibedakan dalam beberapa tingkat, Kang”, kata Paijo. Karyo yang ada di dekatnya mendengarkan dengan seksama.

Tingkatan tertinggi, tingkat pertama, kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh pustakawan.

Tingkat kedua (2), ditempati oleh dua kategori kepustakawanan. Keduanya beda tipis. Bisa saling bertukar posisi pada tingkatan ini. Posisi 2.1 kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan. Posisi 2.2 kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dan perpustakannya dipimpin oleh pustakawan. 

Tingkatan ke tiga, atau terakhir, yaitu kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, serta kepala perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan.

***

Paijo berkeyakinan, bahwa jika di PT itu ada jurusan ilmu Perpustakaan, maka kondisi idealnya, Perpustakaan PT tersebut dipimpin, dikepalai oleh pustakawan. Apalagi jurusan ilmu perpustakaan tersebut ada program yang lengkap, dari D3, sampai S3. Kenapa?


Dan, idealnya perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dipimpin oleh pustakawan.

Karena dengan demikian, menunjukkan sempurnanya keberhasilan pendidikan ilmu Perpustakaan di PT tersebut, berhasilnya kaderisasi pada pustakawan, dan berhasilnya dosen ilmu perpustakaan menunjukkan keilmuwan perpustakaan.


Karyo: “lha, kalau perpus jenis ini dipimpin dosen Ilmu Perpustkaan, Jo?”, tanya Karyo.
Paijo: “ya ndak pa. Pada dasarnya ndak salah, kecuali melanggar aturan institusi tersebut. Tapi..”
Karyo: “tapi apa, Jo?”
Paijo: “tapi itu menunjukkan ada titik belum suksesnya pendidikan ilmu perpustakaan di PT tersebut”.

Karyo menyahut, menjelaskan bahwa ada perguruan tinggi yang masalahnya kompleks. Tidak mudah, sulit ditembus. Usulan dari pustakawan, atau dosen ilmu perpustakaan sulit diterima. Maka, untuk memperkuat posisi, kepala perpustakaan harus dosen, pendidik, yang sama-sama kategorinya dengan pengelola perguruan tinggi. Setara. "Kamu tahu kan, Jo?. Bahwa civitas akademika di PT itu dosen dan mahasiswa. Pustakawan itu tidak termasuk civitas akademika". Karyo menutup, berusaha meyakinkan Paijo.


Paijo: “memang, Kang. Ada yang begitu kompleks masalahnya. Justru kekompleksan masalah itulah wilayah para dosen ilmu perpustakaan, untuk menunjukkan derajat ilmu perpustakaannya pada manajemen universitas”.


***
"Bagaimana jika dipimpin oleh tenaga kependidikan selain pustakawan, sekaligus bukan bukan dosen ilmu perpustakaan, Jo?", Karyo bertanya.

Paijo mesem. Dilihatnya pohon jambu dan belimbing yang daunnya layu.


Sambisari,
Jumungah Kliwon 16 Dulkangidah Be 1952

Monday, 8 July 2019

Hari pustakawan: sebuah ilusi



laman web perpusnas

Selamat hari pustakawan!!!

Demikian teriak seorang kawan. Teriakan yang keras, dan menyimpan kebanggaan.

Sejak lama, predikat "HARI" memang punya daya magis, sakral, dan sangat memikat. Mulai dari hari berdirinya negara, pernikahan, hari lahir, atau bahkan hari jadian, ditolak atau putus dari pacar. Hari itu diingat, meski mungkin ada kenangannya yang berusaha dilupakan.

#eaaa

Sebenarnya, ada yang salah kaprah. Tepatnya bukan hari, tapi tanggal. Hari Kesaktian Pancasila itu bukan hari Senin, Selasa, Rabu, atau lainnya. Namun wujudnya tanggal: 1 Oktober. Hari dan pasarannya bisa berganti: wage, kliwon, pahing, pon, atau legi. 

Dan, jika pustakawan punya "HARI" khusus, pastilah juga demikian. Bangga, dan bisa mendukung eksistensi diri dan profesinya.

Namun, benarkah ada hari (tanggal) pustakawan?

Sebagai pustakawan, saya termasuk tidak literate dengan hari-hari besar bidang perpustakaan. Mulai dari hari pustakawan, hari kunjung perpustakaan, hari buku, dan semacamnya. 

Saat ini, saat menulis ini, saya tidak hafal (meski pernah mendengar) tanggal hari buku dan hari kunjung perpustakaan.

Lebih akrab dengan menghitung hari menjelang gajian, atau hari libur. Apalagi libur panjang. Saya bisa hafal kapan mulai, dan kapan berakhirnya. Lebih hafal dari hari lahir istri saya. 

Tenin...

**** 

Kembali ke hari pustakawan.

Beberapa waktu lalu, di sebuah grup ada yang menulis: Hari Pustakawan 7 Juli. Rasa penasaran muncul. Tepatnya juga pertanyaan. Memang ada ya, hari pustakawan?

Nggaya temen.

Hijrana menulis tentang hari pustakawan. Dia mengawali tulisannya dengan protes pada pandangan publik yang menganggap bahwa pustakawan itu penjaga buku. Dia anggap itu tidak tepat.  Dia menulis, "Jika ada yang berfikir bahwa pustakawan hanyalah seorang penjaga buku, maka pemikiran itu tidaklah tepat karena perpustakaan merupakan pusat peradaban dan perubahan"

Pengandaian Hijrana tentang pustakawan, namun ketidaksetujuannya dengan pandangan tentang pustakawan itu, didasarkan dengan alasan tentang perpustakaan.  Saya tak mampu mencerna dengan sempurna, apa maksudnya.

Kalau perpustakaan memang sebuah pusat peradaban dan perubahan, apakah itu menegasikan anggapan pustakawan itu penjaga buku?

Silakan cek tulisannya di http://perpustakaan.uin-alauddin.ac.id/hari-pustakawan-indonesia/.

Oke, saya tak ingin berpanjang lebar tentang hal di atas. Saya tertarik pada angka 6 Juli, yang disebut Hijrana dengan Hari Pustakawan. Ini dikuatkannya dengan pemilihan judul REFLEKSI HARI PUSTAKAWAN 6 JULI. 

Sementara, pustakawan lainnya, Ahmad Syawqi menulis ikhwal hari (lahir) pustakawan pula. Kemuliaan Menjadi Pustakawan, demikian judulnya. Di dalamnya ada keterangan "refleksi hari lahir pustakawan Indonesia". 

Syawqi mengawali tulisannya dengan tegas menyebut betapa bersejarahnya tanggal 7 Juli.
Namun, berbeda dengan Hijrina, di blog https://www.pustakawan.web.id/,  Syawqi tidak tegas menyebut hari Pustakawan, namun Syawqi cenderung memilih 7 Juli sebagai hari lahir pustakawan Indonesia. 

Informasi lainnya, misalnya https://www.facebook.com/perpus.kaltim/posts/, mengawali tulisannya dengan "6 Juli, Hari Pustakawan Indonesia.". Sementara  dan https://www.instagram.com/, menuliskan 7 Juli. Artinya, ada bermacam kesimpulan tentang Hari Pustakawan ini.

Jika memang sudah mapan, mestinya tidak ada perbedaan, meski hanya selisih tanggal. :)


****

Uniknya,  pada laman web hari-hari penting yang ada di web Perpusnas (https://www.perpusnas.go.id/), tidak tercantum tanggal 6 atau 7 Juli sebagai hari Pustakawan. Setelah 5 Juli, langsung mlumpat ke 9 Juli.

****

Jika pada hari Guru atau hari yang paling baru, Hari Santri, ada upacara memperingatinya; apa yang dilakukan pustakawan pada hari pustakawan?

Upacara juga? 

Seberapa penting hari pustakawan? Atau hari pustakawan 6/7 Juli itu hanya sebatas igauan, imajiner, ilusi, khayalan, atau angan-angan yang didorong oleh keinginan luhur, agar profesinya sama dengan Guru yang memiliki Hari Guru?

Mereka lupa, bahwa guru itu punya seragam. Sedangkan pustakawan tidak. Guru itu punya IKIP, sedangkan pustakawan tidak. 

Ada atau tidaknya hari pustakawan, pustakawan itu tetap bisa dilakukan oleh siapa saja. Kita semua adalah pustakawan. Setiap hari lahir kita, adalah hari pustakawan. Setiap hari, adalah hari pustakawan.


Selamat hari pustakawan, sepanjang masa...!!!

Saturday, 6 July 2019

Kumpulan belajar Latex di Sadasa Academy


Sabtu, 6 Juli 2019. Di Sadasa Academi, saya coba mengikuti pelatihan Latex. Meski beberapa kali saya pernah menulis menggunakan Latex, namun tentu ada banyak hal yang saya belum tahu, dan paham.

Untuk belajar lagi itulah, saya ikut,

Benar saja, saya refresh lagi tentang beberapa perintah latex. Dua tipe bibliografi (embedded dan bib: bibtex, natbib, biblatex), manipulasi font, warna, multiple image, multiple formula, serta paket lipsum yang memudahkan dalam membuat dummy.

Berikut beberapa tautan penting selama pelatihan dan yang saya temukan sebelumnya.

  1. http://merkel.texture.rocks/Latex/natbib.php, berisi perintah menulis cite dalam berbagai style natbib
  2. http://hostmath.com/, alternatif latex4technic untuk membuat rumus
  3. http://detexify.kirelabs.org/, membuat rumus dengan menuliskannya
  4. https://www.tablesgenerator.com, membuat tabel untuk latex. Alternatif latable
  5. http://www.texample.net/tikz/examples/, membuat taxonomy atau flowchart
  6. https://www.overleaf.com/learn/latex/LaTeX_Graphics_using_TikZ:_A_Tutorial_for_Beginners_(Part_1)%E2%80%94Basic_Drawing
  7. https://www.overleaf.com/learn/latex/Inserting_Images#Positioning
  8. https://tex.stackexchange.com/questions/115690/urls-in-bibliography-latex-not-breaking-line-as-expected

Saturday, 29 June 2019

Paketan lebaran: untuk Kang Yogi

Pembaca mungkin akan berkerut dahinya. Siapa itu Kang Yogi?

Yogi, lengkapnya Yogi Hartono, merupakan senior saya di dunia kepustakawanan. Senior, sekaligus panutan. Saya belum pernah bertemu langsung. Namun sebuah kepastian yang tak dapat dipungkiri, bahwa Kang Yogi ini benar-benar layak diidolakan.

Tak hanya teori, dia sudah memraktikkan dan sanggup bertahan di tengah perubahan dunia perpustakaan. Tidak tanggung, dia berkiprah di perusahaan besar, dengan tanggungjawab besar. Dan yang perlu anda tahu, pernah dianugerahi penghargaan besar atas semua peran besarnya.

Kang Yogi alumni ilmu perpustakaan. Beda kampus dengan saya. Cara masuknya pun beda. Saya kelas sore, dia kelas pagi. Namun, apakah perannya sekarang ini 100% karena ilmu perpustakaannya?  Atau mungkin ditopang atau didominasi oleh pelatihan atau pendidikan lainnya? Saya kurang tahu pasti.

Yang pasti, pandangan dan sepak terjangnya begitu inspiratif. Menjadi icon dan figur ideal bagi mahasiswa ilmu perpustakaan, juga pustakawan. Saya pun mengidolakannya. Begitu tinggi hasrat saya bertemu, atau main ke kantornya untuk belajar. Namun, ternyata takdir itu belumlah dekat.

Walau bukan Doktor atau Profesor, sudah banyak kampus mengundangnya untuk memberi semangat pada mahasiswa baru, maupun mahasiswa lama. Forum pustakawan pun banyak yang minta jadwal kosongnya. Sama. Ingin mendapatkan informasi tentang ide-ide segar, juga apa yang sudah dilakukannya.

Dia membuat, atau menggiring orang mencipta aliran baru Yogiisme. Tentunya melengkapi Shera Mania, atau Floridi Lovers.

****

Pada suatu waktu Kang Yogi menulis. Tulisannya itu menanggapi tulisan saya. Membaca nama saya pada awal tulisan, saya deg-deg-an. Mak sir.... rasa penasaran, senang, gembira sekaligus ketar-ketir.

Di laman FBnya, tulisan tersebut berjudul [ PERKENALKAN SAYA SEORANG PUSTAKAWAN ], diposting tanggal 28 Juni 2019. Tulisan yang sama diposting pada tanggal yang sama di blognya: https://sisilainpustakawan.wordpress.com/.

"Tulisan ini merupakan tanggapan dari artikel pustakawan UGM, Purwoko, bahwa tak ada yang baru di bidang perpustakaan", demikian kang Yogi memulai tulisannya dengan menyebut nama saya. Paragrap penutupnya juga menggunakan nama. Tentu tidak lagi nama saya. Melainkan nama Ellya Khadam dan Via Valent, untuk memperkuat argumentasi.

Pertama saya berfikir, tulisan saya yang mana yang hendak ditanggapinya?.

Ada beberapa tulisan di blog saya http://purwo.co. Sehingga saya harus mencari, kiranya artikel mana yang dimaksudkan Kang Yogi. Hal ini penting, agar saya bisa membaca arah tanggapannya secara benar, terstruktur, massif dan tentu saja sistematis. 

Titik terang saya dapatkan. Pada sebuah grup WA, kang Yogi mengatakan bahwa tulisan itu menanggapi tulisan saya http://www.purwo.co/2019/06/Digital-Scholarship-makhluk-apakah-itu.html (path saya ganti, isi dan judul sama). 

Pada tulisan itulah saya menuliskan, seperti yang ditanggapi Kang Yogi, bahwa beberapa trend dalam dunia perpustakaan itu sebenarnya bukan hal yang baru. 

****

Saya tidak keberatan, dan menerima tulisan dan ulasan Kang Yogi yang berjudul "Perkenalkan: Saya Seorang Pustakawan", baik yang dipost di FB maupun blognya. Termasuk ke ortodok-an saya. 

Sama sekali tidak keberatan. Bahkan sepakat pada substansi tulisan itu. Kami sealiran. Bahkan, sebelum beliau menulis tulisan tanggapan tersebut, saya pernah menulis pula di FB dengan judul  [ pustakawan dan tukang nggerji ] pada 26 Juni, 2 hari sebelum tulisan Kang Yogi, yang kemudian saya post ulang di http://www.purwo.co/2019/06/pustakawan-dan-tukang-nggerji.html. Tulisan saya tersebut, mendekatkan apa yang saya fikirkan dengan tulisan Kang Yogi.

Untuk menunjukkan kesekatan saya, pada artikel Kang Yogi di akun facebooknya, saya juga menulis tanggapan singkat:

Saya juga sependapat (dengan tulisan kang Yogi), Kang. Ndak ada yang salah dengan pola adaptasi itu. Wong saya juga berusaha mengikutinya. Idep idep umum sanak. :) Namun kesepedapatan saya, tetap tidak/belum mengubah pendapat saya, bahwa perubahan itu tidak begitu substansial dari sesuatu yang diklaim sebagai "ilmu". Alasannya? embuh.

****

Lalu, apa yang saya maksud dengan "Tak ada yang baru di bidang perpustakaan" pada artikel Digital Scholarship: makhluk apakah itu?

Kalimat lengkap saya, yang memuat kata "tidak ada yang baru" tersebut, sebenarnya begini:

Learning common, dan makerspace, ternyata bukan hal baru. Ketika dibawa ke perpustakaan, kemudian dianggap baru. Saya menyebutnya semacam duplikasi. Kuncinya terletak pada pinter-pinternya ilmuwan perpustakaan membungkus dan menjual istilah.
Kalimat itu saya pakai untuk mengawali mengupas Digital Scholarship. Yang kemudian memunculkan kesimpulan saya, bahwa DS itu juga bukan sesuatu yang baru. Hanya wadah saja dari apa yang sudah ada sebelumnya. Bungkus, paketan atas beberapa kebutuhan. Seperti halnya paketan lebaran yang berisi beras, brambang, bawang, minyak tanah, lombok, miri, tumbar, trasi, bahkan plus roti kalengan. Agar orang mudah mendapatkan kebutuhannya.



****
Karyo: uwis, Jo?
Paijo: uwis, Kang.
Karyo: mosok tanggapannya hanya sak uprit?. Tapi ngene, Jo. Paketan itu, sebenarnya juga hal yang baru, lho. Aja dianggep sepele.
Paijo: ya-ya... paketan kui barang anyar. Sarujuk, Kang. Saya merasa bangga, lho, ditanggapi oleh Kang Yogi. Secara kami itu belum pernah ketemu muka. Tapi di grup, nek jagongan rodok eyel-eyelan, kayak kanca dhewe. Ora wigih-wigih.
 

Paijo membayangkan perpustakaannya: masuk kategori Ellya Khadam, atau Via Valent? Klasik, atau pop? Atau perpaduan keduanya?


Sambisari, ba'da subuh
SĂȘtu Kliwon 25 Sawal Be 1952 AJ.
5.40

Pustakawan dan tukang nggerji, dalam pusaran owah gingsiring jaman

Sekarang dikenal istilah disrupsi. Dulu, simbah-simbah punya istilah owah gingsiring jaman. Mirip, malah bisa jadi sama.
Dulu, keluarga kami meminta tetangga untuk nggerji kayu secara manual, memotong kayu sesuai kebutuhan untuk mebeler atau membangun rumah. Ukuran usuk, reng, blandar, dan lainnya. Perlu dua orang tukang. Satu di atas, satu di bawah. Keduanya saling menarik gergaji yang digunakan. Namun hal itu terhenti ketika muncul gergaji mesin, pilihan orang berpindah.
Gergaji mesin lebih cepat, lebih presisi, meskipun sebenarnya area kayu yang kena gergaji lebih lebar, atau lebih banyak kayu terbuang. Ini karena gergaji mesin lebih tebal daripada gergaji manual.
****
Tukang gergaji manual jadi tersingkir. Mereka tak bisa lagi mengharapkan bayaran dari jual jasa nggerji.
Begitulah gambaran sederhana istilah yang sekarang disebut disrupsi.
Tukang gergaji manual, yang menguasai seluk beluk perkayuan ini harus menyesuaikan diri. Tidak lagi jual jasa nggerji. Mereka harus mengolah kayunya. Menjadi mebel, misalnya. Tentunya dengan nilai lebih, tidak ala kadarnya.
Memotong kayu manual boleh tersingkir dan tidak laku, namun kayu olahan tetap diperlukan.
****
Agaknya, ini pula yang dilakukan pustakawan. Seperti halnya tukang gergaji manual yang berkurang bahkan hilang, pustakawan juga demikian. Dia sudah berkurang.
Perpustakaan yang sebelumnya dikelola 10, menjadi 4 orang. Bahkan mungkin bisa hilang. Pustakawan di perpustakaan akan berkurang, tak lagi sebanyak dahulu. Namun interaksi dengan koleksi tetap akan diperlukan. Bentuknya pun bermacam-macam. Profesinya juga bisa berubah.
Tidak sekedar memotong kayu, pustakawan kudu mengolah kayu, agar punya nilai lebih.

Disrupsi, owah gingsiring jaman, sudah ada sejak dulu. Ada dua akibat owah gingsiring jaman: reja-rejaning jaman, atau kalabendu.

Monggo milih

Friday, 28 June 2019

Digital Scholarship: makhluk apakah itu?

Istilah baru di dunia perpustakaan, terkadang mencegangkan. Mulai dari learning common, makerspace, scholarly communication, dan baru-baru ini digital scholarship.

Learning common, dan makerspace, ternyata bukan hal baru. Ketika dibawa ke perpustakaan, baru  kemudian dianggap barang baru. Saya menyebutnya semacam duplikasi. Kuncinya terletak pada pinter-pinternya ilmuwan perpustakaan membungkus dan menjual istilah.

Bagaimana dengan digital scholarship?

Mendengar istilah ini, saya berfikir tentang beasiswa. Ketika SMP dulu, guru Bahasa Inggris saya mengatakan bahwa arti scholarship itu beasiswa. Beasiswa digital, begitu kira-kira yang ada dalam fikiran saya saat mendengar digital-scholarship.

Paijo: langsung mumet, Kang. Mosok beasiswa digital?

Saya memperoleh sebuah poster, yang menginformasikan kegiatan, semacam kuliah umum, di perguruan tinggi. Temanya digital scholarship. Pembicaranya, tentu saja, orang pintar semua. Semua bergelar doktor. Salah satunya dari Leiden. Poster tersebut, akhirnya membawa saya sampai pada sebuah web yang menunjukkan aktivitas digital-scholarship di kampus Leiden Univ. Ini websitenya: https://www.library.universiteitleiden.nl/research-and-publishing/centre-for-digital-scholarship.

Sebagai pustakawan praktisi, jika ada istilah baru, saya tertarik pada apa peran pustakawan dalam istilah tersebut? Apakah istilah tersebut benar-benar memiliki sesuatu yang baru, yang berasal dari konsep ilmiah ilmu perpustakaan? Atau jangan-jangan?....

Pada laman URL di atas, terdapat keterangan pembuka.

The Centre for Digital Scholarship organizes meetings and workshops and it is the obvious partner for researchers to contact for questions, consultancy, and training on the following topics:

Nah, ini menarik. Kalimat di atas diikuti dengan 6 point seperti di bawah ini:







Penasaran pada apa yang dilakukan pustakawan terkait 6 hal di atas.

Data management. Pada bagian ini, perpustakaan/pustakawan melayani proses pengelolaan data riset dan hal terkait. Mulai dari merancang rencana manajemen data, sampai menyimpannya. Konsep FAIR diberlakukan pada proses ini. FAIR: Findable, accesible, interoperable, dan reusable.

Text dan Data mining. Pustakawan memberikan layanan terkait data cleaning, enrichment, analysis, visualisation, curation, dan preservation. Dengan diawali oleh mengeksplorasi berbagai kemungkinan berbagai sumber/koleksi untuk teks dan data mining.

Open access. Menyediakan dukungan penuh dalam publikasi berjenis open access, mulai dari kebijakan, pelatihan, dukungan, serta berbagai layanan lainnya. Disediakan berbagai daftar jurnal open access yang sudah membuat kerjasama dengan kampus. Repository yang mendukung, dan lainnya.

Copyright. Kepala perpustakaan Leiden Univ mengatakan bahwa mereka merekrut orang hukum untuk layanan ini. Berbagai pertanyaan terkait hak cipta pada publikasi mestinya kerap ditanyakan oleh mahasiswa. Misalnya:
  • How do I publish an article without having to give up my copyright? 
  • Can place an article found in the Catalogue in Blackboard? 
  • What about the use of images during lectures? 
  • I want to submit my thesis to the Repository, but would also like to see my thesis published at a university press. Is this possible?
Collaborative environments. Hal ini terkait dengan Virtual Research Environments. Istilah yang relatif baru. Namun, ketika saya telusur, VRE ini memanfaatkan Sharepoint-nya microsoft. Bisa lebih mudah dibayangkan layanan yang tersedia. 

GIS. Merupakan sistem untuk editing dan menampilkan data spasial. Tersedia komputer untuk digunakan dalam olah data spasial.


Kita coba lihat satu/satu. Data management, sebenarnya ini bukanlah hal baru. Dikenal sejak lama istilah manajemen data riset. Saya pernah menulisnya di sini dan di sini.

Text dan data mining. Istilah ini sudah populer di dunia informatika. Bukan hal baru secara aktivitas. Pustakawan pun sudah ada yang mulai main data mining dan visualisasi.

Open access juga hal yang sudah lama dikenal. Bahkan pustakawan sudah banyak berkecimpung dalam publikasi ini. Bersinggungan dengan para pengelola jurnal, pustakawan memiliki pengalaman terkait dunia penerbitan jurnal maupun non-jurnal open access.

Copyright. Ini menarik. Apakah pustakawan memiliki cukup ilmu? Leiden Univ. Library, kabarnya merekrut orang hukum untuk melayani berbagai pertanyaan atau konsultasi. Namun demikian, tentu saja dengan membaca, pustakawan mulai tahu beebrapa jenis  copyleft, maupun copyright, dengan berbagai versinya.

Collaborative environment. Di Leiden menggunakan Sharepoint. Ketika saya cek melalui Google, cukup banyak yang memanfaatkan Sharepoint untuk membanguan Virtual Research Environment, baik itu diberi cap bagian dari Digital Scholarship, maupun tidak. Silakan coba buka perbandingan Sharepoint dan Google Drive untuk memperoleh gambaran lebih dalam, klik https://www.eswcompany.com/sharepoint-vs-google-drive/ dan https://comparisons.financesonline.com/sharepoint-vs-google-drive. Atau Sharepoint dengan OneDrive di sini https://technologyadvice.com/blog/information-technology/sharepoint-vs-onedrive-for-business/

GIS, atau layanan sistem informasi geografi. Orang iseng akan mengatakan: lah, di kampus saya itu ada di lab geografi atau geodesi. Mosok mau bikin lab sejenis di perpustakaan?

Kesimpulan awal saya, terkait Digital Scholarship ini adalah: DS ini wadah, bungkus, paketan. Beberapa hal dibungkus dan diberi brand Digital Scholarship. Apa maksudnya? entahlah.


****

Nah, kita lihat pula konsep digital Scholarship di perpustakaan lainnya. Saya menemukan poster ini.



Di NTU ini lebih liberal lagi. Digital scholarshop tuesday. Isinya workshop dan seminar dalam berbagai tema. Informasi lainnya, bisa dilihat di https://blogs.ntu.edu.sg/ntulibrary/tag/digital-scholarship/. Pada beberapa kegiatan di atas terlihat, workshop Prezi pun masuk dalam kegiatan Digital Scholarship. Prezi itu alat untuk membuat presentasi. 

Selain itu, pada poster di atas, ada lagi workshop Canva, atau Piktochart, serta Tableau. Juga beberapa tema yang intinya mempelajari penggunaan software untuk proses riset, atau akademik yang dikelompokkan menjadi: digital publishing, data visualisation, dan presentation tools and sources.

Karyo: terus, apa kesimpulanmu, Jo?
Paijo: masih tetap sama, Kang.
Karyo: apa?
Paijo: ndak ada itu ilmu perpustakaan. Yang ada itu skill mengelola perpustakaan. 

Paijo pun melanjutkan sinaunya. 

Wednesday, 12 June 2019