Tuesday, 23 April 2019

Keidealan perpustakaan harus dimulai dari perguruan tinggi yang memiliki jurusan (ilmu) perpustakaan

Malam-malam, Paijo nostalgia bersama Karyo. Mengingat jaman dulu, ketika ketoprak di TV masih menjadi tontonan favorit. Saling menimpali ketika dulu tv masih hitam putih, pakai aki, harus rela ngirit demi tontonan favorit. Tetangga rela ngluruk untuk nonton ketoprak. Apalagi, jika sayembara berhadiah. Sambil udur, adu argumen menjawab pertanyaan sayembara.

Ah, tapi sekarang ketoprak sudah kalah dengan sinetron. Apa mau di kata. Akhirnya, Paijo dan Karyo tetap kembali kepada khittahnya: tentang perpustakaan.

****

Paijo mendekati Karyo. Raut mukanya serius, kemudian membuka pembicaraan. "Dan seutama-utamanya contoh perpustakaan perguruan tinggi adalah perguruan tinggi yang memiliki jurusan (ilmu) perpustakaan. Karena keidealan perpustakaan harus dimulai dari perguruan tinggi yang memiliki jurusan (ilmu) perpustakaan." Kalimat itu meluncur dari bibir Paijo.

Paijo masih melanjutkan, "termasuk dalam hal kepala perpustakaan. Lihatlah dahulu perguruan tinggi yang memiliki jurusan (ilmu) perpustakaan. Bagaimana mereka menempatkan pustakawan dalam jabatan kepala perpustakaan?".

Karyo kaget. Apa sebab Paijo sampai membuat pernyataan yang sebegitu keras. Paijo masih melanjutkan, "jika ada dosen ilmu perpustakaan masih mau saja menjadi kepala perpustakaan, itu sudah menjadi bukti buruk dan gagalnya dia menjadi pendidik pustakawan. Dia gagal mengkader pustakawan di institusinya sendiri".

Karyo bertanya, "dosen ilmu perpustakaan kan punya pendidikan ilmu perpustakaan, Jo. Jadi ya wajar, dong".

"Tidak, kang. Jelas itu menunjukkan bahwa di situ ada masalah. Selain menunjukkan gagalnya para pendidik pustakawan dalam mengkader, mereka juga gagal dalam meyakinkan pimpinan universitas. Jika para dosen itu mengambil job kepala perpustakaan, maka itu sudah merupakan bentuk terkecil dari pelecehan pustakawan yang dalam bangku kuliah selalu mereka ceramahi tentang harga diri dan idealisme. Pelecehan pustakawan paling parah adalah yang dilakukan dan dimulai oleh pendidik pustakawan itu sendiri," Paijo menjawab tegas. Sambil tangannya meraih gagang cangkir berisi kopi pahit tanpa gula. Bibirnya langsung menyeruput. Tampak matanya merem melek, menyelami nikmatnya kopi.

*** 

"Apakah jika demikian, harga mati tidak boleh dosen (ilmu) perpustakaan mengambil posisi sebagai kepala perpustakaan, Jo?

"Boleh, Kang. Boleh saja. Toh tidak ada larangan. Tapi, dengan dia mengambil posisi itu, maka ada berbagai kesimpulan di belakangnya: gagalnya kaderisasi, dan gagalnya meyakinkan pimpinan."

Karyo tampak manggut-manggut. Dia paham, Paijo ingin menunjukkan hal yang selama ini luput dari perhatiannya. Duduknya dosen (ilmu) perpustakaan sebagai kepala perpustakaan perguruan tinggi, bagi Paijo memiliki tafsir yang yang harus diperhatikan benar-benar. 

"Harusnya para dosen (ilmu) perpustakaan yang jadi kepala perpustakaan itu malu. Malu pada perpustakaan "biasa", yang pustakawannya bisa mandiri", sambut Paijo tanpa memberi waktu Karyo berkomentar.

"Tapi, kang. Bagiku tak berpengaruh. Karena sesungguhnya ruh pustakawan itu adalah merdeka. Dan merdeka yang hakiki adalah merdeka secara spiritual. Nah, merdeka secara spiritual itu kuncinya adalah mengalahkan rasa tertindas, rasa tertekan, rasa terkalahkan,".

"Bagiku siapa saja kepala perpustakaannya, tidak mengurangi derajat kepustakawananku,"  Paijo mengakhiri. Tangannya meraih ungkrung goreng yang tersaji di piring putih bermotif kembang. Sesaat kemudian, dia kunyah ungkrung goreng itu, sambil sesekali menyeruput kopi.

"Gerrrr," mulutnya melafalkan kegembiraan dan kenikmatan.

---- selesai ----

Wednesday, 10 April 2019

[[ Pilih call for papers, atau call for ngarit? ]]

Ikuti! call for papers dengan berbagai topik. Terindeks Scopus, masuk di jurnal bergengsi ber-impact tinggi.

***

Call for paper sedang moncer. Dia banyak di cari. Tak terkecuali bagi para pustakawan.

Call for paper itu bicara di depan banyak orang. Bahan yang disampaikan tentunya ilmiah, ditelisik dan ditulis dengan metode ilmiah. Disampaikan pada forum ilmiah, di depan orang ilmiah. Pastinya sudah lolos saringan oleh para ilmuwan yang pikirannya sangat ilmiah.

Tanya jawab yang muncul, juga akan ilmiah. Tidak baen-baen. Semakin banyak orang membukukan prestasi ikut call for paper, maka namanya akan semakin membumbung tinggi. Tinggi-tinggi sekali. Kiri kanannya akan duduk orang yang levelnya sejajar.

Call for paper ada banyak motifnya. Motif paling ideal adalah untuk meningkatkan kemampuan diri, dan berbagi dengan orang lain. Hal ini dilakukan melalui pemaparan tulisan yang sudah disusunnya. Ini motif yang derajadnya paling tinggi.

Namun demikian, ada motif yang derajatnya ada di bawah. Motif jalan-jalan misalnya. Hal ini dikuatkan dengan poster call for paper yang terkadang dilengkapi dengan paket perjalanan budaya, alias piknik, atau tamasya. Dipromosikan dengan berbagai kalimat yang menggoda.

Misalnya: "lokasi presentasi dekat dengan taman hiburan yang paling panas. Panasnya tiada tara".


Call for paper itu perjalanan intelektual.
***

Berbeda dengan call for paper, call for ngarit merupakan proses mencari sekaligus memberi. Mencari suket untuk pakan sapi, atau wedhus. Proses call for ngarit tidak bicara di depan banyak orang. Justru diam, tenang, fokus pada menggerakkan arit agar tepat menebas suket. Sesekali memang ada proses tanya jawab, tapi hanya bumbu saja. "Saweg ngrumput, Kang?", demikian pertanyaan yang biasanya terlontar. Call for ngarit adalah usaha membangun hubungaan dengan sapi dan wedhus, melalui suket. Sebagai wujud cinta kasih sesama makhluk.

Berbeda dengan call for paper, call for ngarit tidak perlu promosi perjalanan budaya. Karena sesungguhnya proses ngarit itu sendiri sudah perjalanan budaya, perjalanan spiritual. Menyatu dengan alam, berkomunikasi dengan tumbuh-tumbuhan. Nembung pada suket untuk dibabat sebagai pakan ternak. Ada proses meminta, mencari, ikhlas, dan pengorbanan.

Call for ngarit itu perjalanan spiritual.

****

Keduanya, call for papers dan call for ngarit tentu saja beda tujuan, beda karakter. Kita bisa menolak call for paper, karena untuk bergabung perlu modal uang untuk mendaftar. Kalau call for papernya tingkat tinggi, apalagi terindeks Scopus, maka akan mahal. Berbeda dengan call for ngarit. Kalau Simbok sudah mengadakan "call for ngarit", maka kranjang dan arit harus segera disandang. Tidak perlu diawali dengan mengajukan abstrak, atau full paper. Tanpa proposal. Langsung mangkat neng ngalas. Kalau menolak, berarti tidak berbhakti. Tidak perlu modal uang, cukup sangu sebotol air mineral, dan satu dua buah telo mentah untuk dibakar, itupun jika perlu.

Simboke Paijo: "Jo, sapine ngeleh (lapar)".
Paijo: "Siap, tanpa abstrak, langsung mangkat".

Call for ngarit lebih utama dari call for papers.

Thursday, 4 April 2019

Beberapa hal penting dalam berhubungan dengan media

Beberapa catatan ketika mengikuti diskusi tentang kehumasan
  1. Tiga kondisi krisis humas: berita negatif, tak ada berita, wartawan nakal
  2. Berita negatif tidak selalu salah, namun harus direduksi
  3. Berita negatif harus ada konfirmasi pada sumber
  4. Kepentingan publik pasti diberitakan
  5. Etika berita: keberimbangan, verifikasi, konfirmasi
  6. Berita: antara yang informatif vs judgement
  7. Berita tidak berimbang, menghakimi, praduga bersalah, tak konfirmasi,  bisa diajukan hak jawab. Untuk hal yang sensitif, perlu datang langsung ke redaktur media.
  8. Humas sebaiknya merekam wawancara pimpinan sebagai bukti forensik.
  9. Kondisi ideal: good and bad news is news 
  10. Redaktur: menjaga agar tidak ada opini pada berita
  11. Tiga segitiga yang penting diperhatikan: sosial media, e-commerce, search engine
  12. Audit media -> perlu pelatihan, kemudian bisa dilakukan mandiri
  13. Foto memiliki 10x efek dari pada teks
  14. Meja press conference bagian depan harus tertutup. Jika menggunakan model meja santai maka perhatikan pakaian para pemateri
  15. Yang melakukan press conference cukup orang yang penting saja,
  16. Press conference: sedikit orang, ada tanya jawab
  17. Berita itu mengandung nilai prominen, kontroversi, dan magnitude. Lucu, unik, kontroversi, baru, tak biasa, mengejutkan.
  18. Perlu menyebarkan jurnalisme di unit-unit lingkungan UGM -> undang wartawan, orang PWI, AJI
  19. Beberapa organisasi wartawan yang harus diketahui: AJI, PWI, IJTI, PRSSNI, ATVLI, ATVSI, SPS. Selengkapnya di https://dewanpers.or.id/data/organisasi
  20. Akan lebih baik jika memiliki kontak perwakilan organisas wartawan
  21. Kontak langsung ke pemred untuk berita bagus
  22. Kirim press release, atau undang konferensi pers ke media: 1 minggu sekali, buka puasa wartawan 1 tahun sekali
  23. Press conference: utamakan undang media besar (kompas, tempo...)
  24. Press conference maksimal jam 3 sore, karena wartawan perlu waktu menulis
  25. Undangan press conference
    1. apa, seberapa penting
    2. kapan
    3. berapa lama
    4. siapa
    5. di mana
    6. media mana saja
    7. bagaimana
  26. Press release
    1. pendek
    2. aktual
    3. kirim ke wartawan
    4. jangan menyerah
    5. ulangi terus
  27. Mengbah bad ke good news: media visit, video doc, audio visual, human interest
  28. Televisi memuat dua materi: jurnalisme, dan hiburan. Keduanya berpotensi ada kasus/
  29. Kasus jurnalisme —> diadukan ke dewan pers, terkait UU Pers
  30. Kasus hiburan —> diadukan ke KPI, terkait UU penyiaran
  31. Hati-hati dengan wawancara melalui telp, sms, doorstop. Harus tahu siapa yang mewawancarai, bahkan ketika ketemu langsung, nara sumber berhak bertanya ID.



Friday, 29 March 2019

,

Dua extension di browser ini akan membantumu menemukan artikel ilmiah (pustakawan harus tahu, lho).

Paijo: Kang, ini ada alat baru. Bisa membuat pustakawan 6.0.
Karyo: Kok bisa? apa itu pustakawan 6.0?
Paijo: Pustakawan yang menang 6, lawannya 0.
Karyo: wo, itu remi, Jo.

Keduanya merupakan extension gratis untuk dipasang di browser. Saya coba di Chrome dan berhasil.
Intinya, dengan extensi ini, browser mendeteksi artikel ilmiah yang dibuka oleh user itu kategori open access, ada hak akses atau tidak/bukan.

Tentu saja akan memudahkan kita, karena bisa cepat tahu sebuah artikel itu bebas akses, atau berbayar.

Karyo: apik itu, Jo.

Jika open access atau ada hak akses, maka kita akan disuguhi icon unduh oleh extension, baik Unpaywall ataupun Kopernio. Tinggal klik, kita dapatkan file .pdf-nya.

Silakan dicoba.


http://unpaywall.org/

An open database of 22,839,854 free scholarly articles. 
We harvest Open Access content from over 50,000 publishers and repositories, and make it easy to find, track, and use.







https://kopernio.com/

Integrates with Web of Science, Google Scholar, PubMed and 20,000 other sites. 
Navigate paywalls Automatically search university library subscriptions, pre-print servers and institutional repositories for PDFs.




******


"Unpaywall is transforming Open Science" — Nature feature article, August 2018



Friday, 22 March 2019

,

Melokalkan Mendeley (untuk versi >= 1.19.3 )

Mengubah bahasa pengantar ke Bahasa Indonesia. Dilakukan melalui (“View” → “Citation Style” → “More Styles”). Lihat di “Installed” tab, cari “Citation and Bibliography Language” drop-down menu. Pilih bahasa Indonesia


Namun, meski sudah diganti ke Bahasa Indonesia, et al. serta beberapa yang lain belum berubah. Oleh karena itu, kita harus mengganti sendiri, dengan cara mengedit file locales-id-ID yang ada di folder citationLocales pada folder program files-nya Mendeley.

Cari kode yang akan diubah, misalnya kode et al. 

<term name=”et al. ”> et al.  </term>

menjadi

<term name=”et al. ”> dkk. </term>

Ganti pula kode lain yang diperlukan. Kemudian simpan, lalu jalankan Mendeley.


Thursday, 21 March 2019

Rumus Excel dan Calc untuk membandingkan 2 tabel (Pustakawan perlu tahu, lho)

Kawan pustakawan di manapun berada, baik yang berijazah ilmu perpustakaan maupun bukan...

Terkadang kita dihadapkan pada dua kelompok data dan harus dibandingkan dengan data lain. Misal, ini kasus saya, saya pernah mengajukan dokumen SNI. Kemudian dari yang diajukan itu, ada yang disetujui ada yang tidak.

Sebagai pustakawan, kita harus menginformasikan pada pengusul, mana saja yang disetujui mana yang tidak. Jika masih dalam angka 10-20, masih bisa dilihat manual. Tapi, misal yang diusulkan 400, kemudian yang disetujui ada 1000 tentu sulit membandingkan. Apalagi puluhan ribu.

Paijo: mumet, Kang?

Loh, kok yang disetujui lebih banyak?. Itu hasil dari beberapa usulan dari beberapa unit. Sehingga 1000 itu akumulasi dari yang disetujui untuk beberapa unit.

Nah, kita bisa bandingkan itu di Ms. Excel atau di Calc.

Ini caranya


Kolom A, merupakan usulan kita. Kolom B yang tersedia. Kolom C untuk kita cek, manakan dari A yang akhirnya tersedia. 

Rumus yang digunakan dan diletakkan di sel C2, 
adalah =IF(ISERROR(MATCH(A2,$B$2:$B$11,0)),"",A2)

Dari hasil di atas, berarti nomor 5,6,10,11 akhirnya tersedia, sementara yang lain tidak tersedia. Kalau jumlah datanya ribuan, tinggal tarik saja rumusnya sampai kolom yang terakhir.

Karyo: Loh, kok bisa menyimpulkan itu tersedia, Jo?

Paijo langsung pergi.

[[ selesai ]]



Monday, 25 February 2019

Meneladani Pak AR, untuk kepustakawanan kita

diposting juga di https://www.pustakawan.web.id/2019/02/meneladani-pak-ar-untuk-kepustakawanan.html

Siapa Pak AR? warga Muhammadiyah pasti tahu. Nama lengkapnya Abdur Rozaq Fachrudin, Ketua PP Muhammadiyah dengan periode yang paling lama, 22 tahun. “Pak AR adalah ulama yang tawaduk,” demikian simpul Pak Syafii Maarif.

Seperti ditulis pada buku Pak AR Sang Penyejuk karya Saefudin Simon, Pak AR sekolah di SR kemudian melanjutkan di Mualimin meski hanya bertahan 2 tahun. Beliau kemudian balik ke kampungnya, karena tak ada biaya. Dengan semangat ngajinya yang tinggi, beliau belajar dengan Kyai di kampung, termasuk pada ayahnya: KH. Fachrudin.

Pak AR tidak kuliah. Konon, kabarnya pernah mendaftar kuliah, namun ditolak oleh kampusnya. “Kami ingin Pak AR ngajar, bukan menjadi mahasiswa,” demikian tanggap kampus. Hobinya membaca, di mana saja. Menjadi Mubaligh Muhammadiyah cita-citanya, dan wong ndesolah sasarannya.

Beliau tak punya rumah, bahkan sampai meninggal. Rumah di Cik Di Tiro merupakan pinjaman Muhammadiyah. Di depan rumah berjejer rapi botol bensin eceran. Rumah yang ditempati juga disekat jadi kamar kos. Motornya Yamaha butut tahun 70-an, itupun - kata Pak Syafii Maarif -&nbsp; pemberian Prawiro Yuwono, orang yang kasihan pada Pak AR. Motor itu menemani ke sana ke mari untuk&nbsp; berdakwah. Kadang juga berboncengan dengan Bu Qom, istrinya. Karena keduanya berbadan gemuk, kadang Bu Qom hampir duduk di lampu belakang.

***

Pak AR pintar berkomunikasi, berdiplomasi. Dengan warga pengajiannya sudah pasti. Namun, Beliau juga lihai&nbsp; berkomunikasi dengan orang tinggi level presiden. Presiden Soeharto merupakan kawan baiknya. Ketika berbicara, keduanya menggunakan Jawa Kromo Inggil. Pak Harto begitu mempercayai Pak AR, karena tak pernah minta apapun, kecuali untuk Muhammadiyah dan ummat Islam. Konon, Pak Harto tidak marah ketika diajak “istirahat” oleh Pak AR. Tentu saja karena keduanya sudah akrab, ditambah lagi dengan lumantar bahasa jawa kromo inggil, menjadikan keduanya lebih saling menghormati.

Bantuan untuk Muhammadiyah, atau lembaga lain yang melewati Pak AR selalu utuh. Meski menjadi talang berbagai bantuan, Pak AR tidak teles. Pak AR merupakan talang yang selalu garing, mengantarkan air sampai ke tujuan tanpa kurang.&nbsp;

***

Pak AR mampu menghadirkan agama dengan bahasa yang ringan, enak, sejuk, dan membahagiakan. “Ceramahnya disukai bukan hanya oleh ummat Islam, namun juga umat agama lain,” kata Pak Amidhan. “Agama Islam itu sejuk jika dihadirkan Pak AR,” demikian kutip Simon dari kawannya, Pak AR mampu menyaring, memilih dan memilah informasi, kemudian disampaikan pada orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Bukan hanya menyampaikan, namun juga melakukan, memberi contoh.


“Pak AR adalah ulama yang tawaduk,” kata Prof. Syafii Maarif. Tidak perlu menyampaikan bahwa dia bisa ini atau itu. Bahkan, konon, kabarnya Pak AR menolak ketika akan dibuatkan buku dalam rangka 70 tahun usianya. “Loh, aku ini bukan siapa-siapa. Ndak pantas dibuatkan buku 70 tahun Pak AR,” katanya. Ketika ceramahnya di RRI akan dibukukan, Pak AR bertanya, “apakah lawakan Basiyo sudah dibukukan?”. Ternyata tidak. Pak AR pun tidak mau ceramahnya dibukukan.&nbsp;


***

Membaca kisah Pak AR, saya jadi ingat dengan kepustakawanan kita. Mampukan, atau adakah tokoh kepustakawanan ala Pak AR?

Pustakawan yang belajar dari membaca, mempraktikkan, memberi contoh. Lihai berdiplomasi, namun tetap tawaduk, menyejukkan, jauh dari hingar bingar harta dunia, namun tetap berperan dalam mendidik.

Pak AR yang da’i, sama dengan pustakawan. Bahkan Pak AR itu pustakawan. Ah, terlalu jauh saya membandingkan. Tapi, mohon maaf bagi yang kurang berkenan. Pustakawan itu seperti da’i. Tidak harus sekolah formal, cukuplah keingingan kuat, mau membaca, belajar sepanjang hidup.



Da’i itu pustakawan.

Friday, 15 February 2019

Cara memperoleh API Key Scopus untuk Publish or Perish


Kawan.....

Ketika kita menggunakan Publish or Perish untuk mengambil data dari Scopus, akan diminta memasukkan API Key. Kenapa? karena Scopus itu berbayar. Kudu ada APInya untuk bisa menjebol database Scopus.

tampilan pilihan sumber data di PoP
API Key bisa diperoleh melalui web Scopus. Tentu ada caranya

pencarian di PoP minta API Key



Untuk memperoleh API Key, silakan login dahulu ke Scopus. Ya, jadi kudu bisa akses laman registrasi, dong? Datanglah ke kampus yang bisa akses Scopusnya. :)

Login ke Scopus
Setelah register dan login, maka pada bagian paling bawah akan muncul menu seperti di bawah ini.
Tampilan menu API
Klik SCOPUS API, maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini
menu My API Key

Klik My API Key,  ikuti proses, ikuti prosesnya kemudian buka konfirmasi di email.

konfirm melalui email

Di email, cari email dari Elsevier/Scopus, kemudian klik Confirm Email. Setelah di klik, maka akan diarahkan ke tampilan dashboard API di Elsevier. Klik Create API Key.

klik Create API Key

Kita akan diminta konfirmasi ulang email. Tulis email dan klik Continue

email konfirm

Ikuti Prosesnya, dan API Key akan muncul di dashboard. 

API Key

Gunakan API untuk proses pencarian di PoP.  Hasilnya seperti di bawah ini.

Pencarian ke Scopus melalui PoP
Hasil pencarian di PoP bisa dianalisis metricnya, atau dicemplungke ke VosViewer.

----

Terimakasih untuk Mas Adi Wijaya (Mahasiswa S3 DTETI) yang memandu saya memperoleh API Scopus.

Monday, 11 February 2019

,

R.Ng. Ronggowarsito sudah mengingatkan bahaya hoax

Sedulur semuanya. 

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pujangga. Sangat termasyhur. Hingga kini pun namanya masih dikenang. Nama kecilnya Bagus Burham, cucu dari R.T. Ranggawasita I. Ketika kecil diasuh oleh Ki Tanuwijoyo, termasuk ketika mondok di Gebang Tinatar. Burham lahir pada Senin Legi, 10 Dulkangidah 1728 tahun Be. Wuku Sungsang jam 12 siang. Atau pada tanggalan Belanda menunjukkan 15 Maret 1802.  Patungnya berdiri di museum Radya Pustaka Solo, diresmikan Bung Karno dengan dihantarkan pidato yang begitu menggelora.

Tak dielakkan, Bung Karno pun menyitir kalimat serat Kalatidha yang ditulis Ranggawarsita pada bait 7 yang begitu terkenal: hamenangi jaman edan…. Bung Karno menyebut bait ini sebagai dasar hukum moreel. “Kita bangsa Indonesia mengalami djaman edan. Kalau tidak eling las waspada, kita akan ikut serta dalam djaman edan tadi,” tegas Bung Karno.

***

Tapi bukan itu yang hendak saya sampaikan. Melainkan bait ke 4, dari 12 bait Kalatidha. Pada buku Anjar Any terbitan 1980, pada halaman 62 terdapat terjemahan bebas dari bait tersebut.

Demikian terjemahannya: “Persoalannya berpangkal karena adanya berita palsu. Dikabarkan akan menjadi pejabat yang lebih tinggi, ternyata tidak. Karena kecewa, lalu berfikir: apa gunanya ada di depan sebagai pejabat?. Nantinya apabila tidak hati-hati akan membuat kesalaan, lebih-lebih kalau sudah lupa diri akan menimbulkan mala petaka saja”. 

Setelah bait ini, Ronggowarsito njlentrehke bahwa menurut kitab Panitisastra sudah ada peringatan. Pada jaman sekarang yang penuh kebatilan ini, orang yang baik tidak terpakai. Apa gunanya mendengarkan berita yang tidak benar? kalau dirasa hanya menyakitkan hati saja. Ki Pujangga lebih baik membuat kisah lama, yang dapat dipakai untuk contoh baik serta buruk. 

***

Kalatida merupakan kritik dan sindiran pada berbagai hal yang terjadi pada masa itu. Kalatidha berarti waktu atau jaman edan. Ditulis  dlam bentuk Macapat Sinom oleh Ranggawarsito antara tahun 1861-1873 pada masa Sri Sunan Pakubuwono IX. Lebih dari 150 tahun silam. Pada masa itu,  berita palsu ternyata sudah merebak dan merusak. Kerusakan karena berita bohong itu, ditulis Ronggowarsito sebelum mbabar jaman edan. Bayangkan! 150-an tahun silam, Ronggowarsito sudah merasakan adanya kerusakan di negeri ini. 

Opo meneh saiki!!