Monday, 15 March 2021

Buku “Transformasi Perpustakaan dalam Ekosistem Digital” layak dibeli? Nanti dulu!


Sedang hangat, bahkan panas. Baru keluar oven, sebuah buku tentang kepustakawanan. Judulnya "Transformasi Perpustakaan dalam Ekosistem Digital" atau sebut saja TPdED. Buku ini sudah tersedia di pasaran terbitnya tahun 2020, harganya tembus di atas 100 ribu. Di tokopedia misalnya, dijual 118.000. Harga yang fantastis. 

Foto cover silakan cari sendiri, ya. 😊


Rasa-rasanya, jarang buku kepustakawanan yang tembus sampai 118 ribu. Bahkan sekalipun di toko ISIPII,  tokonya organisasi kebanggaan para sarjana Ilmu Perpustakaan itu (tentu yang gabung).


Di Toko ISIPII, Buku Pustaka tradisi dan kesinambungan karya Pak Putu saja hanya dibandrol 105.000, atau 13 ribu lebuh murah dari buku TPdED. Padahal, siapa yang tidak tahu kapasitas Pak Putu?.  Karyanya tak terbatas ruang dan waktu.


Belum selesai kita banding harga, karena masih ada pembanding lainnya. Buku Antologi kajian dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi ternyata hanya dibandrol 110.000, juga masih lebih murah. Satu lagi. Buku Senarai Pemikiran Sulistyo Basuki, profesor ilmu perpustakaan pertama di Indonesia juga hanya dibandrol 95.000. Tentu saja masih lebih murah. Selisihnya sampai 23.000.


Menurut catatan tanggal 15 Maret 2021, di toko ISIPII, harga buku TPdED ini hanya kalah mahal dari buku Daftar Tajuk Subjek Dalam Bahasa Indonesia yang dibandrol Rp200 ribu.


Dengan harga segitu, lalu sekeren apa buku TPdED ini? Lupakan dulu kaidah  “harga menentukan kualitas”. Mari kita lihat bersama.


Saya belum membeli buku TPdED. Selain karena mahal, saya sendiri berfikir bahwa buku kepustakawanan di Indonesia itu  kebanyakan daur ulang. Mengulang apa yang sudah ada. Jarang yang menawarkan hal baru. Sangat jarang. Kalau toh ada hal baru, biasanya jualan kecap. Jual istilah. Isinya? ah, ya gitulah.


Buku kepustakawanan yang saya punya, 90% sudah saya hibahkan. Kini rak buku saya jadi longgar. Bisa diisi novel atau fiksi lainnya. Buku Conan atau Sherlock jadi punya tempat. Tinggal nambah koleksi seri berikutnya.


Maka, dengan harga fantastis itu, saya kudu hati-hati ketika mau beli TPdED. Khawatir isinya mengecewakan. 😀


*********************##******************


Kembali ke buku TPdED. Karena saya belum beli bukunya, maka saya coba baca, cari tahu dari postigan orang lain di internet. Tentu kudu divalidasi dulu.


Blog ini  https://www.muradmaulana.com/2021/03/menyoal-buku-transformasi-perpustakaan.html menurut saya valid. Saya kenal penulisnya, trek rekornya. Apa yang ditulis di blog ini juga bisa dilacak.  Blog ini membahas 5 hal  keanehan buku TPdED yang baru saja terbit.


Postingan di blog ini menampilkan screenshoot halaman buku TPdED, kemudian komentar serta alamat URL pembanding. Intinya, penulis blog hendak membandingkan isi tulisan TPdED dengan postingan blognya yang terbit tahun 2015, 4 tahun sebalum buku TPdED terbit. Ada indikasi yang agaknya cukup menarik diperhatikan. 


Saya cek. Antara screenshoot buku yang ditampilkan dengan blog yang diklaim sama/mirip/serupa isinya, ternyata memang ada  kalimat atau paragrap yang sama/mirip dengan postingan blog. 


Misalnya:

"Perkembangan jumlah data...........3.472 gambar”.


Tanda …… saya gunakan karena males nulis.  Kalimat itu aslinya panjang sekali. Jika dibaca bikin nafas megap-megap. Oke. Lebih lengkap lihat gambar ini:



Saya mikir, kok bisa ada kalimat sepanjang ini? ada editornya ndak, sih? 


Kalimat di atas mirip dengan kalimat yang ada  di https://www.muradmaulana.com/2015/12/definisi-manfaat-dan-elemen-penting-literasi-digital.html.


Saya tempel di sini:

"Perkembangan jumlah data berformat digital di abad sekarang ini begitu menakjubkan. Ida Fajar Priyanto (2013) mengatakan bahwa setiap orang kini memiliki data yang luar biasa lebih banyak dibandingkan masyarakat kita sebelum beralih ke dunia digital. Josh James (2014) dalam Infographic berjudul Data Never Sleeps 2.0, bahwa di internet setiap menitnya ada pengguna Youtube mengupload 72 jam konten video baru, pengguna Facebook membagikan 2.460.000 potongan konten, pengguna Twitter membagikan 277.000 tweet, pengguna Instagram mengupload 216.000 foto dan pengguna Pinterest membagikan 3.472 gambar."


Coba bandingkan. Samakah?


Kalimatnya hampir atau mungkin bisa dikatakan plek. JIKA memang penulis buku mengambil dari blog yang telah terbit sebelumnya, mestinya penulis tahu apa itu parafrasa dan bagaimana menuliskan sumber. Kecuali ada kebetulan yang sangat kebetulan.


Kalau ada alasan hal di atas disebabkan oleh proses editing penulis yang kurang maksimal pun, Saya meragukan. Kenapa? Kalimat yang plek itu belum layak diajukan ke penerbit. Faktanya naik cetak dan diterbitkan. Prediksi saya, memang itulah yang diajukan oleh penulis ke penerbit. Atau, begitulah gaya menulisnya penulis.  Tentu saja ini sebatas prediksi saya.


Lihat pula catatan lain yang ditampilkan di blog https://www.muradmaulana.com/2021/03/menyoal-buku-transformasi-perpustakaan.html. Juga bandingkan judul buku di atas + warna covernya dengan judul seminar ini https://www.ganipramudyo.web.id/2019/07/transformasi-perpustakaan-dalam.html.


**


Saudara-saudara…


Buku ini telah terbit. Jika ada yang membaca bagian-bagian buku yang diulas pada blog di atas, kemudian mengutip, maka orang akan menulis nama penulis buku sebagai sumber. Itu pasti. Jelas ini bisa berbahaya. Jika dipaksa, ada potensi terputusnya sanad keilmuan, karena ternyata ada orang lain yang mengklaim sebagai penulis pertama atau yang menyusun kalimat itu.


***


Apa yang saya tulis di atas hanya opini. Atau semacam review berdasar data di blog Murad Maulana. Bisa benar, bisa salah. Tapi jika benar, maka, sekali lagi, ini bahaya. 


Sebagai penutup saya berkesimpulan, buku ini tidak layak (saya) dibeli. Mending buat beli kopi. Atau nambah kuota wifi. Entah kalau anda.


Jika tetap ingin membeli, pikirkan lagi sekali. Kecuali buat koleksi.


Perlu dipertimbangkan puli untuk menarik dari peredarannyi. Sorry, huruf i-nya memaksi. #halah.


Sekian


Salam li-terasi! 


Malam selasa, 15 Maret 2021

22.11 wib

Monday, 15 February 2021

Monday, 25 January 2021

Library of things: sudah ada sejak jaman nenek moyang kami

Munculnya berita tentang tempat yang dilabeli “library”, yang melayani peminjaman alat rumah tangga itu sempat heboh.

Namanya Library of things, demikian katanya. Mengadopsi atau meminjam, atau meniru istilah internet of things. Sepertinya begitu.

Bukan buku. Tapi Perpustakaan ini meminjamkan bor, sotil, gergaji, panci, dan alat lainnya.
Heboh. Dianggap keren. Dan dianggap konsep perpustakaan yang berkemajuan.

****

Paijo mikir. Agaknya orang yang terkesima ini pasti orang kota. Yang hidupnya di perkotaan, di perumahan. Berduit, banyak uang, dan mampu beli segala kebutuhannya dengan uangnya sendiri.
Kalau mereka, yang terkesima ini, mau ke kampung, ke desa, pasti akan menganggapnya biasa saja.
Konsep library of things itu sudah ada sejak jaman nenek moyang.

Di kampung konsep LoT ini sudah dijalankan. Letaknya di balau dusun, balai RT, atau balau RW. Mungkin di pos ronda, atau nebeng di rumah warga.

Sama. Yang dipinjamkan juga kebutuhan sehari-hari. Piring, sendok, kompor, gelas, beki, kursi, tikar, dan lainnya. Ya. Memang tidak semua kampung menerapkan konsep ini.

Dan, kerennya, konsep itu dilahirkan oleh Pak RT, Pak RW. Yang tidak sekolah ilmu perpustakaan.

-----

Perpustakaan yang meminjamkan berbagai barang:


Saturday, 5 December 2020

Pak Carik: bot telegramnya para Pustakawan

Paijo, staf baru di perpustakaan desa X. Lulusan De tiga sebuah universitas ternama di Jogja. Lulusnya tercepat, IPKnya tinggi. Nyaris tak ada nilai B dalam transkripnya. A semua. Teman-teman nya hampir pingsan melihatnya. Seolah tak percaya.
**
Hari pertama masuk kerja, dia kenalan dengan staf seniornya. Setengah tua, gemuk, wajahnya bulat, murah senyum, di kepalanya selalu bertengger blankon, bajunya selalu surjan. Tidak baru, mungkin surjan lungsuran bapaknya. Atau bapaknya bapaknya. Atau simbahnya simbahnya. Meski lungsuran, namun tampak rapi, juga wangi.
Dia mengenalkan diri sebagai Pak Carik. Jabatan tukang catat di kantor desa itu, dipakainya. Entah apa awal mulanya. Juga entah siapa nama aslinya.
Paijo kenalan, kemudian memulai pekerjaan. Meski lulusan De tiga terbaik, hari awal kerja itu dia anggap dirinya training. Mulai dari mengklasifikasi, input data, dan lainnya. Sambil kerja, sesekali ngobrol ngalor ngidul. Dengan Pak Carik. Tentang apapun.
Terkadang Paijo bingung ketika menentukan klas. Maklum, kenyataan beda dengan kuliahan. Banyak buku baru dan juga lama yang belum pernah ditemuinya. Apalagi diklasifikasi. Dia bingung.
Saat kebingungan itu, Pak Carik langsung menjawab tanpa ditanya. "Etika Cinta"... 177.7", Pak Carik menyahut. Disambung dengan berbagai jawaban kode klas lainnya.
Paijo Kaget. Itu belum apa-apa. Ketika Paijo bertanya tentang arti kata, Pak Carik juga langsung menyahut. Cepat. Gak pake lama. Jawaban Pak Carik pun persis seperti di kamus, atau dari wiki, juga tajuk subyek.
Elok.
Hingga kemudian, suatu hari yang cerah, di akhir bulan alias tanggal tua, dalam ruang perpustakaan desa X yang cahaya lampunya temaram, Pak Carik mendekati Paijo.
Pak Carik mengatakan, "Jo, kamu bisa tanya apa saja padaku. Nah, supaya seragam, konsisten dan konsekuen, maka begini caramu bertanya:
1. Carik wiki kata_kunci -> jika kamu ingin cari info dari wikipedia
2. Carik kamus kata_kunci -> jika kamu ingin cari info arti kata/istilah
3. Carik tajuk kata_kunci -> jika kamu ingin cari info tentang tajuk subyek, termasuk kode DDC-nya.
4. Carik clas kata_kunci -> jika kamu ingin cari info kode klasifikasi dari kata kunci/subyek tertentu.
"Gampang, tho?"
Paijo mengangguk. Bibirnya bergerak. Meski tanggal tua, akhirnya dia bisa tersenyum. "Pak Carik cen pinter".
Diam diam Paijo bertanya, "Carik kuliah perpus".
"Halo, Jo.. memang perlu kuliah perpus?", jawab Pak Carik.
Paijo mlongo.
[Rampung]
----
Kalian yang ingin tahu dan mencoba bertanya pada Pak Carik lebih lanjut, silakan masuk di: https://t.me/joinchat/CvIAZz2ZQX5sGGpMW3AUlg
Note: Pak Carik merupakan bot di telegram, yang dibuat untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang arti kata, tajuk subyek, kode DDC, dan istilah yang dimuat di wikipedia. Yang baru dirilis, informasi dari repository (masih terbatas)
Bot Pak Carik ini dibuat oleh mas Heru Subekti, salah satu developer SLiMS.
,

[[ koalisi partai di pilkada Gunungkidul ]]


Iseng mencoba membuat visualisasi tentang koalisi partai di pilkada GK. Khusus pilkada langsung sejak 2005-saat ini, yang berarti ada 4 kali pilkada. Tiga kali diantaranya sudah terlaksana. Dari 4 pilkada ini terdapat 29 peserta/partai yang ikut kontes, dengan berbagi jejaring koalisi. Satu diantaranya independent.

Dari 3 kali pilkada langsung yang sudah berlalu, pilkada pertama dimenangkan calon dari PAN, pilkada kedua dari PAN. Dua kali kemenangan PAN itu (kalau tidak salah) diusung sendirian. Sementara pilkada ketiga, masih dimenangkan calon dari PAN, yang koalisi dengan Golkar, Hanura, Nasdem, (dan PPP menurut berita). Sayang saya belum mencari data persen kemenangannya, yang bisa sebagai perbandingan. Apakah ada perbedaan signifikan antara diusung sendiri dan diusung dengan koalisi.


Pilkada ke empat, tahun 2020 ini peta koalisinya agak berubah. PDIP percaya diri dengan maju sendiri lagi. Sementara PAN tetap berkoalisi seperti periode sebelumnya. Namun koalisinya beda dengan koalisi ketika memenangkan pilkada langsung ketiga. Calon yang diusung PAN pada pilkada tahun ini, beda dengan yang dimenangkannya diperiode lalu. Padahal biasanya PAN dalam kesuksesan sebelumnya selalu melibatkan calon yang sebelumnya diusung, baik bupatinya (sebagai pencalonan periode berikutnya, maupun wakilnya). Wakil bupati pilkada lalu, di tahun 2020 ini justru dicalonkan partai lain. PAN percara diri dengan calon baru.

 -----

Ada 4 partai yang rutin ikut pilkada di GK sejak pertama pilkada langsung digelar. Golkar, PAN, PDIP, dan PKB. Dari 4 ini, Golkar paling banyak berkoalisinya. Disusul PAN, PKB, dan PDIP.

Jika dilihat yang tampak di lapangan, dari 4 partai di atas, ada yang sudah berkali-kali berhasil mengusung calonnya menjadi bupati (PAN, dan Golkar Ketika koalisi di pilkada ke-tiga). Sementara yang lain masih harus berjuang agar pecah telor dan gol calonnya.

-------

Pada visualisasi ada yang menarik. PDIP terhubung hanya ke PKB. Ini berarti dalam pilkada, PDIP baru koalisi dengan PKB saja. Menurut data, ini terjadi terjadi di 2010. Selain itu PDIP sendirian. Ini fenomena menarik. Karena selama 3x Pilkada langsung di GK, PDIP belum pernah berhasil mendudukkan calonnya sebagai bupati dan wakil bupati. Padahal suara PDIP termasuk besar di GK.

Tentu, periode 2020 ini akan menjadi pembuktian PDIP, apakah akan berhasil, atau harus berjuang lagi di periode mendatang.

Unik juga bagi Gerindra. Meski baru 3 kali mengikuti, link strengnya sudah 13. Lebih banyak dari Demokrat yang meski juga 3x ikut pilkada, namun baru punya 10 jejaring koalisi selama pilkada GK. 

Apakah ada ada hal baru di tahun 2020?

Akankah partai yang belum pernah menang di pilkada akan berhasil di tahun ini? atau justru partai yang selama ini berhasil mendudukkan calonnya sebagai pasangan bupati dan wabup, tetap akan mempertahankan posisinya?

Yang pasti, dari yang saya lihat, partai tidak begitu berperan di pilkada GK. Kemenangan/suara yang diraih pada pemilu legislative, tidak jadi kunci kemenangan koalisi. Ini keren. Segala hal yang berkaitan dengan tokoh/calon bupati dan wakil bupati (dan mungkin visi misi tokoh) yang diusunglah yang menjadi kunci kemenangan. 

---------------------------------------------

Selamat mencoblos.

Catatan: Data yang saya kumpulkan sangat dimungkinkan ada kekeliruan. Visualisasi ini sebagai bahan latihan visualisasi data menggunakan VV. Saya tetap netral. 📷

Sumber data: 
1. https://news.detik.com/berita/d-348465/kpud-gunung-kidul-tetap-sahkan-calon-bupati-bermasalah (peserta 2005) 
2. https://kab-gunungkidul.kpu.go.id/berita-detail-6-hasil-rekapitulasi-penghitungan-suara-pasangan-calon-kepala-daerah-dan-wakil-kepala-daerah-kabupaten-gunungkidul-tahun-2010-.html (peserta 2010) 
3. https://nasional.tempo.co/read/694642/empat-pasang-calon-bertarung-di-pilkada-gunungkidul (peserta 2016)
4. https://kab-gunungkidul.kpu.go.id/files/arsip/2015/08/79_sk-penetapan-paslon.pdf (2015)
5. https://kab-gunungkidul.kpu.go.id/berita-detail-366-keputusan-kpu-kabupaten-gunungkidul-tentang-penetapan-pasangan-calon-peserta-pemilihan-bupati-dan-wakil-bupati-tahun-2020.html (2020) 

Data yang ditemukan kemudian dimasukkan ke Zotero dalam bentuk nama calon, tahun pilkada serta nama partai pendukungnya. Setelah lengkap, kemudian dieksport ke ris, lalu dimasukkan ke VV

Sunday, 25 October 2020

, ,

Tantangan untuk ISIPII


M
usim sudah berganti. Kemarau berangsur hilang. Hujan mulai turun. Banjir juga mulai terjadi. Tak terkecuali di kampung Paijo. Ya. Tapi tidak di perumahan. Yang kena banjir ya sungainya. Hehe. 

Sore itu, selepas hujan lebat pergi, Paijo merenung. Lama dia tidak merenung. Pada masa pandemi ini, sebenarnya dia banyak di rumah. Kerja. Online. Daring istilah bakunya. Namun, justru kerja online dari rumah ini membuatnya kurang produktif dalam merenung untuk kemudian menuliskannya.

Sore itu dia berusaha sekuat pikiran, untuk merenung. Beberapa diskusi, atau tepatnya lontaran diskusinya, mendapat tanggapan. Dan itu membuatnya merenung. Menerka arah dan argumen yang muncul dari rekan-rekannya.

****

Sekelebat dia ingat, masih tentang perpustakaan, pustakawan, dan kepustakawanan. Konon kabarnya, di negara lain yang dianggap maju perpustakaannya, pustakawan itu pendidikannya unik.

Kalau pendidikan tinggi dasarnya tentang perpustakaan, maka jenjang berikutnya pustakawan tidak mengambil lagi studi perpustakaan. Namun mengambil pendidikan lain. Atau sebaliknya. Pendidikan tinggi dasarnya tentang ilmu lain, kemudian pustakawan akan ambil masternya tentang perpustakaan.

Hal itulah yang kemudian (salah satunya) dianggap berkontribusi pada skill dan pengetahuan pustakawan.

Namun, di Indonesia tidak demikian. Banyak pustakawan yang tidak bosan sekolah tentang perpustakaan, atau kini diperluas dengan informasi. Diplomanya perpustakaan, sarjana perpustakaan, masternya juga demikian. Tidak bosan. Ya, seperti Paijo sendiri. Haha. 

"Hanya doktor yang tidak", batinnya. Ya. Jelas. Di Indonesia belum ada program doktor ilmu perpustakaan. Ada, sih. Tapi program nebeng. 

Paijo berfikir. Kudunya tidak demikian. Ya, minimal jika ingin sama seperti negara tetangga, lah. Kan selama ini begitu kebiasaan membandingkannya. Pustakawan tidak boleh sekolah terus di bidang perpustakaan. Ini harus dikampanyekan. Kudu variasi. Biar enak, menantang, dan tidak bosan.

Lalu siapa yang harus mengampanyekannya?

"Tidak ada yang lain. Ya para lulusannya", bathin Paijo. Juga organisasi lulusannya. Organisasi yang mewadahi para sarjana ilmu perpustakaan. "ISIPII," ucap Paijo setengah teriak.

"Untuk pengembangan kepustakawanan Indonesia, kami serukan pada para sarjana IPI untuk merdeka ambil S2 di bidang apapun"

Wani ra?

Tapi apa ISIPII berani? Paijo tidak yakin.

Renungan itu menyisakan tantangan.

Selesai

Friday, 16 October 2020

Mau melakukan parafrasa? pakai aplikasi ini

https://quillbot.com/

Beralamat di quillbot.com. Terdiri dari 2 jenis: free dan premium.

Untuk fersi free, setiap proses maksimal 400 karakter, serta hanya bisa dengan mode standard dan fluency. 

Untuk versi premium akan aktif pula mode creative, suggestive, dan concision. Tersedia juga pengaturan sinomim.


https://spinbot.com/

Beralamat di spinbot.com. Terdiri dari 2 jenis: free dan no more ads.

Versi free, dalam satu kali proses dibatasi 10.000 karakter, dengan tambahan opsi pengecualian kata yang ditulis kapital.

Sementara untuk versi berbayar dengan penggunaan tidak terbatas di setiap bulannya. Spinbot juga terhubung dengan paraphrasing-tool.com.


Silakan coba juga:
https://typoonline.com/
https://www.ejaan.id/



Saturday, 5 September 2020

Heboh panggilan profesor

Jika yang dipanggil itu memang seorang profesor, maka sudah semestinya demikian. Jika yang dipanggil itu bukan profesor, sangat mungkin yang dipanggil itu juga menikmati. Sambil membayangkan jadi profesor beneran.


Bagi yang punya kemungkinan jadi profesor, dan secara karir sangat mungkin mencapai maka itu sebentuk doa. Bagi orang yang bekerja di perguruan tinggi sebagai pengajar, atau di lembaga riset yang memiliki jenjang sampai profesor. Juga bagi anak-anak, yang itu sebentuk doa dan cita-cita. Maka semoga ijabah.


Namun, bagi yang tidak mungkin memperolehnya, tidak memiliki syarat atau lingkungannya tidak memungkinkan, maka itu jadi membentuk angan-angan mustahil. Ngenteni tuwuhing jamur ing mangsa ketiga. Bahkan bisa jadi justru panggilan itu menjerumuskannya pada angan yang mustahil kesampaian. Khawatirnya kita justru ngumbulke pada impian yang tidak mungkin terwujud.


Maka, hati hati menyebut profesor pada seseorang.


Kecuali itu panggilan sayang. Iya, panggilan sayang. Sepertinya yang sedang viral sekarang.

"Bukan begitu, Prof.?"

Nyetir mobil


Tu de poin
. Saya ndak bisa nyetir mobil. Ya. Serius. Pada usia saya yang 30 sekian.

Sebab pertama, memang saya tak punya mobil. Sehingga bukan kebiasaan atau tidak terbiasa. Sebab kedua: saya tidak belajar. Tidak ada keinginan kuat untuk belajar nyetir mobil. Keinginan lemah sih ada.


Misalnya, pernah suatu ketika diajak belajar oleh kakak saya. Kakak ipar saya ini jago nyetir. Di tempatnya bekerja sering jadi jujugan ketika pimpinan hendak ke luar kota. Saya belajar nyetir padanya. Muter muter di lapangan. Hanya itu. Dua kali kalau tidak keliru. Dan tetap belum bisa.


Saat itulah saya tahu rahasia nyetir mobil. Saya baru tahu bahwa perpindahan gigi mobil itu sama atau mirip untuk semua jenis mobil. Ah. Polos banget saya ini. Dulu saya mikir, "kok orang gampang banget nyetir mobil A lalu pindah mobil B?".


Selain itu, ternyata as ban depan lah yang jadi patokan ketika belok. Tentu juga dengan rasa. Perasaan. Termasuk perasaan terhadap moncong mobil bagian depan.


Mestinya menyetir menjadi kebutuhan di jaman sekarang. Tidak harus punya mobil. Dalam keadaan darurat, pakai mobil orang atau pinjaman, juga bisa. Namun, bisa juga tidak. Toh sudah ada layanan mobil online. Ya. Tergantung kebutuhan.


Meski sebenarnya pengen juga bisa nyetor. Eh, nyetir. Namun, Saya masih menikmati ketidakbisaan dalam menyetir.


Salah satunya menjadi alasan untuk tidak begitu aktif dalam organisasi. Organisasi daerah atau nasional. Pengurus setidaknya harus bisa nyetir. Syukur punya mobil.


Kan memalukan, kalau ada tamu, lalu saya jemput pakai motor. Atau ngojek. Jadi, kalau saya ndak mau gabung dalam organisasi daerah atau nasional, salah satunya menjaga muruah organisasi.

Jangan sampai nama baik organisasi rusak, gara-gara pengurusnya ada yang ndak bisa nyetir. 😀


___
sambisari, 9/8/20.
17.27

Note: ini tulisan sore, menulis untuk apa saja untuk menjaga dan latihan menulis.

,

Menulis

Malam tadi, tepatnya petang kemarin, ada obrolan di pustakawan blogger. Melalui Zoom, online. Pesertanya tembus 70-an. Pada saat ditutup masih ada 63 bertahan. Bagi saya ini banyak. Sangat banyak.

---

Tema-nya tentang kisah para blogger. Ada beberapa pemantik. Sebagai blogger, saya pun ikut.

Sebagai bahan cerita, saya mengingat lagi awal mula ngeblog. Sulit ternyata. Hanya mengandalkan jejak postingan pertama, bulan Maret 2007. 13 tahun lalu. Tentang alasan saya ngeblog? entah. Saya lupa.

Ada beberapa jenis tulisan saya di blog. Pertama salin tempel. Jujur saya pernah melakukan ini. Tentu dengan menyebut sumber. Biasanya untuk tulisan yang saya anggap menarik. Salin tempel ini terjadi pada awal ngeblog.

Kemudian tentang pekerjaan. Biasanya terkait panduan atau catatan yang saya anggap penting untuk saya, dalam melayani mahasiswa. Dari pada catatan tercecer, maka saya tulis di blog. Supaya mudah ketika membutuhkannya lagi.

Pada periode beberapa tahun terakhir, tulisan lebih banyak diwarnai oleh perenungan. Perenungan ini, sebagian besar saya kemas dengan karakter Paijo dan Karyo.

Perenungan, dan kemudian saya lanjutkan dengan berfikir kritis, saya lakukan dengan mendekati fenomena/trend kepustakawanan dari sisi yang berbeda. Dengan demikian, saya mendapatkan pandangan yang kadang bertolak belakang. Pandangan ini kemudian saya benturkan dengan teori yang dianggap mapan. Ketika saya memperoleh argumen, maka kemudian saya tulis.

Tulisan saya posting. Kadang ada yang baca. Bahkan rame komentarnya. Para doktor ikut nimbrung. Kadang tidak. Tidak mengapa.

Ada juga yang japri saya. Mengatakan sepakat atau sepaham. Namun sungkan mau menuliskan. Ah. Ternyata saya tidak sendiri.

Dari sinilah, kemudian saya memperoleh alasan, betapa rapuhnya beberapa (baca: tidak semua) perkembangan konsep dalam bidang perpustakaan.

Saya tidak menampik, bahwa ada yang tidak sepakat, atau menganggap perenungan saya itu mubadzir. Bahkan mungkin lucu. Saya, pada beberapa hal, dianggap mengulang perenungan para pemikir perpustakaan generasi sebelumnya. Saya sendiri tidak tahu pemikir mana yang sama pikirannya dengan saya. Tidak mengapa. Saya nikmati proses dalam diri saya ini.

*

Tujuan saya menulis tidak agar terkenal. Saya ikut belajar h-indeks, g-indeks, dan beberapa angka lainnya. Meski saya bekerja di perpustakaan yang kultur ilmiahnya kental, bahkan saya menjadi bagian yang mendukungnya, namun agaknya dalam hal angka impact ini saya belum/tidak ketularan. Saya menulis, setidaknya sampai saat ini, tidak agar h-indeks atau kutipan naik atau alasan serupa lainnya.

Saya menulis, ya buat menulis. Menuangkan pikiran, belajar merangkai kalimat, paragraf.

Mungkin karena alasan inilah, saya jarang bisa nembus konferensi atau pertemuan ilmiah kepustakawanan. Bahkan, terakhir saya nulis di jurnal, sudah 4 tahun lalu. Rentang waktunya jauh dengan tulisan sebelumnya.

*

Meski sekarang populer vlog, podcast, dan lainnya, namun menulis tetap punya tempatnya sendiri. Tulisan, bagi saya memiliki derajat yang lebih tinggi.

Tetaplah menulis, kawan!


Jumungah Pon 16 Sura Jimakir AJ 1954