Monday, 9 July 2018

Da'i dan pustakawan

Jarene wong pinter, "kita adalah da’i sebelum menjadi apapun". Da'i, di KBBI berarti pendakwah. Kerjaannya berdakwah, ngajak marang kebaikan. Lalu siapa yang bisa jadi da'i? Mengajak pada kebaikan itu tanggungjawab semua orang. Artinya semua orang bisa dan berkesempatan jadi da’i. Namun demikian, seseorang akan disebut da'i atau tidak, tergantung pada orang lain. Mau atau tidak orang lain menyebutnya da’i.

Da'i itu sebutan yang disematkan pada seseorang oleh orang lain yang mengakuinya. Jika dia menganggap orang lain itu da'i, ya disebutlah dia da'i. "Itu ada pak da'i, nanti mau ngisi pengajian". Embuh dia sekolah belajar formal atau tidak. Atau cukup nyantrik ke kyai setiap sore, kalau orang menganggap da'i, ya sah dia disebut da'i. Da'i berkaitan erat dengan agama tertentu, Islam.

Da'i yang baik, tidak akan mempermasalahkan da'i lain hanya karena tidak mengenyam pendidikan perdakwahan dan perda'ian.. Da'i diakui dari ilmunya. Semakin tinggi ilmunya, semakin menunduk dan menghargai da’i lainnya, meski berbeda pandangan atau pendapat. Jika ternyata seorang da’i ilmunya janggal, maka dia akan ditinggalkan. Masyaratkatlah yang akan menjadi filternya. Bar.

Sebutan da'i, merupakan sebutan yang given, diberikan oleh masyarakat sekitar. Dia bukan profesi yang diminta oleh Si Da'i. Sebutan da'i bukan hegemoni kelompok tertentu saja, dan tentunya tidak terkait undang-undang.

###

Nah, pustakawan juga seperti da’i. Masyarakat boleh memanggil seseorang sebagai pustakawan berdasar peran nyatanya di masyarakat. Kenapa tidak? Kalau memang tidak pantas, maka tak akan dia disebut sebagai pustakawan bagi orang lain. Jika Paijo itu mengabdikan dirinya untuk kegiatan yang terkait pustaka, kemudian orang menyebutnya pustakawan, ya sah saja. Meskipun Paijo tidak sekolah (ilmu) perpustakaan. Mau protes?

Mendapat sebutan pustakawan tak harus perlu pendidikan formal kepustakawanan, dan tidak dihegemoni oleh kalangan tertentu saja. Bahkah orang bisa menyebut dirinya adalah pustakawan, bagi dirinya sendiri. Setiap manusia adalah da'i, setiap manusia adalah pustakawan. Dan tentu saja, setiap tempat adalah perpustakaan.

Baca juga Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya

Tuesday, 3 July 2018

[[ timnas islandia dan kepustakawanan kita ]]

Ada yang menarik di timnas Islandia piala dunia 2018. Pertama, nama-nama pemainnya berakhiran dengan "son". Kemudian yang kedua terkait pekerjaan sampingan (atau utama?) pemain dan pelatihnya.

Halldorsson, kiper Islandia itu juga berprofesi sebagai sutradara iklan. "Pekerjaan saya hanyalah menjadi pembuat film," demikian dia berkata. Kabarnya, selain memang ketertarikannya pada dunia film, juga disebabkan oleh liga Islandia hanya bersifat semi profesional. Selain Halldorsson, ada juga Hallgrimsson, sang pelatih yang juga seorang dokter gigi. "saya benar-benar menikmati kembali untuk bekerja dengan klien saya", begitu katanya. Menjadi dokter gigi adalah cara terbaik untuk santai dari tekanan sepakbola. Bahkan, dia pernah berkata, "Saya adalah seorang dokter gigi dan takkan mau melepas pekerjaan tersebut". Saevarsson, bek Islandia juga merupakan buruh pabrik garam. "Ini normal", katanya. 

Jika ditarik pada dunia kepustakawanan, ini menarik. Halldorsson mengatakan "semi profesional". Mungkin masih ada yang merasa, baik secara keseluruhan atau per kasus di tiap institusi, ternyata profesi pustakawan masih semi profesional. Sehingga pekerjaan sebagai pustakawan itu tidak bisa 100% diharapkan, maka jadilah seperti Halldorsson, yang menjadi sutradara film, atau Saevarsson yang juga buruh pabrik garam.

Jika merasa menjadi pustakawan itu banyak tekanan, maka jadilah seperti Hallgrimsson, yang menggeluti dokter gigi sebagai hiburan.

Sepakbola yang bagi banyak orang sangat menjanjikan, bergaji tinggi dan terjamin, ternyata tidak untuk pesepakbola lainnya. Apapun sebabnya. Demikian pula pustakawan. Dia bisa menjanjikan untuk sebagian, namun tidak untuk sebagian lainnya. Maka memiliki cara pandang yang lebih luas tentang rejeki (bahkan juga tentang hidup-tantangan-ujian) menjadi penting.

Mbah Kyai Maimun menyampaikan "Kalau kamu jadi guru, dosen, atau kiyai, kamu harus tetap punya usaha sampingan.. Biar hatimu tidak selalu mengharap pemberian.." [1] Demikianlah, rejeki dapat datang dari berbagai sumber, dari berbagai arah. Tidak hanya dari sepakbola saja, tidak hanya dari menjadi pustakawan saja.

Pustakawan itu sebuah pekerjaan, bisa menjanjikan, bisa tidak. Santai, dan bergembiralah.
Begitu, Son..

[1] https://twitter.com/nu_online/status/885322832883859456


#2019 ganti pustaka-man

Siapa tak kenal superman, spiderman, wonder wo-man? Tokoh fiktif penuh imajinatif, yang dikenal sejak lama. Bahkan, idola yang ketika beraksi hanya bercelana dalam tersebut masih saja diangkat sebagai film di jaman ini. Kuat, kekar, gagah, dan juga sakti. Bagi kaum perempuan, spiderman dan superman juga dianggap nggantheng. Wonder wo-man, dianggap cantik, tur ya seksi.

Selain super, spider dan wonder, kata Kang Dodo, ada “Sandiman”. Sandiman itu sebutan bagi para pengelola sandi. Sekolahnya di Sekolah Sandi Negara. Mendengar itu,  Paijo nyeletuk, “kenapa tidak pustakaman, ya?”. Dari sinilah semua berawal.

###

Pertanyaan iseng ini muncul pada obrolan sore itu. “Yo wis, diganti saja jadi pustakaman. Bikin istilah baru”. Tawa lepas tanpa dosa mengikuti ide tersebut. 

Sebenarnya, selain pustakawan, telah muncul istilah baru, yang konon kabarnya lebih kekinian. Lebih sesuai dengan perkembangan, dan tentunya lebih membanggakan. “Pekerja informasi”, misalnya. Istilah itu dianggap menimbulkan energi positif bagi yang menggunakan. Seolah berbagai sejarah buruk, ketertindasan dan juga konflik yang tersemat pada istilah “pustakawan” dapat dihilangkan dengan istilah baru, “Pekerja Informasi”.

Nah, bagaimana dengan “Pustakaman”. :)

Paijo browsing, cari alasan munculnya buntut wan dan man. Apa bedanya?. Pada sebuah laman web dia menemukan, bahwa “man” digunakan jika vokal akhir dari kata dasarnya “i”. Sedangkan selain itu, menggunakan “wan”.  Itulah sebab sand(i) menjadi sandiman, sen(i) menjadi seniman. Sementara buday(a) menjadi budayawan, pustak(a) menjadi pustakawan.

Namun, apakah semua i menjadi man, dan a menjadi wan? Jika ditelisik, ada juga Sujiwan. Suj(i) itu berakhiran i, harusnya Sujiman. Karyo, yang mendengar gerutu Paijo nyeletuk, “Sujiman itu nama orang, Jo”.  Paijo, yang memang ngeyel itu tidak mau kalah. “Okelah itu nama orang, tapi apa alasan i menjadi man, dan a menjadi wan?”. Kang Dodo, yang sehari-hari bergelut dengan dunia informasi menyodorkan data: geolog(i)wan. Geologi berakhiran i, tapi buntutnya wan, bukan man. 

Jadi?

###

Tinggalkan saja istilah pustakawan, yang penuh konflik dan masih identik dengan ketertindasan. Beralih ke pustakaman. Berharap akan mendapat tuah  sakti dan sekuat Superman, Spiderman, atau Wonder Wo-man. Demikian, Paijo bersemangat mencari pembenaran ide pustakaman tersebut.

Ingatkah ide mengganti Indonesia menjadi Nusantara atau Nuswantoro?, yang konon dianggap lebih asli dibanding Indonesia. Penggantian tersebut sebagai usaha mengubah nasib negara ini. Menurut itung-itungan primbon tentang nama, Nusantara lebih membawa hoki. Nah, demikian pula dengan pustaka-man. Sopo reti, siapa tahu, lebih membawa hoki pada perkembangan kepustaka-man-an di Indonesia. Para pustakaman akan bergabung dalam Ikatan Pustakaman Indonesia.


###

“Otak-atik kata ini, sebagai bentuk membangunkan kata-kata, yang telah lama diistirahatkan oleh Wiji Thukul”, celetuk Paijo. “Bangunlah kata-kata”, ngono. Obrolan mempermainkan kata itu berlangsung seru. Obrolan sebagai bentuk hiburan di sela kesibukan mereka menjadi pustakawan, yang kadang penuh tekanan. Baik tekanan pekerjaan, maupun tekanan psikologis: dari atasan, atau bahkan dari sesama pustakawan.  Dengan mengubah menjadi pustakaman, maka Paijo akan menganggap pustakawan sebagai masa lalu yang harus dikubur bersama segala sejarah kelamnya. Paijo ingin memulai hal baru.

###

“Byur”, air tumpah di wajah Paijo, memaksanya bangun dari dipan kayu. Ternyata Paijem, istrinya sudah berupaya membangunkan sedari tadi. Karena tak ada respon, maka air segayung itu solusinya. “Katanya pustakawan itu penting, pembawa perubahan, tapi bangun tidur saja susah. Ndang mandi sana”, suara istri Paijo memecah pagi. Tanpa ba-bi-bu, Paijo nyaut handuk merah yang sudah bolong-bolong tak karuan, menuju kamar mandi. Adus kilat, karena waktu sudah siang. 

Selesai berpakaian, Paijo menuju ruang makan. Sial, tak ada makanan terhidang untuk sarapan pagi. “Berasse habis, Kang. Durung ada uang untuk nempur”, jelas istrinya tanpa ditanya. Sambil mrengut, Paijo menyiapkan perlengkapan kerjanya. Selain berpakaian dinas, dia juga membawa bekal kaos. Maklum, selain jadi pustakawan, dia juga nyambi resik-resik sekolah. Paijo kerja kontrak di sekolah swasta, kecil, yang tak mampu menggaji tenaga kebersihan. Melihat peluang itu, Paijo nyambi jadi tukang kebon, berharap gajinya bisa ditambah untuk bekal nempur setiap bulannya.

Paijo bergegas mengambil motor bututnya, dislah, lalu bersiap ngegas. Sebelum ngegas, dia teriak keras pada istrinya, “Bu, sekarang tak ada lagi pustakawan, adanya pustakaman”.  “Berasse habis, Kang!”, jawaban Paijem tidak nyambung.



Monday, 2 July 2018

PDF eXpress: agar PDF diterima di IEEE

PDF eXpress and PDF eXpress Plus, IEEE-financed author tools that assist IEEE conference organizers in obtaining IEEE Xplore®-compatible PDFs from their authors, are online. These tools are free to all conferences that are enrolled in the IEEE Conference Publications Program.

https://www.pdf-express.org/


Saturday, 30 June 2018

Jagongan

jagongane pithik
Jagongan, alias diskusi itu nyenengke, menggembirakan. Apalagi jika jagongannya bermutu. Ya, tentunya bermutu itu macam-macam definisinya. Tidak harus ikut definisi mahdzab tertentu. Membuat mahdzab "bermutu" yang baru, juga tidak mengapa. Membuat peserta jagongan senyum, serta mengendorkan urat yang kaku, juga bisa disebut bermutu, meski jagongannya cuma sepele. Ngomongke   telo gosong, disusul dengan tawa terbahak, karena saking lucunya muka akibat angus telo gosong, misalnya.

Demikian juga jagongannya pustakawan, khususnya tentang perpustakaan, perkembangan pustakawan, kepustakawanan. Baik dengan sesama pustakawan, dengan dosen (ilmu) perpustakaan, atau dengan siapapun yang berminat alias berkenan.

Nah, ada beberapa gaidlain, alias panduan para pustakawan dalam diskusi, menanggapi antar sesama atau dengan para ilmuwan perpustakaan.

Berdiskusi  dengan sesama pustakawan itu jelas, mau ngalor ngidul, ngetan ngulon, hasil akhirnya jelas.  Tanpa tedeng aling-aling sesama pustakawan akan mencari formula terbaik (atau bertanya balik pada lawan diskusi) dengan pertanyaan:  bagaimana contohnya. Ya, karena pustakawan berkepentingan belajar dari pustakawan lainnya dalam mengelola perpustakaan, atau menjalankan profesinya sebagai pustakawan. Berharap pustakawan lainnya telah melakukan apa yang diomongkan, atau paling tidak mau memberitahu langkah yang hendak dilakukannya.

Menanggapi diskusi dengan dosen (ilmu) perpustakaan itu pun jelas. Memang tidak serta merta dosen bisa memberi contoh, sebagai mana pustakawan. Namun, pada tingkatan intelektualitas di atas rata-rata yang dimiliki dosen (ilmu) perpustakaan, maka seorang pustakawan bisa bertanya: bagaimana sebaiknya?. Jawaban dosen (ilmu) perpustakaan tidak langsung contoh riil, karena mereka tidak (semuanya) turun langsung pada praktik kepustakawanan di perpustakaan.

Berikutnya, menanggapi diskusi dengan seorang pustakawan yang sekaligus dosen (ilmu) perpustakaan. Orang yang "nyambi" dengan dua peran ini cukup banyak. Bahkan, seorang pustakawan dengan bangganya mengatakan, "aku lagi ngajar". "Ngajar", merupakan istilah yang selama ini disematkan pada dosen. Pustakawan menyebut dirinya "ngajar", mungkin karena memang dia benar-benar ngajar, atau dia ingin masuk pada atmorfir "ngajar" yang selama ini dilakukan dosen. Untuk apa? Ya biar merasa dosen. Hehe. Berdiskusi dengan pustakawan yang sekaligus dosen (ilmu) perpustakaan itu kepenak banget. Asli, tenin. Karena sebagai pustakawan, kita bisa bertanya dua hal sekaligus: piye contone dan piye konsepe? (Bagaimana konsepnya, dan bagaiman contohnya)

Pustakawan yang nyambi ngajar ini memiliki pengalaman riil, dan juga konsepnya. Komplitlah.

Kemudian ketika berdiskusi dengan yang bukan pustakawan dan bukan dosen (ilmu) perpustakaan. Hal ini juga kepenak, atau paling tidak: jelas jluntrungnya. Pustakawan akan menempatkan lawan diskusi sebagai pemustaka yang perlu dilayani. Pada orang yang bukan berstatus pustakawan dan juga bukan dosen (ilmu) perpustakaan, seorang pustakawan bisa bertanya: mohon saran, dan apa yang bisa kami bantu?

Mohon saran, sebagai bentuk peghargaan pada sang pemustaka. Tentunya mereka perlu dilayani, atau memiliki saran (bahkan kritik) pada layanan di perpustakaan yang dikelola pustakawan. Sementara menawarkan bantuan melalui pertanyaan "apa yang bisa kami bantu", merupakan proses menjalankan substansi pustakawan pada pihak pemustaka.

Yang terakhir, rada susah menanggapinya, yaitu ketika bicara tentang perpustakaan atau kepustakawanan dengan orang yang ndak jelas statusnya, antara pustakawan atau dosen (ilmu) perpustakaan. Lah, simalakama. Contoh riil tak mendapatkan. Saran yang diberikan juga, ah, melangit. Dan susahnya lagi, saran yang melangit itu sendiri tidak dilakukannya. Mumet, tho?


###

Semua kawan diskusi harus dihargai. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bagaimanapun juga, belajar itu bisa dilakukan dari siapapun. "Setiap orang adalah guru", jarene begitu. Namun, sebagai pustakawan kudu bisa memetakan pihak-pihak di atas. Untuk apa? yang untuk menjaga diri, agar tepat dalam menanggapi. Yang paling penting lagi, untuk menjaga kese(t)imbangan pikiran. #halah.


Dekat  stasiun Gambir,  Aryaduta  kamar 703
30 Juni 2018, 05.56 pagi



Tuesday, 5 June 2018

Pengalaman dengan LaTeX (2)

LaTex, selain artinya terkait karet, dalam dunia ilmiah dikaitkan dengan alat untuk olah dokumen. LaTex, dibaca «Lah-tech» atau «Lay-tech», berfungsi sebagai alat untuk menulis ilmiah, seperti halnya Microsoft Word. Beberapa jurnal mensyaratkan paper ditulis menggunakan Latex jika hendak disubmit ke jurnal tersebut.

Penulisan menggunakan Latex memang agak berbeda dengan Ms. Word atau Libreoffice. Latex lebih mirip dengan Wordstar, sebuah aplikasi serupa sebelum Ms. Word. Penulis harus mendefisinisikan berbagai aturan yang dikehendaki pada baris-baris yang tersedia. Penulisan model inilah yang kadang menjadi momok penulis ketika menemukan jurnal yang mensyaratkan penggunaan Latex.


\documentclass{article}
\title{Cartesian closed categories and the price of eggs}
\author{Jane Doe}
\date{September 1994}
\begin{document}
   \maketitle
   Hello world!
\end{document}


Latex menerapkan filosofi What You See is What You Mean, atau apa yang kamu lihat merupakan apa yang kamu inginkan. Sementara Ms. Word menerapkan filosofi What You See is What You Get, apa yang kamu lihat merupakan apa yang akan kamu dapatkan.

Latex sendiri sebenarnya mesin, pemroses. Sementara antarmukanya bisa menggunakan banyak aplikasi. Miktex, Texwork, Texstudio merupakan beberapa contohnya. Selain itu, adapula LyX. Berbeda dengan 3 aplikasi pertama, LyX hampir mirip Ms. Word. 


###
http://ijns.jalaxy.com.tw/contents/ijns-v20-n5/ijns-2018-v20-n5-p836-843.pdf

Untuk memenuhi syarat paper menggunakan Latex, tidak harus menulis langsung di Latex. Namun bisa ditulis dahulu di aplikasi pengolah kata (Ms. Word, LibreOffice dll) kemudian dipindahkan. Namun demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dan tentunya disesuaikan dengan guide for author. Baca baik-baik guide for author di jurnal. 

Berikut ini kesalahan sepele yang pernah saya lakukan, sehingga manuskrip dikembalikan beberapa kali.
  1. penulisan judul UPPERCASE ke Capitalize Every Word
  2. penulisan kata kunci urut abjad dan diawali huruf besar
  3. penulisan section UPPERCASE ke  Capitalize Every Word
  4. penulisan nama gambar Sentences style
  5. jenis file gambar
  6. serta yang cukup menyita waktu bagi penulis adalah menyesuaikan format .bib. Sangat mungkin jurnal tidak menerima format bib default hasil eksport dari Mendeley/Zotero.

###

Bagi teman-teman yang hendak belajar Latex, bisa menggunakan Latex online, misalnya overleaf. 

Real men use LaTeX

Monday, 4 June 2018

Kontribusi CSL (citation style) di database Citation Style

Ketika membuat kutipan dan daftar pustaka di Mendeley atau Zotero, kita bisa menemukan style yang tersedia dan kita tinggal menggunakan.

Namun, ada kalanya tidak ada yang sesuai dengan aturan di kampus kita. Bagaimana solusinya?

Solusi pertama membuat style sendiri. CSL menggunakan XML, cukup mudah dipelajari. Solusi kedua dengan modifikasi style yang sudah ada.

Saran saya, jika menemukan style bibliografi tertentu, cari yang paling mirip. Pencarian bisa dilakukan di http://zotero.org/styles atau http://editor.citationstyles.org/about/. Setelah ketemu, editlah. Di citationstyles ada dua mode edit: code atau visual.

Sementara di Zotero editing dapat dilakukan pada aplikasi Zotero.



Nah, bagaimana agar style hasil modifikasi atau buatan sendiri tersebut bisa terlihat di database Mendeley atau Zotero?

Coba ikuti tautan ini https://github.com/. Laman ini berjudul Guide to Submitting CSL Styles (and CSL Locales). Pada laman ini ada dua pedoman untuk berkontribusi: submit new style dan Submitting changes to an existing style.

Saturday, 2 June 2018

Panen jagung

Wingi esuk, aku bali. Sak bubare upacara dina lahire Pancasila, numpak montor. Nang kampungku: Ngliparkidul, nGunungkidul, Ngayogyakarta
Tekan ngomah, mergo dino Jemuah, yo ndang Jemuahan disik ono mesjid dusun. Alhamdulillah, iso ngrasakke maneh Jemuahan nang ndusun.

##

Sore kui, antarane jam 13, Bapak ngendiko "Yen pengen jagung, sajake ing tegalan wewengkon Kreteg isih ana sik enak dibakar utowo digodog". Hora kakean pretengseng, aku banjur nang tegalan, karo bojoku. Tegalan kui antarane rong kilo adohe soko ngomah. Jaman samono, jaman isih nang kampung, yen nang tegalan kui mlaku, menyang mulih. Keporo yen mulih kudu nyunggi pakan kolonjono utowo godong-godongan liyane. Paling ora sebongkok.
Pakan kui kanggo sapi lan wedhus sing ana kandhang. Kewan kang dadi kelangenane simbah. Konco urip seprono-seprene. Ugo celengan yen pas butuh duwit. Utowo dinggo lawuh yen lagi ana gawe, ewuh. Mantu, sunatan, utowo liyane.
Yen mulih soko tegalan, kading kolo mampir nang nggone simbah, nggone Lek Marsudi Rubas utowo Lek Eswanto ing wewengkon Sumberjo lan Mengger. Kepeneran omahe tak liwati yen menyang tegalan. Leren ngombe wedhang. Kerep ugo dikon madhiang barang. Kading kolo yo liwat sandinge Kang Santoso Aqil, konco sekolah naliko SD.

##

Sore kui aku numpak montor, ora wani mlaku. Tekan tegalan, katon nyenengke temenan. Jane wis ora ijo banget, mergane wis meh ketigo. Nanging jagung ing tegalan isih katon ijo. Nyenengke tenan pokoke. 
Sak liyane jagung, uga ana telo, lan suket kolonjono. Suket kolonjono dinggo pakan sapi koyo sik tak kandhake mau. Nanging, mergo Bapak wus ora ngingu sapi utowo wedhus, kolonjonone wus ora akeh. 
Malah, ono ing salah sawijine galengan, ditanduri wit sengon. Ngendikane Bapak, cepet panene. 
Yen tindhak tegalan iki, Bapak isih mlaku, mlampah. Nadyan adoh, tetep wae Bapak hora gelem numpak motor. Yo, pancen bapak hora biso numpak motor, tur ya hora ana motor nang ngomah.
Bapak kui, soko biyen, naliko kerjo yo gur mlaku, saben ndino. Nang tegalan yo mlaku. Malah yen pas panen, trus ngundang truk cilik kanggo ngusung panenan, Bapak trimo mlaku hora melu truk. 
Ono cerito nrenyuhke babagan Bapak. Pas panen dele, bapak menyang tegalan. Sorene simbah nyusul. Simbah kaget, kok dele sak kedok wis entek. Tibake, kabeh wis dibedoli Bapak, trus dipikul dewe. Bayangke ndah abote.

###


Tegalan iki dadi lumantar rejekine sing nggarap, lan ugo kewan kelangenane.

Tuesday, 22 May 2018

MEMBACA

Inti pustakawan itu baca, baca, dan baca.

Seorang kawan bilang ke saya, “untuk perpustakaan, cukup D3 saja”. Ini disampaikan sudah bertahun lalu. Jelas Saya kaget. Jangan salah, ketika mengatakan ini, dia juga seorang pustakawan secara de facto. Karena pandangan inilah, akhirnya dia mengambil S1 bukan (ilmu) perpustakaan, demikian pula S2nya. 

Jangan keliru pula, meski demikian, dia pustakawan handal. Dia bisa menjadi teman diskusi mahasiswa dalam proses penelitian dan kuliahnya. Pengetahuannya tentang pustaka yang dia kelola, mumpuni. Tidak sekedar buku A ada di mana, buku B sedang dipinjam siapa. Tapi isinya, bobot isinya. Dia bisa menghidupkan buku yang mati itu, menjadi bergerak dan menelusup, tercerap.

Dia bukan juru kunci makam yang hanya menunjukkan: itu makam si A, si B. Tapi siapa dan bagaimana pemikiran si A yang dimakamkan di situ. Bagi saya, sulit mencari pustakawan yang bisa begitu.

Mungkin perpustakaanya secara fisik kurang bagus. Tapi dia melakukan proses utama pustakawan secara konsisten: MEMBACA.

Membaca adalah aktivitas utama dari seorang pustakawan. Dia tetap harus menempel pada tiap pustakawan. Jika pustakawan sudah tercerabut dari proses membaca, maka tidak mengherankan jika masyarakatnya pun juga demikian. Seburuk-buruknya sebuah perpustakaan, jika pustakawannya mau MEMBACA, maka perpustakaan tetap akan ada.

Akhirnya kawan saya tadi shifting. Dia menjadi dosen. Tentusaja, karena dia MEMBACA.

Jadi, kalau mau jadi pustakawan itu cukup D3 saja. Selebihnya MEMBACA. Bagian 20% kuliah, 80% baca buku. O, maaf. Sesungguhnya semua manusia itu pustakawan, ding. Apapun tingkat pendidikannya. Bahkan, kursus pun bisa jadi pustakawan plat merah, kok.





Sambisari, akhir Ruwah 1951 Dal
Pagi hari

Thursday, 10 May 2018

Iki sasi ruwah, nuli sasi poso

Genduren. Sumber: Yanthi (WAG Ngliparkidul)
Ruwah iku sasi kang nomer wolu. Sak durunge pasa, lan sak wise rejeb. Yen cara arab, pada karo Sya'ban.

Ruwah, kabare  saka tembung "arwah". Mboh bener apa ora. Nanging, saka tembung "arwah" kui, bisa digoleki tegese.

Arwah kui artine "roh". Roh e para leluhur. Kurang luwihe mengkono. Ing sasi ruwah, kanggo nyadang sasi pasa, dianakke pisowanan marang makam leluhur. Ngresiki makam, lan ugo ndedonga. Ndongakake leluhur. Muga-muga oleh dalan padhang. Oleh panggonan kang jembar. Diwales pangabektine marang Gusti, lan dingapuro kabeh dosane.

Kanggo sik ndedongo, dikarepake njaluk ngapuro marang Gusti. Supaya ngancik pasa, wis suci.

Sederhana, utowo sepele dongane. Nanging ngemu teges kang dhuwur maknane.

Ing sasi ruwah, ana uga genduren. Para kadang, konco, tangga, nyangking berkat. Isine sego sak giling (plenak), peyek, gudangan, srondeng. Kading kala ya nganggo krupuk. Oiyo, ana apem barang. Kabeh mau digowo menyang daleme pak Modin. Utawa menyang mesjid, apa neng sarean. Yen ana Ngliparkidul (yoiku asal asliku), di gowo menyang daleme mbah Kaum.  Kaum banjur mimpin donga.

Ana donga kang nganggo basa Arab, ugo basa Jowo. Yo, sajake, kaya kandhane para winasis, Islam teko marang Jawa kanthi mbaur marang kabudayan lokal.

"Ibu bumi bopo angkoso. Ibu Hawa, Nabi Adam. Ingkang dipun memetri, dipun uri-uri...", lan sakpiturute. Ana uga kalimat kang njlentrehake maknane berkat kang digowo. Koyo dene apem. "Ingkang sak lajengipun APEM. Mugi-mugi kito sedaya tansah pinaringan kekiyatan pikiran kang utuh, bunder kados bundere apem, nggih.....". Biasane poro warga njawab, "nggih".

"Ingkang sak lajengipun gudangan. Mugi-mugi kito sedoyo tansah saget gesang wonten ing ngalam ndonya bebarengan kaliyan tiyang sanes, biyantu-ambiyantu, kados dene godong lan janganan ingin gudangan meniki, nggih..."

"Ingkang saklajengipun jenang BARO-BARO....". Aku wis rodo lali klimahe mbah Kaum.

Sedulur....

Kabeh mau ono sik ngarani Nyadran. Ono ugo sing nyebut Ruwahan. Gumantung soko daerahe. Yen ono Gunungkidul, khususe Nglipar, do nyebut Ruwahan.

Apem: sumber Lina (WAG SMK 1)

###

Poro konco...  ing sasi ruwah ono tembang kang misuwur. Kondang. Tembange koyo ing ngisor iki. Mbok menowo, poro konco nate nembang, utowo paling ora nate krungu.

Iki sasi Ruwah, nuli sasi poso 
Kuwajiban kito kudu poso 
Sesasi lawase ora mangan ngombe 
Esuk tekan sore sakrampunge 
Yen wis rampung poso sembahyang rioyo 
Podho suko-suko suko samyo 
Lan halal bi halal marang wong tuwane 
Ugo marang konco lan kancane
Ing pungkasan, sugeng nindhake poso. Mugo-mugo iso sewulan natas. Rampung, sampurno, lan bisa nemoni rioyo. Sik temenan le poso. Kabeh ora ngerti, kapan bakal tekaning pati.

Nuwun