Monday, 24 July 2017

,

Menulis di jurnal: ikut-ikutan, kebutuhan, atau terperangkap pada keadaan?

Paijem sedang pusing. Dia dikejar waktu agar segera menerbitkan tulisannya di jurnal. Paijem, mahasiswa tingkat akhir, pada jenjang studi paling prestisius itu, memang diwajibkan menulis di jurnal, agar proses belajarnya pungkas. Selain itu, konon katanya, agar jumlah publikasi yang lahir dari negeri ini semakin banyak. Malu pada negeri tetangga, yang jumlah penduduknya lebih sedikit, tapi publikasinya lebih banyak.

Purwo.co - Tidak ada yang menyangkal, jurnal, sebagai terbitan berkala dengan tingkat keilmiahan tertentu, saat ini sedang jadi buah bibir, terutama pada kalangan ilmuwan. Mirip seperti bunga desa, atau bunga kampus yang dibicarakan karena  kecantikannya. 

telo bakar, agak gosong
Jurnal banyak dicari, baik sebagai wadah tulisan, ataupun (isinya) sebagai referensi. Dia akan didekati karena kualitas isinya. Kadang, jika kesulitan menimbang isi, orang akan mencari bantuan pihak yang menyediakan angka-angka kualitas jurnal.

Orang yang tulisannya terbit di jurnal dengan kualifikasi apapun, akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang naik sekian persen, dibanding sebelumnya. Tentunya, terkait ilmu yang digelutinya. Tidak jauh beda dengan Odet di serial OK-Jek, yang kegantengannya naik setelah sisiran belah tengah dan pakai minyak wangi, waktu memacak diri menjemput Nurul. Masalah jaket dan celana jin yang dia pakai robek, tidak jadi masalah. 

Jika tulisan yang terbit di jurnal tersebut dikutip banyak orang, maka kepakaran ilmuwan menjadi tidak diragukan. Semua mata akan tertuju padanya, diperebutkan untuk bicara di berbagai forum terhormat. Jadwal manggung menjadi padat. Orang berebut menjemput kedatangannya, dengan penuh harap bisa ngobrol dan mencerap ilmunya. Satu mobil, atau sekedar memboncengkan akan terpatri dalam ingatan, dan menjadi bahan cerita pada handai taulan. "Saya pernah menjemput Paijo, lho. Ilmuwan yang baru selesai kuliah doktornya, masih fresh, dan artikelnya terbit di jurnal-jurnal top."

Maka, jika ingin kaffah dalam pergulatan ilmiah, ingin memiliki tingkat kePD-an dan kegantengan naik beberapa persen, serta naik level (ke)ilmuwan(nya), maka menulislah di jurnal. Apalagi, jika menulis di jurnal yang memiliki angka metrik yang tinggi. Selain terkenal, anda akan dapat bonus menggiurkan. Namun anda harus siap modal, karena kadang ada yang mematok harga, atau harus melewati acara konferensi yang juga perlu biaya. Atau anda harus sabar menunggu antrian para pe-review yang siap menghakimi tulisan anda.

Jurnal tetap akan diagungkan, meski ada kekurangan. Istilah jurnal abal abal, kita masih ingat?  Namun jurnal tetaplah jurnal,  yang dibekingi ilmuwan dengan pengalaman intelektual dan gelar segudang. Cap jurnal predator pun, akan di lawan. Meski itu masih taraf dimungkinkan. 

Begitulah jurnal, wadah, yang semakin banyak orang ingin menitipkan tulisannya di sana, maka semakin naik tingkat kegantengan jurnal tersebut. Bahkan, tidak sampai diterbitkan di jurnal tersebut pun tidak mengapa, asal pe-review berkenan mengomentari artikelnya. Antrian yang panjang, kadang menjadikan jurnal mendahului takdirnya. Ketika tahun baru berjalan, namun sudah terbit artikel untuk tahun atau periode yang akan datang. 
"Mendahului takdir, yang dianggap ilmiah, sepertinya ya cuma terkait penerbitan jurnal".
Sistem bersepakat, bahwa identitas jurnal memang lebih prestisius.  Kesepakatan itu tentunya berimplikasi luas. Itulah sistem, yang bisa kalem, bisa juga kejam.

Pendorongan orang kepada orang untuk menulis di jurnal, pun penghargaan pada orang yang menulis di jurnal, juga bermunculan.  Sebaliknya, orang dengan artikel jurnal sedikit, akan tersisih, atau disisihkan oleh keadaan. Orang dengan keadaan yang demikian, pengembaraan intelektualnya dianggap belum paripurna,  ilmunya dianggap belum teruji. 

Artikel yang telah masuk jurnal, jangan coba-coba letakkan di tempat lain. Bisa kena pinalti, meskipun itu tulisan anda sendiri, kecuali anda punya nyali. Setelah jurnal menerbitkan tulisan anda, maka jurnal memiliki hak tunggal penyebaran tulisan anda, kecuali jurnal mengatakan lain.  Maka membaca aturan main sebuah jurnal harus teliti. Bahkan, sangat mungkin untuk jurnal tipe tertentu, anda akan kesulitan memperoleh artikel anda sendiri yang telah diterbitkan sebuah jurnal. Anda pun harus membayar untuk memperolehnya. Aneh? Tidak! Itulah bisnis.
Kejam, namun demikianlah kesepakatan itu. 
Jurnal memang berbeda dengan blog. Blog, sebagai sebuah media yang kasta keilmiahannya di bawah jurnal, juga merupakan media untuk menulis. Jarak kasta blog ini semakin jauh, sejak muncul blog beromset, dengan berita gorengan, yang mempermainkan psikologi masyarakat, untuk menaikkan klik, demi segepok dollar.  Blog-blog tersebut, tentu sangat menyakiti,  merendahkan dan mencemarkan martabat blogger, terutama yang baru belajar, seperti saya.

Blog, oleh para ilmuwan tidak disarankan untuk dikutip begitu saja, atau bahkan tidak boleh sama sekali. Alasannya, bebeda dengan jurnal yang memiliki pe-review, blog (pribadi) tidak memilikinya. Orang bisa menulis di blog, semaunya, sekali klik maka terpampanglah tulisannya di dunia maya. Coba bandingkan dengan proses jurnal yang harus melalui reviewer, bahkan kadang berbulan-bulan baru bisa terbit. Atau bahkan berbulan-bulan malah baru dapat komentar reviewer, itupun jika masih beruntung. Jika tidak, maka penantian lama hanya berbuah penolakan saja.

------

Apa tujuan menulis?

Setiap orang berhak menentukan tujuan dia menulis. Terpaksa dilakukan untuk mengejar angka kredit, demi meraih jenjang guru besar, pustakawan utama, honor, aktualisasi diri, kewajiban akademik, mengikuti tren, atau alasan karena tidak mau kalah dengan seseorang. Atau mungkin alasan sakral ingin menyebarkan ide dan pikirannya sebagai sebuah bentuk ibadah, serta alasan lainnya. Mana alasan yang didahulukan? hanya masing-masing penulislah yang mengetahuinya.

"Menuliskah buku! maka namamu akan dikenang harum, bahkan setelah meninggal". "Menulislah, maka kamu akan mengubah dunia".  "Menulislah!, maka kamu akan hidup abadi". "Menulislah!, maka kamu akan cepat naik pangkat". "Menulislah!, maka kamu akan....". Atas bisikan tersebut, maka, seseorang menulis . Atau ada pula yang tanpa bisikan tersebut, secara sadar seseorang menulis.  Entah agar namanya harum dikenang, entah karena berharap tulisannya bisa mengubah dunia. 

Setiap orang punya keunikannya sendiri dalam menulis. Menulis di blog, memiliki kebebasan, tanggungjawab, dan kemerdekaannya sendiri. Demikian pula, menulis buku, di jurnal, konferensi, atau sekedar menulis dalam bathin kita. Di manapun, berusahalah agar tulisan kita hidup, dan memiliki makna. 

Bukan tentang di mana kita menulis, tapi apakah kita butuh menulis? Bukan tentang apakah tulisan kita akan mengubah dunia, tapi apakah kita sendiri sudah berubah menjadi seperti yang kita tulis (tawarkan) pada orang lain?

Kepada para blogger yang senasib belum mampu menulis di jurnal, yakinlah!, Tuhan bersama kita. Teriring do'a, semoga artikel Paijem segera terbit, agar ilmunya segera sempurna. Yang penting lagi, setelah terbit, Paijem tetap menulis. Tidak kalah penting lagi, tulisan dan risetnya bermanfaat bagi ummat manusia. Aamiin.

Salam sambel bawang.

Sambisari,
hari ke duapuluh empat, bulan ke tujuh, tahun duaribu tuju belas.
dua belas, tiga enam pagi

Thursday, 20 July 2017

Tangkapan layar slide pada Author Workshop ENAGO yang diselenggarakan oleh BPP UGM

Purwo.co - Tangkapan layar (screenshoot) berikut saya ambil dari streaming online http://ugm.ac.id/streaming/ pada saat pelaksaan kegiatan. Informasi di laman ugm http://ugm.ac.id/id/info/751-streaming.author.workshop.writing.and.publishing.

Tangkapan layar ini tidak urut dari slide pertama. Semoga bermanfaat.


































Thursday, 13 July 2017

, , , , ,

Menaklukkan Scopus secara bermartabat

Purwo.co Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui peraturan nomor 20 tahun 2017 memberlakukan beberapa ketentuan terkait dosen. Bagi dosen dengan jabatan lektor kepala harus menghasilkan paling sedikit 3 (tiga) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal nasional terakreditasi; atau paling sedikit 1 (satu) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional, paten, atau karya seni monumental/desain monumental, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Sementara itu, bagi professor harus menghasilkan paling sedikit 3 (tiga) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional; atau paling sedikit 1 (satu) karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional bereputasi, paten, atau karya seni monumental/desain monumental, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Dikaitkan dengan jurnal internasional, atau jurnal internasional bereputasi, nama Scopus mencuat.

Ketika membahas Scopus, hal pertama yang harus digaris bawahi adalah pengindeks, bukan penerbit. Scopus yang saat ini populer di Indonesia, merupakan alat pengindeks ribuan jurnal internasional. Pengindeksan dilakukan dengan menerapkan kriteria tertentu. Indeks yang dilakukan, kemudian diolah, dan hasilnya adalah berbagai informasi tentang artikel, penulis, jurnal, institusi atau bahkan negara. Bisa dianalogikan dengan Google Scholar, namun dengan menerapkan syarat tertentu. Jika ingin karyanya terindeks Scopus, maka seorang penulis harus mencari jurnal yang telah terindeks Scopus.

Tidak banyak jurnal di Indonesia yang masuk di dalam indeks Scopus. Tercatat sampai pada tanggal 3 Maret 2017, terdapat 26 jurnal dari Indonesia yang terindeks Scopus. Sementara itu, data tanggal 3 Maret 2017 menunjukkan kurang lebih 58.000 dokumen terindeks Scopus dengan afiliasi penulis dari Indonesia. Jika diperbandingkan, maka kecil kemungkinan 58.000 dokumen tersebut diterbitkan semua pada 26 jurnal yang disebutkan sebelumnya. Sebaliknya, besar kemungkinan, dari 58.000 dokumen tersebut lebih banyak diterbitkan di berbagai jurnal yang penerbitnya bukan institusi di Indonesia.

Kondisi di atas cukup memprihatinkan. Jika genre jurnal dari luar Indonesia yang mewadahi tulisan akademisi Indonesia ini bukan open-access, maka akses pada hasil tulisan yang sudah terbit di jurnal luar Indonesia tersebut pun akan sulit, karena harus membayar. Inilah masalahnya, dikhawatirkan hasil riset akademisi Indonesia justru akan dikuasai oleh penerbit raksasa di luar negeri dan sulit diakses akademisi Indonesia, karena harganya yang begitu mahal. Masalah lain yang muncul, meskipun menurut saya hanya efek sampingan, adalah terjebaknya akademisi pada jurnal atau konferensi abal-abal, karena ketidaktahuan dan ketidak hati-hatian ketika dipacu untuk menerbitkan tulisan pada level internasional.

Tulisan yang bagus, dan jurnal yang berkualitas
Kemristekdikti, sepertinya menghendaki agar akademisi di Indonesia semakin produktif meneliti dan menulis. Dilanjutkan dengan menerbitkan tulisan tersebut di jurnal yang berkualitas. Terdapat dua kata kunci yang perlu digaris bawahi, yaitu tulisan bagus, dan jurnal yang berkualitas. Tentunya tulisan yang bagus dan jurnal yang berkualitas, perlu kriteria. Mulai dari proses riset yang berkualitas, tema tulisan, editor, reviewer, layout, impact factor jurnal dan lainnya.
Kemristekdikti perlu standard untuk menilai dua hal di atas. Pada wilayah inilah, Scopus dipakai sebagai standard. Entah Scopus yang menawarkan, atau Kemristekdikti yang memilih dan memutuskan.
Tentunya ada kekhawatiran yang muncul pada para dosen lektor kepala dan profesor, hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Mulai dari kemungkinan ketidaktahuan tentang jurnal bereputasi yang dimaksudkan Kemristekdikti, tidak cukupnya jurnal di Indonesia sebagai wadah publikasi, pemahaman yang belum sepenuhnya benar tentang Scopus. Sebab lainnya bisa juga karena iklim meneliti dan menulis yang belum bagus karena kewajiban mengajar yang harus dipenuhi, ditambah beban administrasi yang harus diselesaikan. Atau budaya akademik, khususnya menulis di jurnal, pada masing-masing bidang ilmu yang berbeda-beda.

Kolaborasi menaklukkan Scopus
Sebatas pengetahuan penulis, Scopus hanya merupakan alat. Kriteria yang dimiliki Scopus, oleh pengelola jurnal dapat dijadikan sebagai tolok ukur posisi jurnal yang dikelolanya. Pengelola jurnal pun dapat menentukan target-target perbaikan pengelolaan jurnalnya, disesuaikan dengan kriteria yang dimiliki Scopus, untuk kemudian mendaftakan jurnal pada pengindeks tersebut. Terindeksnya jurnal di Scopus, berarti sama dengan menaklukkannya, sehingga nilai tawar jurnal akan menjadi tinggi di mata penulis. Jika telah terindeks, pengelola dapat mengetahui posisi jurnal diantara jurnal lain dengan scope dan focus yang sama dari berbagai negara, melalui angka quartile, h-indeks, citescore, impact factor, dan lainnya.
Sementara itu, bagi penulis artikel, data olahan Scopus dapat digunakan untuk memperoleh informasi posisi dia di antara penulis lain dari berbagai negara. Dinilai dari konten artikel, tidak ada ruginya. Jika tulisan dan jurnal terindeks, maka sebenarnya Scopus mengakui, namun tidak memiliki. Mengakui kualitas artikelnya, namun tidak memiliki fisik file artikel yang ditulis oleh penulis. Tidak ada ruginya, bukan?.

Menaklukkan Scopus dan berbagai pengindeks lainnya dengan cara demikian, lebih bermartabat dari pada menggunggat Scopus dan pengindeks lainnya. Meningkatnya jumlah jurnal Indonesia yang terindeks Scopus, berarti semakin meningkat pula wadah menulis bagi para akademisi Indonesia.
Dari paparan di atas, kondisi ideal untuk menaklukkan Scopus ditopang dua hal. Pertama, dari sisi penulis sendiri serta dukungan lingkungan untuk meneliti dan menulis. Kedua, tersedianya jurnal berkualitas, khususnya yang dikelola oleh kampus. Selain itu, dukungan elemen lain, misalnya pustakawan dalam mendukung proses komunikasi ilmiah para akademisi juga perlu ditingkatkan.

Dunia perjurnalan di Indonesia, sedang memperlihatkan keseriusannya. Munculnya Arjuna sebagai sarana akreditasi secara online, munculnya Relawan Jurnal Indonesia yang siap membantu pengelolaan jurnal, dibentuknya unit khusus yang mengurusi jurnal di berbagai perguruan tinggi, lahirnya Sinta Dikti sebagai alat monitor produktifitas akademisi, merupakan beberapa contoh keseriusan tersebut. Dari sisi pustakawan, mulai bermunculan pustakawan yang juga belajar dunia penerbitan ilmiah, berbagai metrik jurnal, dunia tata tulis, untuk mendampingi pemustaka dalam proses scholarly communication. Dukungan tersebut, tentunya adalah hal positif, untuk bersama-sama menaklukkan Scopus.

Keseriusan pengelola jurnal di Indonesia, agar dapat menaklukkan berbagai pengindeks tersebut, harus terus dipacu. Dengan semakin banyak yang terindeks Scopus, maka, pilihan jurnal terbitan Indonesia sebagai wadah karya akademisi Indonesia juga akan semakin banyak. Setelah terindeks, kualitas tetap harus dijaga. Jangan sampai, karena telah terindeks Scopus, kemudian mengendorkan tata kelola jurnal, menerima artikel dengan tanpa proses yang benar, hanya karena pesanan pejabat yang hendak naik pangkat. Jika telah banyak jurnal yang mampu menaklukkan Scopus, maka Scopus sudah bukan barang aneh dan menakutkan lagi. Submit artikel yang bagus pada jurnal bereputasi, menjadi jamak dilakukan. Terindeks Scopus, nantinya hanya menjadi bonus saja.

Satu hal lagi yang harus diperhatikan agar riset tidak sia-sia, yaitu kemudahan akses artikel hasil riset. Memilih jurnal open access, akan meningkatkan sebaran tulisan hasil riset, terutama bagi yang berkepentingan, namun terbatas secara finansial.

Ditulis bulan maret 2017. Baru diunggah bulan Juli 2017
, ,

Apakah perbedaan hasil klasifikasi koleksi dianggap sebuah kesalahan?

“Pengorganisasian informasi dan ilmu pengetahuan merupakan aktivitas ideologis”
(Ziauddin Sardar)

note: ini perenungan pribadi saya, belum tentu sama dengan pendapat para ilmuwan perpustakaan.

Sumber gambar klik

Purwo.co Saat ini, kita mengenal beberapa skema klasifikasi yang menghegemoni dunia kepustakawanan. Kita kenal UDC alias Universal Decimal Classification, DDC alias Dewey Decimal Classification. Kemudian LC atau library congres classification. Skema klasifikasi ini digunakan untuk menentukan nomor atau kode klasifikasi, sebagai wakil koleksi. Wakil berupa kode inilah yang menjadi dasar koleksi disusun, agar memudahkan pustakawan dan pemustaka menemukan.

Skema-skema di atas, dengan berbagai aturan di dalamnya, ditafsirkan oleh pustakawan atas sebuah judul koleksi (dan subyeknya), yang akhirnya menghasilkan kode. Kadang, kode ditemukan dengan mudah, kadang lumayan sulit, kadang sulit sekali. Pengetahuan pustakawan atas semesta ilmu pengetahuan, menjadi salah satu sebab ditentukannya sebuah kode, dan mempengaruhi sulit tidaknya kode klass ditentukan. Kadang pula, ada koleksi yang tidak ditemukan kodenya. Di UDC, atau DDC, misalnya.

Pengembangan skema klasifikasi, sebuah keniscayaan
Kode yang sulit ditemukan, misalnya ketika membuka kelas 297 di DDC, pada bidang ilmu terkait agama Islam. Islam, yang memiliki kajian yang begitu luas, tidak bisa diwakili oleh klasifikasi yang diberikan pada skema tersebut. “Sistem klasifikasi saat ini, kurang memadai untuk bidang pengetahuan Islam”. [1] Oleh karena itu, maka para cerdik cendikia mengembangkan skema perluasan dari kelas 297 tersebut.

Pengembangan tersebut, menjadi bukti pada dirinya sendiri, bahwa skema klasifikasi bukanlah skema sakral yang tidak bisa diubah, bukan tidak bisa dikembangkan oleh orang selain si penyusunnya. Bahkah, dibuat skema baru pun, tidak masalah.

Klasifikasi hasil perluasan ini, akhirnya diajarkan pada pendidikan pustakawan, yang menjadikan penetrasi penggunaannya semakin luas. Terutama pada perpustakaan Islam yang memiliki koleksi bidang Islam dalam jumlah banyak dan beragam, maka penggunaan klasifikasi perluasan 2 X ini jamak dilakukan.

Prinsip dasar: mudah ditemukan
“Yang paling penting, koleksi mudah ditemukan kembali oleh pemustaka dan pustakawan. Serta dikembalikan pada tempat semula, yang sama seperti tempat sebelumnya diambil”. Kalimat tersebut, saya dengar ketika saya belajar ilmu perpustakaan, dianggap sebagai kunci dasar dalam proses klasifikasi. Anggapan ini, mungkin juga yang menggiring pengelola perpustakaan yang belum pernah menerima pendidikan klasifikasi, atau kursus kepustakawanan untuk bertindak kreatif membuat klasifikasi sendiri sejauh pemahaman mereka pada kebutuhan yang ada dihadapannya.

Warna, tinggi buku, jenis buku, misalnya, menjadi contoh pertimbangan kreatif dalam mengelompokkan buku-buku di perpustakaan. Atau mungkin membuat kode sendiri sesuai kebutuhan. A untuk buku kelas 1, B untuk buku kelas 2, C untuk buku kelas 3, dan seterusnya. Warna kuning untuk buku cerita, hijau untuk buku sejarah, dan seterusnya. Ide dasarnya sama, koleksi mudah ditemukan dan disusun kembali pada tempat yang tepat, sehingga orang lain dapat pula menemukannya dengan mudah. 
Apakah hal tersebut salah? Menurut saya, tidak.
Skema klasifikasi, bukanlah ayat suci yang tidak bisa berubah. Bahkan, laiknya ayat suci yang punya tafsir, tafsir atas skema klasifikasi pun bisa berbeda(beda).

Kenyataan di lapangan
Di lapangan, kerap kita temukan judul buku yang sama, ada di dua perpustakaan yang berbeda, ditentukan kelasnya menggunakan skema klasifikasi yang sama, namun hasilnya berbeda. Bahkan, di perpustakaan yang sama, namun oleh pustakawan yang berbeda pun, bisa berbeda. 
Apakah ini wajar? 
Perbedaan bisa perbedaan kecil, atau beda jauh. Hanya sekedar angka setelah titik, atau bahkan angka utamanya pun sudah berbeda.

Orang yang melakukan klasifikasi, dipengaruhi oleh pengetahuan/keterampilan analisis klasifikasi, subyek, dan keterampilan menentukan/membaca skema klasifikasi. Bahkan, jika pengetahuan dua orang yang melakukan klasifikasi hampir sama, namun memiliki pandangan beragam pada semesta ilmu pengetahuan, akan membedakan hasil klasifikasinya. 
Maka, perbedaan hasil klasifikasi adalah hal yang wajar. Namun, apakah ini normal? 
Jika si pengklasifikasi telah bersungguh-sungguh (tidak main-main) melakukan klasifikasi, sesuai keterampilannya, namun ternyata ideologi mengantarkan hasil klasifikasi yang berbeda, maka menurut saya itu wajar dan normal. Bahkan, ketika di pengklasifikasi membuat klasifikasi sendiri, berbeda dengan skema klasifikasi arus utama yang digunakan, dengan catatan dia bertanggungjawab penuh pada skema yang dia buat untuk perpustakaannya tersebut, maka menurut saya itu normal dan wajar.
1 + 1 pun, belum tentu 2. Tergantung, 1 sebagai bilangan desimal, atau biner
Hasil klasifikasi yang berbeda, dan juga model skema buatan sendiri tersebut adalah wujud dari kemandirian seorang pustakawan, kemerdekaan berfikir seorang pustakawan yang tidak dihegemoni oleh aturan-aturan yang dikembangkan di luar perpustakaannya. 
Ketika 297 bisa dikembangkan menjadi 2 X, kenapa pustakawan, sebagai pihak yang paling bertanggungjawab pada perpustakaan yang dikelolanya, tidak boleh berbeda dalam membuat klasifikasi, bahkan tidak boleh membuat klasifikasi sendiri? 
Perbedaan skema, dan hasil dari klasifikasi, adalah hasil dari proses diri seorang pustakawan. Penghargaan atas hasil tersebut, adalah wujud penghargaan pada pluralitas proses masing-masing pustakawan. 
Perbedaan hasil klasifikasi, bukanlah sebuah kesalahan, melainkan keunikan. Dia adalah kebenaran dalam bentuknya yang berbeda dengan yang lainnya.
Kalau perbedaan hasil penentuan klass tetap dianggap sebuah kesalahan, maka itu justru menunjukkan kelemahan skema klasifikasi yang ada sekarang ini. 


Standard adalah alat  yang digunakan (DDC/UDC), namun hasilnya tidak harus sama.

Tanah sambisari,
hari ke tiga belas, bulan tujuh, tahun dua ribu tuju belas.
lima, lebih lima satu pagi

----------------------------------------

[1] lihat “Daftar Tajuk Subyek dan Sistem Klasifikasi Islam: adaptasi dan perluasan DDC seksi Islam”, bagian pengantar (iii) dan pendahuluan (117)

Baca juga:



Tuesday, 11 July 2017

,

Mengubah Style referensi CSL-nya Mendeley dan Zotero

Jika teman-teman menggunakan reference management software, terutama Mendeley dan Zotero, kemungkinan akan tahu CSL atau citation style language.

CSL inilah yang mengatur gaya penulisan sitasi. Nah, bagaimana jika gaya penulisan yang tersedia kurang sesuai? tentunya bisa dilakukan editing.

Berikut beberapa alat untuk melakukan edit style referensi.

http://editor.citationstyles.org/visualEditor/ dan http://csl.mendeley.com/
Kedua alat ini menyediakan fitur editing secara visial atau code. Bedanya, yang csl mendeley dapat disimpan, namun yang citationstyles hanya bisa diunduh dan dipasang.

Sebenarnya yang mendeley menggunakan dari citationstyle, namun disediakan penyimpanan sendiri oleh Mendeley berdasar akun mendeley.


Kita bisa melakukan pencarian, bahkan dengan contoh kutipan yang kita butuhkan. Jika ditemukan, maka sistem akan memberi tahu prosentase kemiripan dengan contoh. Nah, klik saja EDIT untuk melakukan editing. Maka, akan muncul tampilan di bawah ini.



Ada panel kiri dan kanan. Lakukan saja editing, sesuai kebutuhan. Bisa pula dihapus atau ditambah. 



Setelah selesai, klik Style di kiri atas, kemudian Save. Maka kita bisa unduh style hasil editing untuk kita pasang di aplikasi kita.


Thursday, 6 July 2017

Makerspace di perpustakaan: konsep baru, atau sekedar kemas ulang saja?

Paijo: nulis opo menehhhhh. Nganggo gambar gedang goreng barang. 
Parto: gedang goreng disamping, produk dari proses menggoreng, yang membutuhkan alat, ada orangnya. Dan yang paling penting, ono sik luwe butuh mangan, Jo. Gelem? Meh njaluk wae ndadak komentar.
-------------------------
Pisang goreng, produk makerspace :)

Purwo.co -  S
ayup-sayup saya mendengar kata #makerspace yang disandingkan dengan perpustakaan. Perpustakaan sebagai makerspace.  Karena lama tidak mengikuti kuliah ilmu perpustakaan, maka saya tidak kuasa memahami istilah langitan tersebut dengan cepat. 

"Penasarun", begitu kata Odet di serial Ok Jek pada salah satu TV swasta di Indonesia. Saya cari, apa maksud makerspace ini. 

Ternyata, makerspace tidak hanya disematkan pada perpustakaan. Pada postingan ini https://teknojurnal.com/makerspace/, ditulis contoh tempat yang digolongkan sebagai makerspace. Didirikan oleh seseorang, dan dilengkapi dengan berbagai alat yang mendukung proses yang diharapkan terjadi pada tempat tersebut. 

Silakan cek juga di https://id.techinasia.com/daftar-makerspace-di-jakarta

Makerspace, istilah yang berbau Inggris yang jika dialih bahasa ke Bahasa Indonesia, mungkin kurang lebih "ruang para pembuat" (maaf kalau keliru), atau tempat berkumpulnya para pembuat. Fasilitas yang ada di makerspace berupa  mesin, alat, serta tempat yang memadai untuk melakukan pembuatan produk. [1] Definisi lainnya tentang makerspace adalah "spaces used by people to share tools, knowledge, and ideas". Demikian dikemukakan Burke. [3, chapter 1 hal. 2]

Apa yang dilakukan dalam ruang tersebut? Mursyid menuliskan pada artikelnya, bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan [2]. Mulai dari  memperbaiki laptop, handphone, mencetak 3D dan lainnya. Konon, kabarnya termasuk memasak atau praktik resep tertentu. Lebih lanjut tentang contoh yang tergolong kegiatan di perpustakaan makerspace dapat dilihat dibukunya Burke. [3]

Nah, apakah makerspace ini barang baru di perpusatakaan? sehingga, konon disebut generasi ke-lima pada perkembangan perpustakaan?

Saya berfikir, konsep makerspace ini mengandung beberapa unsur. Orang, ruang, alat, tujuan tertentu. Jika di perpusakaan ada orang, ruang, alat, tujuan tertentu terkait proses "membuat" sesuatu, maka sangat mungkin di perpustakaan juga bisa menjadi makerspace.
Paijo: unsur itu ada landasan ilmiahnya ora, To?
Parto: ra ono, gur lamunan. 
Nah, bagaimana di perpustakaan selama ini?. Silakan lihat gambar di atas. Itu adalah gambar pisang
goreng (produk), hasil dari proses menggoreng yang dilakukan di perpustakaan. Unsur yang lain dari gambar tersebut adalah resep, alat dan tempat menggoreng, orang yang menggoreng, alasan menggoreng.

Karena proses di atas dilakukan di perpustakaan, maka sesunggungnya perpustakaan telah menjadi makerspace. Dan tentunya proses tersebut sudah ada sejak lama. Silakan cek, pasti ada gelas, piring, bahkan kompor di perpustakaan.
Loh, itu yang menggoreng siapa? yang bikin kopi siapa? kan pegawai atau pustakawannya? Tidak melibatkan pemustaka.  Ah, belum makerspace itu. Baru level kebiasaan saja, belum ilmiah.
Kawan, pustakawan itu juga pemustaka. Pemustaka juga pustakawan. Pustakawan itu menjadi pustakawan bagi orang lain, tapi juga menjadi pustakawan yang melayani dirinya sendiri sebagai pemustaka. Pemustaka, juga menjadi pustakawan pada dirinya sendiri. Jadi, proses menggoreng di atas, sudah melibatkan pemustaka.

Clear?

Nah, artinya sebenarnya makerspace itu bukan konsep baru di perpustakaan. Contoh lain selain menggoreng pisang, juga ada praktik meracik kopi, meracik teh, mempraktikkan cara memasak mi goreng dan lain sebagainya. Hanya saja, tidak ditempeli istilah makerspace seperti sekarang ini. Kalau yang disodorkan saat ini, dalam konsep makerspace di perpustakaan itu adalah produk dengan dukungan teknologi modern, itu hanya kemasannya saja. Konsep dasarnya, sudah ada sejak lama.
Loh, itu masih belum makerspace. Makerspace harus melibatkan teknologi. Semacam printer 3D. 
Bro, nggoreng dan bikin kopi itu juga butuh teknologi. Jadi kalau ditanya, "Perpustakaanmu sudah menerapkan makerspace, belum?". Jawablah dengan lantang, "wis suwe!".


Sumber: Burke (2014)

Namun jangan lupa, mulailah ajak orang lain untuk bergembira di makerspace-mu. Agar semakin semarak.

Makerspace itu punya tempatnya sendiri-sendiri. Di perpustakaan juga demikian, penyesuaikan pada kemampuan perpustakaan, jenis, dan lingkungan perpustakaan tetap perlu dilakukan.


Salam tiwul goreng. 


[1] https://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab1/2014-2-01348-MC%20Bab1001.pdf
[2] http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/jipi/article/view/97/61
[3] Burke, dalam Makerspace: a practical guide for librarian. Terbit tahun 2014.

Note: tulisan ini terbersit, ketika naik motor perjalanan ke tempat buruh. Hati-hati,  ini tulisan tidak ilmiah. :). Boleh tidak setuju dengan tafsir di atas. Satu yang pasti, kita harus bergembira.

Tuesday, 4 July 2017

, ,

Memanfaatkan Google Map untuk membuat peta hasil penelitian

Paijo: kowe nulis opo, To?
Parto: babagan peta, Jo. Mbuh, iki. Mugo-mugo ana manfaate. Idep-idep nggo catetan, Jo.
Membaca postingan Pak Andi Arsana di https://madeandi.com/2010/11/14/membuat-peta-dengan-google-maps/, saya kepikiran membuat peta untuk hasil penelitian koleksi perpustakaan. Tentunya, pemetaan berdasar wilayah.

Misalnya peta penelitian mahasiswa terkait kesehatan di Jogjakarta. Nah, kita bisa buat titik-titik tempat dilakukan penelitian + abstrak + URL dokumen yang yang lebih lengkap.

Silakan buka https://www.google.co.id/maps. Pastikan anda telah login ke email gmail anda. 

tampilan awal, dan tanda telah login
Jika telah login, maka di kanan atas akan muncul logo email anda. 
Kemudian, lihat di sebelah kiri atas. Klik garis tiga yang jika mouse didekatkan muncul tulisan Menu. 

tampilan awal kiri atas
Kemudian klik "tempat anda", maka akan muncul tampilan yang memunculkan beberapa pilihan, yaitu: Berlabel, Tersimpan, Pernah dikunjungi, Peta. Lihat bagian paling bawah ada tulisan "BUAT PETA". Klik tulisan Buat Peta tersebut.
Add caption
tab PETA untuk membuat peta baru
Maka akan muncul tampilan sebagaimana gambar  di bawah ini.

lembar kerja peta


Kotak pencarian dapat digunakan untuk mencari lokasi yang akan ditandai dengan lebih tepat. Untuk menandai, dapat dilakukan dengan cara klik tanda seperti di bawah ini, yang berada di bawah kotak pencarian. Kemudian klik tempat di peta yang akan ditandai. 
untuk penanda peta

Setelah klik di lembar kerja peta, maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini. Kita bisa memberi judul, dan keterangan. Keterangan juga dapat diisi URL tertentu yang berisi informasi lebih lengkap terkait judul yang dimaksud.



membuat judul titik, dan keterangannya

Setelah judul dan keterangan diisi, maka akan dimunculkan pada panel di kiri atas. 

hasil pembuatan titik di peta, akan muncul di panel kiri atas.


Lakukan pada titik yang ingin ditandai. Selain membuat titik pada peta, kita juga bisa membuat garis batas pada peta untuk menandai daerah tertentu. 

Silakan coba beberapa menu yang ada di bawah kotak pencarian.


membuat titik, membuat garis


Nah, setelah selesai, bisa disematkan di web, blog, atau ditampilkan layar penuh. Monggo.

Berikut contoh yang saya buat:

Sunday, 2 July 2017

Lebaran 1438 H: bersilaturahmi dan berburu jejak silsilah leluhur keluarga

Alhamdulillah, saya mendapatkan silsilan leluhur saya, sampai 5 tingkat ke atas.
Lebaran tahun ini, saya lalui dengan libur yang cukup lama, 10 hari. Pertama, kami melewatkan lebaran di Nglipar Kidul, daerah saya berasal. Saya berniat melaksanakan apa yang sebelumnya ingin saya lakukan, sowan ke tetangga dan mengunjungi saudara, untuk menelisik jejak leluhur saya. Sebenarnya, saya pernah menelisik jejak leluhur saya dan membuat silsilah, ketika nenek dan ibu saya masih ada. Namun, kertas dokumentasi hilang entah ke mana.
tegalan/sawah yang kami garap
Mbah Suci, tetangga rumah, usianya sepantaran nenek saya. Dia sering datang ke rumah saya, saat itulah saya bertanya tentang silsilah sebagai modal awal penelusuran lebih dalam. Mbah Suci sendiri merupakan orang yang berjasa untuk kami, beliau yang membantu mengurus nenek saya ketika sakit. Saya kadang malu, mengingat kenakalan saya ketika kecil, yang iseng mengganggu mbah Suci dan Mbah Amat, ibunya.

Dari keterangan Mbah Suci, saya mendapat informasi bahwa Mbah Rikul yang merupakan orang tua dari kakek saya, merupakan saudara dari ibu Mbah Suci yang bernama Mbah Amat. Ketika ditelisik siapa orang tua Mbah Rikul, Mbah Suci tidak begitu terang menceritakan, kecuali menyebut Mbah Kasan. Namun, saya mendapatkan info tambahan tentang suami mbah Amat (Amat merupakan nama dari suaminya, nama aslinya adalah Wonorejo). Suami mbah Amat, sebut saja Mbah Amat Dalem, merupakan modin pada masanya. “Cok ngurusi wong nggantung”, begitu mbah Suci menceritakan. Hal ini juga dibenarkan oleh Pak Harto, sosok yang saya ceritakan di bagian akhir tulisan ini. Mbah Suci juga menceritakan bahwa bapaknya pernah memiliki beberapa buku kuno. Prediksi saya, buku tersebut adalah Qur’an. Sayang saya tidak dapat melihat buku tersebut.

Berikutnya, saya sowan ke mbah Rubiyem dan mbah Kasinem. Sayang, saya hanya punya waktu untuk berbincang dengan Mbah Rubiyem dan suaminya, Mbah Basuki. Karena ketika ke Mbah Kasinem, beliau sedang tidak ada di rumah. Di rumah Mbah Rub saya diminta setengah paksa untuk ikut makan, dan ketika pamit diberi beberapa tangkai buah petai segar. Teringatlah saya pada masa dulu, sering mampir di rumah ini.

kandang ternak. sekarang kosong
Saya punya kenangan indah dengan rumah Mbah Rubiyem. Ketika masih sekolah, saya sering membantu nenek saya mencari rumput untuk pakan ternak ke Kreteg. Kreteg adalah nama daerah yang kami memiliki tanah garapan di sana, kurang lebih 5 KM dari rumah. Kadang saya sendiri, kadang saya ndalani anak mbah Rub yang bernama Marsudi dan Pardi  untuk menuju tanah garapan tersebut guna mencari rumput pakan ternak. Nah, ketika pulang kadang saya mampir di rumah Mbah Rub, sekedar istirahat, dan kadang saya ikut makan di sana. Tentu saja, menuju ke tanah garapan tersebut dengan jalan kaki, dan ketika pulang harus ditambah dengan membawa pakan ternak, atau hasil panen, yang disunggi, atau dipikul. Kurang lebih 8-10 KM pulang-pergi.

Mbah Rub, merupakan anak termuda (ragil) dari Mbah Buyut saya (Mbah Taruno), dan tinggal di tabon. Tabon merupakan sebutan untuk rumah asli dari yang dituakan. Dari Mbah Rubiyem, saya mendapatkan jejak silsilah dari Mbah Taruno putra dan putri, yang nama mudanya Mbah Rantiyo dan Mbah Wantiyem. Orang tua jaman dulu, biasanya setelah menikah mengganti nama, atau menambah nama, yang jamak disebut nama tua (jeneng tuwo). Mbah Taruno putra berasal dari Ngrandu, dan memiliki beberapa saudara.

Menurut Mbah Rubiyem, masih ada satu saudara Mbah Taruno putra yang saat ini masih hidup, dan tinggal di Kulon Gedong. Sayang, saya tidak bisa berkunjung ke sana. Beberapa nama saudara Mbah Taruno putra berhasil saya peroleh.

kertas coretan silsilah
Sementara mbah Taruno putri (Wantiyem), merupakan anak dari Mbah Irojoyo (pa/pi?). Mbah Wantiyem memiliki beberapa saudara. Mbah Kromo klego, mbah Sodimejo, Mbah Ngadiko putri. Lebaran ini, saya berkesempatan ke rumah Mbah Kasiman, yang merupakan anak dari Mbah Kromo, saudara Mbah Wantiyem. Tentu saja, selain silaturahim, juga melakukan crosscheck terkait silsilah ini. Dengan keturunan Mbah Sodimejo, saya ketemu putranya, yang bernama Mbah Tukino beserta istri dan anaknya, namun hanya kebetulan di jalan. Kami bertegur sapa, salaman dan saling mendoakan.

Di rumah Mbah Kasiman, saya menemukan Mbah Kasiman putra dan putri serta dua anak, dua menantu dan cucunya. Terhadap Mbah Kasiman, saya tidak begitu asing, namun pada anaknya (Edi dan Liah), tentunya sangat asing. Maklum, puluhan tahun saya tidak ketemu. Mbah Kasiman tinggal di tabon Mbah Kromo klego. Pertama, saya mengucapkan bela sungkawa, karena salah satu anak Mbah Kasiman meninggal dunia beberapa waktu lalu. Namanya Lek Sri, yang usianya sepantaran saya. SD dan SMP nya juga satu sekolah dengan saya.
Di tempat Mbah Kasiman, saya sekaligus menengok tanah di samping rumahnya, yang dulu, ketika kecil kami garap bersama Bapak, Ibu, dan kakek nenek saya. Dulu, kami jalan dari rumah, sekitar 4-5 KM, membawa bekal, dan kadang membawa hewan ternak untuk kepentingan membajak. Tanah tersebut kami tanami padi dan palawija lainnya. Jika waktu istirahat, kami gunakan untuk jagongan, alam-alaman masing-masing. Alam-alaman, berarti berbagi pengalaman. Tak jarang, Mbah Kasiman juga memberikan makanan untuk kami nikmati sembari istirahat.

Selain ke Mbah Kasinem, Rubiyem, Kasiman, saya juga sowan ke Lek Sastro, Wari, dan Sambiyo. Tiga nama terakhir ini merupakan anak dari Mbah Ngatmo. Mbah Ngatmo (pa/pi?) merupakan saudara kandung Kakek saya, Mbah Saimin (Martowiharjo). Kecuali lek Sastro, yang merupakan menantu, dari anak kandung Mbah Ngatmo yang bernama (alm) Suji, yang telah meninggal.
Perjalanan saya, juga mengantarkan ke rumah Lek Pardi. Lek Pardi ini, secara usia di bawah saya, tapi awune lebih tua dari saya. Lek Pardi adalah anak dari Mbah Rubiyem, saudara nenek saya. Sehingga Lek Pardi ini sejajar dengan bapak/ibu saya. Karena lahir dari adik nenek (lebih muda), maka saya memanggilnya dengan Lek (Lek merupakan pemendekan dari Pak Lek, Bapak Cilek, Bapak Kecil, lawan dari Pak Dhe, Bapak Gedhe).

Semua informasi yang saya peroleh, atas rekomendasi Bapak saya, diminta untuk dicek ke Pak Harto.
Siapakah Pak Harto?
belik Nggelo
Pak Harto tinggal di samping barat sumber sungai Nggelo, putra dari Mbah Pawiro. Mbah Pawiro adalah saudara termuda dari Mbah Rikul, orang tua kakek saya. Mbah Pawiro merupakan anak termuda (ragil) dari Mbah Kasan. Atau, dalam kata lain Mbah Kasan memiliki anak: Mbah Rikul, Mbah Pawiro dan beberapa anak lainnya. Saya, masih ndenangi Mbah Pawiro. Beliau yang dulu membantu kakek saya ketika memindah rumah belakang ke depan, dan Mbah Pawiro pula yang mengecat penuwun rumah saya dengan warna kuning hijau khas kraton.  Orang yang awunya paling tua, dan sempat saya temui, selain kakek buyut Pawiro, juga Mbah Taruno putra putri, serta mbah Ngapiyo (saudara mbah Taruno putra).

Nah, Pak Harto, saat saya menulis ini, merupakan orang tertua dan masih hidup dari silsilah yang saya telisik. Sehingga cocok jika beliau menjadi tumpuan terakhir untuk pelacakan silsilah yang saya lakukan.

Dari crosscheck dengan Pak Harto, saya menemukan beberapa informasi:

  1. Mbah Kasan, memiliki anak Mbah Rikul, mbah Setro dan beberapa lainnya (9 orang). Saya lahir dari jalur mbah Rikul. Sementara mbah Setro, ternyata tinggalnya di utara rumah saya. Mempunyai keturunan yang akhirnya sampai ke Lek Sumirah. Saya terbiasa dan kenal benar dengan Lek Sumirah, namun saya baru ngeh, jika ternyata Lek Sum ini mempunyai jalur saudara dengan saya melalui Mbah Kasan.
  2. Saya berkesimpulan bahwa pekarangan saya dikampung + pekarangan Mbah Suci, + pekarangan garapan Lek Sastro, + pekarangan Lek Sum + Lek Warni/Jumio + utara lek Sum dulu kala dimiliki oleh satu orang, Mbah Kasan.
  3.  Mbah Kasan, memiliki saudara, namanya Mbah Irojoyo (pa/pi?). Nah, mbah Wantiyem adalah cucu dari Mbah Irojoyo.
  4. Dari informasi nomor tiga, maka ternyata kakek dan nenek saya merupakan cucu dari dua saudara kandung. Mbah Martowiharjo (kakek laki-laki saya) merupakan cucu dari Mbah Kasan lewat mbah Rikul. Sementara Mbah Laginem (nenek saya), merupakan cucu Mbah Irojoyo melalui Mbah Wantiyem. Dalam Bahasa jawa, Putu ketemu Putu.
  5. Informasi tambahan tentang hak milik tanah. Bahwa dulu, orang membakar lahan untuk memperoleh tanah garapan. Sampai di mana api itu berakhir, maka tanah bekas api itu menjadi hak milik si pembakar. Namun, untuk meminimalisir konflik, pemerintah membuat peraturan, yang berbunyi kurang lebih, “silakan ambil tanahnya, namun bayar pajaknya”.
Tidak semua saudara dapat saya kunjungi. Anak dari saudara kakek saya yang tinggal di seputaran Nggojo, tidak bisa saya sambangi. Kecuali pada lebaran pertama, kami melayat ke Mbah Pur. Mbah Pur merupakan anak (atau menantu?) dari mbah Kromo. Mbah Kromo merupakan saudara kandung kakek saya. Yang tidak bisa saya sambangi juga, keluarga dari keturunan Mbah Sonto Klego. Mbah Sonto merupakan saudara perempuan dari kakek saya. 

Semoga lain waktu, saya dapat mengunjungi mereka. Saya juga belum sempat ziarah ke sarean simbah buyut saya dari jalur kakek.

Sarean Eyang Taruno (Mbah Buyut saya)
Namun, Alhamdulillah, langkah kaki saya bisa membawa saya sowan ke beberapa tetangga dekat rumah, meski tidak semua. Beberapa orang sepuh bisa saya temui. Mbah Tarjan, sosok sepuh di lingkungan rumah, yang konon kabarnya nama saya juga berasal dari usulan Mbah Tarjan. Kemudian Mbah Sastro putri (Kirah), suami dari Mbah Sasto, orang yang sangat berjasa bagi saya dan banyak orang di kampung. Mbah Sastro merupakan orang pintar yang dapat menjadi sebab kesembuhan beberapa penyakit. Dulu, ketika saya demam, biasanya di bawa ke Mbah Sastro untuk di suwukke, dan sembuhlah saya. Suwuk adalah prosesi berdoa dengan air putih, lalu disemburkan ke orang yang disuwuk.

Kemudian mbah Tomo, Mbah Adi Slamet, Mbah Pawiro Sowo. Sayangnya, saya gagal bertemu Mbah Parto. Mbah Parto tinggal di selatan salah satu tanah yang kami garap. Karena itu, kami akrab. Mbah Parto juga memiliki tanah garapan persis di samping tanah kami. Usia mbah Parto sudah sangat sepuh, sudah tidak keluar rumah, sehingga saya sulit menemuinya. Dua atau tiga tahun lalu, saya masih sempat bertemu dengan beliau.

Sensasi bertemu dan silaturahmi
“kowe ki sopo”, 
“sampeyan sinten”, 
“iki mas Purwoko, yo”. 
“anake Pak Sangadi/Tamiyem?”. 
“Putune Laginem?”.

Merupakan beberapa kalimat yang keluar dari simbah-simbah yang saya temui. Sungguh menjadikan saya terharu. Pernah, saya iseng pada simbah-simbah, dengan mengatakan dalam bahasa jawa, “nderek langkung mbah, ajeng sekolah”. Artinya, “permisi mbah, ini mau sekolah”. Simbah tersebut terheran-heran, sampai kemudian saya sampaikan, “kulo Purwoko”. “Saya Purwoko”, demikian jelas saya, yang membuat simbah tersebut terkejut dan kemudian mengulang kisah saya dan teman-teman ketika lewat samping rumahnya, menuju sekolah.

“Mugo-mugo lancar gaweane, oleh rejeki sing kalal, didohke soko godo ndoyo, bisikan setan sing mbebayani uripmu, Pur”. 
“Tansah rukun, mugo-mugo uripmu iso lancar, tansah ojo lali ngibadah”. 
“Dongakno aku dowo umure, lan sik baku diparingi sehat”. 
“Mamakmu, karo simbah biyen, jian kulino karo aku, Pur.”

Kalimat di atas, adalah kalimat yang jamak disampaikan dengan ikhlas dari para sesepuh di desa pada anak-anak mereka, pada siapa saja yang sowan dan bersilaturahmi.

Untuk diketahui, bahwa meskipun saya laki-laki, hampir pada semua orang tua yang saya temui, saya menitikkan air mata, ketika mendengar doa-doa mereka untuk saya, atau doa-doa mereka untuk nenek, kakek dan ibu saya yang telah mendahului saya menghadap Allah SWT.


Suasana desa, membuat saya selalu ingin kembali ke desa.