Monday, 30 October 2017

, , , ,

Macapat, samroh dan shalawat Jawa di Sambisari: sebuah piwucal kehidupan penuh makna

Tulisan ini tentang dusun yang saya tinggali sekarang: Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman. Sebuah dusun, yang di wilayahnya terletak sebuah candi, yang konon dibangun pada masa Mataram kuno, pada jaman Rakai Garung. (Silakan lihat http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-yogyakarta-candi_sambisari)

###

Pentas Macapat
Tahun lalu, seorang bapak yang sudah berumur lebih setengah abad, naik ke atas panggung. Beliau fasih melantunkan bait-bait macapat. Suaranya yang merdu -yang sudah sering saya dengar ketika beliau menjadi imam sholat- menjadikan bait macapat yang dibacakannya terdengar berat dan sarat makna. Beliau adalah Pak Slamet Riyadi, ro’is di kampung Sambisari.

Tahun ini, Sabtu malam Minggu, tanggal 28 Oktober 2017, saya kembali menyaksikan beliau pentas, pada acara yang sama seperti tahun lalu, rangkaian peringatan Sumpah Pemuda. Lokasinya saja yang berbeda.

Ada beberapa kelompok yang mengisi pertunjukan pada malam itu. Namun, sebagai anak muda jaman old, saya memilah hiburan yang memang sesuai dengan minat saya. Hiburan yang bukan sekadar hiburan. Hiburan yang memiliki makna, dan punya kelas budaya yang benar-benar berbudaya.

Wis, lah. Nanti bingung sampeyan sama apa yang saya maksudkan…

Suasana Kirab Budaya
Macapat, samroh/hadrah, dan shalawat jawa. Tiga pentas tersebut yang menjadi pilihan saya. Setidaknya, menurut saya, isi dari pentas tersebut baik, ada nilai pendidikannya, dan layak ditonton segala umur. Syair yang disampaikan pun memiliki pesan-pesan kebaikan, bukan syair yang miskin makna, semacam lagu curhat ndak nggenah “bojo g*l*k” yang dibiarkan sampai ke telinga anak-anak.

Malam itu, tiga orang melantunkan bait-bait macapat. Karena terlambat mendokumentasikan, tidak banyak syair yang saya bisa ingat dari pementasan tiga orang tersebut. Kalimat doa, dan syair yang sepertinya dikhususkan bagi Sambisari, “mugi manggiho raharjo”, adalah penggalan bait mocopat yang dilantunkan Pak Slamet.

Setelah pertunjukkan mocopatan selesai, disusul penampilan kelompok pengajian ibu-ibu yang membawakan beberapa lagu khasidah. Beberapa lagu tersebut antara lain: kisah rasul, seribu satu jalan, ciri orang munafik.

Seribu macam cara manusia mencari uang
Ada yang menjual koran, ada yang menjual kehormatan
Beruntunglah mereka yang bekerja dengan cara halal
Merugilah mereka yang bekerja dengan cara haram

Samroh Ibu-ibu
Bait di atas, merupakan bagian dari lagu “seribu satu jalan”. Lagu tersebut memuat makna tentang berbagai jalan Allah memberikan rejeki kepada manusia. Serta mengingatkan agar mencari rejeki secara istiqomah dalam jalur halal, karena akan menjadikan keberuntungan baginya di dunia dan akherat.

Melihat penampilan ibu-ibu di atas panggung, seperti kembali ke masa lalu, ketika grup Nasida Ria populer membawakan lagu-lagu khasidahnya. Ibu-ibu ini bergantian menyanyikan lagu yang berbeda. Sebelum berganti lagu dan penyanyi, mereka memperkenalkan penyanyi berikutnya sekaligus judul lagunya. “Lagu berikutnya, kisah rosul yang akan dibawakan oleh Ibu Siti, selamat menikmati”, begitu kalimat pengantarnya. Kalimat tersebut diucap dengan sederhana, datar, namun penuh penghormatan. Menunjukkan kematangan dan penjiwaan atas pentas yang mereka lakukan.

Paijo: “Tidak dengan teriak keras-keras seperti grup musik sebelah, Yo?”
Karyo: “iyo, Jo. Kelas atau derajad musik, akan membedakan cara penyanyi dan personilnya dalam bersikap. Coba bandingkan wae, Jo!” 

Berikutnya, disusul penampilan Sholawat Jawa Madyo Laras. Grup sholawat ini berdiri pada tahun 1994, yang dibidani oleh Pak Zainuri. Sampai saat ini memiliki 34 anggota, yang terdiri dari berbagai usia.

Grup ini pernah memperoleh juara harapan 1 pada lomba sholawat jawa se kabupaten Sleman.  “Pernah pentas pula di masjid Gedhe Kauman”, demikian disampaikan Pak Giyatno, salah satu personilnya.

Poro miyarso kakung miwah putri
Monggo-monggo sekecakno lenggah
Sinambi midangetake slawat Nabi Kang Agung
Pun tindakken mawi boso jawi

Amugi paringo ngapunten kang agung
Dumateng poro konco kulo
Ingkah tansah memuji Kanjeng Nabi
Mugi dadosno piwucal…

Sholawat Madya Laras
Bait di atas, merupakan salah satu bait pengantar yang dilantunkan salah satu personil. Sangat mungkin pendengaran saya salah, sehingga apa yang saya tulis di atas tidak seperti teks aslinya. Namun, kita bisa membaca, bahwa ada pesan yang dalam pada bait tersebut.

Pertama, bait tersebut memberi penghargaan pada siapapun yang datang, mempersilakan duduk sambil nanti mendengarkan sholawat nabi yang dilantunkan menggunakan bahasa jawa. Disusul doa, semoga diberikan ampunan untuk yang selalu memuji atau bersolawat kepada nabi, serta harapan semoga sholawat bahasa jawa ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang mendengarkan.

Pentas malam itu ditemani oleh rintik hujan. Bersyukur, panitia telah menyiapkan tenda besar untuk mengantisipasinya. Pak Dukuh Bayu, tampak hilir mudik, menemui para penonton dan tanpa sungkan, mengulurkan tangan lebih dahulu untuk menyalami mereka. Tidak terkecuali, dengan saya. Uluran tangan untuk salaman itu saya sambut dengan penuh hormat.

Kami pun pulang, membawa oleh-oleh “piwucal” melalui bait-bait mocopat, samroh dan shalawat jawa yang dipentaskan malam itu.

###

Gunungan hasil panen
Sambisari, kata seorang kawan merupakan daerah yang telah memiliki peradaban sejak lama. Keberadaan Candi Sambisari menjadi buktinya. Tinggal di daerah ini, terkadang saya membayangkan, dulu orang hilir mudik berjalan di sela-sela pepohonan besar dari dan menuju candi, untuk bersembahyang dengan berbagai ubo-rampenya.

Disusul dengan keberadaan Masjid Quwwatul Muslimin, yang disinyalir merupakan masjid paling tua di wilayah ini. Keberadaan pemakaman di barat masjid yang beberapa nisannya tertulis tahun wafat 1900-an awal, yang penghuninya memiliki nama yang terpengaruh budaya Arab, menunjukkan pula bahwa pernah ada Islam yang kuat di daerah ini. Prediksi saya, pada nisan yang tanpa tahun, sangat mungkin lebih tua lagi.

Sholawat Jawa, macapatan dan samroh/hadrah di atas, agaknya menjadi budaya yang menggabungkan semangat beragama dengan tetap menghargai tradisi lokal. Ketiganya memuat ajaran hidup. Ketiganya merupakan hiburan, yang tidak sebatas hiburan.


Paijo: "Warisan ini harus dijaga, jangan sampai Sambisari kehilangan jati dirinya"
Karyo: "Bener, Jo. Jangan sampai, tegerus jaman, hilang tak berbekas, tergantikan kesenian atau hiburan yang  jauh dari nilai pendidikan. Kasihan anak-anak kita nanti".





Selamat hari sumpah pemuda
Jangan jadi sampah, namun juga jangan buang sampah sembarangan.

Petilasan Rakai Garung
9 Sapar 1951 - 30 Oktober 2017
5.59 pagi



Friday, 27 October 2017

,

Menjadi Pustakawan Liberal

Purwo.co -- Mungkin ada yang merasa kaget mendengar kata liberal. Jika kita merujuk pada kamus, liberal diberi arti berpandangan bebas (luas dan terbuka). 

Ulil Absar Abdalla pernah menulis esai di Kompas (18/11/2002) yang berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”Tulisan ini cukup menggemparkan, bahkan, konon Gus Mus sendiri menanggapi tulisan tersebut pada harian yang sama. 

Apa hubungan tulisan Ulil dengan judul esai ini? 
Saya tidak berkompeten untuk bicara kontroversi tulisan Kang Ulil tersebut. Namun, ada beberapa hal yang hendak saya kutip dari tulisan tersebut. Pertama, Ulil menempatkan Islam sebagai "organisme" yang hidup, kedua terkait Islam kontekstual. Keduanya, saya kaitkan dengan perpustakaan. Serta beberapa kalimat lainnya.

Islam sebagai organisme yang hidup. Agaknya tafsirnya cukup beragam lengkap dengan pro-kontranya. "Organisme" yang hidup ini juga dikenal di kajian perpustakaan. “Perpustakaan adalah organisme yang selalu tumbuh”, begitu kira-kira terjemahan salah satu hukum perpustakaan yang dipopulerkan Ranganathan, yang kalimat aslinya "The library is a growing organism" . Semua pustakawan mengamini hukum ini. Para ilmuwan perpustakaan mendukung hukum tersebut, sehingga menjadikan tuah kesaktian kalimat Ranganathan tersebut menjadi semakin mujarab, dan menyihir pustakawan untuk menjadikannya ruh dalam mengembangkan perpustakaan. 

Ulil memosisikan “organisme yang hidup” agar Islam tidak menjadi kaku, dan selau bisa mendorong kemajuan. Kunci pertama yang dia sodorkan: penafsiran yang non-literal, substansial, konstektual, sesuai keadaan kehidupan manusia yang terus berubah. Kedua, penafsiran yang memisahkan aspek budaya dan fundamental. 

Perpustakaan, yang juga merupakan organisme yang hidup dan berkembang, harus selalu menyesuaikan dirinya dengan perkembangan dan kehidupan manusia. Dia tidak boleh kaku, jumud, mandeg, namun harus selalu berkembang. Namun dalam penafsirannya, harus dipisahkan antara fundamental perpustakaan (walaupun fundamental ini juga bisa berubah, berganti), serta “budaya”, atau trend yang muncul dari perpustakaan lainnya.

Paijo: “fundamental kok bisa berubah?”
Karyo: “cen ra jelas kui”

Yang bersifat fundamental harus menjadi pedoman, sedangkan budaya atau trend yang muncul di perpustakaan lainnya, harus dianggap sebagai sebuah produk lokal perpustakaan tersebut, yang belum tentu sesuai untuk perpustakaan lainnya. Setiap perpustakaan, dengan wilayah khasnya masing-masing harus didorong untuk menciptakan produk layanan yang dibutuhkan pada lingkungannya. Impor trend harus disaring, dan jangan sampai justru membebani pustakawan untuk selalu menduplikasi hal yang terjadi di perpustakaan lainnya. Bukan duplikasi, tapi inovasi.

"Inovasi, adalah mengambil dua hal yang sudah ada, dan meletakkannya secara bersama dengan cara yang berbeda", begitu kata Tom Freston. 

Bagaimana kedudukan ketentuan terkait perpustakaan yang sudah dianggap mapan? Misalnya UDC, DDC, dan semacamnya? Mereka harus ditempatkan sebagai sebuah produk budaya, dipandang secara kritis dengan segala kekurangan dan kelebihannya. UDC dan DDC, atau skema klasifikasi yang lainnya merupakan alat, bukan substansi. Maka, alat tersebut boleh digunakan, boleh tidak. Bahkan pustakawan justru akan lebih baik lagi, jika mampu menciptakan alat-alat yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan pemustaka di perpustakaannya. Atau memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan. 


Pustakawan harus ber-itjtihad,mencari formula-formula baru dalam pengelolaan perpustakaannya. Demikian seterusnya. Dia tidak boleh berhenti, kagum dan terkesima melihat perpustakaan (terutama fisik) perpustakaan lainnya saja. Fokusnya harus pada substansi. Alat, fisik, dan lainnya harus dipandang secara teguh sebagai pendukung. Proses harus dilanjutkan dengan menerjemahkannya dengan pendekatan berbeda sesuai dengan konteks perpustakaan yang dikelola. 

Tidak ada tafsir tunggal dalam pengembangan perpustakaan

Satu hal yang boleh dikagumi dari perpustakaan lainnya, adalan semangat mereka melakukan tafsir, sehingga mampu menurunkan konsep fundamental perpustakaan dalam berbagai produk budaya. Pustakawan harus meyakini, bahwa tafsir atas perpustakaan bukan monopoli golongan tertentu saja. Pustakawan harus punya jiwa merdeka, dan berfikir liberal (bebas dan terbuka pada berbagai ide), kemudian meramu berbagai pemikiran tersebut untuk menafsirkan pengembangan perpustakaannya.

Pustakawan merupakan orang yang paling tahu perpustakaan yang dia kelola, termasuk lingkungan di sekitarnya.

Pengembangan perpustakaan, atau ber-perpustakaan merupakan sebuah proses yang tak pernah selesai. “Library is a growing organism”, mungkin akan lebih kuat maknanya jika diterjemahkan dengan “perpustakaan, merupakan proses yang terus menerus, dan tak akan pernah selesai”. Sehingga, dengan terjemah ini, pustakawan akan selalu berfikir bebas, di luar sekat-sekat yang dibuat sendiri oleh mereka, dalam rangka pengembangan perpustakaannya.

Namun, membangun, mengelola, mengembangkan perpustakaan merupakan proses berbuat  kebajikan untuk ummat manusia. Sehingga pustakawan, selain berfikir liberal, juga harus pulang ke fungsi profetiknya sebagai manusia.

Petilasan Rakai Garung, Sambisari
Jemuah, 27 Oktober 2017
5.08 pagi

[1]. http://www.webpages.uidaho.edu/~mbolin/barner.htm
[2]. http://www.tufs.ac.jp/blog/ts/g/aoyama/files/Menyegarkan_Kembali_Pemahaman_Islam.doc
[3]. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/liberal



Tuesday, 24 October 2017

, , ,

Disrupsi(on) bagi pustakawan: ujian tentang cara Tuhan memberi rejeki


perlu senjata untuk mendisrupsi
Purwo.co -- New Oxford Dictionary mengartikan disruption sebagai “…. or problems that interrupt an event. Kamus Inggris Indonesia mengartikan sebagai gangguan. Sementara di Kamus Bahasa Indonesia, diartikan sebagai tercerabut dari akarnya. Arti lainnya, misalnya, yang tercantum pada buku Disruption tulisan Rhenald Kasali (2017), disruption diartikan sebagai inovasi (hal. 34), yang menggantikan sistem lama dengan cara baru.

Tulisan ini, tentunya masih sangat dangkal, sesuai pemahaman saya yang belum pungkas, bacaan saya yang juga belum saya selesaikan. 

Mungkin, arti disrupsion bisa digabung menjadi “gangguan pada sebuah keadaan, dalam bentuk inovasi, yang menjadikan pemain lama terancam atau bahkan tercerabut dari kemapanannya”.

Disruption, sebagai sebuah inovasi terkadang dianggap sebagai ancaman bagi pemain lama. Ojek dan taksi online, misalnya,  yang mengganggu keberadaan taksi dan ojek konvensional. Keduanya mampu menghadirkan layanan yang mudah, murah dan praktis, serta harga yang dapat dilihat di muka. Atau platform toko online yang menjamur, serta pengaruhnya pada toko atau swalayan besar yang sudah ada.

Ekonomi berbagi
Taksi online dan toko online, sesungguhnya tidak selalu memiliki apa yang mereka jual. Barang ada di berbagai tempat, moda transportasi yang ditawarkan ada di berbagai garasi pemilik motor/mobil. Biaya produksi ditanggung oleh banyak orang, demikian pula biaya perawatan kendaraannya. Hal ini menyebabkan biaya yang biasanya ditanggung oleh perusahaan taksi atau mall, bisa ditekan. Akibatnya biaya yang harus dibayarkan konsumen menjadi murah.

Paijo: "wah, seneng yak. murah. Tapi, kalau murah plus bonus, lalu bisnis ojek/taksi online itu untungnya dari mana?". 

Ancaman ini, menurut Rhenald Khasali, pada buku yang sama, ada  pengecualian. Kunci pengecualian itu ada pada inovasi, membentuk ulang , re-shape (mencari bentuk lain) model bisnis dengan cara baru.

#####

Ojek dan taksi online, dapat merebut pasar atau mencipta pasar baru karena dirasa lebih murah dan mudah, serta real time dalam hal biayanya. Toko online, kurang lebih sama. Mudah, tidak perlu mobilitas, sehingga jika ada selisih harga sehingga lebih mahal, tidak begitu dipermasalahkan. Adanya informasi harga di awal, dan jelas, menjadikan konsumen percaya. Kalau cocok, lanjutkan. Jika dirasa mahal, dibatalkan.

Karyo: "wah, kalau sudah mudah, mudah, dan orang kecil bisa menikmati, ya pemain lama bakal terganggu".

Re-shape layanan dari incumbent (pemain lama) sebagai bentuk respon pada disruption dapat kita lihat dari usaha mereka melakukan duplikasi model. Misalnya taksi konvensional membuat apps, dengan iming-iming harga yang lebih murah. Mall konvensional menyediakan apps dan juga layanan antar pada konsumen. Mereka ingin menawarkan mudah dan murah pada konsumen. Dua layanan tersebut sebelumnya telah ada di toko online. Kita bisa melihat adanya SayTaxi, atau baliho sebuah mall yang menawarkan layanan antar barang. Berhasilkah?

Pemain konvensional (toko dan taksi konvensional), agaknya lupa, bahwa taksi dan toko online memainkan peran berbagi modal. Rhenald Khasali menyebutnya sebagai economic sharing. Berbagi modal ini, menjadikan harga taksi online menjadi lebih murah. Berbagi modal tersebut tidak dilakukan oleh yang konvensional.

Disruption pada pustakawan: sudah ada sejak dulu
Terkait pustakawan, apa saja disruption yang muncul, dan apa respon pustakawan pada disruption tersebut?

intip yang siap digoreng, apakah terdisrupsi?
Ketika dahulu perpustakaan menyediakan buku fisik, maka kemunculan komputer untuk mencatat koleksi agar pencariannya mudah, menjadi gangguan pertama bagi para pustakawan incumbent. Kemudian, ketika muncul katalog terpasang, dan pencatatan sirkulasi secara elektronik, menjadikan gangguan bagi pustakawan yang kurang bisa menggunakan komputer.

Paijo: "dulu ada hingar-bingar di internal pustakawan, tentang adanya lowongan kerja pustakawan namun diperuntukkan bagi sarjana selain pustakawan, itu juga sebagai bentuk gangguan, Yo?"
Karyo: "sangat mungkin, Jo"

Lowongan pustakawan tapi syaratnya bukan sarjana perpustakaan juga bentuk gangguan. Padahal (bisa jadi) institusi tersebut memang memerlukan pustakawan yang paham ilmu lain untuk mengoptimalkan peran perpustakaannya. Pustakawan justru meresponnya dengan mengajukan senjata undang-undang atau aturan, yang menyatakan bahwa yang berhak menjadi pustakawan itu alumni (ilmu) perpustakaan. Pustakawan telah terganggu (terdisrupsi). Mereka lupa, bahwa di lain tempat ada alumni (ilmu) perpustakaan yang bekerja sebagai administrasi kantor, yang seharusnya domainnya alumni sekolah administrasi. Saling mengganggu.

Yang paling baru terkait kepala perpustakaan sekolah yang diangkat dari guru (yang kekurangan jam mengajar).

Respon itu, sama dengan respon taksi konvensional, yang menggunakan senjata regulasi dan meminta bemper pemerintah untuk membela mereka.

Ketika Google begitu gagah dan saktinya memberikan jawaban atas pencarian yang dilakukan manusia, lalu bagaimana posisi katalog perpustakaan? Ketika e-book dan e-jurnal akses terbuka begitu mudah diakses dari internet, lalu apa peran pustakawan?  Ya, saat itu, sebagai institusi yang ada di bawah institusi induk, perpustakaan mengambil (diberi maupun meminta) peran sebagai penyedia dan penjaga e-jurnal dan e-book yang dilanggan. Perpusakaan menyeleksi, melanggan dan menyajikan. Perpustakaan pun menjadi penting, dan merasa perannya penting. Namun..

Ketika muncul Sci-hub sebagai mesin perantara ke koleksi teks lengkap tanpa harus direpotkan dengan login dan bahkan langganan, lalu bagaimana posisi pustakawan? Lepas dari debat terkait legal-tidaknya sci-hub. Sci-hub telah mengganggu model bisnis database jurnal, sekaligus mengganggu peran pustakawan. Kalau pustakawan mempublikasikan sci-hub, maka akan masuk ke ranah ilegal, dan tentunya jurnal yang dilanggan menjadi tidak berguna, atau paling tidak aksesnya akan menurun. Rugi. Kerja pustakawan akan terdisrupsi. Jika tidak mempublikasikan sci-hub (baik dengan cara massal atau dari mulut ke mulut), maka pemustaka akan kesulitan mendapatkan artikel yang tidak dilanggan perpustakaan.

Paijo: "Sci-hub kui panganan opo, Yo?"
Karyo: "gethuk goreng. Eh, sik bikin Sci-hub kui uayu lho, Jo!"

Akhirnya, pustakawan malu-malu kucing dalam penggunaan sci-hub dan teman-temannya.

“Pustakawan sebagai perantara literasi pada referensi yang terpercaya”, demikian kilah pustakawan untuk menunjukkan bahwa pustakawan tetap benar-benar penting. Padahal, pemberi petunjuk pada sumber informasi valid, bukanlah domain pustakawan secara tunggal. Banyak orang selain pustakawan yang memiliki kemampuan ini. Ada pula pustakawan yang justru belajar kepada mereka. Bahkan, orang yang sudah dilatih pustakawan untuk mencari informasi yang benar, dapat menularkan kemampuannya pada orang lain. Sehingga, ketika manusia sudah bisa membedakan informasi valid dan tidak valid secara mandiri, apa yang hendak dilakukan pustakawan?

Memang, kapan kondisi tersebut terjadi?, mungkin masih lama. Sehingga peran perpustakaan tersebut masih diperlukan.

Gangguan pada eksistensi pustakawan, sebagaimana munculnya ojek/taksi online sebagai bentuk “gangguan” pada yang konvensional, sesungguhnya adalah proses alamiah. Proses tersebut merupakan keniscayaan kemajuan jaman dan teknologi. Toh, di dalamnya ada proses positif yang harus diapresiasi. Nilai positif pada kehadiran ojek online, misalnya: terbukanya lapangan kerja, semakin dekatnya produsen dan konsumen, dan lainnya. Kenyataan bahwa yang konvensional turun pendapatannya, merupakan sebuah tamparan, bahwa mereka harus berinovasi jika ingin pendapatannya tetap atau naik.

Baca juga: Pustakawan itu menanggung tiga citra: dirinya, perpustakaannya, dan ilmu perpustakaan

Sementara itu, pada munculnya Google, sci-hub, menjadikan pemustaka mudah memperoleh referensi yang dibutuhkan, bahkan gratis tanpa membayar. Hal ini, akan mengurangi tugas pustakawan untuk mencarikan informasi untuk pemustaka. Energi yang mengendap ini, seharusnya bisa disalurkan pada bentuk layanan lain, layanan baru, layanan hasil dari re-shape model peran yang telah ada, sebagai bentuk dari “menyelamatkan”diri dari gangguan yang ada.

Gangguan pada dunia kerja pustakawan, atau dalam dunia kepustakawanan sudah ada sejak lama. Namun, sampai saat ini pustakawan masih ada. Ya… walaupun ada tanda-tanda bakal hilang, setidaknya ini dituliskan oleh Rhenald Khasali dalam tulisannya di Kompas. Namun sepertinya prediksi hilangnya pustakawan hanya dipandang dari sisi pengelola buku saja, dan tergantikan oleh mudahnya akses ebook dan ejurnal. Namun jika dipandang akan berkurang, agaknya cukup logis dikenapan pada penerjemah, pustakawan.


Paijo: "hmm, jadi kesimpulan hilangnya pustakwan itu, karena dari pandangan pekerjaan pustakawan yang meminjamkan dan mengembalikan buku saja, Yo?"Karyo: "sepertinya demikian, jika pustakawan mau tetap ada, maka..."

Jumlah pustakawan dalam sebuah perpustakaan, yang dulu misalnya ada 10, sekarang cukup 5 orang, menunjukkan adanya pengaruh dari disrupsi pada dunia kepustakawanan. Jika jumlahnya tetap, kemungkinan mereka akan rebutan pekerjaan.

Pertanyaannya, apa bentuk layanan baru pustakawan, sebagai cara pustakawan untuk menjadikan dirinya tetap ada?

Meski kata Pak Rhenal disrupsi itu ada pada model bisnis, namun agaknya saya cenderung kepada dua hal. Entah model bisnis, atau produknya, perlu dibentuk ulang, diperbarui.

PT Pos, ketika muncul internet, mampu bertahan dengan melakukan berbagai pembaruan layanan. Ketika kegiatan kirim surat sudah semakin sedikit, maka layanan kirim selain surat harus dikuatkan. Jaringan PT Pos yang luas, dapat dioptimalkan. Semuanya ada dalam satu payung konsep “pengiriman”.

Lankes, menyebut pustakawan memiliki payung besar terkait perannya ditengah kehidupan manusia. Memfasilitasi komunitas untuk meningkatkan kualitas mereka, dengan cara membentuk pengetahuan baru, “the mission of librarian is to improve society through facilitating knowledge creation in their communities”. Konsep ini mungkin dapat dijadikan panduan re-shape peran pustakawan.

Informasi semakin dekat dengan pemustaka melalui berbagai teknologi, pemustaka pada suatu waktu mampu memilih sendiri yang berkualitas atau tidak berkualitas karena diajarkan oleh orang tua mereka yang lebih dahulu memahami, pemustaka dapat secara mandiri mengunduh ebook atau e-article yang diperlukan dari sumber manapun. Dari sisi pustakawan, institusi butuh kemampuan lain dari pustakawan untuk mendukung institusi, kebutuhan akan jumlah pustakawan pada sebuah perpustakaan menjadi berkurang.

i-Jakarta, i-Jogja, IoS (Indonesia one Search), dan semacamnya, sepertinya bisa dianggap sebagai sebuah usaha untuk selamat dari disrupsi. Namun, parahnya, ide untuk membuat “i” tersebut tidak sepenuhnya (untuk memperhalus penyebutan “bukan”) ide dari pustakawan.  Produk tersebut muncul atas kebaikan ideatornya, yang mengajak pustakawan untuk bersama mewujudkannya.

Produk di atas, menjadi salah satu usaha bermain cantik menghadapi mudahnya mengakses informasi yang tersedia di internet. Pustakawan mengelolanya, mewadahi dalam bentuk “i”, dan menyajikan kepada pemustaka. Namun, itu bisa menjadi gangguan lagi di masa depan. Karena kehadirannya pasti akan mengambil peran-peran pustakawan yang selama ini ada. Proses sirkulasi akan berkurang, dan lainnya.

Terjunnya pustakawan ke kerumunan pemustaka, misalnya: pustakawan di perpustakaan daerah yang menyambangi masyarakat pemustaka yang belum terjangkai “i”, kemudian mengadakan berbagai kegiatan bersama mereka, dalam payung besar sebagaimana disampaikan Lankes juga bisa dianggap sebagai bentuk re-shape produk layanan pustakawan. Luasnya wilayah kerja perpustakaan daerah, menjadikan pustakawannya relatif tidak begitu kesulitan dalam menciptakan produk layanan baru bagi pemustakanya.

Kemampuan baru para pustakawan, disesuaikan dengan kebutuhan institusi induk, dalam rangka mendukung visi misi insitusi tersebut, sangat diperlukan. Kemampuan-kemampuan ini akan sangat dinamis, sesuai perkembangan jaman. Kemampuan pustakawan membaca keadaan menjadi sangat penting. Mungkin, ini bisa disamakan dengan konsep “realtime” pada disrupsi yang disampaikan Rhenald Kasali. Apa yang dibutuhkan saat ini, pustakawan mampu memberikannya pada pemustaka.

Jika ditarik ke pustakawan, mengacu pada Lankes, “fasilitating knowledge creation” merupakan produk besarnya. Caranya bisa bermacam dan dapat dilakukan pustakawan dengan selalu menempel pada pemustaka. Layanan turunan dari “fasilitating knowledge creation” akan selalu berubah sesuai kebutuhan, perkembangan teknologi, dan kemampuan pemustaka. 

Jika suatu saat, layanan terkait “fasilitating knowledge creation” menjadikan makna pustakawan menjadi kabur, ya tidak apa-apa. Mungkin akan muncul sebutan baru, yang lebih tepat bagi pekerjaan tersebut, bukan lagi pustakawan, sehingga pustakawan yang melakukan cara-cara lama akan berkurang.

Atau, bukan makna pustakawan yang kabur, namun makna perpustakaan yang harus mengikuti definisi pustakawan.

Ketika pustakawan berkurang, maka pustakawan kudu mencari pekerjaan lain atau menciptakan pekerjaan baru. Kenyataan ini akan menjadi penyaring alamiah, siapa yang masih kuat dengan profesi pustakawan, dan siapa yang yang sudah tidak kuat.

Kapan profesi pustakawan akan hilang? Ya, ketika sudah tak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk orang lain. Atau ketika orang lain sudah bisa melakukan sendiri, apa yang saat itu pustakawan tawarkan.

Di sinilah letak keyakinan pustakawan diuji, terkait keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Tunggal itu murah dalam memberikan rejeki melalui berbagai pintu. Usaha menjemput rejeki dari berbagai pintu, dengan berbagai kompetensi, sebagai sebuah ikhtiar manusia untuk memberi nafkah keluarganya, menjadi sebuah kewajiban.

Paijo: "Ya, yang diuji bukan hanya pustakawan. Tapi tapi semua ummat manusia kudu yakin, bahwa rejeki itu jalannya banyak".

Seorang kawan, mengingatkan saya tentang tulisan yang pernah saya tulis, "kalau semua manusia itu pustakawan, dan jagad raya itu perpustakaan, maka disruption itu tak akan berpengaruh".


Di tulis di tanah leluhur Rakai Garung, Sambisari
diunggah pada blog, 24 Oktober 2017 pukul 12.45 siang, Sekip, Yogyakarta.

Bahan bacaan:

  1. The Atlas of New Librarianship, karya David Lankes
  2. Sekilas The New Librarianshio Field Guide, karya David Lankes
  3. Disruption, karya Rhenald Kasali (2017). Tapi ketika menulis esai ini, baru sampai pada halaman 147
  4. http://ekonomi.kompas.com/read/2017/05/05/073000626/meluruskan.pemahaman.soal.disruption.
  5. http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/18/060000426/inilah-pekerjaan-yang-akan-hilang-akibat-disruption-
Tambahan:
  1. https://learnoutlive.com/the-digital-revolution-kills-jobs-faster-than-it-creates-new-ones/
  2. https://www.thejobnetwork.com/8-jobs-that-won't-exist-in-2030/


Monday, 23 October 2017

[vlog] Mbakar degan di kampung halaman

Purwo.co - Kali ini, tidak seperti biasanya, saya menulis bukan tentang kepustakawanan, namun tentang kampung halaman saya, Ngliparkidul. Tetapi, sepertinya Paijo tidak sepakat. Dia bersikeras, bahwa apa yang saya sampaikan ini tetap terkait kepustakawanan. “Cerita atau tulisan tentang kampung halaman, itu juga bagian dari kerja kepustakawanan”, begitu katanya. “Bahkan, ketika kita mengatakan pada teman kita, bahwa kita baru saja kentut, itu juga terkait kepustakawanan”, tambah Paijo.

Paijo, kemudian berkhotbah tentang filsafat kepustakawanannya Ranganathan, “setiap buku ada pembacanya”. Setiap informasi pasti juga ada yang memerlukannya, kalau belum ada yang mengatakan perlu, itu karena belum ditemukan siapa yang memerlukannya. Termasuk kentut tadi. Informasi bahwa kita akan kentut atau baru saja kentut, sangat bermanfaat bagi kiri-kanan kita, agar mereka bersegera menutup hidung atau menyingkir.

Jadi, apapun tulisannya, itu adalah kerja kepustakawanan, itulah hebatnya cakupan kerja pustakawan. Demikian Paijo menyampaikan dengan semangat menggebu, tentunya sambil nggaya menyanjung profesinya. Okelah, saya ikut Paijo saja. Meski kadang dipandang aneh, tapi mungkin Paijo ini menguasai ilmu laduni, atau ilham dan keyakinan yang begitu kuat. Keyakinan Paijo tersebut, agaknya ingin membuktikan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak harus diawali dengan keraguan sebagaimana banyak diyakini para ilmuwan. Tapi bisa diawali (atau lebih afdal diawali) dengan keyakinan.

Paijo: “bau apa ini, Yo?”
Karyo: “kentutku, Jo. Sorry, bro”.

####

Kampung saya ini berjarak 40-an kilometer dari tempat saya kerja, atau 30-an kilometer dari tempat tinggal saya di Kalasan. Dulu, saya pernah berfikir untuk nglajo, atau pergi pulang dari rumah/kampung ke tempat kerja. Bertemu kehidupan kampung halaman terasa sangat menyenangkan dan bisa menjadi obat dari hiruk-pikuk kehidupan kerja. Sabtu-minggu bisa digunakan untuk ke hutan, atau ke sawah menanam cabai, menaman padi, atau memetik ketela kemudian dibakar.

Jarak antara tempat kerja dan kampung halaman



Rumah saya cukup terpencil. Di sebelah timur terbentang sungai, di depan (selatan) terdapat jalan yang digunakan orang kampung hilir mudik dari dan ke hutan. Ya, begitulah, karena beberapa ratus meter di timur rumah merupakan hutan pemerintah yang dikelola warga. Sementara di sebelah selatan jalan juga terbentang tanah pertanian kas desa yang dikelola para pamong desa. Jarak rumah saya, dengan rumah lainnya cukup jauh. Di belakang, paling dekat sekitar 100 meter. Sebelah barat 150-an meter. Sebelah timur, 300-an meter, demikian pula di selatan, rumah paling dekat juga sekitar 300-an meter. Pada peta wilayah dusun, rumah saya merupakan rumah yang paling timur, di perbatasan.


Baca juga: Pustakawan itu menanggung tiga citra: dirinya, perpustakaannya, dan ilmu perpustakaan

Karena jalan di depan rumah digunakan untuk hilir mudik warga ke hutan, kami sejak kecil menjadi terbiasa dengan para warga. Ketika mereka lewat di jalan depan rumah, saling menyapa adalah prosesi yang selalu kami lakukan. “saking wono, mbah?”, merupakan pertanyaan basa-basi dari kami kepada mereka. Ya, tentu saja kami sudah tahu bahwa mereka baru saja dari hutan (jawa: wono), tapi begitulah cara kami membangun keakraban. “Pinarak”, “kendel rumiyin”, “ngrumput, De?”, dan sapaan lainnya mengikuti sapaan pertama sebagai pelengkap basa-basi. Ah, kadang juga bukan basa-basi. Ketika kami sedang membuat teh, dan ada yang lewat, kamipun serius meminta mereka untuk mampir, atau pinarak.

Kamipun bercengkerama, ngobrol tentang panen, pupuk tanaman, air, sapi ternak dan lainnya.

###

Tapi, jarak yang jauh, sekitar 40-an kilometer dari tempat kerja menjadikan saya berfikir ulang. Meski ketika ketemu teman yang nglajo,  rasanya itu bukan hal yang mustahil pula untuk saya. Jika saya ada kendaraan semacam Jamantara (kendaraan berwujud macan, milik Nini Luh Jinggan pada kisah Tutur Tinular), pasti akan lebih menyenangkan. #nglamun.

Tapi, apa yang sekarang dititipkan pada saya, harus saya syukuri. Saya bertempat tinggal di Kalasan. Jaraknya bisa ditempuh dalam kurang dari 60 menit waktu normal untuk kembali ke kampung halaman. Saya hanya perlu mengurangi beberapa hal yang memang bisa dikurangi dari kegiatan rutin, agar dapat kembali menyeimbangkan kehidupan.

Sarjana yang berhasil, adalah sarjana yang pulang kampung. Konon, kabarnya demikian. 
Saya merasa tersindir dengan kalimat di atas, semoga bukan karena perasaan saja, tapi benar-benar merasa.

Puthul, salah satu hewan yang dijadikan lauk oleh warga Gunungkidul


###

Hari itu, Sabtu 21 Oktober 2017, saya pulang kampung. Iseng membuat VLOG terkait suasana sekitar rumah. Vlog pertama tentang keadaan tanah di samping rumah, yang sedang dibersihkan, serta berbagai tanaman yang ada di atasnya. Vlog kedua, tentang kelapa muda bakar. Video diambil dengan kamera ponsel, suara kurang terdengar, belum profesional, semoga bisa ditangkap isinya.







Sambisari, 23 Oktober 2017
5:26 pagi

Saturday, 14 October 2017

Pustakawan itu menanggung tiga citra: dirinya, perpustakaannya, dan ilmu perpustakaan

dikutip dari Arnold Hirshon
Purwo.co - Perpustakaan dan (ilmu) perpustakaan, bergantung pada pustakawan. Sesungguhnya pustakawan adalah kunci.

Pustakawan, merupakan sosok yang menggerakkan kerja-kerja di perpustakaan.  Perpustakaan dan pustakawan, merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Perpustakaan tanpa pustakawan, tentunya kurang optimal. Pustakawan tanpa perpustakaan, maka penyebutan pustakawan menjadi kurang afdal. Tentunya, perpustakaan dalam hal ini, adalah perpustakaan dalam arti seluas-luasnya.

Karena saling terkait, maka keduanya tidak dapat dipisahkan, dan tentunya terkait citra, akan saling mempengaruhi. Namun, sekali lagi, pustakawan adalah kunci. Perpustakaan yang baik  akan mempengaruhi citra pustakawan, tetapi perpustakaan dianggap baik itu tergantung pustakawannya.  Pustakawan yang baik, akan berpengaruh pada citra perpustakaan. Dan jika kerja-kerja pustakawan ini sampai pada level tertentu, maka pandangan orang di luar perpustakaan tentang status ilmu perpustakaan, akan terpengaruh. 


Tiga citra tersebut sesungguhnya dibebankan pada pustakawan.  Mulai dari citra pustakawan (dirinya sendiri), citra perpustakaan, dan citra ilmu perpustakaan.


Citra pustakawan (dirinya sendiri)
Sebagai orang yang bertanggung jawab pada berjalannya fungsi perpustakaan, maka pustakawan melakukan berbagai hal dia dianggap perlu. Mulai dari menjalankan tugas rutin, maupun tugas lainnya yang berkaitan dengan hubungan pada atasan, komunikasi pada pemustaka, komunikasi antar unit, layanan yang diberikan pada unit lain, kerja pengembangan, dan lainnya. 

Kerja-kerja tersebut, akan mempengaruhi citra (gambar) dirinya pada orang lain. Orang lain (pemustaka, dan orang luar perpustakaan) akan menilai si pustakawan dari manfaat yang dia peroleh ketika berhubungan dengan si pustakawan.  Citra ini harus dijaga oleh pustakawan, agar tetap baik di mata orang lain, atau menjadi baik jika pustakawan sebelumnya dianggap kurang baik. 

Setiap pustakawan adalah mufassir, dan pustakawan merupakan pemegang otoritas tafsir atas perpustakaannya.

Hal yang perlu diingat, citra pustakawan ini terkadang dimaknai secara personal. Pengangkatan citra dilakukan untuk pribadi-pribadi, bukan atau tidak menarik citra tempat dia bekerja. Hal ini, tentunya kurang elok.


Citra perpustakaan
Segala yang dilakukan pustakawan dalam rangka menggerakkan perpustakaannya, akan mempengaruhi citra perpustakaannya. Baik-buruknya perpustakaan, akan dimulai dari si pustakawannya sendiri.

Pustakawan yang pintar, tidak otomatis akan membawa citra baik untuk perpustakaannya, jika kepandaian itu tidak diaplikasikan pada pengembangan perpustakaan. Pustakawan yang justru sibuk dengan kerja-kerja di luar wilayah perpustakaanya dan "melupakan" rumah utamanya, juga demikian, justru akan berpotensi berpengaruh buruk pada perpustakaannya. 

Untuk membangun citra perpustakaan, pustakawan perlu keberanian (menjadi benar-benar pustakawan, pustakawan paripurna), bertindak lokal namun berefek global, dan fokus pada perpustakaan yang dia kelola. 

Perlukah pustakawan memunculkan dirinya di gelanggang yang lebih tinggi?. Perlu. Namun, selama pemunculan itu terkait dengan dirinya sebagai pustakawan, maka tetap dia harus membawa nama "pustakawan" dan perpustakaan tempat dia bekerja. 

Masuk ke dalam pentas yang lebih tinggi, tapi tidak dengan nama "pustakawan", sama dengan pengkhianatan profesi.
Dengan membawa nama pustakawan/pengelola perpustakaan tertentu, maka secara langsung akan mengangkat citra perpustakaannya. 

Citra ilmu perpustakaan
Perpustakaan sebagai ilmu, agaknya masih diragukan. Benarkah benar-benar ilmu yang harus dipelajari di bangku kuliah secara formal, atau memang…ya, cukup melalui jalur kursus atau pengalaman otodidak saja. Setidaknya ini ditunjukkan dengan nomenklatur yang saat tulisan ini dibuat, tidak menyebutkan ilmu. Tertulis "perpustakaan dan sains informasi".
Baca juga: Sudah terang: tidak ada ilmu perpustakaan
Pandangan positif dari orang selain pustakawan pada “ilmu” perpustakaan, ditentukan oleh kerja-kerja pustakawannya. Karena mereka, orang-orang itu melihat yang nyata di lapangan, apa yang mereka rasakan dari layanan pustakawan, bukan sekadar yang ada di atas kertas yang dipresentasikan di berbagai konferensi. Kerja nyata ini, hanya dilakukan oleh pustakawan

Ada kenyataan pengelola perpustakaan yang tidak alumni prodi ilmu perpustakaan, ternyata bisa mengelola perpustakan dengan modal kemauan belajar sepanjang hayat. Ketika ternyata hasilnya sama dengan yang dikelola orang yang alumni sekolah perpustakaan, akan menjadi kenyataan yang cukup berpengaruh. Setidaknya, bagi institusi yang menaungi perpustakaan tersebut.

Kenyataan tersebut akan mendorong pada kesimpulan-kesimpulan, misalnya: tak perlu alumni sekolah perpustakaan untuk mengelola perpustakaan, atau jika telah dikelola oleh alumni sekolah perpustakaan, maka justru dia dipindah ke bagian lain yang dianggap lebih penting. “Cukup dikelola alumni SMA, saja. Nanti bisa sambil belajar”, begitu kira-kira.

Bagi pustakawan yang meyakini bahwa ilmu perpustakaan itu benar-benar ada, maka hendaknya dia menunjukkan pada kerja-kerjanya. Namun, bagi pustakawan yang menganggap ilmu perpustakaan itu tidak ada, maka kepatuhan pada pimpinan adalah cukup baginya. 

Beratnya beban citra pustakawan
Tiga hal di atas menunjukkan beratnya citra yang harus ditanggung oleh pustakawan, disamping perjuangan dirinya sendiri untuk tetap bertahan menjadi pustakawan.

Pustakawan harus selalu belajar agar kemampuannya selalu sesuai dengan perkembangan jaman, agar perpustakaannya tidak ketinggalan, dan agar dia selalu bisa menguasai dan menerapkan berbagai hal baru terkait perpustakaan.

Pustakawan bukan orang yang berhenti di teori-teori di atas kertas. Pustakawan itu mempelajari, melakukan dan mempublikasikan. Dan untuk “melakukan”, membutuhkan keberanian.

Karyo: "Saya pernah dengar curhat orang yang sebelumnya menjadi praktisi, bukan pustakawan, Jo. Tapi akhirnya menyerah karena beratnya beban yang harus ditanggungnya. Kemudian si praktisi ini pindah menjadi akademisi.
Paijo: "Abot yo, Kang."

Demikian pula pustakawan, jika tidak kuat dengan tanggungjawab menjaga 3 citra di atas, maka sangat mungkin dia meloncat pindah ke profesi lain yang lebih mapan, dengan tingkat strata sosial lebih tinggi, dan tentunya lebih prestisius.

Ilmu perpustakaan itu ada atau tidak, tidak ditentukan oleh debat atau diskusi ilmiah para ilmuwan perpustakaannya. Namun 99% ditentukan oleh kerja-kerja pustakawan. 

Agar citra tersebut terasa ringan, maka cukuplah bagi pustakawan untuk bekerja sebaik-baiknya, pasrah dan serahkan hasilnya pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika memang dirasa ada profesi lain yang bisa dimasuki dan lebih baik untuk anda, cobalah. Tidak ada larangan. Tapi, tentunya andapun boleh tidak setuju dengan saya.



Tanah leluhur Rakai Garung, Sambisari.
tanggal 14, bulan sepuluh tahun 2017
01.33 dini hari



Monday, 2 October 2017

Pustakawan bukan siapa-siapa*)

Purwo.co – SEORANG KAWAN MENGGEBU, mengatakan bahwa pustakawan merupakan agen perubahan. Benteng literasi bagi generasi penerus, mengenalkan berbagai sumber informasi yang valid, di tengah gempuran informasi aliran sesat yang ada di sekitar.

Heroiknya pustakawan, akan terkait pula terkait dengan buku. Tragedi perbukuan, baik 0 buku, atau pembakaran buku, merupakan tragedi yang menunjukkan bahwa pustakawan sebagai pengelola buku, memiliki peran penting, dianggap penting untuk menjaga harga diri buku, atau kadang juga dianggap berbahaya. Agar tidak terjadi tragedi 0 buku, maka pustakawan harus ditempatkan pada tempat yang semestinya.

Paijo: “gandrik!, pengelola buku?. Sampeyan bisa diprotes nulis “pengelola buku”.

Tuah literasi (li-terasi), yang selama ini digaungkan selalu didekatkan dengan pustakawan. “Literasi itu penting, dan pustakawan memiliki peran penting di dalamnya”, demikian katanya. “Pustakawan seperti kita, bukan hanya mengolah buku, meminjamkannya, tapi kita juga harus bisa mengajar”, begitu timpal tambahannya.

Tuah literasi juga diformalkan melalui gerakan literasi, populer dengan simbol L, menggunakan telunjuk dan ibu jari tangan kanan. Gerakan literasi nasional, gerakan literasi sekolah, gerakang literasi…. Tapi satu yang terlupa, gerakan literasi pustakawan.

Simbol L itu, seolah ingin menunjukkan bahwa peran pustakawan semakin penting, bahkan penting sekali. Simbol L menjadi ruh dan menyatukan semangat pustakawan, dia menjadi perekat. Dia harus mampu mendobrak ke atas, sebagaimana jari telunjuk, dan menyebar ke sekitar sebagaimana ibu jari, yang keduanya membentuk huruf L tadi.

Melalui simbol L itu, pustakawan merumuskan peran-perannya di dunia pendidikan, dan juga di masyarakat. Peran baru dilakukan, dimunculkan, dan bukti keberhasilannya diposting di media sosial. Tentunya, agar semua orang, atau setidaknya teman-teman di jejaring sosialnya melihat dan tahu bahwa dia punya peran penting, bukan main-main, terkait huruf L tersebut.

Li-terasi, entah mulai kapan dia populer. Literasi, dulu dikenalkan di bangku kuliah dengan arti ke-melek-huruf-an. Arti yang mungkin tidak semua mahasiswa paham benar apa makna sesungguhnya. Waktu itu, yang penting “saya dengar, saya lihat (soal), saya bisa menjawab dengan benar”.

Dengan label “gerakan”, seolah literasi merupakan bentuk perlawanan, perjuangan pustakawan untuk merebut (atau menunjukkan) peran mereka dalam rangka mewujudkan kondisi yang ideal.  Merebut dari siapa? Entah. Itupun jika benar-benar merebut. Atau apa yang mau direbut? Atau mencari peran yang selama ini dianggap tidak diperhatikan? Atau mengais peran-peran yang tercecer?

###

Di sekolah, dan perguruan tinggi, jika ingin tahu dapur penelitian para civitasnya, tanyalah pada pustakawan. Mereka meneliti penelitian yang dikelolanya. Ingin tahu mana yang terindikasi plagiat, mana yang banyak kopi tempel, mana penelitian yang mengutip gambar dari postingan di Kaskus, atau mana yang cara penulisan referensinya tidak konsisten. Penelitian apa yang paling populer, siapa yang paling banyak atau sedikit dikutip, pustakawan bisa mengetahuinya. Itulah hebatnya pustakawan, kabarnya.

Itu semua diperoleh karena pustakawan meneliti.

###

INDONESIA PASTI BAHAGIA, melihat lulusan baru pendidikan perpustakaan. Karena dengan demikian, akan muncul pustakawan-pustakawan baru yang siap menjadi agen literasi pada siswa-siswa, pelajar dan mahasiswa di negeri ini. Mereka siap ditempatkan di sekolah kota atau pelosok, di perguruan tinggi, di lembaga sosial, atau bahkan di perusahaan, serta di kampung-kampung menjadi “dai” literasi.

Konon, kabarnya masih banyak perpustakaan sekolah yang belum memiliki pustakawan. Perpustakaan ini, jumlahnya menjadi lahan penempatan para alumni ilmu perpustakaan. Jumlah inilah, salah satunya yang dijadikan bahan tawaran pada alumni SMA, agar masuk ke program studi perpustakaan, dan tentunya, menjadi agen perubahan, agen literasi pada para generasi bangsa.

Paijo: “Kalau tak ada alumni SMA yang mau masuk jurusan perpustakaan, piye ya Yo?”
Karyo: “bubar, Jo. Alumni dari SMA ini penting bagi keberlangsungan sekolah perpustakaan”.

Namun kenyataan di lapangan tidak selalu indah.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Pustakawan butuh makan. Kadang, mereka tidak bisa hidup hanya dari status pustakawan. Ada yang masih jadi pustakawan dengan pangkat rendah, bergaji kecil. Sehingga harus nyambi ini-itu untuk mempertahankan agar dapur tetap ngebul. Undangan kondangan pernikahan teman sejawat, bisa berakibat fatal, dan membuat kepala puyeng. Selain galau karena ditinggal menikah,  juga harus menyiapkan amplop beserta isinya, atau paling tidak kado terakhir sebagai ucapan melepas lajang.

"Semoga berbahagia, jangan lupa berdoa dan olah raga", demikian katanya setelah memasukkan amplop di kotak yang disediakan.

Selain tuntutan untuk mencari pasangan menikah, pustakawan juga dituntut untuk pintar-pintar mencari rejeki untuk menafkahi. Mereka harus mendapatkan pasangan yang siap lahir bathin, menjadi pasangan hidup pustakawan.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Mereka tipe pejuang kelas tinggi. Yang telah ditempatkan di pustakawan, ada yang berkorban dengan bersekolah lagi di jurusan perpustakaan, dengan harapan menjadi pegawai tetap di tempatnya bekerja. “Berjuang”, demikian konon istilahnya. Maka, mereka berbondong melanjutkan sekolah lagi, baik di universitas modern maupun konvensional. Namun, konon kabarnya, setelah lulus ada yang tidak ditempatkan di perpustakaan lagi, namun di rotasi ke bagian lainnya. Mungkin, bagian lain itu dianggap lebih penting.

Demikianlah awalannya, pustakawan bukan siapa-siapa.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Pustakawan, juga bukan tuah yang membanggakan semua orang. Itulah mengapa, ada pustakawan yang bekerja di perpustakaan, namun ketika ditanya pekerjaan, jawabnya “buruh”. “Saya cuma buruh saja, kok”. Atau karena kerjanya di universitas, lebih senang dikenal dengan sebutan dosen.

Ya, orang kampung jika tahu kerjanya di universitas, langsung dianggap “dosen”. Keliru, tapi membuat yang disebut senang, ya dibiarkan saja.

Status pustakawan, memang bukan apa-apa. Sangat jarang anak sekolah yang menyebut pustakawan sebagai cita-citanya. Jika kemudian ternyata menjadi pustakawan, itu karena “paksaan” sejarah, sebagian besar bukan karena memperjuangkan profesi itu sejak lama, secara sadar.

Kepopuleran pustakawan sebagi cita-cita, jauh dibanding tentara, polisi, dokter, atau guru. Itu sudah kenyataan sejarah.

Pustakawan memang bukan siapa-siapa.
Organisasi profesi yang semestinya mengayomi,  kadang malah bertolak belakang. Pelatihan kepala perpustakaan sekolah, yang tidak sedikit pustakawan yang mengeluhkan, justru masih dilakukan. Aturan yang ada di atasnya, dijadikan bemper pengesahan kegiatan ini.  Entah, kepentingan apa yang ada di belakangnya. Ini seolah menunjukkan pada dirinya sendiri, bahwa pustakawan bukan siapa-siapa, bahkan bagi organisasi profesinya.

Ah, namun harus diakui bahwa organisasi kepustakawanan memanjakan pustakawan dengan dunia ilmiah, melalui kegiatan bertajuk call for paper. Pustakawan didorong untuk menulis (ilmiah) dan mengirimkannya. Namun, kadang ditarik biaya yang tidak sedikit. Tak sedikit pustakawan yang kandas keinginannya, karena kurang dana.

Pustakawan memang bukan siapa-siapa
Hadirnya tentu diharapkan menjadi sumber jawaban atas berbagai pertanyaan. Namun terkadang alih-alih menjadi filter berita hoax, malah terhanyut pada berita hoax yang seharusnya disaringnya. Atau menjawab pertanyaan tetangga tentang harga cabe sekilo, pustakawan merasa kesulitan.

Ya, memang tidak semua harus bisa dijawab oleh pustakawan. Tentunya berat untuk memberi jawaban pada semua pertanyaan. Justru itulah, menunjukkan bahwa pustakawan memang bukan siapa-siapa.


Pustakawan bukan siapa-siapa.
Di kampung atau di masyarakat, banyak orang yang beperan selayaknya pustakawan,meskipun dia tidak (bukan) alumni dari pendidikan formal pengelolaan perpustakaan. Mereka megelola buku, serta koleksi lainnya, serta membuat kegiatan yang berguna bagi masyarakat. Dan mereka bisa melakukannya.

Peran ini, tak urung, memberikan ruang tafsir pegiatnya tentang pustakawan. Apa sebenarnya peran pustakawan di masyarakatnya? Sebatas apa gerakan literasi yang digaungkan itu berpengaruh pada tetangganya?

Baca juga: Hati-hati masuk jurusan ilmu perpustakaan!!! #inpassing

Pustakawan bukan siapa-siapa
Konon, kabarnya ada penolakan atas kebijakan sebuah institusi yang membuka lowongan pengelola perpustakaannya untuk orang dari alumni selain program studi perpustakaan. “Itu domain alumni perpustakaan, bukan yang lainnya…”, begitu katanya. Mereka tidak sadar, bahwa ada juga alumni ilmu perpustakaan yang bekerja sebagai tenaga administrasi di perguruan tinggi, misalnya. Tidak ada alumni manajemen perkantoran yang protes. "Saya sudah berhenti menawarkan software saya. Lah kalah sama gerakan pustakawan menyebarkan open source", konon kabarnya ada yang mengatakan demikian.

Bahkan mungkin ada juga pustakawan yang bekerja menjadi teller di bank, tidak ada alumni keuangan, perbankan, yang protes. Atau kita tidak tahu?


Pustakawan bukan siapa-siapa
Di tengah perjuangan pustakawan yang masih panjang, justru para ilmuwan gencar memopulerkan ilmu informasi. Entah, mana yang lebih luas. “Informasi” dianggap lebih kekinian, lebih mutakhir, lebih bisa mengayomi semua aspek kegiatan kerja-kerja pustakawan. Para ilmuwan, dengan kepakarannya hendak meletakkan posisi yang benar, antara ilmu perpustakaan dan ilmu informasi. “Di luar negeri, ilmu perpustakaan sudah ditinggalkan, beralih ke ilmu informasi, i-science”, begitu kurang lebihnya. Para pakar yang dikenal dengan ilmu perpustakaan, mendadak menjadi lebih (ingin) populer dengan ilmuwan informasi. Kenyataan ini menunjukkan, pustakawan memang bukan (si)apa-(si)apa. Seolah status pustakawan ditinggalkan, dan diminta “berjuang” sendirian.

"Saya profesional informasi", celetuk yang lainnya. Tidak apa-apa. Semua itu pilihan. Pustakawan memang buka (si)apa-(si)apa.


Pustakawan bukan siapa-siapa
Menjadi pustakawan, jika takdir telah menetapkan, diperlukan keberanian. Jika tidak, dan hanya setengah setengah, maka pasti dia akan lari mengungsi ke profesi lain yang sudah lebih mapan, dengan tingkat strata sosial yang lebih tinggi, yang tidak perlu lagi perjuangan yang berdarah-darah.

Ironisnya, setelahnya mereka mengatakan, "pustakawan itu penting". Atau mengritik pustakawan. Jika penting, mengapa pindah profesi?

Pustakawan memang bukan siapa-siapa.


Pustakawan bukan siapa-siapa
Diskusi tentang “ilmu” perpustakaan seolah tidak berakhir. Diskusi dilakukan di meja kuliah, kuliah umum, konferensi, dan lainnya. Para ilmuwan perpustakaan (dan informasi) ngotot, bahwa ilmu perpustakaan itu ada.
Namun, ternyata, meskipun tentunya bisa berubah, nomenklatur menyebutkan lain. “Perpustakaan dan Sains Informasi”.

Baca juga: Sudah terang: tidak ada ilmu perpustakaan
Karyo, dengan tampang lusuh sepulang dari sawah mengatakan, “Diskursus tentang ilmu perpustakaan itu, tak akan berpengaruh pada kerja-kerja kita, Jo. Aku dhewe menyadari. Tapi aku yakin, Jo. Sembilan puluh sembilan persen (99%) yang menentukan orang lain mengamini perpustakaan itu sebagai ilmu atau bukan, tidak terletak pada ilmuwan perpustakaannya. Namun, justru akan dilihat dari kerja-kerja kita ini, sebagai pustakawan”.

Pustakawan bukan siapa-siapa
Sejarah telah mencatat, bahwa profesi pustakawan tidak sepopuler dokter, tentara, polisi atau guru. Tidak apa-apa, memang demikian adanya. Sejarah selalu akan menunjukkan buktinya. Jika suatu saat nasib pustakawan harus seperti “dukun bayi” di pelosok kampung, yang sekarang semakin jarang, ya harus diakui. Tidak apa-apa, itu adalah bagian dari ketentuan sing wis ginaris deneng Gusti.


Pustakawan bukan siapa-siapa. Jika ingin tahu mereka, datanglah ke perpustakaan yang dikelolanya. Lihatlah apa yang mereka lakukan. Atau, lihatlah institusi pendidikan yang mencetak mereka, bagaimana kurikulumnya. Atau, maaf, lihatlah diklat-diklat yang mereka ikuti. Diklat itu ada yang mencukupkan mereka untuk bisa disebut pustakawan.

Pustakawan adalah manusia biasa, sama seperti yang lainnya.


###


Paijo, sambil leyeh-leyeh dan mengipaskan capingnya yang sudah sobek sebelah, menjawab ucapan Karyo, “Pustakawan itu bukan siapa-siapa. Ojo rumongso biso, tapi biso’o rumongso. Mung sak dermo nglampahi. Mau ada ilmu perpustakaan atau tidak, tidak masalah. Ada hal lain yang lebih perlu dicurahi energi untuk difikirkan, ilmu urip.”.

Sambisari, Senen Kliwon, tanggal 11 Suro 1951
lima, tiga sembilan pagi


*judul dicontek dari esai seorang kawan “mahasiswa bukan siapa-siapa”, tulisan Rachmad Resmiyanto. http://rachmadresmi.blogspot.com/2006/03/mahasiswa-bukan-siapa-siapa.html