Friday, 27 December 2013

Nikmatnya hidup di desa


Libur akhir tahun 2013, tepatnya 25-26 Desember cukup dapat digunakan untuk bertamasya. Tanggal 26 Desember, kampung saya, di Nglipar Kidul, Nglipar GK Yogyakarta merupakan tujuan saya bersama istri dan keponakan. Naik motor, perjalanan 40-an kilometer kami tempuh dalam 1 jam.

Sampai di rumah,  sungai adalah tujuan pertama saya. Memang sajak lama saya ingin sekali merasakan kembali mandi di sungai. Mandi di sungai kami sebut dengan "jeguran". Di tegalan (area bercocok tanam) dekat sungai, saya temukan beberapa orang -sebut saja kang Yoto dan mbah Darmo- sedang mengangkut bibit sengon laut dan jati. Katanya akan ditanam di tempat lain dan nantinya dijual setelah berumur. Bibit ini merupakan bantuan dari pemerintah daerah yang dikembangkan dan kemudian dibagian ke warga. Selain itu, sebut saja GunGun dan Wandi yang pulang dari mencari rumput. Biasanya, setelah mencari rumput, warga melakukan ritual mandi di sungai ini sebelum pulang ke rumah.

Sungai seperti dalam gambar, bernama Kali Banger. Banger, berarti berbau. Konon kabarnya, ketika musim tertentu air sungai ini mengeluarkan bau yang tidak sedap. Pada masa kemarau, sebelum ada saluran air minum dari perusahaan pemerintah masuk di desa saya, kami antri ambil air di sungai ini. Antri air pada waktu itu dilakukan menjelang magrib dan ketika subuh. Ketika antri mengambil air, warga desa ini asyik dalam suasana kekeluargaan sambil membicarakan berbagai hal. Antri air menjadi sarana berdiskusi warga. Sayangnya, setelah layanan air dari perusahaan daerah masuk desa, suasana antri air tak lagi ditemukan.

Warga di desa saya ini sungguh merupakan para pekerja keras. Pagi-pagi mereka sudah ke sawah, untuk bercocok tanam, merawat tanaman atau mencari rumput. Memandikan ternak, bercengkrama dengan warga lain, gotongroyong, kerja bhakti merupakan hal-hal yang lumrah dilakukan.
Relatif jauh dari hiruk pikuk berdebatan politik yang membosankan, dekat dengan alam yang begitu menakjubkan dan penuh kreatifitas dalam berkarya.

bibit jati dan sengon laut
mencari rumput
mengangkut bibit

motor multi fungsi

renang disungai

renang















Wednesday, 25 December 2013

Merancang Visi dan Misi Komunitas SLiMS Indonesia

FFF by Eddy Subratha
Ketika diskusi tentang SLiMS, ada seorang rekan pegiat komunitas yang bertanya, "mau dibawa ke mana komunitas ini?"

Pertanyaan ini saya kira beralasan, karena memang belum ada panduan tertulis tentang arah dari komunitas. Komunitas SLiMS yang bergerak dengan semangat gotong royong dan paguyuban.
Sebagai sebuah komunitas yang menyandarkan diri pada perangkat lunak, di luar komunitas ini ada juga komunitas software: Komunitas Blender, Linux, Ubuntu, Blankon, Mysql dan lainnya. Di dunia perpustakaan, pernah ada ISIS dan juga Atheaneum serta aplikasi lainnya. Nama pertama pernah populer pada masanya, menjadi aplikasi otomasi perpustakaan pilihan. Nama terakhir memiliki alamat blog komunitas di http://kali-indonesia.blogspot.com/.
Memang tantangan antara satu komunitas dan komunitas lainnya berbeda, nah  bagaimana dengan SLiMS?
Saya pernah menulis tentang Komunitas SliMS (di sini), melanjutkan tulisan itu dan didorong oleh rekan komunitas yang menyarankan bahwa semestinya komunitas punya panduan berupa visi dan misi, maka saya coba tulis konsep visi misi komunitas SLiMS Indonesia.

Nama:
Komunitas SLiMS ....., yang berciri paguyuban.

Anggota:
Pustakawan, tenaga perpustakaan, pengelola perpustakaan, pengelola TBM, mahasiswa, guru, masyarakat dan lainnya.

Model keanggotaan:
terdata, diberi kartu anggota atasnama perpustakaan atau pribadi dengan hak dan kewajiban tertentu
(untuk model keanggotaan ini sangat opsional, bisa dengan kartu anggota bisa juga tanpa kartu anggota)

Visi:
Mewujudkan pengelola perpustakaan yang berpengetahuan luas, terampil serta mandiri demi terwujudnya perpustakaan yang ideal.

Misi:
  1. meningkatkan pengetahuan terkini dalam bidang kepustakawanan
  2. meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan perpustakaan
  3. meningkatkan kemampuan teknologi informasi
  4. menyebarkan aplikasi berbasis opensource kepada para pengelola perpustakaan dan pemerhati perpustakaan
  5. bekerjasama dengan berbagai pihak untuk pengembangan perpustakaan dan pengelola perpusakaan
  6. melakukan kegiatan berbagi pengetahuan secara berkala
  7. membuat produk komunitas
Jika misi di atas diturunkan dalam bentuk kegiatan, maka kira-kira Komunitas SLiMS akan melaksanakan berbagai kegiatan, di antaranya:
  • meningkatkan pengetahuan terkini dalam bidang kepustakawanan, dalam bentuk belajar bersama tentang: (dalam hal ini komunitas wajib membaca keadaan, atau tren yang berkembang dalam dunia perpustakaan)
    • literasi informasi
    • etika profesi
    • manajemen perpustakaan
    • kepemimpinan
    • strategi mengelola perpustakaan (pengalaman pengelola perpustakaan yang berada dalam lingkungan terbatas, namun dapat sukses patut dijadikan narasumber. Atau bisa juga kerjasama dengan praktisi lain)
    • evaluasi informasi di internet 
    • ....
  • meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan perpustakaan, dalam bentuk belajar bersama tentang:
    • pengolahan koleksi
    • klasifikasi
    • tata ruang perpustakaan
    • SOP
    • pengembangan koleksi
    • ....
  • meningkatkan kemampuan teknologi informasi, dalam bentuk belajar bersama tentang:
    • optimalisasi mesin pencari (google, bing dll)
    • pemasangan, dan penggunaan sistem informasi perpustakaan SLiMS
    • penggunaan google drive dan aplikasi cloud lainnya
    • instalasi linux, blender, GIMP,  dan penggunaannya
    • instalasi Xmind, drupal, wordpress, zotero, mendeley, Lyx dan belajar penggunaannya
    • tips membuat presentasi menarik
    • programming sederhana
    • modifikasi fitur sistem informasi perpustkaan SLiMS
    • ....
  • menyebarkan aplikasi berbasis opensource kepada para pengelola perpustakaan dan pemerhati perpustakaan
    • instalasi sistem informasi perpustakaan SLiMS pada berbagai perpustakaan, baik secara probono maupun berbayar
    • menyelenggarakan pelatihan penggunaan sistem informasi perpustakaan berbasis opensource (pelatihan berbayar: keuntungan finansial bisa digunakan untuk menggerakkan komuntitas, memberi kenang-kenangan pada narasumber dari pihak luar dll)
    • ....
  • bekerjasama dengan berbagai pihak untuk pengembangan perpustakaan dan pengelola perpusakaan
    • ATPUSI, KPLI, IPI, programmer,  Perpusda, Perpus kota, akademisi jurusan perpustakaan, akademisi bidang lain dalam bentuk kerjasama acara atau mengundang sebagai narasumber belajar bersama.
    • Komunitas juga dapat mengundang para pustakawan (praktisi), atau pengelola TBM untuk berbagi pengetahuan.
    • ....
  •  membuat produk komunitas
    • membangun katalog induk, (sebagai sarana belajar dan juga mempererat hubungan antara anggota komunitas)
    • membuat fitur baru dari aplikasi (SLiMS) sesuai kebutuhan anggota
    • membangun taman bacaan (siapa tahu ada komunitas yang dapat mengembangkan komunitasnya menjadi yayasan :) ) 
    • ....
Pendanaan:
  • iuran ketika belajar bersama (misal sekali pertemuan Rp2000)
  • pendaftaran pelatihan profesional (pelatihan berbayar) --> berdasarkan situasi dan kondisi di masing-masing komunitas
  • jualan jasa, baik kepada institusi atau kepada perorangan. Misalnya jasa implementasi SLiMS di institusi tertentu yang meminta, atau kerjasama dengan perpustakaan daerah mengisi acara workshop SLiMS untuk sekolah, dll. 
Tempat kegiatan
  • sekolah tempat anggota komunitas bekerja
  • pos ronda
  • masjid
  • balai desa
  • rumah anggota
  • kerjasama dengan instansi
  • ruang publik lainnya


------
Visi dan misi ini, tentunya dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pengelola masing-masing komunitas.
Pimpinan Komunitas dituntut untuk jeli melihat situasi tentang kebutuhan komunitasnya, trend bidang perpustakaan yang sedang berkembang, dan jangan selalu terjebak pada jumlah anggota atau jumlah yang datang ketika mengadakan kegiatan.
Satu, dua, tiga, empat orang yang datang tidaklah jadi persoalan.

Tuesday, 24 December 2013

Peta Fitur SLiMS

Ini adalah peta fitur dalam SLiMS:
Ukuran asli, unduh di sini,  
versi 2.0 di sini
Ini adalah peta fitur yang ada di SLiMS. Tak terasa sejak 2008 sampai saat ini, rekan-rekan pengembang SliMS khususnya para programmer, database design, konseptor dan juga komunitas pengguna telah memasang berbagai fitur dalam SLiMS.
Peta yang ada belum merepresentasikan fitur dalam SLiMS secara keseluruhan.


Tuesday, 17 December 2013

Seni "thek-thek"

Kentongan, alat komunikasi   ini sangat dikenal secara luas. Kentongan dapat dibuat dari bambu atau kayu.
Kentongan yang dibuat dari bambu, di kampung saya biasanya digunakan untuk bunyi-bunyian pada saat ronda kampung, atau karnaval 17-an.
Hal inilah yang kemudian menginspirasi Tugino -seorang seniman yang bertempat tinggal di Gondang Rejo, Gari Wonosari- membentuk kelompok kesenian yang memanfaatkan bambu sebagai bahan membuat gamelan.  Layaknya gamelan pada umumnya, alat musik dari bambu ini juga terdiri dari beberapa unsur gamelan. Meskipun ada beberapa tambahan alat musik non-bambu. Misalnya kendang, siter, kecrek. Sedangkan gambang, dan bahkan Gong terbuat dari bambu.
Bunyi yang dihasilkan, dipadu dengan suara waranggono yang merdu tentunya nyaman dinikmati.
Nuansa etnik kental terasa.

beraksi

siap-siap

dados lurrr

Saturday, 14 December 2013

Nyinom dan rewang: wujud persaudaraan yang harus dilestarikan

Tulisan sederhana ini saya dedikasikan untuk tetangga, keluarga, rekan, sahabat dan semuanya yang telah membantu gawe orang tua saya pada awal bulan (12/13).  Sungguh, kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segenap bantuan dari awal hingga akhir. Mohon maaf jika selama acara ada banyak kesalahan kami selaku tuan rumah. 

-------

Tanggal 1 dan 2 Desember tahun 2013 ini orang tua saya punya gawe. Ngunduh mantu, tasyakuran pernikahan adik saya.

masak mburi
Ada hal menarik yang hendak saya ceritakan tentang acara ini.

Ketika ada yang punya gawe, di kampung muncul kegiatan “nyinom” atau “rewang”. Kegiatan ini merupakan wujud dari kekeluargaan atau gotong royong di desa.

Nyinom merupakan istilah yang digunakan untuk kaum laki-laki, sedangkan rewang biasanya digunakan untuk kaum perempuan. Nyinom bagi kaum laki-laki dilakukan dengan membantu si empunya rumah dalam menyukseskan “gawe”. Misalnya: memasak air, mencuci gelas, melayankan makanan, melayani tamu, mencari daun untuk bungkus makanan, memasang dekor, menata meja kursi,  mengelola parkir dan lain sebagainya.

hiburan "thek-thek" (alat musik dari bambu)
Sedangkan rewang, biasanya dengan masak nasi, masak lauk, menata bumbu, membungkus nasi, memotong kue dan lainnya.

Kegiatan ini dilakukan layaknya orang kota, ada panitia dengan strukturnya.  Kepanitiaan dibentuk beberapa waktu sebelum hari H, setelah terbentuk kemudian dilakukan “klumpukan” (berkumpul). Menjelang hari H, para panitia ini mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk hari H. Mulai dari mencari/meminjam meja kursi, piring, membuat panggung dan lain sebagainya.

njayengan
Munjung, merupakan acara yang biasanya dilakukan H-1. Acara ini berwujud kegiatan mengirim makanan kepada para saudara si empunya gawe dan juga kepada perangkat pemerintahan terutama dusun dan desa.

Punjungan kepada perangkat desa/dusun inilah yang kadang jadi simalakama. Karena perangkat pemerintahan yang dikirimi “punjungan” otomatis “harus” ikut “nyumbang”. Nyumbang merupakan kegiatan mendatangi orang yang punya gawe, baik diundang maupun tidak dan memberikan sumbangan berupa bahan makanan atau uang. Bayangkan! jika dalam sebulan, seorang perangkat desa/dusun dipunjung 10 orang dan kepada tiap orang rata-rata menyumbang 25.000. Maka sudah Rp250.000 dikeluarkan dalam sebulan. 

Di desa, tamu tidak harus dengan undangan. Tetangga dekat, biasanya datang dengan tanpa undangan. Justru menjadi tidak etis jika tetangga dekat diminta hadir dengan diberi undangan resmi.

###

Jangan kaget, jika pada hari H, antara sinoman laki-laki dan perempuan, justru para perempuan lebih
persiapan
dulu datang. Mereka datang pada bagi buta dan langsung memasak, sementara biasanya laki-laki datang pada pagi harinya. Untuk siapa para wanita yang datang pagi buta ini memasak? Untuk para sinoman laki-laki.
Ketika pagi, sinoman laki-laki datang, pertama kali langsung dipersilakan sarapan dengan masakan yang hasil olahan para rewang perempuan yang datang lebih dulu. Baru ketika sinoman laki-laki selesai sarapan, para perempuan ini makan.
Jangan heran, inilah wujud pengabdian para perempuan ini kepada laki-laki. Hal ini juga berlaku ketika makan siang dan sore. Para perempuan akan makan setelah sinoman laki-laki makan. Betama mulianya para wanita.

Beberapa kegiatan selama gawe ada beberapa macam.
Laden, merupakan kegiatan menyajikan makanan dan minuman kepada tamu. Biasanya laki-laki menggunakan “beki” atau semacam nampan untuk membawa makanan dan minuman. Kemudian penerima tamu yang selalu siap diruang utama sigap menurunkan makanan dan minuman ini untuk tamu.

adang sego
Among tamu, merupakan bagian yang menyiapkan tempat duduk sekaligus mempersilakan tamu untuk duduk. Among tamu harus pintar-pintar mengatur lokasi agar tidak sampai penuh. Among tamu biasanya koordinasi dengan bagian “prasmanan”. Bagian prasmanan mengatur alur antrian makan. Kerjasama dua bagian ini akan melancarkan proses makan para tamu dan juga menjaga agar ruang tamu yang digunakan transit tamu tidak penuh. Ketika tamu sudah duduk sementara waktu sambil minum, kemudian dipersilakan makan di ruang prasmanan lalu pulang. Demikian seterusnya silih-berganti

Jayengan, merupakan bagian yang tugasnya membuat minum. Meski cuma membuat minum, tugas juruh”. Juruh merupakan air putih panas yang diberi gula. Juruh digunakan untuk campuran membuat teh, atau sekedar membuat air putih manis panas.
ini juga berat. Dia harus menjaga agar suplai air panas tidak tersendat, kemudian digunakan untuk membuat teh dan juga “

Adang, merupakan kegiatan memasak nasi. Ini juga berat, karena harus memastikan suplai nasi yang telah masak tidak tersendat untuk melayani tamu. Bayangkan jika tamunya datang bersamaan, dan bagian ini tidak sigap, pasti akan terjadi kekacauan. Adang biasanya dilakukan dengan soblok atau panci besar dan memasaknya menggunakan kayu bakar.

Para sinom di bagian adang dan jayengan harus punya pandangan yang prediktif, harus tahu kapan waktu-waktu tamu datang dalam sehari.

Selain beberapa bagian di atas, ada bagian lainnya yang tak bisa dianggap sepele. Pengelola snack (gedhong njero) yang menyiapkan makanan kecil untuk tamu, pencatat tamu dan bawaan tamu, “uleh-uleh” yang harus sigap menyerahkan nasi dan lauk kepada tamu yang hendak pulang. Bagian uleh-uleh ini juga harus jeli agar “tenggok” yang dipakai tamu membawa barang sumbangan tidak tertukar. Ada lagi bagian perparkiran, asah-asah (mencuci piring), dan lainnya.

Apa yang dilakukan oleh si empunya gawe  ketika acara ini? Mereka duduk saja menunggu tamu. Tabu jika ada anggota keluarga ikut membantu teknis acara. Saya pernah ketika gawe tanggal 1-2 Desember ini iseng membantu laden, alhasil saya ditegur, “mboten wonten tiyang sanes nopo mas?” (apa tidak ada orang lain yang bisa bantu mas?). Padahal saya ikut laden hanya sekedar ingin merasakan nuansa laden yang pernah saya lakukan ketika tetangga punya gawe.

Kesemua bagian ini dipimpin oleh ketua sinoman. Ketua sinoman terdiri dari ketua sinoman laki-laki dan perempuan. Ada pula yang menentukan wakil keluarga yang punya gawe pada struktur
kepanitiaan. Wakil keluarga ini berguna sebagai rujukan jika ada permasalahan yang membutuhkan si empunya gawe untuk menyelesaikan.

Demikian, tulisan singkat tentang tradisi yang ada dikampung saya, Ngliparkidul, Nglipar GK Yogyakarta. Jika ada update, akan saya susulkan sebagai tambahan tulisan.

Pada artikel berikutnya, saya akan ceritakan seni etnik yang pernah mengiringi acara tasyakuran di tempat saya.



Friday, 13 December 2013

Buah manis perjuangan komunitas pustakawan

Duaribu tigabelas adalah tahun yang istimewa untuk kami, Tim SDC (SLiMS Developers Community). Tahun ini SLiMS lebih dikenal lagi oleh berbagai kalangan pengelola perpustakaan. Hanya dibutuhkan usaha untuk mengunduh, mempelajari dan kemudian mengimplementasikan pada berbagai jenis perpustakaan.
Tahun ini pula, SLiMS mendapat testimoni dari seorang pegiat SLiMS (istilah ini digunakan untuk menyebut sosok aktivis SLiMS) dari Australia yang dikenal dengan Guru Jim. “SLiMS is too good to be a secret - I want to help share it with the world”, begitu katanya. Jim juga berkesempatan membuat testimoni dalam bentuk video.
peserta slimscommeet 2013
Daniel D’Esposito dari Huridocs Executive Director pun tidak kalah dalam mengomentari SLiMS, “I amhoping it will be the winner so we can promote it like crazy”, tulis Daniel di sebuah artikel.
Selain itu, perjuangan mengenalkan pada para pustakawan bahwa kita (Indonesia) punya aplikasi SLiMS yang dapat digunakan oleh berbagai jenis perpustakaan; dan dapat menekan biaya yang biasanya dikeluarkan oleh perpustakaan terasa manis pada akhir tahun 2013 ini.

SLiMSCommeet (SLiMS Community Meetup) yang digelar di Bogor tanggal 7 - 8 Desember 2013 adalah buktinya. Commeet kali ini dihadiri oleh komunitas SLiMS dari Thailand, Mr. Prasitichai dan Mr. Rappepong. Hal yang lebih menggembirakan lagi, ternyata rekan-rekan pegiat SLiMS Thailand ini menggunakan SLiMS untuk perpustakaan daerah di Thailand. Sungguh kepercayaan yang luar biasa.

Tidak mau kalah dengan komunitas SLiMS Thailand, komunitas SLiMS dari Indonesia yang hadir pada Commeetpun punya cerita menarik. Kami, para developer pernah berfikir; 

bersama slims thailand
tak terbayangkan sebelumnya hanya karena sebuah software, rekan-rekan pegiat SLiMS dan perpustakaan rela berjibaku datang jauh-jauh dari berbagai pulau di Indonesia untuk datang dan berkumpul.

Tak ada keuntungan finansial ketika datang di acara ini bahkan mungkin justru banyak yang dengan dana sendiri. Namun begitulah, kami ucapkan banyak terimakasih pada para pegiat SLiMS di berbagai tempat. Semoga kita semua dapat lebih memajukan perpustakaan kita di tahun 2014 nanti.

Thursday, 12 December 2013

[Terima Kasih 2013] Tahun Menemukan Bentuk Ideal Perpustakaan

kegiatan di perpustakaan FT UGM
dimuat dalam: citizen6
Tahun 2013 adalah tahun kedua saya diberi amanah menjadi penanggungjawab perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM), tepatnya sejak Mei 2012.

Dengan kondisi perpustakaan yang baru direnovasi, koleksi yang disusutkan 80% menjadi tantangan tersendiri untuk saya. Renovasi perpustakaan sendiri, meski sudah diresmikan pada awal 2012, baru secara penuh selesai di bulan-bulan akhir 2012.

Memposisikan perpustakaan fakultas di antara perpustakaan jurusan yang sudah mapan secara koleksi dan layanan merupakan sebuah tantangan. Akhirnya saya membuat rencana strategis dalam pengembangan; pertama penataan ruang secara berkelanjutan, pengembangan kemampuan staf, pengadaan koleksi khas, dan pengembangan kegiatan kreatif.

Perpustakaan kami bagi menjadi 2 kategori ruang; merah untuk ruang khusus belajar mendiri dan tak boleh ada diskusi, hijau untuk ruang yang dapat digunakan untuk diskusi dengan suara rendah. Beberapa asesoris perpustakaan juga berhasil kami wujudkan pada tahun ini. Teman-teman pustakawan pun kami ajarkan berbagai tips mencari informasi di internet dan juga workshop tools akademik.

Pengadaan koleksi khas yang berupa novel, cerpen, biografi, filsafat, dan semacamnya ternyata mendapat sambutan dari mahasiswa. Hal ini sangat wajar, karena di fakultas hanya kami yang menyediakan koleksi non-teknik seperti ini.

Pengembangan kegiatan kreatif juga menjadi inti yang kami kembangkan. Jika ada mahasisswa yang mencari koleksi artikel jurnal dan tidak dimiliki perpustakaan atau tidak dilanggan perpustakaan, kami bantu untuk mendapatkannya dari berbagai jejaring yang kami miliki. Tawaran berbagai workshop terkait tools akademik juga mendapat sambutan. Ada workshop zotero, mendeley, lyx, pencarian jurnal, dan prezi.

Selain itu, kami mengajak mahasiswa untuk berkegiatan di perpustakaan. Bedah buku, diskusi, dan juga yang baru-baru ini kami lakukan adalah membuat Library English Club.

Sambutan datang tidak hanya dari mahasiswa, namun staf (karyawan) juga mulai memanfaatkan jasa perpustakaan. Dosen juga mulai ada yang berkontribusi dalam pengembangan perpustakaan dengan mengisi workshop, memberi masukan dan menyumbangkan koleksi. Di 2014, saya berharap apa yang telah kami lakukan dapat terus dikembangkan dengan berbagai perbaikan. (mar)

Penulis
Purwoko
Yogyakarta, tamanjxxx@gmail.com

Wednesday, 11 December 2013

Release Meet Up SLIMS Community Meet Up 2013

Release Meet Up SLIMS Community Meet Up 2013
logo slims-commeet 2013



SLiMS Commeet2013.... meetup yang luar biasa
Atasnama SDC kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi pada acara SliMS Commeet 2013 di Bogor.

Terimakasih untuk panitia yang tak kenal lelah berjuang menyelenggarakan acara sejak awal hingga akhir dengan berbagai kisah dan cerita heroiknya. Komunitas SliMS Jabodetabek, serta para pegiat dari berbagai komunitas yang turut menjadi panitia.. jarak tak menjadi alasan..tujuan akhirlah yang menjadi alasannya.
Serta kepada STIE Kesatuan atas kerjasamanya, InfoLinux dan Sabhatansa atas supportnya. Juga kepada berbagai admin website yang berkenan memposting pengumuman slimscommeet pada laman webnya.

Untuk para peserta yang luar biasa. Jauh-jauh datang dengan berbagai perjuangan.. rekan dari Aceh dengan SSC-nya... komunitas Padang dengan berbagai inovasi dan perjuangannya.., komunitas Lampung dengan semangatnya; seluruh wilayah jawa dari kudus, demak, pacitan, trenggalek, jogja, semarang, malang, surabaya, bogor, jakarta.Banyak yang sebelumnya hanya bertemu virtual, namun acara di ini kita dapat saling bertemu secara fisik,
Selanjutnya komunitas  Kalimantan, Bali, Sulawesi yang pasti punya cerita hebat dalam perjalanan dan kepulangannya. Serta dari Thailand yang ternyata memberikan kepercayaan besar kepada SliMS.

Mr. Jim from Australia, terimakasih untuk video testimoninya... umur ternyata tak membatasi aktivitas anda.. Commeet tahun depan anda harus hadir J

Terimakasih untuk pak Onno Purbo atas teknologi sederhana namun penuh tenaga; Pak Rusmanto atas pencerahan terkait lisensi dan bisnis pada bisang opensource; Mr. Prasitichai dan Mr. Rappepong...untuk informasi berharga slims di Negeri Gadjah Putih.. Mas Waris Agung Widodo yang berbagi tips modifikasi template

Para koordinator komunitas di berbagai daerah yang telah bersusah-susah mengembangkan komunitas, menjaga dan  menghidupkannya.. serta para komunitas SliMS di seluruh jagad raya.. anda adalah ujung tombak dari acara ini, ujung tombak pengembangan SliMS, dan.... juga  ujung tombak perkembangan Kepustakawananan  Indonesia.

SliMS memang hanya sebuah software, namun kita semua menikmatinya
SliMS memang belum genap sewindu berumur, namun rekan sekalian telah membantu mematangkannya
SliMS bukan yang terbaik, namun rekan sekalianlah yang menjadikannya terus lebih baik
Yang mahal di SLiMS adalah semangat kita

SliMS, dan kami semua dari core developer tak dapat memberikan apa-apa kepada para pegiat SliMS sejagad raya.. kecuali ucapan terimakasih dan ajakan untuk kita bergandeng tangan mengembangkan kepustakawanan di Indonesia khususnya agar semakin maju. Masih ada banyak hal yang bisa dikolaborasikan untuk pengembangan SLiMS dan kepustakawanan di Indonesia, percayalah.
Mengembangkan kepustakawanan dari segala sisinya. Jadikan SliMS sebagai perekat, perekat, perekat kebersamaan kita. Berkegiatanlah dengan tema apapun dalam dunia kepustakawanan, dan jadikan SliMS sebagai perekatnya...

Mohon maaf atas segala khilaf
Sampai jumpa di SLiMS Commeet2014

Salam SliMS Brotherhood, Fun-Flexible-Freedom
  1. Purwoko
  2. Hendro Wicaksono
  3. Arie Nugraha
  4. Wardiyono
  5. Rasyid Rido
  6. Arif Syamsudin
  7. Indra Sutriadi
  8. Eddy Subratha
 dimuat dalam: slimscommeet
pesta
SDC

Onno Purbo

SliMS Thailand
Eddy Subratha

Hendro W

peserta

 

Tuesday, 5 November 2013

SLiMS Commeet 2013

[dari panitia slimscommeet 2013]
Assalamu'alaikum. Ada acara bagus untuk pecinta SLiMS semua, SLiMS Community Meet Up 2013 di Bogor. Dalam acara ini semua komunitas dari seluruh daerah di Indonesia akan hadir. Pengisi acaranya tidak main-main, ada Pak Rusmanto dari Infolinux, Pak Onno W Purbo, dan tim developer Senayan Slims.
Poster acara: http://www.slimscommeet.web.id/index.php/commeet-2013/seminar-nasional-slims-community-meet-up-2013
Info pendaftaran: http://www.slimscommeet.web.id/index.php/registrasi
Rute Lokasi: http://www.slimscommeet.web.id/index.php/commeet-2013/peta-dan-rute-lokasi-slims-community-meet-up-2013
Info lebih lanjut silahkan kunjungi http://www.slimscommeet.web.id/ atau https://www.facebook.com/events/265797156878505/?ref=5. Jangan lupa di LIKE di halaman https://www.facebook.com/SLIMSCOMMEET . Terima Kasih

Monday, 4 November 2013

Muhasabah pasca 365 hari

oleh: Purwoko
(tulisan ini bagian dari laporan tengah tahun 2013)
“Library is a growing organism” (SR Ranganathan)
Ungkapan di atas disampaikan oleh Ranganathan pada formula filsafat perpustakaannya; atau orang sering menyebut hukum perpustakaan. Perpustakaan adalah organisme yang terus tumbuh. Sehingga kreatifitas untuk menyehatkan perpustakaan harus terus dikembangkan.
Ini adalah tulisan menjelang 1 tahun saya berada di Perpustakaan FT UGM, tepatnya awal mei 2013. Selama satu tahun, saya merasa belum dapat mengantarkan perpustakaan Fakultas Teknik UGM ke bentuk idealnya. Atau mungkin, bentuk ideal itu juga masih samar-samar atau belum tervisikan oleh saya. Masih compang-camping di berbagai sisi…..
Perpustakaan ini memang unik. Hidup di antara perpustakaan jurusan yang lebih bergairah nuansa akademiknya daripada perpustakaan fakultas. Koleksi buku, jurnal tercetak, tugas akhir, proseding dan koleksi lain ada di perpustakaan jurusan. Pada sisi substansi, selama ini perpustakaan fakultas hanya menjadi pelengkap keberadaan perpustakaan jurusan terutama terkait akreditasi.
Semenjak direnovasi oleh pihak sponsor, perpustakaan memasuki babak baru. Buku berkurang 80% karena diserahkan ke perpustakaan jurusan, rak dikurangi, fasilitas ditambah berupa komputer dan internet; label baru disematkan yaitu label e-library. Keputusan ini terjadi pada era sebelum saya. Keadaan baru ini menuntut kegiatan baru pula, sayangnya keadaan ini tidak dibarengi dengan grand disain pembaharuan SDM baik terkait pendidikan ataupun kemampuan, baik berupa penggantian atau konsep pelatihan-pelatihan.
Keadaan yang baru ini mengakibatkan berkurangnya kegiatan “meminjam-mengembalikan” buku yang merupakan kegiatan utama perpustakaan sebelum direnovasi. Kegiatan ini merupakan kegiatan andalan dan beberapa staf hanya bisa melakukan ini. Pada evaluasi akhir tahun 2012 kegiatan sirkulasi koleksi sangat minim, padahal ada 3 staf yang ditempatkan pada bagian ini.
Sebagai perpustakaan yang “baru”, ada berbagai hal yang baru yang mestinya dilakukan. Amanah dari Dekan FT UGM, pada masa awal penunjukan saya sebagai penanggungjawab perpustakaan, adalah “percepatan fungsi perpustakaan”. Mungkin ini memang tabiat pengemban amanah pada level manajeman, yang hanya memberikan kata kunci, sementara penerjemahannya diserahkan pada para bawahannya.
Beberapa waktu di perpustakaan, saya memang merasakan berbagai hal yang harus berubah. Dari sisi SDM terkait kemampuan, keaktifan serta ketertiban; dari sisi kegiatan perpustakaan yang harus mencari kegiatan baru sebagai “penambal” kegiatan yang sudah hilang sekaligus menjalin hubungan dengan perpustakaan di tiap jurusan agar dapat berjalan seiring.
Enam bulan pertama, adalah masa-masa penuh tekanan bagi saya. Bahkan masih terasa hingga tulisan ini ada.
Dalam kurang lebih satu tahun ini, masih ada berbagai hal yang perlu diperbaiki. Namun demikian, ada pula hal-hal yang dapat kami raih. Munculnya katalog induk antar jurusan dan dengan perpustakaan fakultas, munculnya beberapa kegiatan kreatif yang harus menjadi salah satu core kegiatan perpustakaan, pengelolaan abstrak tugas akhir, perbaikan tata ruang, jalinan kerjasama non-formal dengan alumni dan perpustakaan lain dalam rangka pemenuhan kebutuhan referensi (jurnal online) serta beberapa yang lain.
Hal lain yang kami lakukan adalah pengadaan buku non teknik. Baik berupa novel, filsafat, cerpen, biografi, motivasi dan lain sebagainya. Pada awal pengadaan memang ada yang mempertanyakan namun dengan beberapa penjelasan akhirnya diloloskan juga.
Beberapa hal masih perlu diperbaiki, yang semestinya jika ada pada posisi ideal dapat menopang beberapa inovasi yang dilakukan. Perbaikan itu mencakup perbaikan kinerja staf, peningkatan kemampuan staf, rasionalisasi jumlah staf, standarisasi kompetensi staf disesuaikan dengan tuntutan perpustakaan saat ini. Dengan mencari kegiatan baru, beberapa staf telah punya tanggungjawab yang mendekati proporsional dalam perpustakaan, namun demikian harus saya akui masih ada yang jauhdari proporsional.
Jika disederhanakan, saya berfikir bahwa idealnya para pengelola perpustakaan di fakultas teknik UGM (Perpustakaan Fakultas) harus memiliki keahlian spesifik pada tiap individunya.
Beberapa keahlian tersebut adalah: literasi informasi (kemampuan mendeteksi kebutuhan, mencari, menemukan, mengevaluasi informasi, menggunakan informasi dan meramunya menjadi pengetahuan), penguasaan pada tool (perangkat lunak) pendukung akademik, kemampuan meresensi buku, kemampuan menulis, kemampuan mengelola website (mengisi dan mendisain), kemampuan blogwalking terutama terkait pengembangan perpustakaan dan pemenuhan kebutuhan informasi mahasiswa, kemampuan mengelola jaringan internet, mengelola software komputer, dasar-dasar penelitian, kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, dasar-dasar bahasa Inggris.
Jika disederhanakan lagi, sesuai yang disampaikan David McClelland maka pustakawan harus punya N-Ach atau kemauan/kebutuhan untuk berprestasi, N-Aff atau kebutuhan untuk berjejaring dengan orang lain dan berbagi, serta N-Pow atau kebutuhan untuk meningkatkan posisi tawar. Ketiganya harus didukung dengan kemauan dan kreatifitas.
Masih ada banyak hal yang harus dilakukan…. semoga energi akan terus ada, dan diberi kesanggupan. Penilaian atas apa yang ada di perpustakaan, saya serahkan sepenuhnya pada para stake holder; baik mahasiswa, dosen, staf, karyawan, manajemen fakultas dan lain sebagainya.
“Aku tidak bermaksud, kecuali melakukan perbaikan selagi aku masih berkesanggupan” (Syuaib, AS)

Thursday, 10 October 2013

SliMS, Komunitas yang Menyediakan Software Perpustakaan

Sumber: klik
Berita terkait:klik



Citizen6, Jakarta: Komunitas SliMS Indonesia merupakan komunitas yang berisi pustakawan, programmer, guru atau siapapun yang tertarik dengan perpustakaan serta teknologi informasi. Komunitas ini direkatkan dengan kesamaan hobi pada sistem informasi perpustakaan SliMS. SliMS sendiri merupakan aplikasi opensource untuk pengelolaan perpustakaan. Siapapun bisa mengunduh, menggunakan, memodifikasi dan menyebarkan aplikasi ini. Website resmi SliMS ada di http://slims.web.id
Pembentukan
Ide pertama komunitas ini adalah para pengembang SliMS sendiri yang membentuk komunitas yang dinamakan SDC (SLiMS Developer Community) sekitar tahun 2008. Namun akhirnya, komunitas ini tersebar di seluruh Indonesia mulai dari SliMS Jogjakarta, SliMS Jabodetabek, SliMS Semarang, SliMS Malang, SliMS Ambon, SliMS Gorontalo dan lain sebagainya. Pengguna SliMS juga berasal dari beberapa negara lain, seperti Malaysia, Thailand, Bangladesh. Bahkan pengembangannya dibantu programmer dari Jerman, Spanyol, Thailand, Bengali dan juga Brazil.

Tujuan dari komunitas ini adalah meningkatkan kompetensi para pengelola perpustakaan dalam hal teknologi informasi, mempromosikan penggunakan aplikasi opensource dalam pengelolaan perpustakaan, yang pada akhirnya dimaksudkan agar perpustakaan dalam level apapun (sekolah, NGO, perguruan tinggi, pribadi) dapat memperoleh aplikasi sistem informasi perpustakaan yang murah namun teknologinya dikuasai sehingga menumbuhkan kemandirian dalam pengelolaannya.
Komunitas ini beraktifitas secara online dan juga offline. Kegiatan online dilakukan dengan diskusi tentang perpustakaan serta teknologi untuk perpustakaan. Group online ada di facebook(http://slims.web.id/fb/), berbagai blog komunitas SliMS daerah, serta forum http://slims.web.id/forum. Sementara itu kegiatan offline dilakukan dengan berkumpul, belajar bersama tentang software perpustakaan SliMS atau pendampingan pengelolaan perpustakaan pada tiap daerah serta pertemuan secara nasional.
Produk
Komunitas ini juga menciptakan produk. Selain bersama-sama mengembangkan SliMS yang banyak digunakan berbagai perpustakaan, melakukan kegiatan pendampingan serta belajar bersama dalam menggunakan SliMS, komunitas juga mulai membangun berbagai portal katalog induk perpustakaan. Katalog induk merupakan perangkat untuk mencari koleksi berbagai perpustakaan dari satu pintu. Mulai dari komunitas SliMS Jogja yang membangun jogjalib.net/ucs kemudian disusul SliMS Priangan Timur dengan primurlib.net, ambonlib.net, gorontalolib.net, makassarlib.net.
Bagi anda yang tertarik pada dunia perpustakaan, memiliki perpustakaan atau mengelola perpustakaan, mari bergabung dengan komunitas SliMS! (Purwoko/Arn)
*Purwoko adalah pewarta warga.

Tuesday, 8 October 2013

20 tools and apps for digital journalists

http://www.journalism.co.uk/news/20-tools-and-apps-for-digital-journalists/s2/a554321/?utm_content=buffer94688&utm_source=buffer&utm_medium=twitter&utm_campaign=Buffer


A collection of some of the best storytelling, search and productivity tools and apps for journalists
Toolbox
Copyright: Image by florianric on Flickr. Some rights reserved
Storytelling tools: Five easy ways to create visual stories that can be embedded within a news story

1. Storify: A journalist favourite

No list of journalism tools would be complete without Storify. This tool allows you to drag and drop tweets, YouTube videos and other social media elements into a post and add explainers.

2. Datawrapper: An easy-to-use tool for creating charts which was built by journalists, for journalists

Datawapper is quick and easy to use. Simply copy a table from a spreadsheet, paste it into a box on Datawapper, and click a button to create an interactive chart. You can then copy and paste the iframe code to embed it.

Here's one we made earlier:



3. ThingLink: For adding rich links to images


If you have a photograph or image that needs some explanation, use ThingLink to add links to media, such as Wikipedia, YouTube and Twitter.

Here's an example from German newspaper Berliner Morgenpost, which used ThingLink to add explainers to a photo of the situation room in the White House on the day Osama bin Laden was killed.





Follow this link to see how NME.com used ThingLink to add music references to a poster. There are also other tools which offer similar functionality, such as Taggstar.

4. Timeline JS: Turn a Google spreadsheet into an interactive timeline

Creating timelines using Timeline JS is a joy. It is as simple as entering date details, image URLs, and captions in a Google spreadsheet. The instructions are on this page.

Here's one we made as an example, which includes a Wikimedia Commons image, a Flickr image, a YouTube video and a Google map.

5. Tableau: For making interactive data visualisations

Tableau Public is a free tool for making interactive graphs and other visualisations that allow your readers to explore the numbers behind a story.

Here is one published by The Wall Street Journal.

Search tools: Six tools for smarter searching

6. Storyful MultiSearch: For fast social media searches

This Chrome app allows you to enter a keyword and search a range of social media platforms with a single mouse click. A series of browser tabs are opened and you can toggle through the results.

Storyful MultiSearch

The open source tool was released at the end of August and has already had new search options added by the open source community.

7. WolframAlpha: A smarter search engine

WolframAlpha describes itself as a "computational search engine". What it allows you to do is enter a phrase or question and it will give you a collection of relevant information.

For example, I could ask "what was the weather in Islamabad when Osama bin Laden was killed?" The platform will compute the information and know that the event happened on 2 May 2011. The results also show what the weather was like on 2 May in previous years.

WolframAlpha

8. FollowerWonk: For searching Twitter bios

If you are trying find a potential source or contact on Twitter, this tool lets you search the information in people's bios. I might want to find a journalist in Poland, for example, or perhaps a lawyer specialising in employment law.

9. Topsy: A Google for Twitter


Topsy allows you to search every tweet going back to 2006. The 'search by date range' option is particularly useful. In the example below I searched for tweets mentioning Osama bin Laden between 1 and 3 May 2011 (he was killed on 2 May 2011).

Topsy

10. TinEye: To help you find fake photos

TinEye lets you upload a picture or add an photo URL and see if that image has been previously shared online.

A great example was when a picture was circulated during Hurricane Sandy, purporting to show dramatic skies over New York. This post by Storyful explains how verification experts found it was a fake when TinEye enabled them to find an image of stormy sky taken in Nebraska in 2004. A hoaxer had simply doctored that image, adding the Statue of Liberty.

Sandy
11. Banjo: An iPhone app for searching for people

Banjo lets you search for social media users at a particular location. Search terms then can be added to filter further. There is a great example from 2012 of a US news outlet using Banjo after receiving initial reports of an incident in a shopping mall. Journalists were able to see which social media users were close by and contact them.

Banjo

Not got an iPhone? GeoFeedia allows you do similar searches online.

Mobile reporting apps: Five apps to make you a mobile journalist

12. iSaidWhat: A great audio option (£2.49)

This is a great iPhone app for recording audio. It's simple, saves files even if you get interrupted during a recording, and allows you to share audio over a wifi network or via USB.

13. FiLMiC Pro: An iPhone video camera upgrade (£2.49)

An iPhone app for recording video that offers manual control over sound, white balance, focus and exposure. (And one recommended by mojo experts Marc Settle and Glen Mulcahy)

14. Voddio: Turns your iPhone into an editing suite (free but you pay to unlock the sending functions)

Voddio lets you edit audio and video packages on your phone or iPad. It is much used by BBC 5 Live journalist Nick Garnett (aka 'the iPhone guy').

Voddio

15. Bambuser: Livestream video from your phone (free)

Bambuser is not limited to the iPhone; it can be used on a multitude of devices. Simply open the app or mobile site, hit record and you are livestreaming.

You can add an embed into a news story if you want to broadcast that feed on your site.

16. SoundCloud: A community with which to share audio

SoundCloud is great for sharing audio interviews or podcasts. We use it here at Journalism.co.uk (and have notched up no fewer than 43,660 followers!).

The app is available for a range of devices and now lets you trim clips before sharing.

Productivity aids for journalists: Four tools for making life easier

17. Transcribe: A web app for making it easier to transcribe interviews ($20 a year)

If you regularly record interviews and transcribe quotes, do you often find yourself toggling between a text editor and an audio player? If so, Transcribe will save you time.

You upload the audio and write within the window below the player. When you hit 'escape' to pause and then again to play, the audio automatically rewinds a second or so, which is a real help when transcribing.

Transcribe is a Chrome web app, which also means you can use it offline. It was free until this week and there is now a $20 annual charge.

18. Cue: Your own private Google


Cue lets you search your own files. By linking accounts, such as Google Drive, LinkedIn, Dropbox, Twitter and Facebook, you can search for keywords.

In the example below I searched for references to 'Poland'. I found that I have four people, 104 messages, two events, nine files and 1,480 posts with a mentions of the term.

Cue

19. Ping.it: Google Alerts on crack

Recently launched Ping.it is not your average RSS reader. Users can either add a feed or simply set up keyword alerts, and then choose to only get notifications of those alerts if the keyword is in a story with a particular number of Facebook shares, likes or tweets.

Here's an example. If I want to find any news story mentioning 'Warsaw' or 'Poland' I can set up the alert. I can then further control the results by only getting alerts for stories mentioning Warsaw or Poland that have had more than 30 Facebook shares.

Pingit

20. IFTTT: To connect the net and set up alerts

IFTTT stands for If This Then That. It allows you to connect various accounts, such as Facebook, Dropbox, email and SMS.

It can be used to set up alert systems, so you can receive an email (or a text message) when a particular event happens.

Here are two examples:

The first is an alert system for earthquakes, which uses an RSS feed from a geological survey. By connecting that RSS feed and your email, you get a message if a significant earthquake strikes in a particular area.

Wednesday, 14 August 2013

PERS, MEDIA DAN PENGARUHNYA



ditulis tahun 2002

LATAR BELAKANG
Media merupakan alat atau sarana yang digunakan untk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. (Hafied Cangara, 2002). Sedangkan informasi merupakan sesuatu yang bernilai dan bermanfaat yang berbentuk tulisan maupun rangkaian kata-kata serta menginterpretasikan sesuau hal.
Media dapat di kategorikan dalam beberapa hal, yaitu media antar pribadi, media kelompok, media publik sereta media massa.
Media antar pribadi. Media ini bisa berbentuk surat, telepon, ataupun kurir yang mengantarkan informasi tersebut.
Media kelompok merupakan sarana untuk menemukan orang-orang dalam kelompok uintuk saling berinteraksi. Media ini bisa berupa seminar, konferensi serta rapat-rapat tradisional yang sering kita temukan didesa-desa dengan berbagai nama.
Media publik, merupakan media yang mempertemkan banyak orang (massa) yang berinteraksi langsung. Media ini bisa berupa rapat akbar, dialog publik, kampanye.
Media massa memainkan peran untuk menyampaikan informasi pada orang (massa) yang tersebar tak tidak diketahui dimana meraka berada. Madia ini berup surat kabar, film, televisi , dan radio. Media ini bersifat melembaga, satu arah, meluas dan serempak, memakai alat, dan terbuka.
Dalam memahami tentang media dalam suatu komunitas maka kita tak bisa lepas dari apa yang sering disebut pers. Pers merupakan usaha dari alat komunikasi massa untuk memenuhi kebutuhan anggota masyarakat akan penerangan, hiburan, keinginan untuk mengetahui berita yang telah/akan terjadi di sekitar mereka khususnya dan dunia umumnya (Drs. Taufiq, 1997). Diskripsi pers pun dibedakan menjadi dua. Pers dalam arti sempit yang didalamnya termasuk suratkabar (mingguan, harian..), majalah yang tercetak dan diterbitkan. Sedangkan dalam arti luas termasuk radio, televisi, film.
Sedangkan media berfungsi untuk menyampaikan gagasan masyarakat (Satjipto Raharjo, 1998)
Paus Leo XIII memandang pers sebagai alat perantara massa gereja, penolong vitalitas kesegaran, keadilan kebenaran kembali ajaran agama waktu itu. (Prof, Umar Seno Adji, 1977).
Berbicara tentang pers di Indonesia, Abdurrahman Surjomiharjo (1980) menyebutkan bahwa sejak awal pertumbuhannya pers di Indonesia mencerminkan struktur masyarakat majemuk dengan berbagai golongan penduduk. Golongan penduduk tersebut adalah Belanda, Tionghoa, Arab dan India sedangkan Indonesia masih berada dalam berbagai suku.
Pembedaan golongan perspun kemudian dibedakan sesuai dengan golongan penduduk yang ada dengan pertimbangan bahasa penyelenggara pers dan massa yang dituju.

PEMBAHASAN

Media informasi dalam kehidupan bangsa Indonesia muncul dengan beragam peran. Sejak awal perjuangan sampai dengan terjadinya Gerakan September 30 (Gestapu) pertumbuhan pers dan media di Indonesia memperihatkan berbagai kaitan langsung antara usaha desiminasi informasi dengan dinamika politik nasional. Hal ini disebabkan oleh kondisi sosial politik dan finansial yang tadak memungkinkan waktu itu. Periode Orde Lama tidak ditandai dengan bisnis pers dan media yang suksek dalam arti sirkulasi, namun dalam waktu ini lahir RRI dan TVRI yang mampu memberikan rasa persatuan antara berbagai eleman di Indonesia. Dalam kurun waktu Orde baru muncul berbagai bisnis informasi dengan masuknya orang-orang profesional dalam bidang ini serta terjunnya kelompok politik dalam lapangan yang sama.

1. Pra kemerdekaan

Pada tahun 1855, Bromartani surat kabar pertama dengan bahasa Jawa terbit. Pada masa ini pers belum merefleksikan keadaan masayarakat yang ada dalam kekuasaan Belanda dan belum ada keterkaitan dengan usaaha-usaha meraih kemerdekaan.
Pada pra kemerdekaan media informasi di Indonesia dengan bahasa melayu yang pertama diawali dengan unculnya surat kabar Tjahaya Sijang terbit 1869-1927, yang terbit di Minahasa, Sulawesi Utara. Dalam edisi No. 3, Maret, 1989 disebutkan :

“….Djanganlah disangkamu akan kehidupan negeri-negeri yang lebih besar itu lebih baik daripada perdijaman dinegeri kecil. Benarla kehidupan dinegeri besar ini ramai, lebih sedap tetapi janganlah disangka kehidupan itu senang seperti kami merasa di negeri kecil, karena dinegeri besi itu lakunya orang hidup disitu seolah-olah menghambat orang seorang memperoleh kesenangan dan perhentian dan tempoh pada pertimbang-menimbang akan perkata fikiran yang tinggi.
Disitupun seolah-olah manusia hidup saja pada mentjari makan minum dan berpakai yang semuanya gunanya pada tubuh saja,….. disitupun hilanglah perfikiran akan agama !.”

Dalam kalimat diatas dapat kita ambil kesimpulah bahwa problem urbanisasi sudah muncul sejak dahulu. Kehidupan materialistis dan glamour pun sudah menjadi suatu tren pada masyarakat yang disebut sebagai “negeri besar”.
Pesan moral dalam kalimat diatas terus ada sejak dahulu sampai sekarang.
Media informasi ini yang dikelola oleh Belanda selain untuk menyebarkan agama juga memberitakan tentang sejarah yang makin muram dalam kalangan masyarakat melayu saat itu.
Baru pada awal abad 20 beberaopa orang nasionalis (Abdul Rivai dan Tirtoadisuryo) menyadari kekuatan media untuk melakukan penggalangan kekuatan guna kemerdekaan. Sehingga lahirlah Sunda Berita (1903) dan Medan Priyayi (1907). Sejak itulah konsep tentang identitas Indonesia mulai tumbuh dan mencapai puncaknya pada 20-10-1928. Sampai periode tersebut dari 33 surat kabar yang beredar hanya 8 yang menggunakan bahasa melayu selebihnya menggunakan bahasa Belanda dan Cina.
Sejak 1926 di Indonesia juga telah berdiri perusahaan yang memproduksi filam cerita, Java Film Company dengan Loetung Kesarung sebagai film pertamanya. Namun tidak serta merta dengan perkambangan ini merefleksikan perubahan pada sosial kemasyarakatan. Sebab dengan perkembangan tekhnologi inipun acara/programnya hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja. Meskipun paling tidak dengan hal tersebut manusia indonesia mulai di hadapkan pada era kemajuan teknologi serta peradabannya.
Pada pra kemerdekaanpun media informsai sangan berperan pada saat mengumandangkan pembacaan teks proklamasi oleh proklamator (Ir. Soekarno dan Bung Hatta) sekaligus menandai kemerdekaan bangsa Indonesia serta berperan pula dalam hal komunikasi serta pertukaran ide dalam masa perang kemerdekaan.

2. Masa Pasca kemerdekaan

Harian Daulat Rakjat yang terbit di Jogjakarta termasuk koran yang merupakan koran tua pada awal-awal kemerdekaan Indonesia. Selain itu muncul pula berbagai harian yang terbit di daerah-daerah (Indonesia Raja di Bandung). Harrian ini berperan dalam mempublikasikan berita berita tentang kemerdekaan dan perjuangannya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan itu. Serta berperan sebagai penyebar isu-isu atau pemikiran-pemikiran Founding Father Indonesia dalam mendisain negara Indonesia.
Tahun 1962 mulailah bangsa Indonesia dengan perkembangannya dalam hal teknologi informasi. Pada tahun ini lahir RRI dan disusul dengan lahirnya TVRI. Mulai saat inilah bangsa Indonesia merasa tersatukan sebagai sebuah bangsa. Apa yang terjadi pada daerah lain akan segera terespon oileh masyarakat dari daerah lainnya.
Namun pada masa-masa ini pers ditandai dengan relasinay dengan poliitik. Sebut saja Suara karya dan Pelita (Golkar), Harian Angkatan bersenjata dJayakarta dan Berita Yudha (ABRI). Sehingga pers dan media informasi di Indonesia selain efektif untuk perjuangan dan mempertsahankan kemerdekaan juga merupakan eleman sosial yang ditunggangi dengan berbagai kepentingan sehingga terjadi pergulatan antara berita yang jujur dan arogansi pemerintah.
Pada masa Orde Baru muncul media yang berorientasi bisnis dengan masuknaya kelompok profesional dalam bisnis media. Sebut saja PK. Ojong dengan Kompas-nya, kemudian ada Suara Indonesia Baru, Berita Buana, Pikiran Rakyat, tabloit Monitor, Hai, Gadis, dan Mode.
Informasi yang disajikanpun mulai beragam mulai dari fashion, gaya hidup selebriti, kehidupan manusia dalam dan luar negeri, musik, film, olehraga, gosip, dll.
Dengan informasi yang diusungnya maka banyak hal yang menjadi perkembangan masyarakat Indonesia. Jakarta-jakarta dan MATRA majalah gaya hidup yang ditujuakan pada laki-laki telah mendobrak sikap masyarakat Indonesia pada dunia seksualitas yang tabu. Seks telah menjadi hal yang lumrah dengan diakadannya sialog seputar masalah seksualitas melalui media massa dan oinformasi ini. Sehingga seks mulai menjadi komoditas yang nilainya ditentukan oleh prinsip pertukaran ekonomi dalam pasar industri. Hal ini juga di dukung dengan perkembangan dalam dunis perfilman Indonesia. Dengan munculnya film-film yang “panas” seperti Gairah yang Nakal, Guna-guna Istri Muda, Budak birahi, Permainan Tabu, Jari-jari yang lentik, dll.
Sehingga film (dan pemainnya) sebagai media untuk mentransfer informasi (dalam arti yang seluas-luasnya) seringkali didudukan sebagai terdakwa atas merosotnya moral bangsa.

Satu kajian menarik terntang pers dan media informasi pada ordebaru oleh Kuntowijjoyo (1997). Pada massa orde baru terjadi pergrseran sensibilitas media massa. Perubahan sosial berupa lenyapnya dikotomi wong cilik dan priyayi dalam pers sejak kemerdekaan menghadirkan sensibilitas kelas menangah yang terefleksikan dalam media massa selama orde baru. Pada level ideologi terjadi pergeseran dari orientasi politik kearah orientasi budaya.
Era orde baru juga merupakan era yang menjadi titik tolak perkembangan televisi dengan dibangunnya televisi-televisi swasta. Munculnya RCTI, SCTV, TPI , Indosiar dan Anteve (TPI, RCTI, SCTV dikuasai oleh keluarga cendana sendiri) merupakan bukti nyatanya. Saat inilah dalam media informasi khususnya televisi memperlihatkan perkawianan antara bisnis industri dengan kekuasaan yang sangat politis sekali. Sehingga sering ditafsirkan sebagai upaya-upaya kekuasaan orde baru untuk mengendalikan informasi guna melanggengkan kekuasaannya. Sebut saja wajib relai acara kenegaraan presiden oleh TV swasta yang kerap muncul dalam Berita-berita dan siaran khusus pemerintah.
Apa yang disiarkan stasiun televisi di Indonesia bukan hanya seni dan hiburan melainkan pola-pola kultural bahkan etika masyarakat lain dibelahan bumi lain pula. Sehingga banyak hal yang harus berubah akibat dari media ini.
Karakter Doraemon, Sin Chan, Simpson menghegemoni anak-anak Indonesia mulai dari dari gaya hidup mereka. Berbagai gaya hidup muncul dihadapan kita, mulai dari gaya bicara, potongan rambut, sikap cara pergaulan serta pola pikir mereka.
Dari SRI: Quality Starts Here september 1995 didapat keterangan bahwa 25 % siaran televisi Indonesia berasal dari program luar negeri . Namun demikian bukan berarti kita sudah pada jalan yang benar dengan banyaknya produk lokal kita. Banyak program yang di beri label “lokal” ternyata merupakan 1imitasi dari program asing. Lokal lebih berarti penyandang dana, pemain, tempat, tidak menyentuh level ideologi. Sebut saja sinetron kita yang menawarkan kehidupan-kehidupan yang glamour disaat msyarakat Indonesia banyak yang berada di jurang kemiskinan dan penderitaan.
Perkembangan lebih menarik lagi dalam dunia media informasi adalah munculnya media informasi digital yang biasa disebut internet mulai tahun 1990-an.
Dengan memanfaatkan teknologi ini media banyak yang melengkapi publiksinya dengan menerbitkan edisi on-line. Sebut saja Tempo, Republika dan Kompas. Dengan media ini pula bisa dilakukan interaksi dengan masyarakat dengan cara pengiriman e-mail. Tentu saja halini mengakibatkan pembentukan sikap kritisme msyarakat Indonesia. Bahkan beberapa media membuka ruang untu diskusi kritis secara lebih mendalam (jurnal Prisma, Ulumul Qur’an, Kalam, dll).
Meskipun demikian dengan perkembangan ini menyuburkan konsumerisme di kalangan masyarakat Indonesia yang bependuduk 200-an juta jiwa.
Pada masa Reformasi pers dangat dirasakan pengaruhnya bagi warga negara Indonesia. Pada masa ini pers memainkan peranan penting dan bermain dengan kepentingan tentunya meskipun jasa pers pada masa ini cukup besar. Dengan pers dan media informasi kita bisa melihat arus demonstrasi besar-besaran di seluruh penjuru tanah air kita dengan segala perkembangannya, namun bila tanpa kehati-hatian tentunya pers dan media bisa juga barperan sebagai agen provokator oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab

KESIMPULAN

Media informasi merupakan suatu hal yang sangat berperan dn penting dalam kehidupan masyarakat. Terbuti dengan media informasi komunikais bisa berlangsung dalam rangka mencapai tujuan bersama. Pada awal kemerdekaan dan perjuangan mempertahan kemerdekaan media sungguh berperan penting untuk melakukan konsolidasi untuk aksi. Selain itu pada jauh hari sebelum kemerdekaan, sebelum perjuangan bahkan, media telah berperan dengan memberikan gambaran-gambaran kehidupan dari belahan dunia yang lain. Pada konteks Indonesia misalnya dengan memperlihatkan budaya daerah lain atau kehidupan akibat penjajahan Belanda.
Diakui atau tidak media dapat membentuk watak dan karakter bangsa Indonesia. Terbukti ada perbedaan kontras watak bangsa Indonesia antara masa pra kemerdekaan dan jaun sebelum masa perang kemerdekaan dengan watak bangsa Indonesia saat ini. Watak bangsa Indonesia (meski istilah Indonesia saat itu belum ada) pada masa pra kemerdekaan yang terpecah-pecah cenderung kesuku-sukuan kemudian bergeser pada persatuan bangsa sehingga lahirlah perang kemerdekaan sampai berhasil. Namun saai ini watak bangsa Indonesiapun mulai bergeser denagn melupakan watak para pendahulu dan founding fathernya. Masyarakat Indonesia cenderung konsumtif egois dan banyak hal yang membedakannya.
Oleh karena itu kita wajib mewaspadai perkembangan pers dan media saat ini. Belajar ari masa lalu tentunya kita tidak ingin bila pers dan media kembali dipolitisasi oelh kekuasaan. Hal lainnya tentunya kita menjaga agar dengan media madyarakat tidak serta merta menerima apa yang ada didalamnya.
Untuk hal ini tentunya harus dipersiapkan Undang-Undang Pers dan penyiaran yang berpihak pada rakyat dengan selalu mengunggulkan aspek sosial dibanding dengan liberalisme dan otoritarianisme.

Daftar Pustaka

Cangara, Hafied., Pengantar Ilmu Komunikasi, Raja Grafindo Grafika, Jakarta, 2002.
Hass, Robert, HAM dan Media, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta , 1998.
Senoadji, Umar, Prof., Pers dan aspek-aspek Hukum, Erlangga, Jakarta, 1977.
Simorangkir, CT., J., Hukum dan Kebebasan Pers, PT Binacipta, Jakarta, 1980.
Taufiq, Drs., Sejarah Perkembangan Pers di Indonesia, Triyindo, Jakarta, 1977.