Thursday, 15 March 2007

Perpustakaan: pandangan dan kiprah Al Attas



Dalam tulisan ini, dengan segala keterbatasannya, saya ingin mengetengahkan pandangan dan kiprah singkat orang-orang yang dianggap ‘besar”, baik pada jamannya maupun “besar” saat jamannya telah lewat pada perkembangan perpustakaan. Kebesarannya dianggap memberikan warna dalam setiap detak perubahan peradaban.

Pertama: SMNA (Syed Muhammad Naquib Al-Attas)
Syed Muhammad Naquib Al-Attas (selanjutnya ditulis Al Attas) merupakan pemikir jenius sekaligus ideator pada ISTAC (Institute of Islamic Thaught and Civilization), Malaysia. “Al-Attas merupakan seorang pemikir jenius yang dimiliki dunia Islam” begitu yang dikatakan oleh Fazlur Rahman, mengomentari kiprah Al-Attas.

Beliau lair di Bogor 5 september 1931. Jika ditelisik, maka silsilahnya akan sampai kepada leluhurnya di Hadramaut, dan jika ditelisik lagi maka Beliau masih keturunan Imam Husein, cucu nabi Muhammad saw. Beliau pernah mendapatkan pendidikan di Johor, kemudian di Sukabumi, yang akhirnya puncak akademiknya di peroleh di SOAS (School of Orientalisme and African Studies) Inggris. Beliau juga merupakan kolega dari pemikir Islam Fazlur Rahman.

Beliau banyak menghabiskan masa mudanya dengan membaca manuskrip sejarah, agama, sastra dan buku klasik barat yang tersedia di perpustakaan keluarganya.

Pandangan Al-Attas tentang perpustakaan, sebetulnya merupakan pandangan integral atas pandangannya mengenai pendidikan Islam. Pandangan kiprah Al-Attas ini penulis ambilkan dari bab 4, sub bab ke-5 berjudul perpustakaan, dari buku sebagaimana pustaka yang tertulis di akhir tulisan. Bab 5 ini berjudul Ide dan Realitas Universitas Islam, terdiri dari Universitas sebagai mikrokosmos, Islam dan timbulnya Universitas Barat, Kebebasan Akademik dan pengembangan Ilmu, Pendidikan tinggi: bukan merupakan ak dan terakhir sub bab Perpustakaan.

Perpustakaan, menurut beliau memegang peranan penting dalam konsepsi tentang universitas islam. Perpustakaan merupakan tempat ilmu pengetahuan dan hikmah dari berbagai budaya, agama dan tradisi keilmuan, maka selayaknya perpustakaan diberi perhatian/prioritas utama. Perpustakan kadang bukan hanya sebagai bagian dari institusi pendidikan, namun justru perpustakaan merupakan salah satu bentuk pendidikan tinggi. Dalam sejarah islam, menurut beliau banyak perpustakaan yang merupakan tempat berbagai kegiatan keilmuan dilaksanakan. Yang paling populer, sebut saja baith Al hikmah pada 900-an M di Bahgdad yang didalamnya berbagai aktivitas keilmuan dilaksanakan. Pengembangan perpustakaan merupakan wujud dari penggambaran insan kamil atau manusia universal oleh sebuah universitas islam. Insan kamil, merupakan manusia yang mampu menunjukkan sifat-sifat ketuhanan dalam semua perilakunya tanpa harus keilangan identitasnya sebagai makhluk.
Pengembangan perpustakaan dan institusi pengajaran lainnya pada masa Islam pramodern merupakan kenyataan unik pada masanya. Kenyataan ini didasarkan pada penghargaan kepada ilmu pengetahuan oleh Quran, yang merupakan kitab yang tidak ada kerguan didalamnya.

Di ISTAC Al-Attas menginstitusikan pengembangan perpustakaan yang bagus sebagai salah satu tujuan dan sasaran. Perpustakaan ISTAC, yang merupakan bagaian dari bangunan ISTAC merupakan hasil desain Al-Attas sendiri. Konsep pembangunannya didasarkan pada ekspresi kehadiran Islam yang hikmah, berani, sabar, adil dan harmoni. Al-Attas menyadari pentingnya berbagai rujukan untuk proses pendidikan. Untuk memperoleh koleksi, Al-Attas menghubungi berbagai penerbit, slain itu dlam berbagai lawatannya ke lur negeri Al-Attas selalu mengatur jadwal sedemikian rupa sehingga berkesempatan untuk menemui para tokoh dan profesional yang dapat membantu usahanya berburu koleksi. Sehingga Al-Attas, boleh dikatakan sebagai pecinta perpustakaan (lepas dari perdebatan siapa yang layak menyandang PUSTAKAWAN).
Sebagai contoh kiprahya, setelah kepulangannya dari luar negeri pada 1960-an, beliau banyak membantu berbagai universitas di bilangan Malaysia untuk mengembangkan perpustakaannya. Membantu mendapatkan rujukan-rujukan terutama dalam bidang stusi Islam, filsafat dan kebudayaan barat, dan kebudayaan melayu. Hubungan dengan para orientalis pun di manfaatkan untuk mendapatkan koleksi-koleksi perpustakaan. Sebagai misal, dengan perpustakaan Joseph Schact, dari sana didapatkan 5000 an jilid koleksi tentang sejarah hukum Islam.

Perpustakaan besar, bukan hanya ditandai dengan kuantitas koleksi mereka, namun juga kualitas koleksi, dengan tersedianya koleksi “buku-buku besar” dalam satu tempat. Ide ini terutama dituangkan dalam pengembangan ISTAC, mulai Mei 1991. Setelah Fazlur Rahman, yang merupakan komentator filsafat Ibn Sina dan Islamolog meninggal, maka beliau segera mengutus Wan Mohd Noor Wan Daud untuk menemui keluarga almarhum untuk bisa melengkapi koleksi perpustkaaan ISTAC dengan koleksi-koleksi almarhum Fazlur Rahman. Perburuan manuskrip-manuskrip baik berkaitan dengan islam, budaya dan arus pemikiran-pemikiran dilakukan di banyak tempat. Turki, Mineapolis, Manchester, dan tempat lain dibelahan bumi yang berbeda. Hingga pda 1998 ISTAC telah memiliki 110.000 jilid buku rujukan penting termasuk 3000 judul (dalam 29000 jilid) jurnal dalam berbagai bahasa.

Selain manuskript, Al-Attas juga mengumpulkan koleksi berwujud mikrofilm, yang didapatkannya dari perpustakan SOAS London. Momen besar di ISTAC salah satunya adalah persetujuan dengan Bosnia, yang mempercayakan ISTAC untuk menyalin kedalam mikrofilm semua manuskrip yang ada pada perpustakaan Gazi Huzrev Beg Sarajevo.

Al-Attas menekankan, bahwa kepala perpustakan ISTAC nantinya adalah orang yang dilatih secara profesional, namun sekaligus sebagai seorang ilmuan. Penekanan Al-Attas ini didasarkan pada tradisi islam itu sendiri, yaitu ilmuan dari berbagai bidang dan kemampuan dipekerjakan sebagai staf perpustakaan. Ini didasarkan pada kenyataan pada budaya Islam, bahwa banyak ilmuan terpelajar yang mengelola berbagai pusat informasi atau perpustakaan pada jamannya. Ibn Muskawaih, sebagai salah satu contoh, merupakan seorang sejarawan sekaligus pustakawan di perpustakaan pribadi Ibn Al Amid. Meskipun demikian diakui di dunia barat juga mempunyai konsep pemikiran yang sama. Sebut saja Boyer, dalam key speechnya pada Symposium Nasional Mengenai Perpustakaan Dan Pencarian Keunggulan Akademik di Universitas Columbia 1998, beliau menekankan “kita memerlukan pustakawan terpelajar, profesional dan mengerti dan tertarik pada jenjang pendidikan strata satu. Orang yang ikut berkiprah pada materi pendidikan dan dapat mengubungkan antara ruang kuliah dan kehidupan kampus”.

Sumber:
Wan Daud, Wan Mohd Nor. 2003. Filsafat dan praktik pendidikn Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Bandung: Mizan

(Buku diatas merupakan terjemahan oleh Hamid Fahmi Zarkasi, dari judul asli: The Educational Philosophy Of Syed Muhammad Naquib Al-Attas, penulis: Wan Mohd Nor Wan Daud yang diterbitkan ISTAC tahun 1998.

Perpustakaan kita...

Disela-sela menyusun proposal skripsi, yang kadang rumit, sulit untuk sekedar mengkaitkan ide-ide. Bebal untuk memahami teks-teks berbahasa langit dan berbahasa asing. Wuih… sebuah perjuangan panjang, latihan panjang dan melelahkan….

Perpustakaan kita…

Membincangkan perpustakaan, menurut saya adalah sebuah perbincangan yang hangat. Tidak akan mudah selesai pada satu ide pusat yang sanggup menjadi obat dari segenap permasalahan perpustakaan yang ada. Pergeseran paradigma perpustakaan dari perantara menjadi penyedia, merupakan contoh nyatanya. Masih kita syukuri hanya sebuah pergeseran, jika yang terjadi adalah sebuah kematian paradigma, maka yang terjadi adalah kematian ilmu perpustakaan. Setidaknya sampai saat ini perpustakaan masih hadir sebagai sebuah institusi dan sebuah ilmu…, entah nanti.

Membaca tentang perpuatakaan kita hari ini, akan memaksa kita untuk memeras olah pikir kita, sepanas dan sekeras apapun, ini adalah sebuah pilihan, jika ingin perpustakaan menjadi penentu perkembangan peradaban ummat manusia.

Konsepsi-konsepsi harus keluar dari hasil olah pikir kita. Menelorkan berbagai formula yang diharapkan ampuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang menggerogoti tubuh perpustakaan kita. Baik penyakit yang berasal dari diri perpustakaan kita sendiri, maupun berbagai virus penyakit dari luar diri kita sendiri.

Judul diatas diambil, dengan sengaja menjiplak sebuah buku karya Alm. Nurcholis Madjid. Indonesia Kita. Dalam bukunya, Cak Nur, begitu beliau akrab dipanggil, menawarkan 10 formula untuk menyehatkan kembali indonesia. Namun dalam tulisan ini, bukannya akan mengetengahkan formula Cak Nur itu untuk Indonesia. Namun berupaya mengotak-atik formula tersebut untuk perpustakaan kita. Dengan harapan akan ada keterkaitan diantaranya. Mengelola perpustakaan sebagai sebuah lembaga yang didalamnya ada manusia, ada sumberdaya, ada tujuan, ada perpustakaan (negara) tetangga, ada undang-undang (tata tertib), maka tidak ada salahnya kita perbandingkan ini dengan sebuah negara.

Formula, atau disebut sebagai agenda pertama dalam pengelolaan perpustakaan adalah mewujudkan good governance dalam pengelolaan perpustakaan. Good governance dalam hal ini, dapat kita pahami sebagai pelaksanaan pengelolaan perpustakaan yang transparan dan akuntabel. Tidak ada “tedeng aling-aling” dalam segala kebijakannya. Tidak ada tendensi pribadi dan nafsu-nafsu sesaat yang diagungkan. Prinsip transparansi dalam pengelolaan ini, akan dapat membangkitkan kepercayaan kepercayaan dari rakyat atas pemimpinnya, laiknya dalam sebuah negara. Maka para pemakai perpustakaan, bahkan para pustakawan akan semakin bangkit rasa “ngeh” nya dalam berkarya. Kepercayaan inilah yang menjadi modal dasar dalam pengelolaan sebuah perpustakan (negara). Jika kepercayaan sudah mulai tumbuh dan menemukan tempatnya, maka kesamaan visi dan semangat kebersamaan akan semakin mengembang.

Formula kedua adalah menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekwen. Dalam hal ini dapat kita pahami sebagai sebuah pelaksanaan hukum yang selalu berada pada jalurnya, dan menerima segala konsekwensi dari pelaksanaan hukum ini, meskipun untuk dirinya sendiri. Setelah kepercayan bangkit, sebagai hasil dari good governance, maka penegakan hukum menjadi pasangan serasi dalam melaksanakan agenda-agenda berikutnya. Dalam perpustakaan, layaknya hukum dalam lingkungan negara, berupa reward dan punishment. Pemberian penghargaan atas sebuah prestasi yang diperoleh, atas sebuah pengabdian nyata tentunya layak diberikan. Punishment demikian juga. Hukuman kepada pelanggar aturan, layak untuk diberikan. Selain itu, supremasi hukum dapat dipahami sebagai sebuah pelaksanaan aturan yang fair, adil dan tidak berat sebelah. Karena hukum memang harus ditegakkan.

Melaksanakan rekonsiliasi nasional, dengan menarik pelajaran pait di masa lalu, menatap masa depan dengan perdamaian dengan menyatukan dan mendayagunakan segenap kekuatan bangsa (baca perpustakaan). Dalam perpustakaan hal ini dapat kita maknai dengan membangun pola hubungan dengan semua lapisan perpustakaan, atau pustakawan. Semua perpustakaan direngkuh untuk maju bersama, beserta segenap sumberdaya didalamnya, terutama pustakawan. Dibarengi dengan selalu belajar dari masa lalu sebagi sebuah pengalaman.

Keempat, adalah merintis reformasi ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan yang produktif dari bawah. Ini berkait erat dengan peran seorang pemimpin. Sipemimpin harus mau melihat apa yang menjadi aspirasi bawahannya. Mendengar sekaligus memberikan jalan keluar jika itu sebuah masalah, memberi ruang aktualisasi jika apa yang berasal dari bawah itu adalah sebuah ide. Dengan demikian “rakyat” akan menjadi sekumpulan rakyat yang di manusiakan. Dianggap status kerakyatnnya. Bawahan, atau lebih tepat disebut ujungtombak pepustakaan, yaitu pustakawa yang langsung berinteraksi dengan pemakai, mengetahui betul apa yang diinginkan oleh pemakai. Maka selayaknyalah mereka diajak, langsung maupun tidak untuk mengkonsep kegiatan-kegiatan atau terobosan perpustakaan. Ide ide pengembangan haruslah selalu dikonfirmasikan ke ranah paling bawah. Baik ide pengembangan yang bersifat teknik-mekanis seperti pengembangan sistem otomasi, maupun pengembangan yang bersifat konseptual, misalnya perluasan pelayanan dengan berlangganan database.

Kelima adalah mengembangkan dan memperkuat pranata demokrasi, menjamin kebebasan pers dan akademik. Perpustakaan, sampai saat ini dianggap sebagai sebuah ilmu, maka kerangka akademik selalu akan mendahului dalam setiap perkembangannya. Kebebasan berekspresi secara akademik inilah yang perlu di perkokoh. Hal ini dapat berupa forum berbagi rasa, berbagi ide, melontarkan pendapat lewat lembaga pers, atau berdebat didepan publik sekalipun. Asal semuanya dapat dipertanggungjawabkan dan tetap dalam kerangka akademik. Semuanya sah-sah saja.

Meningkatkan ketahanan dan keamanan dengan meningkatkan harkat dan martabat para personil pustakawannya. Hal ini berarti, diperlukannya sebuah upaya untuk meningkatkan martabat dan martabat para pustakawan. Dengan peningkatan harkat dan martabat ini, maka diharapkan semangat esprit de corps, semangat kesatuan akan tumbuh dan selalu tumbuh. Hal ini akan berbanding lurus dengan peningkatan ketahanan dan keamanan kepustakawanan.

Ketujuh, adalah memelihara keutuhan perpustakaan dengan pendekatan budaya, dan pembangunan otonomisasi. Jika semangat esprit de corps telah terwujud, maka selanjutnya adalah memelihara kesatuan dalam sebuah kerangka budaya dan konsep otonomisasi. Konsep budaya berarti dalam pengelolaan perpustakaaan, terutama dalam perpustakaan besar dan mempunyai cabang-cabang, maka penghargaan atas budaya dan iklim yang dinamik dari setiap perpustakaan yang dimungkinkan berbeda-beda harus kita akui dan hargai keberadaannya. Otonomi berarti pemberian wewenang yang luas dalam mengelola kerumahtanggannya, namun tetap dalam garis-garis kebijakan umum.

Kedelapan adalah berkaitan dengan perataan pendidikan diseluruh lapisan. Diharapkan tidak ada lagi gap, jarak, ketimpangan tingkat pendidikan diantara para pustakawan. Para pengelola perpustakaan haruslah mendorong para pustakawannya untuk kembali mencerap iklim akademik murni dalam sebuah universitas. Para pustakawan yang berniat untuk sekolah lagi, baik beasiswa murni maupun self foundation atau parent foundation sekalipun (oops.), harus didukung dan diarahkan. Semakin meratanya tingkat pendidikan para pustakawan, maka semakin merata dan bervariasi pula tingkat pemikirannya. Tentunya ini merupakan kondisi sangat sehat untuk menggali ide-ide pengambangan. Pendidikan dalam hal ini tidak melulu pendidikan formal an sich, namun juga pendidikan pendidikan moral dan etika yang mesti diterapkan pada semua lapisan. Lagi-lagi pemimpin memegang peranan untuk menjadi contoh dalam hal ini. Jika pemimpin mampu memberi contoh keteladanan etika, maka diharapkan lapisan bawah akan ikut untuk mencontohnya. Namun meskipun bawahan mempunyai landasan etika yang mapan, jika pemimpinnya jauh dari ideal, maka kemungkinan bawahan akan tergerus watak pemimpinnya menjadi besar. Pemimpin wajib mendidik bawahan, baik langsung maupun tidak langsung, melalui contoh-contoh nyata. Tidak sekedar contoh dalam bidang yang digeuti (perpustakaan), namu juga contoh dalam etika dan moralitas. Moralitas pemimpin merupakan harga mati untuk diterapkan.

Mewujudkan keadilan bagi seluruh warga. Keadilan, kadangkala akan menjadi alasan utama terjadinya berbagai gejolak. Pembagian “kue” yang tidak merata, sesuai dengan porsi yang semestinya akan menimbulkan gejolak. Baik gejolak yang bersifat vertikal maupun horisontal. Analogi kue disini dapat kita pahami sebagai kue dalam arti sebenarnya maupun kue dalam arti konotatif. Jangan sampai setelah kita bangun berbagai hal mulai dari langkah pertama sampai ke delapan, hancur dalam langkah kesembilan. Keadilan, secara lebih luas adalah menempatkan segala sesuatunya dalam sebuah pola aturan yang sesuai dan proporsional.

Terakhir, formulasi dalam pengembangan perpustakaan kita adalah dengan selalu mengambil peran aktif dalam mewujudkan peradaban ummat manusia yang maju dan dan beretika.

Terimakasih dan mohon maaf…