Wednesday, 10 April 2019

[[ Pilih call for papers, atau call for ngarit? ]]

Ikuti! call for papers dengan berbagai topik. Terindeks Scopus, masuk di jurnal bergengsi ber-impact tinggi.

***

Call for paper sedang moncer. Dia banyak di cari. Tak terkecuali bagi para pustakawan.

Call for paper itu bicara di depan banyak orang. Bahan yang disampaikan tentunya ilmiah, ditelisik dan ditulis dengan metode ilmiah. Disampaikan pada forum ilmiah, di depan orang ilmiah. Pastinya sudah lolos saringan oleh para ilmuwan yang pikirannya sangat ilmiah.

Tanya jawab yang muncul, juga akan ilmiah. Tidak baen-baen. Semakin banyak orang membukukan prestasi ikut call for paper, maka namanya akan semakin membumbung tinggi. Tinggi-tinggi sekali. Kiri kanannya akan duduk orang yang levelnya sejajar.

Call for paper ada banyak motifnya. Motif paling ideal adalah untuk meningkatkan kemampuan diri, dan berbagi dengan orang lain. Hal ini dilakukan melalui pemaparan tulisan yang sudah disusunnya. Ini motif yang derajadnya paling tinggi.

Namun demikian, ada motif yang derajatnya ada di bawah. Motif jalan-jalan misalnya. Hal ini dikuatkan dengan poster call for paper yang terkadang dilengkapi dengan paket perjalanan budaya, alias piknik, atau tamasya. Dipromosikan dengan berbagai kalimat yang menggoda.

Misalnya: "lokasi presentasi dekat dengan taman hiburan yang paling panas. Panasnya tiada tara".


Call for paper itu perjalanan intelektual.
***

Berbeda dengan call for paper, call for ngarit merupakan proses mencari sekaligus memberi. Mencari suket untuk pakan sapi, atau wedhus. Proses call for ngarit tidak bicara di depan banyak orang. Justru diam, tenang, fokus pada menggerakkan arit agar tepat menebas suket. Sesekali memang ada proses tanya jawab, tapi hanya bumbu saja. "Saweg ngrumput, Kang?", demikian pertanyaan yang biasanya terlontar. Call for ngarit adalah usaha membangun hubungaan dengan sapi dan wedhus, melalui suket. Sebagai wujud cinta kasih sesama makhluk.

Berbeda dengan call for paper, call for ngarit tidak perlu promosi perjalanan budaya. Karena sesungguhnya proses ngarit itu sendiri sudah perjalanan budaya, perjalanan spiritual. Menyatu dengan alam, berkomunikasi dengan tumbuh-tumbuhan. Nembung pada suket untuk dibabat sebagai pakan ternak. Ada proses meminta, mencari, ikhlas, dan pengorbanan.

Call for ngarit itu perjalanan spiritual.

****

Keduanya, call for papers dan call for ngarit tentu saja beda tujuan, beda karakter. Kita bisa menolak call for paper, karena untuk bergabung perlu modal uang untuk mendaftar. Kalau call for papernya tingkat tinggi, apalagi terindeks Scopus, maka akan mahal. Berbeda dengan call for ngarit. Kalau Simbok sudah mengadakan "call for ngarit", maka kranjang dan arit harus segera disandang. Tidak perlu diawali dengan mengajukan abstrak, atau full paper. Tanpa proposal. Langsung mangkat neng ngalas. Kalau menolak, berarti tidak berbhakti. Tidak perlu modal uang, cukup sangu sebotol air mineral, dan satu dua buah telo mentah untuk dibakar, itupun jika perlu.

Simboke Paijo: "Jo, sapine ngeleh (lapar)".
Paijo: "Siap, tanpa abstrak, langsung mangkat".

Call for ngarit lebih utama dari call for papers.

Thursday, 4 April 2019

Beberapa hal penting dalam berhubungan dengan media

Beberapa catatan ketika mengikuti diskusi tentang kehumasan
  1. Tiga kondisi krisis humas: berita negatif, tak ada berita, wartawan nakal
  2. Berita negatif tidak selalu salah, namun harus direduksi
  3. Berita negatif harus ada konfirmasi pada sumber
  4. Kepentingan publik pasti diberitakan
  5. Etika berita: keberimbangan, verifikasi, konfirmasi
  6. Berita: antara yang informatif vs judgement
  7. Berita tidak berimbang, menghakimi, praduga bersalah, tak konfirmasi,  bisa diajukan hak jawab. Untuk hal yang sensitif, perlu datang langsung ke redaktur media.
  8. Humas sebaiknya merekam wawancara pimpinan sebagai bukti forensik.
  9. Kondisi ideal: good and bad news is news 
  10. Redaktur: menjaga agar tidak ada opini pada berita
  11. Tiga segitiga yang penting diperhatikan: sosial media, e-commerce, search engine
  12. Audit media -> perlu pelatihan, kemudian bisa dilakukan mandiri
  13. Foto memiliki 10x efek dari pada teks
  14. Meja press conference bagian depan harus tertutup. Jika menggunakan model meja santai maka perhatikan pakaian para pemateri
  15. Yang melakukan press conference cukup orang yang penting saja,
  16. Press conference: sedikit orang, ada tanya jawab
  17. Berita itu mengandung nilai prominen, kontroversi, dan magnitude. Lucu, unik, kontroversi, baru, tak biasa, mengejutkan.
  18. Perlu menyebarkan jurnalisme di unit-unit lingkungan UGM -> undang wartawan, orang PWI, AJI
  19. Beberapa organisasi wartawan yang harus diketahui: AJI, PWI, IJTI, PRSSNI, ATVLI, ATVSI, SPS. Selengkapnya di https://dewanpers.or.id/data/organisasi
  20. Akan lebih baik jika memiliki kontak perwakilan organisas wartawan
  21. Kontak langsung ke pemred untuk berita bagus
  22. Kirim press release, atau undang konferensi pers ke media: 1 minggu sekali, buka puasa wartawan 1 tahun sekali
  23. Press conference: utamakan undang media besar (kompas, tempo...)
  24. Press conference maksimal jam 3 sore, karena wartawan perlu waktu menulis
  25. Undangan press conference
    1. apa, seberapa penting
    2. kapan
    3. berapa lama
    4. siapa
    5. di mana
    6. media mana saja
    7. bagaimana
  26. Press release
    1. pendek
    2. aktual
    3. kirim ke wartawan
    4. jangan menyerah
    5. ulangi terus
  27. Mengbah bad ke good news: media visit, video doc, audio visual, human interest
  28. Televisi memuat dua materi: jurnalisme, dan hiburan. Keduanya berpotensi ada kasus/
  29. Kasus jurnalisme —> diadukan ke dewan pers, terkait UU Pers
  30. Kasus hiburan —> diadukan ke KPI, terkait UU penyiaran
  31. Hati-hati dengan wawancara melalui telp, sms, doorstop. Harus tahu siapa yang mewawancarai, bahkan ketika ketemu langsung, nara sumber berhak bertanya ID.