Wednesday, 27 December 2017

, , ,

Pustakawan perlu meniru spiritualisme pekerjaan-pekerjaan tradisional ini (1)

Purwo.co -- Dokter, juga polisi, tentara dan presiden merupakan profesi atau pekerjaan, atau dalam istilah jawa “pangkat” yang diimpikan, favorit alias primadona. Dia menjadi jawaban sekti mandraguna anak-anak, ketika ditanya, “mau jadi apa ketika sudah besar nanti?”.

Namun, agaknya bukan hanya anak-anak yang memiliki keinginan memiliki profesi di atas. Yang sudah bekerja pun memiliki keinginan agar pekerjaannya bisa semoncer dan seterhormat dokter, misalnya. Entah, mungkin karena tidak keturutan cita-citanya, atau dihantui perasaan under estimate yang tinggi pada profesinya saat ini.

###

“Kita harus seperti dokter”. Pernahkah rekan pustakawan mendengar kalimat itu? sama persis, atau beda susunan kata namun isinya sama; ketika kuliah dilontarkan dosen sebagai wujud penyemangat, atau mungkin ketika jagongan dengan teman sesama pustakawan. Sebagai profesi yang dibanggakan, tentunya profesi lain terutama yang dirasa belum mapan, ingin sekali semapan dokter. Dihargai, dan punya posisi tawar tinggi.

Melihat profesi dokter, serta profesi lainnya yang populer itu ibarat ndangak. Ndangak ke atas, memang perlu sebagai penyemangat. Namun apakah ndangak ini selalu berefek positif?

Hati-hati, kebanyakan ndangak akan berakibat buruk pada tulang leher, cengeng (e seperti pada "sepeda"). Bisa-bisa perlu ngundang tukang pijet agar kembali normal.

Ndungkluk ke bawah, juga tidak kalah penting. Ndungkluk, melihat profesi lainnya yang terkadang disepelekan, namun memiliki nilai adiluhung, memiliki tuladha cara menjalankan profesi dengan baik dan migunani liyan.

Pada buku Iman Budhi Santoso, “Profesi Wong Cilik: spiritualisme pekerjaan-pekerjaan tradisional”, dikupas spiritualisme kerja 18 profesi tradisional. Bagaimana si pelaku memaknai/menjiwai profesi, berinteraksi dengan orang lain, dengan profesi lain, menyikapi perkembangan jaman dan lainnya. Buku ini ngajari kita untuk ndungkluk, agar tidak lupa asal-usul kita, atau asal-usul berbagi profesi yang saat ini ada.

Berikut, saya coba ulas semampu saya, apa saja yang bisa pustakawan teladani dari profesi tradisional ini. Karena ada 18 profesi, maka saya tuliskan paket per paket, sekuat mata saya menatap dan jari saya mengetik.

Pemikat perkutut
Profesi ini dilakukan untuk memperoleh burung perkutut baru, atau menangkap perkutut yang lepas. Memikat perkutut, berbeda dengan menangkap ikan di sungai, atau menangkap belalang yang biasanya berakhir sebagai lauk yang menemani nasi tiwul. Menangkap perkutut dan memeliharanya menjadi salah satu pertanda kesuksesan orang Jawa, yaitu kepemilikan kukila atau binatang piaraan yang sangat berharga, perkutut lah binatang itu.

Katuranggan perkutut yang baik selalu dicari. Bahkan perkutut dijadikan judul lagu yang termasyhur, “kutut manggung”.


Sore-sore…, yo lah bapak
Perkutute njaluk ngombe…
Yo bapak, bapakku de..we…

Perkutut, meskipun bisa diternakkan dengan hasil yang banyak, namun perkutut hasil pemikatan dari kehidupan aslinya, akan memiliki kualitas yang lebih baik. Memikat perkutut, baik proses persiapannya sampai menunggu perkutut terpikat, perlu kepasrahan dan kesabaran. Bagi si pemikat, proses ini merupakan proses spiritual.

###

Bagi pustakawan, hubungan pemikat dan perkutut bisa tarik pada hubungan antara pustakawan dan buku. Meskipun sekarang banyak muncul jenis buku yang tidak dapat dipegang secara fisik (e-book), namun buku tercetak (perkutut yang hidup di alam bebas) tetap memiliki nilai lebih. Meski e-book tersebut dapat secara mudah duplikasi sehingga meningkatkan penyebarannya, namun buku tercetak tetap disenangi, karena akan ada tautan emosional antara buku dan si pembaca. Buku tercetak tetap harus dijaga.

Sama seperti perkutut hasil pikatan, buku tercetak akan dihargai lebih dari pada e-book. Buku tercetak yang isinya berkualitas, dan asli, maka semakin tua jusrtu memiliki nilai ekonomis dan non-ekonomis yang tinggi. Dia akan naik derajat, “pantas” dijadikan cinderamata pada orang-orang cendikia.

Selain itu juga bisa ditarik ke hubungan pustakawan dan pemustaka. Pustakawan harus mampu memikat pemustaka agar hadir dan memanfaatkan buku yang dikoleksinya. Proses memikat ini, lebih dari sekedar membuat datang ke perpustakaan, namun dalam bahasa perburungan disebut "cumbu". Serasa memiliki rumah sendiri di perpustakaan, enggan pergi kecuali setelah semua hasrat intelektualnya terpenuhi. Proses memikat yang sampai taraf ini, harus dilambari dengan laku spiritual si pustakawan.

Pemikat perkutut, pada umumnya bukan orang yang berkecukupan. Sering disamakan dengan cah angon, pencari rencek, atau tukang ngarit. Berani menjadi pemikat perkutut, berarti berani mengambil risiko, bahwa kelas sosialnya ada pada kelas bawah (hal. 28). Demikian pula pustakawan, sebagai profesi yang saat ini masih belum “mapan”, menjadi pustakawan harus siap segala-galanya. Bahkan menelan kenyataan pahit sekalipun.

Beberapa kebiasaan lain dari pemikat perkutut yaitu: melepas perkutut kesayangan, minimal seekor dalam satu tahun. Serta mengambil perkutut hasil pikatan secara tidak berlebihan. Jumlah yang diambil disesuaikan dengan jumlah neptu. Hal ini bisa dicontoh oleh pustakawan, bahwa buku yang dimiliki pustakawan pun, juga bisa dijadikan buku layaknya koleksi perpustakaan (dilepas ke alam bebas), agar dapat dimanfaatkan banyak orang.

Dukun bayi 
“Tulung bayi”, demikian istilah yang dipilih penulis buku ini untuk menggambarkan kegiatan dukun bayi. Tulung bayi merupakan kegiatan “penyelamatan” dalam permulaan proses kehidupan manusia.

Prosesi kegiatan seorang dukun bayi, bukan sekedar kegiatan transaksional jualan jasa. Tapi lebih tinggi derajatnya dari itu. Proses penyelamatan ini, rela dilakukan meskipun rumah si dukun bayi didodok, sebagai tanda sowan kulo nuwun pada tengah malam. Dia rela bangun, meski badan keju (e seperti pada kelinci) setelah seharian kerja di sawah, kemudian berjalan kaki menuju rumah ibu yang hendak melahirkan. Senjatanya sederhana, welat, kunir dan doa suwuk.

Setelah prosesi melahirkan, pekerjaan dukun bayi tidak begitu saja selesai. Dia akan rela menengok bayi tersebut sampai beberapa lama, ndadah secara berkala, dan menyiapkan acara pupakan (potong pusar), sembari melantunkan doa-doa pada jabang bayi. Meski, setelah melahirkan itu dia tidak serta merta mendapatkan uang jalan, yang kadang diangsur atau dibayar dengan barang lain. Dia tetap rela dengan profesinya tersebut.

Jaman yang selalu berubah (owah gingsir) juga disikapi dengan bijak oleh para dukun bayi. Termasuk ketika mereka, karena aturan, harus berkolaborasi dengan bidan yang diproduksi oleh pendidikan formal jaman modern. Dan mungkin, ketika suatu saat dukun bayi harus hilang, tidak ada lagi karena telah tergantikan penuh oleh profesi yang mensyaratkan pendidikan formal jaman sekarang, para dukun bayi ini harus rela.

###

Demikian pula pustakawan. Pekerjaannya tidak harus dinilai dengan transaksi jual beli. Pustakawan harus memandang pekerjaannya sebagai kerja kemanusiaan. Kerja kemanusiaan berarti menempatkan peran kesehariannya sebagai kontribusi meningkatkan kualitas manusia, menjembatani keterbatasan manusia dalam mengakses pengetahuan agar setara dengan manusia lainnya.

Penyelamatan bayi ketika lahir ini, juga ditekankan pada prinsip kerja seorang dukun bayi. “Nyawa bayi sedikit-banyak menjadi tanggungjawab dukun bayi, sedangkan nyawa si Ibu diserahkan pada kekuasaan Allah” (hal. 48). Yang dilakukan pustakawan sama dengan penyelamatan bayi, yaitu kerja untuk masa depan, masa mendatang.

Pekerjaan pustakawan juga tidak selesai ketika buku berpindah tangan saat dipinjam pemustaka, atau setelah pengetahuan menyebar dari satu kepala ke kepala lainnya. Namun, juga usaha memastikan pengetahuan tersebut bermanfaat bagi si penerimanya. Proses komunikasi setelah buku dipinjam, perlu dilakukan pustakawan dalam rangka memastikan hal di atas.

Tentunya, sebagaimana dukun bayi yang melantunkan doa bagi si jabang bayi, pustakawan juga harus melambari proses layanannya dengan doa-doa kebaikan bagi si pemustaka. “Semoga buku yang dibaca bermanfaat, mencerahkan, membawa barakah untuk kemaslahatan ummat manusia”, kurang lebihnya demikian.

Terhadap owah gingsiring (perkembangan/perubahan) jaman, pustakawan juga bisa belajar dari dukun bayi. Keikhlasan berkolaborasi sebagai respon owah gingsiring jaman, telah diajarkan oleh mereka sejak lama. Pustakawan pun harus ikhlas berbagi pekerjaan dengan profesi lain, yang sebelumnya selama bertahun-tahun dilakukannya sendirian. Bukan sekedar kolaborasi, namun juga adopsi teknologi. Sebagaimana welat sebagai senjata untuk memotong pusat bayi, yang diganti dengan gaman yang lebih steril, pustakawan juga harus menguasai teknologi-teknologi terkini yang mampu meningkatkan kualitas perannya.


Juru kunci
Juru kunci (makam), merupakan pekerjaan pengabdian untuk nguri-uri makam leluhur (hal. 54). Mulai dari hal kecil menjaga kebersihan, keindahan, serta menghafal letak cungkup serta siapa yang ada di balik cungkup itu. Selain itu, juru kunci juga agen atau srono komunikasi para peziarah dalam berdoa. Dia nyengkuyung doa peziarah sesuai ketentuan yang digariskan Sang Pemilik Kekuatan Alam.

###

Pustakawan, sesungguhnya juga berperan sebagai penjaga makam. Buku yang ada di perpustakaan, terkadang penulisnya sudah meninggal. Buku yang ditinggalkan merupakan pemakaman dari ilmu pengetahuan yang ditinggalkannya. Makam itu harus dijaga, dirawat agar tidak rusak, selalu jelas siapa yang dikuburkan di balik makam tersebut. Bukan sekadar namanya, namun akan lebih mantap jika pustakawan juga mengetahui asal-usul serta riwayat pemikirannya.

Pustakawan juga berperan menjari srono komunikasi imajiner antara pemustaka dengan si pemilik pemikiran. Oleh karena itulah pentingnya pustakawan tidak sekadar tahu letak cungkup, tapi juga apa yang ada di dalam cungkup tersebut, pemikian apa yang ada dalam buku-buku koleksi perpustakaan. Pengetahuan itu akan bermanfaat bagi pustakawan dalam rangka membantu dalam menembus sekat-sekat yang menghalangi pemustaka memahami pemikiran yang terkandung dalam buku.

Ini pekerjaan yang berat, tidak main-main.

Bersambung......


#pustakawanblogggerindonesia

Sambisari,   27 Desember 2017
23.17 malam

Monday, 25 December 2017

, ,

Tas Pustaka dan geliat literasi di Candi Sambisari

Purwo.co -- Menuju kompleks bangunan cagar budaya itu, saya melangkah. Candi Sambisari, yang hanya beda RT saja dengan rumah saya, jaraknya pun tak lebih dari 200 meter. Tujuan saya satu, rerumputan yang hijau di sebelah barat candi. Baru saja, istri memberitahu bahwa ada lapak buku di situ. Dengan sok ramah, mungkin karena saya warga tempat candi itu berada, meski hanya berstatus pendatang, dengan percaya diri saya mendekati sosok pemuda yang ada di lingkaran bersama buku-buku itu. 

“Saya sebenarnya "tersinggung", mas”, saya lontarkan kalimat itu untuk membuka pembicaraan dengan seorang pemuda di kompleks Candi Sambisari, tentunya setelah sedikit basa-basi standar. “Loh, kenapa, Mas?”, pemuda itu bertanya sembari tersenyum. Senyumnya jelas menyembunyikan rasa terkejut. 

“Seharusnya saya yang memiliki ide seperti ini, kenapa saya justru tidak memulainya? Malah Mas yang memulai”, saya menjawab dengan intonasi penyesalan. "Tersinggung" pada pernyataan saya, bukan tersinggung dalam arti umum, namun lebih ke malu. Sayapun menjelaskan, bahwa saya merupakan pustakawan yang mestinya lebih punya tanggung jawab pada dunia literasi, dunia buku, mengenalkan buku pada anak-anak khususnya. Apalagi saya tinggal di sekitar tempat ini.

“Ooo, haha. Gabung saja mas”, pemuda itu menawarkan.

Itu merupakan diskusi pembuka kami, saya dan seorang pemuda yang sedang menggelar lapak bukunya di sisi barat Candi Sambisari. 

###  

Beberapa anak  sibuk mengeja huruf pada buku yang dia pilih. Seorang wanita membantu mengeja huruf-huruf di buku itu. Beberapa kata dan kalimat berhasil dibaca, yang kemudian disambut dengan pujian dan senyuman. “Wah, pinter sekali”, demikian pujian itu. Anak itu tersenyum malu, namun bangga mendapat pujian sederhana.


“Adik namanya siapa?”, saya mencoba bertanya ke anak kecil itu. Kira-kira umurnya 4 tahun agak gemuk, pipinya yang tembem membuatnya tampak menggemaskan. “Falen yang cantiiiiiiiik”, anak itu menjawab sembari berputar seperti sedang menari. Ucapan “cantik” yang dibuat panjang, seolah ingin menggambarkan bahwa dia memiliki rasa percaya diri tinggi. Dan… “bruk”. Dia terjatuh, tapi justru tertawa terbahak. Kami pun ikut tertawa melihat tingkah lucu Falen.

Sambil masih memegang buku, Falen kembali duduk dengan dibantu si Embak penjaga lapak buku. Dia pun melanjutkan mengeja kata-kata pada buku tersebut. Agaknya ada banyak perbendaharaan kata yang dia kenal sore itu, atau paling tidak dia pelajari ulang dalam konteks bacaan yang berbeda. Tentang planet, tentang UFO, tentang alam, dan beberapa topik lainnya yang ada dalam buku National Geographic dan buku jenis lain yang digelar di atas rerumputan itu.

###  

“Oia, namanya siapa, Mas?” saya mengulurkan tangan mengajak jabat tangan dan berkenalan, meski agak terlambat. “Unu”, jawaban pemuda itu lugas. Saya pun menyebut nama. Unu asalnya dari Nusa Tenggara, sedang kuliah di sebuah universitas di Jogja. Dia bertiga ke Candi Sambisari ini. Dua temannya perempuan, yang satu dari Jogja, satunya lagi dari Cilacap. Dua temannya sedang bercengkerama bersama Falen dan kawan-kawannya.  

“Kami di sini sejak Juni, liburan lebaran. Setiap Sabtu sore, jika tidak hujan”, Unu menjawab pertanyaan saya. Jawaban itu sudah pasti mengagetkan saya, sudah hampir setengah tahun, dan hanya berjarak 200 meter, tapi saya baru tahu sore ini (23/12). Saya bisa tahu juga atas informasi istri saya yang baru saja dari Candi Sambisari mengantar keponakan. Agaknya sudah sekian lama saya tidak mengunjungi candi ini pada Sabtu sore, sehingga ada yang luput dari penglihatan saya. Padahal, dulu ketika awal tinggal di Sambisari, kami bersemangat mengunjungi, dan menikmati udara dan keindahan candi secara rutin.

Bangunan utama Candi Sambisari ini sebenarnya terletak di bawah permukaan tanah. Untuk mencapainya harus turun undakan tangga yang cukup tinggi dan agak curam. Unu pada awalnya memulai menggelar lapak di pelataran candi, di bawah. Namun, atas saran petugas kemudian beralih ke atas, di rerumputan sisi barat, di dekat kumpulan batu candi. Di atas lebih mudah aksesnya, kalau di bawah harus turun dulu, serta kebanyakan yang sampai bawah langsung sibuk dengan aktivitas swafoto. Aktivitasnya ini telah dikoordinasikan dengan pengelola candi, demikian informasinya.

“Ini buku koleksi pribadi mas. Kalau jalan pun, saya usahakan membawa. Misalnya ketika menunggu di halte atau terminal”, demikian Unu menjelaskan kegiatannya terkait buku ini. Apa yang dia kerjakan diberi label Tas Pustaka. Tas yang berisi buku atau pustaka, yang dibawa berkeliling agar isinya dapat dibaca siapapun yang menginginkan. Demikian kurang lebih artinya.


Tas Pustaka memiliki akun IG di https://www.instagram.com/taspustaka, dan basecam di Karangwaru Lor TR II/49 RT 009/RW 003 Tegalrejo Yogyakarta 55241

Karena saya datang sudah sore, ketika candi hampir tutup, maka tak banyak yang kami obrolkan. Suara satpam candi yang dibantu dengan pelantang suara, mengumumkan bahwa candi segera tutup memaksa lapak buku Tas Pustaka di Sabtu sore itu harus segera diakhiri. Falen dan kawannya membantu merapihkan buku, dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian mereka bersalaman pada Unu serta dua temannya, sembari mengucapkan terimakasih.

“Ketemu Sabtu depan, Ya.” Unu seolah ingin Falen selalu ingat, bahwa Sabtu depan Unu akan datang lagi membawa buku untuk mereka. Unu ingin mereka datang lagi, sendiri atau mengajak teman-temannya.

Saya pun ikut berpamitan.

### 

Meski bukan orang Jogja, dia berinisiatif melakukan kegitan positif di Jogja. Jarak tempuh dari kampus atau kos rela dia lakukan, minimal sepekan sekali untuk bertemu dengan anak-anak, dan mengajarkan pengetahuan baru atau kosa kata baru pada mereka.
Apa yang dilakukan Unu dan teman-temannya sangat pantas diapresiasi. Dia memberi nilai lebih pada Candi Sambisari dengan kegiatan positif, dengan mengenalkan buku, huruf, kalimat dan pengetahuan baru pada anak-anak yang datang. 

###. 

Secara umum, dimanapun kegiatan tersebut dilakukan, dia menjadi simpul-simpul yang berkontribusi positif pada pengembangan generasi mendatang. Tentunya ada tantangan tersendiri yang dihadapinya, di tengah perkembangan hiburan yang terkadang tidak memperhatikan psikologi anak, dan hanya mengutamakan "kepuasan" panitia dan orang tua.  Mereka ingin memberi warna positif pada anak-anak itu dengan menawarkan pengetahuan dan hiburan melalui buku, di tengah gempuran syair "bojo galak" yang lebih dulu "menyerang" dan dihafal anak-anak.


Unu telah “menampar” saya.

#pustakawanbloggerindonesia
Sambisari
24 Desember 2017
5.22 sore


Tuesday, 19 December 2017

, , ,

Presiden Jokowi bagi-bagi sepeda dalam upacara Dies UGM ke-68

Purwo.co -- Presiden Joko Widodo, atau akrab disapa Jokowi kembali membagikan sepeda. Kali ini di acara dies UGM ke 68 di Ghra Sabha Pramana, Selasa (19/12). Selain rektor, wakil rektor, dan pejabat universitas termasuk dekan, acara ini juga dihadiri oleh beberapa menteri, Gubernur DIY, Bupati Sleman, serta Kapolri. Sebagaimana biasanya, hadir para dosen dan staf tenaga kependidikan.

Sebelum membagikan sepeda, Presiden menyampaikan pidato kuliah umum. Presiden menyampaikan beberapa kenyataan terkait teknologi yang mengharuskan kita untuk selalu melakukan inovasi. Beberapa pekerjaan dimungkinkan hilang, oleh karena itu peluang baru harus diciptakan.

Bagi-bagi sepeda dilakukan di akhir pidato, melalui sebuah foto lama yang berjudul "Pernah Muda". Ada dua staf yang diminta maju untuk menebak mana foto yang menunjukkan Jokowi. Karena itu foto lama, Jokowi melompati foto kedua dari 3 foto. 

"Saya sendiri juga lupa, saya yang mana. Lompati saja lanjut ke foto ke tiga", demikian Presiden berkelakar.

Foto itu memang foto lama, sehingga besar kemungkinan Presiden lupa. Apalagi pada foto ke dua tampak ada dua foto yang sedikit mirip. Dua staf yang maju berhasil menjawab. Sudah bisa diterka, "minta sepeda?", tanya Presiden. Seorang staf presiden maju dan berbisik ke Presiden bahwa sudah disiapkan sepeda untuk kedua staf tersebut.

Di akhir acara, Presiden berpamitan. Gaya "jawanya" membuat Presiden tidak hanya mengajak jabat tangan pada pejabat yang dekat dengan tempat duduknya, namun sebagian besar pejabat yang duduk di panggung utama beliau dekati untuk bersalaman. Ketika turun dari panggung, staf yang hadir langsung beliau ajak salaman. Kejadian ini langsung menarik minat staf lain untuk merengsek maju dan meminta bersalaman. Tidak sedikit pula yang minta foto, baik menggunakan handphone sendiri atau meminta orang lain mengambilkan.

Berikut beberapa foto hasil tangkapan layar di streaming ugm.ac.id/streaming
























Wednesday, 13 December 2017

,

Coaching: banyak maju, sedikit mundur

Banyak orang bermasalah, tapi tidak tahu bahwa dia bermasalah. Atau tahu bermasalah, tapi tidak tahu solusi masalahnya. Atau, ada juga yang tidak sadar dia bermasalah, serta merasa baik-baik saja.

Purwo.co – SMS masuk ke handphone saya. Sejak adanya WA alias whatsapp, ada dua kemungkinan status SMS yang masuk: penting, atau iklan. SMS yang baru masuk itu, ternyata notifikasi dari InEMS (Internal Electronic Mailing System) di tempat kerja, yang membawa berita undangan “pelatihan coaching”. Judul pelatihan yang terasa aneh di telinga saya. “Ini pelatihan apa?”, fikir saya. Coach, pelatih, sepakbola…

Paijo: “kok aneh, Kang?”
Karyo: “biasane kalau dengar kata “coach”, saya ingatnya Coach Indra Syafri, Coach Jeksen”

Setelah undangan saya buka, tidak banyak info yang tercantum. Standard saja, hanya tanggal, tempat dan waktu pelaksanaan. Meskipun ada keterangan materi, namun masih belum menjawab keingintahuan saya. Pelaksanaan kegiatan tanggal 4-5 Desember 2017,  1 ½ hari. Untuk mengikat peserta, panitia membuat grup whatsapp, sekaligus menyampaikan latar belakang, dan proposal materi dari trainer.

Agaknya pelatihan ini bukan main-main, selain hanya diikuti oleh 30 orang (dari unsur KPFT + masing-masing 2 dari tiap departemen), pelatihan ini juga diisi oleh pemateri dari Jakarta, dari sebuah lembaga yang bernama Coaching Indonesia. Proposal pemateri menyebutkan cukup lengkap latar belakang lembaga, calon pengisi dan klien yang pernah memanfaatkan keahliannya.

Sepertinya saya beruntung.

Paijo: "Beruntung piye, Kang?"
Karyo: "Ya beruntung. Yen mbayar dhewe, kayake ra kuat, Jo?

###

Senin pagi, (4/12) hari pertama pelatihan. Acara dibuka oleh Wakil Dekan FT UGM bidang SDM.  “Yang hadir di sini, merupakan orang pilihan”, begitu kira-kira salah satu kalimat yang disampaikan. Agaknya memang tidak berlebihan. Tiga puluh orang, di antara sekian ratus karyawan di FT UGM. Ada harapan besar dari manajemen pada kami yang saat itu duduk rapi pada masing-masing kursi secara berkelompok. Sontak, beban tiba-tiba datang. Bisakah menanggung beban itu?

Seorang wanita, dengan umur kira-kira 40-an, namun terlihat masih muda dan enerjik, maju dan mengenalkan diri. Bu Dita, begitu dia mengenalkan dirinya. Di belakang namanya ada tambahan ACC, sebuah tambahan nama yang kemungkinan besar bukan dari lembaga pendidikan formal. Benar, dari perkenalannya ACC merupakan kependekan Associate Certified Coach, salah satu tanda lulus sertifikasi Coach. Dengan suara jelas, serta kalimat yang tertata, Bu Dita memulai sesi pertama. Selain mengenalkan dirinya, Bu Dita juga menyebut beberapa nama perusahaan yang menjadi klien-nya. Serta mengenalkan pemateri kedua, partnernya, yang benama Lina. Perempuan yang agaknya lebih mudah beberapa tahun dari Bu Dita.

Keduanya menemani kami belajar selama 1 ½ hari. Satu setengah hari yang meriah, dan kadang di warnai guyon bapak-bapak 50-tahun ke atas.

###

Sesi pertama berisi penjelasan atau pengertian coach, coaching, coachee, klien. Kemudian prinsip dasar coaching, dilanjutkan dengan sesi demo dan role play di sore hari yang mengharuskan kami berperan sebagai coach dan  coachee secara bergantian.

Coaching, sebatas yang saya tangkap merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan masalah, mengatasi masalah, meningkatkan potensi diri atau kelompok, menjaga keseimbangan hubungan dalam sebuah kelompok dan lainnya. Proses coaching tidak jauh berbeda dengan bimbingan/konseling, namun memiliki metode yang berbeda.

Prinsip dasar coaching adalah “setiap orang, sesungguhnya memiliki solusi sendiri atas masalahnya”.

iGROW
Coaching merupakan proses komunikasi antara coach dan klien (satu – satu), atau coach dan kelompok klien ( satu – dan maksimal 8 klien) untuk menyelesaikan masalah, membahas masalah, atau untuk menentukan rencana kelompok pada masa yang akan datang.  Proses komunikasi antara coach dan klien menggunakan rumus iGROW. Rumus inilah yang membedakan metode antara coaching dan konseling, misalnya. Pada lembaga lain, ada yang menyebut TGROW. T berarti TOPIC, misalnya pada video ini https://www.youtube.com/watch?v=Pa_dgOqw0Z8.

iGROW merupakan kependekan dari intention, goal, reality, option, dan will. Intention berarti coach “hadir”, benar-benar hadir pada proses coaching, dan benar-benar konsentrasi, fokus pada klien. Dia tidak boleh “nyambi” pekerjaan lain. Kehadiran dan keseriusan ini penting, karena akan menentukan kualitas hubungannya dengan klien. Hubungan ini akan berpengaruh pada hasil akhir proses coaching.




G berarti Goal, yang bermakna proses coaching harus diawali kesepakatan tujuan yang hendak diperoleh klien dan coach. Tujuan ini terbagi dua: 1) apa yang hendak dibicarakan; dan 2) apa yang ingin diperoleh klien pada akhir sesi coaching. Dua hal ini harus disekapati di awal, agar menjadi pedoman, khususnya bagi coach untuk membantu klien menemukan solusi bagi dirinya sendiri.

R berarti reality atau kenyataan. Tahap ini merupakan tahap paling panjang, dan menentukan. Kadang dianggap tahap paling sulit bagi coach. Kemampuan coach diuji di sini. Coach akan mengajukan pertanyaan pada klien, dan pertanyaan ini diharapkan dapat menggali kenyataan-kenyataan yang sedang dihadapi oleh klien. Pertanyaan yang diajukan harus berupa pertanyaan yang bertenaga (powerfull).

Pertanyaan yang bertenaga dicirikan oleh beberapa hal: 1) berdasar kata kunci yang diutarakan klien, 2) berupa pertanyaan terbuka, 3) mampu membuat klien berfikir mendalam, 4) umumnya diawali dengan pertanyaan “apa”. Akibat pertanyaan yang bertenaga ini, klien biasanya akan berfikir sejenak sebelum menjawab. Atau kadang klien akan terbawa pada kondisi emosinya. Jika emosi tidak stabil, maka proses coaching bisa dihentikan sejenak.

O berarti option atau pilihan. Pada tahap ini, coach dapat mengajukan pertanyaan yang mendorong klien berfikir mencari solusi sendiri. Bukan hanya satu opsi, tapi bisa berbagai opsi. Jika telah diperoleh, maka coach dapat membantu menguji solusi ini dengan pertanyaan-pertanyaan “ujian”. Misalnya: “yakin dengan solusi itu?”, “apa alasan mengambil solusi tersebut?”.

W berarti will, atau aksi/tindakan yang hendak dilakukan klien terkait dengan solusi yang dipilihnya. Kapan hendak dilakukan, apa yang bisa menjadi indikator keberhasilannya, serta bagaimana coach dapat mengetahui perkembangannya.

Komitmen akhir antara coach dan klien penting, terutama untuk proses coaching berikutnya. Apa yang akan dilakukan klien harus diketahui coach, untuk kemudian akan dilanjutkan diskusi perkembangannya pada coaching berikutnya.

sumber: http://coachingindonesia.com/ftugm/cfe.pdf


####

Sekilas, agaknya proses coaching ini sederhana dan mudah. Namun, ketika masuk sesi role play, saya gelagapan. Proses R tampaknya menjadi proses yang paling rumit dan perlu jam terbang untuk bisa menguasai keadaan. Alih-alih ingin mengungkap kenyataan yang dirasakan klien, terkadang coach justru terjebak ingin cepat-cepat memberi solusi bagi klien. Padahal, memberi solusi itu haram dilakukan coach, kecuali diminta. Itupun hanya sebatas saran, tidak boleh dipaksakan.


Selain terjebak pada keinginan memberi solusi, coach juga gelagapan mengajukan pertanyaan yang bertenaga. Proses berfikir untuk mengajukan pertanyaan bertenaga harus dilakukan disaat klien menjawab pertanyaan, sambil coach mencari kata kunci dari setiap jawaban yang dilontarkan klien.

Proses coaching seharusnya merupakan proses maju, dengan sedikit mundur. Bukan banyak mundur dengan sedikit maju. Nah, godaan berikutnya bagi coach adalah banyak mundur mengorek masa lalu klien. Apalagi, jika klien cerita tentang orang lain, cerita masa lalu klien akan menjadi sangat menarik. Padahal ini berbahaya.

###

Coach beda dengan trainer. Trainer bisa selesai setelah acara pelatihan, namun coach tidak. Itulah sebabnya, pada dunia sepakbola disebut Coach. Coach di sepakbola tidak sekedar bertanggungjawab pada skill menendang bola, tapi lebih dari itu.

Kemampuan menjadi coach, dalam arti seluas-luasnya, perlu dimiliki semua orang. Kemampuan ini bisa digunakan untuk dirinya sendiri, keluarganya, lingkungan kerjanya, atau dalam proses berinteraksi dengan tetangganya.

Paijo: “dengan tetangga, Kang? Maksude piye?”
Karyo: “ya, misalnya ketika ronda, jagongan, ana sik punya masalah. Lak bisa tho diterapkan rumus iGROW itu. Lak rondane lebih bermanfaat, dari pada ronda sambil nyabetke kartu remi”

Sejak Paijo diceramahi Karyo tentang coaching, Paijo tak lagi melewatkan malam-malam jatah rondanya hanya dengan gaple dan remi. Dia mau membagi waktu dengan mencoba rumus dari Karyo. Paijo tidak mau menjadi orang ketiga, yaitu orang yang tidak sadar bahwa dia bermasalah, serta merasa baik-baik saja.

Paijo ingin jadi orang beruntung.

Lihat juga video:
How to coach an employee to improve performance https://www.youtube.com/watch?v=4VClQ2AU5zs - 5 STEPS TO HIGH PERFORMANCE COACHING SKILLS https://www.youtube.com/watch?v=WW_B90k_xtI - 
The Three Core Coaching Skills https://www.youtube.com/watch?v=bYZZQigq


Sambisari, 13 Desember 2017
21.15 malam



, , , ,

[mencoba] Memanfaatkan Line Official untuk promosi perpustakaan

Poster BEM FT (sumber OA Line BEM FT UGM)
Purwo.co -- Berawal dari keheranan saya pada akun official (OA) Line organisasi mahasiswa, atau kegiatan mahasiswa yang memiliki follower banyak. Kemudian ketika ketemu mahasiswa jaman now lebih familier dengan Line dibanding WA. Keheranan ini mengantarkan saya untuk kembali membuka Line Official Perpustakaan FT UGM yang setahun mati.

Sebenarnya kami telah membuat Grup Line sebagai backup grup WA perpustakaan yang anggotanya mencapai 251, tinggal 5 kuota lagi. Padahal masih ada mahasiswa yang minta dimasukkan/gabung dalam grup WA tersebut. Grup Line telah memiliki anggota 367 akun. Prediksi saya banyak mahasiswa S1, meski ada beberapa mahasiswa pasca atau mahasiswa luar FT UGM.

Nah, kembali ke akun official (OA) Line Perpustakaan FT UGM. Saya buka lagi, sebenarnya juga atas saran mahasiswa. Saya coba pelajari lagi, apa sebenarnya yang beda di Line OA ini. Ternyata ada beberapa kelebihan. Beberapa catatan saya:
  1. Line lebih mirip ke telegram dibanding Whatsapp (WA). Line memiliki fitur bot sederhana yang bisa dimanfaatkan untuk membuat auto reply. Agaknya ini cocok untuk membuat FAQ perpustakaan. Ketika mahasiswa mengirim kata "jurnal", misalnya, maka mesin akan menjawab informasi terkait
  2. Ada fitur kirim pesan ke semua anggota/follower. Pesan akan terkirim ke inbox masing-masing seperti kiriman pesan pribadi. Ini menarik, karena penerima lebih peduli. Berbeda jika pesan itu masuk ke grup, belum tentu dibaca.
  3. Greeting message yang dikirimkan ke follower baru. Greeting message bisa diisi dengan info awal tentang perpustakaan.
  4. Timeline, seperti wall di facebook yang bisa digunakan untuk posting info terkait perpustakaan secara detail sebagai pelengkap pesan personal.
  5. 1 on 1 chat, bisa digunakan untuk chat dengan follower

Orang memasang WA lebih karena teman-temannya banyak yang menggunakan WA. Namun, agaknya agak beda dengan Telegram dan Line. Bot telegram, dan OA Line yang bermanfaat bisa menjadi alasan untuk memasangnya, meskipun tidak banyak teman-temannya yang memasang.

Official Line Perpustakaan FT UGM: ugm.id/linepft
Grup Line Perpustakaan FT UGM: ugm.id/linePFT

Dukungan mahasiswa
Alhamdulillah, teman-teman mahasiswa mendukung. Bahkan BEM sendiri mau membuatkan poster publikasi dan diposting di timeline. Alhasil, follower dan anggota grup Line Perpusakaan FT UGM menjadi naik drastis.

Terimakasih, Pak, sdh ada line official account akhirnya :) Kami (mhsswa s1) mmg cndrung kalo di grup  pakai line krna bisa ada "notes" yg blm ada di wa misal ada info penting. (Tyas/Mahasiswa S1)

Sekarang, tinggal belajar memanfaatkannya melalui ngangsu kawruh pada yang sudah berpengalaman dalam mengelola OA Line, baik itu dengan mahasiswa atau siapapun.

Paijo: "nah, begitu, Kang. Sinau pada semuanya. Jangan pilih-pilih".

Rabu, 13 Desember 2017 


Monday, 11 December 2017

CentraLAB Jogja: bukan sekedar jualan 3D Printer, tapi lebih dari itu…


Sabtu (9/12), saya memenuhi janji untuk datang ke workshop Dr. Herianto (dosen DTMI FT UGM). Sebenarnya kami telah janjian pekan sebelumnya, namun batal karena waktu yang kurang pas. Pekan sebelumnya, saya juga harus kembali ke Gunungkidul, kampung halaman saya terkait kejadian pasca banjir.

kantor CentraLAB
Kunjungan saya, terkait dengan obrolan kami di samping KPFT UGM beberapa waktu lalu tentang 3D printer. Selain itu, pada perkembangan perpustakaan (lebih tepatnya trend), 3D printer kerap disebut oleh para ilmuwan perpustakaan, dan ditulis pada beberapa artikel ilmiah. Kunjungan saya ke workshop tersebut untuk menjawab beberapa pertanyaan saya tentang 3D printer.

Pukul 8.30 pagi saya sampai di workshop. Workshop tersebut bernama Centra-Lab, lokasinya di utara terminal Condong Catur Yogyakarta. Tepatnya di Jalan Brojomulyo 165 A, Condong Catur, Depok, Sleman. Menempati sebuah bangunan yang letaknya cukup strategis, di pertigaan jalan, membuatnya mudah dilihat dan ditemukan. Pada bagian depan bangunan terdapat identitas tertulis Centra-Lab, dan PT. Centra Teknolgi Indonesia. Saya masuk, mengutarakan maksud dan menyampaikan kepada seorang anak muda yang duduk di front office, bahwa saya telah membuat janji dengan Dr. Herianto.

Alamat web CentraLAB: http://www.centralab-jogja.com/

bekerja 7 hari nonstop: cadass
Tatapan mata anak muda itu sedang terkonsentrasi pada layar komputer, dan di sampingnya tampak sebuah printer 3D sedang bekerja membentuk maket yang belum sempurna. Beberapa waktu kemudian, Dr. Herianto datang, menyalami saya kemudian memberitahukan bahwa printer 3D yang ada disamping mahasiswa tersebut merupakan hasil riset si mahasiswa, yang kemudian saya tahu bernama Yudi. Yudi sedang menyelesaikan tugas akhinrya.

Saya kemudian diajak masuk ke beberapa ruang yang ada di bangunan tersebut. Pada ruang pertama, tampak beberapa mesin 3D printer sedang dalam kondisi hidup dan bekerja membuat maket sesuai perintah atau desain yang tersimpan pada memory card. Memory card tersebut menancap di sisi layar LED berwarna biru. Printer ini sanggup bekerja non stop selama sepekan tanpa berhenti. Hal ini kerap dilakukan sebagai ujicoba ketahanan mesin/komponen sebelum sampai ke tangan konsumen.

fokus
Pada ruang lainnya, tampak beberapa orang sedang mencermati 3D printer yang hidup dan melakukan proses mencetak. Ternyata mereka sedang melakukan penyetelan akurasi pencetakan, sebuah proses yang dilakukan pada mesin 3D printer sebelum dipasarkan.

Selain itu, ada ruang research and development yang menjadi tempat melakukan disain dan perencanaan pengembangan produk. Meski gedung tidak begitu besar, namun ada pembagian ruang sesuai dengan fungsi sebagaimana sebuah perusahaan besar. Hal ini menunjukkan bahwa ada konsep yang jelas dalam menggerakkan workshop ini. Mulai dari riset – produksi – promosi – pemasaran – layanan - layanan purna jual. Selain itu juga melayani pelatihan terkait 3D printer.

Centra-lab, berdasar informasi yang saya tulis di atas, bukan sekedar menjual alat, atau bukan pula distributor alat yang mengambil untung dari marjin penjualan. Bukan. Centra-Lab ini melakukan riset, analisis, desain, pembuatan/produksi alat 3D printer kemudian menjualnya. Selain itu juga melayani jasa cetak 3D, serta layanan purna jual pada kerusakan pada unit milik konsumen.

Printer 3D ukuran jumbo
Produk yang dibuat memiliki masa produksi, dan akan atau disempurnakan dengan produk penyempurna jika telah melampaui masa produksi.

Paijo: "jadi, CentraLab ini tidak baen-baen, Kang?"
Karyo: "O, iya. Ada keseriusan di dalamnya. Ada bakat dan kemampuan ngedap-edapi generasi sekarang. Tinggal kita dukung".

Bahan cetak menggunakan coklat
Salah satu inovasi yang dilakukan Centra-Lab yang telah berhasil dilakukan yaitu membuat mesin cetak 3D dengan memanfaatkan coklat sebagai bahan cetaknya. Meski masih harus disempurnakan, namun secara fisik dan fungsi, mesin ini telah berhasil diciptakan.

Selain itu, pada workshop ini tampak sebuah printer 3D berukuran jumbo. Printer ini tentunya mampu mencetak model dalam ukuran besar. Printer berukuran jumbo ini, juga merupakan bagian dari riset pengembangan yang terus dilakukan di Centra-Lab.

Beberapa catatan
Ruang Produksi
Terkait penerapan layanan 3D printing di perpustakaan, ada beberapa catatan yang perlu dipertimbangkan di awal, tentunya berdasar apa yang saya lihat di CentraLab ini. Pertama terkait harga, sebenarnya tidak begitu mahal bagi perpustakaan berukuran menengah. Kisaran 6-10 juta, dengan garansi satu tahun. Kemudian terkait bahan untuk mencetak yang juga harus dibeli. Bahan yang digunakan untuk bahan cetak yaitu plastik berbentuk tali panjang berdiameter 3 mm yang digulung. Untuk jasa layanan cetak, dikenakan biaya per gram.

Catatan berikutnya terkait proses cetak, diperlukan desain model dalam bentuk file yang kemudian akan diolah oleh operator ke bentuk file yang dapat dibaca oleh mesin. File disimpan dalam memory card untuk dihubungkan ke mesin. Proses mencetak tidak memerlukan koneksi antara mesin dan komputer.

Berdasar catatan di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk memboyong alat 3D printer ini di perpustakaan, diperlukan persiapan untuk pengadaan alat, perawatan, dan bahan untuk mencetak. Serta diperlukan operator yang memiliki skill teknis disain model dan pencetakan.

Printer cetak dengan bahan cetak Coklat


Tentunya, beberapa persiapan di atas tidak harus semuanya dilakukan (dibeli) perpustakaan. Perpustakaan bisa pula melakukan kerjasama dengan pihak lain yang telah terbiasa dengan 3D printer.

Paijo: “Piye, Kang?. Jadi beli ndak untuk membuat makerspace?”
Karyo: “dipertimbangkan dulu, Jo.”
Dari obrolan bersama Dr. Herianto, kami memiliki beberapa rencana. Semoga bisa dilaksanakan. Bagi teman-teman pustakawan atau siapapun yang berniat mengetahui lebih lanjut tentang teknologi cetak 3D, membeli mesin cetaknya, perbaikan, atau ingin memanfaatkan jasa cetak 3D, silakan datang ke CentraLAB.

di ruang depan


Sambisari, 11 Desember 2017
06.09 pagi

Thursday, 23 November 2017

Di manakah sebaiknya beskem dosen (ilmu) perpustakaan?

Hujan dan kelapa muda
Purwo.co -- Departemen (ilmu) perpustakaan menempati posisi unik. Hanya beberapa saja yang menyamai uniknya departemen ini.

Dia unik, karena yang dikaji ada di lingkungannya sendiri. Pada perguruan tinggi yang memiliki departemen ini, pasti juga memiliki perpustakaan pada berbagai tingkatan. Perpustakaan yang ada, dapat sekaligus menjadi laboratorium bagi mahasiswa yang belajar pada departemen (ilmu) perpustakaan. Mahasiswanya bisa langsung praktik, menerapkan pengetahuan yang diperoleh ketika kuliah.

Paijo: “wah, jadi kudunya perpustakaan yang ada di perguruan tinggi tersebut pasti maju ya, Kang?”
Karyo: “ya pasti, Bro. Wong yang mengelola juga para winasis bidang perpustakaan, je”.
###
Nah, bagaimana dengan dosennya?
Fakultas yang memiliki laboratorium, menempatkan beskem dosen pada lab yang paling dekat dengan minat dosen yang bersangkutan. Dengan demikian, dosen bisa dekat dengan alat yang ada di lab, dekat dengan laboran yang mengelola lab, dan tentunya dekat dengan mahasiswa yang sedang nge-lab untuk menyelesaikan penelitiannya.

Kondisi di atas, menjadikan lab sebagai pusat kegiatan ilmiah antara mahasiswa-laboran-dosen dengan perannya masing-masing. Jika mahasiswa perlu alat, maka laboran akan dengan sigap membantu dan mendampingi praktikum. Jika mahasiwa dan laboran kesulitan, maka dosen akan dengan datang mudah membantu, karen memang jaraknya dekat. Dosen, menjadi tidak tercerabut dari apa yang diajarkannya. Tiga pihak tersebut bisa saling membantu.

Bagaimana dengan dosen (ilmu) perpustakaan?
Pada awal tulisan telah saya tulis, bahwa perguruan tinggi yang memiliki departemen (ilmu) perpustakaan, pasti juga memiliki perpustakaan. Nah, sesuai dengan fakta bahwa sudah umum jika dosen memiliki beskem di lab, maka tidak ada pilihan lain pula bagi dosen (ilmu) perpustakaan.

Paijo: “pilihan opo, Kang?”
Karyo: “ya pilihan nge-pos di perpustakaan, Jo”

Jika dia benar-benar memiliki ruh kepustakawanan, maka dia semestinya nge-pos di perpustakaan. Karena ruh itu akan menggiringnya untuk ke perpustakaan. Dengan begitu dia akan dekat dengan mahasiswa, dan juga dekat dengan pustakawan, sosok yang setiap hari proses “produksinya” dia lakukan. Dosen bisa ngetes ilmu yang dimilikinya dengan nge-pos di perpustakaan. Benarkah dia juga mampu melayani pemustaka dalam berbagai karakternya? Menjawab pertanyaan mahasiswa yang membutuhkan informasi atau semacamnya? Dan ikut menjadi bagian dari pemecah masalah yang muncul pada pengelolaan sehari-hari perpustakaan.

Paijo: "loh, apakah jika tidak nge-pos di perpustkaan, berarti tidak memiliki ruh kepustakawanan?"
Karyo: "ya, ndak gitu juga tho, Jo. Hanya salah satu kemungkinan penciri saja"

Dosen (ilmu) perpustakaan yang nge-pos di perpustakaan, bisa melayani kebutuhan mahasiswa level atas. Mahasiswa S3 misalnya, yang kemungkinan kebutuhannya adalah kebutuhan tingkat tinggi. Ya, maklum saja, wong mahasiswa S3. Tentunya terkait berbagai hal yang akan lebih mantap jika yang melayani adalah dosen (ilmu) perpustakaan. Atau, melayani pemustaka dari kategori dosen.

Paijo: “loh, pustakawan berarti ndak mampu, Kang?”
Karyo: “yo, mampu juga, asal belajar, Jo”.

Dia juga bisa tahu lebih banyak tentang kebutuhan mahasiswa, kesulitannya, serta memonitor kemampuan pustakawan yang sudah lahir dari proses produksi yang dia lakukan. Kalau ada kerusakan (ibarat mobil), maka dia bisa langsung memperbaikinya.

Kolaborasi pustakawan-dosen lebih mudah dilakukan. Kesehariannya mereka bertemu, sehingga sekat-sekat status di perguruan tinggi bisa dirobohkan. Semua sama, yang beda cuma gajinya.

Kegiatan konsultasi, dan bimbingan yang diperlukan mahasiswanya, juga dilakukan di perpustakaan. Maka, lengkaplah. Perpustakaan benar-benar pusat, dia dihidupkan bukan saja oleh pustakawan, namun juga secara rutin oleh dosen-dosen (ilmu perpustakaan) nya.

Dosen (ilmu) perpustakaan yang mau mengambil posisi ini, benar-benar dosen yang patut diteladani.

Sebaliknya, ketika dia masih mengasingkan diri di ruang-ruang yang jauh dari perpustakaan, maka sesungguhnya dia secara sadar membuat jarak dengan mahasiswa dan pustakawan, sosok yang diproduksinya sendiri. Dia meletakkan perpustakaan sebagai “yang lain”, terpisah, tidak menubuh.

Paijo: “jadi nge-pos di perpustakaan itu, bukan sekedar nge-pos, Kang?”
Karyo: “ya ndak tho, Jo. Kalau bisa ya ada ruang kecil buat mereka, dan ndak sekedar duduk dan ngetik di perpustakaan. Tapi juga bersama melakukan layanan pada pemustaka. Lah, seneng tho. Akur tur guyub”

Karyo, hanya sedekar menyampaikan perenungannya saja, dengan harapan apa yang direnungkan itu memberi manfaat. Karyo menyadari, ada pro-kontra pada pendapatnya. Karyo menghormati itu semua.



Sambisari
Kemis Pahing, 4 Mulud 1951 Je
05.29  enjeng

#pustakawanbloggerindonesia

Wednesday, 22 November 2017

,

Inilah konsep utama perpustakaan yang telah lama hilang

Jalan menuju hutan di Ngliparkidul, GK, Yogya.
Purwo.co -- Pustakawan atau mahasiswa (ilmu) perpustakaan jaman now, sudah tidak asing lagi dengan berbagai istilah yang membius intelektualitasnya dalam mengkaji perpustakaan. Learning common, makerspace, co-working space, dan semacamnya. Yang terkadang merdu dan indah didengar, tapi cukup terjal jalan untuk mewujudkannya. Bahkan, mungkin bagi yang mengajarkannya pun, belum tentu bisa melakukannya.

Paijo: “we, lha”
Karyo
: "iki cuma ngudo roso, Jo. Oleh setuju, oleh ora setuju.
 

Konsep tersebut di atas, sesungguhnya, dalam konteks kepustakawanan di Indonesia, merupakan konsep import. Konsep yang diangkut dari makalah atau tulisan para pemikir bidang perpustakaan di luar Indonesia. Tak ada konsep aseli/original ilmuwan Indonesia yang muncul atau dimunculkan sebagai konsep pengelolaan perpustakaan. Copy-paste, sudah dilakukan sejak dalam konsep.

Konsep tersebut tidak begitu saja muncul di negaranya atau konteks sosial masyarakatnya. Pasti ada latar belakangnya. Terutama alasan semakin berkurangnya orang yang datang ke perpustakaan, dan lebih senang ke mall. Maka suasana mall “dibawa” ke perpustakaan. Biar nyaman di perpus, maka ruangan didesain modern, nggaya dan kekinian.

Baca juga Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya

Jika demikian, suasana luar yang digemari orang akan muncul di perpustakaan dan diharapkan akan lebih banyak yang datang. Untuk lebih menarik lagi, maka makerspace yang ada di luar perpustakaan, diduplikasi, di bawa ke perpustakaan kemudian dilabeli sebagai generasi terbaru pengembangan perpustakaan.

Pokoknya demikian, seterusnya. Jane yo rodo njelehi.

Siapakah yang “dikorbankan” dengan label-label atau konsep import tersebut? Pustakawan. Dia dibombardir konsep, seolah dipaksa mengikuti jika tidak ingin ketinggalan dengan perpustakaan lain. Gambar atau foto perpustakaan yang telah menerapkan, dipamerkan sebagai pelengkap slide yang menghipnotis. “Wow, kerenn”, begitu kira-kira komentar pustakawan yang melihat. Padahal, belum tentu perpustakaannya, pada detik itu membutuhkan.

Pustakawan mana yang ndak ingin perpustakaannya keren?. Semua mesti pengen
.

Pada berbagai konsep kepustakawanan, ilmuwan perpustakaan hanya sebatas mengkaji-mengajarkan-mempublikasikan. Pustakawan juga mengkaji, namun juga harus melaksanakan. Ada juga yang ikut mengajarkan, serta menerbitkan (hasil kajiannya).

Paijo: “loh, jadi pada dasarnya lebih berat pustakawan, kang?”
Karyo: “lho, iya. Jelas dong. Makanya  pada ingin jadi dosen (ilmu) perpustakaan. Lah, jadi praktisi itu berat je, Jo”.

###

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya konsep tersebut merupakan konsep kulit, bukan substansi. Perpustakaan yang bagus, alat modern hanya bisa dicapai dengan dana. Perpustakaan yang kaya, pasti bisa mencapainya. Lah yang pas-pasan?

Konsep perpustakaan, seharusnya netral. 

Paijo: “loh, kan semuanya kudu pakai dana, Kang. Jangan ngelantur sampeyan. Jer basuki mowo beyo”.
Karyo: “ya, tapi ya jangan banyak-banyak lah. Mosok perpustakaan dianggap bagus karena memiliki mesin RFID, atau punya ruang-ruang seperti mall. Lak lucu, tha?”

Ya, konsep pengembangan perpustakaan, harusnya netral. Dia hanya bersyarat terkait kompetensi pustakawannya, sebagai penggeraknya. Konsep learning common, co-working, makerspace tidak akan banyak meningkatkan citra pustakawan, karena konsep itu sesungguhnya masih bermain di tataran kulit, dan tergantung dana. Konsep tersebut posisinya ada di luar diri pustakawan, dia tidak melekat penuh pada diri pustakawan. Bahkan menegasikan pustakawan. Konsep tersebut cenderung akan melahirkan kesan “wah” terkait fisik perpustakaan. Pustakawan akan kena efek positif, jika dia bertindak kreatif mendayagunakan dirinya, mengoptimalkan fasilitas tersebut.

Konsep tersebut cenderung meningkatkan citra perpustakaan, bukan citra pustakawan. 
Coba lihat studi banding yang dilakukan pustakawan. Itu studi banding berkunjung ke perpustakaan. Ingat! ke perpustakaan (fisik). Jika ingin studi banding substansi, seharusnya ke pustakawannya. Dan itu tidak harus datang fisik. Bisa melalui email, whatsapp, telegram dan lainnya.

Paijo: "studi banding dengan datang fisik itu jane piye, Kang?"
Karyo: "itu piknik, Jo"

Lalu apa konsep (layanan) perpustakaan yang sesungguhnya?
Pada masanya, perpustakaan pernah menjadi pusat. Proses pendidikan dan berbagai kegiatan ilmiah dilakukan di perpustakaan serta melibatkan pustakawan secara aktif, namun  sekarang sebaliknya.

Pada masa-masa terbaik perpustakaan tersebut, perpustakaan melakukan penerjemahan. Ini yang perlu digaris bawahi, PENERJEMAHAN. Penerjemahan karya ke dalam bahasa setempat. Selain itu juga proses penyalinan karya. Sebenarnya lebih pas, bukan konsep yang "sesungguhnya". Namun, konsep yang telah lama hilang, sebagaimana judul postingan ini.

Dengan kegiatan penerjemahan ini, pustakawan (yang juga seorang ilmuwan) akan tahu banyak hal tentang ilmu pengetahuan. Pengetahuannya akan benar-benar dihargai. Peran penerjemahan ini, setidaknya dituliskan pada buku Pak Dhe Ziaudin Sardar (1993), dan Kang Agus Rifai (2013).

Penerjemahan dan penyalinan, menjadi ruh yang membuat aura perpustakaan dan pustakawan menjadi sangat berwibawa.

Lalu ke mana layanan penerjemahan itu sekarang? Layanan atau aktivitas tersebut terputus ratusan tahun. Pendidikan yang mencetak pustakawan, sudah tidak lagi menjadikan penerjemahan sebagai bagian dari layanan perpustakaan. Penerjemahan diambil dana dibawa ke luar perpustakaan, kemudian menjadi area bisnis. Dia tidak lagi ada di dalam perpustakaan.

Paijo: “wa, lah berat je, Kang”
Karyo: “memang, Jo. Peran atau layanan penerjemahan itu berat. Tapi itu benar-benar masuk di substansi”.

Membuat ruang, menerapkan alat canggih itu perlu, tapi tidak akan sampai pada tataran “penting”. Karena dia kebutuhannya tergantung pada kondisi sosial dan budaya pemustakanya. Yang penting adalah meningkatkan peran pustakawannya. Karena sesungguhnya perpustakaan adalah pustakawan itu sendiri.

#pustakawanbloggerindonesia
Sambisari,
Rebo Legi, 3 Mulud 1951 Je
04.43  enjeng

Monday, 20 November 2017

, ,

Pustakawan dan (ilmuwan) perpustakaan perlu mencontoh akun facebook ini

Purwo.co -- Facebook, jamak dikenal sebagai media sosial. Digunakan sebagai wakil diri, penjelmaan diri pada dunia virtual, dan melakukan beberapa hal selayaknya dilakukan pada dunia nyata. Bukan hanya penjelmaan orang, namun kadang Facebook juga dijadikan penjelmaan institusi, kegemaran, atau komunitas. Fiturnya memang memungkinkan hal tersebut.

Nah, apa yang disebarkan oleh wakil-wakil di dunia virtual tersebut? Ini yang saat ini jadi persoalan dengan maraknya berita hoax, hoek, palsu, dan semacamnya. Berita itu disebarkan dengan tujuan tertentu, yang tujuan itu dirasa bisa lebih cepat diperoleh di dunia virtual dibanding nyata. 

Namun, apakah semuanya demikian? Tentu saja tidak. Setidaknya, saya melihat ada beberapa akun yang konsisten, atau sebagian besar postingnya adalah hal positif dan bermanfaat. Berikut dua diantaranya.

Feriawan Agung Nugroho
salah satu posting Feriawan
Kang Feri, atau Mas Feri, begitu biasanya dia dipanggil. Saya mengenalnya pada tahun 2001, ketika saya mulai kuliah di UGM. Kang Feri senior saya yang aktif di Jamaah Shalahuddin UGM, sedangkan waktu itu saya anggota baru. Akun Facebooknya dapat diakses di https://www.facebook.com/feriawan?fref=ts.

Posting Kang Feri, yang konsisten bercerita tentang berbagai hal terkait pekerjaannya sebagai pekerja sosial yang melayani simbah-simbah lanjut usia di sebuah panti sosial di wilayah Sleman, sangat menarik disimak. Terkadang cerita tentang kisah cinta simbah-simbah, mopoki, menjemput simbah yang hendak menjadi klien-nya di panti sosial dengan segala dinamikanya. Cerita tentang kematian klien, atau tak pedulinya keluarga klien ketika orang tuanya meninggal. 

Postingan yang konsisten, dengan tulisan renyah dan gurih dibaca, menjadikan pandangan orang pada pekerja sosial, pekerjaannya, serta dinamika di balai sosial berubah. (note: sejak kuliah, bahkah sebelum kuliah, Kang Feri memang pandai menulis. Cerpen/novelnya pernah diposting dengan ID “teroris cinta” pada jaman Friendster masih berjaya. cek di sini https://feriawan.wordpress.com/novel-ktcdh-yg-tertunda/).

Komentar, atau respon sedih, gembira, menangis dan lainnya mengikuti postingan Kang Feri. Tidak jarang, disertai doa, agar selalu diberikan kesehatan dalam menjalani profesinya. Agaknya, kesan “iri” juga sangat mungkin muncul. Iri pada pekerjaan Kang Feri, yang begitu dinikmati, dan dekat dengan berbagai kesempatan berbuat kebaikan.



Baca juga Menanti doktor (ilmuwan) perpustakaan yang rela nge-blog ala Dongeng Geologi 


Ismail Fahmi
Posting Ismail Fahmi
Ismail Fahmi, atau Mas Is, demikian beliau biasa dipanggil, merupakan seorang pegiat teknologi. Dulu dikenal sebagai penggerak IDLN, KMRG ITB, dan penggagas GDL atau Ganesha Digital Library. Selepas lulus Doktor dari Belanda, beliau kembali ke Indonesia dengan berbagai kegiatannya. Akun Facebooknya dapat diakses di https://www.facebook.com/ismailfahmibdg.


Postingannya di akun Facebook yang  menyita perhatian adalah postingan tentang analisis cuitan di media sosial Twitter terkait isu terkini. Isu politik, ekonomi, dan yang sedang trending lainnya. Postingan beliau tidak sekedar posting, namun dilengkapi gambar yang memperlihatkan peta isu, sekaligus analisisnya. Lengkap. Inilah kekuatan dan karakter postingnya. 

Analisis tersebutlah yang menarik. Dari analisisnya, kita bisa mendapatkan informasi “konfrontasi” di dunia virtual, dan bagaimana kita menyikapinya. Tidak jarang, beliau juga berbagi slide hasil presentasinya tentang suatu topik.

### 

Demikianlah, kekuatan postingan Kang Feri dan Pak Ismail yang konsisten, dibungkus dengan bahasa yang tepat yang mampu memberi efek positif bagi pembacanya.

Akun Facebook memang menjadi tanggungjawab masing-masing pemilik. Mau diisi apa, mau posting apa, dan mau digunakan sampai kapan. Namun, ketika postingan di Facebook bisa bermanfaat bagi sesama, tentunya akan lebih baik. 

Bagi pustakawan, posting terkait kepustakawanan (seperti halnya Kang Feri yang konsisten bercerita tentang pekerjaannya), tentunya akan memiliki energi positif bagi profesi pustakawan. Baik energi untuk menjaga citra, memperbaiki citra, atau otokritik pada dunia kepustakawanan. Atau posting analisis/hasil pengamatan/penelitian sebagaimana yang dilakukan Pak Ismail, tentunya akan menambah daya gedor pada publik tentang kepustakawanan. 

Sebaliknya, posting tentang jalan-jalan ketika ikut konferensi oleh pustakawan ada kemungkinan (ini cuma kemungkikan, lho), justru akan menjadikan penilaian negatif dari orang lain. Posting jalan-jalan, boleh saja. Tapi jangan sampai lupa, untuk mengimbangi dengan postingan bermutu yang diperoleh selama konferensi atau pengalaman menjadi pustakawan.


Paijo: "lah piye ya. Kadung sampai tempat baru, gratis. Ya sisan"
Karyo
: "iyo, tapi ingat. Ada ribuan mata di luar sana, yang melihat tingkah polah kamu, Jo. Kalau cuma konperan-konperen lalu uplod foto. Njuk po ra isin. Ben dianggep pinter ngono, po?"
Paijo: "Iya ya, jangan sampai jadi terpuruk"
 

Dua contoh akun facebook di atas, dapatlah dicontoh, dijadikan tuladha dalam penggunaan media sosial yang sehat, bermutu dan berkualitas. Postingan foto, atau kesehariaan sebagaimana pada umumnya, pastinya ada. Namun, posting positif yang konsisten dan berkualitas (setidaknya sampai saya menulis ini) pada akun mereka menjadikan nilai tersendiri pada proses bermedia-sosial. 

Siapakah pustakawan dan ilmuwan perpustakaan yang telah konsistem memposting hal positif tentang kepustakawanan?  Atau isinya sama saja, antara ilmuwan dan pustakawan: didominasi jalan-jalan + makanan.  


Silakan lihat   daftar teman anda di Fesbuk.

Media sosial, seharusnya menjadikan kekuatan bagi pustakawan untuk “membuat” informasi sendiri, menyampaikan pendapat, pemikiran. Dengan membuat informasi sendiri, pustakawan telah naik tingkat, dari sebelumnya hanya mengelola yang sudah ada. Media sosial, bisa dijadikan sebagai wadahnya. Jangan takut dikritik. 


Para (ilmuwan) perpustakaan, yang biasa berkhutbah tentang manfaat medsos, harus memberi contoh yang baik.  

### 

Paijo: “wo, katanya seminar, kok Fesbuknya berisi jalan-jalan”
Karyo: “ya, semoga tidak demikian, Jo. Ana hasile, ana efek bagi institusi, ra gur dipakai untuk moncerke diri pribadi saja”.

Karyo, sosok pustakawan yang memiliki prinsip: 1) layani pemustaka 2) berfikir merdeka. Pemustaka harus diutamakan, terutama ketika jam kerja. Sementara berfikir merdeka dimaknainya sebagai sikap pustakawan yang tidak terikat pada pemikiran orang lain.


Karyo lebih memilih bercengkerama dengan mahasiswa di perpustakaan. Kemudian posting di akun facebooknya apa yang dilakukannya bersama mahasiswa tersebut. Ngobrol ngalor ngidul, pulang, lalu istirahat. Demikian, lebih dirasa menentramkan baginya. Meski, konsekuensinya tak ada foto-foto keliling dunia.  
Ketentraman bathin, “urip ayem”, bagi Karyo lebih berharga untuk digapai.
Sambisari, 20 November 2017
5.05 pagi