Monday, 9 July 2018

Da'i dan pustakawan

Jarene wong pinter, "kita adalah da’i sebelum menjadi apapun". Da'i, di KBBI berarti pendakwah. Kerjaannya berdakwah, ngajak marang kebaikan. Lalu siapa yang bisa jadi da'i? Mengajak pada kebaikan itu tanggungjawab semua orang. Artinya semua orang bisa dan berkesempatan jadi da’i. Namun demikian, seseorang akan disebut da'i atau tidak, tergantung pada orang lain. Mau atau tidak orang lain menyebutnya da’i.

Da'i itu sebutan yang disematkan pada seseorang oleh orang lain yang mengakuinya. Jika dia menganggap orang lain itu da'i, ya disebutlah dia da'i. "Itu ada pak da'i, nanti mau ngisi pengajian". Embuh dia sekolah belajar formal atau tidak. Atau cukup nyantrik ke kyai setiap sore, kalau orang menganggap da'i, ya sah dia disebut da'i. Da'i berkaitan erat dengan agama tertentu, Islam.

Da'i yang baik, tidak akan mempermasalahkan da'i lain hanya karena tidak mengenyam pendidikan perdakwahan dan perda'ian.. Da'i diakui dari ilmunya. Semakin tinggi ilmunya, semakin menunduk dan menghargai da’i lainnya, meski berbeda pandangan atau pendapat. Jika ternyata seorang da’i ilmunya janggal, maka dia akan ditinggalkan. Masyaratkatlah yang akan menjadi filternya. Bar.

Sebutan da'i, merupakan sebutan yang given, diberikan oleh masyarakat sekitar. Dia bukan profesi yang diminta oleh Si Da'i. Sebutan da'i bukan hegemoni kelompok tertentu saja, dan tentunya tidak terkait undang-undang.

###

Nah, pustakawan juga seperti da’i. Masyarakat boleh memanggil seseorang sebagai pustakawan berdasar peran nyatanya di masyarakat. Kenapa tidak? Kalau memang tidak pantas, maka tak akan dia disebut sebagai pustakawan bagi orang lain. Jika Paijo itu mengabdikan dirinya untuk kegiatan yang terkait pustaka, kemudian orang menyebutnya pustakawan, ya sah saja. Meskipun Paijo tidak sekolah (ilmu) perpustakaan. Mau protes?

Mendapat sebutan pustakawan tak harus perlu pendidikan formal kepustakawanan, dan tidak dihegemoni oleh kalangan tertentu saja. Bahkah orang bisa menyebut dirinya adalah pustakawan, bagi dirinya sendiri. Setiap manusia adalah da'i, setiap manusia adalah pustakawan. Dan tentu saja, setiap tempat adalah perpustakaan.

Baca juga Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya

Tuesday, 3 July 2018

[[ timnas islandia dan kepustakawanan kita ]]

Ada yang menarik di timnas Islandia piala dunia 2018. Pertama, nama-nama pemainnya berakhiran dengan "son". Kemudian yang kedua terkait pekerjaan sampingan (atau utama?) pemain dan pelatihnya.

Halldorsson, kiper Islandia itu juga berprofesi sebagai sutradara iklan. "Pekerjaan saya hanyalah menjadi pembuat film," demikian dia berkata. Kabarnya, selain memang ketertarikannya pada dunia film, juga disebabkan oleh liga Islandia hanya bersifat semi profesional. Selain Halldorsson, ada juga Hallgrimsson, sang pelatih yang juga seorang dokter gigi. "saya benar-benar menikmati kembali untuk bekerja dengan klien saya", begitu katanya. Menjadi dokter gigi adalah cara terbaik untuk santai dari tekanan sepakbola. Bahkan, dia pernah berkata, "Saya adalah seorang dokter gigi dan takkan mau melepas pekerjaan tersebut". Saevarsson, bek Islandia juga merupakan buruh pabrik garam. "Ini normal", katanya. 

Jika ditarik pada dunia kepustakawanan, ini menarik. Halldorsson mengatakan "semi profesional". Mungkin masih ada yang merasa, baik secara keseluruhan atau per kasus di tiap institusi, ternyata profesi pustakawan masih semi profesional. Sehingga pekerjaan sebagai pustakawan itu tidak bisa 100% diharapkan, maka jadilah seperti Halldorsson, yang menjadi sutradara film, atau Saevarsson yang juga buruh pabrik garam.

Jika merasa menjadi pustakawan itu banyak tekanan, maka jadilah seperti Hallgrimsson, yang menggeluti dokter gigi sebagai hiburan.

Sepakbola yang bagi banyak orang sangat menjanjikan, bergaji tinggi dan terjamin, ternyata tidak untuk pesepakbola lainnya. Apapun sebabnya. Demikian pula pustakawan. Dia bisa menjanjikan untuk sebagian, namun tidak untuk sebagian lainnya. Maka memiliki cara pandang yang lebih luas tentang rejeki (bahkan juga tentang hidup-tantangan-ujian) menjadi penting.

Mbah Kyai Maimun menyampaikan "Kalau kamu jadi guru, dosen, atau kiyai, kamu harus tetap punya usaha sampingan.. Biar hatimu tidak selalu mengharap pemberian.." [1] Demikianlah, rejeki dapat datang dari berbagai sumber, dari berbagai arah. Tidak hanya dari sepakbola saja, tidak hanya dari menjadi pustakawan saja.

Pustakawan itu sebuah pekerjaan, bisa menjanjikan, bisa tidak. Santai, dan bergembiralah.
Begitu, Son..

[1] https://twitter.com/nu_online/status/885322832883859456


#2019 ganti pustaka-man

Siapa tak kenal superman, spiderman, wonder wo-man? Tokoh fiktif penuh imajinatif, yang dikenal sejak lama. Bahkan, idola yang ketika beraksi hanya bercelana dalam tersebut masih saja diangkat sebagai film di jaman ini. Kuat, kekar, gagah, dan juga sakti. Bagi kaum perempuan, spiderman dan superman juga dianggap nggantheng. Wonder wo-man, dianggap cantik, tur ya seksi.

Selain super, spider dan wonder, kata Kang Dodo, ada “Sandiman”. Sandiman itu sebutan bagi para pengelola sandi. Sekolahnya di Sekolah Sandi Negara. Mendengar itu,  Paijo nyeletuk, “kenapa tidak pustakaman, ya?”. Dari sinilah semua berawal.

###

Pertanyaan iseng ini muncul pada obrolan sore itu. “Yo wis, diganti saja jadi pustakaman. Bikin istilah baru”. Tawa lepas tanpa dosa mengikuti ide tersebut. 

Sebenarnya, selain pustakawan, telah muncul istilah baru, yang konon kabarnya lebih kekinian. Lebih sesuai dengan perkembangan, dan tentunya lebih membanggakan. “Pekerja informasi”, misalnya. Istilah itu dianggap menimbulkan energi positif bagi yang menggunakan. Seolah berbagai sejarah buruk, ketertindasan dan juga konflik yang tersemat pada istilah “pustakawan” dapat dihilangkan dengan istilah baru, “Pekerja Informasi”.

Nah, bagaimana dengan “Pustakaman”. :)

Paijo browsing, cari alasan munculnya buntut wan dan man. Apa bedanya?. Pada sebuah laman web dia menemukan, bahwa “man” digunakan jika vokal akhir dari kata dasarnya “i”. Sedangkan selain itu, menggunakan “wan”.  Itulah sebab sand(i) menjadi sandiman, sen(i) menjadi seniman. Sementara buday(a) menjadi budayawan, pustak(a) menjadi pustakawan.

Namun, apakah semua i menjadi man, dan a menjadi wan? Jika ditelisik, ada juga Sujiwan. Suj(i) itu berakhiran i, harusnya Sujiman. Karyo, yang mendengar gerutu Paijo nyeletuk, “Sujiman itu nama orang, Jo”.  Paijo, yang memang ngeyel itu tidak mau kalah. “Okelah itu nama orang, tapi apa alasan i menjadi man, dan a menjadi wan?”. Kang Dodo, yang sehari-hari bergelut dengan dunia informasi menyodorkan data: geolog(i)wan. Geologi berakhiran i, tapi buntutnya wan, bukan man. 

Jadi?

###

Tinggalkan saja istilah pustakawan, yang penuh konflik dan masih identik dengan ketertindasan. Beralih ke pustakaman. Berharap akan mendapat tuah  sakti dan sekuat Superman, Spiderman, atau Wonder Wo-man. Demikian, Paijo bersemangat mencari pembenaran ide pustakaman tersebut.

Ingatkah ide mengganti Indonesia menjadi Nusantara atau Nuswantoro?, yang konon dianggap lebih asli dibanding Indonesia. Penggantian tersebut sebagai usaha mengubah nasib negara ini. Menurut itung-itungan primbon tentang nama, Nusantara lebih membawa hoki. Nah, demikian pula dengan pustaka-man. Sopo reti, siapa tahu, lebih membawa hoki pada perkembangan kepustaka-man-an di Indonesia. Para pustakaman akan bergabung dalam Ikatan Pustakaman Indonesia.


###

“Otak-atik kata ini, sebagai bentuk membangunkan kata-kata, yang telah lama diistirahatkan oleh Wiji Thukul”, celetuk Paijo. “Bangunlah kata-kata”, ngono. Obrolan mempermainkan kata itu berlangsung seru. Obrolan sebagai bentuk hiburan di sela kesibukan mereka menjadi pustakawan, yang kadang penuh tekanan. Baik tekanan pekerjaan, maupun tekanan psikologis: dari atasan, atau bahkan dari sesama pustakawan.  Dengan mengubah menjadi pustakaman, maka Paijo akan menganggap pustakawan sebagai masa lalu yang harus dikubur bersama segala sejarah kelamnya. Paijo ingin memulai hal baru.

###

“Byur”, air tumpah di wajah Paijo, memaksanya bangun dari dipan kayu. Ternyata Paijem, istrinya sudah berupaya membangunkan sedari tadi. Karena tak ada respon, maka air segayung itu solusinya. “Katanya pustakawan itu penting, pembawa perubahan, tapi bangun tidur saja susah. Ndang mandi sana”, suara istri Paijo memecah pagi. Tanpa ba-bi-bu, Paijo nyaut handuk merah yang sudah bolong-bolong tak karuan, menuju kamar mandi. Adus kilat, karena waktu sudah siang. 

Selesai berpakaian, Paijo menuju ruang makan. Sial, tak ada makanan terhidang untuk sarapan pagi. “Berasse habis, Kang. Durung ada uang untuk nempur”, jelas istrinya tanpa ditanya. Sambil mrengut, Paijo menyiapkan perlengkapan kerjanya. Selain berpakaian dinas, dia juga membawa bekal kaos. Maklum, selain jadi pustakawan, dia juga nyambi resik-resik sekolah. Paijo kerja kontrak di sekolah swasta, kecil, yang tak mampu menggaji tenaga kebersihan. Melihat peluang itu, Paijo nyambi jadi tukang kebon, berharap gajinya bisa ditambah untuk bekal nempur setiap bulannya.

Paijo bergegas mengambil motor bututnya, dislah, lalu bersiap ngegas. Sebelum ngegas, dia teriak keras pada istrinya, “Bu, sekarang tak ada lagi pustakawan, adanya pustakaman”.  “Berasse habis, Kang!”, jawaban Paijem tidak nyambung.



Monday, 2 July 2018

PDF eXpress: agar PDF diterima di IEEE

PDF eXpress and PDF eXpress Plus, IEEE-financed author tools that assist IEEE conference organizers in obtaining IEEE Xplore®-compatible PDFs from their authors, are online. These tools are free to all conferences that are enrolled in the IEEE Conference Publications Program.

https://www.pdf-express.org/