Tuesday, 3 July 2018

#2019 ganti pustaka-man

Siapa tak kenal superman, spiderman, wonder wo-man? Tokoh fiktif penuh imajinatif, yang dikenal sejak lama. Bahkan, idola yang ketika beraksi hanya bercelana dalam tersebut masih saja diangkat sebagai film di jaman ini. Kuat, kekar, gagah, dan juga sakti. Bagi kaum perempuan, spiderman dan superman juga dianggap nggantheng. Wonder wo-man, dianggap cantik, tur ya seksi.

Selain super, spider dan wonder, kata Kang Dodo, ada “Sandiman”. Sandiman itu sebutan bagi para pengelola sandi. Sekolahnya di Sekolah Sandi Negara. Mendengar itu,  Paijo nyeletuk, “kenapa tidak pustakaman, ya?”. Dari sinilah semua berawal.

###

Pertanyaan iseng ini muncul pada obrolan sore itu. “Yo wis, diganti saja jadi pustakaman. Bikin istilah baru”. Tawa lepas tanpa dosa mengikuti ide tersebut. 

Sebenarnya, selain pustakawan, telah muncul istilah baru, yang konon kabarnya lebih kekinian. Lebih sesuai dengan perkembangan, dan tentunya lebih membanggakan. “Pekerja informasi”, misalnya. Istilah itu dianggap menimbulkan energi positif bagi yang menggunakan. Seolah berbagai sejarah buruk, ketertindasan dan juga konflik yang tersemat pada istilah “pustakawan” dapat dihilangkan dengan istilah baru, “Pekerja Informasi”.

Nah, bagaimana dengan “Pustakaman”. :)

Paijo browsing, cari alasan munculnya buntut wan dan man. Apa bedanya?. Pada sebuah laman web dia menemukan, bahwa “man” digunakan jika vokal akhir dari kata dasarnya “i”. Sedangkan selain itu, menggunakan “wan”.  Itulah sebab sand(i) menjadi sandiman, sen(i) menjadi seniman. Sementara buday(a) menjadi budayawan, pustak(a) menjadi pustakawan.

Namun, apakah semua i menjadi man, dan a menjadi wan? Jika ditelisik, ada juga Sujiwan. Suj(i) itu berakhiran i, harusnya Sujiman. Karyo, yang mendengar gerutu Paijo nyeletuk, “Sujiman itu nama orang, Jo”.  Paijo, yang memang ngeyel itu tidak mau kalah. “Okelah itu nama orang, tapi apa alasan i menjadi man, dan a menjadi wan?”. Kang Dodo, yang sehari-hari bergelut dengan dunia informasi menyodorkan data: geolog(i)wan. Geologi berakhiran i, tapi buntutnya wan, bukan man. 

Jadi?

###

Tinggalkan saja istilah pustakawan, yang penuh konflik dan masih identik dengan ketertindasan. Beralih ke pustakaman. Berharap akan mendapat tuah  sakti dan sekuat Superman, Spiderman, atau Wonder Wo-man. Demikian, Paijo bersemangat mencari pembenaran ide pustakaman tersebut.

Ingatkah ide mengganti Indonesia menjadi Nusantara atau Nuswantoro?, yang konon dianggap lebih asli dibanding Indonesia. Penggantian tersebut sebagai usaha mengubah nasib negara ini. Menurut itung-itungan primbon tentang nama, Nusantara lebih membawa hoki. Nah, demikian pula dengan pustaka-man. Sopo reti, siapa tahu, lebih membawa hoki pada perkembangan kepustaka-man-an di Indonesia. Para pustakaman akan bergabung dalam Ikatan Pustakaman Indonesia.


###

“Otak-atik kata ini, sebagai bentuk membangunkan kata-kata, yang telah lama diistirahatkan oleh Wiji Thukul”, celetuk Paijo. “Bangunlah kata-kata”, ngono. Obrolan mempermainkan kata itu berlangsung seru. Obrolan sebagai bentuk hiburan di sela kesibukan mereka menjadi pustakawan, yang kadang penuh tekanan. Baik tekanan pekerjaan, maupun tekanan psikologis: dari atasan, atau bahkan dari sesama pustakawan.  Dengan mengubah menjadi pustakaman, maka Paijo akan menganggap pustakawan sebagai masa lalu yang harus dikubur bersama segala sejarah kelamnya. Paijo ingin memulai hal baru.

###

“Byur”, air tumpah di wajah Paijo, memaksanya bangun dari dipan kayu. Ternyata Paijem, istrinya sudah berupaya membangunkan sedari tadi. Karena tak ada respon, maka air segayung itu solusinya. “Katanya pustakawan itu penting, pembawa perubahan, tapi bangun tidur saja susah. Ndang mandi sana”, suara istri Paijo memecah pagi. Tanpa ba-bi-bu, Paijo nyaut handuk merah yang sudah bolong-bolong tak karuan, menuju kamar mandi. Adus kilat, karena waktu sudah siang. 

Selesai berpakaian, Paijo menuju ruang makan. Sial, tak ada makanan terhidang untuk sarapan pagi. “Berasse habis, Kang. Durung ada uang untuk nempur”, jelas istrinya tanpa ditanya. Sambil mrengut, Paijo menyiapkan perlengkapan kerjanya. Selain berpakaian dinas, dia juga membawa bekal kaos. Maklum, selain jadi pustakawan, dia juga nyambi resik-resik sekolah. Paijo kerja kontrak di sekolah swasta, kecil, yang tak mampu menggaji tenaga kebersihan. Melihat peluang itu, Paijo nyambi jadi tukang kebon, berharap gajinya bisa ditambah untuk bekal nempur setiap bulannya.

Paijo bergegas mengambil motor bututnya, dislah, lalu bersiap ngegas. Sebelum ngegas, dia teriak keras pada istrinya, “Bu, sekarang tak ada lagi pustakawan, adanya pustakaman”.  “Berasse habis, Kang!”, jawaban Paijem tidak nyambung.



Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi