Monday, 21 August 2017

, ,

Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya


Semua orang akan menyebut nama sebuah perpustakaan, misalnya Perpustakaan A, sebagai jawaban atas pertanyaan: “perpustakaan apa yang terbesar di dunia?”. Namun ketika ditanya tentang perpustakaan yang paling lengkap, maka jawabnya adalah tidak ada perpustakaan yang paling lengkap. “Semua perpustakaan saling melengkapi”, demikian jamak orang memberi alasan.


sawah dan kedamaian
Perpustakaan yang ada, dan saling melengkapi itu, jika disatukan, hasilnya adalah jagat raya yang kita tempati ini, serta  segenap isinya. Jagat raya ini, merupakan perpustakaan terbesar sekaligus terlengkap. Di dalamnya terkandung semua ilmu pengetahuan, yang dibutuhkan ummat manusia untuk proses kehidupannya, yang tersusun sistematis. Ada yang telah terbukukan, atau yang belum. Ada yang terpecahkan, ada yang masih menjadi tanda tanya. Semuanya ada di jagat raya ini.

Apa yang ada di jagat raya ini, kemudian dipilihi, sesuai tujuannya dan disimpan dalam ruang-ruang yang diinstitusikan, agar manusia mudah menemukannya ketika membutuhkan. Ruang-ruang tersebutlah yang kemudian disebut sebagai perpustakaan dalam arti umum saat ini. Perpustakaan ini, hanya bagian kecil saja dari perpustakaan terbesar, jagat raya. Pengelolanya disebut pustakawan.


Jagat raya adalah perpustakaan terbesar dan terlengkap, gedung/ruang perpustakaan adalah perpustakaan kecil.

Penamaan pengelola perpustakaan kecil dengan sebutan “pustakawan” disebabkan oleh sistem. Terkait dengan legal-formal ciptaan manusia, terkait dengan status, struktur, profesi dan hajat hidup manusia. Pustakawan yang lahir karena aturan tertulis manusia ini, justru menyempitkan konsep pustakawan yang universal.

###

Perpustakaan-perpustakaan kecil, menjadi ladang penciptaan struktur yang baru. Pustakawan – pemustaka. Yang di dalamnya ada hak dan kewajiban, diatur dengan aturan internal, bahkan dengan undang-undang, yang harus ditaati keberadaannya.

Pustakawan menyediakan segalanya untuk melayani pemustaka. Mereka dituntut untuk selalu mengembangkan perpustakaannya, mengikuti jaman, mengikuti tren, mengikuti kebutuhan pemustaka. Di sisi lain, pemustaka menempatkan pustakawan sebagai pihak yang mengelola dalam arti seluas-luasnya, tempat bertanya jika membutuhkan informasi, tempat mengkonformasi informasi valid atau hoax dan lainnya. Tentu saja, orang yang dituju ketika mau meminjam dan mengembalikan buku.


###


Pustakawan yang sesungguhnya, adalah semua manusia yang tersebar di dunia ini. Mereka adalah pustakawan bagi dirinya sendiri. Mereka semua memiliki cara mereka masing-masing untuk mencari, menyimpan, mengolah dan menemukan kembali informasi serta menyebarkan kembali pada orang lain. Cara mereka unik, yang mungkin berbeda satu dan lainnya, dan mungkin hasil pencariannya juga akan berbeda.


Setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri

Proses masing-masing hasilnya  dianggap berbeda, dianggap benar, dan juga dianggap keliru oleh sebagian lainnya. Padahal, orang lain yang menganggap keliru tersebut, tidak otomatis semua proses pencarian informasinya benar. Tidak ada jaminan. Maka, demikianlah,  semua memainkan dirinya sebagai pustakawan, bagi dirinya sendiri. Mereka saling mengonfirmasi  informasi dan pengetahuan yang diperoleh.

Jagat raya, yang merupakan perpustakaan terlengkap ini menaungi semua manusia. Mereka punya posisi sama pada informasi di perpustakaan tersebut. Namun, alat dan jangkauan masing-masing pustakawan ini yang berbeda. Sama dengan pustakawan di perpustakaan kecil, yang juga memiliki alat dan jangkauan yang berbeda.


###


Sebagai perpustakaan yang terlengkap di dunia, jagat raya memiliki posisi istimewa. Segala dinamikanya, akan diikuti oleh perpustakaan kecil. Atau, jika dibalik maka kalimatnya menjadi “perkembangan perpustakaan kecil mengikuti apa yang terjadi di perpustakaan besar (jagat raya)”.

Ketika di jagat raya orang merasa nyaman di tempat-tempat sunyi, dingin dan duduk di sofa empuk sambil tiduran, maka atmosfir tersebut dibawa ke perpustakaan kecil. Hasilnya, ruang perpustakaan akan dilengkapi dengan AC yang terjamin suhunya, sofa yang nyaman dengan berbagai bentuknya untuk duduk dan membaca, serta bercengkerama. Ketika di jagat raya ada orang yang senang bergerombol dan berdiskusi, perpustakaan kecil juga menyediakan ruang-ruang agar mereka bisa terfasilitasi, lengkap dengan layar elektronik berteknologi tinggi.

Ketika di jagat raya muncul tren cepatnya informasi ditemukan di internet, maka perpustakaan menduplikasinya dengan membuat sistem-sistem canggih yang membuat apa yang diperoleh di jagat raya, dapat pula dilakukan di perpustakaan.

Ketika di jagat raya ada pertunjukkan chef yang mempraktikkan resep masakan di depan ibu-ibu, kemudian bersama mencicipi makanan tersebut, maka perpustakaan menduplikasinya. Hasilnya merupakan tawaran untuk melakukan hal serupa di perpustakaan, dengan dalih menyatukan buku dan mempraktikkan apa yang ada dalam buku tersebut.

Ketika di jagat raya terdapat kecenderungan orang membaca sambil olahraga, maka perpustakaan berusaha menduplikasinya. “Hoei, di perpustakaan juga perlu alat olah raga, lho. Agar orang yang belajar, bisa melepas penat belajar dengan  olah raga”, demikian serunya. Akhirnya, ada alat olah raga di perpustakaan.

Ketika di jagat raya, ditemukan orang sangat tertarik dengan game terkini, maka dibawalah game tersebut ke perpustakaan. Dengan harapan, orang-orang akan semakin banyak yang datang ke perpustakaan. Bahkan, game digunakan sebagai alat untuk mengenalkan perpustakaannya. Tentunya, agar manusia tertarik menggunakan perpustakaan kecil.

Ketika di jagat raya ditemukan.. dan seterusnya-seterusnya…

Tren di perpustakaan kecil, adalah duplikasi dari apa yang terjadi di jagat raya

Atmosfir yang dibawa ke perpustakaan tersebut, kemudian dilabeli dengan istilah terkini, yang menjadi daya magis dan menyihir para pustakawan. Learning common, maker space, dua di antaranya. Demikian juga scholarly communication, blended librarian, embedded librarian dan lainnya

Mengikuti tren perpustakaan, sama dengan mengikuti tren jagat raya. Ikuti saja yang diperlukan. Jangan silau pada tren. Tidak semua yang ada di jagat raya dapat dibawa ke perpustakaan kecil. Tidak muat, lah.


 Sambisari, 21 Agustus 2017
lima lebih dua puluh menit pagi


Catatan: “setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri”, merupakan perenungan yang sejak lama muncul dalam benak saya. Jagat raya sebagai perpustakaan terbesar, dikukuhkan dengan cerita seorang kawan, Maryanto (http://www.kangsumar.net/, setelah menonton pertunjukan wayang Suluk Salya, dengan dalam Sujiwo Tedjo di Fakultas Filsafat UGM, 18 Agustus 2017.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi