Saturday, 5 September 2020

Heboh panggilan profesor

Jika yang dipanggil itu memang seorang profesor, maka sudah semestinya demikian. Jika yang dipanggil itu bukan profesor, sangat mungkin yang dipanggil itu juga menikmati. Sambil membayangkan jadi profesor beneran.


Bagi yang punya kemungkinan jadi profesor, dan secara karir sangat mungkin mencapai maka itu sebentuk doa. Bagi orang yang bekerja di perguruan tinggi sebagai pengajar, atau di lembaga riset yang memiliki jenjang sampai profesor. Juga bagi anak-anak, yang itu sebentuk doa dan cita-cita. Maka semoga ijabah.


Namun, bagi yang tidak mungkin memperolehnya, tidak memiliki syarat atau lingkungannya tidak memungkinkan, maka itu jadi membentuk angan-angan mustahil. Ngenteni tuwuhing jamur ing mangsa ketiga. Bahkan bisa jadi justru panggilan itu menjerumuskannya pada angan yang mustahil kesampaian. Khawatirnya kita justru ngumbulke pada impian yang tidak mungkin terwujud.


Maka, hati hati menyebut profesor pada seseorang.


Kecuali itu panggilan sayang. Iya, panggilan sayang. Sepertinya yang sedang viral sekarang.

"Bukan begitu, Prof.?"

Nyetir mobil


Tu de poin
. Saya ndak bisa nyetir mobil. Ya. Serius. Pada usia saya yang 30 sekian.

Sebab pertama, memang saya tak punya mobil. Sehingga bukan kebiasaan atau tidak terbiasa. Sebab kedua: saya tidak belajar. Tidak ada keinginan kuat untuk belajar nyetir mobil. Keinginan lemah sih ada.


Misalnya, pernah suatu ketika diajak belajar oleh kakak saya. Kakak ipar saya ini jago nyetir. Di tempatnya bekerja sering jadi jujugan ketika pimpinan hendak ke luar kota. Saya belajar nyetir padanya. Muter muter di lapangan. Hanya itu. Dua kali kalau tidak keliru. Dan tetap belum bisa.


Saat itulah saya tahu rahasia nyetir mobil. Saya baru tahu bahwa perpindahan gigi mobil itu sama atau mirip untuk semua jenis mobil. Ah. Polos banget saya ini. Dulu saya mikir, "kok orang gampang banget nyetir mobil A lalu pindah mobil B?".


Selain itu, ternyata as ban depan lah yang jadi patokan ketika belok. Tentu juga dengan rasa. Perasaan. Termasuk perasaan terhadap moncong mobil bagian depan.


Mestinya menyetir menjadi kebutuhan di jaman sekarang. Tidak harus punya mobil. Dalam keadaan darurat, pakai mobil orang atau pinjaman, juga bisa. Namun, bisa juga tidak. Toh sudah ada layanan mobil online. Ya. Tergantung kebutuhan.


Meski sebenarnya pengen juga bisa nyetor. Eh, nyetir. Namun, Saya masih menikmati ketidakbisaan dalam menyetir.


Salah satunya menjadi alasan untuk tidak begitu aktif dalam organisasi. Organisasi daerah atau nasional. Pengurus setidaknya harus bisa nyetir. Syukur punya mobil.


Kan memalukan, kalau ada tamu, lalu saya jemput pakai motor. Atau ngojek. Jadi, kalau saya ndak mau gabung dalam organisasi daerah atau nasional, salah satunya menjaga muruah organisasi.

Jangan sampai nama baik organisasi rusak, gara-gara pengurusnya ada yang ndak bisa nyetir. 😀


___
sambisari, 9/8/20.
17.27

Note: ini tulisan sore, menulis untuk apa saja untuk menjaga dan latihan menulis.

,

Menulis

Malam tadi, tepatnya petang kemarin, ada obrolan di pustakawan blogger. Melalui Zoom, online. Pesertanya tembus 70-an. Pada saat ditutup masih ada 63 bertahan. Bagi saya ini banyak. Sangat banyak.

---

Tema-nya tentang kisah para blogger. Ada beberapa pemantik. Sebagai blogger, saya pun ikut.

Sebagai bahan cerita, saya mengingat lagi awal mula ngeblog. Sulit ternyata. Hanya mengandalkan jejak postingan pertama, bulan Maret 2007. 13 tahun lalu. Tentang alasan saya ngeblog? entah. Saya lupa.

Ada beberapa jenis tulisan saya di blog. Pertama salin tempel. Jujur saya pernah melakukan ini. Tentu dengan menyebut sumber. Biasanya untuk tulisan yang saya anggap menarik. Salin tempel ini terjadi pada awal ngeblog.

Kemudian tentang pekerjaan. Biasanya terkait panduan atau catatan yang saya anggap penting untuk saya, dalam melayani mahasiswa. Dari pada catatan tercecer, maka saya tulis di blog. Supaya mudah ketika membutuhkannya lagi.

Pada periode beberapa tahun terakhir, tulisan lebih banyak diwarnai oleh perenungan. Perenungan ini, sebagian besar saya kemas dengan karakter Paijo dan Karyo.

Perenungan, dan kemudian saya lanjutkan dengan berfikir kritis, saya lakukan dengan mendekati fenomena/trend kepustakawanan dari sisi yang berbeda. Dengan demikian, saya mendapatkan pandangan yang kadang bertolak belakang. Pandangan ini kemudian saya benturkan dengan teori yang dianggap mapan. Ketika saya memperoleh argumen, maka kemudian saya tulis.

Tulisan saya posting. Kadang ada yang baca. Bahkan rame komentarnya. Para doktor ikut nimbrung. Kadang tidak. Tidak mengapa.

Ada juga yang japri saya. Mengatakan sepakat atau sepaham. Namun sungkan mau menuliskan. Ah. Ternyata saya tidak sendiri.

Dari sinilah, kemudian saya memperoleh alasan, betapa rapuhnya beberapa (baca: tidak semua) perkembangan konsep dalam bidang perpustakaan.

Saya tidak menampik, bahwa ada yang tidak sepakat, atau menganggap perenungan saya itu mubadzir. Bahkan mungkin lucu. Saya, pada beberapa hal, dianggap mengulang perenungan para pemikir perpustakaan generasi sebelumnya. Saya sendiri tidak tahu pemikir mana yang sama pikirannya dengan saya. Tidak mengapa. Saya nikmati proses dalam diri saya ini.

*

Tujuan saya menulis tidak agar terkenal. Saya ikut belajar h-indeks, g-indeks, dan beberapa angka lainnya. Meski saya bekerja di perpustakaan yang kultur ilmiahnya kental, bahkan saya menjadi bagian yang mendukungnya, namun agaknya dalam hal angka impact ini saya belum/tidak ketularan. Saya menulis, setidaknya sampai saat ini, tidak agar h-indeks atau kutipan naik atau alasan serupa lainnya.

Saya menulis, ya buat menulis. Menuangkan pikiran, belajar merangkai kalimat, paragraf.

Mungkin karena alasan inilah, saya jarang bisa nembus konferensi atau pertemuan ilmiah kepustakawanan. Bahkan, terakhir saya nulis di jurnal, sudah 4 tahun lalu. Rentang waktunya jauh dengan tulisan sebelumnya.

*

Meski sekarang populer vlog, podcast, dan lainnya, namun menulis tetap punya tempatnya sendiri. Tulisan, bagi saya memiliki derajat yang lebih tinggi.

Tetaplah menulis, kawan!


Jumungah Pon 16 Sura Jimakir AJ 1954