Monday, 15 October 2018

,

Perpustakaan dan pustakawan ideal? tengoklah Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga

Posisi dosen IP UIN Suka di antara ilmuwan lainnya
Mencari yang terbaik, banyak dilakukan dalam berbagai kategori. Mungkin ini sudah menjadi fitrah, wajar dalam kehidupan di dunia. Mencari atau menjadi. Mencari, setelah ditemukan kemudian disebarkan agar ditiru. Atau ingin menjadi yang terbaik, tentunya dengan berbagai motif. Tidak terkecuali di dunia kepustakawanan: pustakawan terbaik atau perpustakaan terbaik.

Tidak hanya dengan istilah terbaik, ada pula yang menggunakan kata teladan, terfavorit. Atau mungkin dengan kata ideal. Tentunya semua punya parameternya masing-masing.

###

Menjadi pustakawan atau perpustakaan terbaik, berprestasi, atau terfavorit menjadi sebuah kebanggaan. Apalagi melalui berbagai proses penyaringan yang ketat, dengan jumlah kontestan yang berlipat-lipat. Yang terjaring, dia akan naik ke atas, yang tidak terjaring akan ada di bawah, menonton dan diharapkan menduplikasi yang terbaik, agar besok bisa menjadi terbaik pula.

Siapa yang paling besar kans-nya menjadi yang terbaik?
Perpustakaan terbaik memiliki banyak aspek yang dinilai terbaik dibanding yang lainnya. Mulai dari koleksinya yang bagus, lengkap, sesuai kebutuhan; kemudian tempat atau ruang yang mencukupi untuk menampung koleksi dan pemustaka. Tidak ketinggalan juga memiliki pustakawan-pustakawan terbaik untuk mengelola koleksi yang dimiliki.

Untuk memiliki hal-hal terbaik di atas perlu usaha. Semua perpustakaan memiliki kesempatan menjadi terbaik. Namun, institusi pemilik sumberdaya manusia yang mampu “mengusahakan” terpenuhinya aspek tersebutlah yang memiliki peluang terbesar memiliki perpustakaan dan pustakawan terbaik. 

Lalu, institusi apakah itu?

###

Tentu saja, institusi yang menyelenggarakan pendidikan (ilmu) perpustakaan. Lebih lengkap lagi, jika pendidikan yang diselenggarakan oleh institusi tersebut mulai dari diploma, sarjana, pasca, dan doktoral. Lebih lengkap lagi, juga menyelenggarakan diklat kepustakawanan. Institusi ini komplit, karena memiliki ilmuwan yang memiliki kemampuan dalam mengaji dan mengkaji kepustakawanan ideal. Perpustakaan yang tersedia di institusi tersebut bisa menjadi ruang uji coba konsep. Mereka juga memiliki mahasiswa, yang siap dikerahkan untuk melakukan hasil kajiannya.

Banyak universitas yang menyelenggarakan pendidikan (ilmu) perpustakaan. Namun ada yang mencuri perhatian saya: UIN Sunan Kalijaga (Suka). UIN Suka menyelenggarakan prodi dari D3, S1,S2, sampai program doktor dalam bidang perpustakaan. Kabar terakhir prodi D3 hanya menghabiskan mahasiswa yang sudah ada saja. Saya kira ini luar biasa. Di kemudian hari, mereka bisa konsentrasi pada keilmuwan dan tentunya ini berita menggembirakan. Mahasiswa doktornya pun sudah banyak. Efek keberadaan prodi ilmu perpustakaan ini, tentunya akan berimbas pada perpustakaan UIN Suka.

Para calon penyandang title paripurna ini tentunya memiliki ide-ide, kajian yang luar biasa untuk pengembangan perpustakaan. Ide tersebut tersebar di berbagai media, mulai dari media massa, jurnal, prosiding dan lainnya. Tentunya pula, perpustakaan yang pertama menikmati kerja intelektual para calon doktor ini adalah perpustakaan UIN Suka sendiri. Oleh karena itu, kans perpustakaan ini untuk menjadi perpustakaan terbaik sangatlah tinggi, besar, melebihi perpustakaan lainnya. UIN Suka berpotensi menjadi mercusuar pengembangan kepustakawanan Indonesia.

Demikian pula untuk pustakawannya. Menilai perpustakaan sebenarnya juga sekaligus menilai pustakawannya. Namun jika si pustakawan ini kita letakkan sendirian, pustakawan UIN Suka tetap memiliki kans terbesar untuk menjadi terbaik. Saya lihat banyak pustakawan di UIN Suka yang lulusan UIN Suka sendiri, artinya mereka tidak hanya belajar ilmu perpustakaan semata. Mereka juga belajar ilmunya UIN dengan title sarjana agama, atau sarjana pendidikan Islam. Modal inilah yang semestinya membedakan dengan pustakawan pada umumnya. Bagi yang belum belajar ilmunya UIN, keseharian berinteraksi dengan para ilmuwan agama, menjadikan pustakawan UIN menjadi literate pada ilmu agama.

Di sisi lain, kajian akademis dari prodi ilmu perpustakaan di UIN Suka dapat dimanfaatkan oleh pustakawan untuk mencapai taraf pustakawan yang ideal. Bahkan, tentu saja UIN Suka bisa merumuskan tolok ukur (pustakawan dan perpustakaan) ideal berdasar kajian akademis yang dilakukannya.


Jika ada berita pustakawan terbaik, lihatlah perpustakaanya. Jika ada berita perpustakaan terbaik, lihatlah kerja pustakawan yang mengelolanya.

###

Kajian, penelitian kepustakawanan yang memiliki impact tinggi sangat berpeluang muncul dari UIN Suka. Mereka memiliki segalanya. Dosen yang bekelas dengan title doktor. Kerjasama yang luas, serta keahlian yang beragam. Dengan dibackup oleh mahasiswa diploma sampai S3, kajian para dosen akan mampu menapak tanah, menjadi motor pengembangan perpustakaan.

Yang menikmati, akhirnya bukan hanya untuk perpustakaan UIN Suka sendiri, namun juga perpustakaan lainnya. Saya berharap banyak dari UIN Suka. Pustakawan UIN Suka lah yang memiliki kans terbesar menjadi terbaik, demikian pula pustakawannya. Bukan hanya kans, namun hukumnya sudah wajib. Mereka punya segalanya. Modal mereka ada. Perpustakaan ini punya peluang besar, meneruskan tradisi kepustakawanan klasik yang begitu agung dan terhormat.


Jika hendak tahu perpustakaan ideal, tengoklah perpustakaan UIN Suka. Jika hendak melihat pustakawan ideal, tengoklah pustakawan di UIN Suka.

Jika ada perpustakaan dan pustakawan yang tak punya "modal" selengkap UIN Suka namun mampu mencuri perhatian, maka itu luar biasa.

[selesai]

Sunday, 14 October 2018

[[ pekerjaan abadi pustakawan ]]

Pada suatu pagi kami bersama seorang dosen baru. Umurnya kurang lebih 32 tahun, hampir lulus doktor dari sebuah universitas di Jepang. 

Pagi itu, ke perpustakaan terkait keingintahuannya tentang sumber informasi jurnal, dan pelatihan software manajemen referensi yang kami tawarkan. Di Jepang, tentunya beliau sudah banyak tahu tentang berbagai database untuk referensi. Namun, mestinya ada mekanisme beda di UGM. Mulai dari alamat url, apa saja yang dilanggan, dan lainnya, yang beliau perlu tahu. Serta sebelumnya beliau menggunakan EndNote, beliau ingin belajar Mendeley.

Setelah sesi pengenalan, saya bertanya balik, "Saya ingin tahu dunia perpustakaan di Jepang sesuai pengalaman Bapak", kurang lebih demikianlah.

Beliau menggaris bawahi bahwa di kampusnya mahasiswa begitu mandiri. Mereka mencari sendiri apa yang dibutuhkan. Hal ini sudah berlangsung dalam kehidupan sehari-hari,  sejak di jalanan, di bus, di kereta.  Di lab mahasiswa mendapatkan banyak hal. "Pendidikan di sana berbasis lab" demikian katanya. Kakak angkatan akan memandu penghuni lab yang baru untuk berbagai hal. Ya, termasuk cara mencari informasi, mengelola dengan software manajemen referensi dll. 

"Beberapa pustakawan hanya melayani jika diminta. Perpustakaan tidak dijaga atau diganti dengan robot pun tidak mengapa", demikian sambungnya.

Saya coba klopkan cerita di atas dengan cerita salah seorang mahasiswa FT yang dual degree di Jepang. Dia pernah berkata, "lebih humanis di Indonesia (FT UGM), Mas". Di perpustakaan perguruan tinggi Jepang yang dia kunjungi, semua mekanis. Meminta bantuan lewat mesin, atau menulis pada form yang disediakan. Nyaris tak ada hubungan interaksi dengan pustakawan. 

Bapak dosen tadi pun mengamini. Hubungan antara pustakawan dan pemustaka di Indonesia menjadi ciri tersendiri yang justru menjadi nilai lebih. 

### 

Seseorang yang menyebut dirinya ilmuwan (ilmu) perpustakaan mengatakan bahwa dengan keadaan seperti di Jepang itu, maka pekerjaan pustakawan berganti mejadi meneliti. Meneliti perilaku informasi, arus informasi, efek informasi, analisis bibliometrik, dan lainnya. Namun saya fikir, berapa yang meneliti? Jika ada 30 pustakawan, dan perpustakaan menjadi sangat mekanis seperti itu, apakah semuanya akan bedhol desa menjadi peneliti? tentunya tidak semudah membalik tangan,  sulit saat ini jika diberlakukan di Indonesia.

Saya berfikir, jika kita mau mengejar teknologi, tak akan mampu. Teknologi itu hanya lipstik saja untuk perpustakaan. Bukan teknologi yang harus di kejar. Negara berkembang, apalagi perpustakaannya selalu akan tertinggal (secara umum) terkait penerapan teknologi di perpustakaan. Melihat negara maju yang sedemikian canggih, hanya akan mengundang sikap kemecer saja. Ngoweh, kata orang desa.

Yang membuat miris saat ini, perkembangan perpustakaan, penilaian perpustakaan dikaitkan (setidaknya terlihat dikaitkan) dengan tersedianya berbagai fasilitas yang memakan banyak biaya. Fasilitas itu terlihat dari mewahnya tampilan perpustakaan. Mulai dari sofa, tata ruang yang kekinian, jaringan internet cepat, kopi, teh, dan semacamnya. Perpustakaan yang menang lomba, yang diangkat tidak jauh dari hal tersebut di atas. Maka anggaran menjadi koenci kemenangan

Semestinya ada konsep tunggal dalam ber-kepustakawanan, yang semuanya bisa dilakukan oleh semua perpustakaan dan pustakawan. Konsep inilah yang menaungi kegiatan kepustakawanan. Konsep netral. Tidak dibatasi oleh dikotomi negara maju dan berkembang, atau si pustakawan bergelar sarjana tidak sarjana ilmu perpustakaan. Bahkan tidak dibatasi oleh anggaran, kecuali untuk koleksi perpustakaan. 

Konsep tunggal tersebut adalah kualitas interaksi segitiga "koleksi-pustakwan-pemustaka". Dari sisi pustakawan, maka proses interaksi antara pemustaka-pustakawan dan  pustakawan-buku adalah koenci, yang dapat dipoles, agar lebih berkualitas.  Inilah pekerjaan abadi orang yang masih setia dengan profesi pustakawan. Pekerjaan atau aktifitas lainnya merupan turunan dari dua hal di atas. Aktifitas turunan itulah yang dapat menjadi penciri bobot kerja masing-masing pustakawan, dan dijadikan pertimbangan dalam menilai seberapa maju aktifitas kepustakawanan sebuah perpustakaan. 

Membeli sofa itu hanya bagian kecil dari proses hubungan dengan pemustaka. Pekerjaan abadi perpusakaan, bukan menyediakan sofa. Jangan tergiur pada sofa di sebuah perpustakaan.

### 

Kembali pada kasus perpustakaan di Jepang seperti tertulis pada bagian awal tulisan ini. Keadaan tersebut ada, terjadi. Bukan tidak mungkin, ketika semuanya diserahkan pada teknologi, maka demikianlah bentuk perpustakaan masa depan. Semua dilaksanakan mandiri oleh pemustaka, mahasiswa, siswa, dan siapapun yang menggunakan perpustakaan.

Perpustakaan merupakan institusi mati, pasif. Teknologilah yang membuatnya hidup, mekanis, dan tanpa ruh. Jika semua diambil teknologi, dan kita berikan semuanya, maka memang tidak mungkin pustakawan akan hilang.

Foto:
Dr Muhammad Isa Waley, Curator of Persian and Turkish Collections of the British Library, is a specialist in Islamic manuscripts. 


Friday, 12 October 2018

Unpaywall database

Rekan sejawat...

Di dunia publikasi dikenal publikasi yang jika diakses harus mbayar, serta ada pula yang gratis. Nah, terkadang kita mencari nemu yang berbayar, sehingga ketika mau unduh kesulitan.
Paijo: "lah, kan sudah diberi jalan oleh mbak Xandra, bro!"
Okelah, mbak Xandra sudah memberi kita jalan. Beres. Nah, untuk yang unpaywall ini dari mana kita bisa mencari?

Kita kenal DOAJ, DOABook dan lainnya. Namun, berbagai koleksi tersebut disatukan dalam unpaywall database.

Unpaywall finds OA content in many ways, including using data from open indexes like Crossrefand DOAJ where it exists. However, the majority of our OA content comes from independently monitoring over 50,000 unique online content hosting locations, including Gold OA journals, Hybrid journals, institutional repositories, and disciplinary repositories.
If you'd like to add your repository or journal to our list of sources, that's great! You can submit your repository for indexing via this form, and submit your journal via email.
Informasi di atas diperoleh dari web https://unpaywall.org/sources. Tersedia juga ekstensi di chrome dan firefox untuk mengunduh file dari database unpaywall. Silakan akses di https://unpaywall.org/products/extension.

Unpaywall juga terintegrasi dengan Scopus, Dimension, dan web of science. Misal kita ingin mencari artikel yang terindeks di Dimension, namun khusus yang unpaywall, maka bisa klik di dimension unpaywall. Akan muncul tampilan:



Lakukan pencarian pada kotak pencarian, lihat performa artikel di Dimension, lalu unduh artikel yang sesuai kebutuhan. 

Unpaywall ini juga menyediakan API, Feed, dan simple query tool. 

Jika teman-teman ingin akses artikel yang masuk di datanya unpaywall database, maka saran saya: pasang ekstensi browser unpaywall. Jika teman-teman melakukan pencarian, dan artikelnya terdeteksi unpaywall, maka akan muncul logo kunci terbuka di sebelah kanan. Klik saja, maka akan diarahkan ke pdfnya.





Tuesday, 9 October 2018

[[ teranglah sudah: tak ada ilmu perpustakaan #2 ]]

“Kang, lowongan kebutuhan pustakawan dari alumni non ilmu perpustakaan itu sesungguhnya sebuah tamparan. Telak!", kata Paijo.
“Tamparan untuk siapa, Jo?.

###

Waktu berjalan. Malam berganti siang, siang ke sore, sore ke petang, lalu malam lagi. Pagi pun muncul. Setelah beberapa waktu, Paijo mendapat kabar bahwa ada rekruitmen pustakawan untuk sarjana non ilmu perpustakaan di perpustakaan nasional. Ini berita gembira, umumnya dianggap membuka peluang kerja banyak orang. Bagi sarjana ilmu perpustakaan, ini berita pahit. Lahannya berkurang. Paijo pun sudah mbabar panjang lebar pendapatnya terkait hal ini, pada Karyo, di Teranglah sudah: semua bisa jadi pustakawan

Namun, Paijo berfikir masih ada yang aneh pada pengumuman itu. Ya! Seperti yang diomongkan pada Karyo, bahwa pengumuman itu menjadi bukti bahwa setiap orang sesungguhnya berpotensi menjadi pustakawan. Apapun ilmu yang melatarbelakanginya. Semua punya hak, meski berlatarbelakang  operator mesin fotokopi. Menjadi pustakawan itu hak semua manusia.

Namun, lebih dari itu, Paijo tetap merasa ada yang aneh… Tirakat dilakukan, semedi, dan laku prihatin juga dilakukan. Mengurangi makan, memperbanyak melek, agar wangsit turun dan memberi jawaban atas kegelisahannya. Doa-doa dilantunkan. Semoga bukan doa junub yang lantunkan Paijo.

###

Wis… ketemu sekarang”. Paijo girang bukan kepalang. Apa yang dicarinya ketemu. Apa yang membuatnya galau, seolah sudah ditakhlukkan.

Lowongan pustakawan untuk alumni selain ilmu perpustakaan itu, bagi Paijo merupakan bukti berikutnya bahwa tidak ada ilmu perpustakaan. Sama seperti semua orang bisa mendaftar jadi wartawan, dan tidak mensyaratkan sarjana ilmu wartawan. Karena memang jurusan ilmu wartawan itu tidak ada. 

“Menjadi wartawan itu syaratnya biasanya sarjana, bisa dari jurusan apapun. Karena jurusannya itu sangat bermanfaat ketika menjalankan fungsi kewartawanan”. Demikian kawan Paijo pernah berkata. Pola rekruitmen wartawan ini, agaknya yang menjadikan wartawan itu punya bobot dalam proses penguatan masyarakat.

"Jangan-jangan, memang paling tepat untuk pustakawan ya model seperti wartawan ini?. Klop wis".

Ketika semua orang bisa jadi pustakawan, dibuktikan dengan lowongan di perpustakaan nasional itu, maka sesungguhnya memang tidak ada ilmu perpustakaan. Ilmu perpustakaan itu menempel, embedded pada setiap orang yang mau mempelajarinya. Sebagaimana jiwa kewartawanan manusia: dia fitrah. Hal ini juga mirip seperti ustaz atau ulama. Tidak perlu pendidikan formal. Ngaji rutin, menjadi batur Pak Kyai, sambil mendengarkannya ngaji, bisa menjadi lantaran menjadi ulama.

“Loh, pada kenyataannya kan ada jurusan ilmu perpustakaan?”, bathin Paijo masih menguji hipotesanya.

Bukankah juga ada ilmu dakwah dalam dunia perulamaan? tapi apakah menjadi ulama itu domain tunggal alumni fakultas dakwah? “Tidak juga”, pikir Paijo, seolah menemukan analogi yang tepat bagi pustakawan. Semua orang bisa menjadi ustaz, asalkan masyarakat mengakuinya.

“Tapi apakah ulama punya organisasi?”. Paijo masih menguji keyakinannya. Dia ingat bahwa profesi itu syaratnya harus ada organisasi yang menaunginya. Ya, meskipun syarat itu bagi Paijo juga bukan sebuah keharusan. “O, punya. Bahkan bisa bermacam-macam namanya: MUI, IKADI, MIUMI”. Proses bertanya dan berjawab sendiri ini berlangsung lama pada diri Paijo.

“Pustakawan juga bisa mirip petani”, Paijo melanjutkan petualangan imajinasinya. Profesi inilah yang digeluti simbahnya selama hidupnya. Pergi ke ladang, macul, menanam padi dan berbagai tanaman lainnya. Semua dilakukan dengan “sekolah” pada kehidupan. Bukan sekolah formal pertanian. Profesi ini kemudian dilanjutkan oleh ibunya, yang selain bertani juga berjualan. Yang lebih meyakinkan lagi bagi Paijo, adalah bapaknya. Bapaknya Paijo ini guru, namun sampai di rumah, jadi petani. Ada peran profesi ganda yang dilakukan bapaknya Paijo. Padahal formalnya hanya sekolah guru, bukan sarjana pertanian.

Mirip. Keduanya memiliki pendidikan formalnya: ilmu perpustakaan, dan ilmu pertanian. Sama. Sarjana pertanian itu berpeluang besar jadi petani, tapi apa kenyataannya? tidak semuanya mau jadi petani. Tidak. Dan mereka tidak serakah bahwa petani itu harus sarjana pertanian. Tidak, kan?. Apalagi memiliki sertifikat pertanian, spesialis macul, spesialis nandur, atau spesialis matun alias dhangir. Ndak.

Para petani juga tidak di protes oleh pada pedagang. Pedagang tetap mau mengambil hasil pertanian mereka, meski petaninya cuma lulusan SD, atau bahkan tidak sekolah formal. Meski tidak diolah sesuai prinsip di ilmu pertanian yang diajarkan di perguruan tinggi. Kualitas hasil akhir dari pertanian itu yang utama. Para petani ini, paling banter ya ikut kursus, pelatihan, atau penyuluhan pertanian. Petani juga punya HKTI.

Ada jurusan pertanian, tapi tak ada klaim menjadi petani harus alumni ilmu pertanian. Padahal pertanian sangat vital bagi kehidupan manusia. Berhubungan dengan makan, hidup, dan urip. Ada  pula fakultas dakwah, tapi tak ada klaim menjadi ulama harus alumni fakultas dakwah. Padahal dakwah sangat penting bagi kehidupan, tidak hanya saat ini, namun juga setelah kematian. Ada jurusan penjualan, pemasaran, tapi tidak ada klaim menjadi pedagang harus alumni pemasaran. Padahal pekerjaan pegadang ini menjadi fondasi kehidupan manusia. Dia merupakan sumber rejeki paling banyak dijadikan profesi. Ada jurusan pedalangan, karawitan, namun tidak ada klaim menjadi dalang harus sarjana pedhalangan. Nyantrik bisa jadi sarana orang jadi dhalang atau seniman. 

Kenapa? karena itu pekerjaan mandiri. Pengakuan masyarakatlah yang menentukan.

“Klaim bahwa menjadi pustakawan itu harus dari alumni ilmu perpustakaan, itu hanya berlaku di lowongan pekerjaan pustakawan sebagai PNS. Coba lihat sekolah swasta, universitas swasta, apakah ada protes keras dari para alumni ilmu perpustakaan? Kalau pimpinannya berkehendak, ya ngikut. Wong mereka yang nggaji, kok. Apalagi di perpustakaan kampung, rumah baca, dan lainnya? mana protesnya? Kenapa? karena ndak ada hubungannya dengan kepentingan pekerjaan.”

“Klaim  ‘menjadi pustakawan harus dari alumni ilmu perpustakaan’ itu sangat erat kaitannya dengan ceruk nasi, perut”.

Demikian, proses berfikir Paijo. Kadang digumamkan, disuarakan sendiri melalui mulutnya. Kadang hanya dibathin saja.  Bisa dalam bentuk pernyataan kemudian dibantah atau diperkuat dengan pernyataan lainnya. Atau dalam bentuk pertanyaan, kemudian dijawab sendiri.

###

Apa yang difikirkan Paijo disampaikan pada Karyo. Teman karibnya itu. Karyo mengangguk, seolah setuju, namun masih menyimpan keraguan.
“Namun demikian, tetap ada bedanya antara ilmu pertanian dan ilmu perpustakaan, Kang!”, kilah Paijo, mencoba membaca raut wajah Karyo yang masih menyimpan pertanyaan.
“Apa, Jo?”
“Ilmu pertanian itu tidak sekedar membahas cara matun, dan cara nggathul. Tapi bahasannya sudah melampai itu. Lebih ke substansi: bibit”. Kata Paijo.
“Lah, kalau ilmu perpustakaan?”.
“Hanya mentok, atau dimentokkan pada kulitnya, Kang. Klasifikasi, katalog, label. Atau sekarang diperparah dengan kegemaran beli sofa. Pustakawan sudah kurang PD mengelola isi. Menulis resensi buku, paling banter jadi syarat naik pangkat. Bisa dihitung dengan jari, pustakawan yang menulis kritik atas buku dan menerbitkannya”.

“Lalu bedanya dengan dokter apa, Jo?”. Karyo hendak mengonfirmasi tawaran Paijo beberapa waktu lalu, untuk menjelaskan bedanya profesi dokter dan pustakawan.

Paijo menyarankan pada Karyo, agar jangan memaksakan menarik persamaan atau memaksakan pustakawan harus sama dengan dokter. Keduanya beda, bedo. Dia mengulang penjelasannya beberapa waktu lalu, bahwa dari sisi keketatan pendidikan sudah beda. Dan keketatan pendidikan perpustakaan itu sudah menjadi bukti bagi dirinya sendiri, diri pustakawan itu sendiri bahwa pustakawan dan dokter itu beda. Keketatan pendidikan di kedokteran itu sendiri juga menjadi bukti bahwa profesi dokter itu levelnya di atas pustakawan.

Level profesi dokter itu sudah matang, sudah tua, dia sudah mapan. Berbeda dengan pustakawan. Jauh.

“Kalau pustakawan ingin disamakan dengan profesi dokter, minta saja pustakawan itu menganggap dirinya dokter buku, Kang. Hehehe”.
“Hus, ra sopan”.

###

“Kang, klaim  ‘menjadi pustakawan harus dari alumni ilmu perpustakaan’ itu sangat erat kaitannya dengan ceruk nasi, perut”. Demikian kesimpulan awalku. “Apalagi dilanjutkan dengan protes. Wong institusinya membutuhkan, kok diprotes."

Paijo meminta Karyo berfikir, apakah selama ini ada protes keras, jika lowongan itu dibuka oleh institusi non negara, alias bukan lowongan PNS pustakawan?. Karyo diam saja. Agaknya memang sulit mencari contoh protes pada lowongan pustakawan untuk non alumni ilmu perpustakaan, pada jalur swasta.

"Kang, saya punya teman. Alumni ilmu perpustakaan, kerja di media. Para akademisi ilmu perpustakaan menyebutnya berhasil: ini alumni kita, bisa bekerja di perpustakaan media swasta. Katanya demikian. Tapi kalau kawan saya yang di swasta itu membuka lowongan di perpustakaannya itu untuk alumni ilmu komputer, misalnya, apakah akan diprotes?. Tidak, tho?". Tanya Paijo.

"Lowongan untuk non ilmu perpustakaan itu juga berkaitan dengan eksistensi para penggerak pendidikan ilmu perpustakaan itu sendiri, Kang. Tamparan keras. Orang akhirnya ragu: jan-janya ilmu perpustakaan itu apa?”, Paijo melanjutkan.

“Selain itu, kita melupakan satu hal lain, Kang”
“Apa, Jo?”

“Kita ini dijebak pada lingkaran syarat pendidikan formal untuk sebuah pekerjaan. Padahal, ada pendidikan non dan informal. Tidak semua pekerjaan perlu pendidikan formal, ada yang cukup in dan non formal saja”. 

Karyo mengangguk, paham yang dimaksudkan Paijo.

“Adanya lowongan kebutuhan pustakawan dengan latar belakang bukan alumni ilmu perpustakaan, merupakan tamparan nyata pada institusi pendidikan ilmu perpustakaan. Nyata, cetha wela-wela”. 


[tamat]


Monday, 8 October 2018

[[ mereka yang sukses dengan pendidikan yang tidak linear ]]

Menjadi pustakawan, harus berpendidikan (ilmu) perpustakaan. Konon, kabarnya demikian. Diperkuat dengan aturan, menjadikan pekerjaan "pustakawan" dihegemoni, dikuasai oleh lulusan (ilmu) perpustakaan. Kalau sudah terlanjur, maka kudu diputihkah: diklat, atau sekolah lagi ambil (ilmu) perpustakaan. Dari luar jurusan ini tidak boleh. Mereka haram disebut pustakawan sesuai undang-undang, dan tak boleh mendaftar sebagai pustakawan. Pokoknya, jika ada lowongan pustakawan, maka syaratnya harus, dan harus: alumni (ilmu) perpustakaan. Namun, apakah demikian adanya? tidak juga. Ada yang tanpa pendidikan (ilmu) perpustakaan, nyatanya juga bisa mengelola perpustakaan. Jalan, lancar, dan dicintai mahasiswa. Mentor saya salah satu contohnya: Pak Ngudi Raharjo di Teknik Geologi UGM.
Lalu bagaimana yang sudah jadi pustakawan, apakah mereka minat sekolah (ilmu) perpustakaan (lagi)? Tentunya ada yang minat. Kawan saya, Pakne Ibrahim (Rachmad Resmiyanto) mengatakan, "kalau memang (ilmu) perpustakaan itu ada, harus ada yang "gila" pada ilmu itu. Kawan saya ini seorang fisikawan. Wajahnya mirip Einstein. Analisanya pun tajam, melebihi tajamnya pisau cukur. Dia mampu menggunakan fisikanya untuk menganalisis bidang lain. Dia memang bisa menunjukkan "gila" ilmu itu seperti apa. Dan dia menantang saya.
Namun, dalam dunia kepustakawanan (dosen maupun pustakawan), linearitas pendidikan tidaklah harga mati. Ada banyak kawan yang ternyata tidak mengambil jurusan yang linear. Hal ini tidaklah salah, justru benar. Inilah beberapa di antaranya.
Kawan Arif Surachman Ibn Sukarno, diploma dan sarjananya (ilmu) perpustakaan, namun S2 mengambil magister manajemen. Kawan Arif merupakan pustakawan UGM, sekarang menjadi kabid database dan jaringan. Salah satu prestasinya dalam pengembangan sistem informasi perpustakaan terintegrasi di UGM, yang lancar jaya ditanganinya. Hal ini tak jauh beda dengan kawan Wardi Yono, lead Dev Slims yang sarjananya perpustakaan, namun S2-nya MM.
Kawan Nur Cahyati Wahyuni, yang pernah dinobatkan menjadi pusakawan berprestasi nasional dikti, nomor satu diantara ribuan pustakawan pada ribuan pulau di Indonesia + beberapa kali menjadi juri pustakawan berprestasi dikti nasional, pendidikan diplomanya perpustakaan namun sarjananya antropologi. Bahkan S2nya magister manajemen perguruan tinggi.
Ada lagi kawan Minanto Ali, yang pernah menjadi pustakawan di DPP Fisipol UGM dan menjadi pustakawan berprestasi 2 nasional dikti. Ali memiliki ijazah diploma 3 perpustakaan, sarjanya komunikasi, dan s2 kajian budaya. Sekarang menjadi dosen di UII.
Lain lagi dengan kawan Arie Nugraha, core programmer Slims dan dosen JIP UI ini memiliki ijazah sarjana perpustakaan, namun S2 mengambil MTI. Pengetahuan kepustakawanan di S1 + studi MTI di S2 menjadikannya semakin matang.
Masih ada yang lain? banyak. Itu baru contoh di jaman ini, belum di jaman dulu kala.
Maka, saya mengulang status saya beberapa waktu lalu: bagi pustakawan yang sudah memiliki ijazah perpustakaan (diploma/sarjana), coba pikirkan bidang ilmu lain untuk studi lanjutnya.
Kalau ada alumni selain bidang (ilmu) perpustakaan yang ingin jadi pustakawan? Bisa, dan boleh saja. Ada mbak Wuwul Fitria, yang bergelar ST, MM, membawa Perpustakaan Telkom menjadi perpustakaan terbaik dunia akherat. Pak Taufiq Abdul Gani yang sang doktor elektro yang menyulap perpustakaan unsyiah. Ada pula Prof. Djoko Saryono, sastrawan cum penulis cum dosen, yang mewarnai perpustakaan UM dengan ide-ide yang menebobos kejumudan.
Masih kukuh pustakawan harus dari (ilmu) perpustakaan? Sudahlah, tidak ada itu ilmu perpustakaan.
[selesai]

[[ salam sofa ]]

Paijo kembali ndagel. Dasar Paijo. Kali ini benar-benar dia meragukan ilmu perpustakaan. Lah bagaimana tidak, argumen, Karyo kawan setianya itu selalu dibantahnya. Bahkan ketika Paijo terpojok pun, tetap mengatakan pokoke. “Pokoke ngono, Kang”, begitu kira-kira.
“Jo, ilmu perpustakaan itu ada. Kalau ndak ada bagaimana pustakawan mendesain ruangannya?”, kata Karyo. Inipun langsung dibantah Paijo. Katanya itu tata ruang kerjaannya orang arsitektur, bukan pustakawan. Kemampuan pustakawan untuk tata ruang, itu cuma secuilnya orang arsitektur. Jadi cuma nyilih, pinjem. Begitu katanya.

“Jo, di kajian perpustakaan itu ada bibliometrik. Itu ilmu penting, Jo”. Inipun dibantah dengan pokoknya oleh Paijo. Katanya itu ilmu statistik. Cuma sak upritnya ilmu statistik. Cuma nempil, nyilih saja itu.

“Jo, di kajian ilmu perpustakaan ada psikologi pemakai. Penting itu untuk pengembangan perpustakaan”. Kata Paijo, itu sudah jelas: psikologi. Itu ilmunya psikologi. Jelas, cetho welo-welo.

“Jo, di kajian ilmu perpustakaan itu orang harus bisa membuat sistem informasi yang bagus, Jo. Itu ada ilmunya”. Ini Paijo lebih semangat menanggapi Karyo. Katanya itu ilmunya orang komputer atau informatika. Lebih jauh lagi, namanya programming itu sekarang sudah jadi hobi. Tidak sekolah komputer pun bisa jadi programmer. Paijo menguatkan pendapatnya itu dengan cerita tentang kawannya yang orang kehutanan, tapi pintar programming, atau lulusan sekolah perkebunan yang juga pintar programming. Semuanya karena otodidak.

Karyo cep klakep. Tak bisa menjawab lagi.

“Jo, di ilmu perpustaskaan ada literasi informasi. Ini penting, Jo”. Paijo tertawa kecil, kemudian melanjutkan penjelasannya. Bahwa itu literasi informasi pekerjaan banyak orang, lintas disiplin. Bukan dominasi pustakawan atau alumni ilmu perpustakaan. Apalagi, lanjut Paijo, “Itu ideator literasi informasi saja bukan orang ilmu perpustakaan kok, Kang. Piye, jal?”.

“Jo, di kajian ilmu perpustakaan, kita diajari membedakan informasi valid dan tidak valid. Ini penting. Bagaimana menggunakan Google dengan baik dan benar”. Karyo tak mau kalah. Paijo menghela nafas sebentar. Kemudian menjawab, “Kang, pustakawan yang kena informasi hoax juga banyak. Trus cara menggunakan Google, dari mana epistemologinya kalau itu bagian dari pekerjaan pustakawan?. Itu bukan domain pustakawan, itu milik semua orang”.

Karyo dalam hati membenarkan apa yang disampaikan Paijo. Memang kesannya ilmu perpustakaan itu gabungan potongan potongan ilmu.

"Jane ya ndak salah, Kang. Ketika ilmu perpustakaan itu nggabungkan beberapa ilmu. Hora salah. Neng kok saya merasa embuh, ya. Ana sik aneh." Paijo menambah penjelasannya.

###

“Njuk, karepmu piye, Jo?”. Karyo setengah putus asa.

“Pustakawan itu, sejak adanya pendidikan ilmu perpustakaan, jadi pekerjaan yang administratif dan mengambil pekerjaan yang tidak dikerjakan orang lain. Mengais pekerjaan yang terserak. Cuma perantara, atau semacamnya, Kang.”. Paijo memberikan argumennya. Bagi Paijo, pustakawan itu peran yang menempel pada setiap profesi, setiap orang. Jika toh ada perpustakaan, maka pengelolanya seorang ilmuwan, yang dia diberi tugas untuk mengelola perpustakaan. Dengan begitu, justru perpustakaan akan hidup. “Namun tetap ada syaratnya, Kang. Kudu tenanan”, tegas Paijo.

“Lah sekarang pustakawan membanggakan pekerjaannya membuat akun google scholar, atau membuat akun Sinta. Itu kan pekerjaan temporer. Pekerjaan yang dikerjakan karena dibutuhkan orang lain, ketika tidak ada orang khusus yang membantu. Maka, tampillah pustakawan, menjadi juru selamat. Kalau nanti semua sudah punya akun google scholar, lalu mau apa pustakawan?. Nganggur?”. Paijo ganti membombardir Karyo dengan pertanyaan-pertanyaan.

Karyo tidak menyangka, selama ini dia ngemong Paijo, dan baik-baik saja. Kok sekarang rodo kendhel, ndugal, tur kemlinthi. Entah, ada apa dengan Paijo.

Paijo membuka gadgetnya, dia merawak ke berbagai laman internet. Tampak dia buka akun google scholar dosen dan ilmuwan perpustakaan, terutama yang bergelar doktor. “Apa lagi, Jo?”. Tanya Karyo. “Sik, Kang. Tak nonton produk intelektual para ilmuwan perpustakaan. Ada yang baru atau tidak, atau jangan-jangan hanya seputar sofa dan kopi di perpustakaan”.

"Lalu apa sebenarnya pekerjaan pustakawan yang paling hakiki, Jo?", Karyo bertanya balik.

"Memustakawankan pemustaka, Kang. Itu pekerjaannya pustakawan". Paijo menjawab.

Dari seberang jalan, seorang lelaki 40-an tahun berjalan. Menenteng buku dengan wajah sumringah. Setengah berteriak, dia berkata “Salam sofa, Jo”.

[mungkin bersambung]

Sunday, 7 October 2018

, ,

Teranglah sudah: semua bisa jadi pustakawan

“Revolusioner, anti kemapanan, anti kejumudan. Benar-benar luar biasa dan di luar dugaan”, Paijo bergumam sendirian. Wajahnya semringah, sambil memandangi layar gadget barunya, bermerk China yang sedang kondhiang saat ini. Gadget itu dibeli setelah mendapat acc istrinya beberapa hari yang lalu. Tentunya setelah berdebat sepanjang hari. 

###

Paijo tampak bergembira. Senyumnya lebar, kadang singsut-singsut, bersiul sambil menyusuri jalanan kampung. Tampak benar-benar dalam keadaan bahagia. Sejurus kemudian, sampailah dia di depan rumah Karyo. Tampak Karyo sedang santai bersih-bersih ladang depan rumah, persiapan untuk masa tanam yang segera akan datang. 

“Kang, ana berita bagus”. Tegas, lugas, Paijo setengah teriak pada Karyo. Karyo yang sedang memegang gathul, agak terkejut. Untunglah dia menguasai diri, dan tidak melempar gathul ke sumber suara. Jika itu terjadi, entah kegemparan apa yang akan meledak sore itu. Karyo menghentikan aktivitasnya, kemudian duduk. Paijo mendekat.

“Kang ini lihat, berita bagus. Lowongan kerja di Perpustakaan Nasional. Perpustakaan Nasional!”. Paijo menekankan kata "Perpustakaan Nasional" dengan  nada tinggi. Karyo tidak mengerti. Yang dia tahu, Paijo itu sudah kerja, mapan, mosok mau mendaftar lagi. Usianya juga sudah overdosis, dan tidak masuk kriteria 35 tahun. Jika membuka alamat pendaftaran online, kemungkinan langsung macet dan muncul notifikasi “maaf, anda sudah tua”. 

“Bukan saya yang mau mendaftar. Tapi lihat lowongan ini. Lowongan pustakawan, dengan syarat yang revolusioner dan anti kejumudan. Ini berita bagus. Apalagi di Perpustakaan Nasional, perpustakaan tingkat tertinggi sebagai pembina perpustakaan lainnya”. Celetuk Paijo.

Paijo menunjukkan pengumuman  lowongan melalui gadgetnya. Tertulis, ada 19 lowongan pustakawan ahli, 17 di antaranya bukan dari ilmu perpustakaan. Melainkan bersyarat lulusan sastra jawa, sastra bugis, sastra belanda dan lainnya. Karyo mengangguk, paham yang dimaksudkan Paijo.

“Loh, bukannya itu keliru, Jo?. Kudunya ya alumni ilmu perpustakaan, tho?”, tanya Karyo.

“Justru itu. Ini luar biasa. Perpustakaan Nasional bertindak progresif, revolusioner, reformis, tentunya anti kemapanan, menerobos kejumudan. Perpusnas sudah memberikan contoh yang bagus dalam pengembangan perpustakaan. Tulodho, Kang. Tulodho alias contoh. Ini harus kita dukung. Saya setuju dengan lowongan ini. Ndak cuma 100%, tapi 110% setuju.” Paijo mulai memunculkan pandangannya.

“Kang, coba lihat, Sastra Jawa bisa jadi pustakawan. Wangun tenan. Saya membayangkan, pekerjaannya tidak hanya menata buku, tapi juga ngaji isinya buku sastra jawa yang ada di perpustakaan. Apalagi itu ada lowongan untuk sastra bali, sastra bugis, sastra batak. Mathuk itu. Perpustakaan mestinya,  jika tidak ada halangan, nantinya akan dipenuhi ahli-ahli, ilmuwan”, Paijo menjelaskan dengan girang, senang, layaknya anak balita disodori susu ibunya ketika kehausan.

Memang Paijo saat ini kukuh dengan pandangannya, bahwa jadi pustakawan itu tidak harus dari ilmu perpustakaan. Siapapun bisa masuk jadi pustakawan. Syarat pertama mau, kedua mau, ketiga mau, keempat terus belajar belajar. Dengan modal ilmu lain yang dimiliki, maka si pustakawan bukan hanya menyusun jajaran buku. Dia bisa “membaca” isi buku dan menyebarkannya. Paijo berkaca pada ruh aseli saat lahirnya perpustakaan. Pengelolanya bervariasi, dan memiliki latar keilmuwan bermacam. Sehingga lebih optimal dalam “membaca” isinya, tidak sekadar menata fisiknya. Demikian kurang lebih pandangan Paijo saat ini.

“Kalau buku sastra jawa, berbahasa jawa kuno itu ada di tangan alumni ilmu perpustakaan, paling banter diseken, disampuli, lalu disusun di rak, beri kapur barus biar tidak dimakan ngengat, plus ditiup jika ada debunya. Kadang malah panggil jasa perawatan profesional dari luar.  Iyo ora?. Pernyataan sekaligus pertanyaan Paijo membuat Karyo tergegun. Dia tidak menjawab, justru bertanya balik.

“Lha yang nglasifikasi buku siapa, Jo?”. 
“Nah,  itu tugasnya alumni ilmu perpustakaan, Kang. Yang dianggap paling berbobot ya nglasifikasi itu. Hahaha”. 

“Hus. Sampeyan itu ndak sopan, tidak berempati. Lowongan itu dianggap keliru oleh banyak orang, karena menerima dari luar ilmu perpustakaan. Coba hitung, berapa orang alumni ilmu perpustakaan yang kandas karena lowongan itu. Kamu tahu, selama ini sudah dipatenkan bahwa lowongan pustakawan itu cuma untuk alumni ilmu perpustakaan. Kudunya sampeyan meluruskan, jangan malah berdendang  gembira ria dan membuat opini menyesatkan!!”. Karyo bicara dengan ada ditinggikan. 


Paijo pun ngoceh, bahwa dari buku yang dia baca, manusia sekarang kena wabah psikologis, orang  tidak menerima dengan tenang, bahwa kadang ada hal-hal terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, merasa kalah dikalahkan, ditindas dan lainnya. [1] Nah, untuk itulah, masih sesuai buku yang Paijo baca, harus dilakukan proses mengalahkan perasaan  tertindas, tertekan, kalah dan lainnya, dalam rangka mencapai kemenangan spiritual, kemanangan sejati. [2] "Pustakawan dan calon pustakawan harus tahu filosofi hidup ini, Kang", tutup Paijo, dilanjutkan rentetan pertanyaan.

“Kang, saya tanya: kenapa kudu alumni ilmu perpustakaan? siapa yang mewajibkan? kalau institusi yang mbayari perlu dari luar ilmu perpustakaan, njuk mau apa? protes?. Saya tanya lagi: boleh ndak dari luar ilmu perpustakaan ndaftar S2 ilmu perpustakaan?”.

Sejenak Karyo diam, kemudian menjawab, lirih: “bisa saja”.  

“Dor!!!”, tangan Paijo diposisikan seperti menembak, diarahkan ke Karyo.  “Nah, itu. Kenyataan bahwa pasca sarjana ilmu perpustakaan, atau apapun namanya, menerima mahasiswa dari lulusan non ilmu perpustakaan, itu sudah bukti cetho welo-welo ketok mata, kelihatan dengan mata, mata kita semuanya, bahwa jadi pustakawan itu tidak harus dari alumni ilmu perpustakaan.”

Fakta yang disampaikan Paijo, membuat Karyo diam. Sejenak suasana hening. Memang benar, Karyo pun punya kenalan yang ambil master bidang perpustakaan. Sementara mereka bukan dari S1 ilmu perpustakaan: ada yang dari bahasa inggris, bahasa indonesia, hubungan internasional,  ada juga dari teknik. Semuanya masuk, diterima, dan tentu saja: lulus.

"Dalam hal lowongan ini, aku bangga dengan perpustakaan nasional, Kang".


Karyo diam, suasana hening. Paijo juga menahan mulutnya. Karyo tahu, Paijo kadang ngomong penuh sindiran, meski kadang juga sebaliknya. Namun dari kalimat terakhir, Karyo yakin bahwa Paijo tenanan, benar-benar setuju dengan langkah Perpustakaan Nasional membuka lowongan untuk non alumni ilmu perpustakaan. 

####

Karyo sedang di halaman rumahnya, meneruskan proses membersihkan ladang tempo hari. Senjatanya pun masih sama: gathul. Sekitar jam 4 sore ketika badan sudah mulai berkeringat, Karyo menghentikan kegiatannya. Dia raih handuk kumal yang disampirkan di genteng emperan. Sebuah ember, ciduk berisi sabun yang tinggal setipis ATM dan juga tinggal sekali pakai, sikat gigi dan odol yang tinggal sak crit, turut dibawanya. Dia hendak ke sungai, mandi sore. Ya, dari pada diomelin istrinya, dan disuruh tidur di kursi kamar tamu, lebih baik dia segera mandi. Apalagi malam itu malam Jumat. Di musim kemarau, sore hari sangat terasa  dingin, namun wajib hukumnya untuk mandi.  

Di atas sungai yang biasa digunakan untuk mandi, terbentang jembatan yang menghubungkan dari barat dan timur. Jembatan itu memiliki pengaman di sisi kiri kanannya. Tampak Paijo sudah nangkring di bibir jembatan. Setelah udur-uduran tempo hari, sore itu pertama kali mereka ketemu. Wajah Paijo menyimpan kalimat. Kalimat yang menunggu waktu paling tepat, untuk disampaikan. Pada siapa lagi kalau bukan ke Karyo?.

“Kang, aku tahu, pandanganku kemarin, tentang lowongan pustakawan dari berbagai jurusan itu berbuntut panjang. Orang jadi tanya padaku: kalau saya kursus kesehatan 3 bulan apa bisa jadi dokter? apa saya bisa ndaftar profesi dokter? apa tukang fotokopi bisa naik jadi pustakawan?, dan lainnya”. Paijo membuka pembicaraan.

Apa yang disampaikan Paijo tersebut memang benar. Biasanya demikianlah tanggapan orang. Paling sering, membandingkan dengan dokter. Karyo pun pernah ditanyai demikian. Karyo sendiri maklum, para alumni ilmu perpustakaan itu sudah kuliah lama, namun ketika lulus, justru lahannya diambil atau bahkan diserahkan pada alumni jurusan lain. Nyesek

Trus kamu jawab piye, Jo?”, Karyo memancing agar Paijo segera mengeluarkan uneg-unegnya. Karyo paham, dengan sedikit pancingan saja, Paijo akan banyak cerita. Bahkan, jika tidak dipotong, cerita pribadi pun bisa mrucut disampaikan. Maka dari itu, dalam rangka ngemong, Karyo kadang memotong penjelasan Paijo.

“Kemarin kan saya sudah bilang, Kang. Bahwa sekolah pasca jurusan ilmu perpustakaan itu bisa dimasuki oleh orang dari berbagai lulusan. Multi entry. Hal itu sudah menunjukkan, bahwa jadi pustakawan itu bisa dari macam-macam bidang studi. Nah, bagaimana dengan dokter?. Paijo mulai menjelaskan.

Paijo menjelaskan bahwa dokter, dan pustakawan itu beda. Yang bisa mengambil pendidikan profesi dokter, ya hanya lulusan pendidikan dokter. Apalagi mengambil spesialis. Dari luar kedokteran, tidak bisa ambil. Apalagi lulusan ilmu perpustakaan. Dari sisi keketatan pendidikan saja sudah kelihatan. Intinya level profesinya beda. 

Ada beberapa level profesi menurut Paijo, ditilik dari siapa yang bisa masuk ke dalamnya. Ada level tinggi, semacam dokter, dan lawyer. Ada yang tingkat di bawahnya, semacam pustakawan, atau wartawan.

###

“Nah, membandingkan pustakawan dengan dokter itu tidak nyambung. Lebih pas dengan wartawan, atau petani!”, kata Paijo. “Besok tak critani lebih lanjut. Sekarang kita mandi dulu. Badanmu wis bau keringat. Jangan kecewakan istrimu malam ini, Kang Karyo.”.

Hus. Omonganmu, Jo”. Karyo buru-buru terjun ke sungai.

[[ bersambung ]]

[1] Sebuah seni untuk bersikap bodo amat, Mark Manson (2018)
[2] Profesi wong cilik, Iman Budhi Santoso (2017)

catatan:
cerita ini diilhami oleh rasa suka cita terkait berita formasi lowongan pustakawan di http://cpns.perpusnas.go.id/alokasi-formasi/

Tuesday, 2 October 2018

Pendidikan tokoh berpengaruh bidang kepustakawanan *)

Berikut ini tabel tokoh kepustakawanan, atau tokoh yang berpengaruh dalam dunia kepustakawanan, beserta sekilas pendidikannya, atau keahliannya.

Kami suguhkan nama, keahlian atau kontribusi, pendidikan, dan keterangan yang berisi sumber informasi pendukungnya. Tentunya daftar ini akan terus diperbarui jika ditemukan informasi baru. Bukan hanya tokoh dari luar Indonesia, namun juga tokoh dari Indonesia.

Berharap dari daftar ini, khususnya para pustakawan memperoleh informasi baru terkait jenjang pendidikan para pustakawan atau pemikir/tokoh yang berpengaruh pada dunia kepustakawanan. Informasi tersebut bisa menjadi landasan pustakawan dalam memilih pendidikan, dalam rangka menjadi pustakawan ideal.


No Nama Kontribusi Pendidikan
Pertama Kedua Ketiga Keterangan
1 Melvil Dewey Klasifikasi DDC, 1876 Lib.

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/160471/Melvil-Dewey,  & https://www.jstor.org/stable/25548614
2 Paul Otlet Klasifikasi UDC, 1904 Law

https://www.britannica.com/biography/Paul-Otlet
3 SR Ranganathan CC dan 5 hukum perpustakaan, 1931 Math Lib
http://www.isibang.ac.in/~library/portal/Pages/SRRBIO.pdf
4 Leo Egghee Perumus g-indeks, 2006 Math

http://garfield.library.upenn.edu/smetrics/egghe_rousseau.pdf & http://link.springer.com/article/10.1007/s11192-006-0144-7
5 Eugene Garfield Founder of ISI web of science, 1955 Chem Lib Linguistik. http://www.garfield.library.upenn.edu/educat.html & https://www.the-scientist.com/daily-news/scientometrics-pioneer-eugene-garfield-dies-31963
6 Paul Zurkowski Founder Information Literacy concept, 1974 Law

http://hlwiki.slais.ubc.ca/index.php/Information_literacy
7 Jorge E. Hirsch Perumus h-indeks, 2005 Physics

https://jorge.physics.ucsd.edu/jh.html & http://www.pnas.org/content/pnas/104/49/19193.full.pdf

Melvil Dewey, siapa pustakawan tidak mendengar nama ini? 99.9% pasti pernah mendengarnya. Dewey berpengaruh dalam hal pengembangan klasifikasi, yang kemudian dikenal dengan DDC. Selaras dengan Dewey, ada Otlet yang membuat UDC, Ranganathan yang membuat Colon Classification. Ranganthan juga merumuskan 5 hukum perpustaskaan.

Leo Eghhe, mungkin jarang didengar, namun Egghee merupakan penemu/perumus g-indeks. G-indeks dirumuskan setelah h-indeks oleh Hirsch. Indeks ini berpengaruh dalam dunia kepustakawanan terkait scholarly communication librarian. G dan h indeks ini, diklaim sebagai bagian dari perkembangan info/bibliometrik.  Pustakawan diminta tahu berbagai indeks ini agar lancar dalam memberikan referensi terkait komunikasi ilmiah pada mahasiswa.

Zurkowski, si penemu istilah literasi informasi. Jamak pustakawan memaklumi, LI merupakan tuah sakti yang saat ini digandrungi. LI digunakan pustakawan untuk meneguhkan bahwa dirinya ada.

Kemudian Garfield, si perintis ISI WoS. WoS ini masih terkait dengan h dan g-indeks, terkait pula dengan impacf factor pada dunia komunikasi ilmiah.

Nah, dari latar belakang pendidikan tokoh di atas, kita bisa lihat. Bagaimana dinamika ilmu yang ada pada para tokoh? Ada ilmu lain (mereka sudah ilmuwan dahulu dalam hal lain) sebelum (ilmu) perpustakaan. Atau, tidak harus tahu (ilmu) perpustakaan dahulu, untuk bisa berpengaruh atau memberi kontribusi pada kepustakawanan.

*) jika menemukan kekeliruan, silakan koreksi di komentar