Tuesday, 14 August 2018

[[ al balad ]]

Kisah bersama Bapak #2
Gelap, tak ada penerangan. Jangkrik mengerik memecah malam. Angin bertiup, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Malam itu malam minggu. Bapak mengajak saya menuju masjid, yang letaknya 200 meteran dari rumah. Berbekal lampu senter kami menembus malam. Malam itu pengajian remaja rutin. Saya belum usia remaja, mungkin usia SD. Agaknya Bapak mengajak, sebagai upaya mendidik dan mengenalkan saya pada "pengajian". Kejadian ini sudah lama. Agak samar dalam ingatan.

Namun ada beberapa hal yang masih jelas saya ingat.

Masjid masih sepi. Setelah membuka pintu dan masuk dalam masjid, Bapak menyalakan lampu senthir, satu-satunya lampu penerang yang jamak digunakan orang kampung. Untung masih tersedia lengo pet (sebutan minyak tanah) sebagai bahan bakarnya. Sumbu senthir pun menyala. Sinarnya menerangi sudut masjid. Tidak semua sudut kebagian terangnya api senthir, namun paling tidak di bagian depan dekat papan tulis hitam (board) terlihat lebih terang.

Papan tulis hitam itu digunakan untuk tempat menulis materi sinau ngaji. Terkadang, jika pengajian libur, Bapak menuliskan pengumuman pada papan tersebut: "pengajian libur'. Sehingga siapapun yang datang di malam itu bisa membaca pengumuman. Maklum, kala itu belum ada sms atau sound system untuk mengumumkan.

###

Satu per satu remaja datang. Saya masih ingat beberapa diantaranya. Ada kang Basuki, Kang Jono, Kang Sugit dan lainnya. Malam itu, sekian puluh tahun lalu, masih saya ingat materi pengajiannya: ngaji surat Al-Balad. Surat yang terdiri dari 20 ayat, ada di urutan ke 90, dan termasuk surat Makkiyah (diturunkan di Makkah). Al-Balad berarti Negeri.

Ayat pertama, kedua, ketiga, Bapak tulis di board hitam menggunaan kapur tulis. Board hitam kecil itu tak mampu menampung banyak ayat. Secukupnya saja yang ditulis untuk kemudian dihafalkan dan dipelajari ayat demi ayatnya.

"Lā uqsimu bihāżal-balad", demikian ayat pertama yang ditulis. Bapak membacakan, kemudian ditirukan remaja yang hadir. Saya ikut menirukannya. Sampai akhirnya dalam beberapa pertemuan, pelajaran Al-Balad itu selesai.

###

Pengalaman ini masih membekas. Dari pengajian inilah saya hafal surat Al-Balad. Pada pertemuan pengajian yang berlangsung sekian puluh tahun silam. Di sebuah masjid, menggunakan penerangan senthir dan papan tulis hitam + kapur tulis. Dan yang paling istimewa langsung belajar dari Bapak
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...

[[ senter ]]

Kisah bersama Bapak #1
Senter. Benda kecil namun berharga. Senter merupakan alat penerang yang menjadi senjata menembus malam. Sangat berguna, terutama di kampung yang belum ada listrik. Ada bebe ukuran senter. Ada yang isinya 4 batere besar, 3, atau 2. Ada juga yang berisi 2 batere tanggung. Atau paling kecil 2 batre jam dinding.

Lebih istimewa, bagi kami dulu, ketika bulan puasa memiliki senter sendiri. Ketika masih SD, membawa senter sendiri saat pergi ke masjid menjadi kebanggaan. Menunjukkan senter pada teman sebaya, akan menambah kepercayaan diri, karena berarti ada kemandirian dalam proses perjalanan menuju masjid.

Saya pernah merengek minta senter, yang berukuran kecil. Bapak menjanjikan akan membelikan senter merek Tiger. Senter Tiger populer ketika itu. Sebelum akhir-akhir ini muncul senter yang bisa dicas dengan berbagai ukuran.

###

Cerita tentang senter tidak berhenti ketika saya masih SD. Bahkan ketika kuliah dan setelah menikah. Cerita senter ini masih antara saya dan Bapak.
Beberapa tahun setelah menikah, ketika pulang kampung saya masih tidur di bekas kamar semasa SMA. Kamar ini ada di serambi luar, sehingga ketika ada yang keluar rumah, pasti saya terbangun oleh suara pintu yang dibuka.

Setiap pagi, menjelang subuh Bapak membuka pintu sambil membawa senter, siap-siap menuju masjid. Namun setelah mengunci pintu, senter ditiinggalkan di teras rumah. Senter tidak dibawa. Bapak sudah terbiasa menembus pagi buta tanpa penerangan. Bapak hafal jalan menuju masjid meskipun rumah kami ada di sisi paling luar dusun. Jarak ke masjid sekitar 200 meter, dengan jalan menanjak dan setengahnya tanpa penerangan. “Ko, iki sentere”, demikian kata Bapak ketika meletakkan senter di teras. Seolah membangunkan saya untuk diajak ke masjid. Ya, senter yang ditinggalkan itu untuk saya. Agar saya mudah berjalan menuju masjid.

Jika bapak belum begitu jauh melangkah, saya akan ikut bareng Bapak ke masjid. “Pak, ngentosi”, begitu teriak saya agar saya ditunggu. Jika tidak maka saya menyusul sendirian. Terkadang saya memakai senter itu, terkadang saya mengeluarkan motor agar lebih cepat sampai masjid.

"Allahu akbar-allahu akbar", suara adzan Bapak nyaring menyambut pagi. Menandakan waktu subuh sudah manjing.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...

Thursday, 9 August 2018

Hasil pencarian di ScimagoJR : Istilah dan artinya

tampilan pencarian di ScimagoJR

Gambar di atas memperlihatkan hasil pencarian di web SJR. Berikut beberapa penjelasan tentang keterangan angka sesuai gambar di atas.

Type of publication:
  • b: Book
  • k: Book Series
  • p: Conferences and Proceedings
  • j: Journals
  • d: Trade Journals
SJR: SCImago Journal Rank indicator. It is a measure of journal's impact, influence or prestige. It expresses the average number of weighted citations received in the selected year by the documents published in the journal in the three previous years. The SJR indicator measures the scientific influence of the average article in a journal, it expresses how central to the global scientific discussion an average article of the journal is. 

H-Index: merupakan jumlah H yang merupakan angka titik temu/terdekat antara jumlah artikel dan jumlah berapa kali dikutip.

Total Docs: total dokumen 
Total Ref: total referensi yang ada pada jurnal tahun 2014
Total Cites : total kutipan
Citable Docs: jumlah dokumen yang dikutip
Cites/Docs: jumlah rata-rata dokumen/artikel dikutip dalam 2 tahun. Keterangan dalam CJR "measures the scientific impact of an average article published in the journal, it is computed using the same formula that journal impact factor ™ (Thomson Reuters)."
Artinya Cites/Doc (2y) dihitung dengan cara yang sama dengan penghitungan impact factor. 
Ref/Docs: jumlah rata-rata referensi pada tahun terakhir (dalam gambar 2014)

-------------

Quartiles
The set of journals have been ranked according to their SJR and divided into four equal groups, four quartiles. Q1 (green) comprises the quarter of the journals with the highest values, Q2 (yellow) the second highest values, Q3 (orange) the third highest values and Q4 (red) the lowest values.

SJR
The SJR is a size-independent prestige indicator that ranks journals by their 'average prestige per article'. It is based on the idea that 'all citations are not created equal'. SJR is a measure of scientific influence of journals that accounts for both the number of citations received by a journal and the importance or prestige of the journals where such citations come from It measures the scientific influence of the average article in a journal, it expresses how central to the global scientific discussion an average article of the journal is.

Citations per document
This indicator counts the number of citations received by documents from a journal and divides them by the total number of documents published in that journal. The chart shows the evolution of the average number of times documents published in a journal in the past two, three and four years have been cited in the current year. The two years line is equivalent to journal impact factor ™ (Thomson Reuters) metric.

Total Cites Self-Cites
Evolution of the total number of citations and journal's self-citations received by a journal's published documents during the three previous years.
Journal Self-citation is defined as the number of citation from a journal citing article to articles published by the same journal.

External Cites per Doc Cites per Doc
Evolution of the number of total citation per document and external citation per document (i.e. journal self-citations removed) received by a journal's published documents during the three previous years. External citations are calculated by subtracting the number of self-citations from the total number of citations received by the journal’s documents.

% International Collaboration
International Collaboration accounts for the articles that have been produced by researchers from several countries. The chart shows the ratio of a journal's documents signed by researchers from more than one country; that is including more than one country address.

Cited documents Uncited documents
Ratio of a journal's items, grouped in three years windows, that have been cited at least once vs. those not cited during the following year.

Citable documents Non-citable documents
Not every article in a journal is considered primary research and therefore "citable", this chart shows the ratio of a journal's articles including substantial research (research articles, conference papers and reviews) in three year windows vs. those documents other than research articles, reviews and conference papers. 

Monday, 30 July 2018

Monday, 9 July 2018

Da'i dan pustakawan

Jarene wong pinter, "kita adalah da’i sebelum menjadi apapun". Da'i, di KBBI berarti pendakwah. Kerjaannya berdakwah, ngajak marang kebaikan. Lalu siapa yang bisa jadi da'i? Mengajak pada kebaikan itu tanggungjawab semua orang. Artinya semua orang bisa dan berkesempatan jadi da’i. Namun demikian, seseorang akan disebut da'i atau tidak, tergantung pada orang lain. Mau atau tidak orang lain menyebutnya da’i.

Da'i itu sebutan yang disematkan pada seseorang oleh orang lain yang mengakuinya. Jika dia menganggap orang lain itu da'i, ya disebutlah dia da'i. "Itu ada pak da'i, nanti mau ngisi pengajian". Embuh dia sekolah belajar formal atau tidak. Atau cukup nyantrik ke kyai setiap sore, kalau orang menganggap da'i, ya sah dia disebut da'i. Da'i berkaitan erat dengan agama tertentu, Islam.

Da'i yang baik, tidak akan mempermasalahkan da'i lain hanya karena tidak mengenyam pendidikan perdakwahan dan perda'ian.. Da'i diakui dari ilmunya. Semakin tinggi ilmunya, semakin menunduk dan menghargai da’i lainnya, meski berbeda pandangan atau pendapat. Jika ternyata seorang da’i ilmunya janggal, maka dia akan ditinggalkan. Masyaratkatlah yang akan menjadi filternya. Bar.

Sebutan da'i, merupakan sebutan yang given, diberikan oleh masyarakat sekitar. Dia bukan profesi yang diminta oleh Si Da'i. Sebutan da'i bukan hegemoni kelompok tertentu saja, dan tentunya tidak terkait undang-undang.

###

Nah, pustakawan juga seperti da’i. Masyarakat boleh memanggil seseorang sebagai pustakawan berdasar peran nyatanya di masyarakat. Kenapa tidak? Kalau memang tidak pantas, maka tak akan dia disebut sebagai pustakawan bagi orang lain. Jika Paijo itu mengabdikan dirinya untuk kegiatan yang terkait pustaka, kemudian orang menyebutnya pustakawan, ya sah saja. Meskipun Paijo tidak sekolah (ilmu) perpustakaan. Mau protes?

Mendapat sebutan pustakawan tak harus perlu pendidikan formal kepustakawanan, dan tidak dihegemoni oleh kalangan tertentu saja. Bahkah orang bisa menyebut dirinya adalah pustakawan, bagi dirinya sendiri. Setiap manusia adalah da'i, setiap manusia adalah pustakawan. Dan tentu saja, setiap tempat adalah perpustakaan.

Baca juga Perpustakaan terlengkap adalah jagat raya, dengan setiap manusia adalah pustakawannya

Tuesday, 3 July 2018

[[ timnas islandia dan kepustakawanan kita ]]

Ada yang menarik di timnas Islandia piala dunia 2018. Pertama, nama-nama pemainnya berakhiran dengan "son". Kemudian yang kedua terkait pekerjaan sampingan (atau utama?) pemain dan pelatihnya.

Halldorsson, kiper Islandia itu juga berprofesi sebagai sutradara iklan. "Pekerjaan saya hanyalah menjadi pembuat film," demikian dia berkata. Kabarnya, selain memang ketertarikannya pada dunia film, juga disebabkan oleh liga Islandia hanya bersifat semi profesional. Selain Halldorsson, ada juga Hallgrimsson, sang pelatih yang juga seorang dokter gigi. "saya benar-benar menikmati kembali untuk bekerja dengan klien saya", begitu katanya. Menjadi dokter gigi adalah cara terbaik untuk santai dari tekanan sepakbola. Bahkan, dia pernah berkata, "Saya adalah seorang dokter gigi dan takkan mau melepas pekerjaan tersebut". Saevarsson, bek Islandia juga merupakan buruh pabrik garam. "Ini normal", katanya. 

Jika ditarik pada dunia kepustakawanan, ini menarik. Halldorsson mengatakan "semi profesional". Mungkin masih ada yang merasa, baik secara keseluruhan atau per kasus di tiap institusi, ternyata profesi pustakawan masih semi profesional. Sehingga pekerjaan sebagai pustakawan itu tidak bisa 100% diharapkan, maka jadilah seperti Halldorsson, yang menjadi sutradara film, atau Saevarsson yang juga buruh pabrik garam.

Jika merasa menjadi pustakawan itu banyak tekanan, maka jadilah seperti Hallgrimsson, yang menggeluti dokter gigi sebagai hiburan.

Sepakbola yang bagi banyak orang sangat menjanjikan, bergaji tinggi dan terjamin, ternyata tidak untuk pesepakbola lainnya. Apapun sebabnya. Demikian pula pustakawan. Dia bisa menjanjikan untuk sebagian, namun tidak untuk sebagian lainnya. Maka memiliki cara pandang yang lebih luas tentang rejeki (bahkan juga tentang hidup-tantangan-ujian) menjadi penting.

Mbah Kyai Maimun menyampaikan "Kalau kamu jadi guru, dosen, atau kiyai, kamu harus tetap punya usaha sampingan.. Biar hatimu tidak selalu mengharap pemberian.." [1] Demikianlah, rejeki dapat datang dari berbagai sumber, dari berbagai arah. Tidak hanya dari sepakbola saja, tidak hanya dari menjadi pustakawan saja.

Pustakawan itu sebuah pekerjaan, bisa menjanjikan, bisa tidak. Santai, dan bergembiralah.
Begitu, Son..

[1] https://twitter.com/nu_online/status/885322832883859456


#2019 ganti pustaka-man

Siapa tak kenal superman, spiderman, wonder wo-man? Tokoh fiktif penuh imajinatif, yang dikenal sejak lama. Bahkan, idola yang ketika beraksi hanya bercelana dalam tersebut masih saja diangkat sebagai film di jaman ini. Kuat, kekar, gagah, dan juga sakti. Bagi kaum perempuan, spiderman dan superman juga dianggap nggantheng. Wonder wo-man, dianggap cantik, tur ya seksi.

Selain super, spider dan wonder, kata Kang Dodo, ada “Sandiman”. Sandiman itu sebutan bagi para pengelola sandi. Sekolahnya di Sekolah Sandi Negara. Mendengar itu,  Paijo nyeletuk, “kenapa tidak pustakaman, ya?”. Dari sinilah semua berawal.

###

Pertanyaan iseng ini muncul pada obrolan sore itu. “Yo wis, diganti saja jadi pustakaman. Bikin istilah baru”. Tawa lepas tanpa dosa mengikuti ide tersebut. 

Sebenarnya, selain pustakawan, telah muncul istilah baru, yang konon kabarnya lebih kekinian. Lebih sesuai dengan perkembangan, dan tentunya lebih membanggakan. “Pekerja informasi”, misalnya. Istilah itu dianggap menimbulkan energi positif bagi yang menggunakan. Seolah berbagai sejarah buruk, ketertindasan dan juga konflik yang tersemat pada istilah “pustakawan” dapat dihilangkan dengan istilah baru, “Pekerja Informasi”.

Nah, bagaimana dengan “Pustakaman”. :)

Paijo browsing, cari alasan munculnya buntut wan dan man. Apa bedanya?. Pada sebuah laman web dia menemukan, bahwa “man” digunakan jika vokal akhir dari kata dasarnya “i”. Sedangkan selain itu, menggunakan “wan”.  Itulah sebab sand(i) menjadi sandiman, sen(i) menjadi seniman. Sementara buday(a) menjadi budayawan, pustak(a) menjadi pustakawan.

Namun, apakah semua i menjadi man, dan a menjadi wan? Jika ditelisik, ada juga Sujiwan. Suj(i) itu berakhiran i, harusnya Sujiman. Karyo, yang mendengar gerutu Paijo nyeletuk, “Sujiman itu nama orang, Jo”.  Paijo, yang memang ngeyel itu tidak mau kalah. “Okelah itu nama orang, tapi apa alasan i menjadi man, dan a menjadi wan?”. Kang Dodo, yang sehari-hari bergelut dengan dunia informasi menyodorkan data: geolog(i)wan. Geologi berakhiran i, tapi buntutnya wan, bukan man. 

Jadi?

###

Tinggalkan saja istilah pustakawan, yang penuh konflik dan masih identik dengan ketertindasan. Beralih ke pustakaman. Berharap akan mendapat tuah  sakti dan sekuat Superman, Spiderman, atau Wonder Wo-man. Demikian, Paijo bersemangat mencari pembenaran ide pustakaman tersebut.

Ingatkah ide mengganti Indonesia menjadi Nusantara atau Nuswantoro?, yang konon dianggap lebih asli dibanding Indonesia. Penggantian tersebut sebagai usaha mengubah nasib negara ini. Menurut itung-itungan primbon tentang nama, Nusantara lebih membawa hoki. Nah, demikian pula dengan pustaka-man. Sopo reti, siapa tahu, lebih membawa hoki pada perkembangan kepustaka-man-an di Indonesia. Para pustakaman akan bergabung dalam Ikatan Pustakaman Indonesia.


###

“Otak-atik kata ini, sebagai bentuk membangunkan kata-kata, yang telah lama diistirahatkan oleh Wiji Thukul”, celetuk Paijo. “Bangunlah kata-kata”, ngono. Obrolan mempermainkan kata itu berlangsung seru. Obrolan sebagai bentuk hiburan di sela kesibukan mereka menjadi pustakawan, yang kadang penuh tekanan. Baik tekanan pekerjaan, maupun tekanan psikologis: dari atasan, atau bahkan dari sesama pustakawan.  Dengan mengubah menjadi pustakaman, maka Paijo akan menganggap pustakawan sebagai masa lalu yang harus dikubur bersama segala sejarah kelamnya. Paijo ingin memulai hal baru.

###

“Byur”, air tumpah di wajah Paijo, memaksanya bangun dari dipan kayu. Ternyata Paijem, istrinya sudah berupaya membangunkan sedari tadi. Karena tak ada respon, maka air segayung itu solusinya. “Katanya pustakawan itu penting, pembawa perubahan, tapi bangun tidur saja susah. Ndang mandi sana”, suara istri Paijo memecah pagi. Tanpa ba-bi-bu, Paijo nyaut handuk merah yang sudah bolong-bolong tak karuan, menuju kamar mandi. Adus kilat, karena waktu sudah siang. 

Selesai berpakaian, Paijo menuju ruang makan. Sial, tak ada makanan terhidang untuk sarapan pagi. “Berasse habis, Kang. Durung ada uang untuk nempur”, jelas istrinya tanpa ditanya. Sambil mrengut, Paijo menyiapkan perlengkapan kerjanya. Selain berpakaian dinas, dia juga membawa bekal kaos. Maklum, selain jadi pustakawan, dia juga nyambi resik-resik sekolah. Paijo kerja kontrak di sekolah swasta, kecil, yang tak mampu menggaji tenaga kebersihan. Melihat peluang itu, Paijo nyambi jadi tukang kebon, berharap gajinya bisa ditambah untuk bekal nempur setiap bulannya.

Paijo bergegas mengambil motor bututnya, dislah, lalu bersiap ngegas. Sebelum ngegas, dia teriak keras pada istrinya, “Bu, sekarang tak ada lagi pustakawan, adanya pustakaman”.  “Berasse habis, Kang!”, jawaban Paijem tidak nyambung.



Monday, 2 July 2018

PDF eXpress: agar PDF diterima di IEEE

PDF eXpress and PDF eXpress Plus, IEEE-financed author tools that assist IEEE conference organizers in obtaining IEEE Xplore®-compatible PDFs from their authors, are online. These tools are free to all conferences that are enrolled in the IEEE Conference Publications Program.

https://www.pdf-express.org/


Saturday, 30 June 2018

Jagongan

jagongane pithik
Jagongan, alias diskusi itu nyenengke, menggembirakan. Apalagi jika jagongannya bermutu. Ya, tentunya bermutu itu macam-macam definisinya. Tidak harus ikut definisi mahdzab tertentu. Membuat mahdzab "bermutu" yang baru, juga tidak mengapa. Membuat peserta jagongan senyum, serta mengendorkan urat yang kaku, juga bisa disebut bermutu, meski jagongannya cuma sepele. Ngomongke   telo gosong, disusul dengan tawa terbahak, karena saking lucunya muka akibat angus telo gosong, misalnya.

Demikian juga jagongannya pustakawan, khususnya tentang perpustakaan, perkembangan pustakawan, kepustakawanan. Baik dengan sesama pustakawan, dengan dosen (ilmu) perpustakaan, atau dengan siapapun yang berminat alias berkenan.

Nah, ada beberapa gaidlain, alias panduan para pustakawan dalam diskusi, menanggapi antar sesama atau dengan para ilmuwan perpustakaan.

Berdiskusi  dengan sesama pustakawan itu jelas, mau ngalor ngidul, ngetan ngulon, hasil akhirnya jelas.  Tanpa tedeng aling-aling sesama pustakawan akan mencari formula terbaik (atau bertanya balik pada lawan diskusi) dengan pertanyaan:  bagaimana contohnya. Ya, karena pustakawan berkepentingan belajar dari pustakawan lainnya dalam mengelola perpustakaan, atau menjalankan profesinya sebagai pustakawan. Berharap pustakawan lainnya telah melakukan apa yang diomongkan, atau paling tidak mau memberitahu langkah yang hendak dilakukannya.

Menanggapi diskusi dengan dosen (ilmu) perpustakaan itu pun jelas. Memang tidak serta merta dosen bisa memberi contoh, sebagai mana pustakawan. Namun, pada tingkatan intelektualitas di atas rata-rata yang dimiliki dosen (ilmu) perpustakaan, maka seorang pustakawan bisa bertanya: bagaimana sebaiknya?. Jawaban dosen (ilmu) perpustakaan tidak langsung contoh riil, karena mereka tidak (semuanya) turun langsung pada praktik kepustakawanan di perpustakaan.

Berikutnya, menanggapi diskusi dengan seorang pustakawan yang sekaligus dosen (ilmu) perpustakaan. Orang yang "nyambi" dengan dua peran ini cukup banyak. Bahkan, seorang pustakawan dengan bangganya mengatakan, "aku lagi ngajar". "Ngajar", merupakan istilah yang selama ini disematkan pada dosen. Pustakawan menyebut dirinya "ngajar", mungkin karena memang dia benar-benar ngajar, atau dia ingin masuk pada atmorfir "ngajar" yang selama ini dilakukan dosen. Untuk apa? Ya biar merasa dosen. Hehe. Berdiskusi dengan pustakawan yang sekaligus dosen (ilmu) perpustakaan itu kepenak banget. Asli, tenin. Karena sebagai pustakawan, kita bisa bertanya dua hal sekaligus: piye contone dan piye konsepe? (Bagaimana konsepnya, dan bagaiman contohnya)

Pustakawan yang nyambi ngajar ini memiliki pengalaman riil, dan juga konsepnya. Komplitlah.

Kemudian ketika berdiskusi dengan yang bukan pustakawan dan bukan dosen (ilmu) perpustakaan. Hal ini juga kepenak, atau paling tidak: jelas jluntrungnya. Pustakawan akan menempatkan lawan diskusi sebagai pemustaka yang perlu dilayani. Pada orang yang bukan berstatus pustakawan dan juga bukan dosen (ilmu) perpustakaan, seorang pustakawan bisa bertanya: mohon saran, dan apa yang bisa kami bantu?

Mohon saran, sebagai bentuk peghargaan pada sang pemustaka. Tentunya mereka perlu dilayani, atau memiliki saran (bahkan kritik) pada layanan di perpustakaan yang dikelola pustakawan. Sementara menawarkan bantuan melalui pertanyaan "apa yang bisa kami bantu", merupakan proses menjalankan substansi pustakawan pada pihak pemustaka.

Yang terakhir, rada susah menanggapinya, yaitu ketika bicara tentang perpustakaan atau kepustakawanan dengan orang yang ndak jelas statusnya, antara pustakawan atau dosen (ilmu) perpustakaan. Lah, simalakama. Contoh riil tak mendapatkan. Saran yang diberikan juga, ah, melangit. Dan susahnya lagi, saran yang melangit itu sendiri tidak dilakukannya. Mumet, tho?


###

Semua kawan diskusi harus dihargai. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bagaimanapun juga, belajar itu bisa dilakukan dari siapapun. "Setiap orang adalah guru", jarene begitu. Namun, sebagai pustakawan kudu bisa memetakan pihak-pihak di atas. Untuk apa? yang untuk menjaga diri, agar tepat dalam menanggapi. Yang paling penting lagi, untuk menjaga kese(t)imbangan pikiran. #halah.


Dekat  stasiun Gambir,  Aryaduta  kamar 703
30 Juni 2018, 05.56 pagi



Tuesday, 5 June 2018

Pengalaman dengan LaTeX (2)

LaTex, selain artinya terkait karet, dalam dunia ilmiah dikaitkan dengan alat untuk olah dokumen. LaTex, dibaca «Lah-tech» atau «Lay-tech», berfungsi sebagai alat untuk menulis ilmiah, seperti halnya Microsoft Word. Beberapa jurnal mensyaratkan paper ditulis menggunakan Latex jika hendak disubmit ke jurnal tersebut.

Penulisan menggunakan Latex memang agak berbeda dengan Ms. Word atau Libreoffice. Latex lebih mirip dengan Wordstar, sebuah aplikasi serupa sebelum Ms. Word. Penulis harus mendefisinisikan berbagai aturan yang dikehendaki pada baris-baris yang tersedia. Penulisan model inilah yang kadang menjadi momok penulis ketika menemukan jurnal yang mensyaratkan penggunaan Latex.


\documentclass{article}
\title{Cartesian closed categories and the price of eggs}
\author{Jane Doe}
\date{September 1994}
\begin{document}
   \maketitle
   Hello world!
\end{document}


Latex menerapkan filosofi What You See is What You Mean, atau apa yang kamu lihat merupakan apa yang kamu inginkan. Sementara Ms. Word menerapkan filosofi What You See is What You Get, apa yang kamu lihat merupakan apa yang akan kamu dapatkan.

Latex sendiri sebenarnya mesin, pemroses. Sementara antarmukanya bisa menggunakan banyak aplikasi. Miktex, Texwork, Texstudio merupakan beberapa contohnya. Selain itu, adapula LyX. Berbeda dengan 3 aplikasi pertama, LyX hampir mirip Ms. Word. 


###
http://ijns.jalaxy.com.tw/contents/ijns-v20-n5/ijns-2018-v20-n5-p836-843.pdf

Untuk memenuhi syarat paper menggunakan Latex, tidak harus menulis langsung di Latex. Namun bisa ditulis dahulu di aplikasi pengolah kata (Ms. Word, LibreOffice dll) kemudian dipindahkan. Namun demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dan tentunya disesuaikan dengan guide for author. Baca baik-baik guide for author di jurnal. 

Berikut ini kesalahan sepele yang pernah saya lakukan, sehingga manuskrip dikembalikan beberapa kali.
  1. penulisan judul UPPERCASE ke Capitalize Every Word
  2. penulisan kata kunci urut abjad dan diawali huruf besar
  3. penulisan section UPPERCASE ke  Capitalize Every Word
  4. penulisan nama gambar Sentences style
  5. jenis file gambar
  6. serta yang cukup menyita waktu bagi penulis adalah menyesuaikan format .bib. Sangat mungkin jurnal tidak menerima format bib default hasil eksport dari Mendeley/Zotero.

###

Bagi teman-teman yang hendak belajar Latex, bisa menggunakan Latex online, misalnya overleaf. 

Real men use LaTeX

Monday, 4 June 2018

Kontribusi CSL (citation style) di database Citation Style

Ketika membuat kutipan dan daftar pustaka di Mendeley atau Zotero, kita bisa menemukan style yang tersedia dan kita tinggal menggunakan.

Namun, ada kalanya tidak ada yang sesuai dengan aturan di kampus kita. Bagaimana solusinya?

Solusi pertama membuat style sendiri. CSL menggunakan XML, cukup mudah dipelajari. Solusi kedua dengan modifikasi style yang sudah ada.

Saran saya, jika menemukan style bibliografi tertentu, cari yang paling mirip. Pencarian bisa dilakukan di http://zotero.org/styles atau http://editor.citationstyles.org/about/. Setelah ketemu, editlah. Di citationstyles ada dua mode edit: code atau visual.

Sementara di Zotero editing dapat dilakukan pada aplikasi Zotero.



Nah, bagaimana agar style hasil modifikasi atau buatan sendiri tersebut bisa terlihat di database Mendeley atau Zotero?

Coba ikuti tautan ini https://github.com/. Laman ini berjudul Guide to Submitting CSL Styles (and CSL Locales). Pada laman ini ada dua pedoman untuk berkontribusi: submit new style dan Submitting changes to an existing style.

Saturday, 2 June 2018

Panen jagung

Wingi esuk, aku bali. Sak bubare upacara dina lahire Pancasila, numpak montor. Nang kampungku: Ngliparkidul, nGunungkidul, Ngayogyakarta
Tekan ngomah, mergo dino Jemuah, yo ndang Jemuahan disik ono mesjid dusun. Alhamdulillah, iso ngrasakke maneh Jemuahan nang ndusun.

##

Sore kui, antarane jam 13, Bapak ngendiko "Yen pengen jagung, sajake ing tegalan wewengkon Kreteg isih ana sik enak dibakar utowo digodog". Hora kakean pretengseng, aku banjur nang tegalan, karo bojoku. Tegalan kui antarane rong kilo adohe soko ngomah. Jaman samono, jaman isih nang kampung, yen nang tegalan kui mlaku, menyang mulih. Keporo yen mulih kudu nyunggi pakan kolonjono utowo godong-godongan liyane. Paling ora sebongkok.
Pakan kui kanggo sapi lan wedhus sing ana kandhang. Kewan kang dadi kelangenane simbah. Konco urip seprono-seprene. Ugo celengan yen pas butuh duwit. Utowo dinggo lawuh yen lagi ana gawe, ewuh. Mantu, sunatan, utowo liyane.
Yen mulih soko tegalan, kading kolo mampir nang nggone simbah, nggone Lek Marsudi Rubas utowo Lek Eswanto ing wewengkon Sumberjo lan Mengger. Kepeneran omahe tak liwati yen menyang tegalan. Leren ngombe wedhang. Kerep ugo dikon madhiang barang. Kading kolo yo liwat sandinge Kang Santoso Aqil, konco sekolah naliko SD.

##

Sore kui aku numpak montor, ora wani mlaku. Tekan tegalan, katon nyenengke temenan. Jane wis ora ijo banget, mergane wis meh ketigo. Nanging jagung ing tegalan isih katon ijo. Nyenengke tenan pokoke. 
Sak liyane jagung, uga ana telo, lan suket kolonjono. Suket kolonjono dinggo pakan sapi koyo sik tak kandhake mau. Nanging, mergo Bapak wus ora ngingu sapi utowo wedhus, kolonjonone wus ora akeh. 
Malah, ono ing salah sawijine galengan, ditanduri wit sengon. Ngendikane Bapak, cepet panene. 
Yen tindhak tegalan iki, Bapak isih mlaku, mlampah. Nadyan adoh, tetep wae Bapak hora gelem numpak motor. Yo, pancen bapak hora biso numpak motor, tur ya hora ana motor nang ngomah.
Bapak kui, soko biyen, naliko kerjo yo gur mlaku, saben ndino. Nang tegalan yo mlaku. Malah yen pas panen, trus ngundang truk cilik kanggo ngusung panenan, Bapak trimo mlaku hora melu truk. 
Ono cerito nrenyuhke babagan Bapak. Pas panen dele, bapak menyang tegalan. Sorene simbah nyusul. Simbah kaget, kok dele sak kedok wis entek. Tibake, kabeh wis dibedoli Bapak, trus dipikul dewe. Bayangke ndah abote.

###


Tegalan iki dadi lumantar rejekine sing nggarap, lan ugo kewan kelangenane.

Tuesday, 22 May 2018

MEMBACA

Inti pustakawan itu baca, baca, dan baca.

Seorang kawan bilang ke saya, “untuk perpustakaan, cukup D3 saja”. Ini disampaikan sudah bertahun lalu. Jelas Saya kaget. Jangan salah, ketika mengatakan ini, dia juga seorang pustakawan secara de facto. Karena pandangan inilah, akhirnya dia mengambil S1 bukan (ilmu) perpustakaan, demikian pula S2nya. 

Jangan keliru pula, meski demikian, dia pustakawan handal. Dia bisa menjadi teman diskusi mahasiswa dalam proses penelitian dan kuliahnya. Pengetahuannya tentang pustaka yang dia kelola, mumpuni. Tidak sekedar buku A ada di mana, buku B sedang dipinjam siapa. Tapi isinya, bobot isinya. Dia bisa menghidupkan buku yang mati itu, menjadi bergerak dan menelusup, tercerap.

Dia bukan juru kunci makam yang hanya menunjukkan: itu makam si A, si B. Tapi siapa dan bagaimana pemikiran si A yang dimakamkan di situ. Bagi saya, sulit mencari pustakawan yang bisa begitu.

Mungkin perpustakaanya secara fisik kurang bagus. Tapi dia melakukan proses utama pustakawan secara konsisten: MEMBACA.

Membaca adalah aktivitas utama dari seorang pustakawan. Dia tetap harus menempel pada tiap pustakawan. Jika pustakawan sudah tercerabut dari proses membaca, maka tidak mengherankan jika masyarakatnya pun juga demikian. Seburuk-buruknya sebuah perpustakaan, jika pustakawannya mau MEMBACA, maka perpustakaan tetap akan ada.

Akhirnya kawan saya tadi shifting. Dia menjadi dosen. Tentusaja, karena dia MEMBACA.

Jadi, kalau mau jadi pustakawan itu cukup D3 saja. Selebihnya MEMBACA. Bagian 20% kuliah, 80% baca buku. O, maaf. Sesungguhnya semua manusia itu pustakawan, ding. Apapun tingkat pendidikannya. Bahkan, kursus pun bisa jadi pustakawan plat merah, kok.





Sambisari, akhir Ruwah 1951 Dal
Pagi hari

Thursday, 10 May 2018

Iki sasi ruwah, nuli sasi poso

Genduren. Sumber: Yanthi (WAG Ngliparkidul)
Ruwah iku sasi kang nomer wolu. Sak durunge pasa, lan sak wise rejeb. Yen cara arab, pada karo Sya'ban.

Ruwah, kabare  saka tembung "arwah". Mboh bener apa ora. Nanging, saka tembung "arwah" kui, bisa digoleki tegese.

Arwah kui artine "roh". Roh e para leluhur. Kurang luwihe mengkono. Ing sasi ruwah, kanggo nyadang sasi pasa, dianakke pisowanan marang makam leluhur. Ngresiki makam, lan ugo ndedonga. Ndongakake leluhur. Muga-muga oleh dalan padhang. Oleh panggonan kang jembar. Diwales pangabektine marang Gusti, lan dingapuro kabeh dosane.

Kanggo sik ndedongo, dikarepake njaluk ngapuro marang Gusti. Supaya ngancik pasa, wis suci.

Sederhana, utowo sepele dongane. Nanging ngemu teges kang dhuwur maknane.

Ing sasi ruwah, ana uga genduren. Para kadang, konco, tangga, nyangking berkat. Isine sego sak giling (plenak), peyek, gudangan, srondeng. Kading kala ya nganggo krupuk. Oiyo, ana apem barang. Kabeh mau digowo menyang daleme pak Modin. Utawa menyang mesjid, apa neng sarean. Yen ana Ngliparkidul (yoiku asal asliku), di gowo menyang daleme mbah Kaum.  Kaum banjur mimpin donga.

Ana donga kang nganggo basa Arab, ugo basa Jowo. Yo, sajake, kaya kandhane para winasis, Islam teko marang Jawa kanthi mbaur marang kabudayan lokal.

"Ibu bumi bopo angkoso. Ibu Hawa, Nabi Adam. Ingkang dipun memetri, dipun uri-uri...", lan sakpiturute. Ana uga kalimat kang njlentrehake maknane berkat kang digowo. Koyo dene apem. "Ingkang sak lajengipun APEM. Mugi-mugi kito sedaya tansah pinaringan kekiyatan pikiran kang utuh, bunder kados bundere apem, nggih.....". Biasane poro warga njawab, "nggih".

"Ingkang sak lajengipun gudangan. Mugi-mugi kito sedoyo tansah saget gesang wonten ing ngalam ndonya bebarengan kaliyan tiyang sanes, biyantu-ambiyantu, kados dene godong lan janganan ingin gudangan meniki, nggih..."

"Ingkang saklajengipun jenang BARO-BARO....". Aku wis rodo lali klimahe mbah Kaum.

Sedulur....

Kabeh mau ono sik ngarani Nyadran. Ono ugo sing nyebut Ruwahan. Gumantung soko daerahe. Yen ono Gunungkidul, khususe Nglipar, do nyebut Ruwahan.

Apem: sumber Lina (WAG SMK 1)

###

Poro konco...  ing sasi ruwah ono tembang kang misuwur. Kondang. Tembange koyo ing ngisor iki. Mbok menowo, poro konco nate nembang, utowo paling ora nate krungu.

Iki sasi Ruwah, nuli sasi poso 
Kuwajiban kito kudu poso 
Sesasi lawase ora mangan ngombe 
Esuk tekan sore sakrampunge 
Yen wis rampung poso sembahyang rioyo 
Podho suko-suko suko samyo 
Lan halal bi halal marang wong tuwane 
Ugo marang konco lan kancane
Ing pungkasan, sugeng nindhake poso. Mugo-mugo iso sewulan natas. Rampung, sampurno, lan bisa nemoni rioyo. Sik temenan le poso. Kabeh ora ngerti, kapan bakal tekaning pati.

Nuwun

Monday, 7 May 2018

Ikhtiar merawat tradisi

Purwo.co - Beberapa laki-laki bersarung beriringan datang. Tangannya menenteng buku kecil yang sudah lusuh. Lusuh, pertanda buku itu sering dibuka. Si empunya rumah, serta beberapa keluarga menyambut dan mempersilakan menempati tempat duduk yang telah disediakan.

Tak perlu lama, ruang utama rumah itu penuh. Laki-laki paruh baya, beberapa berseragam hijau, berpeci. Sebagian mereka bewajah keriput termakan usia. Beberapa anak muda usia menyusul kedatangan. Duduk di tikar yang disediakan di luar rumah. Cahaya lampu dan rembulan menjadikan suasana malam itu begitu semarak. Beberapa simbah-simbah putri juga datang. Menempati lantai di teras, bersama beberapa keluarga si empunya rumah.

Sejurus kemudian, segelas teh panas lengkap dengan kacang goreng dan roti lapis terhidang. Anak-anak muda tadi yang menyuguhkan. Si Empunya rumah mempersilakan, maka segelas teh dan roti potong itu bergantian diemplok.

Rumah tempat berkumpul itu merupakan rumah tinggalan mbah Kakung dari istri saya. Simbah meninggal kurleb 3 tahun lalu. Malam itu diadakan tahlil, untuk berdoa bersama-sama.
Anak dan cucu, bahkan buyut berkumpul.

###

Pak Modin, lelaki tua berpeci hitam membuka acara. Lantunan surat Yasiin mengalun dari bibir masing-masing hadirin. Meski mungkin ada yang hafal, namun setiap orang dibekali dengan satu buku panduan Yasiin dan Tahlil. Tentu untuk dibaca. Mungkin ada yang membaca teks Qurannya, atau mungkin juga membaca teks latinnya.

Di halaman, saya bergabung dengan beberapa tamu. Ikut membaca Yasiin. Saya tidak hafal, maka saya benar-benar membaca. Ya, agak beda dengan yang hafal atau semi-hafal. Tentu dia bisa lebih cepat menyelesaikan. Saya tertinggal, 83 ayat itu selesai beberapa saat setelah yang lain selesai.

Anak-anak kecil tampak berlarian, rukun bermain bersama. Mereka, merupakan para cucu dan buyut dari mbah Kakung. Seolah ingin menunjukkan bahwa mereka hadir. Mereka rindu pada simbah mereka, yang mungkin belum pernah mereka lihat. Mereka ikut mendoakan dengan caranya masing-masing. Dengan bermain, berlarian, berteriak atau menjerit cari perhatian, atau terkadang menangis minta susu.

Kebersamaan dan tingkah lucu mereka menambah suasana guyub malam itu. Meski kadang, orang tua harus berkali-kali mengingatkan agar tidak sampai mengganggu tamu. Atau jangan sampai nyampar gelas di hadapan tamu.

###

Selesai Yasiin, disambung tahlil. Saat pelantunan kalimat syahadat, “laa illa ha illallah”… saya mendengar ada yang unik. Ada suara yang berbeda dengan syahadat ikut terlantun. Nyempil, berbeda. Saya pernah mendengarnya. Saya pastikan bahwa suara itu memang benar-benar dari salah satu yang hadir di malam itu. Bukan dari tempat lain.

Benar. Alunan sholawat jawi pasti dilantunkan Pak Modin bersamaan dengan para tamu melafalkan syahadat. Baru kali ini saya menemukan model tahlil seperti ini. Ingin lebih jelas, saya berpindah ke teras. Setelah sholawat jawi pertama, masih ada yang kedua. Liriknya semacam ilir-ilir, namun syairnya diubah.

Saya mendongak ke bagian dalam, ke ruang utama rumah. Berharap menemukan sosok Pak Modin yang melantunkan sholawat tadi. Nihil. Niat saya merekam juga saya pendam. Takut dianggap tidak sopan. Saya perhatikan sekeliling. Tampak para tamu khusu’ melantunkan dan mendengarkan.

Bagi orang yang mengerti bahasa Jawa, lantunan bahasa jawa yang bewujud kalimat macapat atau sholawat memiliki daya magis. Suara berat, kadang serak dan "tua" yang keluar dari lisan Pak Modin menambah kekuatan magisnya. Pesan kebaikan yang ingin disampaikan diharap lebih mudah mengena. Agaknya memang demikian para wali dahulu bertujuan. Menyusun berbagai wewarah, wejangan, petunjuk kebaikan dalam bentuk tembang.

Di acara tahlil, yang dihadiri banyak orang, diharapkan pesan tadi akan berefek massal. Selain itu, tembang digunakan pula ketika ngudang anak. Ketika menjelang tidur atau waktu lainnya.

Syair pertama kurang lebih seperti ini:
Astaghfirullahal adhim
Inallaha ghafururrohim..
Gusti Allah kulo nyuwun ngapuro
Gusti Allah kulo nyuwun ngapuro
Sekathaing dosa kulo
Dosa agung kelawan ingkang alit
Boten wonten ingkang saget ngapuro
Boten wonten ingkang saget ngapuro
Sanesipun Kang Moho Agung
Kang Ngratuni sakabehing poro ratu
Kang kagungan sifat rohman
Kang kagungan sifat rokhim
Iyo iku Allah asmane
Iyo iku Gusti Allah asmane
Astaghfirullahal adhim
Inallaha ghafururrohim..

####

Selesai acara, di halaman, saya sempatkan ngobrol dengan warga tempatan. Tentang apa yang saya dengar tadi. Saya tak bisa menemui Pak Modin. Mereka bergegas pulang, karena ada acara perkumpulan sholawatan di lain tempat. Saya pun tak bisa mengonfirmasi teks lirik kedua. Dari warga saya peroleh info bahwa mereka memiliki kelompok sholawat, Laras Madyo namanya.

“Biasanya mboten ngangge senggakan, Mas. Niki kok kadingaren”, demikian katanya. Sholawat yang disisipkan pada tahlil tadi disebut senggakan. Warga lain yang baru datang menimpali, “niki wau ngangge senggakan, tho?. Kok tumben”.

Saya sampaikan apresiasi. Menarik, dan saya ingin dapatkan syairnya. Peminat shalawat jawa diakui memang menurun. Tersisa orang tua saja. “Sik enem sakniki senengan oa-oe, Mas”, lanjut warga yang saya ajak ngobrol. “Oa-oe” merupakan teriakan pada pertunjukan dangdut. Singkat kata, dia ingin mengatakan bahwa anak muda sekarang lebih senang nDangdutan yang penuh hingar bingar, dan miskin dari syair-syair petuah.

Ini memang tantangan. Ikhtiar mempertahankan tradisi yang baik, dan tetap mencari yang lebih baik, harus terus dilakukan. Tradisi baik itu identitas. Dia akan membedakan dengan bangsa atau masyarakat lainnya. Tentunya tidak kemudian digunakan sebagai bahan fanatisme, namun digunakan sebagai penciri dalam berinteraksi dengan masyarakat lainnya.

Sambisari,
6 Mei 2018 - 16:29 sore

Sunday, 29 April 2018

[[ Tidak manusiawi ]]

“Perpustakaan di sini tidak manusiawi, Mas”. Demikian seorang mahasiswa yang sedang studi ganda di universitas negara maju melaporkan pada Karyo. Karyo penasaran. Ada apa gerangan?
“Di sini semuanya mesin, Mas. Interaksi dengan pustakawan minim”. Dia melanjutkan ceritanya. Ketika meminta bantuan mendapatkan master aplikasi legal, hanya melalui lembaran kertas yang sudah disediakan, diisi, dikumpulkan dan diproses.
Benarkah teknologi membuat hubungan dengan pustakawan menjadi tidak manusiawi? Apakah manusiawi itu?
###
Karyo ingat, dia pernah membaca bukunya Pak Iman Budi, “Profesi Wong Cilik”. Salah satunya cerita tentang sosok dukun bayi. Dukun bayi pekerjaannya tidak selesai setelah bayi melahirkan. Namun dia akan selalu datang pada malam-malam berikutnya. Ikut mengasuh, bahkan memberi nama. Tentu saja, sambil ngudang, dia akan melantunkan doa-doa untuk si jabang bayi.
###
Saat ini, marak penggunaan mesin pinjam mandiri di perpustakaan. Seolah, dia jadi identitas maju tidaknya sebuah perpustakaan. Si pemustaka tinggal mencari, mengambil, meminjam sendiri, pulang. Selesai. Padahal, seperti halnya dukun bayi, ada hal yang hilang: hubungan antara pustakawan dan pemustaka.
“Ini ndak (selalu) bener”, gumam Karyo. Pemustaka perlu doa, bahkan wejangan agar proses membaca buku yang dia pinjam menjadi bermakna dan bermanfaat. Apa mesin bisa mendoakan? “Pustakawan juga perlu mendoakan pemustaka pada tiap buku yang dia pinjam”, lanjut Karyo. Pustakatakawan perlu mendoakan untuk dia mendapat keberkahan pula. Ada dua kepentingan interaksi pada proses meminjam buku.
Agaknya, bagi Karyo, proses interaksi antara pustakawan dan pemustaka menjadi sangat penting. Dalam proses peminjaman, bisa dibangun proses saling mendoakan. Mahasiswa perlu doa, pangajab, pangarep-arep, dari banyak orang. Agar dia sukses dalam belajar. Sejak saat itulah, Karyo tidak begitu tertarik dengan mesin-mesin tak bernyawa itu. Atau tepatnya, dia sangat selektif. Milih-milih.


Sambisari, 25 April 2018
5.57 pagi

[[ siapa pustakawan sesungguhnya? ]]

“Maksimal jam 18.00, Pak,” Bayu mengirim pesan. Belum genap sebulan kami saling kenal. Kami pun akrab. Bahkan, kami kerjasama dalam berkegiatan di perpustakaan.

Dia mengundang saya untuk hadir di acara pekanan bedah buku. Judul acaranya "Jelajah pustaka". Mendiskusikan buku, bergantian tiap pekan. Diadakan di perpustakaan masjid. Bayu aktif di perpustakaan masjid.

Sore itu ada undangan pula dari fakultas, pukul 18.30. Sambil menunggu acara di fakultas, saya putuskan memenuhi undangan Bayu. Pukul 16.00, saya berkemas kemudian menuju lokasi.

###

Lokasi perpustakaan tidak jauh dari saya bekerja. Ya, sak plintengan, kata orang jawa. Ah tidak. Kurang lebih dua kali, rong plintengan. Plinteng itu ketapel. Ada juga istilah sak ududan. Udud itu rokok. Karena tidak merokok, saya milih sak plintengan saja. Saya tempuh naik sepeda motor, tidak sampai 4 menit, sampai.


Perpustakaan berukuran 3 x 8 meter itu telah penuh peserta. Wajah mahasiswa usia 20-an tahun memenuhi ruangan. Agaknya saya paling tua. Saya harus tahu diri. Sebelah barat diisi mahasiswi, sebelah timur mahasiswa. Sebuah kain terbentang sebagai batas. Perpustakaan Bait al Hikmah, demikian tertulis di spanduk. Diskusi telah dimulai. Saya ambil posisi duduk.

Ruang perpustakaan itu jauh dari kesan mewah atau modern. Namun deretan buku berlabel itu menunjukkan bahwa perpustakaan ini dikelola. Saya tak yakin mereka menerapkan teori klasifikasi dan label ala ilmu perpustakaan secara ketat. Saya lihat kertas besar bertuliskan keterangan kelompok buku. “Biografi”, “Sejarah”, “Fikih” dan lainnya. Mungkin teori labelling itu tak begitu penting, yang penting buku mudah ditemukan. Setidaknya seperti itu dulu dosen (ilmu) perpustakaan mengajarkan “ruh” klasifikasi.

Buku Lost Islamic History, karya Faras Alkhateeb dibahas sore itu.


Seorang laki-laki, umur kurang dari 40 tahun duduk paling depan. Menghadap peserta. Di hadapannya ada beberapa buku. Agaknya sudah beberapa menit lalu dia memaparkan isi buku Faras tersebut. Saya terlambat.

Pemantik bukan hanya menyampaikan isi buku, namun dengan piawai juga membandingkan isi buku dengan buku lain sejenis. Pandangan yang luas menjadi kunci. Terkadang memegang buku yang satu, membalik halaman. Meraih buku lainnya, dan menunjukkan halaman tertentu. Pastinya harus banyak baca buku.

Selesai memberi syarah. Masuk ke sesi tanya-jawab. Peserta bergantian angkat tangan tanda hendak berbicara. Mengonfirmasi isi buku, atau bertanya pada pemantik. Berharap pemantik memberi pandangan atau jawaban.


Pensyarah/pemapar/pemberi informasi kandungan buku yang dibahas sore itu, membuat diri saya ciut. Harusnya saya, yang pustakawan yang harus melakukan hal tersebut. Namun, saya tak mampu. 
Namanya Yusuf Maulana. Oleh peserta akrab disapa Ustadz Yusuf. Sore itu, bukan kali pertama dia datang dan menjadi pensyarah buku di Baitul al Hikmah. Melainkan sudah berkali-kali.

Saya menduga, pasti dia banyak membaca. 


***

Saya tidak hendak menggaris bawahi tentang buku di atas. Saya belum membaca, bahkan tidak menguasainya. Namun yang ingin saya tekankan adalah semangat mahasiswa dalam menghidupkan perpustakaan. Padahal mereka bukan pustakawan, atau setidaknya bukan alumni (ilmu) perpustakaan.

Menakjubkan.  Mahasiswa duduk bersila. Haus ilmu, menghadap dan fokus. Mencerap, mengendapkan, dan kalau perlu menanggapi apa yang disampaikan pembedah. Menimang satu buku yang selesai dibaca. Mencari buku pembanding lainnya, untuk menjawab kekosongan pada buku pertama. Kemudian menimbang kualitas keduanya.

Begitu seterusnya. Adzan Magrib menjadi pembatasnya.

"Pekan depan datang lagi, Pak", kata salah satu peserta. Ternyata beberapa peserta sore itu banyak dari FT UGM. Kami bersalaman. Perasaan bangga, harus, campur sedikit malu jadi satu.

"Siap, semoga diberi umur panjang dan kesempatan", jawab saya.

***

Sore itu saya berfikir, dan juga bertanya-tanya. Siapa pustakawan sesungguhnya? Tanpa panjang fikir, saya langsung menyimpulkan. Mahasiswa yang mengelola perpustakaan di atas, juga pustakawan. Apalagi yang duduk dan memaparkan isi buku. Tidak diragukan lagi. Karena sesungguhnya setiap manusia adalah pustakawan bagi dirinya sendiri. 


Jika pertanyaannya dibalik, "Siapa sesungguhnya pustakawan?", apa kira-kira jawabnya?

[[ tidak ada tafsir tunggal dalam (ilmu) perpustakaan ]]

Sekarang, perpustakaan tak lagi dianggap ilmu. Tengok saja nomenklatur dari penguasa tertinggi, yang akhirnya diamini oleh para penyelenggara pendidikannya. Perpustakaan dan Sains Informasi. Demikian namanya. Debat panjang nan melelahkan, adu intelektual, dan semacamnya itu tidak berdaya. Ah, lupa saya: paling tidak sudah menunjukkan siapa ada di posisi mana. Kuasa tetaplah kuasa. Tinggal menunggu waktu saja. Sekarang masih malu-malu. Seiring waktu, semua akan menggunakan nama dari penguasa.
Istirahat dalam damai....ilmu perpustakaan.
###

Konsep pengelolaan perpustakaan itu tidak tunggal. Multi tafsir. Setiap pustakawan boleh berijtihad menurut kondisinya masing-masing. Bisa beda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Tidak bisa dirampatkan.
Mulai dari yang paling jamak terlihat: klasifikasi koleksi. Boleh beda! antara satu pustakawan dengan pustakawan lainnya. Tidak ada dosa. Klasifikasi itu bukan kitab suci. Kalau toh ditarik ke benar-salah, maka: jika kode klas itu salah, si pustakawan mendapat 1 pahala. Jika benar, maka dapat 2 pahala. Demikian pula konsep lainnya.

###

Saat ini, ada berbagai konsep dalam pengembangan perpustakaan dan peran pustakawan: ada makerspace, scholarly communication librarian, embedded librarian, research librarian dan sebangsanya. Konsep itu bisa diambil, ditafsirkan, diturunkan pada ranah nyata di masing-masing perpustakaan. Pustakawan boleh berijtihad sendiri. Mengukur kemampuannya, kondisi sosial politik institusinya. Mulai dari membaca, bertanya pada orang lain, atau atas perenungan dirinya sendiri. Sah. Pustakawan lain tidak ada hak untuk menyalahkan. Paling banter memberi saran. 
Studi banding ke perpustakaan lain, baik virtual maupun nyata, diperlukan sebagai perluasan pandangan si pustakawan. Untuk modal menakar, menafsir dan berijtihad. Bukan untuk secara mentah dicontoh. Tidak.
Pustakawan mestinya merdeka. Jangan terkungkung, apalagi oleh kuasa (ilmuwan) perpustakaan. Ilmuwan perpustakaan itu tidak ada. 
Anda boleh tidak setuju dengan tulisan ini... karena memang demikianlah adanya: tidak ada tafsir tunggal dalam (ilmu) perpustakaan.
bersambung…

Monday, 26 March 2018

Mufasir kepustakawanan (beradu tafsir)

Resmi, namun berselimut kontroversi. Pilihan "perpustakaan dan sains informasi" telah mengoyak tafsir para pemikir bidang ini (atau sejak lama telah terkoyak?). Hilangnya kata ilmu, dan munculnya kata sains bukan perkara sepele. Ada yang sepakat, ada yang tidak sepakat. Ada yang mengemukakan alasan sangat filosofis, ada yang mungkin alasannya sangat pragmatis.

Keduanya tidak salah... Bahkan, yang tak peduli tentang filosofis dan pragmatisnya perdebatan itu pun, tidak bersalah. Karena sepiring nasi untuk makan esok hari, lebih layak diperjuangkan. Layak diberi perhatian.

***

Akhirnya, beberapa diantara mereka dipertemukan. Tentunya orang pilihan. Agar bertemu muka. Dibuatlah panggung untuk berkhotbah sesuai mahzab yang mereka anut. Mereka, ibarat mufasir, sedang menafsirkan "ayat-ayat" kepustakawanan. Ummat duduk khidmat mendengarkan. Judul panggung itu "memetakan perkembangan ilmu informasi dan perpustakaan di Indonesia".

Kenduri intelektual ini penting. Yang akan menorehkan sejarah perkembangan ilmu, untuk masa-masa yang akan datang. Ini titik awal masa depan. Yang datang akan mengenang. Ada prestise, ada kebanggaan. Jabat tangan, say hello pada kolega. Menyatu dalam atmosfir intelektual. Ketika pulang, selembar SPPD menjadi tanda keberhasilan. Mungkin lengkap dengan sertifikat. Foto-foto? itu pasti.

Bukti kehadiran berupa foto menjadi hal wajib 'ain. Bukan muakad, apalagi sunah. Foto itu akan bercerita, bagaimana kontribusinya pada kenduri inteltktual tersebut. Ya, meski hanya duduk, manggut-manggut, sambil menyeruput air mineral yang tinggal setengah.

Yang bicara, akan dikenang. Namanya dicatat pada lembaran notulensi: menjadi pemateri, atau si penanya. Atau, sekedar menggaris bawahi yang dianggap penting. Paling tidak sudah ambil kesempatan. Tampil di panggung kenduri ini sangat penting. Ini tentang eksistensi.

Yang tidak datang akan terbalut penyesalan....

Karena ini kenduri besar, banyak yang terpikat hadir. Pustakawan, mahasiswa, dosen, tamu undangan. Mereka rela datang dari segenap penjuru. Selembar ijin pimpinan menjadi jaminan. Menembus macet dan panasnya siang, tetap dilakukan.

Hasrat intelektual menjadi segala-galanya.

Namun kapasitas ruang menjadi penghalang. Banyak yang kecele, karena pintu pendaftaran telah tertutup. Kursi tak berbanding lurus dengan jumlah orang yang dahaga, ingin ikut meneguk ilmu. Langung dari belanganya. Atau, cukup rela, meski hanya mampu menjilati tetesan yang jatuh, dijatuhkan, atau tak sengaja jatuh karena bocor bungkusnya.

Begitulah dahsyatnya kenduri ini. Akhirnya, jalur live streaming disiapkan.

***

Mufasir kepustakawanan itu, tak diragukan kapasitasnya. Mereka tahu sanad, rangkaian sejarah keilmuan yang konon, kabarnya telah berlangsung ratusan atau bahkan ribuan tahun. Metode tafsirnya pun sudah terpercaya. Maklum, mereka menyandang pangkat tertinggi dalam pendidikannya. Paripurna. Syarat mufasir mereka punya. Sekarang, di tengah owah dan gingsirnya kepustakawanan di Indonesia, tafsir mereka sungguh-sungguh dinantikan.

Tentunya tafsir-tafsir yang mencerahkan. Yang tidak mbulet. Tafsir yang memetakan. Tafsir yang penuh makna. Bukan tafsir kosong, bukan pesanan. Tafsir yang kontekstual, bukan tafsir import. Tafsir yang aplikable. Tafsir yang adem. Tafsir yang tidak mahal. Tafsir yang mudah dan murah dalam pengamalannya. Tafsir syumuliah.

Tafsir kepustakawanan yang mengindonesia?, Ya.
Bukan menginggris, bukan mengamerika, bukan mengarab. Bahkan, bukan yang memutu, menyulis, atau mengida. Bukan tafsir yang masturbatif.

Hingga, pada akhirnya dengan tafsir itu pustakawan mudah berijtihad. Ijtihad untuk perpustakaannya. Agar tafsir dapat turun dan membawa berkah. Mereka menurunkan tafsir, agar menjawa, menyunda. Meng-ugm, meng-uin. Menyiswa atau memahasiswa. Jangan lupa, meng-orang, memanusia.

***

Ini tulisan dari tiga begawan, ilmuwan Ilmu Perpustakaan dan Sains Informasi (Ilmu dan Sains ikut ditulis, biar adil), yang beberapa waktu lalu adu intelektual di UIN Sunan Kalijaga.
Dibaca, dicerap, direnungkan, ditimbang-timbang bobot bebetnya.
Namun, jangan lupa. Bagi para pustakawan, Senin besok tetap masuk kerja, ya. Jangan terlambat, jangan telat. Tanggungjawab besar ada di perpustakaan. Bersama buku-buku, bersama mahasiswa. Bersama para siswa. Bergembira bersama mereka.