Sunday, 10 November 2019

[[ Kemaruk ]]

Sedang pada masanya, lowongan CPNS dibuka di berbagai institusi. Berbagai formasi, dengan berbagai syarat dan ketentuan masing-masing.

Termasuk di antaranya lowongan kerja di Perpustakaan. Ada yang menggelitik, dan itulah yang sedang diobrolkan Paijo dan Karyo.

***

“Kang, ini masa buka-an PNS,” Paijo membuka diskusi. Mereka berdua nonton sepak bola. Lewat TV 14 inc model tabung, pertandingan antara Indonesia melawan Timor Leste sore itu, jadi hiburan sambil menunggu teman-temannya di pos ronda. Ada sepiring kacang goreng, lengkap dengan racikan kopi pahit.

“Iya, Jo. Kenapa?” Karyo menyahut sambil terus mengikuti laju bola yang jadikan rebutan.

“Kemarin, ada yang mau ngirim surat ke institusi pembuka lowongan, Kang. Mau protes, atau halusnya mengoreksi. Katanya sih ada kekeliruan,” Paijo menjawab. Tangannya meraih kacang goreng dengan tanpa melihat piring. Memasukkan kacang ke mulut, lalu mengunyahnya. Sementara matanya tetap fokus pada tv. Mengamati proses rebutan bola antara 2 kesebelasan.

Dua sahabat ini memang luar biasa. Multitasking. Bisa melakukan beberapa hal dalam satu waktu. Mengambil kemudian mengunyah makanan, fokus nonton bola, ngomong sambil mikir dan diskusi.

“Harus dingatkan,” katanya begitu, Kang.

“Memangnya kenapa, Jo?”. Karyo berusaha mendalami informasi dari Paijo. Tentu, Karyo yang arif dan bijaksana itu, ingin tahu lebih dalam dahulu sebelum komentar.

“Lowongan itu kan untuk posisi pekerjaan di perpustakaan, sebagai pengelola bahan pustaka. Tapi syarat pendidikannya justru dari lulusan komputer, Kang. Nah, itukan mengambil hak alumni ilmu perpustakaan. Mau diingatkan bahwa sebagai pengelola bahan pustaka, harusnya ya lulusan ilmu perpustakaan,” terang Paijo.

“Memang lulusan ilmu perpustakaan mampu, Jo?” karyo bertanya singkat.

“Woooo. Pertanyaanmu itu menyepelekan alumni ilmu perpustakaan, Kang. Hati-hati, bisa bikin marah para dosen ilmu perpustakaan yang sudah nggula wenthah mereka, lho!”. Paijo setengah naik pitam, namun tetap fokus pada bola yang ditendang kesana dan kemari.

“Lho. Aku kan cuma tanya, Jo,” Karyo menegaskan.

“Ya, jelas mampu tho, Kang. Atau paling tidak, pasti di antara sekian lulusan ilmu perpustakaan itu ada yang mampu. Makanya dilakukan seleksi,” Paijo melanjutkan.

“Tapi begini, Kang. Ada yang mengganjal pikiranku,” Paijo buru-buru meraih gelas berisi kopi, lalu menyeruputnya. Tampak wajah Paijo menyiratkan ada kenikmatan tiada tara, ketika air kopi itu masuk mulutnya, kerongkongan, kemudian masuk dalam perut bertemu dengan kacang goreng. Percampuran kandungan kopi dan kacang goreng membuat matanya merem melek.

“Saya belum nemu dosen ilmu perpustakaan, pustakawan, atau organisasi profesi pustakawan yang protes jika yang terjadi adalah sebaliknya,” Paijo bertutur.

“Maksudmu?”, Karyo bertanya.

Lowongan dan syarat pendidikannya #1

Lowongan dan syarat pendidikannya #2


“Ada juga lho, kang. Lowongan, yang meskipun ada lulusan sekolah yang sesuai dengan lowongan perkerjaan itu, tapi terbuka untuk lulusan ilmu perpustakaan bisa mendaftar. Nah, dalam kasus ini, pustakawan justru senang dan gembira,” lanjut Paijo.

“Apalagi dosen ilmu perpustakaan, Kang. Kondisi itu jadi modal mereka untuk menunjukkan pada dunia, bahwa anak didik mereka berpeluang masuk pada berbagai bidang,” Paijo berapi-api.

“Wo, bahasamu, Jo. Menunjukkan pada dunia…”, Karyo sedikit mengejek diksi Paijo.

"Kan, kalau konsisten harusnya mereka protes, Kang. Kirim surat. TOLONG FORMASI TERSEBUT JANGAN DIBUKA UNTUK ALUMNI ILMU PERPUSTAKAAN. SUDAH ADA ALUMNI JURUSAN LAIN YANG LEBIH SESUAI. KAMI TIDAK MAU MENGAMBIL HAK ORANG LAIN. Kudunya begitu, Kang," tegas Paijo.

“Justru itu sebagai bukti, Jo. Menunjukkan kenyataan pada dunia, bahwa "ingin memiliki lebih banyak" itu sifat dasar manusia,” Karyo menjawab sambil tersenyum.

***

“Gooooooooooooooool,” Paijo teriak. Sepiring kacang goreng sudah ludes tak tersisa. Padahal Soplo dan Giyo, belum kelihatan.  Tak ada sisa untuk mereka. Mungkin memang benar, kemaruk bisa muncul di mana saja.



Sambisari,
Ngahad Wage 12 Mulud Wawu 1953 AJ.







Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi