Thursday, 12 September 2019

Bookless library


Paijo, dan tentu saja dengan kawan-kawannya, ngepos di gardu ronda. Hampir tak ada yang absen. Mereka kolega satu klub dalam meronda.  Namun mereka rival dalam pergaplean, salah satu ritual wajib dalam ronda.

Sambil guyon ngalor ngidul, Paijo sebagaimana biasanya, tentu saja sambil promosi ilmunya: ilmu perpustakaan. Ia, bagaimanapun juga, ingin agar orang lain tahu perkembangan ilmu yang selama ini digeluti. Ya. Meski lebih sering dia ragukan, paling tidak orang lain tahu, bahwa dia pernah kuliah. Sinau di universitas.

***

"Sekarang perkembangan perpustakaan semakin maju, lho," Paijo membuka diskusi sambil nyabetke kartu bergambar bulatan merah berjumlah 12, yang sejak lama nangkring di genggamannya.

Teman-temannya diam. Mereka fokus. Konsentrasi pada kartu di tangan masing-masing, tentu saja sambil menghitung-hitung dan memrediksi.

"Sekarang ada yang disebut bookless library" lanjut Paijo. Teman-temannya masih saja diam, sesekali senyum melihat kartu, atau tangannya meraih gelas berisi kopi kental tur pahit. "Srrrup," suara itu terdengar ketika kopi disruput, disusul mata yang merem melek. Gerrr.

"Itu perpustakaan yang tidak ada bukunya. Tempatnya bagus, keren, kekinian. Bisa untuk selonjoran, tiduran, sambil dolanan laptop, nggambar utawa nggawe video," Paijo nerocos. Agaknya beberapa point yang ingin dijelaskan dikeluarkan semua. Berharap bisa mencuri perhatian kawan-kawannya.

"Isa juga sambil ngopi, ada kafenya". Paijo tampak tambah mantap menjelaskan.

Beberapa lama teman-temannya tetap diam. Mereka tetap fokus pada permainan. Paijo terus bermain sambil meneruskan penjelasannya.

Ketika Paijo sejenak berhenti menjelaskan, salah satu kawannya tertawa ngakak. "Jo, kayak gitu kok dibilang maju," Soplo, rival abadi Paijo dalam pergaplean menyela.

"Sampeyan cerita, pikiranku tidak ke mana-mana. Tetap di gardu ronda ini, je" lanjut Soplo.

Soplo menunjukkan kartunya sudah habis. Dia menang.

"Kok iso, Plo?, Paijo penasaran.

"Lah, bisa saja. Yang kamu ceritakan itu semuanya ada di gardu ronda ini, je. Selonjoran bisa, main laptop bisa, dolanan hape bisa. Di sini juga ndak ada buku sama sekali. Bookless seperti yang kamu bilang tadi. Sama," terang Soplo.

"Di sini apapun bisa. Mau gawe video juga bisa. Tinggal pakai hapemu itu buat merekam kita yang lagi gaple ini. Upload ke yutub lalu dapat duit" Soplo melanjutkan.

"Ngopi?, gampang. Ndak perlu kita pencat-pencet gadget pesan kopi. Tiap malam wis ana sik njatah. Ndak hanya kopi, tapi lengkap sama pacitane. Mau baca buku, tinggal buka hape, trus gugling. Akeh. Yang paling penting, di sini bisa gaple, Jo." Soplo melanjutkan.

"Ndak usah jauh-jauh. Pos ronda kita ini juga bookless library, Jo," kata Soplo.

Paijo kaget. Wajahnya kecut. Dia diam, lalu lanjut mengaduk kartu dan membagikannya. Gaple putaran berikutnya dimulai. Ya dimulai.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi