Monday, 25 December 2017

, ,

Tas Pustaka dan geliat literasi di Candi Sambisari

Purwo.co -- Menuju kompleks bangunan cagar budaya itu, saya melangkah. Candi Sambisari, yang hanya beda RT saja dengan rumah saya, jaraknya pun tak lebih dari 200 meter. Tujuan saya satu, rerumputan yang hijau di sebelah barat candi. Baru saja, istri memberitahu bahwa ada lapak buku di situ. Dengan sok ramah, mungkin karena saya warga tempat candi itu berada, meski hanya berstatus pendatang, dengan percaya diri saya mendekati sosok pemuda yang ada di lingkaran bersama buku-buku itu. 

“Saya sebenarnya "tersinggung", mas”, saya lontarkan kalimat itu untuk membuka pembicaraan dengan seorang pemuda di kompleks Candi Sambisari, tentunya setelah sedikit basa-basi standar. “Loh, kenapa, Mas?”, pemuda itu bertanya sembari tersenyum. Senyumnya jelas menyembunyikan rasa terkejut. 

“Seharusnya saya yang memiliki ide seperti ini, kenapa saya justru tidak memulainya? Malah Mas yang memulai”, saya menjawab dengan intonasi penyesalan. "Tersinggung" pada pernyataan saya, bukan tersinggung dalam arti umum, namun lebih ke malu. Sayapun menjelaskan, bahwa saya merupakan pustakawan yang mestinya lebih punya tanggung jawab pada dunia literasi, dunia buku, mengenalkan buku pada anak-anak khususnya. Apalagi saya tinggal di sekitar tempat ini.

“Ooo, haha. Gabung saja mas”, pemuda itu menawarkan.

Itu merupakan diskusi pembuka kami, saya dan seorang pemuda yang sedang menggelar lapak bukunya di sisi barat Candi Sambisari. 

###  

Beberapa anak  sibuk mengeja huruf pada buku yang dia pilih. Seorang wanita membantu mengeja huruf-huruf di buku itu. Beberapa kata dan kalimat berhasil dibaca, yang kemudian disambut dengan pujian dan senyuman. “Wah, pinter sekali”, demikian pujian itu. Anak itu tersenyum malu, namun bangga mendapat pujian sederhana.


“Adik namanya siapa?”, saya mencoba bertanya ke anak kecil itu. Kira-kira umurnya 4 tahun agak gemuk, pipinya yang tembem membuatnya tampak menggemaskan. “Falen yang cantiiiiiiiik”, anak itu menjawab sembari berputar seperti sedang menari. Ucapan “cantik” yang dibuat panjang, seolah ingin menggambarkan bahwa dia memiliki rasa percaya diri tinggi. Dan… “bruk”. Dia terjatuh, tapi justru tertawa terbahak. Kami pun ikut tertawa melihat tingkah lucu Falen.

Sambil masih memegang buku, Falen kembali duduk dengan dibantu si Embak penjaga lapak buku. Dia pun melanjutkan mengeja kata-kata pada buku tersebut. Agaknya ada banyak perbendaharaan kata yang dia kenal sore itu, atau paling tidak dia pelajari ulang dalam konteks bacaan yang berbeda. Tentang planet, tentang UFO, tentang alam, dan beberapa topik lainnya yang ada dalam buku National Geographic dan buku jenis lain yang digelar di atas rerumputan itu.

###  

“Oia, namanya siapa, Mas?” saya mengulurkan tangan mengajak jabat tangan dan berkenalan, meski agak terlambat. “Unu”, jawaban pemuda itu lugas. Saya pun menyebut nama. Unu asalnya dari Nusa Tenggara, sedang kuliah di sebuah universitas di Jogja. Dia bertiga ke Candi Sambisari ini. Dua temannya perempuan, yang satu dari Jogja, satunya lagi dari Cilacap. Dua temannya sedang bercengkerama bersama Falen dan kawan-kawannya.  

“Kami di sini sejak Juni, liburan lebaran. Setiap Sabtu sore, jika tidak hujan”, Unu menjawab pertanyaan saya. Jawaban itu sudah pasti mengagetkan saya, sudah hampir setengah tahun, dan hanya berjarak 200 meter, tapi saya baru tahu sore ini (23/12). Saya bisa tahu juga atas informasi istri saya yang baru saja dari Candi Sambisari mengantar keponakan. Agaknya sudah sekian lama saya tidak mengunjungi candi ini pada Sabtu sore, sehingga ada yang luput dari penglihatan saya. Padahal, dulu ketika awal tinggal di Sambisari, kami bersemangat mengunjungi, dan menikmati udara dan keindahan candi secara rutin.

Bangunan utama Candi Sambisari ini sebenarnya terletak di bawah permukaan tanah. Untuk mencapainya harus turun undakan tangga yang cukup tinggi dan agak curam. Unu pada awalnya memulai menggelar lapak di pelataran candi, di bawah. Namun, atas saran petugas kemudian beralih ke atas, di rerumputan sisi barat, di dekat kumpulan batu candi. Di atas lebih mudah aksesnya, kalau di bawah harus turun dulu, serta kebanyakan yang sampai bawah langsung sibuk dengan aktivitas swafoto. Aktivitasnya ini telah dikoordinasikan dengan pengelola candi, demikian informasinya.

“Ini buku koleksi pribadi mas. Kalau jalan pun, saya usahakan membawa. Misalnya ketika menunggu di halte atau terminal”, demikian Unu menjelaskan kegiatannya terkait buku ini. Apa yang dia kerjakan diberi label Tas Pustaka. Tas yang berisi buku atau pustaka, yang dibawa berkeliling agar isinya dapat dibaca siapapun yang menginginkan. Demikian kurang lebih artinya.


Tas Pustaka memiliki akun IG di https://www.instagram.com/taspustaka, dan basecam di Karangwaru Lor TR II/49 RT 009/RW 003 Tegalrejo Yogyakarta 55241

Karena saya datang sudah sore, ketika candi hampir tutup, maka tak banyak yang kami obrolkan. Suara satpam candi yang dibantu dengan pelantang suara, mengumumkan bahwa candi segera tutup memaksa lapak buku Tas Pustaka di Sabtu sore itu harus segera diakhiri. Falen dan kawannya membantu merapihkan buku, dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian mereka bersalaman pada Unu serta dua temannya, sembari mengucapkan terimakasih.

“Ketemu Sabtu depan, Ya.” Unu seolah ingin Falen selalu ingat, bahwa Sabtu depan Unu akan datang lagi membawa buku untuk mereka. Unu ingin mereka datang lagi, sendiri atau mengajak teman-temannya.

Saya pun ikut berpamitan.

### 

Meski bukan orang Jogja, dia berinisiatif melakukan kegitan positif di Jogja. Jarak tempuh dari kampus atau kos rela dia lakukan, minimal sepekan sekali untuk bertemu dengan anak-anak, dan mengajarkan pengetahuan baru atau kosa kata baru pada mereka.
Apa yang dilakukan Unu dan teman-temannya sangat pantas diapresiasi. Dia memberi nilai lebih pada Candi Sambisari dengan kegiatan positif, dengan mengenalkan buku, huruf, kalimat dan pengetahuan baru pada anak-anak yang datang. 

###. 

Secara umum, dimanapun kegiatan tersebut dilakukan, dia menjadi simpul-simpul yang berkontribusi positif pada pengembangan generasi mendatang. Tentunya ada tantangan tersendiri yang dihadapinya, di tengah perkembangan hiburan yang terkadang tidak memperhatikan psikologi anak, dan hanya mengutamakan "kepuasan" panitia dan orang tua.  Mereka ingin memberi warna positif pada anak-anak itu dengan menawarkan pengetahuan dan hiburan melalui buku, di tengah gempuran syair "bojo galak" yang lebih dulu "menyerang" dan dihafal anak-anak.


Unu telah “menampar” saya.

#pustakawanbloggerindonesia
Sambisari
24 Desember 2017
5.22 sore


Share:

4 comments:

  1. Saya menangis....

    Terima kasih....

    Masih ada orang2 sehebat Nas Unu dkk di negri ini. Pahlawan tanpa tanda jasa.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih, pak. Testimoni ini merupakan dukungan luar biasa untuk Tas Pustaka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, mas. Luar biasa dan sukses untuk Tas Pustaka serta gerakan literasi Indonesia

      Delete

Terimakasih, komentar akan kami moderasi