Wednesday, 27 December 2017

, , ,

Pustakawan perlu meniru spiritualisme pekerjaan-pekerjaan tradisional ini (1)

Purwo.co -- Dokter, juga polisi, tentara dan presiden merupakan profesi atau pekerjaan, atau dalam istilah jawa “pangkat” yang diimpikan, favorit alias primadona. Dia menjadi jawaban sekti mandraguna anak-anak, ketika ditanya, “mau jadi apa ketika sudah besar nanti?”.

Namun, agaknya bukan hanya anak-anak yang memiliki keinginan memiliki profesi di atas. Yang sudah bekerja pun memiliki keinginan agar pekerjaannya bisa semoncer dan seterhormat dokter, misalnya. Entah, mungkin karena tidak keturutan cita-citanya, atau dihantui perasaan under estimate yang tinggi pada profesinya saat ini.

###

“Kita harus seperti dokter”. Pernahkah rekan pustakawan mendengar kalimat itu? sama persis, atau beda susunan kata namun isinya sama; ketika kuliah dilontarkan dosen sebagai wujud penyemangat, atau mungkin ketika jagongan dengan teman sesama pustakawan. Sebagai profesi yang dibanggakan, tentunya profesi lain terutama yang dirasa belum mapan, ingin sekali semapan dokter. Dihargai, dan punya posisi tawar tinggi.

Melihat profesi dokter, serta profesi lainnya yang populer itu ibarat ndangak. Ndangak ke atas, memang perlu sebagai penyemangat. Namun apakah ndangak ini selalu berefek positif?

Hati-hati, kebanyakan ndangak akan berakibat buruk pada tulang leher, cengeng (e seperti pada "sepeda"). Bisa-bisa perlu ngundang tukang pijet agar kembali normal.

Ndungkluk ke bawah, juga tidak kalah penting. Ndungkluk, melihat profesi lainnya yang terkadang disepelekan, namun memiliki nilai adiluhung, memiliki tuladha cara menjalankan profesi dengan baik dan migunani liyan.

Pada buku Iman Budhi Santoso, “Profesi Wong Cilik: spiritualisme pekerjaan-pekerjaan tradisional”, dikupas spiritualisme kerja 18 profesi tradisional. Bagaimana si pelaku memaknai/menjiwai profesi, berinteraksi dengan orang lain, dengan profesi lain, menyikapi perkembangan jaman dan lainnya. Buku ini ngajari kita untuk ndungkluk, agar tidak lupa asal-usul kita, atau asal-usul berbagi profesi yang saat ini ada.

Berikut, saya coba ulas semampu saya, apa saja yang bisa pustakawan teladani dari profesi tradisional ini. Karena ada 18 profesi, maka saya tuliskan paket per paket, sekuat mata saya menatap dan jari saya mengetik.

Pemikat perkutut
Profesi ini dilakukan untuk memperoleh burung perkutut baru, atau menangkap perkutut yang lepas. Memikat perkutut, berbeda dengan menangkap ikan di sungai, atau menangkap belalang yang biasanya berakhir sebagai lauk yang menemani nasi tiwul. Menangkap perkutut dan memeliharanya menjadi salah satu pertanda kesuksesan orang Jawa, yaitu kepemilikan kukila atau binatang piaraan yang sangat berharga, perkutut lah binatang itu.

Katuranggan perkutut yang baik selalu dicari. Bahkan perkutut dijadikan judul lagu yang termasyhur, “kutut manggung”.


Sore-sore…, yo lah bapak
Perkutute njaluk ngombe…
Yo bapak, bapakku de..we…

Perkutut, meskipun bisa diternakkan dengan hasil yang banyak, namun perkutut hasil pemikatan dari kehidupan aslinya, akan memiliki kualitas yang lebih baik. Memikat perkutut, baik proses persiapannya sampai menunggu perkutut terpikat, perlu kepasrahan dan kesabaran. Bagi si pemikat, proses ini merupakan proses spiritual.

###

Bagi pustakawan, hubungan pemikat dan perkutut bisa tarik pada hubungan antara pustakawan dan buku. Meskipun sekarang banyak muncul jenis buku yang tidak dapat dipegang secara fisik (e-book), namun buku tercetak (perkutut yang hidup di alam bebas) tetap memiliki nilai lebih. Meski e-book tersebut dapat secara mudah duplikasi sehingga meningkatkan penyebarannya, namun buku tercetak tetap disenangi, karena akan ada tautan emosional antara buku dan si pembaca. Buku tercetak tetap harus dijaga.

Sama seperti perkutut hasil pikatan, buku tercetak akan dihargai lebih dari pada e-book. Buku tercetak yang isinya berkualitas, dan asli, maka semakin tua jusrtu memiliki nilai ekonomis dan non-ekonomis yang tinggi. Dia akan naik derajat, “pantas” dijadikan cinderamata pada orang-orang cendikia.

Selain itu juga bisa ditarik ke hubungan pustakawan dan pemustaka. Pustakawan harus mampu memikat pemustaka agar hadir dan memanfaatkan buku yang dikoleksinya. Proses memikat ini, lebih dari sekedar membuat datang ke perpustakaan, namun dalam bahasa perburungan disebut "cumbu". Serasa memiliki rumah sendiri di perpustakaan, enggan pergi kecuali setelah semua hasrat intelektualnya terpenuhi. Proses memikat yang sampai taraf ini, harus dilambari dengan laku spiritual si pustakawan.

Pemikat perkutut, pada umumnya bukan orang yang berkecukupan. Sering disamakan dengan cah angon, pencari rencek, atau tukang ngarit. Berani menjadi pemikat perkutut, berarti berani mengambil risiko, bahwa kelas sosialnya ada pada kelas bawah (hal. 28). Demikian pula pustakawan, sebagai profesi yang saat ini masih belum “mapan”, menjadi pustakawan harus siap segala-galanya. Bahkan menelan kenyataan pahit sekalipun.

Beberapa kebiasaan lain dari pemikat perkutut yaitu: melepas perkutut kesayangan, minimal seekor dalam satu tahun. Serta mengambil perkutut hasil pikatan secara tidak berlebihan. Jumlah yang diambil disesuaikan dengan jumlah neptu. Hal ini bisa dicontoh oleh pustakawan, bahwa buku yang dimiliki pustakawan pun, juga bisa dijadikan buku layaknya koleksi perpustakaan (dilepas ke alam bebas), agar dapat dimanfaatkan banyak orang.

Dukun bayi 
“Tulung bayi”, demikian istilah yang dipilih penulis buku ini untuk menggambarkan kegiatan dukun bayi. Tulung bayi merupakan kegiatan “penyelamatan” dalam permulaan proses kehidupan manusia.

Prosesi kegiatan seorang dukun bayi, bukan sekedar kegiatan transaksional jualan jasa. Tapi lebih tinggi derajatnya dari itu. Proses penyelamatan ini, rela dilakukan meskipun rumah si dukun bayi didodok, sebagai tanda sowan kulo nuwun pada tengah malam. Dia rela bangun, meski badan keju (e seperti pada kelinci) setelah seharian kerja di sawah, kemudian berjalan kaki menuju rumah ibu yang hendak melahirkan. Senjatanya sederhana, welat, kunir dan doa suwuk.

Setelah prosesi melahirkan, pekerjaan dukun bayi tidak begitu saja selesai. Dia akan rela menengok bayi tersebut sampai beberapa lama, ndadah secara berkala, dan menyiapkan acara pupakan (potong pusar), sembari melantunkan doa-doa pada jabang bayi. Meski, setelah melahirkan itu dia tidak serta merta mendapatkan uang jalan, yang kadang diangsur atau dibayar dengan barang lain. Dia tetap rela dengan profesinya tersebut.

Jaman yang selalu berubah (owah gingsir) juga disikapi dengan bijak oleh para dukun bayi. Termasuk ketika mereka, karena aturan, harus berkolaborasi dengan bidan yang diproduksi oleh pendidikan formal jaman modern. Dan mungkin, ketika suatu saat dukun bayi harus hilang, tidak ada lagi karena telah tergantikan penuh oleh profesi yang mensyaratkan pendidikan formal jaman sekarang, para dukun bayi ini harus rela.

###

Demikian pula pustakawan. Pekerjaannya tidak harus dinilai dengan transaksi jual beli. Pustakawan harus memandang pekerjaannya sebagai kerja kemanusiaan. Kerja kemanusiaan berarti menempatkan peran kesehariannya sebagai kontribusi meningkatkan kualitas manusia, menjembatani keterbatasan manusia dalam mengakses pengetahuan agar setara dengan manusia lainnya.

Penyelamatan bayi ketika lahir ini, juga ditekankan pada prinsip kerja seorang dukun bayi. “Nyawa bayi sedikit-banyak menjadi tanggungjawab dukun bayi, sedangkan nyawa si Ibu diserahkan pada kekuasaan Allah” (hal. 48). Yang dilakukan pustakawan sama dengan penyelamatan bayi, yaitu kerja untuk masa depan, masa mendatang.

Pekerjaan pustakawan juga tidak selesai ketika buku berpindah tangan saat dipinjam pemustaka, atau setelah pengetahuan menyebar dari satu kepala ke kepala lainnya. Namun, juga usaha memastikan pengetahuan tersebut bermanfaat bagi si penerimanya. Proses komunikasi setelah buku dipinjam, perlu dilakukan pustakawan dalam rangka memastikan hal di atas.

Tentunya, sebagaimana dukun bayi yang melantunkan doa bagi si jabang bayi, pustakawan juga harus melambari proses layanannya dengan doa-doa kebaikan bagi si pemustaka. “Semoga buku yang dibaca bermanfaat, mencerahkan, membawa barakah untuk kemaslahatan ummat manusia”, kurang lebihnya demikian.

Terhadap owah gingsiring (perkembangan/perubahan) jaman, pustakawan juga bisa belajar dari dukun bayi. Keikhlasan berkolaborasi sebagai respon owah gingsiring jaman, telah diajarkan oleh mereka sejak lama. Pustakawan pun harus ikhlas berbagi pekerjaan dengan profesi lain, yang sebelumnya selama bertahun-tahun dilakukannya sendirian. Bukan sekedar kolaborasi, namun juga adopsi teknologi. Sebagaimana welat sebagai senjata untuk memotong pusat bayi, yang diganti dengan gaman yang lebih steril, pustakawan juga harus menguasai teknologi-teknologi terkini yang mampu meningkatkan kualitas perannya.


Juru kunci
Juru kunci (makam), merupakan pekerjaan pengabdian untuk nguri-uri makam leluhur (hal. 54). Mulai dari hal kecil menjaga kebersihan, keindahan, serta menghafal letak cungkup serta siapa yang ada di balik cungkup itu. Selain itu, juru kunci juga agen atau srono komunikasi para peziarah dalam berdoa. Dia nyengkuyung doa peziarah sesuai ketentuan yang digariskan Sang Pemilik Kekuatan Alam.

###

Pustakawan, sesungguhnya juga berperan sebagai penjaga makam. Buku yang ada di perpustakaan, terkadang penulisnya sudah meninggal. Buku yang ditinggalkan merupakan pemakaman dari ilmu pengetahuan yang ditinggalkannya. Makam itu harus dijaga, dirawat agar tidak rusak, selalu jelas siapa yang dikuburkan di balik makam tersebut. Bukan sekadar namanya, namun akan lebih mantap jika pustakawan juga mengetahui asal-usul serta riwayat pemikirannya.

Pustakawan juga berperan menjari srono komunikasi imajiner antara pemustaka dengan si pemilik pemikiran. Oleh karena itulah pentingnya pustakawan tidak sekadar tahu letak cungkup, tapi juga apa yang ada di dalam cungkup tersebut, pemikian apa yang ada dalam buku-buku koleksi perpustakaan. Pengetahuan itu akan bermanfaat bagi pustakawan dalam rangka membantu dalam menembus sekat-sekat yang menghalangi pemustaka memahami pemikiran yang terkandung dalam buku.

Ini pekerjaan yang berat, tidak main-main.

Bersambung......


#pustakawanblogggerindonesia

Sambisari,   27 Desember 2017
23.17 malam

Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi