Saturday, 4 May 2019

Nyadran di Sambisari: silaturahmi tanpa batas

Foto: Pak Dasiyo
Nyadran, sebagai sebuah budaya, banyak dilakukan di berbagai tempat. Umumnya menjelang bulan puasa (pasa). Nyadran memiliki unsur berdoa/pengajian, silaturahmi, dan ziarah. Namun setiap tempat memiliki kekhasannya sendiri.

Nyadran, pada laman Cak Nun, di artikan sebagai penghormatan kepada leluhur yang sudah meninggal. Sudah ada pada zaman Kerajaan Majapahit. Bahkan dimungkinkan sebelum masuknya Hindu Budha. Nyadran, juga bisa berasal dari kata Sudra, menyudra, yang berarti berkumpul dengan orang awam dalam rangka mengingatkan kita akan hakikat bahwa manusia pada dasarnya sama

Di Kampung Sambisari, kampung yang saat ini saya tinggali, nyadran dilakukan pekan terakhir sebelum puasa. Harinya sudah ditentukan:  Senin atau Kamis siang. Tidak berubah.


Saat ini nyadran di Sambisari sudah mengalami perubahan. Misalnya terkait ambengan yang berwujud makanan siap saji. Dulu setiap kepala keluarga menyiapkan ambengan sendiri-sendiri dari rumah, di bawa ke lokasi. Nasi, lauk, buah dan semacamnya. Karena tingkat ekonomi yang beragam, maka jenis yang dibawa juga beragam.

Namun sekarang, sudah tidak lagi demikian. Ketua Rukun Tetangga mengelola iuran warganya untuk menyiapkan ambengan ini. Ditentukan jumlah iurannya, kemudian dikumpulkan untuk membeli bahan makanan. Tidak jarang kas keuangan RT juga menyumbang. Bahan makanan ini biasanya dimasak sendiri oleh para ibu.

***
Pada hari yang sudah ditentukan, warga kampung berkumpul di serambi masjid Quwwatul Muslimin, Sambisari. Mulai dari tua, muda, dewasa, dan juga anak-anak. Sebuah tenda disiapkan di halaman masjid, untuk mengantisipasi hujan atau menahan panas. Tempat inilah yang sejak puluhan tahun silam digunakan untuk upacara nyadran.

Foto: Pak Dasiyo


Tidak hanya warga yang berdomisili di Sambisari, namun warga dari luar Sambisari yang memiliki leluhur yang dikebumikan di pemakaman Sambisari juga turut datang. Tidak heran jika serambi dan pelataran masjid penuh. Bahkan sampai di emperan sekolahan, yang lokasinya satu komplek dengan masjid.

Foto: Mas Nug

Warga ada yang langsung menuju makam, ziarah di makam leluhurnya. Makam terletak di sebelah barat masjid, dekat, dan mudah dijangkau. Mereka mendoakan, tentunya agar arwah diterima, diterima amal dan diampuni dosanya. Bagi warga yang belum/tidak memiliki leluhur yang dimakamkan di pemakaman Sambisari, berkumpul di pelataran atau serambi masjid.

Acara dilanjutkan dengan tahlil, dan pengajian.

***
Selain nyadran, dahulu untuk menyambut bulan puasa, ada kebiasaan memukul bedug setelah Ashar sampai menjelang Magrib pada hari terakhir bulan Ruwah (Sya'ban).  "Dulu orang senang memukul bedug, berebutan. Sehingga bisa berlangsung terus menerus sampai menjelang Magrib," terang salah satu warga. Namun, tradisi ini sudah tidak lagi dilakukan.

Seni memukul bedug perlu  dikenalkan lagi pada anak-anak, generasi penerus di Sambisari. Mereka harus tahu, bahwa leluhurnya memiliki karya, capaian peradaban yang begitu berharga.

Nyadran, merupakan acara silaturahmi tanpa batas. Pada saudara, tetangga, bahkan yang sudah tidak satu kampung bisa berkumpul. Nyadran juga silaturahmi pada yang sudah tiada, dalam bentuk ziarah, menengok makam, membersihkan dan mendoakannya.

---
Sambisari, Setu wage 28 Ruwah 1952 tahun Be, Sengara Langkir 
Pagi hari
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi