Monday, 11 February 2019

,

R.Ng. Ronggowarsito sudah mengingatkan bahaya hoax

Sedulur semuanya. 

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pujangga. Sangat termasyhur. Hingga kini pun namanya masih dikenang. Nama kecilnya Bagus Burham, cucu dari R.T. Ranggawasita I. Ketika kecil diasuh oleh Ki Tanuwijoyo, termasuk ketika mondok di Gebang Tinatar. Burham lahir pada Senin Legi, 10 Dulkangidah 1728 tahun Be. Wuku Sungsang jam 12 siang. Atau pada tanggalan Belanda menunjukkan 15 Maret 1802.  Patungnya berdiri di museum Radya Pustaka Solo, diresmikan Bung Karno dengan dihantarkan pidato yang begitu menggelora.

Tak dielakkan, Bung Karno pun menyitir kalimat serat Kalatidha yang ditulis Ranggawarsita pada bait 7 yang begitu terkenal: hamenangi jaman edan…. Bung Karno menyebut bait ini sebagai dasar hukum moreel. “Kita bangsa Indonesia mengalami djaman edan. Kalau tidak eling las waspada, kita akan ikut serta dalam djaman edan tadi,” tegas Bung Karno.

***

Tapi bukan itu yang hendak saya sampaikan. Melainkan bait ke 4, dari 12 bait Kalatidha. Pada buku Anjar Any terbitan 1980, pada halaman 62 terdapat terjemahan bebas dari bait tersebut.

Demikian terjemahannya: “Persoalannya berpangkal karena adanya berita palsu. Dikabarkan akan menjadi pejabat yang lebih tinggi, ternyata tidak. Karena kecewa, lalu berfikir: apa gunanya ada di depan sebagai pejabat?. Nantinya apabila tidak hati-hati akan membuat kesalaan, lebih-lebih kalau sudah lupa diri akan menimbulkan mala petaka saja”. 

Setelah bait ini, Ronggowarsito njlentrehke bahwa menurut kitab Panitisastra sudah ada peringatan. Pada jaman sekarang yang penuh kebatilan ini, orang yang baik tidak terpakai. Apa gunanya mendengarkan berita yang tidak benar? kalau dirasa hanya menyakitkan hati saja. Ki Pujangga lebih baik membuat kisah lama, yang dapat dipakai untuk contoh baik serta buruk. 

***

Kalatida merupakan kritik dan sindiran pada berbagai hal yang terjadi pada masa itu. Kalatidha berarti waktu atau jaman edan. Ditulis  dlam bentuk Macapat Sinom oleh Ranggawarsito antara tahun 1861-1873 pada masa Sri Sunan Pakubuwono IX. Lebih dari 150 tahun silam. Pada masa itu,  berita palsu ternyata sudah merebak dan merusak. Kerusakan karena berita bohong itu, ditulis Ronggowarsito sebelum mbabar jaman edan. Bayangkan! 150-an tahun silam, Ronggowarsito sudah merasakan adanya kerusakan di negeri ini. 

Opo meneh saiki!!
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi