Friday, 21 December 2018

Strategi mencintai tempat kerja (perpustakaan)

Deg-deg-ser. Itulah kemungkinan pertama yang dirasakan ketika masuk tempat kerja baru tanpa tahu kondisi sebelumnya. Pertanyaan betah atau tidak, nyaman atau tidak, dibully atau disayang, kemungkinan besar masuk dalam pikiran.

Ketika kuliah diploma, beberapa teman berkesempatan menjadi tenaga partime di perpustakaan. Saya gagal. Tentunya bagi teman-teman partime, mendapatkan pengalaman menarik dan berharga, karena ketika masuk kerja sudah bisa membaca kondisi. Apalagi jika bekerja di tempat partime yang sama. Sama saja dengan libur trus masuk kuliah lagi. Kepenak, meski juga ada kekurangannya. Kurang berwarna.

###

Setelah lulus, saya pernah magang di Perpustakaan Fisipol UGM, 3 bulan lamanya. Blank. Mirip sama suasana nembak gebetan kemudian ditolak. Buyar.  Bingung pekerjaannya apa ya? Mau ngapain?

Beruntung saya punya kenalan yang sudah kerja di perpustakaan tersebut. Cukup membantu.

***

Kemudian, saya memasuki tempat kerja sesungguhnya, pertama kali di Perpustakaan Teknik Geologi UGM. Seperti yang saya sampaikan di atas, awal masuk berbagai pertanyaan juga mampir di pikiran saya. Kalau pas masuk terus dikerjain, bagaimana yak? Atau jika saya bikin kesalahan, waduh bisa kacau.

Saya mulai kerja di Teknik Geologi. Perpustakaannya penuh buku tentang minyak bumi, batu, fosil dan semacamnya. Beda dengan perpustakaan Fisipol, yang (meski saya tak suka baca, waktu itu :) ), masih bisalah saya paksakan membaca buku-bukunya. Mahasiswanya juga berimbang antara i dan a. Lah di Geologi, kebanyakan a, jarang i-nya. Tentu ini masalah tersendiri, dan cukup mengganggu. #halah

Harus ada cara supaya saya senang di perpustakaan ini.

Hingga, saya diberi anak kunci untuk membuka ruang tesis lapangan dan menata koleksi di dalamnya. Di ruang ini tersimpan tesis lapangan dari awal berdirinya teknik Geologi sampai sekarang. Isi tesis lapangan itu pemetaan daerah sekian km x sekian km.  Pembahasan tentang bentang alam, dan lainnya. Terdapat peta geologi dan jenis peta lainnya. Intinya ruang tersebut bisa disebut miniatur keadaan alam Indonesia.

Tesis lapangan ini membahas daerah di Indonesia dari ujung barat sampai timur. Lengkap.

Waktu berjalan. Saya nemukajian tentang pertambangan, perusahaan tambang, politik sumberdaya alam. Kenal website jatam (https://www.jatam.org/), dan semacamnya. Pada titik inilah saya mulai tertarik dengan geologi, tidak hanya tentang ilmunya, namun justru selipan tema sosial/politik terkait geologi. Membangkitkan adrenalin. Tema-tema ini yang terkadang saya obrolkan ringan dengan mahasiswa.

Dari obrolan itu saya mulai dekat dan bisa membangun komunikasi dengan mahasiswa. Kesempatan tersebut cukup membantu pula dalam mengenal ilmu geologi itu sendiri. Kemudian saya tahu ada beberapa alumni yang pernah ada di pemerintahan, mahasiswa yang ternyata anak pergerakan + tulisannya. Informasi ini cukup membantu saya menyenangi perpustakaan geologi.

***

Tahun 2012, saya pindah ke Fakultas Teknik. Perpustakaannya, tentu saja, memiliki koleksi lintas departemen. Hubungan dengan mahasiswa juga tidak sedekat di departemen. Ini masalah.

Setahun pertama, ada penyesuaian yang cukup berat. Melebihi beratnya Dilan menahan rindu pada Milea. Hingga pernah ingin mundur saja. Berat. Asli. "Milea, saya mundur saja, ya. Aku ikhlaskan dirimu untuk Kang Adi".

Tapi ternyata tidak. Dilan tetap berjuang untuk mendapatkan Milea. #halah.

Akhirnya saya menemukan beberapa titik yang mencerahkan. Apa itu ilmu teknik? siapa saja tokoh ilmu teknik? apa yang bisa saya dapat dari ilmu teknik? kenapa ini lebih baik dari pada saya kerja di ilmu sosial? dan lainnya.

Sukarno itu orang teknik. Dia juga proklamator, politisi, bahkan juga nyantri di rumahnya Pak Tjokro. Ini menarik. FT memiliki nuansa ilmiah, riset, yang kental. Tidak berarti saya beranggapan fakultas lain tidak sebaik FT. Tidak, tidak begitu. Namun apa yang ada di hadapan saya, seperti itulah adanya. Di FT, 8 departemen memiliki keahlian riil yang beragam. Saya bebas belajar pada siapa saja. Ini menarik. Perpustakaan FT ini semi otonom, letaknya yang terpisah, kerumahtanggaannya yang 90% mandiri, berpotensi menjadikan pustakawannya merdeka. Merdeka dalam arti positif tentunya.

Pertanyaannya, bagaimana saya memanfaatkan fasilitas di atas? Inilah yang menjadi tantangannya.

***

Memasuki tempat kerja yang baru, bagi saya, perlu mencari titik-titik menarik yang bisa menantang. Hal menantang dan menarik ini, akan membuat kita betah bekerja. Atau paling tidak membawa aura positif bagi proses kita mencari rejeki. Beda orang, beda strategi, beda pula pointnya. Ada yang bagi orang lain menarik, namun bagi yang lainnya kurang, atau bahkan dihindari.

Hal menarik itu bisa tentang koleksinya, manajemennya, efek dari ilmu yang ada di perpustakaan. Atau mungkin pemustakanya. Atau lainnya. Anda, saya, kita semua merdeka mendefinisikannya.


Share:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi