Thursday, 20 December 2018

, ,

“Pustakawan cuma dikasih sisa, dong!?"

Angkringan kang Kuat Gelanggang
Seorang cerdik cendikia bidang perpustakaan dan informasi mengatakan bahwa pustakawan itu perlu sekolah hingga bergelar doktor. Perlu, penting, agar kajian kepustakawanan lebih oke, tokcer, dan joss. Mungkin memang demikian alasannya. Beberapa hitungan pustakawan  kemudian kuliah sampai jenjang doktor. Di luar negeri, atau di dalam negeri. Mbayar sendiri, atau beasiswa.

###

Seperti adat saben, Paijo dan Karyo, dua sahabat karib beda usia jagongan nguda rasa. Tukar kawruh, saling berbagi. 

“Kalau sudah kuliah, lalu lulus, kemudian ngopo, Kang?”. Paijo membuka obrolan dengan Karyo. Obrolan itu terjadi di jalan depan rumah. Tempat biasanya orang lalu-lalang dari kebon. Ngebrok. “Mbok di sini saja jagongannya, Kang Karyo!”, istri Paijo setengah teriak menawari tempat obrolan di teras rumah. Tampak sambil membawa nampan berisi teko dan cangkir, serta sebuah piring. “Di sini saja, Yu. Silir. Sambil nunggu Kang Gimin dari kebon”, jawab Karyo. Mbok Paijo pun menghampiri suaminya dan sahabat karib suaminya itu.

Sejurus kemudian di depan Paijo dan Karyo tersuguh teh tubruk nasgitel  model campuran, racikan istrinya Paijo. Teh model ini dibuat dari beberapa merek teh. Konon kabarnya, lebih nikmat, sepet, tur gerrr. Di samping teko wadah teh, ada piring putih bermotif kembang. Pinggiran piring porselen itu sudah cuwil beberapa bagian. Tandanya piring itu sudah berumur. Lungsuran dari simbah-simbah-simbah dahulu. Namun, piring itu masih bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Dia masih bisa jadi wadah yang sempurna. Bahkan terkesan antik dan berkelas. Kemampuan mbok Paijo merawat perabot memang luar biasa.

Di atas piring tampak camilan ungkrung goreng, serta sebuah sendok dari daun pisang yang dilipat. Sendok itu dipakai untuk njumput ungkrung, diletakkan di telapan tangan, lalu dicamili satu persatu. “Ini ungkrung buruan tadi pagi sampai siang, Kang. Lumayan, dapat 6 ons”, terang Paijo. Ungkrung memang sedang naik daun. Bisa ratusan ribu sekilo. Melebihi harga daging ayam, lele, bawal, dan semacamnya.

Ungkrunge ndang dimakan, Jo. Jangan dinggorke saja”, basa-basi Karyo tidak langsung menjawab pertanyaan Paijo. Dia malah ambil ungkrung goreng lalu njumputi satu satu ke mulutnya. Mrus-mrus.  Tangan kanannya meraih gagang cangkir, lalu nyeruput teh nasgitel. “Ger…”, Karyo bergumam setelah kerongkongannya basah oleh teh manis racikan mbok Paijo.

“Jo. Pertanyaannya tidak langsung ‘kemudian ngapain setelah lulus?’!, Karyo mulai berkomentar.
“Lalu, apa, Kang?”.

Proses menjadi doktor bidang perpustakaan, tidak serta merta, tidak mak bedunduk. Ada kepentingan-kepentingan, atau gegayuhan hingga seorang pustakawan mau mendaftar program doktor. Kemudian, doktor itu idealnya kerja riset. Kalau sudah doktor maka tidak boleh lepas dari yang namanya riset. Dia punya tanggungjawab pengembangan. Kecuali menyatakan selesai. Karyo melanjutkan penjelasannya.

“Sik, maksudmu apa, Kang?. Mumet saya”.

“Yang harus ditanyakan pada pustakawan yang sudah bergelar doktor itu, pertama kali adalah “apakah mereka masih mau jadi pustakawan? atau jika sebelumnya belum pustakawan, apakah mereka mau mendaftar jadi pustakawan?’. Itu dulu yang harus ditanyakan”.

Pertanyaan dan pernyataan itu bagi Karyo agaknya dirasa penting, sehingga dijadikan awalan menjawab pertanyaan Paijo. Untuk memastikan dahulu, apakah konsistensi si pustakawan ketika sudah jadi doktor masih sama. Atau ndleyo, mengkeret, munter, balik arah, kemudian mengatakan,  “baju pustakawan sudah tidak muat untuk saya yang sudah doktor”.

“Kenyataan alias kasunyatan. Menjadi pustakawan dengan title akademik tertinggi: doktor, itu berat. Dia harus mau dan mampu memberi contoh sesama pustakawan. Dalam hal apapun. Dia harus bisa dicontoh dalam kesehariannya sebagai pustakawan”. Karyo melanjutkan penjelasannya.

“Bukahkah semuanya harus memberi contoh, Kang?. Tidak hanya doktor, yang sarjana, atau diploma sekalipun harus. Bahkan pustakawan hasil diklat”, Paijo setengah membantah.

“Benar, Jo. Pada dasarnya semuanya. Namun jika ada yang menyandang titel tetinggi, maka bebannya lebih banyak. Dia akan jadi sasaran pandangan pertama oleh orang di luar pustakawan. Citra pustakawan akan bergantung lebih padanya”, Karyo menambahkan.

“Kalau sampai setelah jadi doktor kok pindah profesi, atau tidak ambil profesi pustakawan, maka kamu itu Jo, kamu itu”, tangan Karyo sambil menunjuk muka Paijo.  “Harus ikhlas! Ikhlas jika memang pustakawan itu kelas kedua dalam pilihan profesi. Cuma dapat residu, sisanya saja”. Karyo nerocos melanjutkan penjelasannya.

"Itu belum apa-apa, Jo. Jika setelah jadi dosen, mereka mengatakan "pustakawan harus ini itu", kamu harus siap lahir bathin", Karyo menambahi lagi.

"Tapi, jika setelah jadi doktor tetap konsisten jadi pustakawan, maka kamu harus mengangkatnya menjadi manusia setengah dewa",  Karyo menutup kuliahnya pada Paijo.

Paijo diam. Batinnya bergemuruh. Dia ingat bagaimana dosen ilmu perpustakaan begiti entengnya mengatakan "Pustakawan itu hari begini dan begitu". Tanpa beban. Mereka tak tahu bagaimana kondisi sosial politik perpustakaan yang di hadapi. Sak enak'e dhewe, mentang-mentang dosen njuk kemlinthi. Paijo mbathin.

Wajahnya lesu. “Aku berarti cuma residu, sisa-sisa, Kang?”.

Karyo tidak menjawab. Tangannya justru meraih teko wadah air teh, kemudian menuangnya ke cangkir yang hampir habis isinya. Kemudian dia jumput lagi ungkrung goreng di piring, lalu satu persatu di masukkan ke mulut.

Suasana hening….

###

Hening itu berlangsung beberapa saat. Karyo tetap diam. Menunggu reaksi Paijo. Paijo justru melamun. Mata Paijo menerawang, tampaknya sedang mengingat sesuatu. Sepintas kemudian dia mulai bicara.

“Kang, saya pernah dengar. Seorang cerdik cendikia mengatakan bahwa dia mengambili pustakawan terbaik di kampusnya, untuk diproyeksikan menjadi dosen ilmu perpustakaan”, Paijo berbagi informasi.

“Nah, itu Jo. Kamu dengar sendiri. Yang terbaik diambil, dinaikkan “derajat”nya. Di selamatkan dari goncangan profesi pustakawan. Dijadikan dosen (ilmu) perpustakaan. Logikanya, kalau yang pinter diambil jadi dosen, lalu pustakawan tinggal sisanya. Padahal pustakawan perlu orang pintar yang bisa memberi contoh jadi pustakawan yang baik dan benar. Menjadi praktisi itu lebih berat dari akademisi (ilmu) perpustakaan. Kalau yang lebih berat saja dikasih sisa, lalu?”, Karyo ngegongi Paijo.

Embuh, Kang!”. Paijo menyerah.

“Kang Paijo, wis meh magrib. Sapine dimasukkan kandang. Ndang siram. Nanti ada kondangan di tempatnya Lek Gimin, tho”, teriak Mbok Paijo sebagai wujud perhatian dan tresno pada suaminya.

Wis, tak bali dulu, Jo. Nanti ketemu di tempatnya Kang Gimin. Satu hal yang tetap harus kamu ingat: jika setelah jadi doktor tetap konsisten jadi pustakawan, maka kamu harus mengangkatnya menjadi manusia setengah dewa", Karyo tahu diri dan pulang.

Kang Gimin, tetangga mereka, malam ini ada kondangan nyewu (seribu hari) kematian keluarganya. Kondangan terakhir, setelahnya tak ada lagi tersisa. Namun doa-doa tetaplah dipanjatkan, sepanjang masa. 


Sambisari,
Kamis Wage, 11 Bakdomulud 1952 Be
04.54 pagi
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi