Tuesday, 9 October 2018

[[ teranglah sudah: tak ada ilmu perpustakaan #2 ]]

“Kang, lowongan kebutuhan pustakawan dari alumni non ilmu perpustakaan itu sesungguhnya sebuah tamparan. Telak!", kata Paijo.
“Tamparan untuk siapa, Jo?.

###

Waktu berjalan. Malam berganti siang, siang ke sore, sore ke petang, lalu malam lagi. Pagi pun muncul. Setelah beberapa waktu, Paijo mendapat kabar bahwa ada rekruitmen pustakawan untuk sarjana non ilmu perpustakaan di perpustakaan nasional. Ini berita gembira, umumnya dianggap membuka peluang kerja banyak orang. Bagi sarjana ilmu perpustakaan, ini berita pahit. Lahannya berkurang. Paijo pun sudah mbabar panjang lebar pendapatnya terkait hal ini, pada Karyo, di Teranglah sudah: semua bisa jadi pustakawan

Namun, Paijo berfikir masih ada yang aneh pada pengumuman itu. Ya! Seperti yang diomongkan pada Karyo, bahwa pengumuman itu menjadi bukti bahwa setiap orang sesungguhnya berpotensi menjadi pustakawan. Apapun ilmu yang melatarbelakanginya. Semua punya hak, meski berlatarbelakang  operator mesin fotokopi. Menjadi pustakawan itu hak semua manusia.

Namun, lebih dari itu, Paijo tetap merasa ada yang aneh… Tirakat dilakukan, semedi, dan laku prihatin juga dilakukan. Mengurangi makan, memperbanyak melek, agar wangsit turun dan memberi jawaban atas kegelisahannya. Doa-doa dilantunkan. Semoga bukan doa junub yang lantunkan Paijo.

###

Wis… ketemu sekarang”. Paijo girang bukan kepalang. Apa yang dicarinya ketemu. Apa yang membuatnya galau, seolah sudah ditakhlukkan.

Lowongan pustakawan untuk alumni selain ilmu perpustakaan itu, bagi Paijo merupakan bukti berikutnya bahwa tidak ada ilmu perpustakaan. Sama seperti semua orang bisa mendaftar jadi wartawan, dan tidak mensyaratkan sarjana ilmu wartawan. Karena memang jurusan ilmu wartawan itu tidak ada. 

“Menjadi wartawan itu syaratnya biasanya sarjana, bisa dari jurusan apapun. Karena jurusannya itu sangat bermanfaat ketika menjalankan fungsi kewartawanan”. Demikian kawan Paijo pernah berkata. Pola rekruitmen wartawan ini, agaknya yang menjadikan wartawan itu punya bobot dalam proses penguatan masyarakat.

"Jangan-jangan, memang paling tepat untuk pustakawan ya model seperti wartawan ini?. Klop wis".

Ketika semua orang bisa jadi pustakawan, dibuktikan dengan lowongan di perpustakaan nasional itu, maka sesungguhnya memang tidak ada ilmu perpustakaan. Ilmu perpustakaan itu menempel, embedded pada setiap orang yang mau mempelajarinya. Sebagaimana jiwa kewartawanan manusia: dia fitrah. Hal ini juga mirip seperti ustaz atau ulama. Tidak perlu pendidikan formal. Ngaji rutin, menjadi batur Pak Kyai, sambil mendengarkannya ngaji, bisa menjadi lantaran menjadi ulama.

“Loh, pada kenyataannya kan ada jurusan ilmu perpustakaan?”, bathin Paijo masih menguji hipotesanya.

Bukankah juga ada ilmu dakwah dalam dunia perulamaan? tapi apakah menjadi ulama itu domain tunggal alumni fakultas dakwah? “Tidak juga”, pikir Paijo, seolah menemukan analogi yang tepat bagi pustakawan. Semua orang bisa menjadi ustaz, asalkan masyarakat mengakuinya.

“Tapi apakah ulama punya organisasi?”. Paijo masih menguji keyakinannya. Dia ingat bahwa profesi itu syaratnya harus ada organisasi yang menaunginya. Ya, meskipun syarat itu bagi Paijo juga bukan sebuah keharusan. “O, punya. Bahkan bisa bermacam-macam namanya: MUI, IKADI, MIUMI”. Proses bertanya dan berjawab sendiri ini berlangsung lama pada diri Paijo.

“Pustakawan juga bisa mirip petani”, Paijo melanjutkan petualangan imajinasinya. Profesi inilah yang digeluti simbahnya selama hidupnya. Pergi ke ladang, macul, menanam padi dan berbagai tanaman lainnya. Semua dilakukan dengan “sekolah” pada kehidupan. Bukan sekolah formal pertanian. Profesi ini kemudian dilanjutkan oleh ibunya, yang selain bertani juga berjualan. Yang lebih meyakinkan lagi bagi Paijo, adalah bapaknya. Bapaknya Paijo ini guru, namun sampai di rumah, jadi petani. Ada peran profesi ganda yang dilakukan bapaknya Paijo. Padahal formalnya hanya sekolah guru, bukan sarjana pertanian.

Mirip. Keduanya memiliki pendidikan formalnya: ilmu perpustakaan, dan ilmu pertanian. Sama. Sarjana pertanian itu berpeluang besar jadi petani, tapi apa kenyataannya? tidak semuanya mau jadi petani. Tidak. Dan mereka tidak serakah bahwa petani itu harus sarjana pertanian. Tidak, kan?. Apalagi memiliki sertifikat pertanian, spesialis macul, spesialis nandur, atau spesialis matun alias dhangir. Ndak.

Para petani juga tidak di protes oleh pada pedagang. Pedagang tetap mau mengambil hasil pertanian mereka, meski petaninya cuma lulusan SD, atau bahkan tidak sekolah formal. Meski tidak diolah sesuai prinsip di ilmu pertanian yang diajarkan di perguruan tinggi. Kualitas hasil akhir dari pertanian itu yang utama. Para petani ini, paling banter ya ikut kursus, pelatihan, atau penyuluhan pertanian. Petani juga punya HKTI.

Ada jurusan pertanian, tapi tak ada klaim menjadi petani harus alumni ilmu pertanian. Padahal pertanian sangat vital bagi kehidupan manusia. Berhubungan dengan makan, hidup, dan urip. Ada  pula fakultas dakwah, tapi tak ada klaim menjadi ulama harus alumni fakultas dakwah. Padahal dakwah sangat penting bagi kehidupan, tidak hanya saat ini, namun juga setelah kematian. Ada jurusan penjualan, pemasaran, tapi tidak ada klaim menjadi pedagang harus alumni pemasaran. Padahal pekerjaan pegadang ini menjadi fondasi kehidupan manusia. Dia merupakan sumber rejeki paling banyak dijadikan profesi. Ada jurusan pedalangan, karawitan, namun tidak ada klaim menjadi dalang harus sarjana pedhalangan. Nyantrik bisa jadi sarana orang jadi dhalang atau seniman. 

Kenapa? karena itu pekerjaan mandiri. Pengakuan masyarakatlah yang menentukan.

“Klaim bahwa menjadi pustakawan itu harus dari alumni ilmu perpustakaan, itu hanya berlaku di lowongan pekerjaan pustakawan sebagai PNS. Coba lihat sekolah swasta, universitas swasta, apakah ada protes keras dari para alumni ilmu perpustakaan? Kalau pimpinannya berkehendak, ya ngikut. Wong mereka yang nggaji, kok. Apalagi di perpustakaan kampung, rumah baca, dan lainnya? mana protesnya? Kenapa? karena ndak ada hubungannya dengan kepentingan pekerjaan.”

“Klaim  ‘menjadi pustakawan harus dari alumni ilmu perpustakaan’ itu sangat erat kaitannya dengan ceruk nasi, perut”.

Demikian, proses berfikir Paijo. Kadang digumamkan, disuarakan sendiri melalui mulutnya. Kadang hanya dibathin saja.  Bisa dalam bentuk pernyataan kemudian dibantah atau diperkuat dengan pernyataan lainnya. Atau dalam bentuk pertanyaan, kemudian dijawab sendiri.

###

Apa yang difikirkan Paijo disampaikan pada Karyo. Teman karibnya itu. Karyo mengangguk, seolah setuju, namun masih menyimpan keraguan.
“Namun demikian, tetap ada bedanya antara ilmu pertanian dan ilmu perpustakaan, Kang!”, kilah Paijo, mencoba membaca raut wajah Karyo yang masih menyimpan pertanyaan.
“Apa, Jo?”
“Ilmu pertanian itu tidak sekedar membahas cara matun, dan cara nggathul. Tapi bahasannya sudah melampai itu. Lebih ke substansi: bibit”. Kata Paijo.
“Lah, kalau ilmu perpustakaan?”.
“Hanya mentok, atau dimentokkan pada kulitnya, Kang. Klasifikasi, katalog, label. Atau sekarang diperparah dengan kegemaran beli sofa. Pustakawan sudah kurang PD mengelola isi. Menulis resensi buku, paling banter jadi syarat naik pangkat. Bisa dihitung dengan jari, pustakawan yang menulis kritik atas buku dan menerbitkannya”.

“Lalu bedanya dengan dokter apa, Jo?”. Karyo hendak mengonfirmasi tawaran Paijo beberapa waktu lalu, untuk menjelaskan bedanya profesi dokter dan pustakawan.

Paijo menyarankan pada Karyo, agar jangan memaksakan menarik persamaan atau memaksakan pustakawan harus sama dengan dokter. Keduanya beda, bedo. Dia mengulang penjelasannya beberapa waktu lalu, bahwa dari sisi keketatan pendidikan sudah beda. Dan keketatan pendidikan perpustakaan itu sudah menjadi bukti bagi dirinya sendiri, diri pustakawan itu sendiri bahwa pustakawan dan dokter itu beda. Keketatan pendidikan di kedokteran itu sendiri juga menjadi bukti bahwa profesi dokter itu levelnya di atas pustakawan.

Level profesi dokter itu sudah matang, sudah tua, dia sudah mapan. Berbeda dengan pustakawan. Jauh.

“Kalau pustakawan ingin disamakan dengan profesi dokter, minta saja pustakawan itu menganggap dirinya dokter buku, Kang. Hehehe”.
“Hus, ra sopan”.

###

“Kang, klaim  ‘menjadi pustakawan harus dari alumni ilmu perpustakaan’ itu sangat erat kaitannya dengan ceruk nasi, perut”. Demikian kesimpulan awalku. “Apalagi dilanjutkan dengan protes. Wong institusinya membutuhkan, kok diprotes."

Paijo meminta Karyo berfikir, apakah selama ini ada protes keras, jika lowongan itu dibuka oleh institusi non negara, alias bukan lowongan PNS pustakawan?. Karyo diam saja. Agaknya memang sulit mencari contoh protes pada lowongan pustakawan untuk non alumni ilmu perpustakaan, pada jalur swasta.

"Kang, saya punya teman. Alumni ilmu perpustakaan, kerja di media. Para akademisi ilmu perpustakaan menyebutnya berhasil: ini alumni kita, bisa bekerja di perpustakaan media swasta. Katanya demikian. Tapi kalau kawan saya yang di swasta itu membuka lowongan di perpustakaannya itu untuk alumni ilmu komputer, misalnya, apakah akan diprotes?. Tidak, tho?". Tanya Paijo.

"Lowongan untuk non ilmu perpustakaan itu juga berkaitan dengan eksistensi para penggerak pendidikan ilmu perpustakaan itu sendiri, Kang. Tamparan keras. Orang akhirnya ragu: jan-janya ilmu perpustakaan itu apa?”, Paijo melanjutkan.

“Selain itu, kita melupakan satu hal lain, Kang”
“Apa, Jo?”

“Kita ini dijebak pada lingkaran syarat pendidikan formal untuk sebuah pekerjaan. Padahal, ada pendidikan non dan informal. Tidak semua pekerjaan perlu pendidikan formal, ada yang cukup in dan non formal saja”. 

Karyo mengangguk, paham yang dimaksudkan Paijo.

“Adanya lowongan kebutuhan pustakawan dengan latar belakang bukan alumni ilmu perpustakaan, merupakan tamparan nyata pada institusi pendidikan ilmu perpustakaan. Nyata, cetha wela-wela”. 


[tamat]


Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi