Monday, 29 October 2018

,

Pustakawan sekolah: dua beban beratnya

Sore itu, Kamis, pekan terakhir di bulan Oktober, Paijo leyeh-leyeh di bawah pohok talok depan rumah. Pohon talok itu sangat bersejarah. Kala kecil, Paijo sering memanjat memburu buahnya. Di sampingnya berdiri pacul dan sebilah sabit. Namun, dua gaman itu tidak digunakan. Paijo justru tetap duduk di bawah pohon. Melamun. Dalam lamunannya, Paijo teringat Kimpul, teman lamanya. Paijo pun tahu, dari kabar yang beredar, bahwa Kimpul mengundurkan diri dari profesi pustakawan. Diapun tahu alasannya. (cerita tentang Kimpul ada di http://www.purwo.co/2018/10/ciloknya-pustakawan.html)

###

Kenyataan yang dihadapi Kimpul, membawa Paijo pada lamunan panjang di sore itu. Betapa beban berat yang harus dipikul Kimpul, dan kemudian memaksannya mengambil keputusan yang kurang populis: mundur. Namun Paijo juga mafhum bahwa menghalalkan Paijem serta menghidupinya perlu uang, pendapatan, atau pangupo jiwo. Memang tidak harus banyak, tapi cukup. Itung-itungan lah tentang pangupo jiwo itulah yang membawa Kimpul harus mundur.

Awalnya Paijo kecewa, namun akhirnya Paijo justru salut pada keputusan Kimpul. Keputusan mundur itu membuktikan Kimpul punya sikap. Dia tidak fanatik pada pekerjaan, dan juga tidak fanatik bahwa sekolah perpustakaan itu harus jadi pustakawan. Atau minimal Kimpul berfikir bahwa alumni ilmu perpustakaan itu tidak harus ngantor, entah di negeri atau swasta. Sekolah itu untuk membentuk watak, pola pikir, dan semacamnya termasuk menempa diri agar tahan banting. Bersekolah harusnya tidaklah menyempitkan lahan pekerjaan, tapi justru sebaliknya. Sekolah itu memperluas kemungkinan pekerjaan.

Jika seseorang sekolah ilmu perpustakaan kok hasil akhirnya selalu harus “pustakawan”, itu berarti kurang memahami arti sekolah itu sendiri. Jelas itu menyempitkan ilmu perpustakaan. Sekolah ilmu perpustakaan juga bisa jadi bakul bakso, atau bakul cilok seperti Kimpul. Itu baru benar. Sekolah itu memperluas, bukan mempersempit. 

###

Kejadian Kimpul membawa Paijo merenung, terkait kondisi yang dialami pustakawan, khususnya pustakawan sekolah. Setidaknya ada dua beban berat yang pernah dipikul Kimpul ketika kerja di perpustakaan sekolah. Paijo ingat pernyataan Kang Tomo, “350 ewu” atau 350.000. Angka itu merupakan angka gaji pustakawan di sebuah sekolah dasar. Ada juga, Yu Painuk yang menginformasikan bahwa di daerahnya seorang pegawai tidak tetap perpustakaan mendapat gaji hampir sejuta, tapi itu karena dia sudah mengabdi puluhan tahun. Di tempat yang sama, pegawai baru kategori tak tetap mendapat 600 ribu sebulan. Keduanya memperoleh bayaran itu dengan pekerjaan tambahan: kebersihan. 

Pekerjaan tambahan sebagai tenaga kebersihan memang sudah umum. Memang hal ini bisa dilihat dari dua sisi. Tambahan pekerjaan itu sebagai wujud budi baik pimpinan, agar ada alasan untuk menambah insentif pegawai. Atau si pustakawan bisa memaknainya sebagai  wujud tempaan alam, ujian, laku prihatin. Namun di sisi lain, ya tetap itu tidak pada tempatnya.

Kang Bendol dan temannya, keduanya pustakawan sekolah, mengamini ini. Ketika menanggapi tentang usulan dicantumkannya angka-angka gaji pustakawan sekolah pada promosi ilmu perpustakaan, dia komentar: “Biar gak kaget kalau harus pegang sapu dan pel”, katanya.  “Ngenes, Lur”. Gumam Paijo mengingat angka dan pekerjaan tambahan yang disebut Kang Tomo, Kang Bendol dan kawannya. Paijo ingat, pernah ngundang tukang bangunan yang kemudian nawar, nganyang minta 100.000 sehari. Itupun dengan sekali makan siang, dan uang rokok. Jika dibandingkan, kerja tukang bangunan sepekan, bisa sama dengan pegawai tidak tetap selama sebulan.

Itulah beban pertama yang harus dipikul pustakawan sekolah, “krisis ekonomi” kata Kang Tomo. Ya, memang tidak semuanya. Di perpustakaan negeri, dan jika si pustakawan sudah berstatus PNS, tentunya beda keadaannya. Di situ gajinya sudah standard. Atau di sekolah swasta terkenal, larang, pasti gajinya lebih besar. 

Kemungkinan masih ada yang bergaji lebih kecil dari yang diketahui Paijo. Gaji yang hanya seper sekian dari tunjangan sertifikasi guru. Ironisnya, konon kabarnya guru yang sertifikasinya sekian kali lipat gaji pustakawan itu, dapat sertifikasi karena diberi “jam” di perpustakaan.

###

Pekerjaan tambahan, mulai dari kebersihan sampai membantu administrasi merupakan efek dari risiko beban kedua. Beban ini tidak kalah berat, bahkan lebih berat. Beban menanggung anggapan bahwa beban pekerjaannya dianggap tidak berisiko. Bingung, tho?. Jangan bingung. Risiko jenis ini jamak dialami oleh si pustakawan.  Padahal pustakawan sekolah itu menjaga aset negara juga. Banyaknya buku paket, yang jika sudah tak terpakai pun tetap harus disimpan, sampai gudang penuh tak muat lagi. Setidaknya ini curhatan Yu Giyem, pustakawan juga.

Mungkin anggapan inilah yang menjadi salah satu alasan gaji pustakawan sekolah ada yang cuma seiprit. Ya, tentu saja juga karena alasan tidak adanya anggaran yang cukup. Seperti sekolah Kimpul dulu, sebuah sekolah swasta yang tak begitu populer di kampung pinggiran.

Setiap pekerjaan itu berisiko, apapun risikonya. Tentunya termasuk pustakawan sekolah. Ekspektasi pimpinan sekolah pada perpustakaanlah yang turut menentukan ringan tidaknya risiko yang diemban pustakawan. 

###

Kondisi ini sangat menyakitkan, ketika  selamanya dijadikan bahan promosi. Masih kurangnya sekolah yang memiliki pustakawan dijadikan bahan promosi sekolah ilmu perpustakaan untuk menggaet lulusan sekolah atas untuk mendaftar jadi mahasiswa. Harusnya sekolah ilmu perpustakaan itu fair. Ketika mencantumkan angka jumlah sekolah yang tidak memiliki pustakawan, harus sekaligus mencantumkan berapa gaji pustakawan sekolah. Bahkan sekalian dengan apa saja pekerjaan tambahannya. Ngepel, nyapu, dan lainnya.

Banyak yang komentar setuju dengan pencantuman gaji pustakawan sekolah pada promosi sekolah perpustakaan. Bukan hanya pustakawan sekolah, namun juga Pak Ruri, salah satu dosen ilmu perpustakaan. Bagi pustakawan, ini wajar. Harapannya agar para calon adik mereka tahu betul yang terjadi di lapangan sebelum memutuskan pilihan. Namun, bagi Pak Dosen, kesetujuan ini luar biasa. 

"Semoga saja ditindak lanjuti. Kurang pas jika gaji besar dijadikan promosi, tetapi kalau gaji kecil tidak dicantumkan. Perguruan tinggi, khususnya prodi ilmu perpustakaan harus memulai kejujuran dan memberikan informasi yang utuh ini", demikian harapan Paijo.

###

Apakah ada yang sudah ideal?. Demikian lanjutan lamunan Paijo. Jika melihat beberapa informasi, ada pustakawan sekolah yang sudah mapan. Bahkan senang dan menikmati profesinya. Perannya juga bagus, gajinya juga baik, cukup. Kalau melihat ini, berarti ada yang sudah ideal. Meskipun, kata wong jawa  tetap harus “wang sinawang”.

Lamunan Paijo ini mengantarkan pada kesimpulan yang menguatkan kesimpulannya sebelumnya, “memang wajar apa yang dilakukan Kimpul”. Keluar dari profesi pustakawan itu wajar, manusiawi, jentelmen, dan justru bagus dalam kasus tertentu. Namun, hati-hati, karena juga bisa dianggap pengecut atau pecundang, bahkan pengkhianatan pada profesi.

Kisah Kimpul, bukan yang pertama didengar Paijo. Sebelumnya ada informasi yang diterimanya tentang pustakawan yang kemudian mengundurkan diri. Alasannya bermacam. Lingkungan kerja, tak cocok dengan pimpinan, juga terkait gaji. Terakhir Kang Dodo, yang memilih mundur setelah belasan tahun jadi pustakawan, pindah jabatan. Ada juga Kang Seno yang berwiraswasta, atau Lek Takin yang jadi juragan lele.

###

Beberapa hari kemudian, di tegalan, Paijo istirahat dari ngorek'i tanah. Dia hentikan pekerjaannya itu ketika Karyo datang menghampirinya. Seperti biasa, dua konco kenthel itu jagongan.

“Kang, pas nglamun kemarin malah keterusan sampai sore. Tadinya mau ngorek’i tanah pekarangan, malah ndak jadi. Akhirnya saya diomeli wong wedhok”, Paijo laporan pada sahabat karibnya, Karyo. 

Cen, kowe kui ra nonton wektu, kok. Padahal itu pas Kamis sore, tho. Kudune ya ndang adus, reresik awak,  persiapan ngaji di masjid. Malah nglamun!”. 

Paijo, melanjutkan ceritanya. Dia sampaikan lamunannya dari A sampai Z  pada Karyo.

“………………….”

Loh, piye maksudmu Jo? Kok bisa bagus, wajar, jentelmen, manusiawi, tapi di sisi lain juga bisa berbeda 180 derajat: pengecut, pecundang, bahkan pengkhianatan profesi”. Sekonyong-konyong Karyo bertanya atas penjelasan Paijo.

“Lah, sampeyan penasaran, tho?”. Paijo cengengesan melihat wajah Karyo.

“Kang. Sebenarnya saya ini juga wedi komentar. Pustakawan, khususnya di sekolah itu bebannya berat. Ya seperti yang saya critakan tadi. Maka, keputusan mereka adalah yang terbaik untuk mereka. Mereka perlu menentukan sikap, untuk masa sepannya. Saya juga merasa, bahwa bukan tidak mungkin saya akan mengalaminya sendiri. Dihadapkan pada kondisi yang, meski tidak persis, tapi minimal mirip. Namun kang, satu hal yang saya tidak harapkan, jangan sampai keputusan saya nanti, masuk kategori mengkhianati profesi”. Paijo meneruskan penjelasannya.

Paijo tidak menjelaskan, tentang kapan mengundurkan diri dari pustakawan itu dianggap manusiawi, wajar, dan kapan dianggap pengkhianatan profesi.

Karyo semakin penasaran.

[[ bersambung ]]
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi