Monday, 8 October 2018

[[ mereka yang sukses dengan pendidikan yang tidak linear ]]

Menjadi pustakawan, harus berpendidikan (ilmu) perpustakaan. Konon, kabarnya demikian. Diperkuat dengan aturan, menjadikan pekerjaan "pustakawan" dihegemoni, dikuasai oleh lulusan (ilmu) perpustakaan. Kalau sudah terlanjur, maka kudu diputihkah: diklat, atau sekolah lagi ambil (ilmu) perpustakaan. Dari luar jurusan ini tidak boleh. Mereka haram disebut pustakawan sesuai undang-undang, dan tak boleh mendaftar sebagai pustakawan. Pokoknya, jika ada lowongan pustakawan, maka syaratnya harus, dan harus: alumni (ilmu) perpustakaan. Namun, apakah demikian adanya? tidak juga. Ada yang tanpa pendidikan (ilmu) perpustakaan, nyatanya juga bisa mengelola perpustakaan. Jalan, lancar, dan dicintai mahasiswa. Mentor saya salah satu contohnya: Pak Ngudi Raharjo di Teknik Geologi UGM.
Lalu bagaimana yang sudah jadi pustakawan, apakah mereka minat sekolah (ilmu) perpustakaan (lagi)? Tentunya ada yang minat. Kawan saya, Pakne Ibrahim (Rachmad Resmiyanto) mengatakan, "kalau memang (ilmu) perpustakaan itu ada, harus ada yang "gila" pada ilmu itu. Kawan saya ini seorang fisikawan. Wajahnya mirip Einstein. Analisanya pun tajam, melebihi tajamnya pisau cukur. Dia mampu menggunakan fisikanya untuk menganalisis bidang lain. Dia memang bisa menunjukkan "gila" ilmu itu seperti apa. Dan dia menantang saya.
Namun, dalam dunia kepustakawanan (dosen maupun pustakawan), linearitas pendidikan tidaklah harga mati. Ada banyak kawan yang ternyata tidak mengambil jurusan yang linear. Hal ini tidaklah salah, justru benar. Inilah beberapa di antaranya.
Kawan Arif Surachman Ibn Sukarno, diploma dan sarjananya (ilmu) perpustakaan, namun S2 mengambil magister manajemen. Kawan Arif merupakan pustakawan UGM, sekarang menjadi kabid database dan jaringan. Salah satu prestasinya dalam pengembangan sistem informasi perpustakaan terintegrasi di UGM, yang lancar jaya ditanganinya. Hal ini tak jauh beda dengan kawan Wardi Yono, lead Dev Slims yang sarjananya perpustakaan, namun S2-nya MM.
Kawan Nur Cahyati Wahyuni, yang pernah dinobatkan menjadi pusakawan berprestasi nasional dikti, nomor satu diantara ribuan pustakawan pada ribuan pulau di Indonesia + beberapa kali menjadi juri pustakawan berprestasi dikti nasional, pendidikan diplomanya perpustakaan namun sarjananya antropologi. Bahkan S2nya magister manajemen perguruan tinggi.
Ada lagi kawan Minanto Ali, yang pernah menjadi pustakawan di DPP Fisipol UGM dan menjadi pustakawan berprestasi 2 nasional dikti. Ali memiliki ijazah diploma 3 perpustakaan, sarjanya komunikasi, dan s2 kajian budaya. Sekarang menjadi dosen di UII.
Lain lagi dengan kawan Arie Nugraha, core programmer Slims dan dosen JIP UI ini memiliki ijazah sarjana perpustakaan, namun S2 mengambil MTI. Pengetahuan kepustakawanan di S1 + studi MTI di S2 menjadikannya semakin matang.
Masih ada yang lain? banyak. Itu baru contoh di jaman ini, belum di jaman dulu kala.
Maka, saya mengulang status saya beberapa waktu lalu: bagi pustakawan yang sudah memiliki ijazah perpustakaan (diploma/sarjana), coba pikirkan bidang ilmu lain untuk studi lanjutnya.
Kalau ada alumni selain bidang (ilmu) perpustakaan yang ingin jadi pustakawan? Bisa, dan boleh saja. Ada mbak Wuwul Fitria, yang bergelar ST, MM, membawa Perpustakaan Telkom menjadi perpustakaan terbaik dunia akherat. Pak Taufiq Abdul Gani yang sang doktor elektro yang menyulap perpustakaan unsyiah. Ada pula Prof. Djoko Saryono, sastrawan cum penulis cum dosen, yang mewarnai perpustakaan UM dengan ide-ide yang menebobos kejumudan.
Masih kukuh pustakawan harus dari (ilmu) perpustakaan? Sudahlah, tidak ada itu ilmu perpustakaan.
[selesai]
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi