Sunday, 23 September 2018

Pustakawan ideal?


Malam itu, Paijo sibuk di pojok ruang rumahnya. Satu gelas kopi racikan istrinya, habis tak bersisa. Dia tak berniat meracik ulang kopi, khawatir tidak bisa tidur malam itu. Namun sudah terlambat. Segelas kopi sudah membuatnya sulit memejamkan mata.

Untuk membunuh waktu, sebuah buku diambilnya dari rak. Judulnya Perpustakaan Islam. Buku pemberian langsung dari si penulis, dengan sebuah catatan kecil pada laman depan: "semoga menginspirasi", plus tandatangan dan nama terang si penulis: Agus Rifai. Halaman buku itu dibolak-balik, dan sampailah pada halaman 154-157. Pada sebuah sub-bab berjudul tenaga pengelola perpustakan. Sub bab ini menjabarkan nama-nama pustakawan pada jaman (sesuai judul buku) peradaban Islam Klasik.

Matanya menyapu laman demi laman. Deretan nama beserta keahliannya, Paijo menandainya dengan stabilo warna-warni yang diraihnya dari atas meja. Nama pertama yang ditandainya adalah Abdus Salam, seorang pustakawan di Darl Al Kutub yang merupakan seorang pakar humaniora, ahli hadis dan leksikografi. Kemudian Al Qayrawani, pustakawan di Madrazah Nizamiyah yang merupakan pakar filologi. Abu Yusuf Al-Asfarayani, Ahmad al Abuyardi, Ali Ibn Ahmad ibn Bakr juga pustakawan di Madrasah Nizamiyah sekaligus ahli sastra terkenal.

Ibn Al Futhi, seorang pustakawan di Madrasah Al Mustansyiriah yang juga ahli sejarah. Pada perpustakaan yang sama, ada Ibn Al Sai Taj- al Din Ali Ibn Anjab yang merupakan ahli sejarah, sastra, hafidz dan ahli hadis. Ada pula Abu Mansyur Muhamad bih Ahmad yang merupakan pakar fikh mahzah syiah imamiyah, tata bahasa dan leksikografi. Al-Thai, seorang pustakawan yang juga kepala rumah sakit, dan ahli humaniora. Pustakawan perpustakaan Adud al Daulah, Ibn Miskawih merupakan pakar sejarah dan historiografi. Al Syabisyati, seorang sastrawan yang menjadi pustakawan di perpustakaan Daulah Fatimiyah.

###

Paijo tertegun. “O, jadi begini sosok para pustakawan jaman dahulu”, bisiknya. Mereka tidak hanya pustakawan, mereka juga ilmuwan pada bidang ilmu tertentu. Paijo kemudian mencoba melacak para pustakawan pada jaman sekarang.

Paijo ingat pula pada beberapa baris yang tertulis di bukunya Ziaudin Sardar. Pada buku tersebut tertulis, ibn Nadim menyebutkan pustakawan di Bayth al Hikmah merupakan sosok yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat karena kecendikiawanan mereka. Perpustakaan Al Hikmah juga dikelola oleh koleborasi sejumlah cendikiawan Muslim dan Non Muslim. Keunggulah Bayth al hikmah, yang hanya dapat dikalahkan oleh perpustkaan Madrasah Nizamiyah pada 1065 M, yaitu memiliki pustakawan tetap dengan gaji tinggi. Al Kindi, sang filosof yang juga penulis buku kedokteran, filsafat dan musik juga pernah bekerja sebagai pustakawan di Bayth Al Hikmah.  Hunain, serta dokter dari India, Duban, serta Al Khwarizmi, matematikawan tersohor  juga pustakawan di perpustakaan tersebut.

***

Matanya menerawang, melamun, dan membayangkan tokoh-tokoh pustakawan yang dikenalnya. Setiap pustakawan ditelisik, latar belakang keilmuwannya. Namun Paijo kesulitan mencari padanan pustakawan jaman klasik tersebut dengan jaman sekarang. “Mungkin jaman memang sudah berubah”, pikir Paijo. Padahal, Al-Attas, ilmuwan yang membangun perpustakaan ISTAC sudah mewanti-wanti bahwa pustakawan itu juga haruslah seorang ilmuwan. Paijo yakin, Al-Attas menyandarkan pendapatnya tersebut pada kenyataan kepustakawan jaman lampau yang tetap relevan.

Paijo membolak-balik laman internet. Paijo menemukan berbagai istilah yang sedang ngetren di dunia akademik, publikasi, dan perjurnalan. Berbagai istilah muncul, mulai dari h-indeks, g-indeks, scopus, web of science dan lainnya. Istilah ini diwakili dengan angka (metrik) yang menunjukkan performa akademisi. Metrik ini, oleh ilmuwan perpustakaan dan informasi diklaim sebagai anak kandung bibliometrik, sciencetometrik, dan informetric, yang merupakan bidang kajian dalam ilmu perpustkaan dan informasi. “Kalau benar demikian, mestinya ada campur tangan para ilmuwan perpustakaan”, Paijo memprediksi.

Rasa penasaran Paijo mengantarkanya pada siapa yang merumuskan istilah-istilah tersebut.

Impact Factor, ternyata dirumuskan oleh Eugene Garfield. Gene menempuh pendidikan pertamanya dalam bidang Chemistry, kemudian library science. Sedangkan studi doktoralnya dalam bidang linguistic. Sementara itu Jorge E. Hirsch (perumus h-indeks) merupakan profesor fisika. Leo Egghe si perumus g-indeks merupakan seorang matematikawan. Thesis keduanya  Egghe tentang information systems, hingga akhirnya berprofesi pula sebagai pustakawan (kepala perpustakaan).

Baca juga: Ilmu dan Kebijakan, unsur perpustakaan

Temuan tersebut membuat Paijo terkejut. Polanya sama dengan pada masa Islam Klasik, sebagaimana diceritakan pada buku. Garfield, Egghe, dan Hirsch merupakah ilmuwan pada bidangnya, baru kemudian nyemplung pada  dunia Perpustakaan dan informasi. Ilmu pertama yang dikuasai ketiganya, berpengaruh pada pola kajiannya pada bidang perpustakaan dan informasi.

Pustakawan jaman sekarang, didorong untuk menempatkan perpustakaan sebagai ilmu tersendiri: ilmu perpustakaan, dengan segala kajiannya. Namun, dengan cara demikian, ternyata justru tidak melahirkan seorang pustakawan yang ilmuwan. Jauh dari praktik kepustakawanan jaman dahulu. Ya, mungkin jaman memang telah berubah. Bergeser, owah gingsir, menuruti jaman.

"Jangan-jangan, memang pendidikan ilmu perpustakaanlah yang menyebabkan terdistorsinya penghargaan pada peran pustakawan", bisik Paijo dalam hati.

***

Hari itu Minggu, Paijo libur dari aktivitas kerjanya. Dia hendak ketemu sahabatnya, Karyo. Kakinya melangkah menuju rumah Karyo, yang jaraknya tak begitu jauh. Beruntung Karyo ada di emperan rumahnya, ditemani secangkir kopi dan beberapa potong singkong rebus.

"Kang Karyo. Saya mau ngomong. Penting", teriak Paijo. Mereka pun terlibat obrolan di emperan rumah. Kadang diselingi dengan tawa lepas, kadang terlihat Paijo ngotot menyatakan pendapatnya. Dasar Paijo, yang memang tak mau mengalah. Untungnya Karyo bijak. Dia tak menyalahkan jika pandangan Paijo tak sejalan dengan pandangannya. Dia hanya menanya ulang pada Paijo. Dengan cara ini dia ingin menguji sejauh mana Paijo kukuh dengan pandangannya.

"Kang, membaca profil singkat para pustakawan jaman dahulu, kok aku jadi kepikiran bahwa memang sebenarnya program inpassing pustakawan itu benar adanya. Maksudku program yang sudah benar. Pustakawan memang seharusnya memiliki kadar keilmuwan lain selain mengelola perpustakaan itu sendiri, Kang!". Paijo memulai pendapatnya.

"Apa kesimpulanmu tidak tergesa-gesa, Jo?", Karyo bertanya. "Ya, memang dasar saya baru pengamatan saja, dan itu terjadi pada masa lampau. Tapi ya tak ada salahnya, tho. Ini proses saya merenung. Lha, daripada ndak berfikir sama sekali", Paijo menjawab setengah membela diri.

"Berarti kamu setuju inpassing pustakawan, Jo?". Mendapat pertanyaan ini, Paijo langsung nerocos. "Saat ini saya berkesimpulan, Kang. Kalau setiap orang berhak jadi pustakawan. Bahkan sarjana ilmu lain pun bisa. Tidak harus sarjana (ilmu) perpustakaan. Memang, yang harus dipastikan ada cara rekruitmennya, agar inpassing tidak sekadar dimanfaatkan oleh orang yang ingin pensiun lebih lama".

Paijo memang berkesimpulan, bahwa pustakawan pada lembaga perpustakaan, idealnya merupakan pekerjaan yang tertempel pada ilmuwan bidang ilmu tertentu. Atau untuk menjadi pustakawan, tidaklah harus menempuh studi (ilmu) perpustakaan. Namun, bisa dimasuki oleh ilmuwan bidang lain, dengan ditambah kursus atau pelatihan kepustakawanan.



Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi