Tuesday, 14 August 2018

[[ senter ]]

Kisah bersama Bapak #1
Senter. Benda kecil namun berharga. Senter merupakan alat penerang yang menjadi senjata menembus malam. Sangat berguna, terutama di kampung yang belum ada listrik. Ada bebe ukuran senter. Ada yang isinya 4 batere besar, 3, atau 2. Ada juga yang berisi 2 batere tanggung. Atau paling kecil 2 batre jam dinding.

Lebih istimewa, bagi kami dulu, ketika bulan puasa memiliki senter sendiri. Ketika masih SD, membawa senter sendiri saat pergi ke masjid menjadi kebanggaan. Menunjukkan senter pada teman sebaya, akan menambah kepercayaan diri, karena berarti ada kemandirian dalam proses perjalanan menuju masjid. Saya pernah merengek minta senter, yang berukuran kecil. Bapak menjanjikan akan membelikan senter merek Tiger. Senter Tiger populer ketika itu. Sebelum akhir-akhir ini muncul senter yang bisa dicas dengan berbagai ukuran.

###

Cerita tentang senter tidak berhenti ketika saya masih SD. Bahkan ketika kuliah dan setelah menikah. Cerita senter ini masih antara saya dan Bapak.

Beberapa tahun setelah menikah, ketika pulang kampung saya masih tidur di bekas kamar semasa SMA. Kamar ini ada di serambi luar, sehingga ketika ada yang keluar rumah, pasti saya terbangun oleh suara pintu yang dibuka. Setiap pagi, menjelang subuh Bapak membuka pintu sambil membawa senter, siap-siap menuju masjid. Namun setelah mengunci pintu, senter ditiinggalkan di teras rumah. Senter tidak dibawa. Bapak sudah terbiasa menembus pagi buta tanpa penerangan. Bapak hafal jalan menuju masjid meskipun rumah kami ada di sisi paling luar dusun. Jarak ke masjid sekitar 200 meter, dengan jalan menanjak dan setengahnya tanpa penerangan. “Ko, iki sentere”, demikian kata Bapak ketika meletakkan senter di teras. Seolah membangunkan saya untuk diajak ke masjid. Ya, senter yang ditinggalkan itu untuk saya. Agar saya mudah berjalan menuju masjid.

Jika bapak belum begitu jauh melangkah, saya akan ikut bareng Bapak ke masjid. “Pak, ngentosi”, begitu teriak saya agar saya ditunggu. Jika tidak maka saya menyusul sendirian. Terkadang saya memakai senter itu, terkadang saya mengeluarkan motor agar lebih cepat sampai masjid.

"Allahu akbar-allahu akbar", suara adzan Bapak nyaring menyambut pagi. Menandakan waktu subuh sudah manjing.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi