Thursday, 16 August 2018

Semua manusia itu sejajar (catatan bimtek pustakawan 2018)

Seperti biasanya, Paijo ngopi sambil duduk di lincak, depan rumah. Tak lama kemudian Karyo datang menghampiri, ikut nimbrung. Paijo pun nerocos, cerita tentang pengalamannya ikut bimtek beberapa waktu lalu.
"Sebagai pustakawan, saya diminta sejajar sama dosen, Kang", ungkap Paijo. "Ya bagus itu. Memang harusnya demikian. Setiap manusia itu kan sejajar, yang membedakan hanya tingkat keimanannya saja", ceramah Karyo pada Paijo.
"Sejajar bagaimana, Kang. Wong di perguruan tinggi itu pustakawan tidak masuk menjadi civitas akademika, kok. Saya itu ya pembantu, membantu saja", Paijo menanggapi. "Cen ngeyel kok kamu itu, Jo".
Purwo.co. Pekan kemarin, 7-9 Agustus 2018, saya mendapatkan kesempatan mengikuti bimtek. Kegiatan yang baru pertama saya ikuti. Diselenggarakan Dikti, bertempat di kawasan Tugu Jogja. Banyak kawan yang kemudian saya kenal di acara ini. Banyak ilmu pula yang (seharusnya) bisa saya cerap.

Menyenangkan. Ketemu saudara seprofesi, dari ujung Sumatra sampai Papua. Pematerinya pun keren bin beken. Para ilmuwan dan praktisi kepustakawanan yang sudah malang melintang di jagad kepustakawanan. Ilmunya mendalam, dan pantas dijadikan teladan.

###

Tiga hari itu, kami diberi materi dengan tema besar "bagaimana membuat pustakawan menjadi mitra dosen. Sejajar, tidak lagi subordinat". Jika dipilah, kategori materi pada bimtek tersebut terbagi 3: teori  dekonstruksi, teori aplikatif, dan praktis. 


"Pustakawan itu mitra dosen, setara", kata seorang pemateri dengan semangat menggebu. Beliau seorang dosen asli (ilmu) perpustakaan. Sudah tugasnya meyakinkan produk yang dihasilkannya agar ideal dalam pekerjaannya. Jika pustakawan keren, tentunya para dosen (ilmu) perpustakaan juga akan riang gembria.  Beberapa pertanyaan juga dimunculkan: kepala perpustakaanmu dosen atau pustakawan? apa pendapatmu? mengapa dosen/pustakawan?. Pemateri lain juga memberi pertanyaan, yang membuat kami instrospeksi. Dari hal sepele: kami itu penjaga informasi atau penjaga akses?. Sampai dengan ajakan melihat visi misi institusi induk. Terus terang, saya nyontek juga. Wong tidak hafal. 


Kemudian kami diajak diskusi tentang aspek legal dari repository, plagiarisme, kemudian dikenalkan pada Scopus dan pengindeks lainnya. Tidak lupa, mbak Sinta, bapak Garuda, dan mas Arjuna, sebagai produk dari Dikti; yang dalam hal ini sebagai pemilik acara. Ada pula materi praktis: Mendeley dan Subject Plus sebagai alat membuat pathfinder online.

Banyak hal yang disodorkan pada kami, selama 3 hari itu. Tak cukuplah saya tulis di halaman ini. Yang pasti menyenangkan dan tentunya bermanfaat. Percayalah!

###
Namun, ada beberapa pertanyaan yang kemudian muncul. Di balik menggebunya pemateri yang menyampaikan bahwa pustakawan harus menjadi mitra dan sejajar dosen, apa bentuk riilnya? dan siapa yang bisa kami jadikan tauladan? Terkait pertanyaan instrospektif yang diajukan pada kami, sejauh apa pemateri menyikapi dan memberi teladan?

Sejajar, apa arti sejajar yang dimaksudkan? sejajar menurut interpretasi siapa? Interpretasi dosen (ilmu) perpustakaan, atau interpretasi si pustakawan?

Apakah ketika sebuah perpustakaan itu kepala perpustakaannya dosen, berarti tidak ada kesejajaran antara pustakawan dan dosen? Apakah ketika seorang dosen memarahi pustakawan, itu berarti pustakawan dianggap rendah oleh dosen? Apakah ketika seorang pustakawan sekolah membantu administrasi guru, itu berarti tidak sejajar?

Apakah dalam (ilmu) perpustakaan ada definisi sejajar yang nyata, sebagai acuan pustakawan untuk memosisikan dirinya?. Kalau ada, itu bagus. Karena menjadi jelas. Jika tidak ada, maka semua dikembalikan pada masing-masing pustakawan.

Kegundahan di atas beralasan. Berbagai teori yang disampaikan pemateri, merupakan dunia ideal. Kamilah, para pustakawanlah yang diharap mencapai dunia ideal itu. Bagi kami (saya), akan lebih mudah menerima ketika diberikan sosok contoh. Saya sendiri meyakini, bahwa memraktikkan itu lebih sulit dari meneorikan. Menjadi pustakawan itu lebih sulit daripada menjadi dosen (ilmu) perpustakaan. 



Pernyataan di atas bukan karena saya menyepelekan dosen (ilmu) perpustakaan, atau siapapun yang "meneorikan" (ilmu) perpustakaan. Namun realita, bahwa hitam-putihnya perpustakaan itu yang dicocor pertama kali adalah pustakawannya, bukan dosen (ilmu) perpustakaannya.  Ini bentuk pembelaan dan kebanggaan saya pada profesi pustakawan. Paling tidak sampai saat ini.

Maka, memilah cerapan ceramah dari para ilmuwan (ilmu) perpustakaan menjadi hal penting yang harus dilakukan. Pustakawan itu merdeka, bahkan juga merdeka dari intervensi dan intimidasi (ilmu) perpustakaan. 

Pemilahan ini sangat berguna dalam rangka menjaga fikiran dan proses berfikir pustakawan, agar tetap sehat dan, tentunya, merdeka.


Baca juga: Pustakawan bukan siapa-siapa

Di perguruan tinggi, pustakawan tidak masuk dalam civitas akademika. Civa hanyalah dosen dan mahasiswa. Pustakawan memang kasta kedua, tidak bisa dipungkiri. "Rajanya universitas itu mahasiswa",  kata seorang kawan. Dosen itu juga melayani mahasiswa. Apalagi kami, pustakawan. Kalau pustakawan mau setara persis dengan dosen, tidaklah bisa. Pustakawan ya pustakawan, dosen ya dosen. Titik. 

Bagi pustakawan/tendik, menjalankan pekerjaan membantu mahasiswa atau dosen, artinya tetap membantu, mensupport, mendukung. Core utama perguruan tinggi itu dosen dan mahasiswa. Semua elemen bergerak pada mereka. Termasuk pustakawan. Ini sudah sejak lama terjadi. Bentuknya saja yang berubah. Jika dulu pustakawan hanya sekedar menyimpankan buku di perpustakaan dan dipinjamkan, sekarang berubah menjadi membuatkan akun Google Scholar. Sama saja. Membantu. 


Konsep sejajar, ada pada diri masing-masing pustakawan. Ketika seorang pustakawan membantu administrasi guru, sangat mungkin itu dianggap sebagai bentuk kesejajaran oleh si pustakawan. Ketika seorang dosen marah pada pustakawan, sangat mungkin si pustakawan justru menganggap dosen tersebut tidak sejajar dengan pustakawan. Bukan sebaliknya.


Adanya dorongan agar pustakawan berupaya menyejajarkan diri dengan guru atau dosen, merupakan bentuk nyata bahwa pustakawan itu sendiri yang menganggap dirinya tidak sejajar. 

Lakukan saja tugas pustakawan secara optimal, tugas dosen secara optimal, dalam rangka mencetak lulusan yang berkualitas. Ndak usah berfikir sejajar setara.


###

Di sela acara, tersedia kopi, teh, dan juga camilan yang rasanya luar biasa. Ya, meski kadang hanya kacang rebus atau tahu goreng. Namun ketika dimakan bareng-bareng, sungguh nikmat rasanya.
Apalagi ketika istirahat tiba. Siang, atau sore dan juga pagi hari. Berbagai menu makan tersedia. Dompet yang biasanya terbuka dan kudu berhitung untuk bisa mendapatkan sepiring empek-empek, bisa bersembunyi untuk beberapa waktu.  Alangkah beruntungnya saya.
Yang lebih menyenangkan lagi, mendapat sertifikat. Konon, sertifikat ini bernilai 1 untuk modal naik pangkat. Dan, mulai kemarin, saya berniat jika ada acara bimtek lagi, ikut mencoba peruntungan. Siapa tahu lolos.
Ah, bimtek. Kapan lagi kau ada?

###

"Kang, aku tahu. Aku nemu jawabannya sekarang.". Paijo memandang Karyo serius, seolah mendapatkan wangsit dari langit. Tentunya terkait sejajarnya pustakawan dengan dosen. "Apa, Jo?".
"Sejajar itu adalah hati, Kang. Tidak bisa diukur dengan peran-peran tertentu. Kesejajaran itu ada dalam makna (pemaknaannya), tidak dalam fisik. Disingkirkan, disingkurkan bukanlah bukti bahwa kita lebih rendah. Justru bisa sebaliknya. Ketika kita dianggap rendah, maka kita sesungguhnya lebih tinggi. Kesejararan pustakawan dan dosen itu ada di hati. Hati siapa? Hati masing-masing dari kita, dalam memaknainya". Paijo menjelaskan pada Karyo, dilanjut menenggak kopi yang tinggal sepertiga gelas. 

"Pinter kamu, Jo. Kerjakan saja tugasmu dengan baik. Semua manusia itu sudah setara sejak dari lahirnya. Tak usah kau fikirkan kesetaraan semu di dunia.", Karyo mengamini.
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi