Tuesday, 14 August 2018

[[ al balad ]]

Kisah bersama Bapak #2
Gelap, tak ada penerangan. Jangkrik mengerik memecah malam. Angin bertiup, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Malam itu malam minggu. Bapak mengajak saya menuju masjid, yang letaknya 200 meteran dari rumah. Berbekal lampu senter kami menembus malam. Malam itu pengajian remaja rutin. Saya belum usia remaja, mungkin usia SD. Agaknya Bapak mengajak, sebagai upaya mendidik dan mengenalkan saya pada "pengajian". Kejadian ini sudah lama. Agak samar dalam ingatan.

Namun ada beberapa hal yang masih jelas saya ingat.

Masjid masih sepi. Setelah membuka pintu dan masuk dalam masjid, Bapak menyalakan lampu senthir, satu-satunya lampu penerang yang jamak digunakan orang kampung. Untung masih tersedia lengo pet (sebutan minyak tanah) sebagai bahan bakarnya. Sumbu senthir pun menyala. Sinarnya menerangi sudut masjid. Tidak semua sudut kebagian terangnya api senthir, namun paling tidak di bagian depan dekat papan tulis hitam (board) terlihat lebih terang.

Papan tulis hitam itu digunakan untuk tempat menulis materi sinau ngaji. Terkadang, jika pengajian libur, Bapak menuliskan pengumuman pada papan tersebut: "pengajian libur'. Sehingga siapapun yang datang di malam itu bisa membaca pengumuman. Maklum, kala itu belum ada sms atau sound system untuk mengumumkan.

###

Satu per satu remaja datang. Saya masih ingat beberapa diantaranya. Ada kang Basuki, Kang Jono, Kang Sugit dan lainnya. Malam itu, sekian puluh tahun lalu, masih saya ingat materi pengajiannya: ngaji surat Al-Balad. Surat yang terdiri dari 20 ayat, ada di urutan ke 90, dan termasuk surat Makkiyah (diturunkan di Makkah). Al-Balad berarti Negeri.

Ayat pertama, kedua, ketiga, Bapak tulis di board hitam menggunaan kapur tulis. Board hitam kecil itu tak mampu menampung banyak ayat. Secukupnya saja yang ditulis untuk kemudian dihafalkan dan dipelajari ayat demi ayatnya.  "Lā uqsimu bihāżal-balad", demikian ayat pertama yang ditulis. Bapak membacakan, kemudian ditirukan remaja yang hadir. Saya ikut menirukannya. Sampai akhirnya dalam beberapa pertemuan, pelajaran Al-Balad itu selesai.

###

Pengalaman ini masih membekas. Dari pengajian inilah saya hafal surat Al-Balad. Pada pertemuan pengajian yang berlangsung sekian puluh tahun silam. Di sebuah masjid, menggunakan penerangan senthir dan papan tulis hitam + kapur tulis. Dan yang paling istimewa langsung belajar dari Bapak
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi