Saturday, 30 June 2018

Jagongan

jagongane pithik
Jagongan, alias diskusi itu nyenengke, menggembirakan. Apalagi jika jagongannya bermutu. Ya, tentunya bermutu itu macam-macam definisinya. Tidak harus ikut definisi mahdzab tertentu. Membuat mahdzab "bermutu" yang baru, juga tidak mengapa. Membuat peserta jagongan senyum, serta mengendorkan urat yang kaku, juga bisa disebut bermutu, meski jagongannya cuma sepele. Ngomongke   telo gosong, disusul dengan tawa terbahak, karena saking lucunya muka akibat angus telo gosong, misalnya.

Demikian juga jagongannya pustakawan, khususnya tentang perpustakaan, perkembangan pustakawan, kepustakawanan. Baik dengan sesama pustakawan, dengan dosen (ilmu) perpustakaan, atau dengan siapapun yang berminat alias berkenan.

Nah, ada beberapa gaidlain, alias panduan para pustakawan dalam diskusi, menanggapi antar sesama atau dengan para ilmuwan perpustakaan.

Berdiskusi  dengan sesama pustakawan itu jelas, mau ngalor ngidul, ngetan ngulon, hasil akhirnya jelas.  Tanpa tedeng aling-aling sesama pustakawan akan mencari formula terbaik (atau bertanya balik pada lawan diskusi) dengan pertanyaan:  bagaimana contohnya. Ya, karena pustakawan berkepentingan belajar dari pustakawan lainnya dalam mengelola perpustakaan, atau menjalankan profesinya sebagai pustakawan. Berharap pustakawan lainnya telah melakukan apa yang diomongkan, atau paling tidak mau memberitahu langkah yang hendak dilakukannya.

Menanggapi diskusi dengan dosen (ilmu) perpustakaan itu pun jelas. Memang tidak serta merta dosen bisa memberi contoh, sebagai mana pustakawan. Namun, pada tingkatan intelektualitas di atas rata-rata yang dimiliki dosen (ilmu) perpustakaan, maka seorang pustakawan bisa bertanya: bagaimana sebaiknya?. Jawaban dosen (ilmu) perpustakaan tidak langsung contoh riil, karena mereka tidak (semuanya) turun langsung pada praktik kepustakawanan di perpustakaan.

Berikutnya, menanggapi diskusi dengan seorang pustakawan yang sekaligus dosen (ilmu) perpustakaan. Orang yang "nyambi" dengan dua peran ini cukup banyak. Bahkan, seorang pustakawan dengan bangganya mengatakan, "aku lagi ngajar". "Ngajar", merupakan istilah yang selama ini disematkan pada dosen. Pustakawan menyebut dirinya "ngajar", mungkin karena memang dia benar-benar ngajar, atau dia ingin masuk pada atmorfir "ngajar" yang selama ini dilakukan dosen. Untuk apa? Ya biar merasa dosen. Hehe. Berdiskusi dengan pustakawan yang sekaligus dosen (ilmu) perpustakaan itu kepenak banget. Asli, tenin. Karena sebagai pustakawan, kita bisa bertanya dua hal sekaligus: piye contone dan piye konsepe? (Bagaimana konsepnya, dan bagaiman contohnya)

Pustakawan yang nyambi ngajar ini memiliki pengalaman riil, dan juga konsepnya. Komplitlah.

Kemudian ketika berdiskusi dengan yang bukan pustakawan dan bukan dosen (ilmu) perpustakaan. Hal ini juga kepenak, atau paling tidak: jelas jluntrungnya. Pustakawan akan menempatkan lawan diskusi sebagai pemustaka yang perlu dilayani. Pada orang yang bukan berstatus pustakawan dan juga bukan dosen (ilmu) perpustakaan, seorang pustakawan bisa bertanya: mohon saran, dan apa yang bisa kami bantu?

Mohon saran, sebagai bentuk peghargaan pada sang pemustaka. Tentunya mereka perlu dilayani, atau memiliki saran (bahkan kritik) pada layanan di perpustakaan yang dikelola pustakawan. Sementara menawarkan bantuan melalui pertanyaan "apa yang bisa kami bantu", merupakan proses menjalankan substansi pustakawan pada pihak pemustaka.

Yang terakhir, rada susah menanggapinya, yaitu ketika bicara tentang perpustakaan atau kepustakawanan dengan orang yang ndak jelas statusnya, antara pustakawan atau dosen (ilmu) perpustakaan. Lah, simalakama. Contoh riil tak mendapatkan. Saran yang diberikan juga, ah, melangit. Dan susahnya lagi, saran yang melangit itu sendiri tidak dilakukannya. Mumet, tho?


###

Semua kawan diskusi harus dihargai. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bagaimanapun juga, belajar itu bisa dilakukan dari siapapun. "Setiap orang adalah guru", jarene begitu. Namun, sebagai pustakawan kudu bisa memetakan pihak-pihak di atas. Untuk apa? yang untuk menjaga diri, agar tepat dalam menanggapi. Yang paling penting lagi, untuk menjaga kese(t)imbangan pikiran. #halah.


Dekat  stasiun Gambir,  Aryaduta  kamar 703
30 Juni 2018, 05.56 pagi



Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi