Sunday, 29 April 2018

[[ tidak ada tafsir tunggal dalam (ilmu) perpustakaan ]]

Sekarang, perpustakaan tak lagi dianggap ilmu. Tengok saja nomenklatur dari penguasa tertinggi, yang akhirnya diamini oleh para penyelenggara pendidikannya. Perpustakaan dan Sains Informasi. Demikian namanya. Debat panjang nan melelahkan, adu intelektual, dan semacamnya itu tidak berdaya. Ah, lupa saya: paling tidak sudah menunjukkan siapa ada di posisi mana. Kuasa tetaplah kuasa. Tinggal menunggu waktu saja. Sekarang masih malu-malu. Seiring waktu, semua akan menggunakan nama dari penguasa.
Istirahat dalam damai....ilmu perpustakaan.
###

Konsep pengelolaan perpustakaan itu tidak tunggal. Multi tafsir. Setiap pustakawan boleh berijtihad menurut kondisinya masing-masing. Bisa beda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Tidak bisa dirampatkan.
Mulai dari yang paling jamak terlihat: klasifikasi koleksi. Boleh beda! antara satu pustakawan dengan pustakawan lainnya. Tidak ada dosa. Klasifikasi itu bukan kitab suci. Kalau toh ditarik ke benar-salah, maka: jika kode klas itu salah, si pustakawan mendapat 1 pahala. Jika benar, maka dapat 2 pahala. Demikian pula konsep lainnya.

###

Saat ini, ada berbagai konsep dalam pengembangan perpustakaan dan peran pustakawan: ada makerspace, scholarly communication librarian, embedded librarian, research librarian dan sebangsanya. Konsep itu bisa diambil, ditafsirkan, diturunkan pada ranah nyata di masing-masing perpustakaan. Pustakawan boleh berijtihad sendiri. Mengukur kemampuannya, kondisi sosial politik institusinya. Mulai dari membaca, bertanya pada orang lain, atau atas perenungan dirinya sendiri. Sah. Pustakawan lain tidak ada hak untuk menyalahkan. Paling banter memberi saran. 
Studi banding ke perpustakaan lain, baik virtual maupun nyata, diperlukan sebagai perluasan pandangan si pustakawan. Untuk modal menakar, menafsir dan berijtihad. Bukan untuk secara mentah dicontoh. Tidak.
Pustakawan mestinya merdeka. Jangan terkungkung, apalagi oleh kuasa (ilmuwan) perpustakaan. Ilmuwan perpustakaan itu tidak ada. 
Anda boleh tidak setuju dengan tulisan ini... karena memang demikianlah adanya: tidak ada tafsir tunggal dalam (ilmu) perpustakaan.
bersambung…
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi