Tuesday, 13 March 2018

(Pustakawan) Jangan malu belajar ke mahasiswa!!!

“Mas, saya diminta Prof. Djun ketemu njenengan”, mahasiswa yang bernama Dina itu menemui saya. Dia ingin tahu tentang software analisis data kualitatif.

“O, NVivo, kah? ada juga Atlas.ti”. Kami pun ngobrol ngalor ngidul. Saya sampaikan, bahwa saya belum paham benar tentang kedua software ini. Softwarenya sendiri berbayar. Namun ada trialnya 14-30 hari.

Saya carikan info terkait kedua software itu di internet. Apa fungsinya dan di mana unduhnya. Dengan satu catatan, Saya belum bisa ngajari penggunaannya!. Dina meninggalkan nomor hape, untuk saya hubungi jika suatu saat saya bisa mengajari atau ada info lanjutan tentang NVivo.

Lebih dari seminggu kemudian..

Dina kirim wa. “Pak, Fisipol pernah ada pelatihan. Ini posternya”. Saya kaget. Harusnya sebagai pustakawan, info ini saya peroleh dulu, kemudian saya sampaikan ke Dina. Saya jawab terimakasih, meski menahan malu. Untungnya lewat wa.

Singkat cerita, Saya ikut pelatihan NVivo di Fisipol. Dina juga bergabung.

Gedung Fisipol yang megah itu cukup membingungkan saya. Berbeda jauh dengan ketika saya kuliah, 16 tahun lalu. Dulu, hanya ada satu gedung baru, gedung Yong Ma. Sekarang, 90% baru. Bahkan mushola sudah berganti total.

Dengan bertanya kiri kanan, akhirnya saya temukan ruangan pelatihan. Ruangnya tidak begitu besar. Bersih, ada 20 kursi, proyektor, AC, papan tulis transparan. Mewah pokoknya. Pelatihan dimulai, jam 9-14 siang. Tentunya dipotong waktu istirahat. Seperti umumnya pelatihan, kami belajar bagaimana menggunakan software tersebut. Pematerinya Yasa dan Adat , keduanya mahasiswa pegiat CfDS. Mereka begitu mahir. Ditambah ruangan Fisipol yang nyaman, membuat pelatihan menyenangkan.

***

Seminggu berlalu. ....

Sebagaimana keseharian di perpustakaan FT UGM, jika tidak ada jadwal pelatihan, maka terkadang mahasiswa yang meminta. Saat itu, mahasiswa EGov (dulu CIO) datang menemui saya. Saya cerita tentang NVivo. Agaknya mereka banyak yang menggunakan kualitatif. Sepertinya berguna, fikir saya.

E, lha mereka tertarik. “Namun ini bukan pelatihan, lho. Hanya berbagi. Saya belum mahir.” begitu catatan saya.

Sembilan belas mahasiswa EGov itu menjadi kelas pertama NVivo di Perpustakaan FT UGM.

***

Sebagai pustakawan, jangan malu belajar pada siapapun. Termasuk dari mahasiswa. Jadilah jembatan, untuk mengantarkan kemampuan mahasiswa satu, kepada mahasiswa lainnya. Kemampuan mahasiswa tersebut beragam, dan sangat dinamis.

Bukankah musuh pustakawan yang paling besar itu pekerjaan perulangan?
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi