Tuesday, 13 February 2018

, ,

Rekreasi yang sesungguhnya (3, habis)

Tulisan sebelumnya: http://www.purwo.co/2018/02/agar-tidak-menyesal-ketika-mati-dan.html

Tubing (di) sungai. Aliran air sebagai aliran kehidupan, gelombang air adalah gelombang kehidupan, aliran menurun adalah kehidupan menurun. Ban tempat hidup yang untuk dikendalikan. Tebing kanan kiri dan bebatuan di bawah adalah ancaman. Jadi disaat kita naik butuh keseimbangan untuk mengendalikan dengan situasi dan kondisi aliran air/aliran kehidupan yang deras dan bergelombang juga kadang menurun. Kanan-kiri-bawah mengancam yang bisa membuat kita jatuh, dan disaat kita terjatuh itu bisa kembali naik ke atas atau pupus. Maksudnya dalam kehidupan disaat kita bisa kembali bangkit, naik iman takwa kita, atau kita berhenti menjadi orang yang tidak (ber)takwa lagi. (Kang Sabar, dalam memaknai wisata tubing)


Purwo.co -- Minggu tanggal 11 Februari, hari terakhir dari rentetan kegiatan 3 hari kami. Pagi itu, setelah pengajian Subuh, kami sarapan kemudian bersiap menuju arena tubing yang jaraknya sekitar 3 kilo dari tempat menginap.

Kami berjalan kaki, beriringan sambil ngobrol ngalor ngidul. Ini waktu yang saya harapkan, agar bisa menelisik lebih dalam tentang keindahan lokasi yang kami kunjungi.

Benar dugaan saya, daerah ini sangat indah. Penduduknya yang ramah, turut menambah keindahan. Klakson motor dan senyum warga yang berpapasan dengan kami menjadi buktinya. Perjalanan naik turun bukit yang cukup jauh itu menjadi tidak begitu melelahkan.

Jalan yang kami lalui hanya muat untuk satu kendaraan roda 4. Jika ada yang berpapasan, maka salah satu harus mengalah untuk berhenti dan agak minggir. Tikungan tajam juga kerap kami temui, yang memaksa kendaraan harus ekstra hati-hati. Apalagi yang belum pernah berkunjung, kemungkinan terpesona pada alamnya, bisa berpotensi membuyarkan konsentrasi dan berakibat buruk saat berkendara.

Jalan yang hanya muat satu mobil roda 4 itu semakin menyempit, yang akhirnya benar-benar hanya muat 1 mobil saja, tidak bisa berpapasan, meskipun dengan motor. Bahkan, jika ada mobil lewat, maka pejalan kaki harus berhenti dan minggir ke selokan agar mobil bisa bergerak. Di ujung  jalan, kami temukan sebuah gerbang lokasi tubing. Tidak bisa tidak, kami harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju lokasi start tubing.

###

Kami menyusuri jalan setapak di atas sebuah sungai. Jalan tersebut sudah dikeraskan pada beberapa bagian menggunakan semen. Tampak usaha agar pengunjung tubing bisa merasa nyaman berjalan ke lokasi. Jalan tersebut terletak di atas sungai, di antara dua bukit yang menjulang tinggi, hijau dengan tanaman sayur yang siap panen.

Sejauh mata memandang, selain tegalan sayuran, juga tampak orang-orang yang merambat naik-turun tegalan yang kemiringannya sekitar 80 derajat itu, untuk membersihkan rumput, memberi pupuk, mengobati, atau memanen sayuran.

Setelah beberapa waktu perjalanan, kami sampai di lokasi start. Setelah briefing tentang aspek keamanan selama tubing, kami antri memakai peralatan pengaman kemudian membawa ban yang sudah diisi angin ke titik start. Bagi yang belum dapat antrian, bisa mengisi waktu dengan berlatih memanah.

###

Kami rela antri untuk merasakan sensasi memanah di ruang terbuka. Terkadang, kami harus menunggu karena di sisi kiri sasarann ada warga yang melintas, pulang dari atau ke tegalan. Ada satu titik sasaran panah, serta dua busur yang tersedia. Jarak sasaran kurang lebih 10 meter. Teriakan girang memecah suasana, ketika salah satu diantara kami mampu membidik sasaran dengan tepat, meski tidak benar-benar menancap di tengah. Setelah semua anak panah habis, maka salah satu dari kami akan mengambil. Sementara yang memegang busur harus sabar menunggu sampai anak panah ditemukan atau dicabut dari titik sasaran.

###

Jalur tubing ditempuh pada jarak yang lumayan jauh. Batu yang ada di sepanjang sungai tampaknya benar-benar masih alami. Satu per satu kami naik di atas ban, kemudian membiarkan arus sungai bebas menyeret kami ke hilir. Benturan dengan batu, atau ketika ketemu teman yang macet, kami pun bisa berbenturan. Bukan hanya benturan, namun ada juga yang terjatuh karena tidak seimbang ketika melewati turunan. Yang tidak sigap, bisa terpisah dari ban, kemudian jatuh ke air. Tak pelak, minum air sungai sangat mungkin terjadi pada kondisi demikian. Gelak tawa pecah di antara kami.

Setelah melewati perjalanan menggunakan ban dalam tersebut, kami sampai di akhir. Tulisan yang seharusnya finish itu tertulis berbeda, agaknya disengaja, "VINISH". Tepat di sebelah batu besar yang gagah berdiri. Di lokasi finish ini ada bagian sungai yang cukup lebar dan dalam. Kami lampiaskan kegembiraan di titik ini, sambil menunggu peserta lain yang belum selesai.

Setelah semua mencapai finish, kami kembali ke titik kumpul tubing.

Di samping lokasi tubing itu terdapat air terjun. Airnya yang bening, seolah melambaikan tangan, agar kami mendekat dan merasakan kesegaran di balik dinginnya. Beberapa yang telah selesai tubing, mencoba mendekat ke air terjun ini, sembari membersihkan badan.

Yang lainnya menikmati telo goreng, dan nasi montok. Nasi montok merupakan nasi khas, yang dikukus dengan bungkus daun pisang. Lauknya semacam botok. Teh panas yang telah dituang menjadi pelengkap, yang jika tidak segera diminum akan cepat dingin dihimpit suhu pegunungan.

###

Kami pun kembali ke penginapan. Sebelum Dzuhur dan makan siang, ada sajian 15 butir duren yang siap disantap. Kami beramai-ramai menikmati duren tersebut, istiharat, kemudian sholat Dzuhur serta makan siang. Menu makan siang terakhir itu berupa soto ayam kampung, lengkap dengan kerupuk dan tempe goreng.

Kami segera berkemas. Selain berkemas, kami juga ikut membersihkan rumah yang kami tempati, sebagai bentuk terimakasih pada si empunya rumah. Ada kejadian menarik pada saat ini. Embah yang punya rumah benar-benar melarang kami membantu membersihkan rumah, hingga kadang ada adegan lucu di antara kami yang harus menghindar karena sapu atau pel yang kami pegang hendak direbut simbah. Ucapan terimakasih kami sampaikan pada Embah Kakung dan Putri pemilik rumah.

Setelah berkemas, kami berkumpul di masjid, mendengarkan pesan terakhir, kemudiah sholar Ashar lalu pulang.


###


Epilog
“Model seperti ini kayae malah menyenangkan. Selain dapat ilmu, juga dapat gembira. Plus bisa melihat pemandangan sebagai bentuk rekreasi”, demikian inti komentar beberapa kawan. Ya, tentunya dengan biaya yang murah pula. Dengan tanpa beban, tidak dikejar-kejar waktu, kita diajak untuk jujur pada diri sendiri untuk melihat sisi lain dari proses hidup yang kita jalani.

Saya tidak ingin menggiring atau merampatkan, bahwa semuanya sepakat dengan pandangan di atas. Namun, bagi saya pribadi, ini merupakan pengalaman berharga. Ada banyak hal menarik, positif yang diperoleh selama kegiatan. Pembiasaan hidup tertib, melalui kebiasaan sholat jamaah, sholat tahajud, ikut pengajian, berkunjung kepada warga, yang dibentuk selama 3 hari, harapannya dapat diteruskan ketika (khususnya) menjalankan pekerjaan di institusi.

Hidup perlu perjuangan, seperti halnya ketika bergembira tubing. Bisa jatuh, bisa naik lagi. Bisa terluka dan lainnya. Tubing itu menurun, waktu yang sudah kita lalui, tak bisa diulang lagi. Seperti yang dimaknai Kang Sabar, kawan saya, sebagaimana tertulis di awal tulisan ini.

Tamat

Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi