Monday, 12 February 2018

, ,

Akhirnya, sop daging itu meruntuhkan kekhawatiran kami (1)


Purwo.co - Kami harus merasa menjadi orang beruntung. Karena, pada dasarnya memang demikian, bukan hanya kami, namun semua orang dalam posisi beruntung. Kami berduapuluh enam, berangkat mengikuti program dari FT UGM bertajuk outbond spiritual. Dilihat dari daftar acara, kami akan dihadapkan pada sentuhan spiritual terkait pribadi kami: belajar agama, ibadah dan semacamnya.

Kegiatan ini bisa disebut baru. Selama saya bekerja, ya baru kali ini ikut kegiatan semacam ini. Biasanya tamasya, diselingi outbond di lokasi wisata. Namun kali ini berbeda. Setelah melalui perjalanan yang lumayan membuat deg-degan, naik turun bukit,  terkadang kendaraan yang kami tumpangi harus antri ketika menemukan tanjakan tajam atau merambat pelan karena harus melewati turunan tajam,  kami sampai di sebuah perkampungan. Perkampungan di lereng bukit, dengan hamparan lahan pertanian pada kemiringan 80 derajat. Sebagian siap panen, sebagian siap untuk ditanami sayuran.

Rumah-rumah di perkampungan ini saling berdekatan dan sebagian besar beratapkan seng. Hanya beberapa saja yang jaraknya cukup jauh dari rumah lainnya. Sedangkan jarak antar kampung cukup jauh, serta harus ditempuh melalui jalanan yang naik turun. Pemandangan yang hijau, perbukitan yang tampak berdiri gagah menjadi pemandangan begitu memesona. "Pemandangan inilah yang akan melengkapi kegiatan kami selama 3 hari", fikir saya. Air yang mengalir deras, bening dan terasa dingin menjadi pelengkap keindahan. Berharap, kami akan dapat waktu yang cukup untuk menelisik lebih jauh pemandangan indah ini.

Warga hilir mudik dari tegalan, berjalan atau menggunakan kendaraan bermotor. Kaki-kaki kokoh mereka menjadi bukti, bahwa mereka telah menjalani kegiatan itu sejak lama. Menyusuri jalan yang menurun, dengan sepatu boot yang mereka kenakan, menambah kesah kokohnya kaki-kaki mereka. Pupuk, hasil panen, atau rumput makanan ternak tampak mereka bawa. Senyum dan salam, selalu tersungging di wajah ketika kami berpapasan.  Hawa dingin sore itu cukup terasa, meskipun tidak begitu ekstrim. Berharap jaket yang saya bawa, bisa cukup menahan hawa dingin nanti malam.


###

Kami sampai di lokasi pukul 13.30. Beberapa orang dengan  ramah menyambut kami. Ada dua rumah yang disiapkan untuk kami, agaknya rumah penduduk yang dikosongkan sementara. Lokasinya berdampingan, di selatan masjid. Masjid ini sepertinya akan menjadi pusat kegiatan "spiritual" selama di lokasi.


"Yang ahli hisab di bawah, yang tidak hisab di atas ", suara itu cukup jelas terdengar. Sayapun kembali naik menuju rumah bagian atas, padahal sudah sampai di rumah yang ada di sisi bawah. Maklum, saya bukan "ahli hisab". Saya agak paranoid dengan asap rokok. Di kampung saya, kalau pulang ronda dan baju saya bau rokok, maka malam itu saya harus siap tidur sendirian.

Pembagian ini hanya untuk mempermudah saja, agar kepentingan "ahli hisab" dan yang bukan, tetap terakomodir. Kebijakan pembagian untuk menjaga toleransi: yang merokok menghormati perokok, yang tidak merokok juga mempersilakan yang merokok untuk merokok di tempat terpisah.

###


"Monggo istirahat dulu, nanti sholat tahiyatul masjid, kemudian kita makan bersama",  seru seorang panitia yang cukup saya kenal. "Siap, cocok Pak", begitu jawab teman-teman ketika mendengar informasi "makan"  dari panitia.  Seolah telinga dan perut kami sudah janjian untuk transfer informasi, jika ada kabar tentang waktu makan. Nasi gudeg yang kami makan ketika perjalanan, tampaknya tak lagi mampu mengganjal perut kami.

Kami menuju masjid, ambil air wudlu, kemudian sholat tahiyatul masjid, sesuai arahan panitia. Setelah itu kami bersiap makan bersama. Bau khas itu begitu terasa. "Kayake daging, Kang", bisik saya. Benar. Hidangan sop daging sapi, nasi putih, sambel, kecap, dan krupuk terhidang di ruangan masjid. Kamipun duduk berhadap-hadapan dan mulai makan bersama.  Ya, guyonan pun terkadang terlontar selama kami makan. Seorang kawan yang duduk di depan saya agaknya nambah beberapa kali. Sayapun demikian. Teman-teman yang ketika perjalanan sempat istirahat dan mampir di angkringan, agaknya juga sama, makan dengan lahapnya.

"Ini, siapa mau nambah sop?", panitia datang sambil membawa panci berisi sop. Kami pun menyambutnya. Makan sop di mangkuk yang telah habis sop-nya. Benar-benar kenikmatan yang luar biasa.

Selain di luar dugaan, sop daging sapi ini benar-benar kami nantikan. Di luar dugaan, karena kami tak menyangka, kami akan mendapatkan sop daging sebagai menu makan pertama di tempat ini. Sebagian dari kami mengira akan mendapatkan makanan yang seadanya, dan dalam jumlah yang terbatas. Sop daging yang kami santap sore itu, meruntuhkan kekhawatiran kami.

Berikutnya, selama tiga hari kami disuguhi menu yang tetap di luar dugaan. Jumat ketika sampai lokasi kami disiguhi sop daging sapi, malamnya tongseng. Sabtu pagi ada sajian bubur plus roti kemudian disambung sarapan nasi pecel, makan siang sayur lodeh lauk bandeng, tempe dan lempeng. Kemudian makan malam di hari Sabtu itu ditutup dengan nasi kebuli. Pada hari Minggu pagi, sebelum ke arena tubing kami sarapan lauk ikan bawal, sedangkan makan siang soto ayam kampung. Ketika pulang, kami diberi nasi box lauk daging. Oia, ada pesta duren pula di minggu siang sepulang dari tubing.

Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?  (Q.S. Ar-Rahman 55)

"Sekarang silakan istirahat, nanti kumpul ketika Ashar. Kegiatan kita mulai selepas Ashar", demikian seru panitia. Agaknya beliau memang menjadi penghubung antara kami, para peserta, dengan pemateri.

Kami pun istirahat.

####

Adzan pertanda masuk waktu Ashar berkumandang. Suara adzan yang tidak asing bagi kami. Ternyata, salah satu diantara rombongan kami lah yang menjadi muadzin. Suaranya memang sering terdengar di mushola kampus. Kami bergegas mengambil air wudlu, kemudian masuk masjid. Seperti disetel otomatis, melihat jamaah lain sholat dua rakaat, kamipun mengikuti.

Bersambung...

Tulisan terkait berikutnyahttp://www.purwo.co/2018/02/agar-tidak-menyesal-ketika-mati-dan.html
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi