Thursday, 11 January 2018

Konferensi ala wong ndeso

Persiapan ewuh
Purwo.co -- Ini cerita tentang sebuah konferensi, konferensi ndeso. Yang kami bahas memang bukan topik wah khas para intelektual di IFLA, CONSAL atau semacamnya. Tapi Ini juga konferensi.

Call for paper kami sederhana. Cukup dari gethok tular, atau lewat kumpulan ronda kampung, atau ketika ketemu pas pulang dari tegalan. "Kang, sesok sore kumpulan nang nggone Kang Noyo". Peserta pun datang.

Menjangkaunya pun, tak perlu pesawat, atau proposal sponsor. Jalan kaki pun cukup, bahkan tanpa alas kaki kami dapat menjangkaunya, dan itu sah. Dekat, hanya di rumah Kang Noyo yang jaraknya cukup dekat.  Ya, di rumah Kang Noyo, bukan di hotel. Hanya di depan rumah, di pelataran, tak ada kursi empuk, sekedar tanah, atau konblok. Kami ngebrok.

Yang menemani, memang bukan menu mewah ala hotel, bukan. Jauh dari itu. Hanya kacang goreng, telo bakar, kalau beruntung bisa dapat perpaduan jadah-tempe ndeso, ditemani teh panas yang airnya dimasak menggunakan perapian kayu atau bathok kelapa.

Yang kami bicarakan tanah garapan, jagung atau padi yang sedang mrekatak. Atau tentang Kang Suto yang akan punya gawe mantu anak perempuannya. Atau, tentang sungai samping rumah yang mulai mengalir. Kami bahas bagaimana cara terbaik memanen jagung dan padi, bagaimana cara membantu bot repote Kang Suto, atau bagaimana teknik mengelola sungai untuk pengairan. Tema besarnya tentang kebersamaan, tentang paseduluran, tentang hidup ayem dan tentrem.

Ini juga konferensi, lho. Bersama sedulur kampung.

Teh, pacitane jagung goreng walang goreng
Jangan salah, konferensi kami juga menghadirkan profesor. Profesor pertanian, profesor paguyuban, mantenan. Profesor kami memang bukan dari perguruan tinggi, dengan dandanan parlente, membawa laptop dan bicara dengan diksi ilmiah. Profesor kami merupakan profesor lulusan universitas kehidupan, yang dididik di hutan, di sungai, di tegalan, di kehidupan masyarakat. Pilihan kata yang digunakan juga bahasa sehari-hari. Yang dibawa juga bukan laptop, namun sepaket udud lintingan lengkap dengan klembak menyan.
profesor tata kelola air, profesor

Hasil konferensinya tak dimuat di prosiding ber-ISBN, terindeks Scopus, atau jurnal internasional, tapi dimuat dalam memori kami masing-masing. Tak ada presenter terbaik pada konferensi kami, karena semua presenter terbaik.

Konferensi kami menyenangkan. Ayem, tentrem.


Share:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi