Sunday, 21 January 2018

Formasi pustakawan utama: pandangan Paijo dan Karyo

Jembangan, wadah banyu
Purwo.co -- Karyo, pustakawan ndeso yang kini mencoba menjaga jarak dengan berbagai isu perpustakaan itu, ternyata takdirnya harus tahu juga beberapa info terkini kepustakawanan. Sebenarnya, dia sudah mencoba memotong beberapa aliran informasi pada beberapa grup agar bisa konsentrasi. “Aku pengen ngedemke pikir”, suatu ketika Karyo ngomong sama Paijo. Agaknya Karyo ingin konsentrasi pada perpustakaan yang dia kelola, namun tidak dengan aliran informasi yang tanpa batas. Cukuplah disaring, sesuai dengan kebutuhan, yang datang sesuai waktunya. Dengan cara tersebut, Karyo berharap bisa konsentrasi pula pada peran pribadinya sebagai manusia.  Ngedemke pikir, demikian istilah yang disampaikan Karyo. “Ben ayem lan tentrem. Ngono, Jo”, Karyo menjelaskan.

Namun informasi itu akhirnya sampai pula pada telinga Karyo. Informasi  tentang formasi pustakawan utama, sebuah jenjang tertinggi karir pustakawan, yang kabarnya tidak ada (dihilangkan) di perpustakaan kementrian tempat Karyo bekerja. Selain informasi di forum obrolan tak resmi, informasi tersebut ada di website perpustakaan nasional. Pada web tersebut, Karyo membaca, bahwa peraturan menteri lah yang menjadi dasar resmi tidak adanya formasi pustakawan utama. Alasan mendasarnya tidak disebutkan, kecuali hasil evaluasi jabatan.

Karyo dan Paijo ngobrol tentang isu tersebut, malam-malam sambil menikmati gorengan dan kopi tubruk. Sama seperti biasanya, kadang serius, kadang guyonan. Bagi mereka, yang penting uneg-uneg bisa dikeluarkan. Los, plong.


Obrolan mereka, biasanya ingin mencoba mencari sudut pandang lain. Sudut pandang mlipir pinggir, dengan tanpa memaksakan kehendak pada keadaan. Tujuannya sederhana: urun pikir, namun tidak ingin terbawa arus, siap pada perubahan keadaan, dengan harapan tetap tenang, ayem dan tentrem. Tentunya, mereka tetap menghormati pandangan lainnya.

Ujian solidaritas pustakawan
“Ini tentang solidaritas juga, Jo”, Karyo berkata. “Ketiadaan ini, justru menjadi ruang pembuktian, sejauh mana solidaritas para pustakawan”, lanjut Karyo. Meskipun tidak adanya jenjang pustakawan utama tersebut hanya di kementrian tertentu, namun seharusnya yang bersikap itu semua pustakawan dari semua kementrian. Karena hal ini akan menunjukkan solidaritas mereka. Kalau di kementrian lain adem ayem saja, dan terkesan menganggap “itu urusan dapur samping, dapur saya mah aman saja”, maka ini sudah mengindikasikan ketidaksolidan pustakawan. Karyo menjelaskan panjang lebar terkait aspek solidaritas ini pada Paijo.

Selain itu, juga solidaritas antar berbagai tingkatan pustakawan. Apakah para pustakawan yang masih jauh dari tingkatan pustakawan utama juga peduli, atau mereka tidak begitu terpengaruh pada isu tersebut?. Karena akan terasa aneh, jika pustakawan yang masih jauh dari strata pustakawan utama ini tidak bersuara. "Bukankah jenjang pustakawan utama itu jenjang tertinggi, cita-cita para pustakawan, seperti halnya guru besar bagi para dosen? Jangan-jangan mereka tidak tertarik", sambung Karyo.

Tak kalah penting pula, ini ujian solidaritas antar organisasi profesi pustakawan, baik perguruan tinggi, maupun yang lainnya. Paijo mengangguk, tanda dia memahami apa yang disampaiakan Karyo.

Nah, sekarang kita lihat, apa sikap resmi mereka?

Pindah kementrian
“Kabarnya, jika ingin menjadi pustakawan utama, bisa pindah ke kementrian lain”, Paijo menyela penjelasan panjang lebar Karyo. Karyo pun menimpali, bahwa jika di kementrian lain masih dimungkinkan ada pustakawan utama, maka sebenarnya solusinya memang mudah. Ya, tinggal pindah saja ke kementrian samping. Hal ini juga akan menunjukkan betapa rendah hatinya para pustakawan yang telah mencapai pustakawan utama tersebut.  Meskipun, pindah kementrian pastinya perlu proses, perlu waktu, perlu kemauan dan aturan yang memudahkan agar para pustakawan utama ini tidak terkatung-katung, dan segera bisa menjalankan perannya sebagai pustakawan utama.

Sebagai seorang pustakawan paripurna, mereka elastis, pinter mekrok, mungker mengkeret, menyesuaikan diri di manapun berada. Bahkan jika untuk menyandang predikat puncak pustakawan itu, dia harus pindah ke kementrian lain. Pada kementrian baru ini, justru dia akan punya peran lebih banyak, lebih berbobot, lebih menantang. Dia bisa membina pustakawan-pustakawan di lingkungan barunya, untuk bisa lebih maju, minimal seperti pustakawan di kementrian yang ditinggalkannya.

Paijo: “Bukankah dengan demikian, maka sebaran pustakawan berkualitas akan lebih merata, ya?”
Karyo: “ya sepertinya demikian, Jo”.

Kesimpulan kementrian yang meniadakan pustakawan utama, pasti ada dasarnya. “Jo, apakah perpustakaan perguruan tinggi tanpa pustakawan utama bisa maju?”, demikian Karyo bertanya ke Paijo. Meski wajahnya ndeso, Paijo ternyata rajin berjalan-jalan di dunia maya, di internet. Banyak perpustakaan yang Paijo “kunjungi”, dan ternyata banyak yang bagus, padahal tak ada pustakawan utama-nya. Malah, pustakawannya masih muda-muda. “Bisa saja, Kang!”, Paijo menjawab.

Filosofi kutang dan isinya
"Menganalisis jabatan pustakawan utama, bisa dianalogikan seperti kutang dan isinya", Karyo melanjutkan. "Lho, lho..... jangan sembarangan, Kang!!. Kok tidak sopan dan menyepelekan begitu sampeyan. Kalau didengar kaum ibu-ibu, bisa jadi masalah, Kang!", Paijo menjawab dengan intonasi agak naik.

"Ini pengibaratan tingkat tinggi, Jo. Ora saru, dan bukan sembarangan, serta justru menempatkan pustakawan utama pada posisi terhormat. Kutang itu penyangga, penutup. Kemudian isinya merupakan sarana saluran asupan pertama makanan bagi pertumbuhan bayi. Ini klop filosofinya, ditambah lagi keduanya melekat pada seorang Ibu,  guru pertama bagi anaknya, yang mendidik anaknya dengan kasih sayang",  Karyo menjelaskan secara hati-hati agar Paijo memahaminya.  "Jadi semacam trilogi 'kutang-isinya-sosok Ibu'. O, kalau begitu fungsi kutang menjadi sangat terhormat yo, Kang?", Paijo menyahut penjelasan Karyo dengan intonasi yang sudah menurun. "Iya, benar. Namun ingat, isi kutang akan berfungsi bagi bayi, ketika tidak dibungkus. Ini ada filosofinya juga, Jo", demikian tambah Karyo.


Relasi pustakawan dan pemustaka, ibarat relasi ibu dan anaknya. Pustakawan menjadi ibu, salah satu yang membimbing bagi orang yang haus dan perlu asupan ilmu.

### 

Status "pustakawan utama" itu bungkus, maaf, ibarat kutangnya. Peran si pustakawan itulah yang menjadi isi kutangnya. Ya, bungkus memang perlu, penting, kudu dijaga agar isinya tetap bisa menjalankan perannya dengan baik, sebagai sarana pertumbuhan seorang bayi. Kutang menjalankan peran yang signifikan. Namun, jika tak diberi bungkus, jangan kemudian langsung menyimpulkan bahwa pemilik isi kutang itu pelit. Mungkin karena dia akan menyusui, karena fungsinya akan lebih leluasa bagi pertumbuhan bayi yang menyusu, justru ketika tanpa bungkus. Peran manusia akan lebih sempurna dan memiliki tingkat keikhlasan tinggi, ketika atribut-atribut keduniawian itu dilepaskan, disingkirkan lebih dahulu.
Sama dengan pustakawan utama, dia (tetap) bisa menjalankan substansi "utamanya", (meski) tanpa bungkus pustakawan utama. 

###
Paijo: "Oo, jadi untuk memahami filosofi kutang dan isinya dikaitkan dengan pustakawan utama, memang perlu sudut pandang yang berbeda dari  biasanya difikirkan orang, ya".
Karyo: "iya, Jo. Bukankah segala sesuatu itu adalah sebuah pelajaran bagi kita, asal mau menelaahnya?"

###

Obrolan malam itu terasa nikmat. Paijo dan Karyo memang berusaha mencari sudut pandang lain dari masalah jenjang pustakawan utama di kementriannya. Sudut pandang yang mencerahkan, menenangkan, sudut pandang yang dapat menjadikan mereka siap atas berbagai konsekuensi masa depan pekerjaan mereka sebagai pustakawan. Mungkin sisi pandang mereka berbeda dengan yang lainnya, mereka menghormati semua cara pandang. Namun, Paijo dan Karyo merasa perlu cara pandang seperti yang baru saja didiskusikan agar bathin mereka tenang.

Apakah Paijo dan Karyo tidak ingin berjuang untuk martabat profesinya?. Paijo dan Karyo memang aneh, mungkin dia juga berjuang, namun dengan caranya sendiri, sesuai dengan pemaknaan "martabat profesi" yang dipahaminya. Itu hak dia, sebagaimana dia menghormati hak atau pandangan orang lain.

“Yang pasti, kita doakan saja, semoga segera ada solusi terbaik untuk semuanya. Yang sedang berjuang, segera didekatkan dengan hasil perjuangannya. Namun, kita yang masih muda-muda ini, kudu siap dengan berbagai perubahan, owah gingsiring kebijakan yang digariskan para pangemban pangembating projo”, Karyo menutup pembicaraan. “Iyo, Kang. Tak melu kowe wae. Saiki piye carane amrih ayem tentrem urip lan pikire”, Paijo menjawab dilanjutkan dengan menyeruput kopi tubruk di hadapannya.


Sambisari, 21 Januari 2018
06.46 pagi

note: perpaduan analogi "kutang dan isinya" sudah ada sebelumnya di dunia maya. Namun, saya telusuri, kesimpulan saya, penulis yang tertulis di tulisan tersebut bukan penulisnya. Oleh karena itu, nama penulis tidak saya sebutkan dalam note ini.

Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi