Monday, 6 November 2017

,

Sejak kematian monitor (TV) itu…

Purwo.co -- Tanggal 27 Oktober 2017, istri saya mengirimkan pesan melalui whatsapp. “Monitor tv-ne gak mau nyala, yah”. 

ketika masih lumayan normal
Itulah hari terakhir --sejak beberapa kali monitor dan tuner TV itu bermasalah-- tv itu bisa menyala. Sebenarnya bukan TV beneran. Tepatnya monitor komputer, yang difungsikan jadi tv, bahkan bergantian juga sebagai monitor komputer ketika masih punya CPU. Sejak menikah, kami menonton tv menggunakan monitor tersebut, dengan dilengkapi tv tuner. Kami punya 3 tv tuner.  Pertama tv tuner nggenteni dari Pak Ngudi, teman kerja di Teknik Geologi, yang beliau beli di pasar barang bekas Jogja. TV tuner pertama ini jadi percobaan.  Kemudian, karena rusak, saya membeli baru dari beberapa toko elektronik di Jogja. 

Monitor tersebut, bukan TV. Karena bukan TV, kerap saya gunakan sebagai alasan menjawab orang yang menawarkan TV kabel pada saya. “Saya mau pasang pakai apa, Mbak? Wong saya ndak punya TV”, begitu biasanya saya jawab. 

Monitor tersebut, bertahan sejak 2008 sampai 27 Oktober 2017. Dengan ditandai WA dari istri saya tersebut di atas, habislah masa bhaktinya. Sebelumnya, kabel monitor pernah meleleh, saya belikan kabel baru, beres. Namun kerusakan kali ini, bukan pada kabel yang dicolok ke listrik, namun ujung kabel yang ada di monitor plus tiga besi yang terhubung ke colokan. Meleleh. 

Selain itu, layar sudah tidak full, tidak penuh. Hanya sebagian saja yang berfungsi, sebagian yang lain hitam. Kalau menonton pertandingan bola, kami tidak dapat melihat skor dengan jelas. Ya, karena garis hitam yang ada di monitor tepat pada angka skor, bahkan juga menutup nama klub yang bertanding. Kalau nonton OK-Jek –tontonan favorit kami--, kami kadang kehilangan ekspresi Odet yang lucu, Sely yang judes. Bahkan rambut Mbak Prima yang berwarna-warni itu terkadang hanya kelihatan sebagian. Oia, namun juga ada baiknya, lho. Karena ekspresi penindasan dari Mbak Mawar pada Odet, terkadang tertutup oleh garis hitam pada monitor. Ah, syukurlah, akhirnya kami terhindar dari perasaan mangkel. 

Pertandingan U19 Indonesia vs Korsel kemarin pun, kami tidak bisa nonton. Ketika ada yang posting MotoGP di grup WA, kami tak lagi bisa menonton. Bahkan, acara Maiyahan di TV lokal Jogja itupun tinggal cerita. Satu lagi, kami kehilangan ekspresi nggaya Ari Kriting yang kerap menjawab pertanyaan Cak Lontong di acara WIB secara tepat. 

Sejak 27 Oktober, sudah seminggu lebih kami hidup tanpa TV. Rasanya ada yang hilang, namun ada yang menyenangkan. Waktu sore hari, dihabiskan dengan membaca buku (cie….), ngobrol, atau ngetik tulisan untuk blog #halah.

Selain itu, kami mengandalkan radio. MBS FM, Videk, dan beberapa radio lainnya, akrab kami putar. Campur sari asli Pak Dhe Manthos, Mas Didi Kempot, Yu Nyahni, atau lek Lasmini jadi andalan. Nama terakhir ini saya panggil Lek, karena kabarnya memang masih ada urutan saudara dengan saya. Selain itu, juga lagu kenangan, atau pengajian lokal Jogja. Tak lupa, kadang wayang kulit semalam suntuk diputar untuk mengisi suasana. 

“Hoooooooooengngngngng”, sluluk Pak Dalang itu serasa nyamleng neng ati. Oia, suara lantang anak-anak di radio Videk, yang melantunkan geguritan atau mocopatan itu sungguh sangat mengagumkan. 

###  

Siaran tivi sekarang, agaknya memang berbeda dari tv jaman kecil dulu. Kudu pinter milih saluran yang layak tonton. Ya, sekarang banyak siaran yang berkualitas di tv kabel, tapi ya ana rupo ana rego

Memilih saluran  atau siaran tivi, seperti memilih jalan hidup, memilih ideologi, memilih jalan fikiran, atau memilih masa depan. 

Saya, kami, tidak tahu sampai kapan bisa bertahan tanpa televisi. Apakah dalam jangka waktu yang lama, atau tak kuasa untuk ngitung-itung tabungan lalu beli tivi baru.

Yang pasti, sejak matinya layar TV itu, satu harapan kami: beban biaya listrik bisa turun. 

Paijo: "mesakke temen kowe, Kang".

Sambisari, 6 November 2017
3.37 dini hari



Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi