Sunday, 12 November 2017

,

Neliti.com dan disrupsi di dunia pengelolaan jurnal

Paijo: "Waduh, tautan artikel jurnalku langsung ke web Neliti"
Karyo: "Maksude piye, Jo?"

Purwo.co -- Neliti yang saya maksud adalah portal Neliti.com. Tentunya, tulisan ini hanya sebatas kecil/sedikit pengetahuan saya.

Pada webnya, Neliti didefinisikan sebagai mesin pencari penelitian yang membantu lembaga penelitian dan universitas di Indonesia untuk menemukan kembali hasil penelitian, data primer dan fakta. Sebagai mesin pencari, Neliti mengindeks berbagai sumber dan disatukan pencariannya melalui portal Neliti.com. Sehingga orang yang membutuhkan, tidak harus membuka masing-masing alamat satu/satu. Cukuplah membuka Neliti.com

Neliti beralamat di blog D, lantai 4 Perpusnas RI.  (
https://www.neliti.com/id/about)

Dalam proses mengindeks, Neliti memanfaatkan protokol OAI-PMH yang terpasang pada masing-masing jurnal, repository atau sumber lainnya. Protokol ini terpasang secara default pada berbagai aplikasi berbasis web populer yang banyak digunakan untuk mengelola jurnal atau repository. Nah, karena sudah tersedia, maka siapapun dengan kreatifitasnya dapat mengambil metadata tersebut. Hal ini sudah jamak dilakukan.

Misalnya pengambilan data menggunakan Z.3950 ke worldcat atau ke Library of Congress menggunakan aplikasi SLiMS atau aplikasi lainnya. Pustakawan sebuah perpustakaan universitas di pulau Sumatera, ada yang mengumpulkan metadata berbagai jurnal open access ke satu pintu menggunakan OHS (Open Harvester). Ini sah-sah saja, sebagai sebuah upaya mengelola informasi, dan meningkatkan visibilitas tulisan, serta memberikan layanan yang bagus untuk pemustaka mereka.

Jika sebuah jurnal/repository tidak mau diambil datanya, ya matikan protokolnya, atau batasi.
####

Nah, masalah muncul dari sini. Pada alamat https://www.neliti.com/id/news/gs-indexing, Neliti memposting berita permohonan maaf karena permasalahan indeks dari GoogleScholar yang mengarahkan sumber ke Neliti, bukan ke sumber aslinya (alamat URL jurnal atau repository).

Saya coba cari dengan kata kunci site:neliti.com pada Google Scholar, hasilnya seperti gambar di atas. Tentunya, dikaitkan dengan trafik sebuah alamat web jurnal, ini merugikan jurnal. Orang yang seharusnya membuka web jurnal, justru membuka Neliti. Jumlah trafik yang seharusnya dibukukan oleh jurnal, justru dicapai oleh Neliti. Apalagi jika trafik tersebut berkaitan dengan angka-angka sakti untuk akreditasi, pasti akan dianggap merugikan pengelola(an) jurnal. Angka tersebut turut berpengaruh pada proses naik kelasnya sebuah jurnal.

Siapa lagi yang dirugikan? Penulis? 

Ooo, tunggu dulu. Bagi peneliti, atau penulis, bisa jadi itu ndak begitu berpengaruh. Yang penting tulisan dia banyak diketahui orang. Semakin banyak sumber yang menyediakan tulisannya, semakin besar kemungkinan penulis bergembira, karena dengan begitu semakin tinggi kemungkinan orang mengutip tulisannya. Toh, dalam artikel yang diunduh, dan di web Neliti juga tercantum metadata dokumen tersebut, sehingga bagi penulis yang paham, dia tidak akan keliru kutip.

Paijo: “Kegembiraan hakiki seorang penulis artikel, adalah ketika artikelnya  dibaca dan dikutip orang lain”.
Karyo:” Sarujuk, Jo”.

#####

Paijo: “trus piye kang?”
Karyo: “pokoke, rumusnya kemudahan akses lebih utama dari prestise”.

Disrupsi
Pernah mendengar disrupsi? Ya, apa yang dilakukan oleh Neliti, agaknya merupakan sebuah kreatifitas, namun di sisi lain bisa dianggap sebagai gangguan. Ini disrupsi di dunia pengelolaan jurnal. Kreatifitas yang dilakukan Neliti menguntungkan penulis, karena visibilitas tulisannya semakin luas. Bagi pencari informasi, juga menguntungkan, karena menjadi mudah melakukan pencarian dan hanya perlu membuka satu portal saja.

Disrupsi, kata orang pintar, “menyerang” kaki-kaki. “Kaki” dari jurnal salah satunya adalah pengguna jurnal, dan juga penulis. Neliti memanjakan dua pihak ini. Nah, ibarat pengusaha taksi konvensional, atau ojek konvensional yang berteriak minta diperhatikan karena adanya kehadiran kompetitor mereka yang versi online;  maka dalam kasus Neliti, pengelola jurnallah yang kemungkinan akan berteriak karena kehadiran Neliti.

“Oei, ini trafik ke jurnal saya turun gara-gara Neliti”.
“Oei, akreditasi jurnal saya bisa terancam dong oleh Neliti, karena trafik masuk ke mereka”.

Regulasi yang terlambat

"Apakah perlu melarang internet, agar PT POS tetap hidup?". Ungkapan ini (tidak sama persis), saya baca di buku Disruption-nya Rhenald Khasali. 

Konon kabarnya, terkait disrupsi, salah satu hal yang menjadi permasalahan adalah terlambatnya regulasi, yang tidak mengikuti perkembangan jaman. Nah, dalam kasus trafik jurnal di atas, agaknya juga terkait regulasi tentang  pemanfaatan trafik tersebut. Regulasi akreditasi jurnal. Kalau demikian, kenapa tidak regulasinya yang diubah? Trafik jurnal untuk akreditasi juga diperhitungkan dari trafik pengindeks. Ya, tentunya ada pro-kontra. Okelah. Namun, kita perlu lebih bijak menyikapi.

OAI-PMH (yang terbuka) + NELITI = visibilitas penelitian.

Oie, itu kan orang asing. Data kita bisa dimiliki mereka, dong. 
Adakah yang analisisnya sampai disitu? Yang masuk di Neliti merupakan artikel jurnal yang sistemnya menyediakan OAI-PMH. Nah, rata-rata mereka menggunakan OJS. Hehe, akan lucu jika ada yang menaikkan analisisnya dengan, “OJS ini proyek pengambilan data jurnal, dengan iming-iming software gratis”.

Jika mau mengambil, kenapa harus dibuat portal publik? Bukankah cukup diam, ambil datanya, selesai. Agaknya analisis di atas, kurang tepat.

Solusi
Ski-hap (penulisannya tidak sama persis), merupakan mesin yang dianggap mengganggu pengelola jurnal, terutama jurnal besar. Kepentingan bisnis mereka terganggu. Ski-hap mendasarkan kegiatannya pada “ilmu untuk semua”. Atas jasanya, banyak penulis yang mudah mendapatkan artikel penulis lain, sehingga banyak penulis yang bertambah penyitir artikelnya.

Neliti, tentunya tidak sama persis dengan Ski-hap. Namun ada efek yang sama, yaitu terbantunya penulis artikel dan penulis yang membutuhkan artikel untuk kegiatan ilmiah mereka. Pustakawan cukup, “silakan buka Neliti.com, kita cari artikel yang dibutuhkan di url itu”.

Permintaan maaf yang disampaikan Neliti, merupakan sebuah itikad baik pengelolanya. Apalagi disampaikan bahwa tujuan Neliti yang sebenarnya adalah meningkatkan traffik web jurnal, dan membantu menyebarkan karya ilmiah di Indonesia.

Solusi dari keadaan ini, semestinya ya sinergi. Jurnal sebagai wadah resmi penerbitan artikel, lengkap dengan volume, nomor, halamannya. Sedang Neliti merupakan alat untuk memperluas cakupan sebaran artikel jurnal tersebut di dunia online. Hasilnya adalah semakin luasnya kemanfaatan artikel jurnal bagi kemaslahatan ummat manusia. Bukankah hasil itu merupakan goal dari proses ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan? Termasuk proses yang dilakukan dalam dunia jurnal.

Paijo: "semakin luas jangkauan penyebaran artikel, semakin tinggi kemungkinan h-indeks penulis naik".
Karyo: "agaknya demikian, Jo. Penulis yang senang"

Kalau mau win-win solution, Neliti cukup mengindeks metadatanya saja, jika orang membutuhkan pdf, maka diarahkan ke URL jurnal aslinya. Saat ini, sepertinya Neliti juga mengambil metadata termasuk file .pdf dari artikel. Misalnya seperti metadata "Determinan Efisiensi Teknis Usahatani Padi di Lahan Sawah Irigasi" yang file .pdf tersedia di https://media.neliti.com/media/publications/99279-ID-determinan-efisiensi-teknis-usahatani-pa.pdf.  Tentunya, solusi ini perlu saling komunikasi.

Alamat Neliti, yang ada di lingkup Perpusnas RI (seperti yang tercantum pada web neliti), menurut saya adalah bentuk cerdas Perpusnas untuk menggandeng, atau membuat sinergi. Hal-hal seperti ini, yang semestinya terus dilakukan.

Neliti.com itu bukan gangguan, tapi ikut memberdayakan.


Sambisari, 12 November 2017
7.24 pagi
Share:

2 comments:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=6ygLW5M63V4&feature=youtu.be

    Video dari Anton Neliti tentang indeks Google Scholar "Tutorial untuk membantu jurnal diindeks oleh Google Scholar (dibuat oleh Tim Neliti)"

    ReplyDelete
  2. Info update tentang perkembangan permasalahan indeksasi Neliti di GS
    https://www.neliti.com/news/gs-indexing

    ReplyDelete

Terimakasih, komentar akan kami moderasi