Saturday, 4 November 2017

Menanti doktor (ilmuwan) perpustakaan yang rela nge-blog ala Dongeng Geologi

Purwo.co – Dongeng Geologi yang saya maksud di sini merupakan blog yang beralamat di rovicky.com. Sebuah blog yang menyajikan analisis geologi terkait sebuah fenomena geologi yang terjadi. Blog ini ditulis oleh Pak Dhe Rovicky Dwi Putrohari, alumni Teknik Geologi UGM. Saya mengenal Dongeng Geologi (selanjutnya saya tulis DG) ketika bekerja di perpustakaan teknik geologi. Kurang lebih bersambungan dengan kejadian gempa jogja beberapa tahun silam.

Dongeng geologi (DG) menyajikan analisis yang enak dibaca, meskipun tentunya memuat istilah-istilah geologi. Orang awam, dapat memulai memahami ilmu geologi dari blog ini. Kumpulan informasi di dalamnya, dapat digunakan oleh masyarakat (misalnya yang terdampak bencana geologi yang diulas dalam DG) untuk memahami bencana, potensi bencana yang terjadi di sekitarnya, serta bagaimana bersikap atas bencana tersebut.

Tambahan gambar pada tulisan, mempermudah penafsiran. Lisensi copyleft yang tertera di panel sebelah kanan, mengijinkan penyebarluasan info di blog, dicetak lalu dijual atau dipakai sebagai bungkus kacang, asalkan tak menghapus catatan hak cipta, serta mencantumkan sumber. Lisensi ini, benar-benar ramah penyebaran informasi dan pengetahuan.

Paijo: “sehingga masyarakat bisa literate pada bidang geologi, Pak Dhe?”
Pak Dhe: “iyo, Thole. Baik ilmunya, bencananya dan lainnya”

Penulis menambahkan bumbu dialog antara Pak Dhe dan Thole. Dialog ini terkadang sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh pembaca, dan ingin ditanyakan pada penulis. Seperti Paijo yang bertanya pada Pak Dhe di atas. Jawaban Pak Dhe di atas, tentunya hanya rekaan saya saja. 

Sampai saat tulisan ini diposting, ada 1.633 subscriber ke blog DG. Artinya ada sejumlah 1.633 email yang setia menanti notifikasi tulisan baru Pak Dhe Rovicky. Jumlah ini tentunya besar. Agaknya dari sekian email ini, bukan hanya dari Indonesia saja, namun juga dari luar negeri. Terbukti, tulisan dari DG juga dikutip oleh tulisan ilmiah di jurnal-jurnal luar negeri. Klaim Pak Dhe Rovicky, berdasar trafik yang terekam pada server, ada 3-12 ribu pengunjung perhari, serta selama 11 tahun berjalan ada 9 juta pengunjung.

Saat ini, Pak Dhe ingin membuat DG abadi, mandiri dan memiliki pengaruh lebih besar. Silakan cek di https://kitabisa.com/impiandongenggeologi

###

Apa yang bisa dipelajari?
Saya membayangkan, jika para ilmuwan perpustakaan, yang selalu menggaungkan ilmu untuk semuanya, keterbukaan informasi, dan semacamnya itu, ada yang mau kosisten menulis dengan bahasa sederhana seperti DG, pasti akan banyak manfaatnya.

Setidaknya, tulisan ilmuwan perpustakaan tersebut akan memiliki dampak yang baik bagi pustakawan, karena memiliki sandaran sumber yang mudah dipahami untuk dilaksanakan.
Bagi orang di luar perpustakaan, akan turut memperbaiki pandangan mereka pada perpustakaan. Dan bagi siswa SMA, akan meningkatkan penilaian mereka pada (jurusan ilmu) perpustakaan, sehingga tertarik masuk jurusan (ilmu) perpustakaan. Cara ini, tentunya lebih baik dan elegan, daripada mencetak brosur, atau paling tidak akan menambah daya gedor pengenalan (ilmu) perpustakaan.

Siapa yang diharapkan menulis ala DG ini? Ya, terutama ilmuwan perpustakaan, terutama lagi yang telah bergelar doktor, yang ilmunya telah paripurna.

Para doktor ini, tentunya memiliki pengetahuan linuwih, dan cara menulis yang linuwih dibanding pustakawan yang sehari-hari bekerja di perpustakaan. Namun, tentunya cara menulis yang linuwih tadi, disesuaikan bahasanya agar mudah dipahami oleh semuanya. Menulis blog yang sederhana, menjadi bagian dari pengabdian masyarakat mereka. Untuk tulisan ilmiah bermutu setinggi langit, tentunya harus diikhlaskan jika mereka kirimkan ke jurnal atau konferensi berkelas wahid. Praktisi harus maklumi, mereka perlu bergaul dengan ilmuwan manca, untuk meningkatkan kapasitas ilmunya.

Namun,, jangan sampai para ilmuwan ini hanya fokus pada konferensi, jurnal, pertemuan ilmiah internasional atau riset kolaborasi yang yang butuh biaya banyak dan menarik namanya melambung tinggi. Tapi tidak ditemukan jejaknya di bumi.

Yakin, sudah banyak doktor bidang perpustakaan, atau ilmuwan perpustakaan yang ilmunya telah paripurna sampai di jenjang S3. Yang perlu diperbanyak, adalah mereka  yang mau menulis blog, dengan tulisan sederhana bidang kepustakawanan, yang bisa mudah diakses dan mudah dicerna, dikonsumsi semuanya.

Pak Dhe: "sehingga masyarakat bisa literate pada (ilmu) perpustakaan, Jo?"
Paijo: "njih, Pak Dhe".

Atau, jangan-jangan mereka sudah pindah ke ilmu informasi? 

Ah, ini hanya harapan. Allah lebih tahu yang terbaik untuk makhluknya.

Sambisari, 4 November 2017
7.32 pagi

Referensi

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi