Tuesday, 7 November 2017

, ,

Ilmu informasi! Opo kui?


Ngobong uwuh
Purwo.co - Di tengah perjuangan pustakawan dengan (ilmu) perpustakaan yang dipelajarinya –ya, meski juga ada pustakawan yang tidak perlu belajar (ilmu) perpustakaan di bangku kuliah-, pustakawan "diganggu" dengan ilmu informasi, atau lebih nggaya dengan sains informasi.

Sebenarnya, apa itu ilmu informasi? Eit. Sebelum dilanjut baca, tulisan ini hanya tulisan sembarangan, lho. Iseng saja, cari bahan untuk ngisi blog.

Paijo: "Kok iseng, tho?"
Karyo: "Jarene dunia ini hanya senda gurau, Jo. Apalagi cuma praktisi, bukan ilmuwan. Yo, iseng wae lah"

Kata Mbah Borco, ilmu informasi merupakan “..relating to origination, collection, organization, storage, retrieval, interpretation, transmision and utilization of information”. Ini cuma potongan saja dari keterangan Mbah Borco, tahun 1968. Pokoknya, menurut si Mbah, kaitannya dengan interpretasi, penyimpanan, pengelolaan, pemindahan, penggunaan informasi. Sepertinya ini pengertian yang cukup sederhana, namun turunannya akan sangat banyak.

###

Nah, sekarang menurut Om William tahun 1987. Ilmu informasi itu menggunakan teori, prinsip, teknik, teknologi dari berbagai disiplin ilmu untuk solusi masalah informasi. Nah, Om Willian menambahi disiplin ilmu yang tergabung pada ilmu informasi yaitu: ilmu komputer, kognitif, psikologi, logika, matematika, teori informasi, elektronik, komunikasi, linguistik, ekonomi, ilmu klasifikasi (klasifikasi opo iki, ya?), ilmu sistem, ilmu perpustakaan, dan ilmu manajemen.

Om William ini agaknya rodo nggaya. Lah bagaimana tidak nggaya, lah mau memborong berbagai ilmu digabung, jadi lotek. O, kleru, dudu lotek, tapi jadi satu dalam ilmu informasi. Lalu sedalam apa nanti ilmu yang dikuasai ilmuwan alumni ilmu informasi?. Ketika dia bisa menguasai manajemen, tapi juga psikologi, logika, juga matematika, lalu komputer dan juga elektronik, itukan sudah level ilmu dewa. Ilmu yang penguasanya pasti orang yang linuwih dibanding lainnya.

Atau, mungkin hanya kulitnya saja, atau dipilihi, diayak yang penting-penting saja terkait ilmu informasi. Misal, matematika, ndak perlu sampai tahu sin-cos-tan, tapi cukup bisa menghitung berapa kali sebuah artikel dikutip orang lain. Ya, akar kuadrat atau teori peluang juga perlu dikuasai, agar bisa memprediksi gerak acak sebuah informasi dengan lebih tepat.

Kalau ilmuwan ilmu informasi mampu memprediksi informasi yang akan muncul kemudian, apalagi pada masa-masa kampanye pilihan lurah, kan bisa dijual itu analisisnya. Hasilnya bisa untuk madhyang sekeluarga.

###

Berikutnya, Mas Saracevic. Agaknya si Om ini baru saja membuat definisi ilmu informasi, yaitu tahun 2009, sudah milenium ke tiga. Mas  Cevic menuliskan,  “information science is the science and practice dealing with the effective collection, storage, retrieval and use of information”. Penak tenan pengertian ini, mirip sama Mbah Borco.

Pada tulisan lainnya, Mas Saracevic menyampaikan bahwa ilmu informasi punya tiga karakteristik. Pertama interdisipliner, kedua tidak dapat dielakkan bahwa ilmu informasi berhubungan dengan teknologi informasi. Ketiga, bersama bidang lainnya, ilmu informasi turut berperan dalam evolusi masyarakat informasi. Ilmu informasi punya dimensi kuat pada aspek sosial dan kemanusiaan, dari pada teknologi.


###

Kurikulum ilmu perpustakaan dan ilmu informasi. Sumber sini
Ketika orang bicara perpustakaan, maka yang akan diingat atau terbayang adalah buku.  (Ilmu) perpustakaan, yang paling tua adalah mengelola buku (dalam berbagai bentuknya). Namun seiring perkembangan jaman, pembatasan “buku” sebagai yang dikelola di perpustakaan oleh pustakawan menjadi tidak lagi relevan. Kenapa? Karena yang dikelola pustakawan bukan hanya buku, tapi yang lebih luas lagi, “informasi”.

Trus, apa ilmu informasi ada sambung rapetnya dengan ilmu perpustakaan? Jelas ada. Karena secara lebih luas yang dikelola itu informasi, maka dimunculkanlah ilmu informasi. Nah, karena jaman now ini adalah jaman teknologi, maka pengelolaan informasi juga harus ada sentuhan teknologi. Yang dikelola pun juga informasi dalam arti luas. Coba saja lihat tiga pengertian di atas.

Ilmu perpustakaan sudah tidak lagi relevan, mulai terganggu, dan dari sisi pengelola program studi, daya jualnya sudah menurun. Dia harus diolah, dibumbui biar sedap, meski hasilnya akan beda nama, dikembangkan, kemudian lahirlah ilmu informasi. Kemajuan jaman, canggihnya teknologi, kenyataan mudahnya buku diperoleh di internet baik legal atau ilegal, menjadi “gangguan” bagi perkembangan (ilmu) perpustakaan. Pengembangan ilmu informasi merupakan bentuk strategi atau rumah baru, untuk bernaung  dari gangguan tersebut, atau bernaung ketika ilmu perpustakaan lambat laun menunjukkan kejenuhan.

###

Lalu apa pekerjaan santri lulusan ilmu informasi, jika dia kerja di perpustakaan? Sori lho, ya. Saya tulis perpustakaan atau “di” perpustakaan, karena Karyo dan Paijo, penghuni blog ini serta bolo dupaknya merupakan orang yang mengabdikan diri di perpustakaan, setelah mengenyam atau mencerap ilmu dari para ilmuwan yang tidak kenal lelah mengajar mereka. Mereka-mereka itu perlu tahu, apa pekerjaan orang yang akan menemani mereka bekerja di perpustakaan. Sehingga saya sodorkan pertanyaan di atas. Mereka ndak berani tanya sendiri.

Paijo: “Yo, njuk apa pekerjaan sehari-hari rekan-rekan alumni padepokan ilmu informasi?”
Karyo: “Jo, aku ya durung weruh. Nak ada alumni padepokan ilmu informasi, kabari aku. Kita bisa bareng-bareng tanyakan ada mereka. Ya idheb-idheb ngangsu kawruh.

Pertanyaan itu muncul, bukan karena takut saingan, tapi agar bisa menyesuaikan diri. Begitu kira-kira keinginan Karyo dan Paijo.

###

Njuk, apa sikap pustakawan?
Bagi  pustakawan yang memang telah jadi pustakawan dan bukan alumni ilmu informasi murni, maka bekerja sebaik-baiknya merupakan pilihan terbaik. Sembari mempelajari hal baru, sebagai bentuk kewajiban pustakawan untuk belajar sepanjang hayat.

Baca juga: Mandiri dan belajar seumur hidup: ruh pengembangan diri pustakawan

Jaman sekarang, ngejar ilmu bisa dilakukan mandiri, apalagi pustakawan. Banyak sarana yang bisa digunakan, bahkah dengan tak ada departemen ilmu informasi di sekitar kita. Lihat saja silabus ilmu informasi, pelajari secara mandiri, apa yang belum pernah dipelajari ketika kuliah ilmu perpustakaan. Coba lihat gambar di atas. Nah bandingkan saja, lalu pelajari dengan baik.

Paijo: "Lalu irisan yang belum dipelajari?"
Karyo: "kursus, Jo" 

Siapa tahu, nanti ada yang buka kursus. Seperti hobi institusi yang baru saja  punya gedung baru itu. Kan proyek baru. “Diklat menjadi ilmuwan informasi”, begitu judulnya. Apik tho?

Kalau saat ini tetap ngotot ingin tahu peran ilmu informasi di perpustakaan, lihatlah alumni ilmu informasi yang bekerja di perpustakaan, cek apa yang dilakukannya setiap hari.

Bacaan:
Saracevic, T. (1999). Information science. Journal of the American Society for Information Science, 50(12), 1051–1063. https://doi.org/10.1002/(SICI)1097-4571(1999)50:12<1051::AID-ASI2>3.0.CO;2-Z
https://www.asist.org/about/information-science/ 



Sambisari, 7 November 2017
5.39 pagi

Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi