Thursday, 23 November 2017

Di manakah sebaiknya beskem dosen (ilmu) perpustakaan?

Hujan dan kelapa muda
Purwo.co -- Departemen (ilmu) perpustakaan menempati posisi unik. Hanya beberapa saja yang menyamai uniknya departemen ini.

Dia unik, karena yang dikaji ada di lingkungannya sendiri. Pada perguruan tinggi yang memiliki departemen ini, pasti juga memiliki perpustakaan pada berbagai tingkatan. Perpustakaan yang ada, dapat sekaligus menjadi laboratorium bagi mahasiswa yang belajar pada departemen (ilmu) perpustakaan. Mahasiswanya bisa langsung praktik, menerapkan pengetahuan yang diperoleh ketika kuliah.

Paijo: “wah, jadi kudunya perpustakaan yang ada di perguruan tinggi tersebut pasti maju ya, Kang?”
Karyo: “ya pasti, Bro. Wong yang mengelola juga para winasis bidang perpustakaan, je”.
###
Nah, bagaimana dengan dosennya?
Fakultas yang memiliki laboratorium, menempatkan beskem dosen pada lab yang paling dekat dengan minat dosen yang bersangkutan. Dengan demikian, dosen bisa dekat dengan alat yang ada di lab, dekat dengan laboran yang mengelola lab, dan tentunya dekat dengan mahasiswa yang sedang nge-lab untuk menyelesaikan penelitiannya.

Kondisi di atas, menjadikan lab sebagai pusat kegiatan ilmiah antara mahasiswa-laboran-dosen dengan perannya masing-masing. Jika mahasiswa perlu alat, maka laboran akan dengan sigap membantu dan mendampingi praktikum. Jika mahasiwa dan laboran kesulitan, maka dosen akan dengan datang mudah membantu, karen memang jaraknya dekat. Dosen, menjadi tidak tercerabut dari apa yang diajarkannya. Tiga pihak tersebut bisa saling membantu.

Bagaimana dengan dosen (ilmu) perpustakaan?
Pada awal tulisan telah saya tulis, bahwa perguruan tinggi yang memiliki departemen (ilmu) perpustakaan, pasti juga memiliki perpustakaan. Nah, sesuai dengan fakta bahwa sudah umum jika dosen memiliki beskem di lab, maka tidak ada pilihan lain pula bagi dosen (ilmu) perpustakaan.

Paijo: “pilihan opo, Kang?”
Karyo: “ya pilihan nge-pos di perpustakaan, Jo”

Jika dia benar-benar memiliki ruh kepustakawanan, maka dia semestinya nge-pos di perpustakaan. Karena ruh itu akan menggiringnya untuk ke perpustakaan. Dengan begitu dia akan dekat dengan mahasiswa, dan juga dekat dengan pustakawan, sosok yang setiap hari proses “produksinya” dia lakukan. Dosen bisa ngetes ilmu yang dimilikinya dengan nge-pos di perpustakaan. Benarkah dia juga mampu melayani pemustaka dalam berbagai karakternya? Menjawab pertanyaan mahasiswa yang membutuhkan informasi atau semacamnya? Dan ikut menjadi bagian dari pemecah masalah yang muncul pada pengelolaan sehari-hari perpustakaan.

Paijo: "loh, apakah jika tidak nge-pos di perpustkaan, berarti tidak memiliki ruh kepustakawanan?"
Karyo: "ya, ndak gitu juga tho, Jo. Hanya salah satu kemungkinan penciri saja"

Dosen (ilmu) perpustakaan yang nge-pos di perpustakaan, bisa melayani kebutuhan mahasiswa level atas. Mahasiswa S3 misalnya, yang kemungkinan kebutuhannya adalah kebutuhan tingkat tinggi. Ya, maklum saja, wong mahasiswa S3. Tentunya terkait berbagai hal yang akan lebih mantap jika yang melayani adalah dosen (ilmu) perpustakaan. Atau, melayani pemustaka dari kategori dosen.

Paijo: “loh, pustakawan berarti ndak mampu, Kang?”
Karyo: “yo, mampu juga, asal belajar, Jo”.

Dia juga bisa tahu lebih banyak tentang kebutuhan mahasiswa, kesulitannya, serta memonitor kemampuan pustakawan yang sudah lahir dari proses produksi yang dia lakukan. Kalau ada kerusakan (ibarat mobil), maka dia bisa langsung memperbaikinya.

Kolaborasi pustakawan-dosen lebih mudah dilakukan. Kesehariannya mereka bertemu, sehingga sekat-sekat status di perguruan tinggi bisa dirobohkan. Semua sama, yang beda cuma gajinya.

Kegiatan konsultasi, dan bimbingan yang diperlukan mahasiswanya, juga dilakukan di perpustakaan. Maka, lengkaplah. Perpustakaan benar-benar pusat, dia dihidupkan bukan saja oleh pustakawan, namun juga secara rutin oleh dosen-dosen (ilmu perpustakaan) nya.

Dosen (ilmu) perpustakaan yang mau mengambil posisi ini, benar-benar dosen yang patut diteladani.

Sebaliknya, ketika dia masih mengasingkan diri di ruang-ruang yang jauh dari perpustakaan, maka sesungguhnya dia secara sadar membuat jarak dengan mahasiswa dan pustakawan, sosok yang diproduksinya sendiri. Dia meletakkan perpustakaan sebagai “yang lain”, terpisah, tidak menubuh.

Paijo: “jadi nge-pos di perpustakaan itu, bukan sekedar nge-pos, Kang?”
Karyo: “ya ndak tho, Jo. Kalau bisa ya ada ruang kecil buat mereka, dan ndak sekedar duduk dan ngetik di perpustakaan. Tapi juga bersama melakukan layanan pada pemustaka. Lah, seneng tho. Akur tur guyub”

Karyo, hanya sedekar menyampaikan perenungannya saja, dengan harapan apa yang direnungkan itu memberi manfaat. Karyo menyadari, ada pro-kontra pada pendapatnya. Karyo menghormati itu semua.



Sambisari
Kemis Pahing, 4 Mulud 1951 Je
05.29  enjeng

#pustakawanbloggerindonesia
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi