Monday, 23 October 2017

[vlog] Mbakar degan di kampung halaman

Purwo.co - Kali ini, tidak seperti biasanya, saya menulis bukan tentang kepustakawanan, namun tentang kampung halaman saya, Ngliparkidul. Tetapi, sepertinya Paijo tidak sepakat. Dia bersikeras, bahwa apa yang saya sampaikan ini tetap terkait kepustakawanan. “Cerita atau tulisan tentang kampung halaman, itu juga bagian dari kerja kepustakawanan”, begitu katanya. “Bahkan, ketika kita mengatakan pada teman kita, bahwa kita baru saja kentut, itu juga terkait kepustakawanan”, tambah Paijo.

Paijo, kemudian berkhotbah tentang filsafat kepustakawanannya Ranganathan, “setiap buku ada pembacanya”. Setiap informasi pasti juga ada yang memerlukannya, kalau belum ada yang mengatakan perlu, itu karena belum ditemukan siapa yang memerlukannya. Termasuk kentut tadi. Informasi bahwa kita akan kentut atau baru saja kentut, sangat bermanfaat bagi kiri-kanan kita, agar mereka bersegera menutup hidung atau menyingkir.

Jadi, apapun tulisannya, itu adalah kerja kepustakawanan, itulah hebatnya cakupan kerja pustakawan. Demikian Paijo menyampaikan dengan semangat menggebu, tentunya sambil nggaya menyanjung profesinya. Okelah, saya ikut Paijo saja. Meski kadang dipandang aneh, tapi mungkin Paijo ini menguasai ilmu laduni, atau ilham dan keyakinan yang begitu kuat. Keyakinan Paijo tersebut, agaknya ingin membuktikan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak harus diawali dengan keraguan sebagaimana banyak diyakini para ilmuwan. Tapi bisa diawali (atau lebih afdal diawali) dengan keyakinan.

Paijo: “bau apa ini, Yo?”
Karyo: “kentutku, Jo. Sorry, bro”.

####

Kampung saya ini berjarak 40-an kilometer dari tempat saya kerja, atau 30-an kilometer dari tempat tinggal saya di Kalasan. Dulu, saya pernah berfikir untuk nglajo, atau pergi pulang dari rumah/kampung ke tempat kerja. Bertemu kehidupan kampung halaman terasa sangat menyenangkan dan bisa menjadi obat dari hiruk-pikuk kehidupan kerja. Sabtu-minggu bisa digunakan untuk ke hutan, atau ke sawah menanam cabai, menaman padi, atau memetik ketela kemudian dibakar.

Jarak antara tempat kerja dan kampung halaman



Rumah saya cukup terpencil. Di sebelah timur terbentang sungai, di depan (selatan) terdapat jalan yang digunakan orang kampung hilir mudik dari dan ke hutan. Ya, begitulah, karena beberapa ratus meter di timur rumah merupakan hutan pemerintah yang dikelola warga. Sementara di sebelah selatan jalan juga terbentang tanah pertanian kas desa yang dikelola para pamong desa. Jarak rumah saya, dengan rumah lainnya cukup jauh. Di belakang, paling dekat sekitar 100 meter. Sebelah barat 150-an meter. Sebelah timur, 300-an meter, demikian pula di selatan, rumah paling dekat juga sekitar 300-an meter. Pada peta wilayah dusun, rumah saya merupakan rumah yang paling timur, di perbatasan.


Baca juga: Pustakawan itu menanggung tiga citra: dirinya, perpustakaannya, dan ilmu perpustakaan

Karena jalan di depan rumah digunakan untuk hilir mudik warga ke hutan, kami sejak kecil menjadi terbiasa dengan para warga. Ketika mereka lewat di jalan depan rumah, saling menyapa adalah prosesi yang selalu kami lakukan. “saking wono, mbah?”, merupakan pertanyaan basa-basi dari kami kepada mereka. Ya, tentu saja kami sudah tahu bahwa mereka baru saja dari hutan (jawa: wono), tapi begitulah cara kami membangun keakraban. “Pinarak”, “kendel rumiyin”, “ngrumput, De?”, dan sapaan lainnya mengikuti sapaan pertama sebagai pelengkap basa-basi. Ah, kadang juga bukan basa-basi. Ketika kami sedang membuat teh, dan ada yang lewat, kamipun serius meminta mereka untuk mampir, atau pinarak.

Kamipun bercengkerama, ngobrol tentang panen, pupuk tanaman, air, sapi ternak dan lainnya.

###

Tapi, jarak yang jauh, sekitar 40-an kilometer dari tempat kerja menjadikan saya berfikir ulang. Meski ketika ketemu teman yang nglajo,  rasanya itu bukan hal yang mustahil pula untuk saya. Jika saya ada kendaraan semacam Jamantara (kendaraan berwujud macan, milik Nini Luh Jinggan pada kisah Tutur Tinular), pasti akan lebih menyenangkan. #nglamun.

Tapi, apa yang sekarang dititipkan pada saya, harus saya syukuri. Saya bertempat tinggal di Kalasan. Jaraknya bisa ditempuh dalam kurang dari 60 menit waktu normal untuk kembali ke kampung halaman. Saya hanya perlu mengurangi beberapa hal yang memang bisa dikurangi dari kegiatan rutin, agar dapat kembali menyeimbangkan kehidupan.

Sarjana yang berhasil, adalah sarjana yang pulang kampung. Konon, kabarnya demikian. 
Saya merasa tersindir dengan kalimat di atas, semoga bukan karena perasaan saja, tapi benar-benar merasa.

Puthul, salah satu hewan yang dijadikan lauk oleh warga Gunungkidul


###

Hari itu, Sabtu 21 Oktober 2017, saya pulang kampung. Iseng membuat VLOG terkait suasana sekitar rumah. Vlog pertama tentang keadaan tanah di samping rumah, yang sedang dibersihkan, serta berbagai tanaman yang ada di atasnya. Vlog kedua, tentang kelapa muda bakar. Video diambil dengan kamera ponsel, suara kurang terdengar, belum profesional, semoga bisa ditangkap isinya.







Sambisari, 23 Oktober 2017
5:26 pagi

Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi