Friday, 11 August 2017

Menjadi mayoritas ketika minoritas

Purwo.co - Melakukan perjalanan jauh, bisa dirasakan sebagai sebuah kenikmatan, ada yang menganggap tantangan, ada juga yang dilakukan untuk liburan.


Ruang Muslim Club
Tapi ini bukan tentang liburan, namun sebuah tugas yang bagi saya cukup berat. Boleh dianggap sebagai tantangan, dengan dilengkapi unsur hiburan serta jalan-jalan. Jangan lupa bergembira.

Bu Kepala Perpustakaan UGM, menawari saya untuk datang di sebuah perhelatan pustakawan AUNILO | Libraries of ASEAN University Network di Thailand pada 10-11 Agustus 2017. Setelah beberapa pertimbangan, dan diskusi dengan istri, akhirnya saya menyanggupi tawaran tersebut. Sebagai bawahan, ya tentunya nderek saja. Bu Kepala mengutus dua orang, saya bersama seorang senior, Pak Haryanta.

###

Ketika melihat tanggal dan bulan pelaksanaan, ternyata pelaksanaannya termasuk hari Jumat. Selain itu, Thailand adalah negara yang sedikit populasi muslimnya. Sebagai seorang Muslim, saya bertanya-tanya, "di mana saya bisa melakukan sholat Jumat, dan dimana mendapatkan makanan halal?"

Sayapun mencari informasi tentang tempat pelaksanaan, Mahidol Universiti.  Ternyata Mahidol memiliki klub mahasiswa muslim, dan tersedia ruang untuk melakukan sholat, termasuk sholat Jum'at tentunya. Saya mendapatkan informasi ini dari beberapa pihak yang saya kontak. Dari web, panitia, dan dari Samadee, seorang mahasiswa Muslim di  Mahidol University, yang kontaknya saya peroleh dari panitia. Salut saya untuk panitia yang begitu sigap menjawab email saya.

Central Plaza
Selain itu, saya bertanya pada alumni Mahidol yang berasal dari Indonesia. Daftar alumni saya peroleh dari web universitas. Saya cek namanya, yang saya yakini pemilik namanya seorang muslim, saya kirimi email. Hasilnya sama, ada ruang yang disediakan untuk sholat Jum'at. Ah, lega rasanya.
Saya juga bertanya pada teman di Thailand. Prasitichai Lertratanakehakarn, yang saya kenal melalui komunitas SLiMS.

Begitulah. Karena saking ndredegnya,  apapun saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan informasi saya. Ndeso, kata orang kota.

###

Setelah perjalanan panjang Jogja-Jakarta, Jakarta-Svarnabhumi, serta perjalanan darat dari bandara di tengah macet yang memakan waktu 3 jam lebih, akhirnya, Rabu sore (9/8) jam 7 malam sampailah saya di penginapan. Sebuah hotel/pavilion yang dikelola oleh unit International Center di Mahidol University kampus Salaya. Tidak ada perbedaan waktu antara Jogja dan Salaya.

Pustakawan/panitia dari Mahidol University menjemput kami, sampai memastikan kami mendapatkan kamar menginap. Dalam perjalanan dari bandara, mereka menawarkan permen, atau minuman dengan menunjukkan logo halal minuman itu pada saya terlebih dulu. Tampak, di wajahnya tergambar kelelahan. Layanan panitia yang sangat mengesankan.

###

Sore menjelang malam itu, perasaan kami kurang nyaman dan gelisah, karena perut kami kosong. Tak ada lagi makanan tersisa di penginapan. Ketika kami bertanya tentang makanan halal, tidak ada, dan saya diminta pesan buah atau semacamnya saja dulu. Saya maklum, sepertinya restoran hotel memang sudah tutup. Tak apalah.. Kami mengucapkan terimakasih, tapi tidak jadi pesan makanan.

Malam pertama itu, kami mengganjal perut dengan mi gelas yang dibawa oleh Pak Haryanta dari Jogja. Dua mi gelas yang sempat ikut naik pesawat itupun, menjadi penolong kami dari rasa lapar.


Bersama Pak Catering muslim
Pagi harinya, kami memastikan kehalalan makan pagi di penginapan. Resepsionis penginapan mengatakan bahwa tak ada makanan halal di penginapan, dapur pun tidak halal. Demikian katanya sambil meminta maaf, dalam bahasa Inggris yang saya tangkap sebisanya.

Pagi harinya, kami menuju ke sebuah gerai waralaba di depan penginapan. Berdasarkan informasi dari sebuah blog muslim di Thailand, makanan halal Thailand ditandai dengan label halal, dalam sebuah kotak segi empat.

perburuan di waralaba
Setelah berjuang mentelengi barang dagangan, akhirnya mata saya tertuju pada sebuah bungkusan yang tidak asing, lengkap dengan logo MUI. Artinya, barang ini import dari Indonesia. Ah, halal... Kami ambil beberapa buah, tepatnya 8 bungkus, untuk pagi dan malam selama beberapa hari di negeri orang ini. Dua botol air mineral, dan dua bungkus roti berlabel halal kami beli.  Meski si penjual menyapa dan berbicara kepada kami dalam bahasa Thailand, angka yang muncul di mesin kasir, cukup membantu kami menyiapkan uang bath untuk membayar. Tidak perlu menggunakan bahasa isyarat.

Dua kali kami menyambangi waralaba ini, untuk sekedar membeli air minum yang cukup untuk kebutuhan di kamar penginapan.

Di jembatan penyeberangan depan waralaba, ada seseorang yang berpapasan dengan kami mengucapkan Assalamualaikum. Kami kaget. Apakah wajah kami ini wajah assalamualaikum, ya?. Si empunya salam, ternyata dari Malaysia. Diapun memberi informasi beberapa gerai makanan halal di sekitar penginapan.


###

Kami ikut acara workshop tentang MOOC (Massive Open Online Course) di Mahidol Learning Center. Panitia, sebelumnya menanyakan tentang jenis makanan yang diinginkan. Tentunya, saya memilih makanan halal. Ketika break, tampak di meja terdapat tanda halal, sebagai informasi bahwa makanan yang disediakan merupakan makanan halal. Seorang laki-laki berkopiah, juga mondar-mandir membawa makanan. Tampaknya, dia yang menjaga garansi halalnya makanan yang disediakan panitia.


"Innamal mu'minuna ikhwah"
Pukul 12, waktu istirahat. Saya pun mencari tempat sholat yang diinformasikan mahasiswa yang saya kontak via email. Tempat tersebut ada di lantai 2 gedung MLC.[1] Informasi petunjuk tempat sholat yang tertempel di dinding, membuat saya mudah menemukan ruang tersebut. Seorang mahasiswa saya hampiri dan tanyai tentang tempat wudhu. Mungkin karena logat saya dikenalnya, dia justru bertanya balik. "Dari Indonesia, Pak?". Mahasiswa dari Sragen, alumni UNAIR yang melanjutkan di Mahidol itu mengantarkan saya ke tempat wudhu.

Tempat wudhu tidak disediakan khusus. Namun menggunakan shower yang tersedia di kamar mandi. Ruang sholat juga tidak begitu luas, ada dua ruang yang dipisahkan oleh tembok. Kami pun menunaikan sholar Dhuhur dan Ashar dengan cara gabung-ringkas.

Beberapa mahasiswa muslim dari Indonesia belajar di Mahidol. Ada yang S2, ada yang S3. Saya menemukan mahasiswa S2 yang melanjutkan di Institute of Innovative Learning Mahidol Univ., melalui beasiswa Norwegia. Juga dosen dari IAIN Syeh Nurjati Cirebon yang sedang S3.

Ketika sholat Jum'at, mahasiswa atau tepatnya komunitas muslim ini berkumpul untuk menunaikan ibadah Jum'at. Mereka berasal dari berbagai negara, mungkin juga berbagai aliran fikih. Macam-macam asal itu, cukup terlihat dari bentuk khas wajah mereka.

Ruang sholat yang dipisahkan tembok itu, digunakan untuk ibadah Jumat. Tidak ada adzan yang berkumandang sampai berkilo meter. Sholat Jumat tanggal 11 Agustus itu di pimpin khotib, yang juga tidak melengkapi dirinya dengan sorban atau jubah putih. Cukup kupluk sederhana, berkaos lengan panjang, dan tentunya celana panjang.
Ibadah Jum'at

Salam yang diucapkan khotib menandai dimulainya ibadah Jum'at. Adzan dilakukan dengan pengeras suara, tapi tidak saya dengar di ruangan yang saya tempati. Sepertinya, pengeras itu diletakkan di ruang sebelah. Ruang sebelah yang terhalang tembok itu juga digunakan untuk ibadah Jumat. Adzannya sama. Tidak ada yang beda. Khotib membuka dengan membaca beberapa ayat Quran. Sama, tidak ada yang beda. Sampai ketika khotib mulai menjelaskan beberapa pesan khutbahnya, kalimat dalam bahasa Thai yang terdengar. Tentu saja saya tidak paham. Namun, beberapa istilah membantu saya menebak-nebak isi khutbahnya. Allah Subhana wa ta'ala, Nabi Muhammad, ayat, dan berbagai istilah lainnya, serta beberapa ayat yang dia baca, tidak ada bedanya dengan yang biasa saya dengar ketika mengikuti khutbah di Indonesia.
Semua sama
Ketika khutbah dalam bahasa Thailand itu berakhir, sebelum khotib duduk antara dua khutbah, ternyata masih ada sambungannya. Semacam pengulangan khutbah, namun dalam bahasa Inggris. Terkait hal ini, seorang mahasiswa muslim bercerita bahwa khotib Jum'at selalu bergantian, dari Indonesia, Thailand, dan negara lainnya. Kadang satu bahasa, dua atau bahkan tiga bahasa.

###

stempel halal
Jum'at itu, adalah hari terakhir saya di lokasi kegiatan. Esok harinya, kami harus kembali ke Indonesia. Sebelum kembali ke penginapan, kami mampir di kantin kampus, dan menuju ke ujung kedai. Kedai halal, terletak di ujung. Seorang bapak, dan istrinya yang berjilbab muncul dan bertanya kepada kami, dalam bahasa Thailand. Saya tak paham. Namun, setelah mengucapkan Assalamualaikum, kami pun jadi lebih akrab. Kami pesan dua porsi makanan, total harganya 65 bath. Di diskon jadi 60 bath, dan digratisi sebotol air mineral. Tak ada pembayaran langsung pada penjual. Pembayaran dilakukan di kasir, dengan kartu elektronik. Canggih.

Sebelum pulang, kami foto bersama. "Innamal mu'minuna ikhwah", kata si Bapak. Saya sahut dengan  "fa aslihu baina akhwaikum". Kami pun bersalaman, dan berpisah.

Embak penjual roti
Tiga hari, kami merasakan hidup menjadi minoritas. Namun, sesungguhnya kami menjadi mayoritas ketika minoritas. Bertemu sesama muslim, mulai dari peserta kegiatan, mahasiswa, penjaga kantin, serta si Bapak katering, menjadikan perasaan menjadi mayoritas. Prasitichai, kawan dari Thailand yang bersusah-susah mengunjungi saya di penginapan, dan mengajak jalan-jalan mengelilingi Bangkok di malam Jum'at untuk mencari makanan halal, sampai ketemu dengan seorang perempuan muslim Patani penjual roti. Panitia yang begitu ramah, informasi kebutuhan tempat sholat yang begitu mudah ditemukan, membuat saya merasa tidak minoritas.


Tak ada minoritas, semua mayoritas. Mayoritas atas dasar kemanusiaan.

Agar rasa mayoritas kita paripurna, jangan lupa bawa sabun mandi, pasta gigi dan sikat gigi ketika ke Thailand. Tentunya, sabun, pasta dan sikat gigi yang halal. Atau anda akan merasakan mandi tiga hari tanpa sabun mandi, karena khawatir sabunnya tidak halal. :). Ah, ndeso.


Salaya Pavillion, Mahidol International College, Thailand, kamar 702
sebelas Agustus 2017
delapan lima menit malam



  1. Beberapa foto tentang ruang Muslim Club, silakan lihat di http://www.li.mahidol.ac.th/AUNILO2017/travel-information/muslim-prayer-room/

Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi