Sunday, 2 July 2017

Lebaran 1438 H: bersilaturahmi dan berburu jejak silsilah leluhur keluarga

Alhamdulillah, saya mendapatkan silsilan leluhur saya, sampai 5 tingkat ke atas.
Lebaran tahun ini, saya lalui dengan libur yang cukup lama, 10 hari. Pertama, kami melewatkan lebaran di Nglipar Kidul, daerah saya berasal. Saya berniat melaksanakan apa yang sebelumnya ingin saya lakukan, sowan ke tetangga dan mengunjungi saudara, untuk menelisik jejak leluhur saya. Sebenarnya, saya pernah menelisik jejak leluhur saya dan membuat silsilah, ketika nenek dan ibu saya masih ada. Namun, kertas dokumentasi hilang entah ke mana.
tegalan/sawah yang kami garap
Mbah Suci, tetangga rumah, usianya sepantaran nenek saya. Dia sering datang ke rumah saya, saat itulah saya bertanya tentang silsilah sebagai modal awal penelusuran lebih dalam. Mbah Suci sendiri merupakan orang yang berjasa untuk kami, beliau yang membantu mengurus nenek saya ketika sakit. Saya kadang malu, mengingat kenakalan saya ketika kecil, yang iseng mengganggu mbah Suci dan Mbah Amat, ibunya.

Dari keterangan Mbah Suci, saya mendapat informasi bahwa Mbah Rikul yang merupakan orang tua dari kakek saya, merupakan saudara dari ibu Mbah Suci yang bernama Mbah Amat. Ketika ditelisik siapa orang tua Mbah Rikul, Mbah Suci tidak begitu terang menceritakan, kecuali menyebut Mbah Kasan. Namun, saya mendapatkan info tambahan tentang suami mbah Amat (Amat merupakan nama dari suaminya, nama aslinya adalah Wonorejo). Suami mbah Amat, sebut saja Mbah Amat Dalem, merupakan modin pada masanya. “Cok ngurusi wong nggantung”, begitu mbah Suci menceritakan. Hal ini juga dibenarkan oleh Pak Harto, sosok yang saya ceritakan di bagian akhir tulisan ini. Mbah Suci juga menceritakan bahwa bapaknya pernah memiliki beberapa buku kuno. Prediksi saya, buku tersebut adalah Qur’an. Sayang saya tidak dapat melihat buku tersebut.

Berikutnya, saya sowan ke mbah Rubiyem dan mbah Kasinem. Sayang, saya hanya punya waktu untuk berbincang dengan Mbah Rubiyem dan suaminya, Mbah Basuki. Karena ketika ke Mbah Kasinem, beliau sedang tidak ada di rumah. Di rumah Mbah Rub saya diminta setengah paksa untuk ikut makan, dan ketika pamit diberi beberapa tangkai buah petai segar. Teringatlah saya pada masa dulu, sering mampir di rumah ini.

kandang ternak. sekarang kosong
Saya punya kenangan indah dengan rumah Mbah Rubiyem. Ketika masih sekolah, saya sering membantu nenek saya mencari rumput untuk pakan ternak ke Kreteg. Kreteg adalah nama daerah yang kami memiliki tanah garapan di sana, kurang lebih 5 KM dari rumah. Kadang saya sendiri, kadang saya ndalani anak mbah Rub yang bernama Marsudi dan Pardi  untuk menuju tanah garapan tersebut guna mencari rumput pakan ternak. Nah, ketika pulang kadang saya mampir di rumah Mbah Rub, sekedar istirahat, dan kadang saya ikut makan di sana. Tentu saja, menuju ke tanah garapan tersebut dengan jalan kaki, dan ketika pulang harus ditambah dengan membawa pakan ternak, atau hasil panen, yang disunggi, atau dipikul. Kurang lebih 8-10 KM pulang-pergi.

Mbah Rub, merupakan anak termuda (ragil) dari Mbah Buyut saya (Mbah Taruno), dan tinggal di tabon. Tabon merupakan sebutan untuk rumah asli dari yang dituakan. Dari Mbah Rubiyem, saya mendapatkan jejak silsilah dari Mbah Taruno putra dan putri, yang nama mudanya Mbah Rantiyo dan Mbah Wantiyem. Orang tua jaman dulu, biasanya setelah menikah mengganti nama, atau menambah nama, yang jamak disebut nama tua (jeneng tuwo). Mbah Taruno putra berasal dari Ngrandu, dan memiliki beberapa saudara.

Menurut Mbah Rubiyem, masih ada satu saudara Mbah Taruno putra yang saat ini masih hidup, dan tinggal di Kulon Gedong. Sayang, saya tidak bisa berkunjung ke sana. Beberapa nama saudara Mbah Taruno putra berhasil saya peroleh.

kertas coretan silsilah
Sementara mbah Taruno putri (Wantiyem), merupakan anak dari Mbah Irojoyo (pa/pi?). Mbah Wantiyem memiliki beberapa saudara. Mbah Kromo klego, mbah Sodimejo, Mbah Ngadiko putri. Lebaran ini, saya berkesempatan ke rumah Mbah Kasiman, yang merupakan anak dari Mbah Kromo, saudara Mbah Wantiyem. Tentu saja, selain silaturahim, juga melakukan crosscheck terkait silsilah ini. Dengan keturunan Mbah Sodimejo, saya ketemu putranya, yang bernama Mbah Tukino beserta istri dan anaknya, namun hanya kebetulan di jalan. Kami bertegur sapa, salaman dan saling mendoakan.

Di rumah Mbah Kasiman, saya menemukan Mbah Kasiman putra dan putri serta dua anak, dua menantu dan cucunya. Terhadap Mbah Kasiman, saya tidak begitu asing, namun pada anaknya (Edi dan Liah), tentunya sangat asing. Maklum, puluhan tahun saya tidak ketemu. Mbah Kasiman tinggal di tabon Mbah Kromo klego. Pertama, saya mengucapkan bela sungkawa, karena salah satu anak Mbah Kasiman meninggal dunia beberapa waktu lalu. Namanya Lek Sri, yang usianya sepantaran saya. SD dan SMP nya juga satu sekolah dengan saya.
Di tempat Mbah Kasiman, saya sekaligus menengok tanah di samping rumahnya, yang dulu, ketika kecil kami garap bersama Bapak, Ibu, dan kakek nenek saya. Dulu, kami jalan dari rumah, sekitar 4-5 KM, membawa bekal, dan kadang membawa hewan ternak untuk kepentingan membajak. Tanah tersebut kami tanami padi dan palawija lainnya. Jika waktu istirahat, kami gunakan untuk jagongan, alam-alaman masing-masing. Alam-alaman, berarti berbagi pengalaman. Tak jarang, Mbah Kasiman juga memberikan makanan untuk kami nikmati sembari istirahat.

Selain ke Mbah Kasinem, Rubiyem, Kasiman, saya juga sowan ke Lek Sastro, Wari, dan Sambiyo. Tiga nama terakhir ini merupakan anak dari Mbah Ngatmo. Mbah Ngatmo (pa/pi?) merupakan saudara kandung Kakek saya, Mbah Saimin (Martowiharjo). Kecuali lek Sastro, yang merupakan menantu, dari anak kandung Mbah Ngatmo yang bernama (alm) Suji, yang telah meninggal.
Perjalanan saya, juga mengantarkan ke rumah Lek Pardi. Lek Pardi ini, secara usia di bawah saya, tapi awune lebih tua dari saya. Lek Pardi adalah anak dari Mbah Rubiyem, saudara nenek saya. Sehingga Lek Pardi ini sejajar dengan bapak/ibu saya. Karena lahir dari adik nenek (lebih muda), maka saya memanggilnya dengan Lek (Lek merupakan pemendekan dari Pak Lek, Bapak Cilek, Bapak Kecil, lawan dari Pak Dhe, Bapak Gedhe).

Semua informasi yang saya peroleh, atas rekomendasi Bapak saya, diminta untuk dicek ke Pak Harto.
Siapakah Pak Harto?
belik Nggelo
Pak Harto tinggal di samping barat sumber sungai Nggelo, putra dari Mbah Pawiro. Mbah Pawiro adalah saudara termuda dari Mbah Rikul, orang tua kakek saya. Mbah Pawiro merupakan anak termuda (ragil) dari Mbah Kasan. Atau, dalam kata lain Mbah Kasan memiliki anak: Mbah Rikul, Mbah Pawiro dan beberapa anak lainnya. Saya, masih ndenangi Mbah Pawiro. Beliau yang dulu membantu kakek saya ketika memindah rumah belakang ke depan, dan Mbah Pawiro pula yang mengecat penuwun rumah saya dengan warna kuning hijau khas kraton.  Orang yang awunya paling tua, dan sempat saya temui, selain kakek buyut Pawiro, juga Mbah Taruno putra putri, serta mbah Ngapiyo (saudara mbah Taruno putra).

Nah, Pak Harto, saat saya menulis ini, merupakan orang tertua dan masih hidup dari silsilah yang saya telisik. Sehingga cocok jika beliau menjadi tumpuan terakhir untuk pelacakan silsilah yang saya lakukan.

Dari crosscheck dengan Pak Harto, saya menemukan beberapa informasi:

  1. Mbah Kasan, memiliki anak Mbah Rikul, mbah Setro dan beberapa lainnya (9 orang). Saya lahir dari jalur mbah Rikul. Sementara mbah Setro, ternyata tinggalnya di utara rumah saya. Mempunyai keturunan yang akhirnya sampai ke Lek Sumirah. Saya terbiasa dan kenal benar dengan Lek Sumirah, namun saya baru ngeh, jika ternyata Lek Sum ini mempunyai jalur saudara dengan saya melalui Mbah Kasan.
  2. Saya berkesimpulan bahwa pekarangan saya dikampung + pekarangan Mbah Suci, + pekarangan garapan Lek Sastro, + pekarangan Lek Sum + Lek Warni/Jumio + utara lek Sum dulu kala dimiliki oleh satu orang, Mbah Kasan.
  3.  Mbah Kasan, memiliki saudara, namanya Mbah Irojoyo (pa/pi?). Nah, mbah Wantiyem adalah cucu dari Mbah Irojoyo.
  4. Dari informasi nomor tiga, maka ternyata kakek dan nenek saya merupakan cucu dari dua saudara kandung. Mbah Martowiharjo (kakek laki-laki saya) merupakan cucu dari Mbah Kasan lewat mbah Rikul. Sementara Mbah Laginem (nenek saya), merupakan cucu Mbah Irojoyo melalui Mbah Wantiyem. Dalam Bahasa jawa, Putu ketemu Putu.
  5. Informasi tambahan tentang hak milik tanah. Bahwa dulu, orang membakar lahan untuk memperoleh tanah garapan. Sampai di mana api itu berakhir, maka tanah bekas api itu menjadi hak milik si pembakar. Namun, untuk meminimalisir konflik, pemerintah membuat peraturan, yang berbunyi kurang lebih, “silakan ambil tanahnya, namun bayar pajaknya”.
Tidak semua saudara dapat saya kunjungi. Anak dari saudara kakek saya yang tinggal di seputaran Nggojo, tidak bisa saya sambangi. Kecuali pada lebaran pertama, kami melayat ke Mbah Pur. Mbah Pur merupakan anak (atau menantu?) dari mbah Kromo. Mbah Kromo merupakan saudara kandung kakek saya. Yang tidak bisa saya sambangi juga, keluarga dari keturunan Mbah Sonto Klego. Mbah Sonto merupakan saudara perempuan dari kakek saya. 

Semoga lain waktu, saya dapat mengunjungi mereka. Saya juga belum sempat ziarah ke sarean simbah buyut saya dari jalur kakek.

Sarean Eyang Taruno (Mbah Buyut saya)
Namun, Alhamdulillah, langkah kaki saya bisa membawa saya sowan ke beberapa tetangga dekat rumah, meski tidak semua. Beberapa orang sepuh bisa saya temui. Mbah Tarjan, sosok sepuh di lingkungan rumah, yang konon kabarnya nama saya juga berasal dari usulan Mbah Tarjan. Kemudian Mbah Sastro putri (Kirah), suami dari Mbah Sasto, orang yang sangat berjasa bagi saya dan banyak orang di kampung. Mbah Sastro merupakan orang pintar yang dapat menjadi sebab kesembuhan beberapa penyakit. Dulu, ketika saya demam, biasanya di bawa ke Mbah Sastro untuk di suwukke, dan sembuhlah saya. Suwuk adalah prosesi berdoa dengan air putih, lalu disemburkan ke orang yang disuwuk.

Kemudian mbah Tomo, Mbah Adi Slamet, Mbah Pawiro Sowo. Sayangnya, saya gagal bertemu Mbah Parto. Mbah Parto tinggal di selatan salah satu tanah yang kami garap. Karena itu, kami akrab. Mbah Parto juga memiliki tanah garapan persis di samping tanah kami. Usia mbah Parto sudah sangat sepuh, sudah tidak keluar rumah, sehingga saya sulit menemuinya. Dua atau tiga tahun lalu, saya masih sempat bertemu dengan beliau.

Sensasi bertemu dan silaturahmi
“kowe ki sopo”, 
“sampeyan sinten”, 
“iki mas Purwoko, yo”. 
“anake Pak Sangadi/Tamiyem?”. 
“Putune Laginem?”.

Merupakan beberapa kalimat yang keluar dari simbah-simbah yang saya temui. Sungguh menjadikan saya terharu. Pernah, saya iseng pada simbah-simbah, dengan mengatakan dalam bahasa jawa, “nderek langkung mbah, ajeng sekolah”. Artinya, “permisi mbah, ini mau sekolah”. Simbah tersebut terheran-heran, sampai kemudian saya sampaikan, “kulo Purwoko”. “Saya Purwoko”, demikian jelas saya, yang membuat simbah tersebut terkejut dan kemudian mengulang kisah saya dan teman-teman ketika lewat samping rumahnya, menuju sekolah.

“Mugo-mugo lancar gaweane, oleh rejeki sing kalal, didohke soko godo ndoyo, bisikan setan sing mbebayani uripmu, Pur”. 
“Tansah rukun, mugo-mugo uripmu iso lancar, tansah ojo lali ngibadah”. 
“Dongakno aku dowo umure, lan sik baku diparingi sehat”. 
“Mamakmu, karo simbah biyen, jian kulino karo aku, Pur.”

Kalimat di atas, adalah kalimat yang jamak disampaikan dengan ikhlas dari para sesepuh di desa pada anak-anak mereka, pada siapa saja yang sowan dan bersilaturahmi.

Untuk diketahui, bahwa meskipun saya laki-laki, hampir pada semua orang tua yang saya temui, saya menitikkan air mata, ketika mendengar doa-doa mereka untuk saya, atau doa-doa mereka untuk nenek, kakek dan ibu saya yang telah mendahului saya menghadap Allah SWT.


Suasana desa, membuat saya selalu ingin kembali ke desa.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi