Saturday, 3 September 2016

, , ,

Ngudo roso pustakawan: antara seminar dan pelatihan atau workshop bidang perpustakaan

Mungkin karena keterbatasan pengetahuan atau pemahaman saya, namun saya pikir pikir antara seminar dan pelatihan kok lebih menarik pelatihan, ya.
Banyak seminar bidang perpustakaan, namun di era sekarang, materi seminar menurut saya dapat diperoleh dari berbagai tempat. Intinya tak perlu datang ikut seminar. Sumber informasi isu yang diseminarkan juga banyak, tinggal unduh dan baca, bahkan jika ingin diskusi point seminar langsung dengan pembicara juga dapat dilakukan via email atau jaringan online lainnya. Seminar itu seolah kok ada jarak antara peserta dan pembicara. Mungkin juga ada yang ikut seminar ya mung lungo, teko, oleh sertifikat.
Sementara pelatihan, menurut saya lebih punya manfaat bagi pustakawan, karena ada praktik yang bisa dimanfaatkan. Loh, bukannya juga bisa praktik sendiri? Bisa. Keduanya bisa. Namun dari keduanya itu kok kayake lebih mengena pelatihan, ya.
Namun, nilai "bertemu dengan orang lain secara langsung", itu yang berharga, baik di seminar atau workshop. Maka ketika ikut seminar atau pelatihan, salah satu yang harus dilakukan adalah memperluas jejaring.

Apakah kemudian seminar tidak penting? atau pelatihan lebih perlu daripada seminar?
Seminar tetap penting. Namun, mana yang lebih penting akan tergantung pada pandangan orang-perorang dengan berbagai latarbelakang kepentingannya.
Mungkin pandangan saya tersebut juga dipengaruhi oleh posisi saya yang pustakawan, praktisi, bukan akademisi (dosen ilmu perpustakaan atau semacamnya). "Sebagai praktisi dan orang teknis, maka sing dipentingke yang riil-riil saja", mungkin demikian singkatnya menurut saya, setidaknya saat saya menuliskan status ini. Ketika mendengar paparan para ahli, yang saya cermati adalah "lalu apa yang seharusnya saya lakukan?", jika saya mendapatkan point dari paparannya, maka saya anggap paparannya bagus. Namun jika saya kurang bisa menangkap point "apa yang harus saya lakukan", maka itu berarti saya yang kurang pengetahuan.
Boleh setuju, boleh tidak. Rapopo, #singpentingmadhiang
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi