Monday, 19 September 2016

Menulis Ilmiah Populer di bidang perpustakaan


Selasa, 13 September 2016, saya mengikuti diskusi tentang menulis ilmiah populer. Pemantik diskusinya adalah I Made Andi Arsana, dosen Teknik Geodesi UGM. Beberapa kutipan saya peroleh, dan, seperti biasanya saya bawa kutipan tersebut ke ranah yang saya geluti, perpustakaan.
#memposisikan diri menjadi orang awam, ketika kita hendak mengantarkan bidang ilmu kita
Saya melihat, dunia tulis menulis, saat ini cukup populer bagi para pustakawan. Buku-buku terkait perpustakaan, khususnya yang populer banyak yang telah terbit. Ada kelas menulis pustakawan, blog pustakawan, tulisan di berbagai media massa tentang perpustakaan, dan semacamnya. Namun, untuk yang sifatnya ilmiah (keilmuan) yang disusun dengan bahasa populer, menurut saya masih perlu diperbanyak.
Masih sedikit tulisan populer bidang ilmu perpustakaan (khususnya para akademisi) yang menarik dibaca namun tetap punya bobot keilmuwan atau kemanfaatan bagi para praktisi. Dulu saya menemukan iperpin, yang ditulis oleh Pak Putu. Tulisan Pak Putu di blog tersebut, saya yakin ditulis dengan seruis, dangan tata bahasa yang apik agar mudah dipahami. Saking senengnya, sampai saya unduh menggunakan web copier, agar bisa saya urai dan baca setiap saya butuh, tanpa harus terkoneksi internet.
Menulis bidang kepustakawan untuk orang awam, juga bentuk promosi ilmu perpustakaan (dan informasi).
Jika dilihat, sebenarnya banyak ilmuwan bidang perpustakaan, namun dibutuhkan pula yang mampu membahasakan ilmu perpustakaan (dan informasi) lebih membumi dan menyajikan point jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh pustakawan. Atau menurunkan teori ilmu perpustakaan (dan informasi) dalam bahasa yang renyah, dan tulisan yang mudah diakses.
Belum lagi, jika pembacanya adalah bukan pustakawan, atau tidak memiliki pendidikan ilmu perpustakaan. Mungkin, akan lebih menarik lagi jika ilmu perpustakaan dapat dihantarkan kepada orang awam, atau siswa yang potensial jadi mahasiswa dengan bahasa awam, populer agar lebih mengena.
jangan sampai, justru banyak tulisan populer kepustakawanan oleh orang yang tidak berlatar belakang ilmu perpustakaan?
#menganalisis isu populer dengan ilmu kita
Perpustakaan masih dirasa dipinggirkan, namun para pustakawan berontak dan menyatakan bahwa perpustakaan itu penting. Teriakan “kami penting”, atau “perpustakaan itu penting”, tidak akan ada artinya jika tidak dibuktikan dengan kontribusi. Perpustakaan, banyak diungkap selalu dihubungkan dengan bagaimana informasi itu dikelola. Berbagai isu populer, jika ditelisik juga berkaitan dengan informasi. Mampukan ilmu perpustakaan (dan informasi) ikut menelaah dan memberi sudut pandang terkait berbagai masalah yang ada saat ini? Memang, tidak semuanya bisa dianalisis dengan ilmu perpustakaan dan informasi. Namun, setidaknya yang bisa ditelisik dengan IPI, itulah lahan garapan untuk berperan/berkontribusi pada isu/masalah sekitar.
jangan sampai pegiat yang bukan berlatar belakang ilmu perpustakaan, lebih peduli dengan perpustakaan.
#menulis populer, juga sebagai bentuk pertanggungjawaban pada penyandang dana
Menulis di jurnal adalah sebuah kebanggaan, namun menulis populer di media selain jurnal juga memiliki kontribusi yang bernilai pula. Mulai dari blog, opini koran, suara pembaca, dan berbagai rubrik lainnya. Menulis populer dengan sasaran non pustakawan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban profesi pada khalayak ramai. Apalagi bagi pustakawan yang digaji negara.
#yang dijual adalah bonusnya
Kutipan di atas sangat menarik menurut saya. “Handphone, saat ini yang dijual bukan kemampuan SMS atau menelpon, namun kemampuannya memotret dan juga kapasitas prosesornya sehingga nyaman untuk berinternet”, begitu analogi dari Pak Andi. Kemampuan pustakawan yang wajib dimiliki, mestinya juga bukan lagi nilai lebih jika ingin promosi diri. Namun kemampuan non-kepustakawanan justru akan mendongkrak nilai tawar pustakawan atau calon pustakawan. Pustakawan yang mahir jadi MC, mahir stand-up comedy, mahir kaligrafi, mahir menggambar kartun, menulis cerpen, justru nilai lebih tersendiri.
Apa yang sebaiknya dilakukan praktisi?
Dihadapkan pada berbagai istilah perkembangan bidang perpustakaan, bagi praktisi, seperti ditempatkan pada ruang yang terjepit di empat penjurunya. Pustakawan praktisi memang bukan akademisi (pendidik ilmu perpustakaan). Di perguruan tinggi, pustakawan juga bukan seorang civitas akademika.
“Belajar sepanjang hayat”, yang berlaku bagi siapapun, tentunya juga berlaku bagi praktisi pustakawan. Penjabarannya sederhana: belajar kapanpun, dimanapun, dari siapapun. Mencoba melakukan hal baru, mencoba menguasai kemampuan baru, termasuk di dalamnya adalah menulis populer agar khalayak ramai tahu apa itu perpustakaan, dan apa itu ilmu perpustakaan dari sudut pandang yang paling shahih, yaitu para pustakawan.
Apakah semua harus menulis populer? Tentunya kudu berbagi peran, sasaran jurnal ilmiah level nasional, bahkan internasional juga kudu dimainkan. Tergantung kita, para pustakawan, mau memilih jalan yang mana.


Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi