Thursday, 1 September 2016

, ,

FPPTI DIY, salah satu kawah tempat saya belajar

FPPTI, atau  Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia, khususnya yang ada di wilayah DIY merupakan organisasi penting dalam sejarah kepustakawanan saya. Di organisasi inilah, dari tidak tahu saya menjadi tahu banyak hal dengan berbagai dinamikanya.

Berawal dari pinangan Bu Umi Proboyekti tahun 2010, saya mengiyakan ketika diajak menjadi pengurus FPPTI DIY. Saya duduk di divisi TI bersama Ibu Anastasia Tri Susiati, MA (Kepala Perpustakaan UAJY). Saat itu saya masih bekerja di Perpustakaan Teknik Geologi UGM. Pinangan yang menurut saya sangat luar biasa, saya terima. Saya fikir tak ada salahnya saya belajar kepada orang lain, dan belum saya kenal.

Profil Umi Proboyekti saya cari di internet. Saya dapatkan berbagai informasi dan keterkarikan beliau pada literasi informasi. Tak aneh jika Beliau menjadi salah satu pemrakarsa LI di DIY. "Ah, pasti saya akan banyak belajar dan mendapat banyak hal", fikir saya. Namun, apa yang bisa saya beri ketika saya mendapat banyak hal?. Sambil jalanlah, sambil belajar.

Pada kepengurusan 2010-2013 ini pula, saya mendapat kesempatan pergi belajar ke Brunei Darussalam mengikuti acara kepustakawanan. Tentunya, lagi-lagi ini menjadi wadah belajar yang sangat berarti bagi saya. Mulai dari persiapan presentasi, melakukan presentasi, persiapan berangkat, pulang, termasuk cari dana **halah**. Berbagai tema diskusi FPPTI periode ini, saya ikuti. Bahkan dengan murah hati pengurus, saya diminta mengisi salah satu sesi DIP atau Dialog Ilmiah Perpustakaan. Grogi tak terkira menjelang acara, namun terimakasih tak terhingga untuk semua pengurus. Pada periode ini pula, pertama kali saya mendapat pengalaman menjadi panitia kegiatan nasional, Munas FPPTI 2012 di Yogyakarta. (tentang munas ini, klik di sini). Luar biasa tentunya.

Pergantian kepengurusan menuju 2013-2016 diselingi dengan tragedi "tiwul".

Pada 2013-2016, ketika ketua terpilih mencari pengurus, saya diajak kembali. Bu Susi, yang menjadi ketua periode ini menempatkan saya di divisi SDM. Hahaha, tak terkira berapa banyak pembelajaran saya pada periode ini. Meski rodo mbeling, namun terimakasih saya dimaklumi. Selain pengalaman dalam bentuk kegiatan di Jogja atau di luar Jogja, pengalaman juga saya dapatkan dalam bentuk diskusi ide yang berseliweran. Baik dari kepala masing-masing kami, atau dari luar yang dibawa ke pengurus. Alangkah beruntungnya saya, jika saya tidak jadi pengurus, pastinya saya tidak akan mendapat kesempatan memperoleh berbagai ide atau informasi terkini dunia kepustakawanan. Paling tidak, energi untuk memperolehnya lebih sedikit. Terimakasih..

Dua periode, atau kurang lebih 6 tahun, atau sekitar 74 purnama saya ikut bersama FPPTI DIY. Terimakasih atas semuanya.

Akhirnya, pada periode berikutnya... saya ucapkan selamat mengemban amanah untuk pengurus 2016-2019. Teman-teman pasti bisa, "beban amanah tak akan salah memilih pundaknya" (ups, saya mengutip siapa ya, yang pasti ini buka kata-kata saya, saya pernah dengar kalimat ini dari istri saya, sumber aslinya mungkin ini). Menjadi pengurus FPPTI DIY adalah pengalaman berharga, percayalah.

FPPTI DIY merupakan wadah yang tepat untuk pengembangan diri pustakawan Jogja.

Selamat menjalankan tugas, dan sukses.. Semakin banyak orang yang mendapatkan kesempatan menjadi pengurus FPPTI, semakin baik pula untuk perkembangan kepustakawanan DIY.

Terimakasih FPPTI DIY atas semuanya, dan mohon maaf atas semua kekurangan saya.Terimakasih pula untuk semua pihak, termasuk UGM yang memberi saya kesempatan menjadi pengurus organisasi kepustakawanan di luar UGM.


Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi