Friday, 29 January 2016

,

FAQ tentang masalah pustakawan.

Di bawah ini, FAQ terkait kejadian dan (mungkin) keluhan pustakawan. Jawabannya, mungkin tidak umum, alias tidak sama dengan pandangan banyak orang. Maaf. Namanya juga iseng. Jawaban disusun atas dasar keisengan, namun tidak menutup kemungkinan ada unsur kebenarannya.

------------------

Mengapa pustakawan ada yang diberi pekerjaan tambahan?
Pertama: kemungkinan atasan menganggap pekerjaan pustakawan terlalu ringan. Cuma meminjam dan mengembalikan buku saja. Maka, diberilah tambahan pekerjaan.
Kedua: kemungkinan si pustakawan pinter, maka dioptimalkan dengan pekerjaan tambahan
Ketiga: staf administratifnya kurang, maka pustakawan harus merangkap pekerjaan. Keempat: pustakawan dirasa gajinya kecil, dengan pekerjaan tambahan maka pimpinan bisa memiliki alasan legal untuk menambah honor pustakawan. 
Mengapa pustakawan ada yang dipindah  ke bagian TU?
Pertama: kemungkinan TU kekurangan staf, dianggap pekerjaan di perpustakaan cuma pinjam dan kembali saja, atau memang selama ini perpustakaan dicitrakan sebagai tempat yang hanya meminjam dan kembali buku saja,  maka dikurangi staf perpus untuk dipindah di TU. Atau perpus dijadikan sambilan saja, kalau pas dibutuhkan baru dibuka. Kalau pas tutup, staf ada di TU.
Mengapa perpustakaan ada yang diisi/diberi staf lulusan SMA?
Pertama: pimpinan menganggap dan berharap, pekerjaan di perpustakaan hanya mencatat buku, meminjamkan dan mengembalikan buku saja. Itu kan cuma pekerjaan kecil, tak perlu sekolah tinggi dan ijazah perpustakaan untuk menjalan peran itu. 
Honor pengelola perpus lebih kecil dibanding honor TU?
Kemungkinan, pekerjaan pustakawan itu dianggap risikonya kecil. Dia hanya berhubungan dengan pemustaka. Kalau TU, bisa berhubungan dengan instansi lain. Kan berabe kalau pekerjaannya keliru. Pustakawan salah beri label, salah beri call number, risikonya kecil. 
Kepala perpustakaan dipegang bukan oleh pustakawan?
Ini jalan pahala lho. Kan kasihan, kalau guru ndak dapat angka kredit. Lumayan ketika diminta jadi kepala perpus, bisa buat nambah angka kreditnya. Bagi pustakawan, anggap saja itu sedekah, dari pada bikin sakit hati. Ndak kuat? keluar saja. Selesai.
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi