Thursday, 2 July 2015

, , , ,

Ketertarikan pada bidang ilmu dan pustakawan terbang : menentukan jumlah dan penempatan pustakawan

perhitungan kebutuhan staf
Ditempatkan di perpustakaan bagus, teknologinya modern, gedungnya megah, pekerjaannya mudah, gajinya tinggi, insentif lancar.. Pastinya banyak pustakawan yang menginginkan hal ini. Pertimbangan ini secara umum adalah pertimbangan dari si pustakawan itu sendiri.

Namun pertimbangan lain yang lebih penting adalah dari sisi manajemen. Pertimbangan tersebut adalah: kebutuhan serta jenjang jabatan pustakawan yang disesuaikan dengan kebutuhan jumlah pustakawan. Selain itu, hobby dan ketertarikan bidang ilmu juga memiliki peran penting dalam penempatan pustakawan. Pertimbangan-pertimbangan ini berlaku pada keadaan staf telah tersedia, dalam rangka menempatkan staf. Bukan tentang rekruitmen.

Kebutuhan disesuaikan dengan pekerjaan yang dilakukan berbanding jumlah staf, apakah masih dibutuhkan (ditambah/dikurangi) dan berapa jumlah idealnya. Jenjang jabatan disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang ada; jenjang pustakawan apa yang dibutuhkan pada bagian tersebut+kompetensi. Jenjang jabatan pustakawan dan jumlah pustakawan yang ideal harus klop.

Hobby dan ketertarikan bidang ilmu pustakawan yang dipertemukan dengan lingkungan perpustakaan yang sesuai dengan bidang ilmu tersebut, menurut saya akan berimbas positif terhadap perkembangan perpustakaan. Pustakawan yang memiliki ketertarikan ilmu bidang filsafat, tempatkan di perpustakaan filsafat. Pustakawan yang memiliki ketertarikan pada bidang sastra, tempatkan di bidang sastra. Dan seterusnya. Dengan demikian, maka pustakawan juga akan bergelut dengan konten tidak hanya dengan fisik koleksi.

Setelah jumlah pustakawan, jenjang pustakawan dan ketertarikan pada bidang ilmu terpenuhi, yang perlu diperhatikan berikutnya adalah pustakawan terbang. Istilah ini saya ambil dari istilah "kelas terbang" di masa saya SMA. Kelas terbang merupakan kelas yang anggota kelasnya berpindah-pindah karena tidak memiliki ruang kelas. Misal karena keterbatasan ruang maka kelas 1A dalam seminggu menempati ruang-ruang kosong yang tersedia secara bergantian. Ketika analogi ini saya gunakan untuk istilah pustakawan terbang, yang saya maksudkan adalah pustakawan yang dia mobile, dari satu ruang ke ruang lain untuk menggantikan atau membantu pustakawan, menemui dan berdiskusi dengan mahasiswa-dosen dan berbagai pihal lain, mengunjungi perpustakaan unit, membantu perpustakaan unit, menjangkau pemustaka di perpustakaan unit, sembari melakukan RnD perpustakaan. Tugas pustakawan terbang memang demikian, dia menjadi penghubung antara semua elemen.

Demikian. Tulisan di atas tentunya saya tulis berdasar pengalaman di dunia perpustakaan perguruan tinggi.

Update:
Pengarusutamaan jender dan komposisi usia
Pengarusutamaan jender, memberi ruang yang sama untuk berkreasi dan berperan antara pustakawan laki-laki dan perempuan dalam perpustakaan. Kesetaraan dapat dipandang dari membuka semua kesempatan berkreasi tanpa ada pembedaan, atau menjaga komposisi laki-laki dan perempuan yang berperan agar berimbang.

Komposisi usia juga perlu diperhatikan, hal ini terkait dengan regenerasi. Jika semuanya berusia muda, itu bagus untuk jangka pendek. Namun jika nanti ada pada masa pensiun maka semuanya akan sama-sama ada pada masa pensiun. Ini berbahaya. Oleh karena itu, usia harus berimbang. Ada yang tua ada yang muda. Sehingga ketika yang tua pensiun, akan ada pengganti yang lebih muda dan lebih muda dari staf yang sebelumnya. Demikian seterusnya.

Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi