Monday, 29 December 2014

,

SLiMS dan perkembangan pustakawan Indonesia

Keputusan pegiat SliMS Jogja untuk membuat komunitas SLiMS secara resmi pada 2010 (http://jogjalib.blogspot.com/p/sejarah.html) merupakan salah satu tonggak sejarah perkomunitasan SLiMS di Indonesia.

Komunitas SLiMS ini akhirnya menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, memang banyak dinamika (baca: http://mustoko.blogspot.com/2012/12/komunitas-slims-indonesia-bagaimana.html) yang ada dalam komunitas SLiMS di Indonesia ini. Termasuk pasang surut, bongkar pasang, kegalauan, disorientasi dan lainnya.

Apa tujuan komunitas ini? ngumpul-ngumpul? seneng-seneng?
Ya, awal mula komunitas ini adalah ngumpul-ngumpul untuk belajar. Sesederhana itu, dan sebelumnya juga telah banyak komunitas seperti itu. Termasuk komunitas pustakawan atau pengelola perpustakaan.

Namun, pertunjukan tetap harus berjalan.
Munculnya komunitas serupa di tempat lain menjadi fenomena menarik. Lalu apa hasilnya?

Ya, setelah 4 tahun dunia perkomunitasan SLiMS ikut meramaikan dunia perpustakaan, sekarang kita dapat melihat beberapa efek yang ditimbulkannya. Karena komunitas ini konsen utamanya dalam bidang teknologi maka efek terkait teknologi juga paling kental disebabkan komunitas ini.  
  1. Perkembangan keterampilan pustakawan, merupakan efek pertama dari SLiMS dan Komunitasnya. Keterampilan teknologi informasi adalah keterampilan yang paling terlihat berkembang pada komunitas dan pustakawan. Selain kemampuan IT, berkembang pula kemampuan berjejaring pada  pada komunitas lain, kemampuan presentasi (menyampaikan ide) yang diasah pada saat pertemuan komunitas atau belajar bersama atau kepada atasan, kemampuan bernegosiasi kepada atasan untuk tawar-menawar pengembangan IT perpustakaan. Berbagai perkembangan keterampilan ini dapat diintip di goslims.net dan berbagai blog komunitas.
  2. Pandangan profesi lain terhadap pustakawan dan perpustakaan. Efek ini merupakan efek turunan dari efek pertama. Profesi lain muncul dari atasan, teman sejawat atau dari luar. Sementara itu pandangan terhadap perpustakaan dapat kita lihat dari munculnya pegiat SLiMS dari non-pustakawan (non pengelola perpustakaan). Mereka ikut serta menyumbang ide dan pengembangan teknologi dalam pengembangan perpustakaan dengan bekerjasama dengan pengelola perpustakaannya
  3. Perkembangan perpustakaan. Efek dari dua efek sebelumnya adalah perkembangan perpustakaan. Ini merupakan efek utama yang diharapkan muncul dari perkembangan SLiMS dan komunitasnya.
  4. Posisi tawar pegiat meningkat, dan menjadi perantara rejeki pegiat komunitas. Ini merupakan efek ikutan yang mengikuti efek-efek sebelumnya. Bentuknya bisa bermacam-macam, langsung ataupun tidak langsung, banyak atau sedikit.
Efek di atas tentunya tidak secara tunggal disebabkan oleh komunitas SLiMS saja, namun juga diwarnai oleh berbagai hal lain. Pendidikan perpustakaan, kebijakan, motivasi dari diri pribadi juga turut mewarnai. Selain itu juga dimungkinkan ada efek lain yang belum saya tuliskan.

Nah, sekarang coba direnungkan: "Efek mana yang telah anda rasakan"

Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi