Thursday, 20 May 2010

, , , , , ,

LiGOS: Library Goes Opensource (Pengalaman di Perpustakaan Geologi UGM)

Gaung opensource di Indonesia, menurut saya sangat kuat. Berbagai komunitas mulai muncul sebagai bentuk penyatuan ide dan minat bersama pada opensource. Ada komunitas Linux, Komunitas Ubuntu, Komunitas SuSe, Komunitas Blender, Komunitas SLiMS dan lain sebagainya.

Kemungkinan perpustakaan migrasi ke opensource sebetulnya sangat besar. Jika dilihat kebutuhan minimal perpustakaan ddapat di cakup oleh software opensource. Operating systems dan kebutuhan perkantoran dapat dicakup oleh Linux dan Openoffice. Untuk otomasi perpustakaaan dapat digunakan software opensource untuk perpustakaan.


Di perpustakaan Geologi UGM, dari 6 komputer yang ada 5 diantaranya sudah opensource, baik operating systems maupun aplikasi perkantoran. Satu komputer yang masih menggunakan OS berbayar karena digunakan untuk membuka sistem informasi perpustakaan lama yang masih berbasis DOS.

Operating systems yang saya gunakan adalah Ubuntu Dekstop, termasuk Server menggunakan ubuntu 8.04 LTS. ISO Linux saya dapatkan dari repo Ubutu di UGM, http://repo.ugm.ac.id, sehingga menjadi mudah dan juga murah. Keculi biaya beli CD, penggunaan operating systems di perpustakaan Geologi UGM bisa dikatakan Rp.0.

Rp.0 ini juga berlaku dalam pembangunan sistem informasi manajemen perpustaaan. Sistem ini saya bangun dengan software opensource SLiMS (http://senayan.diknas.go.id), dengan diawali migrasi database ISIS ke SLiMS pada bulan Februari 2009.

Beruntung sekali, rekan kerja sangat mendukung saya dan meski lebih tua dari saya, beliau sangat menghargai dan mau belajar menggunakan Linux dan SLiMS. Bisa dikatakan bahwa di geologi ugm, perpustakaan dan karyawan perpustakaan merupakan yang pertama menggunakan opensource dibanding unit kerja lainnya.

Berikut beberapa tahapan dan yang harus diperhatikan dalam migrasi perpustakaan ke opensource
1. Kenali kebutuhan
Di Perpustakaan Geologi yang saya temukan adalah kebutuhan software sistem otomasi perpustakaan, aplikasi perkantoran (olah kata, olah angka, olah presentasi), aplikasi internet (browser, Instant Messenger), dan sistem operasi.

2. Temukan jawaban atas kebutuhan
Pada tahab ini saya melakukan pemilihan software opensource pada kebutuhan. Software opensource apa yang akan digunakan untuk otomasi, perkantoran, aplikasi internet dan sistem operasi. Standar minimal dari pemilihan ini adalah standar pada software yang telah digunakan sebelumnya. Misalnya untuk software otomasi, saya membandingkan fitur software opensource pilihan saya dengan fitur software otomasi yang lama. Hal ini untuk mengatasi agar tidak terjadi gap yang terlalu lebar ketika telah bermigrasi ke opensource.
Pada tahab ini juga harus dipastikan kemungkinan keberlanjutan migrasi, SDM yang diplot untuk bertanggungjawab pada pengembangan. Termasuk bagaimana meningkatkan kompetensi SDM pada penguasaan opensource.

3. Kemukakan kepada rekan kerja atau unit.
Mengemukakan ide dan konsep migrasi kepada rekan kerja dan atau unit lain (jika perpustakaanya luas dan punya cabang) menjadi penting untuk memberikan masukan dan mencegah resistensi. Selain itu juga untuk memantapkan bahwa kebutuhan memang akan terpenuhi dengan opensource, serta mendapatkan komitmen bersama.
Dengan proses ini, maka migrasi sebenarnya dilakukan dengan dukungan banyak fihak bukan oleh salah satu orang saja.

4. Menyusun strategi
Tahap ini dilakukan sebagai pedoman dalam menjalankan migrasi. Berisi time schedule, pihak yang dilibatkan, anggaran dan lain sebagainya.

5. Implementasi
Merupakan tahab implementasi atau migrasi ke opensource yang telah ditentukan.

Kurang lebihnya seperti itulah yang saya lakukan, dalam migrasi ke opensource di perpustakaan teknik geologi ugm. Beruntungnya saya adalah rekan kerja yang sangat kooperatif dan mendukung.

Semoga menjadi inspirasi.
Share:

0 komentar:

Post a comment

Terimakasih, komentar akan kami moderasi